Title : My Little Sweetheart
Pairing : KyuMin [Kyuhyun x Sungmin]
Others : Donghae; Heechul; Sunny; Hyukjae
Rating : T to M [Oops! Did I say M?]
Genre : Romance; Fluff; Slight!Angst
Disclaimer : KyuMin belongs to each other… ^^
Warning : YAOI, typos, Older!Sungmin, Kid!Kyuhyun
Summary :Salahkah Sungmin jika dia mencintai Kyuhyun yang berjarak delapan tahun dibawahnya? Lalu apakah Kyuhyun bisa akrab dengan Donghae, sahabat Sungmin? [Hanya sekedar kisah cinta Sungmin dan Kyuhyun, sang kekasih kecilnya. –semacam sequel dari 'Is it wrong or not?']
By : Zen~
A.n : KyuMin is REAL!
.
.
.: Sebelumnya:.
Donghae menatap Kyuhyun dengan seringai terkembang dibibirnya sementara Kyuhyun tidak bergerak dari posisinya saat ini dan tetap memandang Donghae dengan tatapan penuh kebencian. Well, the war is just begin!
.
.
.
Kyuhyun memandang dua orang yang berjarak sekitar dua puluh meter darinya. Entah dia harus senang atau harus marah saat melihat kedua orang itu begitu dekat. Terlampau dekat malah. Anak yang kini tengah mengenakan seragam sekolah dan menggenggam tas selempang biru miliknya itu sedang berusaha keras untuk tidak menghampiri kedua sosok yang terlihat sangat akrab dimatanya itu. Matanya berusaha untuk tidak melewatkan satupun pergerakan salah satu pria yang terlihat –walau sebenarnya tak kasat mata- sedikit lebih tinggi dari pria yang sedang duduk dihadapannya.
Kyuhyun melihat keduanya tertawa. Sedang membicarakan apa, Kyuhyun tidak mau tahu. Yang dia inginkan adalah agar pria berambut hitam yang duduk disebelah Sungmin-nya itu menjauhkan tangan kotor itu dari pundak kekasihnya. Hey, kenapa tangan itu malah makin senang bergeliria ke tengkuk dan kemudian mendarat dikepala Sungmin? Kyuhyun tahu mereka memang sahabat yang –Kyuhyun benar-benar tidak mau mengakui hal ini selama eksistensinya masih terlihat- sangat dekat, tapi bukan berarti mereka bebas melakukan skinship dimanapun dan kapanpun mereka berada.
Dengan langkah sedikit gontai, Kyuhyun akhirnya meletakkan tangannya di saku celana sekolah berwarna hitam itu dan menyenderkan punggungnya pada tembok putih yang memisahkannya dengan mereka –Sungmin dan sahabatnya yang berasal dari laut-. Berharap agar keberadaannya tidak terlihat oleh kedua orang itu. Entahlah, tiba-tiba saja Kyuhyun merasa lelah. Apakah karena latihan sepak bola tadi? Kyuhyun juga tidak tahu. Yang dia yakini saat ini, Kyuhyun sedang tidak mempunyai mood untuk membuat keributan.
Anak yang kini tengah memandang tanah dibawah kakinya mendesah pelan. Membuang karbondioksida yang sudah terlalu lama berdiam di dalam paru-parunya. Sepertinya ikan badut itu tidak main-main dengan kata-katanya. Sejak awal, Kyuhyun tahu bahwa ikan badut itu memang punya dendam pribadi dengannya.
Bukan salah Kyuhyun kan kalau dia lebih tampan darinya hingga Sungmin-nya lebih tertarik –setidaknya ini menurut Kyuhyun- padanya? Ya, walaupun Kyuhyun masih kecil, Kyuhyun yakin banyak yang terpesona dengan wajah tampannya. Apalagi pintar adalah nilai tambah yang dibanggakannya. Dua point utama itu tidak dimiliki oleh ikan badut itu, makanya Kyuhyun berani mengibarkan bendera perang padanya tinggi-tinggi.
Tapi ternyata lawannya kini tangguh. Terlalu tangguh malah.
Kyuhyun mengerang kesal saat dia secara tidak sengaja melihat Donghae sedang mengacak rambut Sungmin lembut. Dihentakkannya kaki kecil miliknya pada aspal dingin yang tidak bersalah dibawah kakinya. Kyuhyun ingin sekali melakukan hal itu, namun karena Sungmin masih lebih tinggi darinya, dia selalu gagal saat ingin melakukan itu. Dia harus menunggu ketika Sungmin menyejajarkan posisi mereka dulu baru Kyuhyun bisa melakukannya. Sepertinya dia harus lebih sering lagi minum susu hingga dia mabuk agar dia bisa segera menyusul tinggi kekasihnya.
Hatinya semakin mencelos ketika dia melihat Sungmin tertawa senang saat lagi-lagi Donghae mengacak rambutnya. Kyuhyun ingin sekali menghampiri mereka dan memisahkan keduanya secara paksa. Kemudian melemparkan ikan badut itu kelaut atlantik biar dia membeku sekalian atau mungkin melemparkannya ke sungai Amazon di America Selatan sana biar piranha-piranha itu mengoyak habis tubuhnya –oke, yang ini terkesan bahwa Kyuhyun adalah orang yang sangat kejam. Tapi biar saja! Kyuhyun tidak suka Donghae mengganggu dan berusaha mengambil apa yang menjadi miliknya.
Tapi tidak, Kyuhyun tidak mau bersikap seperti itu. Itu adalah sikap anak kecil egois –setidaknya Kyuhyun tetap akan menyimpan pemikiran soal sungai Amazon tadi untuk dirinya sendiri- yang tidak mau mainannya diambil orang! Lagipula Kyuhyun bukan anak kecil –setidaknya itu menurut dirinya- dan Sungmin bukanlah mainan. Jadi, Kyuhyun ingin bertanding secara sehat dengan Donghae.
Dan karena saat ini Kyuhyun sedang berbaik hati –Hey, dia baru saja lulus dari ujian buatan Heechul yang berjudul –How-to-get-together-with-Minnie-through-english-lesson- atau apapun itu namanya- Kyuhyun mengizinkan Donghae untuk berusaha –meskipun Kyuhyun yakin makhluk jelmaan ikan badut itu akan gagal- memenangkan hati Sungmin. Hanya kali ini saja, Kyuhyun berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian dengan langkah ringan, dia mengayunkan kakinya menuju bangunan sekolahnya yang sudah tidak jauh tempat berdirinya tadi.
Percaya diri? Tentu saja! Kyuhyun yakin Sungmin itu akan memilihnya. Well, biar bagaimanapun Kyuhyun lebih tampan dari Donghae. Kyuhyun tidak bisa tidak memuji dirinya sendiri ketika membayangkan Donghae sebagai ikan badut dalam film petualangan ikan yang penah ditontonnya dulu. Ikan hiu tentu saja lebih keren!
.
.
.
"Hae-ah! berhenti mengacak rambutku!" Protes pria manis dengan nada yang tidak bisa dibilang marah sebenarnya, malah terdengar seperti menggoda –ditelinga Donghae tentu saja. Dirapikannya lagi rambut hitamnya dengan menggunakan jari-jarinya yang terbilang kecil untuk ukuran pria berumur delapan belas tahun. Bibirnya mengerucut lucu saat pria yang tadi mengacak rambut hitamnya justru malah tersenyum polos dan memandangnya dengan tatapan yang sedikit…aneh.
"Salah sendiri melamun ketika aku sedang menceritakan sesuatu!" balas Donghae tidak mau kalah. Pria dengan wajah yang tak kalah tampan dengan Sungmin itu mencoba untuk mencubit pipi chubby Sungmin, namun gagal karena reflek Sungmin yang sangat bagus. Dan karena tidak berhasil dengan aksinya tadi, akhirnya dia memilih untuk kembali mengacak rambut sahabatnya itu. "Apakah ceritaku itu terlalu membosankan?" Tanya Donghae dengan senyum yang tak terlepas sedikitpun dari wajahnya.
Tentu saja hari ini Donghae banyak tersenyum. Semenjak kejadian malam itu, Kyuhyun seperti sedang menghindarinya. Apa dia takut? Tidak, Donghae tahu benar dengan siapa dia berhadapan saat ini. Mereka sudah berperang sejak setahun belakangan ini. Awalnya Donghae mengira tidak akan jadi seserius ini, tapi ternyata keadaan berkata lain.
Sementara Donghae berperang dengan fikirannya sendiri, Sungmin malah sibuk mengamati wajah sahabatnya ini. Ya, Sungmin mengakui bahwa Donghae memang sangat tampan. Pria yang sedang duduk dihadapannya ini memang tidak memiliki tubuh yang terlalu tinggi, namun dengan wajah dan pribadinya yang ceria, Donghae bisa menjadi magnet tersendiri bagi orang-orang disekitarnya. Jika saja Sungmin orang yang –sedikit- normal, mungkin dia akan tertarik pada Donghae. Hey, Sungmin memang pernah tertarik pada Donghae! Tapi tentu saja ini adalah rahasia terbesar yang tidak pernah diceritakannya pada siapapun.
Lagipula tidak terlalu penting, karena itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat pria yang masih saja sibuk memandangnya ini hanya menganggapnya sebagai teman dekat yang perlu dibantu. Hah… semuanya memang berubah sejak hari itu.
.
-FLASHBACK-
.
Staring out at the rain with a heavy heart. It's the end of the world in my mind.
.
Hari itu hujan. Langit menangis ketika senja mulai tenggelam. Sementara angin musim gugur bertiup sedikit terlalu kencang hingga rintik hujan yang sedikit itu terasa menyakitkan dikulit siapapun yang bersentuhan dengannya. Keadaan disekitar taman tempat seorang pemuda berdiri itupun kini terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang sangat ingin dirasakannya. Dia tertawa pelan. Miris. Kenapa keadaan ini nyaris seperti keadaan didalam hatinya?
Sepi. Itu adalah satu-satunya hal yang tidak ingin dirasakan oleh pemuda berambur hitam itu saat ini. Entah untuk yang keberapa kalinya Sungmin, pemuda itu, menangis hari ini. Dia berfikir air matanya sudah kering. Tapi entah dari mana, air itu tidak juga berhenti mengalir dari mata almond miliknya. Dan hujan ini sama sekali tidak membantunya mengikis rasa sakit dan perih dihatinya.
Saat ini Sungmin sedang duduk disebuah ayunan yang sering dimainkannya sejak dia kecil dulu. Wajahnya tertunduk memandangi tanah basah dibawah kakinya. Digenggamnya rantai besi yang menggantung dikanan dan kirinya itu erat. Meskipun rantai itu terasa dingin, tapi Sungmin sama sekali tidak merasakannya. Yang dia rasakan saat ini adalah rasa kosong dan hampa.
Seperti ketika kau tenggelam didalam lautan dan kau kehabisan oksigen hingga dadamu terasa sakit karena dia perlu udara untuk menopangnya tetapi karena kau tidak mampu berenang kepermukaan, paru-paru mu terasa terbakar dan berteriak meminta pertolongan. Mungkin seperti itulah perasaan Sungmin saat ini. Meskipun dia terlihat tenang, namun hati itu menjerit kencang. Butuh pertolongan. Mengapa peristiwa ini memilih waktu yang tidak tepat untuk terjadi? Disaat sahabat terdekatnya justru sedang berada dibelahan dunia lain.
Hari ini tepat seminggu setelah Sungmin kehilangan ibu dan adiknya dalam sebuah kecelakaan. Ketika itu hujan juga mengguyur kota Seoul sejak pagi hari dan kabut menyelimuti beberapa jalan utamanya. Dan naas untuk keduanya, ban Audi yang mereka kendarai slip hingga mereka menabrak sebuah truck yang sedang terparkir didepan sebuah mini market dimana Sungmin memang sedang menunggu adik dan ibunya untuk menjemputnya.
Kejadian itu terjadi tepat didepan mata Sungmin. Dia bisa melihat bagaimana mobil itu berputar Sembilan puluh derajat, kemudian menabrak sebuah truck ice cream sebelum akhirnya kembali menabrak tiang lampu jalan hingga bagian depan tubuh mobil kebanggaan ibunya itu ringsek dan kaca depannya pecah karena terkena patahan tiang lampu yang ditabraknya tadi.
Sayangnya, ibu dan adiknya tidak menggunakan seatbelt dengan benar sehingga keduanya terpental hingga menabrak kaca mobil –yang sudah hancur- dihadapannya. Sungmin bisa melihat dengan sangat jelas dashboard Audi yang semula berwarna putih bersih itu berubah menjadi merah.
Jika saja Sungmin tidak meminta ibunya untuk menjemputnya, mungkin saja kejadian itu tidak akan terjadi. Jika saja dia tidak merengek tidak ingin pulang sendirian, mungkin adik dan ibunya masih berada disisinya saat ini. Jika saja dia tidak bersikap manja, mungkin sekarang dia tengah berada dalam pelukan hangat wanita yang dengan susah payah melahirkannya itu. Ya, sejak saat itu Sungmin selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian kedua orang yang disayanginya itu. Meskipun ayahnya sudah menenangkannya dan berkata bahwa itu bukan salahnya, tetap saja Sungmin tidak bisa. Ditambah dengan kenyataan bahwa ayahnya kini terkesan menghindarinya dengan alasan pekerjaan membuat Sungmin sedikit mengutuk dirinya sendiri.
Terlalu banyak 'What If' yang berputar didalam kepalanya. Terlalu besar perasaan bersalah dan juga perasaan rindu Sungmin pada ibu dan adiknya. Hingga tak sadar, lagi-lagi Sungmin tersedu disana. Sambil menggenggam rantai besi dingin itu, mengutuk dirinya sendiri dalam diam dan tenggelam dalam nestapanya sendiri. Hingga dia tidak sadar bahwa ada seseorang yang tengah memandangnya dari kejauhan.
.
.
Then your voice pulls me back like a wake up call. I've been looking for the answer somewhere. I couldn't see that it was right there. But now I know what I didn't know
.
"Kenapa menangis?" tanya sebuah suara yang terasa –terdengar- begitu dekat. Membuat Sungmin berusaha untuk menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya sebelum mencari sumber suara itu. Pandangan Sungmin yang sedikit tidak fokus membuatnya bingung, karena seseorang yang ada dihadapannya adalah seorang anak kecil. Mata anak itu memandangnya khawatir, bukan mengasihaninya, tapi khawatir seperti seseorang yang menyayanginya. Sungmin mengenali cara pandang anak itu. Anak itu memandang Sungmin seperti ibunya yang sedang mengkhawatirkannya dulu. Seperti Sungjin yang memohon padanya agar tidak menangis karena sudah menyembunyikan boneka kelinci miliknya.
Pria manis yang hanya mengenakan sweater tipis itu memaksakan senyumnya sambil menghapus sisa-sisa air mata yang kini terasa lengket dipipinya. Angin sudah mulai mereda sekarang, hanya tinggal rintik-rintik kecil hujan yang mampir disekitar mereka. Bukannya balas tersenyum, anak kecil dihadapannya malah semakin memandangnya cemas. Manik hitam itu seolah berkata bahwa dia peduli dan entah mengapa seketika itu juga Sungmin merasa tenang. Perasaan apa ini? Tanya Sungmin pada dirinya sendiri.
"Aku tidak menangis, hanya kemasukan debu." Jawab Sungmin bahwa anak didepannya ini akan merasa sedikit tenang dan menghapus pandangan khawatir itu dari mata indah miliknya. Dan Sungmin masih saja tersenyum. Anehnya, dia tersenyum dengan senyuman yang benar-benar tulus. Aneh, bukankah dia adalah orang yang tidak mudah akrab dengan orang baru? Donghae saja butuh waktu satu tahun penuh sampai akhirnya Sungmin bisa tersenyum tulus padanya.
Mungkinkah karena anak ini mengingatkannya pada Sungjin, adik kesayangannya? Ya Tuhan, betapa Sungmin sangat merindukan sosok menggemaskan yang selalu mengganggunya itu.
Sungmin terkejut ketika tiba-tiba saja anak kecil itu memeluknya. Posisinya yang sedang duduk di ayunan besi itu mempermudah si anak untuk memeluknya dan berusaha mengusap punggung Sungmin dengan tangan kecilnya yang tertutup sarung tangan itu. Hingga Sungmin kini dapat merasakan sweater-nya basah karena jas hujan yang masih basah milik anak kecil itu menyentuhnya hingga tetesan air dari hujan senja itu bersarang pada sweater-nya.
Anehnya, alih-alih rasa dingin karena kain yang dikenakannya itu basah, Sungmin justru malah merasakan kehangatan yang –entah dari mana datangnya- terasa sangat menenangkan. Kehangatan yang bahkan tidak ia rasakan ketika sang ayah memeluknya. Lalu tanpa pemuda itu sadari, air mata itu mengalir lagi dari mata hitam jernihnya.
"Heechul hyung selalu melakukan hal ini ketika Kyunnie sedang bersedih." Jelas anak kecil itu polos setelah –dengan sangat susah payah- Sungmin menghentikan tangisnya. Anak itu memandang Sungmin sambil tersenyum, senyum yang entah mengapa membuat jantung Sungmin berdebar kencang. Terlebih saat tangan kecil anak itu –dengan sedikit berjinjit- mengusap ringan kepalanya. Ada rasa kasih sayang dalam setiap jari yang menyentuh tiap helai rambutnya. Dan Sungmin merasa tenang dan terlindungi.
"Jangan menangis lagi ya…" tambah anak kecil itu lagi sambil tersenyum manis. Rambut hitam dan mata polos milik anak itu terlukis jelas di memori Sungmin. Namun, ketika Sungmin hendak mengucapkan terima kasih, anak itu sudah berlari sambil melambaikan tangannya kearah Sungmin. Langkah-langkah kecil anak itu terdengar semakin jelas menjauh ketika hujan sudah mulai reda. Saat itu, Sungmin berfikir bahwa mungkin saja anak kecil tadi adalah seorang malaikat yang dikirim untuknya pada hari itu. "Kyunnie…" bisiknya pada angin. Dan tanpa sadar Sungmin tersenyum sambil memandang bintang yang mulai mengintip dari balik kapas-kapas putih itu.
.
.
It's alright, I survived, I'm alive again. Cause of you, made it through every storm. I'm so glad I found an angel…someone who was there when all my hopes fell. I wanna fly looking in your eyes. Because you live, I live…
.
Lima hari setelah kejadian ditaman itu, Sungmin menyadari bahwa rumah disebelah rumahnya yang semula kosong kini sudah ada yang menghuninya. Dan karena saat itu Sungmin sedang sibuk dengan pelajaran tambahan menjelang ujian tengah semesternya, Sungmin tidak terlalu memperhatikannya. Sungmin baru menyadarinya ketika pada hari sabtu malam secara tidak sengaja dia menabrak sesuatu saat dia sedang berlari menuju rumahnya. Dan betapa terkejutnya Sungmin ketika yang ditabraknya adalah seorang anak kecil.
Anak itu kini tersungkur dengan posisi lutut dan kedua tangannya menopang tubuhnya, sedangkan Sungmin bisa melihat suatu benda lain yang ikut tersungkur tepat dibawah anak itu. Buru-buru Sungmin menghampirinya dan berniat untuk meminta maaf. Namun, sepertinya anak itu tidak ingin berdiri dan hanya memandang benda dibawahnya dengan tatapan nanar. Dengan hati-hati Sungmin mencoba untuk melihat benda yang sedang dipandang oleh anak itu dan dia hanya bisa meringis ketika dia menyadari bahwa itu adalah Playstation Portable keluaran terbaru yang sangat terkenal itu.
"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya Sungmin hati-hati. Berusaha untuk tidak mengangkat topik tentang benda berwarna merah metalik yang kini terbelah menjadi dua bagian dengan bentuk yang sangat tidak sempurna. Tapi anak itu hanya diam dan masih tetap memandang Playstation itu meskipun kini anak itu sudah berada dalam posisi berdiri. Bagaimana ini? keluh Sungmin.
"Hey, kau tidak apa-apa? Maafkan aku…ak- arggh!" Tiba-tiba saja Sungmin merasakan pelukan yang sangat erat dari anak itu. Meskipun terasa sedikit sakit, namun Sungmin kenal pelukan ini. Dia mengenali rasa hangat dan nyaman ini. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasakan hal ini adalah malaikat-nya itu. Dengan hati-hati dia mencoba untuk melihat wajah anak kecil yang kini memeluknya erat. Sungmin takut bahwa anak ini akan menangis karena mainan berharga –sangat mahal- miliknya itu rusak karenanya. Sekaligus untuk memastikan bahwa dia tidak salah mengenali malaikat-nya.
"Akhirnya! Terima kasih sudah membuat Playstation Portable itu jatuh! Kyunnie benar-benar ingin menghancurkannya, hanya saja Kyunnie tidak tega!" Pekik anak itu senang sambil memandang Sungmin, lalu kembali memeluknya. Wajah anak itu kini menempel sempurna diperut Sungmin. Sementara itu Sungmin hanya bisa terdiam ketika dia menyadari bahwa anak itu adalah –benar- anak yang sama dengan malaikat yang ditemuinya ditaman beberapa hari yang lalu.
"Ya! Anak kurang ajar! Cepat mas… suk!" teriak seorang pria yang baru saja keluar dari pagar hitam tepat disebelah rumah Sungmin. Pria itu terlihat lebih tua beberapa tahun dari Sungmin. Mengenakan hanya piyama berwarna merah muda dan rambut yang sedikit berantakan. "Ah! Maafkan adikku, apakah dia melukaimu?" tanya pria itu cemas setelah –dengan sangat tidak manusiawi- melepaskan pelukan anak kecil bernama Kyunnie itu dari Sungmin. Pria itu nampak tidak peduli walaupun anak itu kembali tersungkur pada aspal dingin tepat dibelakangnya.
"Hyung! Kenapa mendorong Kyunnie?!" kesal anak itu yang kini terlihat sibuk mengusap-usap bagian belakangnya sambil mengerucutkan bibirnya. Pria yang ada dihadapan Sungmin diam sebentar kemudian mengeluarkan suara 'tsk' sebelum akhirnya menoleh kearah anak kecil itu tanpa melepaskan tangannya dari bahu Sungmin.
"Bisakah kau diam sebentar? Aish!"
"Yang jatuh itu Kyunnie!" Protes anak kecil itu sambil menendang kesal aspal dibawah kakinya. Dari ekspresinya, Sungmin yakin bahwa anak itu benar-benar sedang kesal.
"Kyu, anak ini bisa saja gatal-gatal karena kau menyentuhnya tadi!" balas pria itu lagi kali ini tanpa menghiraukan protes dari adiknya. Kemudian pandangannya berfokus pada Sungmin. "Kau tidak apa-apa? Kau tidak merasa gatal-gatal? Anak ini belum mandi seharian tadi." Tanya pria itu serius.
"Hyung!" Protes anak itu lagi. Mungkin karena kesal tidak juga diperhatikan oleh kakaknya, anak yang menggunakan kaos hitam dan celana pendek putih itu menarik kencang baju kakaknya. Alisnya menyatu dan bibirnya mengerucut sebal. Sedang kedua matanya berusaha untuk terlihat mengacam. Walaupun sebenarnya ekspresi itu justru sangat menggemaskan untuk Sungmin. Hey, Sungmin sangat menyukai semua hal yang lucu dan menggemaskan!
"Ya! Bisakah kau di –Kau apakan hadiah ulang tahun dariku, hah? Kenapa bisa rusak seperti itu?!" seru pria itu saat matanya terfokus pada benda yang tergeletak begitu saja tak jauh darinya. Matanya menatap nanar Playstation itu kemudian ganti menatap adiknya dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Dan Sungmin yakin untuk beberapa tahun kedepan, dia tidak mau mengingat apa yang dilakukan pria itu pada adiknya. Well, itu adalah pemandangan paling mengerikan untuknya. Ditambah lagi Sungmin yakin telinganya tidak akan berhenti berdenging untuk beberapa jam karena suara teriakan kedua orang itu benar-benar istimewa.
.
.
Tapi siapa yang tahu bahwa anak kecil itu melihatnya dengan pandangan yang berbeda dari orang lain. Kyuhyun –nama anak kecil itu- melihatnya sebagai orang yang istimewa. Bahkan Kyuhyun dengan bangganya mengatakan bahwa dia menyukai Sungmin. Dua tahun setelah peristiwa itu, Kyuhyun –yang kala itu berumur sembilan tahun- tidak pernah berhenti mengatakannya pada Sungmin. Dimanapun dan kapanpun.
Kyuhyun selalu ada ketika dia kesepian. Kyuhyun disana ketika Sungmin menangis. Kyuhyun memeluknya ketika Sungmin butuh dorongan untuk terus bertahan saat ayahnya tidak ada. Dan Kyuhyun mengisi kekosongan di hari-hari Sungmin yang sepi. Bukan seperti cara Donghae membuatnya nyaman. Tidak seperti Hyukjae yang selalu bisa membuatnya tertawa hanya dengan menatap wajahnya. Kyuhyun memberikan kehangatan yang berbeda dari keduanya.
Dan mungkin itulah mengapa pada akhirnya dia mengangguk setuju ketika untuk yang keseribu kalinya –bukan berarti Sungmin menghitung jumlah pernyataan cinta Kyuhyun- anak itu meminta Sungmin –lebih terlihat seperti memaksa sebenarnya- untuk menjadi kekasihnya.
.
-End Of Flashback-
.
Sungmin –lagi-lagi- tersenyum sendiri saat dia mengenang peristiwa ketika pertama kali dia mengenal Kyuhyun –dan Heechul. Seorang anak polos yang benar-benar menggemaskan. Sungmin masih bisa merasakan kehangatan yang ditimbulkan oleh Kyuhyun saat pertama kali anak itu memeluknya. Hebat! Puji Sungmin. Kau sungguh hebat, Kyunnie.
"Min, kau benar-benar membuatku ingin menjadi sebuah kamera professional kalau ka uterus bersikap seperti ini!" Kata Donghae persis disebelah telinga Sungmin. Desiran nafas yang keluar dari hidung pria yang sekarang memiliki rambut berwarna hitam itu membuatnya tersentak dari lamunannya.
"Euh?" Dipandangnya Donghae dengan tatapan tidak mengerti. Kadang Sungmin merasa Donghae adalah makhluk dari planet lain. Sungmin ingat, Kyuhyun pernah mengatakan bahwa Donghae adalah seorang alien yang sedang menyamar untuk menculiknya dari bumi. Mungkin saja kata-kata Kyuhyun itu benar, karena Sungmin saat ini tidak mengerti arah pembicaraan Donghae.
"Well, because I want to capture all of your smiles at once and keep it in my memory!" tambah Donghae sambil tersenyum lebar kearah Sungmin. Gigi putihnya kini terlihat begitu bersinar dimata Sungmin. Namun, alih-alih senang, Sungmin malah menempelkan telapak tangannya didahi Donghae takut-takut sahabatnya ini sedang sakit atau sedang mabuk. Tapi panas tubuh Donghae sepertinya normal. Ah! Mungkin Kyuhyun benar soal alien itu, pikir Sungmin.
Melihat ekspresi Sungmin yang nampak tidak senang, Donghae hanya bisa mengutuk Hyukjae dalam hati. Seharusnya dia tidak meminta nasehat soal cinta pada monyet itu. Saran darinya tidak pernah berhasil pada Sungmin.
Belum sempat Donghae mencoba cara lain, Sungmin kini berdiri dan sudah bersiap meninggalkan Donghae. "Kau mau kemana?" tanya Donghae ingin tahu. Sungmin hanya tersenyum ringan dan mengusap sayang kepala Donghae sebentar. "Menemui Kyunnie!" Jawab Sungmin riang dan dengan senyum yang terkembang sempurna dibibir indah miliknya, sebelum akhirnya meninggalkan Donghae yang masih terdiam dalam posisinya. Duduk diam pada batang besi yang biasa digunakan teman-teman sekolahnya untuk mengencangkan otot lengan mereka sambil mengutuk Kyuhyun dalam diam. Sepertinya, Donghae harus berusaha lebih keras lagi. Karena Donghae belum punya rencana untuk menyerah secepat ini. Meskipun Sungmin saat ini condong pada anak itu, tapi Donghae yakin bahwa perasaan manusia itu bisa dirubah. Dan Donghae akan merubah perasaan Sungmin. Tentu saja secepatnya!
.
.
.
"Kyunnie!" Seru Sungmin riang saat dia menemukan seseorang yang sudah sepuluh menit dinantinya. Kedua tangannya melambai seolah menunjukan keberadaannya pada Kyuhyun yang tengah berjalan sambil berbincang dengan Seohyun dan Changmin. Sungmin mengerucutkan bibirnya dan menghentikan lambaian tangannya ketika Kyuhyun tidak juga menyadari keberadaannya dan malah makin asik tertawa dengan teman-temannya.
Sungmin menautkan kedua alisnya ketika dia melihat tangan Seohyun kini menepuk ringan bahu Kyuhyun sementara Changmin memeluk Kyuhyun dari belakang. Karena Changmin lebih tinggi dari Kyuhyun, anak itu bisa dengan leluasa meletakkan dagunya di puncak kepala Kyuhyun. Hey, hanya Sungmin yang bisa melakukan hal itu pada Kyuhyun!
Dan Sungmin makin kesal ketika Kyuhyun terlihat sangat menikmatinya. Apalagi ketika tangan Seohyun kini melingkar pada lengan Kyuhyun. Sepertinya Sungmin berada pada tempat yang salah di waktu yang salah. Kenapa Sungmin merasa tidak senang melihat pemandangan itu? Seharusnya Sungmin senang karena –akhirnya- Kyuhyun memiliki teman. Apakah karena selama ini Kyuhyun selalu bergantung padanya?
Sungmin masih memandang Kyuhyun dengan berbagai macam fikiran berkeliaran diotaknya. Hingga tiba-tiba kata-kata Donghae kembali terbersit dalam fikirannya.
"Min, sebaiknya kau fikirkan baik-baik soal ini, Kyuhyun itu masih kecil. Perasaan Kyuhyun itu masih bisa berubah."
Namun sekali lagi Sungmin berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa –mungkin saja- Kyuhyun bukan orang yang seperti itu. Tapi, hatinya terasa mencelos seketika saat akhirnya Kyuhyun menyadari keberadaannya namun bukan senyum yang didapatnya melainkan sebuah tatapan kosong. Dan Sungmin tidak ingin menyimpulkan arti dari tatapan itu. Tidak saat dia sadar dan ingin mengatakan bahwa Sungmin benar-benar mencintai Kyuhyun.
.
.
.
-End of Chapter 6-
A.n :
1. Ok! Silahkan tabokin saya sekarang!
2. Gak bakat nulis angst, serius gak bakat sama sekali nulis Angst! #tusuk diri sendiri.
3. Kyunnie, ayo kita kabur berdua! Tinggalin aja ikan badut sama kelinci itu! #Frustasi
4. Sekarang udah jelas deh awal Minnie ketemu sama Kyunnie :P
5. Next update will be on Sunday! XD
.
.
Thanks for all the reviewers :
Sekali lagi gak bosen-bosennya mau ngucapin Terima kasih buat yang sudah read dan review FF ini. Walaupun gak bisa update cepet dan tergolong masih pemula, terharu juga dengan sambutan yang datang dari pada Readers… err.. maaf agak ngelebay ^_^v. /Peluk semuanya.
Maaf gak bisa jawabin reviewers satu-satu, bukannya sombong, tapi komputer dirumah pake-nya gentian, jadi… ya…
T : Bingung deh sama Donghae sebenernya itu bener suka sama Min atau mau ngisengin Kyu aja?
J : Aduh Donghae disini emang agak nyebelin! Maksud dia yang sebenernya nanti bakalan dijelasin di chapter-chapter selanjutnya ko ^^
T : Btw, Next time can I just call you Zen instead of author?
J : Please! Please just call me Zen! XD Because I'm not an author, I'm just a KyuMin shipper. Sejujurnya rada risih dipanggil Author, karena memang aku bukan author. Aku nulis karena aku suka KyuMin… jadi mulai sekarang panggil Zen aja ya ^_^ kalo bisa jangan pake Chingu apalagi Unnie… Lol –bukan karena gak mau dianggap tua, lho!
Terima kasih juga buat semua yang udah nyemangatin Zen buat update cepet. Zen janji kalau ada waktu pasti langsung update ko! Untuk sementara udah cukup puas kan dengan update-an seminggu sekali? Hehehe…
Please, be patient with the naughty thingy :p
And… KYUMIN IS FOREVER REAL! Other opinions are invalid! ^_^v
See you in the next chapter ^_^v Pyong! Zen~
