"Ayah tidak suka kau berhubungan dengan Luhan."

Satu kalimat sederhana itu cukup membuat Sehun tersedak makanannya. Sehun menatap ayahnya dengan mata yang disipitkan. Entah apa yang terjadi pada ayahnya itu, tapi tiba-tiba saja Mr Oh mengatakan hal itu pada Sehun.

"Ayah bilang apa barusan?" tanya Sehun, berusaha meyakinkan kalau telinganya pasti salah dengar tadi.

"Ayah tidak suka kau berhubungan dengan Luhan." ulang Mr Oh, kali ini dengan nada suara yang lebih tegas. Meyakinkan kepada anaknya itu kalau dia benar-benar serius dengan ucapannya.

Sehun menelan ludahnya dengan kasar. Ia masih tidak bisa percaya pada apa yang ayahnya katakan barusan. Apa maksudnya?

"Kenapa?" tanya Sehun.

"Bukankah jawabannya sudah jelas? Luhan laki-laki, Sehun."

"Lalu kenapa?"

Kali ini Mr Oh mengerutkan keningnya, "Kau masih bertanya kenapa? Menurutmu hubunganmu dengannya itu wajar?"

"Bukankah yang terpenting adalah kami saling mencintai? Kurasa hubungan kami sah-sah saja."

Mr Oh memandang anaknya itu, lalu menghela nafas pelan. "Kau tidak bisa dengannya."

"Kenapa?"

"Kau butuh keturunan!"

Sehun terkesiap. Oh, jadi itu alasannya. "Maaf ayah, tapi aku benar-benar menyukai—maksudku, Mencintai Luhan. Biar bagaimanapun, aku tidak bisa." tegasnya.

"Sehun, kau tidak mengerti."

Sehun sudah lelah berdebat dengan ayahnya. Ia memutuskan untuk menyudahi makan malamnya, dan berdiri. "Ayah, aku harap ayah bisa mengerti keadaan ku yang seperti ini. Aku tidak perduli Luhan itu seperti apa, yang aku tau, aku mencintainya. Sepenuh hatiku." gumam Sehun, lalu pamit pergi untuk tidur di asrama.

Mr Oh menatap anak laki-lakinya itu. Melihat kesungguhan Sehun barusan membuat ia bergidik ngeri. Ini pertama kalinya Mr Oh melihat anaknya begitu yakin dalam mengatakan suatu hal. "Tapi kau tidak mengerti Sehun." gumam Mr Oh pelan.


Semenjak pertengkarannya dengan ayahnya malam itu, Sehun jadi merasa tertekan. Selama ini Sehun selalu mengira ayahnya itu bisa menerimanya apa adanya. Tapi ternyata tidak.

Hari ini Sehun tidak masuk sekolah, ia pergi keluar untuk mengunjungi makam ibunya.

Sehun mengendarai sepeda motornya, sekitar 5 menit kemudian ia akhirnya sampai.

Setelah menaburkan bunga dimakan ibunya dan mengirimkan doa kepada ibunya, Sehun duduk disebelah makam ibunya. "Ibu," gumamnya pelan, sambil mengusap batu nisan ibunya.

Seandainya ibu masih hidup, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Gumam Sehun didalam hatinya.

"Ibu, Bagaimana kabar ibu?"

"Apa ibu baik-baik saja?"

"Kuharap ibu baik-baik saja. Meskipun aku tidak baik-baik saja disini." gumam Sehun pelan. Ia tahu ibunya tidak akan bisa menjawabnya, tapi setidaknya Sehun tau, dialam sana, Ibunya pasti bisa

mendengarnya.

"Ibu, aku mencintai Luhan." gumam Sehun lagi. "Apa ibu bisa melihatku? Apa ibu bisa melihatku ketika aku bersama Luhan?"

"Luhan anak yang manis. Dia baik. Ya, meskipun kadang bisa menjadi sangat galak, sebenarnya ia sangat lembut."

"Dia terdengar sempurna, kan?"

Sehun terdiam sejenak lalu menunduk.

"Tapi kenapa ayah tidak menyetujui hubunganku dengannya?" nada suara Sehun mulai meninggi. Ia tidak sanggup menahannya lagi, ia tidak ingin meninggalkan Luhan.

Jika ibunya masih hidup, saat ini ibunya pasti sedang memeluknya, dan mengusap kepala Sehun sambil mengatakan sesuatu yang sudah pasti bisa menenangkan Sehun.

"Aku mencintai Luhan, apa ayah tidak menyadari itu? Kenapa ayah melarangku mencintainya? Kenapa, bu?!"

Air mata yang tertampung disudut mata Sehun semakin lama semakin bertambah, membicarakan soal ini membuat Sehun merasa sakit. Kenapa semuanya harus seperti ini?

"Ibu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Sehun, sambil menggenggam erat batu nisan ibunya.

tes.

Satu air mata jatuh dari mata Sehun.

"Aku mencintai Luhan. Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan dia." gumam Sehun yakin.


Ketika bel berbunyi, Luhan segera keluar kelas dan pergi ke cafetaria. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling cafetaria, tapi sosok yang ia cari tidak ada disana.

Siapa lagi kalau bukan Oh Sehun?

Belakangan ini menurut Luhan, Sehun bersikap aneh. Ia jarang bicara panjang lebar pada Luhan, ia jarang bercanda, sering melamun, dan sering memeluk Luhan sambil mengatakan, "Aku tidak mau kehilanganmu."

Luhan tidak tau apa yang terjadi pada Sehun, tapi firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak enak.

Luhan menghela nafas, lalu berbalik dan berjalan keluar. Ia tidak tau kemana Sehun, hari ini ia tidak masuk, dan dia tidak ada di mana-mana. Kemana Luhan harus mencarinya?

Luhan berjalan menuruni anak tangga dengan lemas. Yang ada diotaknya hanyalah Sehun, Sehun, Sehun, dan Sehun. Kemana Sehun? Ada apa dengannya? Apa—

"Luhan?"

Lamunan Luhan terhenti ketika sebuah suara memanggil namanya. Ia mendongak, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat ibunya berdiri tidak jauh didepannya. Wajah Luhan berubah cerah seketika. Orang yang paling ia rindukan ada disana.

"Ibu!" Teriak Luhan semangat, lalu berlari untuk memeluk ibunya.

Well, 17 tahun hanyalah angka bagi Luhan. Kelakuan Luhan benar-benar masih terlihat seperti anak kecil jika sudah dekat ibunya.

Mrs Xi memeluk anaknya itu dengan erat, "Luhan! Oh nak, ibu sangat merindukanmu." gumam Ibunya, dengan Bahasa china.

Luhan melepaskan pelukannya lalu menatap ke arah ibunya dengan mata berbinar. "Aku juga merindukan ibu. Bagaimana bisa ibu kesini? Apa ibu sengaja datang untuk menemuiku? atau apa?" tanya Luhan dengan semangat.

"Tentu saja Ibu ingin melihat keadaanmu. Dan juga ada hal penting yang harus ibu bicarakan dengan kepala sekolah."

Kepala Sekolah? Oh, ayahnya Sehun ya.

"Begitu ya, kalau begitu setelah bertemu dengan Mr Oh, bagaimana kalau ibu berkunjung ke asrama ku? Oh, ibu juga harus bertemu dengan Baekhyun, Chanyeol, dan... Sehun!"

Mrs Xi menegang seketika ketika Luhan menyebutkan nama Sehun. Anak itu ...

Luhan yang menyadari hal itu mengerutkan keningnya, "Ibu.. kenapa?"

"O-oh? T-tidak. Tidak apa-apa. Ohya, Tentu saja, Ibu akan segera menemui teman-temanmu itu nanti sayang." gumamnya lembut sambil mengusap kepala Luhan. "Sekarang ibu harus pergi dulu."

"Baiklah, apa ibu tau dimana ruangan Mr Oh?"

"Ibu tau, jangan khawatir." gumama Ibunya yakin, lalu mencium kening Luhan. "Sampai jumpa." dan melangkah pergi.

Luhan terdiam sambil memperhatikan ibunya yang perlahan semakin menjauh. Aneh. Ada sesuatu yang aneh pada ibunya ketika ia menyebutkan nama Sehun.

Lalu Luhan memegang erat dadanya. "Perasaan tidak enak apa ini." gumamnya pelan.


Mrs Xi mengetuk pelan pintu ruangan Mr Oh sebelum akhirnya melangkah masuk. Mr Oh yang sedang duduk dikursinya segera bangkit ketika melihat kehadiran Mrs Xi.

"Akhirnya kau sampai juga." gumamnya sambil memeluk Mrs Xi.

Mrs Xi membalas pelukannya sebentar lalu segera melepaskannya.

"Ya, pesawat dari Beijing sering terjadi delay. Sangat menjengkelkan." keluhnya.

Mr Oh tertawa pelan lalu menyuruhnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan dimejanya sudah terdapat dua gelas teh hangat yang memang sudah dipersiapkan.

"Jadi?" gumam Mrs Xi membuka suara.

"Jadi apa?"

"Bagaimana anakku disini?"

Mr Oh terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada calon istrinya itu, haruskah ia berkata jujur atau bohong soal hubungan anak mereka yang saat ini sudah sangat amat dekat.

"Luhan? hm.. Dia.. anak yang baik."

Mrs Xi tersenyum, "Tentu saja." ia berhenti sebentar untuk menyesap teh hangatnya, lalu melanjutkan, "Aku tidak melihat Sehun."

"Mungkin dikelas."

Mrs Xi mengangguk, "Jadi, kapan kita akan memberi tahu hal ini pada mereka berdua? Oh ya, Aku sempat bertemu Luhan, dan ia menyebut-nyebut soal Sehun tadi."

Mr Oh menegang. Apa yang dikatakan anak itu? "B-benarkah?"

"Ya. Sepertinya mereka sudah cukup dekat. Apa mereka sering main berdua?"

"Y-ya.."

Mr Xi tersenyum senang, "Kalau begitu baguslah!"

"Tapi .."

"Oh ya." sela Mrs Xi, "Apa yang memberikan sweater rusa pada Luhan itu.. kau?"

Kali ini Mr Oh mengangguk, "Ya, aku yang memberikan itu padanya. Kudengar kau tidak mengiriminya hadiah hm?"

Mrs Xi tersenyum kaku, "hehe, ya. Aku sibuk dengan butik ku akhir-akhir ini. Aku juga jadi jarang menelfonnya karena aku sudah tau kabarnya darimu."

"Jadi kurasa kita harus memberi tahu mereka secepatnya." gumam Mr Oh. Sebelum mereka menjadi jauh lebih dekat lagi, tambahnya dalam hati.

"eh? Memangnya kenapa?"

"Karena ... mereka .. sudah sangat dekat." gumam Mr Oh gugup. Mrs Xi menaikan alisnya bingung, "Lalu kenapa? Bukankah itu bagus? Jadi—"

"Tidak." sela Mr Oh langsung. "Maksudku, mereka sudah .. terlalu dekat."


Malam itu Luhan sangat terkejut ketika ibunya datang ke kamarnya dan mengajaknya untuk pergi ke rumah Sehun.

"T-tunggu Ibu, ada apa?" tanya Luhan bingung. Apa ia dipanggil oleh kepala sekolah alias ayahnya Sehun? Apa ia akan di tanyai seputar hubungannya dengan Sehun? Astaga Luhan benar-benar tidak bisa berfikir jernih hari ini.

"Ikut saja, Tidak ada apa-apa Luhan sayang." gumam ibunya lembut.

Luhan terlihat ragu sejenak, lalu ia menoleh ke arah Baekhyun.

Baekhyun segera mengisyaratkan agar Luhan pergi dengan ibunya.

Luhan menghela nafas, lalu akhirnya memutuskan untuk pergi bersama ibunya, Ke rumah Oh Sehun.

Rumah yang berjarak tidak terlalu jauh dari asrama laki-laki itu dapat ditempuh oleh Luhan dan ibunya dengan waktu kurang dari 5 menit. Luhan sering melihat rumah itu, tapi dia tidak pernah tau kalau rumah tersebut adalah rumahnya Sehun.

Luhan dan ibunya melangkah masuk, sebuah ruang tamu besar menyapa mereka. Di salah satu sofa, Sehun sedang duduk sambil menonton tv—tapi matanya tidak benar-benar memperhatikan acara di televisi itu.

Sehun melamun lagi. gumam Luhan dalam hatinya.

"Kami datang." gumam Mrs Xi.

Sehun dan ayahnya segera menoleh. Sehun tercekat ketika melihat Luhan dan ibunya berdiri di depan pintu masuk.

Mata Sehun dan Luhan bertemu, Luhan tersenyum pada Sehun dan Sehun membalasnya dengan senyuman yang samar, sangat samar.


Mereka datang untuk membicarakan hubunganku dan Luhan? fikir Sehun. Ayahnya mempersilahkan Luhan dan ibunya untuk duduk di sofa, Sehun segera mematikan televisinya dan membungkuk untuk memberi hormat pada Mrs Xi.

Luhan duduk disamping Sehun sementara Mrs Xi dan Mr Oh duduk di sofa yang lain.

Luhan menggenggam tangan Sehun, lalu berbisik, "Kemana saja? Aku merindukanmu."

Sehun tersenyum tipis lalu menggenggam erat tangan Luhan tanpa berkata apa-apa.

Mr Oh berdehem, "Jadi. Alasan kita berkumpul disini adalah, kami punya suatu berita penting." gumamnya serius.

Jantung Sehun dan Luhan sudah berdetak kencang. Otak mereka memikirkan banyak hal-hal negatif, kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan dikemukakan oleh orang tua mereka.

"Ayah dan ibu akan menikah." kata Mr Oh tegas.

Dan pada saat itu juga, genggaman tangan Luhan melemah.

Sehun menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya, "Apa?!"

"Keputusan kami sudah bulat Sehun. Kau tidak bisa melakukan apapun tentang hal ini."

"T-tapi .."

Mrs Xi menyela, "Kalau alasanmu adalah tentang hubungan kalian. Ibu rasa, ibu harus menjelaskan sesuatu kepada kalian." katanya.

Kali ini Luhan mendongak kaget, jadi ibunya sudah mengetahui hubungannya dengan Sehun?

"I-ibu?!"

"Sehun, Luhan. Sebenarnya kalian adalah saudara kembar."

Mata Sehun dan Luhan melebar. Menatap Mrs Xi dengan tatapan tidak percaya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Ini mimpi?

"A-apa?!"

Mrs Xi menghela nafas pelan, "Maaf karena kami baru memberi tahu ini semua sekarang. Tapi, Sungguh. Ibu tidak berbohong."

"...Dulu, ayah dan ibu sempat berpacaran bahkan sampai menikah. Saat ibu kuliah diSeoul, ibu bertemu dengan ayah dan kami berpacaran. Lalu saat kami ingin menikah," Mrs Xi berhenti sebentar lalu menoleh ke arah Luhan, "Kakekmu, Luhan. Ia tidak menyetujui pernikahan kami karena pada saat itu pekerjaan ayah kalian tidak jelas. Tapi tanpa sepengetahuan kakek kalian, Ibu akhirnya menikah juga."

"...Tapi satu bulan kemudian, Kakek kalian menjemput paksa ibu pulang ke Beijing dan menceraikan ayah dan ibu. Ibu tidak tahu kalau saat itu ibu sedang hamil. Di Beijing, Ibu dinikahkan oleh seorang laki-laki yang mau menerima ibu walaupun ibu sedang hamil. Dan orang itu adalah, orang yang selama ini kau panggil ayah, Luhan."

Luhan terdiam. Jadi.. ayahnya itu bukan ayah kandungnya?

Kali ini Mr Oh memotong dan melanjutkan, "Setelah 3 bulan ditinggal oleh ibu kalian, ayah memutuskan untuk menikah lagi. Dengan orang yang selama ini kau panggil ibu, Sehun."

"...Lalu beberapa bulan kemudian, ayah mendapat kabar kalau kalian lahir. Akhirnya ayah pergi ke Beijing, dan tanpa sepengetahuan kakek kalian, ayah mengambil salah satu dari kalian. Dan anak itu adalah kau, Sehun." jelasnya panjang lebar.

"Kami bisa bertemu lagi lewat Kris, yang dulu adalah sahabat kami berdua. Kami memutuskan untuk kembali bersama dan membangun keluarga bahagia dengan kalian, Sehun, Luhan." gumam Mrs Xi.

Sehun dan Luhan hanya terdiam. Terlalu bingung untuk berkata-kata. Terlalu sakit. Terlalu tiba-tiba. Semuanya begitu sulit dipercaya. Baik Sehun maupun Luhan, keduanya hanya terdiam. Tidak tau harus berkomentar apa tentang kenyataan menyakitkan yang terbongkar ini.

Melihat kedua putranya terdiam, Mr Oh melanjutkan, "Itulah sebabnya kenapa ayah melarangmu menjalin hubungan dengan Luhan. Dia kakakmu, Sehun."

"Cukup!" Sela Sehun tiba-tiba. Ia tidak mau mendengar ayahnya berbicara lebih banyak lagi, semua kalimat yang keluar dari mulut ayahnya hanya membuatnya sakit. "Aku tidak percaya ini semua.

Omong kosong macam apa ini huh?!"

"Sehun, Aku ibumu." gumam Mrs Xi.

Luhan melepaskan genggaman tangannya di tangan Sehun, "Kurasa aku bisa mengerti ini semua." gumamnya pelan. Sehun menatapnya dengan tatapan tidak percaya, "Apa maksudmu?"

"Kurasa ini bukan hal yang bisa dijadikan lelucon atau omong kosong." gumam Luhan lagi.

"Luhan benar." gumam Mr Oh, "Sehun, sekalipun jika kami membatalkan pernikahan ini. Kalian tetap tidak bisa bersama. Apa kau mau berpacaran dengan kakakmu sendiri?!"

"Ayah cukup!" teriak Sehun. "Luhan bukan kakakku!"

"Sehun! Bersikaplah lebih dewasa! Terima kenyataan ini! Jangan buta oleh cinta!" bentak ayahnya.

Luhan tidak kuat, ia tidak bisa berada disana lebih lama lagi. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan, dadanya sudah sesak menahan semuanya. Ia harus pergi dari sana. "A-aku, aku, bisa mengerti semuanya. Jadi—" Luhan berdiri, "Aku rasa aku harus pergi." gumamnya, Lalu berlari keluar dari rumah Sehun.

"Luhan! Tunggu!" Teriak Sehun, lalu segera menyusul Luhan.

Mr Oh dan Mrs Xi hanya terdiam ditempat mereka. Bingung dengan apa yang harus mereka perbuat terhadap hal yang sudah terlanjr terjadi kepada anak mereka.

"Seharunya kita memberi tahu mereka sejak awal." gumam Mrs Xi pelan lalu mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya.


Tangis Luhan pecah, ia berlarian dari rumah Sehun menuju asrama. Tapi kakinya tidak kuat, ia terlalu lemah bahkan ia tak sanggup berjalan.

Luhan terisak, semua kenyataan yang baru saja ia dengar terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Begitu menyakitkan. Tidak pernah terlintas difikirannya kalau Sehun adalah adiknya.

"Luhan!" suara Sehun menyadarkan Luhan dari alam kegalauannya. Sehun menghampirinya lalu hendak menggenggam tangan Luhan tapi

Luhan segera menghindar.

"Jangan dekati aku! Pergilah Sehun!" teriak Luhan.

"Luhan! Jangan seperti itu! Secepat itukah kau berfikir kalau semua ini adalah kenyataan? Secepat itukah kau berfikir aku benar-benar adikmu?!"

"Lalu apa?! Kau fikir ibuku berbohong, huh?!"

"Tidak, Luhan. Maksudku—"

"Sehun, dewasalah sedikit. Ini kenyataan. Hadapi ini semua!"

Sehun mengepal tangannya kesal. "Tidak!" teriaknya kesal. Lalu mencengkram erat bahu Luhan, "Aku mencintaimu! Secepat itukah kau menyerah?! Tidak mau mencari cara untuk membuka kesempatan untuk kita berdua huh?!"

Luhan terdiam dalam isakannya, ia sudah tidak tau harus berbicara apa lagi. Sesungguhnya ia sendiri juga tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.

Kenapa semuanya terjadi sekarang? Saat Luhan mulai jatuh cinta pada Sehun. Saat mereka berdua sudah mulai saling mencintai satu sama lain. Saat semuanya sudah mulai terasa baik-baik saja.

Kenapa semuanya begitu tiba-tiba? Saat Luhan merasa semua kepingan sudah terletak pada tempatnya, sekarang kepingan itu kembali hancur dan entah bisa atau tidak Luhan dan Sehun memperbaiki kepingan-kepingan itu menjadi satu kembali.

Sehun memeluk Luhan dengan erat, "Aku mencintaimu." bisiknya. Luhan semakin keras menangis, ia tidak bisa. Ia tidak bisa seperti ini.

"Aku akan mencari peluang untuk kita berdua. Sekecil apapun peluang itu, aku akan berusaha." gumam Sehun lagi, Luhan hanya bisa terisak.


"Tes darah?" tanya Mr Oh sambil menatap Sehun dengan alis dinaikan.

"Aku butuh bukti." gumam Sehun yakin.

Hanya ini satu-satunya cara untuk membuktikan apa benar bahwa ia dan Luhan adalah saudara kembar.

Mr Oh setuju dengan usul Sehun. Esoknya ia segera memanggil dokter pribadinya untuk mengambil darah.

Luhan, Sehun, dan Mr Oh sudah berkumpul di rumah Sehun. Mata Luhan terlihat sembab, mungkin karena ia akhir-akhir ini selalu menangis.

Sebelum darah mereka diambil, Sehun berbisik pada Luhan. "Apapun hasilnya, kuharap ini yang terbaik untuk kita." Luhan mengangguk.

Berusaha optimis akan hubungan mereka berdua kedepannya nanti.


Rencana pernikahan Mr Oh dan Mrs Xi sudah menyebar di seluruh Bullworth. Baekhyun, Chanyeol, dan Kai menjadi orang yang paling terkejut dengan berita itu.

Mereka adalah orang-orang yang mengetahui hubungan Luhan dan Sehun. Kalau orang tua Sehun dan Luhan menikah, lalu bagaimana nasib Sehun dan Luhan? Itulah yang ada difikiran mereka.

"Pantas saja mereka berdua akhir-akhir ini terlihat aneh." gumam Baekhyun.

Ia, Chanyeol dan Kai sedang makan siang di cafetaria.

Chanyeol mengangguk membenarkan, "Ya, Luhan dan Sehun jadi jarang bersama. Dan mereka juga lebih pendiam."

"Sayang sekali. Padahal menurutku mereka sangat cocok." tambah Kai.

Baekhyun menggigit apelnya, lalu bicara lagi. "Pantas saja ya, Luhan dan Sehun mirip."

Chanyeol mengangkat alis, "Kukira hanya aku yang menyadari hal itu?" katanya.

"Tidak, sejak awal melihat Luhan, aku langsung merasa seperi itu. Aura mereka berdua sama."

Kai menghela nafas, "Kasian sekali mereka. Semoga saja ada jalan terbaik bagi mereka berdua." kata Kai pelan. Baekhyun dan Chanyeol mengangguk mengamini.


Tangan Sehun bergetar ketika dokter memberinya amplop yang berisi hasil tes darahnya. Sehun pergi ke rumah sakit untuk mengambil tes darah itu, ia ingin menjadi orang yang pertama tau soal hal itu.

Kalaupun hasilnya menyakitkan, Sehun ingin menjadi orang yang sakit terlebih dahulu sebelum Luhan merasakannya.

Sehun menggenggam erat amplop itu. Ia masih terduduk di ruang tunggu rumah sakit. Ia takut membuka amplop itu, takut hasilnya akan menghancurkan dirinya, menghancurkan semuanya.

Beberapa lama kemudian akhirnya Sehun memberanikan diri untuk merobek amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas didalamnya. Sehun meneliti kertas itu pelan-pelan, hingga matanya menangkap sebuah kata yang ia sangat tidak ingin lihat di kertas itu.

Positif.

Hasil tes darah menunjukan jelas bahwa Sehun, Luhan, dan ayahnya, memiliki golongan darah yang sama.

Sehun melemas. Dunianya runtuh begitu saja ketika ia selesai membaca hasil tes tersebut.

Lalu apa yang akan ku lakukan selanjutnya? Melupakan semua perasaanku pada Luhan dan mulai memanggilnya dengan sebutan Hyung?Mulai memanggil Mrs Xi dengan sebutan Ibu?

Sehun tidak bisa. Ia tidak bisa melakukan itu semua. Membuang perasaan yang sudah terlanjur tumbuh itu tidak semudah membalikan telapak tangan.

Lalu Sehun harus bagaimana?

Sehun merunyamkan kertas hasil tes tersebut dengan kesal.

Ini tidak mungkin terjadi. Ini mimpi. gumam Sehun dalam hatinya. Dadanya sudah sesak untuk menahan tangis dan rasa sakitnya.

"Ini mimpi.. Seharusnya tidak begini..." gumam Sehun pelan lalu menutup wajahnya frustasi.


Kertas hasil tes itu tergeletak begitu saja di atas meja belajar Luhan. Sementara Luhan, ia menangis terisak di depan meja belajarnya.

Kenapa semuanya seperti ini?

Kenapa takdirku harus seperti ini?

Seharusnya ini tidak begini.

Luhan mulai menyesali perbuatannya di masa lampau.

Seharusnya aku tidak boleh jatuh cinta dengan Sehun.

Seharusnya aku membencinya.

Luhan melipat tangannya diatas meja dan membenamkan wajahnya disana. Dadanya terasa sangat sesak, matanya sudah basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

"Kenapa baru sekarang.. Kenapa harus Sehun.." gumam Luhan disela-sela tangisnya.

Luhan tidak tau harus bagaimana kedepannya. Rasa cintanya pada Sehun sudah terlanjur tumbuh, dan kuat. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu begitu saja.

Ketika ia mengingat-ingat lagi, mulai dari awal pertemuannya dengan Sehun, semua usaha Sehun yang selalu membuatnya tercengang, hingga akhirnya ia jatuh cinta pada Sehun. Mengingat itu semua membuatnya Bergidik ngeri.

Tidak bisa, Luhan tidak bisa menerima kenyataan ini.

Terlalu menyakitkan.

Baekhyun masuk ke kamar dan memandang Luhan dengan kasihan. Ini pertama kalinya ia melihat Luhan menangis dengan begitu terisaknya. Tentu saja baekhyun sangat mengerti perasaan Luhan. Baekhyun adalah saksi hidup masa pendekatan Sehun dan Luhan. Bagaimana Luhan membenci Sehun dulu, hingga sekarang Luhan bisa mati tanpa Sehun. Baekhyun mengerti semuanya.

Baekhyun menghampiri Luhan lalu menepuk pundaknya pelan, mencoba memberi semangat. "Kau bisa melewati ini semua Luhan. Kau kuat, aku tau itu."

Luhan mendongak menatap Baekhyun, lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat. Ia menangis lebih keras lagi. "Baekhyun.. Tolong aku.." gumam Luhan pelan disela tangisnya.

Baekhyun menepuk-nepuk punggung Luhan, "Kau kuat, aku tau kau bisa melewati ini semua Luhan."

"Tidak Baekhyun, aku tidak bisa, tolong aku.."

Baekhyun tidak bisa mengatakan apapun pada Luhan, ia hanya membiarkan sahabatnya itu menangis dipundaknya.


Hari pernikahan Mr Oh dan Mrs Xi akhirnya digelar. Saat ayah dan ibunya itu berbahagia, Sehun dan Luhan justru merasa tertekan. Keduanya akan tinggal satu rumah nantinya, dengan status baru sebagai adik-kakak.

Luhan ada dipesta pernikahan yang diadakan di Bullworth itu. Tapi tidak dengan Sehun.

Entah kemana perginya Sehun, tapi hari itu Sehun tidak menunjukan batang hidungnya.

Walaupun menyakitkan, Luhan tetap bisa berusaha terlihat ceria dan memberi selamat kepada orang tuanya. Tapi tidak dengan Sehun. Sehun bukan tipe orang yang seperti itu, jadi ia tidak menghandiri pesta itu.

Sejak hari itu, Luhan dan ibunya pindah untuk tinggal di rumah Mr Oh. Meskipun tinggal satu rumah, Sehun dan Luhan tidak pernah bertegur sapa.

Baik Sehun maupun Luhan, keduanya bersikap dingin ketika bertemu. Tersenyum pun tidak. Keduanya hanya merasa semakin tertekan jika mereka saling berinteraksi. Jadi keduanya memilih menutup mulut rapat-rapat dan berperilaku seperti orang yang saling tidak mengenal satu sama lain.

Dua minggu tinggal bersama. Sehun terasa seperti di neraka. Ia tidak bisa terus menerus bertemu dengan Luhan. setiap kali matanya bertemu dengan Luhan, rasa sakit dihatinya akan muncul begitu saja. Dirumah, Disekolah, Di kelas, di Tempat ekskul, Sehun selalu bertemu dengan Luhan. Mungkin dulu, saat bertemu Luhan ia akan melonjak kegirangan dan segera mendekatinya. Tapi sekarang justru sebaliknya, Ia menghindar dan berpura-pura tidak melihat Luhan.

Akhir-akhir ini Sehun jarang pulang dan masuk sekolah. Ia lebih sering menginap diluar dan bolos. Seperti hari ini, Sehun pergi ke Bar padahal seharusnya ia berada di kelas Bahasa Inggris sekarang.

Sehun jadi sering mabuk. Karena hanya pada saat itulah ia bisa melupakan semua masalahnya—walau hanya untuk sebentar. Tapi setidaknya Sehun merasa sedikit lebih baik.

Kadang terpintas difikirannya untuk bunuh diri. Karena jika ia mati, rasa sakit dihatinya juga akan mati, kan?

"Satu gelas lagi." pinta Sehun, dengan nada yang lemas. Bartender itu menatap Sehun dengan alis yang dinaikan, "Nak, kau harus pulang. Orang tua mu pasti menghawatirkanmu."

"Orang tua yang mana huh?! Jangan sok tau dan cepat berikan aku satu gelas lagi!"

"Aku tidak bisa."

"Kau macam-macam denganku huh?!"

"Lalu kenapa? Kau hanyalah bocah ingusan yang mabuk-mabukan karena masalah sepele, kan?"

Sehun menggebrak meja bartender itu, "Apa kau bahkan tau masalah apa yang sedang kualami huh?! Pernahkah kau mencintai orang yang seharunya tidak kau cintai?! Pernah huh?!" teriak Sehun kesal pada bartender itu.

Bartender itu terdiam, "Pulanglah." gumamnya pelan.

"Tidak! Aku tidak sudi pulang ke rumah!"

"Sehun, Cukup!" sela Chanyeol yang tiba-tiba datang. Sehun menoleh, lalu menyunggingkan seulas smirk, ketika melihat Chanyeol berada disana. "Oh, sahabatku. Kesini lah, kita bersenang-senang bersama." kata Sehun.

Chanyeol mendekati Sehun lalu menamparnya. "Beginikah caramu melampiaskan kegalauanmu huh?!" teriak Chanyeol kesal.

Sehun mengelus pipinya lalu segera bangkit untuk menonjok Chanyeol, tapi tenaganya tidak kuat karena ia dalam pengaruh alkohol sehingga Chanyeol bisa dengan mudah menghindar.

"Sehun! Sadarlah! Semua ini bukan akhir dari hidupmu!" bentak Chanyeol lagi.

Mata Sehun mulai basah, "Chanyeol. Kau tidak mengerti! Tau apa kau?! Apa kau tau betapa sakitnya aku, Huh?! Kau tau seberapa cintaku pada Luhan huh?!"

Chanyeol menatap sahabatnya itu dengan iba. Sehun terlihat kurus, matanya sembab, dan terlihat frustasi. Ia tidak pernah melihat Sehun seburuk itu sebelumnya.

"Kenapa diam? Kau tidak bisa berkata apa-apa kan?! Bayangkan kau berada diposisiku! Bayangkan jika hal ini terjadi padamu dan Baekhyun! Apa yang akan kau lakukan huh?!"

"Aku tau ini semua menyakitkan, tapi, bukan begini caranya kau melupakan Luhan!"

"Lalu bagaimana?! Kau fikir mudah membuang rasa cintaku pada Luhan begitu saja huh?! Kau fikir perasaanku padanya selama ini hanya main-main?! Aku mencintainya Chanyeol! Aku mencintai Luhan!"

Chanyeol terdiam sejenak sementara Sehun sudah berlutut di lantai sambil menutup wajahnya dan mulai menangis terisak.

Terlihat jelas kesedihan yang terpancar dari aura Sehun.

"Sehun, kurasa ada cara lain untuk menghindari Luhan." kata Chanyeol pelan.


Akhirnya konfliknya muncul juga. Maaf ya kalo sedihnya gadapet, karena aku nulisnya dalam keadaan hati yang riang gembira(?) muahaha

Next chapter yang terakhir :((( Keep waiting yaa :3

Thanks for follow, fav, and review :3 *peluk hunhan*