AN : Segala lirik lagu yang dipakai dalam chapter ini bukan milik saya! Lagu Pasrah yang dinyanyikan Takao itu lagu dangdut jadul. Gombalan Moriyama diambil dari Aquarion Evol episode satu, dan ide 'kencan' ini terinspirasi dari Mr. Fullswing (tapi kalau di situ uji keberanian).

Warning Aneh. Alay. Crack. OOC. Traps?

Standard Disclaimer Applied.


.

.

Saikyou Ichiban!

.

.

.

Minggu pagi, seorang anak lelaki berambut merah masih terlelap di futon yang besar dan empuk. Kamarnya merupakan kemewahan tradisional; apik, berpetak-petak tatami yang luas, perabotan kayunya juga kualitas nomor satu. Biasanya pada jam-jam segini, para wanita cantik berkimono sudah membangunkan sang tuan muda, tetapi Akashi Seijuuro berpesan agar ia jangan dibangunkan.

Sebelum ada yang bertanya, para wanita cantik berkimono itu pelayan rumah. Akashi tidak koleksi geisha.

Walaupun ia seorang diktator cilik yang diramalkan Nostradamus akan menguasai Jepang pada tahun 2024, Akashi Seijuuro juga bisa lelah raganya. Bagaimanapun ia anak manusia, bukan robot apalagi rekayasa genetika seperti yang dituduhkan orang-orang (mata Akashi kadang-kadang berubah warna jadi kuning, tapi ia 100% manusia biasa).

Tadi malam ia melakukan pengecekan kualitas setting yang sudah siap di Teikou. Karena ada beberapa hal yang membuatnya tak puas, Akashi sempat berdebat sangat panas dengan Hyuuga via telepon. Kompromi mengenai latar panggung baru tercapai di waktu subuh, itupun dengan beberapa catatan tertinggal. Akibatnya, Akashi Seijuuro sangat mengantuk dan akan mengutuk mati siapapun yang membangunkannya.

KRIIIIING

Dari balik selimut, Akashi menatap handphone di samping futon dengan penuh dendam. Layarnya langsung retak.

.

Siang harinya, Akashi beli handphone baru.


"Akashicchi kok telat sih!" Sepupunya, yang melihatnya masuk ke dalam aula Teikou, langsung berhenti latihan dan menghampirinya dengan omelan.

Akashi, yang baru saja datang, kurang tidur, handphonenya rusak, dan matanya berubah kuning lagi, makin bête karena diomeli seperti itu. Ia masuk ke aula Teikou dengan wajah masam, sambil menenteng tas kertas berisi handphone baru. Tas laptop ada di tangan kirinya. "Handphoneku rusak, harus beli yang baru."

"Ooh, handphonemu rusak! Pantas tidak bisa kutelpon."

"Jadi yang tadi pagi menelponku itu kamu?" Akashi siap mengutuk Kise agar yang bersangkutan dihukum jadi batu.

Sayangnya, yang bersangkutan terlalu tumpul untuk menyadari amarah sepupunya. Ia malah menjawab polos, "Iya, soalnya ada kabar gembira bagi kita semua."

"Kabar gembira apa?"

"Kulit manggis sudah ada ekstrak—ADUH KAKIKU JANGAN DIINJAK!"

.

.

.

Anggota tim generasi mukjizat duduk di lantai aula mengelilingi Akashi, yang memangku laptop. Mereka mau mendengarkan Kakek Akashi mendongeng. Oh bukan. Mereka mau mendengarkan musik teater yang sudah jadi.

Salah satu highlight dari latihan hari ini adalah mendengarkan musik teater yang sudah jadi. Walau masih berupa rekaman file mp3 karena jadwal STK48 yang terlalu padat untuk bermain langsung, akan tetapi kehadiran musik tetap ditunggu. Rolling dengan musik membuat segalanya menjadi nikmat.

Kalau sudah latihan, kalimat di atas akan direvisi. Rolling dengan musik membuat segalanya menjadi berat, tapi itu urusan nanti.

Setelah memasukkan flash disc, Akashi mengklik file lagu pertama. Keluarlah pitch Takao yang khas:

Be soul fuuun! Be soul fuun! Let your soul have fuuun!

Semua berusaha menahan tawa. Iramanya bagus sih, tapi pelafalan Takao yang parah mengubah lirik be soul fun jadi Bisolvoon Bisolvoon merek obat. Beberapa anggota timpro yang ada di dekat mereka terkikik geli.

"Bukan yang ini."

Akashi mengklik lagu selanjutnya di laptop.

RAAAGE ON MABUSHI HIKARIII! SURU DOKUUU!

"Bukan yang ini." Klik.

Kubuka album biru…

Penuh debu dan usang…

"Bukan yang ini." Klik.

Lebih baik kau bunuuuh

Aku dengan pedangmuuu

"Nah, yang ini."

Mereka pun mendengarkannya dengan khidmat.

.

Lebih baik kau bunuuuuh

Aku dengan pedangmuu

Asal jangaaaan (cengkok)

Kau bunuh aku dengan sikapmuuu

.

Reff:

Lebih baik akuuu mati di tanganmuuu!

Daripadaaaa aku matiii bunuh diriii…

.

"A-Apaan, sih?" Midorima jengah saat semua orang menatapnya dengan ekspresi sulit. Salahkan Takao yang kalau nyanyi sambil curhat.

.

.

.

Sesuai janji, kalimat di atas sudah direvisi. Rolling dengan musik membuat segalanya menjadi berat. Atau mungkin Akashi sedang mode sadis karena kesal handphonenya rusak. Salah sedikit, di-cut. Improvisasinya tidak nyambung, diulang dari awal. Setelah tiga jam, mereka baru masuk babak lima, dan semua skenario para pemain sudah habis dicoret-coret untuk perbaikan. Yang bersih cuma Murasakibara, karena dia lupa bawa pulpen.

Di tengah latihan, Akashi membuat beberapa catatan dalam skenario sutradara, 'dua hari lagi rolling dengan pemain musik', 'Atsushi, Satsuki latihan gestur' hingga 'Daiki makin dekil, harus dilulur'.

.

.

Pada jam tiga sore, tim pemain dan tim produksi baru bisa makan siang. Itupun karena Murasakibara hampir pingsan kurang karbohidrat, di luar fakta bahwa dia selalu sarapan 3x porsi manusia normal. Seperti biasa, tiga bidadari kesayangan mereka (Mitobe, Wakamatsu, dan Sakurai) sudah membuatkan makan siang di dapur SD Teikou.

Makan siang di aula Teikou berlangsung santai, namun seperti biasa Akashi memecahkan suasana riang tersebut dalam satu kalimat saja,"Hari ini kita menginap bareng-bareng ya, tidak boleh ada yang protes."

Semua tersedak minuman dan makanan masing-masing. Koganei yang sedang ngemil tertusuk pocky di tenggorokan.

"Kupikir, karena sebentar lagi kita akan tampil, ada baiknya kita menginap dan bersenang-senang sehari untuk mempererat persahabatan."

"K-Kenapa ga bilang dari kemarin-kemarin!" Tentu saja banyak yang protes. Bukan karena bagian mempererat persahabatannya, tapi karena acara itu dilakukan hari ini juga. Hari sudah sore, dan tidak ada persiapan apa-apa. Izin pun belum.

"Aku sengaja bikin kejutan." Kalau mau jujur, Akashi sebenarnya lupa bilang, tapi semua orang tak perlu tahu. "Oh iya, kalau kalian tidak ikut, tentunya tahu apa yang akan terjadi, kan?"

Semua makin diam.

"Baiklah, segera minta izin kepada orang tua kalian untuk menginap dan persiapkan baju ganti. Waktunya tiga puluh menit. SE-KA-RANG!" Akashi bertitah dan bertepuk tangan sekali dengan santai, tidak menghiraukan bahwa ini di tengah-tengah istirahat makan.

MAU BIKIN KEJUTAN JUGA ADA BATASNYA DOOONG! Itulah pemikiran semua orang yang segera lari ke rumah masing-masing, sosis di mulut dan onigiri di tangan, botol air mineral berjatuhan.

.

.

.

Tiga puluh menit kemudian yang berlalu dengan cepat, semua sudah berkumpul kembali dengan bawaan menginap masing-masing. Aomine yang paling minimalis dan tidak bawa apa-apa, kecuali kaus ganti dan sikat gigi (nanti ia akan memalak odol dari Sakurai). Midorima mempersiapkan radio mini untuk mendengarkan Oha-Asa pagi hari. Koganei yang tidak bisa tidur dengan guling, membawa guling andalan yang tidak pernah dicuci sejak dibeli.

Moriyama membawa sesisir pisang. Tidak ada alasan khusus sih, dia cuma suka makan pisang.

Yang terkumpul untuk acara menginap ini hampir lengkap; anggota generasi mukjizat, Black Men, Riko, Wakamatsu, Sakurai, dan Moriyama. Hyuuga ikut, tetapi ia izin keluar untuk membeli bahan bangunan. Maklum, ketua. Tanggung jawab sebelum senang-senang.

Yang tidak ikut justru kedua orang dewasa di antara para bocah. Saat ditanya kemanakah Imayoshi dan Kasamatsu, Akashi hanya menjawab, "Mereka sudah izin kok. Ada urusan orang dewasa."

.

Pasti mau pacaran, Kise dan Moriyama berpikiran sama.

Urusan orang dewasa itu maksudnya bayar pajak, ya? pikir Kiyoshi polos sambil tersenyum senang karena keduanya adalah warga negara taat pajak.

.

"Ngomong-ngomong, kita tidurnya bagaimana?" tanya Wakamatsu khawatir. Mengingat sifat Akashi, jangan-jangan mereka disuruh tidur di lantai aula yang dingin bagai penjara?

"Ada futon darurat, kok. Kita akan tidur di dojo kendo Teikou yang ada tataminya." Semua bernapas lega.

"Cewek-cowoknya gabung, nih?" Alis Riko naik satu.

"Yang perempuan acaranya terpisah, kok. Tenang saja." Senyum Akashi sejuta dollar. Kalau sedang berniat menawan hati wanita, dia mirip dengan Kise. "Ayo para putri, ikuti aku."

.

.

.

Sementara Riko, Momoi, dan para pemeran teater menghilang bersama Akashi, para tim produksi mengambil futon properti SD Teikou. SD Teikou memang memiliki banyak futon cadangan untuk antisipasi bencana, karena di masa lalu para murid pernah terjebak di sekolah berhari-hari akibat badai berkepanjangan. Kasur-kasur itu mereka pindahkan ke dojo kendo Teikou dengan semangat gotong royong.

Bukan hanya aula dan gedung olahraga, Tim Generasi Mukjizat memperluas pengaruh mereka hingga ke dojo kendo. Bagaimanapun juga, sekolah ini milik bapaknya Akashi, jadi suka-suka mereka pindah ke mana. Mereka mauacara kurban di lapangan sekolah juga tidak masalah.

Dojo kendo itu kecil tapi bersih, malah terbilang baru. Tataminya enak dan berbau wangi, sehingga sambil menunggu sang sutradara, bocah-bocah yang terlantar akhirnya guling-gulingan di atas tatami, dan Kiyoshi terlanjur ketiduran.

Karena di dojo ada beberapa pedang kayu, Moriyama dan Koganei main-main jadi samurai. Izuki dipaksa jadi tokoh utama wanita. Di tengah dojo itu, kedua samurai berhadapan, sedangkan sisanya menonton sambil tiduran di atas tumpukan futon.

"Takkan kuserahkan Izuki-hime padamu." Moriyama berkata dengan pedang kayu di tangan, rumput tergigit di mulut. Angin entah dari mana meniup rambut. Semua yang menonton berkata, Ooooh.

"Langkahi mayatku kalau kau mau menyentuh Izuki-hime!" Koganei bergaya dengan pedang kayu, persis samurai di drama jaman dulu.

Izuki berteriak dengan nada banci, kain pelapis futon dipakai jadi kimono, "Hentikan kalian berdua! Jangan bertengkar karena aku!"

Ketika kedua samurai tersebut nyaris beradu pedang, pintu dojo terbuka tiba-tiba.

BRAK!

Tampak Akashi yang sudah ganti baju dengan tuxedo dan dasi pita, di kedua tangannya ada kotak undian. Semua jatuh di tempat, kaget karena suara keras dari pintu. Koganei terguling tiga meter.

"A-Akashi? Kenapa pakai baju begitu?" Moriyama kaget seraya berusaha berdiri.

"Ayo semua siap-siap, acaranya mau dimulai."

.

.

"Ujian Asmara!?" di depan gedung olahraga SD Teikou, semua orang serempak bertanya.

"Benar sekali. Untuk persiapan di masa depan, bukankah ada baiknya kita berlatih dari sekarang demi pasangan? Keromantisan tersembunyi laki-laki adalah hal yang selalu dicari para wanita, bukan?" Akashi menjelaskan, tetap tersenyum ala pemandu acara Take Me Out. "Lagipula, ini juga permainan untuk melihat siapa yang paling romantis di antara kalian."

"Permainan?"

"Lebih tepatnya ini permainan jodoh-jodohan kecil."

Akashi mulai menjelaskan tata cara permainan. Pasangan ditentukan dari undian. Selama dua puluh menit, satu-persatu pasangan harus masuk ke hutan (lebih tepatnya kerumunan pepohonan lebat) di dekat gudang olahraga Teikou. Yang laki-laki harus bisa menyenangkan atau bersikap romantis pada pasangannya. Para perempuan akan memberi mereka skor tertentu. Tentu saja penilaian diberikan dari seberapa senang sang perempuan, sehingga hal ini sangat bergantung pada kecocokan, keterampilan pria, dan keberuntungan. Lebih tepatnya, penilaian itu subjektif.

Wakamatsu interupsi. "Tunggu, kalau ada skor, berarti ada skor terendah dan tertinggi?"

"Benar sekali. Tentu saja ada hukuman dan hadiah bagi keduanya."

"Hukuman…"

Akashi tersenyum lalu menebar umpan pancingan. "Tenang saja. Sudah kusiapkan yang cantik-cantik khusus untuk hari ini. Sudah spesial dari Rakuzan Beauty Salon punya ayahku."

"Yang cantik-cantik?" semua terkesiap. Di pikiran mereka langsung berkelebat para wanita cantik; yang berbaju suster, yang berkimono tradisional lengkap dengan payung kertas, yang bergaya office lady, hingga yang cosplay Ronald (Koganei suka fast food) Para anak lelaki yang baru puber itu langsung semangat membayangkan kencan singkat di tengah hutan, dan perempuan cantik seperti apa yang akan menemani mereka.

Dasar anak-anak genit, padahal punya jakun pun belum.

"Ngomong-ngomong, mana para pemeran teater?" tanya Kiyoshi. Ia tidak melihat selembarpun rambut biru tua, biru muda, kuning, hijau dan ungu.

"Mereka ada kegiatan lain." jawab sang koordinator acara, Akashi Seijuuro. "Ini kegiatan khusus untuk tim produksi yang laki-laki, kok. Anggaplah sebagai penyemangat moral sebelum tampil."

"Tapi karena berbagai keterbatasan, yang memiliki kesempatan ini hanya enam orang." Akashi berdehem sambil memegang kotak undian yang sudah disiapkan dari kotak tisu. "Akan ada dua orang yang tersisihkan. Bertarunglah satu sama lain. Para tuan putri sudah menunggu."

"B-Bertarung satu sama lain…?"

.

Mereka pun bertarung dengan jantan : "HOM PIM PA!"
.

Akhirnya didapatkanlah keenam pemenang : Mitobe, Izuki, Sakurai, Wakamatsu, Kiyoshi, dan Furihata. Yang lainnya, Koganei dan Moriyama, gigit jari. Keenam pemenang tampak berseri, bersiap untuk kencan sehari. Andai mereka tahu apa yang akan terjadi.

.

.

"Baiklah, peserta pertama adalah Shun. Silahkan diambil undiannya."

Yang bersangkutan menutup mata, mengaduk-aduk kertas undian dalam kotak dengan tenaga berlebihan, lalu mengambil satu-yang-terpilih. Di kertas itu tertulis kode, DP.

Apa itu DP? Down Payment? Suatu kode tertentu?

"DP, sekarang giliranmu!" Akashi mengetuk pintu gudang olahraga Teikou yang ada di hadapan mereka. Pintu gedung itu sudah dihias dengan balon dan kertas krep. Akashi semangat sekali.

Dari dalam, terdengar gema ketukan sepatu, dan pintu terbuka… Di antara kepulan asap entah dari mana, muncullah pasangan kencan pertama, DP… Alias Aomine Daiki yang berpakaian ala black gyaru dengan seragam sailor mini dan ketat, tas dengan banyak gantungan boneka, perhiasan, make up kecoa, dan loose socks. Semua syok.

"Halo, Daiki Persik di sini."

Daiki menatap mereka semua dengan tatapan, 'Kalau bersuara, kubunuh!'

.

"Katamu banyak yang cantik!" Semua protes, terutama Izuki, Wakamatsu, dan Furihata. Mitobe muram. Sakurai sudah berpasrah diri dan menangis dalam diam. Kiyoshi hanya tertawa, menganggap dirinya yang tertipu itu lucu. Menyenangkan sekali menjadi Kiyoshi, bisa mengambil sisi positif dari segala suasana.

Kalau dibilang kencan, mereka ingin kencan dengan perempuan asli, bukan anggota Generasi Mukjizat yang didandani jadi banci.

"Cantik, kan?" Akashi menelengkan kepala, entah bingung atau pura-pura bingung pada protes teman-temannya. "Tidak apa-apa kok, di dalam juga masih banyak yang secantik ini."

Cantik? Apa mata Akashi sudah rusak karena terlalu sering ganti warna jadi kuning?

"Kenapa tidak pakai perempuan beneran? Mana Momoi-san dan Riko-san?" tanya Kiyoshi, mencari kehadiran dua kembang di antara para kumbang. Sejauh mata memandang, tidak ada. Kalau dipikir-pikir, dari tadi juga mereka tidak kelihatan.

"Mereka berdua sedang pergi ke kota."

"EH?"

.

.

.

Saat itu, Momoi dan Riko…

"Kyaaa!"

"Cakenya enak sekali!"

Di suatu cake shop bintang lima di Tokyo, Momoi dan Riko tengah menikmati kemewahan semalam hadiah Akashi. Menurut Akashi sebelum mereka diantar naik limousine, "Kalian pasti capek karena harus bersama-sama dengan para bocah bandel itu. Jadi manjakan diri kalian malam ini."

Momoi dan Riko tentu saja mengiyakan.

Setelah makan, mereka sudah didandani di salon dan butik terkenal yang dipesan Akashi. Oh, betapa asyiknya jadi tuan putri sehari.

.

.

.

"Jadi mereka sedang makan enak, dan kami disuruh menemani banci?" Wakamatsu melongo tak percaya dengan belokan takdir yang menimpanya. Tapi Akashi tidak menghiraukan protes para peserta.

"Baiklah, Shun. Sesuai tata cara yang sudah kujelaskan, kalian akan berkencan selama dua puluh menit di tengah hutan, lalu kembali ke sini. Perlakukanlah teman kencanmu semenyenangkan mungkin karena dia yang memberimu skor." Akashi tersenyum kebapakan saat memberitahukan rencana setan berkedok kencan itu. "Kalau skormu jelek, akan-"

ckris!

" – dihukum."

Izuki merepet. Bagaimana caranya bersikap romantis pada monyet yang didandani? Bisa atau tidak taruhannya nyawa. Ia berusaha meminta bantuan, memandang teman-teman seperjuangannya, dan melihat semuanya mengatupkan tangan dan berdoa, namu amida butsu…

Teman-temannya sudah merelakannya, betapa kejamnya. Izuki mengirim sinyal minta tolong kepada Moriyama, memohon dengan mata berkaca-kaca. Moriyama jadi tidak tega.

"I VOLUNTEER!"

Seperti adegan film Hunger Games, semua orang menoleh.

"Eh, maksudnya, aku mengajukan diri! Lepaskan Izuki." Moriyama maju dengan jantan, walau dia tahu akan menyesal sepuluh menit kemudian. Tapi apa yang tidak buat cinta? Moriyama memegang tangan Daiki Persik. "Aku yang akan kencan dengan siluman ini."

"Moriyama…" Izuki terharu, Aomine terhina.

Menangkap momen, Moriyama langsung menambahkan kata-kata maut. Dengan rambut tertiup angin ia menoleh ke arah Izuki, ketampanan bertambah 200%. "Tidak apa-apa badan ini terluka… Asal bukan hati yang terluka."

Mantap sekali, kawan.

.

Ketika mereka kembali dari hutan dua puluh menit kemudian, Daiki Persik terlihat sangat marah dan tersinggung, sehingga semua orang tahu kalau kencan mereka gagal. Moriyama dan Izuki langsung berpelukan bagaikan sepasang kekasih yang akan terpisahkan sebentar lagi, karena mereka tahu, hidup Moriyama mungkin takkan lama.

Keempat peserta yang tersisa heboh mengerubungi Moriyama, "Bagaimana di sana? Apa yang terjadi?"

Moriyama terlalu emosional untuk menjawab.

"Silahkan, Daiki."

Aomine mengambil kertas skor dari Akashi dalam satu sentakan kemarahan, lalu mengisi:

Skor: 0

Catatan : BETE! SEBAL!

.

.

.

"Baiklah, giliran siapa sekarang?"

Mitobe menelan ludah sekali, mengumpulkan segenap keberanian, lalu mengambil kertas dalam kotak undian. Ekspetasinya rendah. Melihat nasib Moriyama, ia sudah berserah diri kepada Tuhan. Kalau Yang Di Atas masih sayang Mitobe, Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Dihadapkan pada situasi menyakitkan membuat manusia jadi religius.

Di kertas kecil itu tertulis insial AR.

"AR!"

Pintu gudang olahraga terbuka. Muncullah seorang… 'gadis', atau lebih tepatnya raksasa kolosal yang didandani sebagai gadis, dengan seragam blazer berpita merah, rok mini pink kotak-kotak, dan pita besar mencuat bagai kuping kelinci. Kakinya jenjang, tapi berbulu warna ungu. Di bawah rok terlihat boxer menjuntai indah menggoda, bagai menyimpan rahasia.

"Halo sayang, namaku Atsushi Ratnasari. Muach."

Besok hari ia akan ke gereja dan minta pengampunan pada Tuhan. Ini pasti amarah Tuhan karena Mitobe pernah mengambil uang kembalian saat disuruh belanja.

.

Di hutan, mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Mitobe melihat ke samping, kaku, sedangkan Murasakibara tampak tidak terganggu. Susah payah Mitobe menyamakan langkah, karena kaki panjang teman kencannya. Badannya juga lebih besar dan berotot. Dengan satu ayunan tangan Atsushi Ratnasari, Mitobe bisa terlempar keluar hutan.

"Mitochin." Atsushi tiba-tiba berhenti berjalan dan berujar, "Minta kata-kata cintanya, dong."

Permintaan ini membuat Mitobe kalang kabut. Dengan perempuan asli saja dia susah bicara, apalagi dengan perempuan jadi-jadian yang boxernya kelihatan. Tapi ia juga tidak mau kena permainan hukuman. Permainan Akashi berirama dengan hukuman mati.

"Kamu nggak mau beri aku kata-kata cinta? Nanti aku nggak bisa kasih skor." Atsushi Ratnasari berkata sedih, tapi wajahnya datar. "Mito-chin? Nanti dihukum Akachin, loh."

Seberapa dalamkah Mitobe akan menjatuhkan diri demi nyawanya? Alam semesta menunggu tindakannya. Murasakibara juga menunggu tindakannya sambil makan stik jagung.

"Akachin suka nonton SAW, loh."

Mendengar hal itu, Mitobe membulatkan tekad demi melindungi nyawanya. Ia menarik lengan gadis (banci) itu, memejamkan mata dan menganggap semua ini fana. Ia mencium pipi gadis (banci)nya. Di film-film, biasanya cewek remaja suka dicium mendadak karena romantis. Semoga cewek remaja versi KW super juga sama, doa Mitobe.

Sayangnya Atsushi Ratnasari bukan cewek remaja, tapi betina karnivora.

"Cuma segitu? Aku kecewa dengan Mitochin. Itu sih bukan kiss, tapi digigit nyamuk."

"…?" Mitobe merinding dan menarik diri menjauhi Murasakibara.

"Kalau mau memuaskan wanita, itu kurang. Zaman sudah berubah, Mitochin. Sekarang sudah 2014, era globalisasi dan pergaulan bebas. Bahkan alat pengaman dibagikan gratis di universitas."

"…?" Mitobe makin merinding. Ia mundur satu langkah, dan pasangan kencannya maju selangkah. Mundur, maju, mundur, maju, sampai punggung Mitobe menyentuh pohon. Mitobe mulai mempertimbangkan untuk berakting sakit jantung, tapi jantungnya sehat.

"Kalau mau kiss, harusnya begini."

.

Sepulangnya dari kencan sepuluh menit di hutan, Atsushi Ratnasari tampak puas, sedangkan Mitobe mengikuti di belakang seperti zombie, pakaian acak-acakan dan ada bekas lipstick di mana-mana. Ia memeluk diri dan merasa dirinya tak berharga lagi, oh maafkanlah ia wahai calon istrinya di masa depan. Suamimu telah ternoda.

Di kertas, Atsushi Ratnasari memberi nilai…

Skor: 55

Catatan: Ada usaha tapi kurang, seperti pantai tanpa nyiur.

.

.

.

STK48 berada berpuluh-puluh kilometer dari kejadian naas yang tengah terjadi di Teikou.

Di ruang ganti studio tv, Takao sedang bermain dengan smartphone gressnya di sela-sela istirahat syuting. Memang sayang sekali STK48 tidak bisa ikut menginap di Teikou, karena mereka ada syuting acara musik hari Minggu. Padahal Takao ingin bertemu Shinchan, memeluk Shinchan, dan mencium pipi Shinchan. Padahal Takao ingin pura-pura salah masuk ke kasur Shinchan. Ups, yang terakhir itu rahasia.

Sebagai pelipur lara kekangenannya, ia mengecek instagram Kise. Benar, hubungannya dengan anak satu itu sudah level saling follow di media sosial. Kise suka Takao karena ia kenal banyak selebritis, sedangkan Takao suka Kise karena ia selalu apdet berita soal Midorima, meskipun harus disogok Starbucks dulu. Tapi berapa sih harga kopi Starbucks dibandingkan menyewa informan?

Ada beberapa foto baru. Ia membuka salah satu foto karena penasaran.

.

Foto: Close up Kise dengan baju cewek, selfie sudut atas dengan mulut agak merajuk, warna sudah diperkosa dengan filter instagram. Satu tali gaunnya turun ke bahu.

Aduh aku jelek banget di sini gimana donggg : (

#kise ryouta #cute #sexy #pretty idol #Miss Universe 2014

.

Kise Ryouta, kelakuan dan perkataan berbanding terbalik.

Takao hanya meringis geli. Kise manis dan mulus seperti boneka, dia juga fotogenik persis model-model gadis di majalah. Tapi Takao terlanjur tahu kalau cewek di foto itu ada 'tongkat'nya, jadinya bikin geli segeli-gelinya. Apalagi melihat like-nya sebagian besar adalah para lelaki, baik seumuran maupun pekerja kantoran.

Kenapa Takao tahu Kise punya tongkat? Oh, mereka pernah ketemu di toilet.

Sang vokalis lalu melihat foto selanjutnya. Foto gelas Starbucks yang terapit di antara paha mulus Kise, foto Kuroko yang jatuh terlentang karena gaun rendanya, Aomine yang shock melihat wajahnya di cermin tangan, hingga Murasakibara yang mengangkang cuek dengan rok mini sambil makan keripik kentang. Untung di dalamnya pakai boxer, kalau tidak Takao bisa melihat semak surga terlarang. Semua foto berlatar belakang salon mewah.

Kenapa semuanya pakai baju cewek? Apa ini bagian dari acara menginap? Takao curiga. Jangan-jangan Shinchan juga… Jangan bilang Shinchan… Ia melihat foto berikut, dan terlihatlah foto sang terkasih.

.

Foto: Midorima di salon yang diambil diam-diam, juga sudah diperkosa dengan filter instagram. Tampak Midorima sedang kesulitan memakai stoking jala, wajahnya enggan. Ia memakai baju perawat mini warna putih, dengan lambang palang merah.

Mbak Shinta pakai stoking sebelum melayani pasien: )))

#midorima shintarou #shinta laura #teikou #generasimukjizat #wish ur here takaocchi lol #stoking loh #suster loh

.

"…" Takao menjadi pasir yang tertiup. Mulutnya menganga, matanya terbuka. Dengan adegan lambat, handphone di tangannya jatuh ke lantai, casing dan baterainya terlepas.

.

"LEPASKAN AKUUU! AKU HARUS KE TEIKOUUU!"

"TAKAO KAMU GILA!"

"TAHAN DIA!"

"SHINCHAAAN! AKU HARUS KETEMU SHINCHAAAN! SHINCHAN TUNGGU AKUUU!" Takao meraung dengan air mata frustasi, berusaha terjun keluar jendela karena pintunya dikunci dari luar. Ia harus pergi ke Teikou. Ini kesempatan sekali seumur hidup yang takkan pernah ada lagi, bahkan di kehidupan kedua. Midorima Shintarou bercosplay perawat. Mati pun ia harus lihat.

Butuh kerjasama anggota STK48, para manajer, dan kru acara TV untuk memegangi Takao yang kalap. Masalahnya yang utama, ruang ganti itu ada di lantai lima..

.

.

.

Giliran selanjutnya, Akashi menyodorkan kotak undian.

"Silahkan, Kousuke."

"W-Wakamatsu-kun semangat!" Sakurai yang tidak tahu harus berkata apa, memberikan semangat dari belakang. Beberapa meter dari sana, Mitobe sedang kritis dan diinfus.

"Ugh." Wakamatsu mengambil satu kertas dari kotak undian, ekspetasi sangat rendah. Di situ tertulis RP.

"RP!"

Pintu gudang berderit terbuka, dan keluarlah seorang gadis berambut pirang panjang bergelombang, yang dikuncir di kedua sisi. Ia memakai pita pink, gaun putih musim panas yang mini, dan sendal hak tinggi putih. Berbeda dengan dua siluman sebelumnya, gadis ini terlihat normal dan mulus, seperti model remaja di majalah ABG.

Moriyama dan yang lain sudah hampir protes, kenapa Wakamatsu yang dikasih perempuan cantik? Tapi gadis bergaun sepaha itu hanya terkikik, lalu berujar, "Halo semua, aku Ryouta Perez~!"

Ternyata banci. Kecuali Wakamatsu, semua menarik napas lega.

.

Di tengah hutan, Wakamatsu berusaha berjalan secepat mungkin. Ia mencoba tak peduli dengan perempuan (banci) yang mengikutinya di belakang.

"Tungguin, dong!"

"Cih!" jawabnya minimalis sambil memperlambat jalannya.

"Tungguin, susah jalan nih."

"Puh!"

Jahat banget! Karena kesal, Kise mengamit lengan anak lelaki itu dengan gaya manja yang disengaja, persis seperti kakaknya ketika bersama pacar. "Jahat! Masa sama perempuan begitu!"

Sebelum ia sempat melabrak Kise, ketika ia menoleh, tidak sengaja Wakamatsu melihat belahan dada kecil tersembul di balik gaun putih pasangan kencannya. Reaksi Wakamatsu normal: dia menatap lima detik, lalu syok. Wajahnya berubah dari warna normal, memutih, lalu memerah.

"K-K-KOK KAMU ADA DADANYA SIH?" Wakamatsu menepis Kise lalu menjauh ke belakang hingga menabrak pohon.

Jangan-jangan kabar burung itu benar, kalau Kise Ryouta adalah wanita yang menyamar jadi laki-laki? Seperti dorama Hanakimi yang kadang-kadang ditonton Sakurai dan Momoi di sore hari? "K-Kamu sebenarnya perempuan kan? Kamu menyamar jadi laki-laki untuk bertemu atlet pujaan kan? Jawab yang jujur!"

Yang bersangkutan mengintip dadanya dari balik gaun putih tipisnya. Walau kecil, memang ada belahannya. Karena kulitnya putih, jadi lebih porno. "Ini palsu kok, pakai beha khusus."

.

(Ryouta muncul dengan gaun putih dan bernyanyi berlatarkan bunga:

Ada kabar gembira bagi kita semuaa

Dada rata kini ada behanya~

.

MASTIN PUSH UP BRA –

.

Penuh pesona, pesona Mastin!

-Sudah dijual di toko terdekat-)

.

"Kalau aku beneran perempuan, ga mungkin Akashicchi membiarkanku berduaan dengan lelaki. Apalagi pakai baju begini. "

"B-Begitu ya…" Wakamatsu melorot di pohon, tidak tahu harus lega atau kecewa.

Akashi memang terlihat seperti tipe yang protektif dengan perempuan. Buktinya ia memberi mereka banci buat dikencani, bukannya perempuan asli seperti Riko dan Momoi. Atau mungkin Akashi saja yang sadis pada laki-laki. Wakamatsu membayangkan Akashi yang tertawa sambil mempermainkan dunia di tangannya, dengan sfx WAHAHAHAHA, lalu merinding sendiri.

"Kok kamu mau-maunya pakai dalaman wanita, sih? Kelainan!"

"Ih, kalau berdandan jadi perempuan kan, lebih baik cantik hingga ke dalam."

"…"

Kise melirik dari dadanya ke Wakamatsu. "Mau pegang?"

"NGGAK MAU!"Wakamatsu menggeleng kuat-kuat.

"Kesempatan loh."

"Berisik! Diam!" Yang bersangkutan balik badan, lalu cepat-cepat berjalan maju. Ketika Kise protes karena susah jalan, pasangan kencannya itu malah memegang tangannya dan menariknya kasar. Dia makin protes, tapi yang bersangkutan tidak peduli.

'Ih kok sama cewek (banci) cantik begini malah kasar sih!' Ryouta merajuk, bersusah payah menyamakan langkah dengan Wakamatsu. Padahal dia sudah bersusah payah dandan yang cantik, pakai gaun, pakai heels, bahkan pakai beha. Mana ada anak cowok normal yang mau pakai beha. Hargai kerja kerasnya, dong. Pandangi, kek. Grepe-grepe, kek.

Sambil bersungut-sungut, dia masih berusaha menyamakan langkah dengan Wakamatsu yang jalannya tegak bagai tentara. Hak tinggi itu susah, goyang-goyang, apalagi tanah hutan ini becek. Bagaimana bisa umat wanita beraktivitas dengan dua tongkat tipis di bawah kaki? Kalau jatuh dan patah tulang hidung bagaimana? Sungguh di luar logika pria. Mungkin frasa dress to kill bersinonim dengan kill myself.

Mereka melewati hutan sambil berpegangan tangan. Walau ditarik kasar, tapi genggamannya hangat dan… gemetaran. Kise melihat genggaman yang erat itu, lalu naik ke atas. Wajahnya tidak kelihatan, tetapi telinga Wakamatsu terlihat merah, dan itu bukan karena senja.

Lebih merah dari pantat monyet. Kenapa ya, kalau bersama Wakamatsu ia malah teringat pantat monyet?

"Jangan-jangan kamu… Malu ya? Ga biasa sama cewek?"

"B-Berisik! Diam!" suaranya marah tapi kupingnya makin merah. Wakamatsu sengaja mengeratkan pegangan tangan mereka, menekankan bahwa ia tidak malu, tapi gengamannya makin bergetar. Kegugupannya sampai ke Kise, hingga gadis (banci) itu agak terpana. Wakamatsu ternyata imut (dan Aomine itu amit, ia menambahkan dalam hati, merasa harus membandingkan keduanya).

Belum sempat berkomentar, angin sore yang dingin lewat hingga Kise terlanjur bersin. "Hachuu!"

"Makanya pakai baju yang benar." Komentar Wakamatsu, heran dengan suara bersin Kise yang aneh. Baju Kise memang lebih mirip kain tipis bertali, dibandingkan baju yang fungsional. Memang imut, tapi jelas-jelas salah kostum kalau dipakai di sore hari begini.

"Habis cuma ada ini." Ia bersungut-sungut. "Yang lain tidak mau pakai ini karena transparan, jadi terpaksa kupakai…Hachuuu! Dingiiin…"

Kise memeluk diri sambil bersin-bersin. Tak lama, seonggok kain menutupi kedua bahunya. Wakamatsu sudah melepaskan jaket baseballnya dan memakaikannya pada Kise. Ia menatap ke samping, terlalu malu untuk melihat langsung teman kencannya.

Wakamatsu yang hanya memakai kaus tanpa lengan di balik jaket, ikut bersin diserang angin. "Hatchim!"

"Kenapa?" Kise heran dengan kelakuan anak di hadapannya ini. Padahal sikapnya kasar, tapi jangan-jangan dia baik?

"…Masa kubiarkan anak gadis kedinginan. Lebih baik aku yang kedinginan." Wakamatsu berbalik dengan cool sambil menyeka ingus di hidung, tapi wajahnya merah.

'…'

'Lu..'

Kise membelalak.

'Lucuuu!'

.

Kise tampak puas saat mengisi skor di kertas penilaian.

Skor: 87

Catatan : Bolehlaaaah (gambar hati tiga kali)

.

.

.

"Selanjutnya kau." perintah Akashi sambil menuding satu orang—Sakurai.

"A-AKU?"

"Iya, kan kamu yang dapat tadi. Cepat ambil kertas."

Anak itu mengambil kertas dari dalam kotak undian. Ia tidak tahu harus takut atau sedih, jadi ia mengambil tengah-tengahnya yaitu merasa hancur. Di kertas itu tertulis SL.

"SL!"

Klik klik klik, terdengar suara high heels dari dalam gudang olahraga. Pintu terbuka, dan berdirilah seorang suster berpenampilan menantang, berambut hijau menawan, tapi di tangannya ada kamus tebal bahasa Belanda. Cantik, tapi kombinasinya absurd.

"Shinta Laura, gitu loh. Kalau macam-macam, kubunuh kamu." Belum apa-apa, Midorima sudah galak.

Sakurai meringis ketakutan. Tadi dia memang mengidamkan suster cantik sih, tapi nggak gini juga.

.

Klik klik klik tap tap tap.

Sang suster berjalan duluan ke dalam hutan, kamus Belanda sebagai benda keberuntungan ada dalam pelukan, wajahnya yang jelita tersorot sempurna dalam cahaya senja. Sebenarnya Sakurai termasuk beruntung, karena seperti halnya Ryouta Perez, Midorima—eh, maksudnya Shinta Laura, cukup cantik dibanding yang lain. Kalau mau berimajinasi sedikit, bisa dibayangkan kalau dia memang perempuan. Apalagi bokongnya seksi.

Sayangnya, Sakurai bukan tipe yang bisa berimajinasi, dia juga bukan tipe yang bisa kencan dengan perempuan (asli maupun jadi-jadian). Ia sering pergi dengan Momoi ke kafe atau toko kue, tapi itu bukan kencan, lebih seperti jalan-jalan di antara dua anak cewek (Sakurai sudah pasrah dianggap sebagai teman cewek oleh Momoi).

"Oi."

"I-Iya! Maaf!" Mereka berhenti di tengah hutan. Suara gagak berkoak-koak.

"Lebih baik cepat kita selesaikan, gitu loh. Ucapkan kata-kata cinta padaku."

"H-Haaaaah?" Kata-kata cinta? Kata-kata benci saja tak pernah ia utarakan!

"Agar aku bisa mengisi skormu. Katakan apa saja sesukamu."

Tapi apa? Sakurai panik. Ia berpikir keras, berjalan berputar-putar di tempat, sementara Midorima menunggu sambil berdecak tak sabar. Makin lama decaknya makin keras, membuat Sakurai gugup. Kalau ini berlanjut dia bisa kejang-kejang.

Tenang, Sakurai, tenang. Kamu pasti bisa. Jiwamu adalah jiwa dorama.

Akhirnya ia mencobanya: "M-Midorima-san… Apa persamaan kamu dan buku tulis?"

"Hah?" Shinta heran. Dia sudah biasa digombali macam-macam oleh Takao, dibandingkan dengan berbagai benda yang ada di dunia (kamu sinar hatiku, kamu bintang hatiku, kamu macan hatiku, kamu blablabla hatiku). Tapi.. baru kali ia dibandingkan dengan alat tulis. Apanya yang romantis dari buku tulis?

Kalau sampai Sakurai menjawab dengan gombalan level Shuutoku, karena kamu dan buku tulis sama-sama menggoda untuk diisi, dia akan melemparinya dengan kamus bahasa Belanda.

"M-Maaf! Maksudku kamu…kamu seperti, buku tulis, Midorima-san… Tebak kenapa?"

"Kenapa buku tulis?" Midorima mendelik, menanti jawaban cerdas.

.

"K-karena kamu dan buku tulis… sama-sama SINAR DUNIA."

Midorima melempar Sakurai dengan kamus.

.

Dengan sebal, Midorima memberi skor:

Skor: 65

Catatan : Saya bukan bola dunia bertopi sarjana.

.

.

.

"Selanjutnya!"

"Hahaha, aku ya?" Kiyoshi geli tanpa alasan khusus. "Kira-kira siapa ya? Mudah-mudahan dapat yang cantik! Biasanya aku beruntung kalau hal-hal begini!"

Ketika ia mengambil kertas undian, di sana tertulis T. Hanya T saja.

"T!"

Pintu gudang olahraga terbuka dari dalam. Dan di sana berdirilah T…etsyahrini. Tetsu, alias Tetsyahrini, yang memakai baju renda-renda seperti boneka Perancis, lengkap dengan Bonnet senada. Rambut palsunya warna biru muda, tapi bergulung-gulung dan ditata seperti Marie Antoinette. Kiyoshi tampak cerah melihat pasangan kencannya, atau mungkin wajahnya selalu begitu.

"Tuh, kan! Aku dapat yang cantik!" Kuroko diangkat tinggi-tinggi oleh Kiyoshi. Yang bersangkutan memasang wajah tak sudi. Siapa cowok ini, menimang-nimang dia sembarangan? Memangnya dia anak monyet? Apa berikutnya mereka akan cari kutu?

Kiyoshi pun memasuki area hutan bersama Kuroko yang terlihat tak nyaman dalam pelukannya.

.

Dua puluh menit kemudian, mereka keluar. Sungguh mengejutkan melihat mood Tetsyahrini tampak sangat baik. Di sekeliling mereka bahkan berterbangan bunga-bunga dan kerlip asmara.

"Aku populer dengan anak-anak, loh." Jawab Kiyoshi saat diwawancara Koganei, apa jurus jitunya meraih hati pasangan. "Kebetulan pula aku bawa banyak permen. Hahaha, untung deh!"

.

Kuroko membisikkan skor penilaian ke Akashi, yang membantunya menulis.

Skor: 86

Catatan : Permennya enyaak.

.

.

.

Yang tersisa tinggal Furihata Kouki dan Furihata Kouki merasa was-was. Tadi dia sudah menghitung-hitung. Karena Momoi tidak ikut, maka 'pasangan' yang disiapkan Akashi hanya ada lima, yaitu Murasakibara, Aomine, Midorima, Kise, dan Kuroko. Ia yang terakhir, dan semuanya sudah keluar. Kalau begitu… kenapa pesertanya ada enam?

Kenapa Furihata rasanya tahu jawabannya tapi otaknya menolak jawaban itu?

Kenapa ia merasa akan mati malam ini?

"Nah, sekarang tinggal kamu, Kouki."

Kenapa Akashi tersenyum? Kenapa dia tidak menyodorkan kotak undian? Kenapa semuanya menatap Furihata dengan rasa iba berlebihan? Kenapa tiba-tiba Kiyoshi, Koganei, dan Izuki bernyanyi 'Kemesraan'?

Kenapa Akashi memegang tangannya dan mengajaknya masuk ke hutan?

?

.

Biasanya dia pura-pura mati kalau ada bahaya, tapi sepertinya malam ini ia akan mati beneran.

Papa, Mama, maafkan Kouki. Kouki tidak bisa menjaga diri sendiri. Maaf kalau tidak bisa merawat Papa Mama di hari tua. Kouki mungkin akan mati malam ini…

Furihata makin meracau ketakutan di setiap langkah mereka masuk ke hutan. Astaga, kenapa dari segala kemalangan yang ada di dunia, dia harus tertimpa kemalangan macam ini? Berkencan sepuluh menit dengan Akashi Seijuuro di hutan tak berpenghuni? Bukankah mayat dibuang ke hutan?

Akashi sendiri tampak santai. Tapi di mata Furihata, Akashi tampak siap untuk membantai.

"Kouki."

"I-IYA K-KYAPUTEN!" gagapnya.

"Sudah sepuluh menit berlalu, sebaiknya kita mulai saja, ya?" Akashi mengecek jam Rolexnya. "Aku akan membuatmu senang."

"E-Eeeh? Bukannya aku, eh, yang harus me-membuat Akashi-san senang?"

"Maksudmu, aku yang jadi pasangan perempuannya, Kouki?" Sebenarnya Akashi bertanya biasa saja, tetapi Kouki merepet mendengarnya. Di kepala Kouki kalimat itu terdengar, "MAKSUDMU AKU YANG JADI CEWEKNYA HA? BANTAI! BANTAIBANTAIBANTAI!" (gema)

"M-MAAF! NGGAK! NGGAK APA-APA! AKU YANG JADI CEWEKNYA! GODA SAJA AKU CABULI AKU TAPI JANGAN BUNUH!" panik Furihata dengan tangan liar di udara. Saking paniknya ia ingin joget disko.

Akashi hanya mengangkat alis pada reaksi berlebihan Furihata, tidak menganggapnya penting. Ia lalu berdehem, memikirkan kata-kata cinta yang paling tepat.

Sebenarnya Akashi minim pengalaman romantis. Alasan ia membuat kegiatan ini juga karena dia penasaran soal percintaan remaja, apalagi setelah baca Nakayoshi milik Kise. Kalau mau jujur, momen seperti ini membuatnya malu juga. Pengalaman paling romantis (dan homo) miliknya adalah melamar Kise di usia empat tahun, tapi itu kan sudah lama. Bahkan yang bersangkutan sudah lupa.

"Kamu tahu nggak, apa bedanya Teikou dan Kouki?" Akashi melancarkan serangan asmara yang dari tadi sudah ia persiapkan.

"E-Eh… " Tebak-tebakan? Furihata bingung. " Eh…Teikou manusia, dan aku sekola—eh, kebalik! Maksudnya Teikou sekolah dan aku manusia?"

Akashi menggeleng, dan Furihata mendengar "BANTAI! BANTAIBANTAIBANTAI!" di kepalanya.

"A-Aku menyerah, deh… Apa ya?" tawanya gugup. Superman, tolong aku.

"Teikou milik Papaku. Kalau kamu…" Akashi mengelus pipi Furihata.

"… milik aku."

Kegelapan menerpa hutan. Kelelawar berterbangan. Serigala melolong memanggil kawanan. Mata merah Akashi berubah kuning. High quality horror.

.

"AKASHI! Kamu apain anak orang!?" semua orang panik karena Akashi keluar dari hutan sambil menggendong Furihata ala petugas pemadam kebakaran. Pasangan kencannya sudah bukan lemas, tapi tewas. Roh Furihata menggantung di mulut, siap pergi ke surga dituntun bidadari langit. Di wajahnya terdapat kengerian yang tak terkatakan.

"Nggak kuapa-apain, tiba-tiba dia pingsan sendiri." Akashi sebenarnya tersinggung.

.

Skor: - (dinihilkan karena peserta ambruk)

Catatan : Memangnya saya seseram itu, ya?

.

.

.

Dengan ini, pemenangnya adalah Wakamatsu dan yang kalah Moriyama. Moriyama langsung digiring Murasakibara dan Aomine ke dalam gudang olahraga Teikou untuk menerima hukuman, tangan diikat tali rafia di belakang. Sebelum ia masuk ke tempat penjagalan itu, Moriyama menoleh ke arah Izuki, "Izuki, jangan lupakan aku… I love you."

Mata Izuki berkaca-kaca.

Dari dalam gudang terdengar suara jeritan.

Izuki menangis di pelukan Kiyoshi.

.

"Celamat caudala Wakamatchu, anda pemenangnyaa…"

Semua bertepuk tangan, kecuali Izuki yang ada di pojokan memegangi jasad Moriyama.

"Cilakan ditelima hadiahnya…" kata Kuroko sok formal sambil memberikan secarik amplop putih bercap nama keluarga Akashi. Beberapa orang jadi penasaran. Kok tipis? Jangan-jangan selembar cek kosong seperti di film?

Wakamatsu merobek amplop, dan membaca kertas di dalamnya. Matanya membelalak tak percaya, lalu beralih menatap Kise yang masih memakai jaketnya.

Yang bersangkutan tersenyum lalu memasang pose Sailor Moon.

.

"Selamat, ssu! Kamu memenangkan kencan tiga jam dengan Kise Ryouta!"

.

.

.

.

Note: Masih (berusaha) menyelesaikan cerita ini. Tapi kok makin melenceng dari teater yang sebenarnya, ya? Ah sudahlah 0 - Chapter depan lanjut acara menginap, dan acara kencan Kise-Wakamatsu (yang dikuntit Aomine, Momoi, dan Kuroko). Sebenarnya kencan ini di luar rencana sih, tapi asyik juga dimasukin biar drama.

Note 2 : Ada yang ke comifuro? Teman-teman saya jualan di sana, circle Dogeshibako. Monggo dikunjungi kalau ada waktu dijamin ga nyesel: D Saya juga bikin buku di sana. Artbook sih, bukan novel.

Note 3 : Mohon maaf lahir dan batin!

Terima kasih atas reviewnya kepada: Ical de Muffin, shirocchin, Furiez, 13th Hell, akashiseichan, d'Rythem24, amassayid, Yuna Seijuuro, Ruki-chan SukiSuki'ssu, Onizuka Audrey, Collin Blown YJ, Hachiyon, cheese-ssu, Yuki, Mochiyo-sama, BlueBubbleBoom, krisho baby, Hazu, qunnyv19, UseMyImagination, Mikurira, Kazue Ichimaru, SKETMachine, Stacie Kaniko, Yano Akiga, RaniMario, Yuukio, higitsune84tails, nagisha rie, dec.02, Heixarn Mizu, nabmiles, Shiori Kurotsu, Icha Klauser, KUROUJI, Monggu, Moomooyashi, Uzumaki Endou 0307, Budi dan Rini, UuvU, Fujiwara Kumiko024, males login aduh, Shena Hanazawa, Sayura Meguchi, , LawLadystein, Erry-kun, Mizu, Rey Ai, Reiko, alysaexostans, Reiyu Yoshiro, Hepta Py, oreoreo, Light of Leviathan, dan yoshikuni kazuko : )

.

.

CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA

.

Acara menginap berlanjut!

.

Perang bantal antara 'unstoppable' Aomine versus 'colosal titan' Murasakibara?

.

"Sebelum beraktivitas, tentu saja kita harus senam pagi."

.

Bagaimanakah jadinya kencan Kise dan Wakamatsu?

"Tidak apa-apa, mereka sudah kuizinkan libur tiga jam."

.

"Loh, Aomine mana?"

"Momoi dan Kuroko juga hilang!?"

.

"Dai-chan, kamu juga ingin membuntuti mereka…?"

.

.