Uke – Uke Ngenes
Cast:
Para Uke: Jinyoung, Chanyeol, Sandeul (mereka seumuran)
Para Seme: Gongchan, Kris, Baro
Support Cast: Jessica, Bomi, Sunghak, Zico, Hyeri, Minah
###Happy reading###
Chapter 5
Di dalam mobil, Chanyeol meringkuk dalam – dalam di kursi. Punggungnya menempel rapat – rapat di pintu. Sementara Kris sedang menikmati ketidakberdayaan namja di hadapannya dengan seringai miring dan tatapan mengintimidasi. Kedua tangannya terentang ke depan mengurung tubuh Chanyeol yang terpojok. Mendadak Chanyeol jadi terlihat sangat sangat kecil dan rapuh. Seperti anak kelinci yang terperangkap di lubang buaya barengan ama buayanya.
Kabur? Emang bisa? Wong mobilnya di parkir mepet banget dengan tembok gitu. Kris emang sengaja memarkirnya sedemikian rupa. Biar Chanyeol gak tiba – tiba melakukan aksi nekat kayak mecahin kaca jendelanya atau lompat ke belakang dan kabur lewat pintu belakang. Pokoknya Chanyeol gak bisa kabur! Titik.
"Ada apa?" tanya Kris. Dua kata. Dua kata yang ambigu tapi mematikan.
"Gak." Chanyeol buru – buru menggeleng, "Gak ada apa – apa."
"Kamu daritadi menghindar dan nganggurin aku sendirian dibelakang terus kamu bilang itu bukan apa – apa?"
Chanyeol bingung. Gelagapan. Mati kutu. Pengen menghilang. Pengen pingsan. Pengen amnesia mendadak. Pokoknya apa saja yang bisa bikin dia terhindar dari Monster Naga buas dihadapannya ini.
"Eh… engg… itu… itu…" Duh, berpikir, berpikir, berpikir, berpikir! Padahal Chanyeol udah pengen jedotin kepalanya ke dasbor kalo Kris gak keburu melontarkan pertanyaan lagi.
"Oke, biar kuperjelas… apa yang kamu rencanakan?" tanya Kris dalam, tajam dan bikin seluruh bulu kuduk bergetar. Chanyeol paling benci kalo Kris sudah bertransformasi jadi cowok kriminal ini. Kris yang ada didepannya saat ini menurutnya sama saja dengan bos penyamun yang setiap saat bisa membuatnya berakhir menjadi potongan tubuh yang ngambang di rawa – rawa tanpa identitas. Oke. Chanyeol terlalu hiperbolis. Kris mungkin tidak akan melakukan itu, paling dia hanya mengawal Chanyeol kemanapun dia pergi. Dua puluh empat jam! Dan sungguh kawan, dikawal oleh seorang Wu Yifan adalah sesuatu yang paling tidak menyenangkan sedunia. Itu sama saja dengan mimpi buruk. Pernah dulu dia begitu, dulu banget, dan keesokan harinya mendadak dia jadi punya bodyguard dadakan. Kris.
"Apa pertanyaan aku kurang jelas ya? Kok diem?" tanya Kris kali ini pake senyum. Senyum beracun.
Gulp! Bahkan nelen ludah aja Chanyeol kesulitan, "E…emang… kamu tadi nanya apa?"
Tetot! Wrong answer.
Kris menampakkan wajah pokerface dan senyum yang sulit diartikan maknanya. Satu tangannya terangkat, membelai pipi namja itu dengan punggung tangan. Tiba – tiba dia mendekatkan wajahnya ke telinga Chanyeol. Chanyeol terkesiap tapi gak bisa menghindar. Iyalah. Dia kan terkurung. Remember?
"Apa yang kamu rencanakan, hm?" desis Kris dengan suara berat dan penuh penekanan, "Karena aku udah ngomong di telinga kamu. Jadi gak ada akting budek lagi ya."
Mampus.
"Aku… aku gak ngerencanain apa – apa." jawab Chanyeol cepat.
"Tindak – tanduk kamu tadi sangat jelas. Meskipun aku gak bisa denger apa yang kalian omongin waktu di bioskop itu. Tapi aku gak bego, sayang. Atau…" Kris sengaja menggantung kalimatnya, menikmati wajah sekarat di depannya untuk beberapa saat, "Kamu mau aku yang nanyain langsung ke Sandeul?"
Waduh. Itu malah lebih buruk lagi.
Chanyeol menggeleng.
Kris menepuk – nepuk pipi Chanyeol, "Makanya bilang dong."
Kalau saja ada kasting buat peran jadi Pemimpin para vampir jahat, Ketua geng begal, Pembunuh bayaran, Bos mafia, Tukang bakso kanibal, Ahli hipnotis kelainan jiwa, pokoknya semua pekerjaan yang sadis – sadis, Kris pasti akan langsung lolos audisi tanpa ikutan audisi dulu.
Bilang gak, ya? Bilang apa enggak nih? Chanyeol galau akut. Kenapa jadi runyam gini, sih?!
Kris menghela napas. Tatapan matanya semakin menajam, "Tolong jangan bikin aku gak ngasih kamu pilihan lain."
Emang ada pilihan lain? Perasaan cuma dua ya? Jawab atau silahkan bunuh diri.
Sepuluh menit berlalu dan Chanyeol masih tetap bertahan dengan kebisuannya. Tentu saja dia gak mau ngorbanin temen sendiri. Apalagi Sandeul tadi niatnya cuma becanda. Chanyeol tau itu. Sangat tau. Tapi… apa Kris bisa ngerti? Dia kan selera humor rendah. Bagaimana nanti kalo dia malah makin salah paham? Bagaimana nanti kalo dia nangkepnya lain? Jadi Chanyeol bimbang abis.
Opsi pertama, kalo Chanyeol ngomong nanti Sandeul yang kena. Terus ujung – ujungnya Chanyeol bakal dicap sebagai tukang ngadu atau hubungan pertemanannya dengan Sandeul jadi merenggang. Atau lebih parahnya, Kris akan melarangnya berteman dengan Sandeul lagi. Tau sendirilah cowok itu. Posesif tingkat dewa. Segala sesuatu atau siapa aja yang dianggapnya sebagai ancaman yang dapat merusak hubungannya dengan Park Dobi kesayangannya ini, harus segera cabut sejauh mungkin. Kalo gak mau, maka Kris akan membuatnya 'cabut'…dengan caranya sendiri.
Opsi kedua, kalo Chanyeol tetap bungkam, dia bakal tersiksa sendiri. Dan harus siap – siap say Goodbye to Freedom.
Kedua opsi itu sama – sama buruknya. Gak ada yang enak.
Kris melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya menunjukkan kewibawaan bahwa disini, diantara mereka, dialah yang berkuasa. Dan kalo Chanyeol berani membantah apalagi sampai menyembunyikan sesuatu darinya, maka siap – siap saja terima konsekuensi.
"Ini cuma pertanyaan simpel. Kamu pikir apa yang bakal aku lakuin ke temen kamu itu? Aku cuma pengen tau. Udah itu aja."
Pengen tau nanti ujung – ujungnya bertindak. Enggak. Chanyeol udah gak bisa dikibulin lagi. Cukup sekali.
Chanyeol menggeleng, "Aku gak mau. Masih inget apa yang kamu lakuin dulu ke Jungshin?"
Kris berdecak, "Jungshin itu beda kasusnya. Aku gak setolol itu!"
Chanyeol tetap menggeleng, "Aku juga gak setolol itu." tukasnya kekeuh.
Mata Kris memicing sadis, "Tolong jangan bikin kesabaranku habis."
"Tolong jangan paksa aku." Tegas Chanyeol.
"Cepat bilang!" perintah Kris.
Chanyeol gondok berat terus ngacak – ngacak rambut frustasi, "God! Kami cuma becanda, Kris! Jangan membesar – besarkan masalah, please? Kamu kan tau sendiri Sandeul itu kayak gimana. Dia gak pernah benar – benar serius dengan apa yang dia ucapkan."
"Jadi… apa yang dia ucapkan?" Kris balik ke awal lagi.
Chanyeol mingkem. Gigit bibir. Berusaha mati – matian menahan emosinya.
"Pokoknya, intinya, dia cuma becanda." Chanyeol tetap pada keputusannya. Bungkam. Soalnya apa yang diomongin Sandeul tadi emang rada – rada gak enak kalo mau disampein langsung ke Kris, meskipun emang niatnya baik sih. "Dan bisa gak kita pulang sekarang? Karena aku ngantuk." ketusnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Menit demi menit berlalu. Keduanya bertahan. Sama – sama dengan sikap defensif. Kris masih penasaran dan bertekad harus dengar, sementara Chanyeol juga sudah bertekad, sekali tidak ya tetap tidak. Say yes to Tidak!
Kris menghela napas. Dia kembali memutar tubuhnya ke depan, menghadap ke setir.
"Last chance…" ucap Kris, "Apa yang kalian bicarakan?"
"Kalo kamu masih ngedesak juga, itu artinya kamu udah gak percaya lagi sama aku."
Nah loh. Ini yang bikin Kris akhirnya terpaksa nyerah. Sengotot apapun dirinya, kata – kata ini yang paling gak pengen dia dengar dari mulut Chanyeol. Jangan sampai ini berlanjut ke sesuatu yang paling tidak diinginkannya.
"Oke…" desahnya sambil tarik napas, "Oke. Gak apa – apa kalo kamu gak mau cerita. Tapi inget…" tangan besar Kris menangkup wajah Chanyeol. Menjepit kedua pipi chubby Chanyeol dengan jari – jarinya. Puas merasakan pipi lembut itu terasa dingin dan bergetar. Berarti pacar kesayangannya ini sedang ketakutan. Ini akan membuat Chanyeol berpikir dua kali untuk mencoba berulah atau merencanakan sesuatu lagi di belakangnya.
Kemudian Kris memajukan wajahnya, membuat Chanyeol kembali nempel di pintu mobil. Seinci demi senci mendekat, seperti hendak mengecup sepasang bibir di bawahnya.
"Jangan pernah kamu berpikir untuk minta putus dengan cara apapun karena…" Kris semakin mendekatkan wajahnya, "Kamu udah tau kan apa akibatnya?" desisnya dengan tatapan mengintimidasi.
Jakun Chanyeol naik turun saat ia menelan ludah yang terasa pahit banget di tenggorokannya.
"Aku harap kamu gak lupa sama kesepakatan kita dulu."
Oh. Right. Soal perjanjian itu. "Aku gak akan lupa." Jawab Chanyeol dengan tatapan nanar.
Kris tersenyum, "Bagus. Berarti aku gak perlu repot – repot ngingetin kamu lagi."
Chu~! Dilayangkan satu kecupan di bibir Chanyeol. Kecupan yang lama dan tanpa lumatan.
Kris melepaskan ciumannya. Menampilkan senyum simpul lalu menjalankan mobilnya. Tanpa bertanya pun, Chanyeol sudah tau kalo Kris sudah memaafkannya kali ini.
Kali ini.
.
.
.
.
Sandeul masih bertahan adu tatap dengan laptopnya. Berharap kalo dipelototin kasetnya bakal terinstal sendiri secara ajaib.
Haah! Susah amat sih. Mana dia bego banget tadi gak nanya ke Baro dulu gimana cara instalnya. Tuh bocah juga dihubungi daritadi nomernya kagak aktif melulu!
Sandeul sibuk membolak – balik kaset di tangannya, mencari instruksi cara nginstal game sialan ini di laptopnya. Percuma aja biar sebagus apapun gamenya kalo gak bisa diinstal ya enaknya cuma satu: DIBAKAR!
Lagi fokus – fokusnya melototin tempat kaset, tiba – tiba hape mungil di sebelahnya berdering.
"Goddamnit! Akhirnya nongol juga lo." Sandeul buru – buru meraih telponnya, "Halo! Darimana aja sih? Ditelponin malah gak aktif. Sengaja ya?!" Sandeul langsung nyemprot gak pake intro lagi.
"Sori. Tadi habis nganterin bebek lampir judes pulang. Nih baru nyampe." Sahut suara diseberang ogah – ogahan.
Sandeul manggut – manggut, terus beberapa detik kemudian langsung nyadar, "Eh… barusan lu ngatain gue bebek lampir?!"
"Ya lagian udah tau pake ditanyain!" Baro ikutan sewot, "Ada apaan lagi sih? Ngomel mulu! Kagak capek, apa? Gue aja capek dengernya." Keluh Baro.
"Kalo bukan gara – gara kaset game sialan ini gue gak bakal ngomelin elu! Mana itu duit jatah makan untuk tiga hari lagi. Mana gue belum dapat kiriman juga. Gue gak mau tau. Pokoknya lo harus tanggung jawab. Kalo perlu ganti rugi! Awas aja kalo gue sampe mati kelaparan, bakal gue laporin lo ke kantor polisi!" omel Sandeul berapi – api, gak ngasih Baro kesempatan untuk ngemeng.
Hening.
Sunyi.
Baro tak bersuara.
Sandeul kalap tiba – tiba suara diseberang lenyap mendadak, "Ha…haloo? Baroo? Lo mampus ya? Apa kesambet? Lo gak bunuh diri, kan? Haloow? Woy! Jangan mati dulu, dong! Gue belum puas nih ngomelnya."
"Siapa yang mati? Ini lagi mikir." Baro akhirnya nyahut.
Sandeul garuk – garuk kepala bingung, "Ha? Mikir? Mikir apaan lama banget?"
"Mikir… emang bisa ya orang mati ngelapor dulu ke kantor polisi?"
Gubrak. Pertanyaan tolol.
"Ya gak bisalah, tuyul!" jawab Sandeul judes. Sandeul ini emang makhluk paling nyolot sedunia.
"Nah itu, kamu tadi bilangnya kalo mati kelaparan mau lapor polisi. Makanya sekarang aku tanya, emang bisa ya orang mati lapor polisi?"
Plok! Sandeul tepok muka, "Baro… itu tuh cuma kata – kata pengandaian. Lagian ngapain sih kita malah ngebahas orang mati lapor polisi? Gue kan mau nanyain soal game!" Padahal dia yang mulai duluan.
"Oh, mau nanyain apa? Cara nginstalnya?" tebak Baro tepat sasaran. Dari nada bicaranya kentara banget kalo namja ini lagi tersenyum menghina dengan tampang nyebelin. Sialan. Mentang – mentang Sandeul cupu banget soal laptop dan tetek bengeknya, "Besok kamu bawa aja laptop kamu ke kampus, entar aku instalin."
"Kenapa gak dijelasin sekarang aja?"
"Agak ribet kalo dijelasin lewat sini. Entar pulsa kamu habis."
Oh iya ya. Tanggal tua, broh!
Sandeul meringis. "Ya udah. Besok aku bawa. Tapi janji ya diinstalin?"
"Iya iya. Pokoknya besok kamu dateng aja ke sekret IT. Bawa laptop sama kaset kamu." Jawab Baro dengan suara males.
"Oke deh. Besok aku…" BRAK! Sandeul dikejutkan dengan suara pintu yang terbanting keras. Saking kagetnya, ponsel yang dia genggam hampir terjun bebas ke lantai. Siapa sih?! Gak bisa ya masuk rumah dengan lebih beradab? Maen banting aja! Kalo beli pintu sama kayak beli sempak, beli dua gratis satu sih gak apa – apa. Mana Bu Heechul, yang punya nih rumah kos, galaknya amit – amit. Pelototannya aja sanggup bikin para setan di seluruh dunia pada minder dan merasa perlu beli eye shadow hitam baru.
"Sayang? Kamu kenapa? Kok kayaknya kaget gitu?"
Sandeul gak ngejawab, sibuk ngeliatin Chanyeol yang maen nyelonong aja kayak kambing. Dan dengan cueknya namja itu langsung naek ke lantai dua. Gak senyum kek, gak negor kek. Pokoknya ngeloyor aja.
Kayaknya tiang jadi – jadian itu ribut lagi sama si bule sableng. Sandeul mendadak ngerasa gak enak plus serbasalah. Dia jadi keinget waktu di mall tadi.
"Eheem." Baro berdehem memecah keheningan, "Helooo? Cowok terganteng sejagad raya memanggilmu…"
"Hmm… sayang, udahan dulu ya? Soalnya Chanyeol…" BRAK! Sandeul kembali terlonjak dari sofa. Astaga… perusak pintu itu.
"Wooii! Sekali lagi lo banting pintu, gue jual lo ke om – om!" pekik Sandeul gondok kuadrat. Suaranya sengaja di keras – kerasin biar nyampe ke atas. Jengkel si jengkel, sebel si sebel. Tapi bisa gak usah pintu yang dibanting? Yaa… apa kek. Celengan monyetnya Jinyoung kek yang dibanting. Kan lumayan buat makan enak selama dua minggu ke depan.
"Hah? Apa? Siapa yang mau dijual ke om – om?" tanya Baro kaget.
"Itu…si jerapah labil. Eh udahan dulu, ya? Entar aku telpon balik…kalo sempet. Byee!" Klik. Sandeul langsung memutuskan sambungan telpon tanpa menunggu persetujuan Baro.
.
.
.
.
"Kok Papa Mama kamu lama?"
Gongchan masih asik sendiri sama game bola di laptopnya, "Tau tuh. Biasaa, Mama aku kalo udah ketemu sama ibu – ibu tetangga. Pasti gak bisa sebentar. Belum lagi kalo ngebahas arisan tasnya itu."
Jinyoung sebenarnya gak keberatan mau Papa Mamanya Gongchan pulang dari acara kondangan pas tahun depan juga gak masalah. Cuma ya… suasananya ini…
Garing banget!
Berawal dari Gongchan yang minta ditemenin maen game bola, sampai menyeret paksa Jinyoung segala padahal udah jelas – jelas dia gak suka bola, membuat Jinyoung berakhir di kamar berdua sama Gongchan. Akhirnya baru main dua ronde, dia udah nyerah duluan. Efek boring ngeliat gawangnya kebobolan terus dan pemainnya cuma mondar – mandir gak jelas sambil kesandung dan dapet langganan kartu merah.
Kalo aja… Gongchan gak keasikan sendiri, berduaan seperti ini bisa menjadi momen yang sangat pas untuk…engg…untuk…
PLAK! Goblog. Lagi – lagi dia ngarep ketinggian. Secara ini Gongchan gitu lho. GONGCHAN! Cowok super cuek binti gak peka yang bikin Jinyoung mendadak jadi punya hobi baru. Galau di depan cermin sambil mewek. Meratapi nasib.
"Kamu kenapa nampar muka sendiri?" tanya Gongchan mengernyit aneh.
Jinyoung melongo dengan tampang tolol. Emang tadi dia nampar muka sendiri?
"O-oh itu, ada nyamuk tadi." Jawab Jinyoung sekenanya.
Gongchan cuma menggumamkan 'Ooo' terus nerusin game bola stupid itu lagi. Sebel!
"Itu ada autan di dekat lemari." Ucap Gongchan sambil nunjuk kamar mandi. Lihat. Bahkan nunjukinnya aja gak iklas. Kamar mandi dibilang lemari. Untung aja Jinyoung cukup jenius untuk gak bertanya: 'Lemari kamu ada dalem kamar mandi?'
Jinyoung langsung merogoh sakunya. Dia jadi keinget belum ngabarin Chanyeol dan Sandeul kalo dia lagi ada di rumahnya Gongchan dan sedang mati kegaringan.
To: Chanyeol, Sandeul
Gw lg ad d rmhx Gongchan.
Bosaaaann!
Help me plz
Send! Oke deh. Sekarang tinggal nunggu balasan dari dua orang itu.
Lima menit kemudian.
Ponselnya bergetar. Dengan antusias Jinyoung membuka satu pesan baru di layar hapenya.
From: Sandeul
Bosen? Nari striptease aj. Kali aj si Gongchan bakal pensiun jdi cowok alim stlh ngeliat lo bugil.
Jinyoung tertawa tanpa suara. Bagus kalo setelah dia bugil si Gongchan langsung napsu. Nah kalo enggak? Bisa – bisa Jinyoung disangka kelainan tiba – tiba nari striptease tanpa sebab dan langsung diseret ke RSJ. Idih. Ogah banget.
Sambil gigit bibir nahan senyum geli, dia segera mengetik balasannya.
Drrrt. Ponselnya bergetar lagi, padahal belum nyampe semenit. Gile. Gak biasa – biasanya Sandeul balas secepat ini. Kayaknya nih anak lagi kosong.
Pas dibuka ternyata dari Chanyeol.
From: Chanyeol
Klo gtu lo nari stripteasex di klub mlm aj. Biarpun Gongchan gk napsu, minimal lo udh bkin puluhan hidung belang napsu.
Oke. Untuk sms yang ini Jinyoung rada – rada meringis. Tapi karena ini dari Chanyeol jadi udah gak kaget lagi. Eh… tapi kok smsnya dua orang ini bisa konek ya? Apa jangan – jangan mereka lagi bareng? Berarti si Chanyeol pulang cepat juga dong? Tumben.
To: Chanyeol
Yeol, lo gak kuda – kudaan lagi ama Kris?
Semenit kemudian.
From: Sandeul
Enggak. Si caplang lagi galau.
10 detik kemudian.
From: Chanyeol
Gak. Gw lagi kuda – kudaan ama Sandeul.
Jinyoung buru – buru membekap mulut sebelum tawanya meledak. Takut dikatain autis ngakak sendiri.
From: Sandeul
Jgn didengerin omongan manusia galau. Otaknya makin sengklek hbs dipelototin Kris.
Emang Kris kenapa lagi, sih? Perasaan tadi mereka masih fine fine aja? Jinyoung jadi penasaran.
To: Chanyeol
Lo ribut lagi?
30 detik kemudian.
From: Sandeul
Udh, entar aja sok pedulix. Lo pkirin dlu tuh gimana carax biar Gongchan sudi memperkosa elo.
Sialan.
From: Chanyeol
Nanti gw critain.
Another tips: pura – pura kedinginan, biar dipelukin.
Good luck ;) Hope you get laid. XOXOXO
Baru aja jempolnya Jinyoung bergerak mau nulis balasan, tiba – tiba ada mukanya Gongchan mejeng di depannya. Dekettt banget. Jinyoung jadi terlonjak dengan debaran jantung yang berdetak gila – gilaan.
Gongchan mengernyit curiga ngeliat reaksi kagetnya Jinyoung yang berlebihan, "Emangnya kamu lagi liat apaan? Kok gitu banget? Bukan foto – foto cowok berotot kan? Atau foto – foto cowok bugil?" tanyanya dengan tampang nuduh.
Sarap. Udah bikin Jinyoung kena serangan jantung sekarang malah nuduh yang enggak – enggak.
Tapi… kalo ngeliat raut wajah dihadapannya sekarang… Jinyoung bisa merasakan ada aura jealous terpancar dari tatapan itu. Aha! Cemburu juga lo akhirnya.
"Bukan urusan kamu." Ucap Jinyoung acuh, "Sana maen lagi! Aku lagi sibuk."
Mata Gongchan semakin menyipit tajam, "Sibuk ngeliatin foto cowok?"
"Kalo iya emang kenapa?" tantang Jinyoung sengaja manas – manasin. Dan hore! Taktiknya berhasil. Tatapan Gongchan makin lekat. Ngeliatin dia dengan penuh selidik. Jinyoung jadi rada salting dan buru – buru nunduk.
Gongchan keliatan mikir, kemudian mengendikkan bahu tanda sebodo amat, mukanya kembali ke mode whatever, "Oke."
Sekarang gantian Jinyoung yang melotot tajam. Oke? OKE!? Hanya 'oke'?!
"Aku bikinin minum dulu ya? Kamu mau minum apa?" tanya Gongchan dengan lempengnya. Padahal Jinyoung melototnya udah teramat sangat dramatis. Tinggal diitem – itemin aja matanya jadi deh titisannya Suzannah.
Baygon, baygon. Baygon ada, gak? Soalnya mendadak dia kepengen bunuh diri. "Apa aja deh. Terserah kamu." Jawabnya ogah – ogahan sambil buang muka.
Tanpa banyak cingcong lagi, Gongchan langsung cabut ke dapur, ninggalin Jinyoung mati keboringan sendiri di kamar.
Sementara Gongchan sibuk di dapur, untuk sementara Jinyoung bertransformasi dulu jadi kuda lumping doyan makan guling.
Nih. Nih! NIH! Rasakan pembalasankuu!
Setelah puas menodai guling AC Milan kesayangan Gongchan dengan jigongnya, Jinyoung langsung duduk di pinggiran ranjang. Pasang muka anteng, seolah – olah tidak pernah terjadi apa – apa antara dirinya dengan guling.
Pas banget! Di detik berikutnya, Gongchan nongol bawa dua mug berlogo...apa itu? Himpunan Teknik Sipil? Mapala?
"Kata temen – temen aku, coklat panas bikinan aku yang paling manteb. Moga – moga aja kamu suka." Ucap Gongchan sambil menyodorkan gelas ke Jinyoung, terus duduk di sebelahnya.
Jinyoung menerima gelas itu dengan senyum lebar, "Makasih."
Gongchan hanya tersenyum simpul kemudian menyesap sedikit isi gelas mugnya.
"Ahh…" Sial. Kenapa Gongchan harus mendesah sih? Dan kenapa pula otaknya jadi refleks ngebayangin yang enggak – enggak?
Sial kuadrat. Gongchan kini tengah menjilati sisa coklat yang nempel di sekitar bibirnya. Gongchan sih ngelakuinnya biasa aja. Tapi karena otaknya Jinyoung dipenuhi oleh polusi, jadi gerakan jilat bibirnya Gongchan dimatanya berubah jadi gerakan super lambat yang menggiurkan dan sangat mengundang. Bahkan Jinyoung jadi latah ikutan jilat bibir juga. Oh shit. I wanna…
"Wuaaaaa! Panaas!" gara – gara keasikan terhipnotis oleh aksi jilat bibirnya Gongchan, tanpa sadar Jinyoung nuangin cairan coklat panas itu ke bajunya sendiri. Idioto, stupido, bodoho, tololo, bego lo!
Dengan gerakan heroik, Gongchan langsung bangkit berdiri terus mengambil alih gelas mugnya Jinyoung dan menaruhnya di meja, "Sayang? Kamu gak apa – apa kan?"
"Panaas! Panasss!" Jinyoung cuek aja, terus ngibas – ngibasin kaosnya dengan kalap.
"Kamu tunggu sini dulu ya. Tunggu dulu. Tunggu bentaarr aja." Gongchan langsung ngibrit keluar kamar.
WHATT?! Mau kemana lagi tuh? Mau manggil pemadam kebakaran?! Apa mau kabur ke tetangga?! Jinyoung lagi menderita gini malah ditinggalin. Dasar manusia gunung gak punya perasaan!
Gak lama, Gongchan balik lagi sambil bawa – bawa baskom. BASKOM?!
"Tunggu sayang, tunggu ya? Sabar ya, tahan dulu." Gongchan berlari panik ngelewatin Jinyoung yang mukanya udah tak berbentuk saking gondoknya, terus masuk kamar mandi.
Bawa – bawa baskom gede sambil masuk kamar mandi? Apa jangan – jangan Gongchan mau nyiram dia? Seriously?!
Batang hidungnya Gongchan nongol dari balik pintu kamar mandi, nenteng baskom yang kini udah penuh terisi air. Tuh… bener kan Gongchan mau nyiram dia. Cowok ini miring otaknya!
"Eh, eh kamu mau ngapain?!" tanya Jinyoung panik.
Bukannya ngejawab, Gongchan malah taruh baskom itu di deket kakinya Jinyoung habis itu tepok jidad dramatis, "Aduh! Sampe kelupaan! Tunggu bentar ya?" terus ngeloyor keluar lagi.
Ha? Nih orang apaan sih?! Daritadi ribet sendiri. Dasar cowok edan.
Jinyoung bingung garuk – garuk kepala. Saking gak habis pikirnya, dia sampe lupa kalo tadi habis nari kecak gara – gara coklat panas laknat itu.
"Sori sayang, aku kelamaan ya?" tanya Gongchan yang udah balik lagi bawa handuk kecil. Jinyoung baru ngeh. Oh… mau buat kompres toh. Kirain mau disiramin ke dia.
"Iya, sampai – sampai aku gak merasa kepanasan lagi." tukas Jinyoung sok kalem.
Gongchan terkekeh, "Ya maaf, lagian kamu bikin orang panik aja. Masa minum gitu pake tumpah – tumpah segala? Udah kayak balita aja." ucapnya sambil nyelupin handuk ke baskom. Terus diangkat, diperas, dicelupin lagi, diangkat lagi, diperas lagi, dicelupin lagi, habis itu dikucek. Ini sebenernya Gongchan mau ngompres apa mau nyuci handuk sih?
Jinyoung nunduk dengan pipi merona merah. Malu – malu mengakui aibnya.
Gongchan nyengir jahil, "Jangan – jangan kamu sengaja ya?" tunjuknya ke muka Jinyoung.
Jinyoung mendengus keki, "Sayang, kalo aku sengaja, aku gak akan mungkin cuma numpahin ke baju doang. Tanggung. Kenapa gak sekalian aja dipake mandi?" ucapnya sinis.
Gongchan malah ketawa sambil geleng – geleng kepala, "Iya deh, becanda. Gitu aja sewot."
Jinyoung melengos.
"Sekarang…" Gongchan menggulung handuk basah itu di tangannya, "Buka baju kamu."
Dia gak salah denger kan? "A…apa?"
Gongchan menatap Jinyoung dengan alis terangkat sebelah. Heran. "Iya, kan mau dikompres. Gimana sih?"
Dodol! Udah jelas kan mau dikompres mesti buka baju dulu. Kenapa Jinyoung jadi lola banget sih hari ini?
Tapi… bisa gak ya dia ngompres sendiri? Jinyoung gigit bibir gelisah. Meskipun mereka sama – sama namja, tapi tetep aja dia ngerasa canggung mau buka baju di depan pacar. Apalagi cowok ini sering bikin dia lupa diri dan refleks berpikiran nista.
"Sayang, gak usah di kompres deh ya? Lagian badan aku juga gak berasa panas lagi." Bohong. Padahal dadanya berasa nyut – nyutan daritadi.
Gongchan keliatan gak terima, "Ah masa? Sini aku lihat." Dengan seenak udelnya dan gak pake permisi dulu Gongchan langsung narik ujung bajunya Jinyoung keatas, memperlihatkan warna merah terang di dada putih mulusnya, "Tuh kan, gak usah dikompres apanya. Melepuh gini ya harus dikompres lah. Entar kalo infeksi gimana? Malah jadi bahaya. Lebih baik mencegah daripada mengobati." Cerocos Gongchan sok – sok dokter ahli, padahal Jinyoung warna pipinya udah matching sama dadanya.
"Ya tapi kan…"
"Buka atau aku yang bukain?" potong Gongchan dengan raut serius.
"Tapi…"
"Sayang, aku cuma mau ngompres. Udah itu aja. Emangnya kamu pikir aku bakal apain kamu?" ucap Gongchan gak sabar.
Entah kenapa Jinyoung merasa kecewa dengernya. Akhirnya dia terpaksa nurut dan buka kaos dengan tampang manyun.
"Nah gitu kek daritadi." Gumam Gongchan dan segera nempelin handuk basah tadi ke dadanya Jinyoung. Sensasi dingin ketemu kulit yang melepuh menimbulkan rasa nyeri yang bikin meringis.
"Aduh! Shhh….Sayang, pelan – pelan dong." keluh Jinyoung setengah meringis.
"Iya, ini udah pelan." Gongchan duduk bersimpuh di tengah – tengah dua paha Jinyoung yang terbuka lebar sambil nempel – nempelin handuk ke dadanya. Jujur, posisi ini meresahkan banget. Dalam artian yang berbeda. Mana Jinyoung lagi pake skinny jeans. Moga – moga aja 'Sang adik' yang lagi bobo dengan damai gak bangun dulu untuk sementara ini. Hanya tetap pada pikiran… positif! Dan sant-
"Uhh~hmm…" Jinyoung buru – buru gigit bibir saat handuk dingin itu tepat menyentuh nipple kanannya. Berusaha keras menahan suara desahan memalukan keluar. Coba aja Gongchan melakukan itu dengan tangan… graaghh! Pikiran positif, pikiran positif, pikiran positif, pikiran positif…
"Kenapa? Sakit banget ya?" tanya Gongchan dengan raut khawatir.
Enggak. Enak banget malah.
Jinyoung menggeleng sambil berusaha tersenyum ngeliat Gongchan memperhatikannya dengan raut cemas begitu.
"Bilang ya kalo sakit? Yang disebelah sini?" Gongchan mindahin handuknya agak seinci lebih dekat ke nipple kiri.
Ahhh~ lebih dekaaat… PLAKKK! Gue barusan mikir apa, sih?!
Gongchan melongo kaget. Agak shock, "Lho? Kok kamu nabok pipi lagi?"
Ha? Emang barusan dia nampar diri sendiri lagi?
"Di gigit nyamuk?" tebak Gongchan sambil mengulum senyum. Apa – apaan tatapan matanya itu? Ngeledek?
Duh. Kayaknya mulai sekarang Jinyoung musti bawa tali rafia, tali tambang, tali sepatu, tali kolor pokoknya tali apapun buat ngiket tangannya yang suka tiba – tiba berubah jadi mesin tampar otomatis. Soalnya tengsin banget!
Saking bingungnya, Jinyoung tanpa sadar nyahut, "Iyaaa…"
Hampir aja tawa Gongchan meledak. Kemudian dia menyadari ada sesuatu yang ganjil. Gundukan. Ya… 'gundukan'.
Gongchan bersiul panjang, "Kayaknya ada yang bangun nih."
Jinyoung melirik ke bawah dan langsung tercekat begitu menyadari kegagalannya dalam menahan ereksi di selangkangan. Selamat Gongchan. Anda berhasil.
"Jadi… yang ini mau di kompres juga?" Srukusrukusruk. Tangan Gongchan ngelus – ngelus selangkangan bengkaknya Jinyoung. Membuat namja cantik itu memejamkan mata dengan mulut terbuka sedikit mengeluarkan desahan nikmat tanpa suara.
Gongchan menampilkan smirk yang berbeda. Matanya menatap tajam kedua manik mata Jinyoung dalam – dalam. Ekspresinya berubah dalam sekejap. Siapa cowok ini? Seumur – umur Jinyoung baru pertama kali ngeliat ekspresi wajahnya Gongchan yang ini. Entah kenapa Gongchan sekarang jadi terlihat kayak Kris kalo lagi ngebujuk Chanyeol untuk mandi bareng.
"Gong…chan?" debaran jantung milik Jinyoung mendetumkan musik metal sekarang. Dia bahkan bisa merasakan bulu – bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri.
Bukannya menjawab, Gongchan malah menunduk dan mendaratkan bejibun ciuman di penis ereksinya. Jinyoung sampai merasa nikmat dan lemas sekaligus. Akhirnya mimpi nistanya jadi kenyataan. HELL YEAHH!
"Boleh kan?" tanya Gongchan minta persetujuan sebelum menurunkan resleting celananya Jinyoung.
Dengan senang hati! Jinyoung mengangguk kelewat antusias. Kemudian merebahkan tubuhnya. Biar lebih rileks.
Dengan lihainya Gongchan berhasil menyingkirkan celana Jinyoung dan melemparnya secara random. Dalam waktu kurang dari dua puluh detik. Kayaknya Gongchan ini udah expert deh? Apa dulu dia sering ngelakuin ini ya sama kedua mantannya? Terus kenapa sekarang sama Jinyoung kok pelit dan sok jual mahal banget?
Pikiran jealous Jinyoung terputus oleh mulut Gongchan yang mulai mendaratkan jutaan ciuman lagi sambil meraup lapar dan menjilati naik turun penis Jinyoung yang masih terbungkus celana dalam. Bahkan, 'dua bola kembar' nya pun tidak luput dari raupan rakus bibir Gongchan.
"Ahhh…mmhh…enghhh~" tanpa bisa ditahan lagi, akhirnya desahan memalukan itu keluar juga. Badannya menggeliat erotis di atas ranjang, mengikuti permain bibir Gongchan di selangkangannya. Dalam sekejap Jinyoung langsung lupa akan rasa nyeri dan panas di dadanya.
"Kamu ini benar – benar perawan, ya? Baru begini aja udah terangsang setengah mati." Ledek Gongchan dengan senyum nakal.
Jinyoung menggumamkan, "Shut up! Just do it," dengan dada megap – megap naik turun. Capek mendesah dan menggeliat kayak cacing kepanasan.
Gongchan kembali menampilkan smirk 'Aku siap menodaimu' itu lagi. Kemudian tubuhnya merangkak naik di atas tubuh Jinyoung yang terlentang pasrah. Setelah posisi kepala mereka tepat saling berhadapan, Gongchan menurunkan pinggangnya hingga kini selangkangan ereksi mereka saling menempel erat.
Setelah agak lama saling beradu pandang dan melempar tatapan penuh arti, Gongchan menautkan bibirnya. Ciuman yang terjadi kali ini berbeda dengan yang di toilet waktu itu. Ciuman ini lebih berantakan, lebih bergairah, lebih banyak desahan, lebih banyak perang lidah, gigitan, lumatan dan saliva pastinya.
Benang – benang saliva terlihat menggantung diantara bibir kedua namja itu saat Gongchan menjauhkan wajahnya. Dagdigdug. Gongchan sudah lama sekali rasanya tidak merasakan sensasi aneh yang menyenangkan ini. Sudah lama sekali. Lama sekali. Sejak…
Sejak Hyeri memutuskannya dulu.
"Lo harus berhenti, Channie. Lo janji sama gue lo harus berhenti!"
Lalu dia teringat kata – kata Minah di malam saat cewek itu meninggalkannya dan lebih memilih untuk menikahi orang lain.
"Plis…gue mohon. Jangan dekati gue lagi. Soalnya… gue udah gak bisa!"
Bagai dijewer buto ijo, Gongchan langsung kembali ke dunia nyata. Matanya mengerjap – ngerjap sadar kayak orang baru sembuh dari kesurupan.
Jinyoung yang menyadari perubahan di raut wajah Gongchan seketika mengernyit heran, "Sayang? Kamu kenapa?"
Gongchan natap Jinyoung dengan muka melongo bego, "Aku… aku…" mulut Gongchan komat – kamit menggumamkan sesuatu yang samar – samar lalu buru – buru menyingkir dari atas tubuh Jinyoung, "Maafin aku. Sori. Maafin aku. Aku kelepasan." Namja itu menggeleng berlebihan kayak orang parno akan sesuatu dan terlihat setengah mati menghindar dari tatapan bingung Jinyoung.
Kenapa Gongchan minta maaf? Dan emangnya kenapa kalo dia kelepasan? Jinyoung kan pacarnya sendiri. Dan apa – apaan sikapnya itu? Apa yang barusan itu bukan Gongchan? Apa dia baru aja kesurupan setan mesum nyasar? Kepala Jinyoung dipenuhi dengan pertanyaan dan pikiran ngawur.
Gongchan terlihat sibuk merogoh laci lemari kecil di samping tempat tidurnya, mengeluarkan kaos oblong warna hijau tosca lalu mengopernya ke Jinyoung, "Ini. Pinjem aja dulu. Mau kembaliin kapan aja terserah. Terus ini…" Gongchan meraih celana jeans milik Jinyoung yang ternyata tergeletak di dekat kakinya lalu menyerahkannya ke Jinyoung, "Celana kamu."
Jinyoung menerima semuanya dengan senyum canggung yang aneh banget, "Mm.. makasih…?" Ucapnya lebih terdengar seperti pertanyaan.
"Oh iya, luka bakar kamu, itu… kamu bisa ngompres sendiri kan?" tanya Gongchan dengan senyum bersalah yang gak enak dilihat.
Eh? Dahi Jinyoung bukan keriting lagi, tapi langsung keribo.
"Terus baju kamu yang kena tumpahan coklat itu, tinggalin aja disini. Entar biar dicuci ama pembantu aku."
Hah?!
"Ya udah, gitu aja dulu. Aku mau keluar, mau ngerokok bentar. Aku tunggu dibawah ya? Semoga cepat sembuh."
APAAA?! Kata – kata macam apa itu?! Eh, eh… lho? lho? Mau kemana dia? Kenapa malah kabur? Oiii! Tunggu! Tanggung jawab dong! Kenapa Jinyoung malah makin digantung gini sih?! Terus yang tadi gimanaaaaa?!
.
.
.
.
Chanyeol berdiri di atap sebuah gedung tua. Lagi – lagi gedung yang sama. Chanyeol mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sinar matahari yang sangat terang terasa begitu menghujam matanya. Saking silaunya, dia sampai harus menghalaunya dengan kedua tangan.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Chanyeol refleks berbalik.
Goddamnit! Lagi – lagi cowok itu. Kenapa mukanya selalu ketutupan sinar matahari?! Chanyeol kan jadi gak bisa ngeliat mukanya dengan jelas.
"Udah gue duga, lo pasti dateng." Tukas suara ngebass di depan sana. Meskipun samar – samar dan harus bersusah payah dulu memicingkan mata, kali ini Chanyeol bisa melihat cowok itu tersenyum. Bukan senyum tulus. Bukan senyum manis. Melainkan senyum yang… berbeda. Chanyeol sendiri susah mendefinisikannya.
"Jadi, sebelum lo salah paham dan berpikiran yang enggak – enggak, harus gue tegasin satu hal, kalo tujuan gue manggil elo bukan untuk nyatain cinta…"
Entah kenapa rasanya Chanyeol susah banget buka mulut. Kayak ada yang menjahit mulutnya dan mengikatnya dengan simpul mati.
Seringai aneh cowok itu melebar, "Tapi… untuk BALAS DENDAM!"
Cowok itu berlari dengan kecepatan gila – gilaan seperti chetah yang berusaha menerkam rusa yang sedang asik makan rumput, lalu di detik berikutnya saat kepalan tinju cowok itu terangkat, tepat di saat itu pula Chanyeol langsung terlonjak bangun.
Shit! Mimpi itu lagi. Bosen gue! Gue gak kepengen inget itu lagi! Bahkan wajah cowok itu juga udah berhasil dia lupain. Terus kenapa sampai sekarang orang itu masih suka menerornya dalam mimpi? Terus kapan Chanyeol bisa mimpi duet sama Justin Timberlake kalo mimpi itu terus yang nongol dan menyabotase tidur nyenyaknya?!
Chanyeol mengacak – acak rambutnya yang emang udah acak – acakan kemudian mengusap wajahnya frustasi. Tatapannya terpaku ke jam dinding. Baru jam tiga dini hari. Duh, mana matanya masih ngantuk banget. Mau bobo lagi juga takut. Takut mimpinya yang tadi berlanjut lagi ke episode berikutnya.
Akhirnya untuk mengisi kekosongan, Chanyeol balik rebahan lagi sambil buka - buka instagram di hape. Suara ngoroknya Sandeul menjadi backsound pengisi keheningan malam itu. Bersaing ama suara jangkrik yang lagi paduan suara dan kodok yang lagi seriosa. Namja itu tidur memunggunginya, sementara mukanya berhadapan langsung sama Jinyoung.
Jadi ceritanya, setelah berhasil menyelesaikan satu jam sesi curhat – curhatan bertiga, Chanyeol dan Jinyoung langsung mutusin mau bobo bareng di kamarnya Sandeul.
Tenang aja. Chanyeol gak cerita semuanya kok, paling hanya bagian waktu di mobil tadi. Dia belum siap cerita ke siapa – siapa dulu soal mimpi buruknya, soal keluarganya, dan juga soal hubungannya dengan Kris. Itu rasanya terlalu rumit dan sangat sulit dimengerti. Chanyeol terlalu takut melihat reaksi orang – orang. Bahkan meski itu teman terdekatnya sendiri. Dia benci jika orang menatapnya dengan tatapan menjudge. Tidak! Dia hanya mau hidup normal dan menjalani aktifitas seperti biasanya. Kuliah. Punya teman banyak. Jadi sarjana. Dapat pekerjaan yang layak, kemudian menikah, lalu berkeluarga. Walk like nothing happen. Itulah motto yang selalu dia dengung – dengungkan dari dulu. Chanyeol gak mau bikin Bundanya sedih dan kecewa. Dia hanya mau jadi anak baik dan terus melanjutkan hidup.
Kata – kata Bundanya masih terngiang – ngiang di otaknya sampai sekarang. Kata – kata yang membuatnya tetap 'kuat' sampai sekarang dan terus melanjutkan hidup: "Bunda gak mau kamu terjerat dalam kesalahan yang sama. Jangan sampai kamu jadi pembunuh dan perusak hubungan orang. Bunda gak mau terjadi apa – apa sama kamu. Karena cuma kamu yang Bunda punya sekarang."
Jadi… lebih baik dia terus seperti ini kan? Berbohong demi kebaikan agar orangtuanya senang dan tenang.
Jangan sampai ada orang lain lagi yang tahu. Cukup Kris saja. Itupun Kris bisa mengetahuinya bukan dari Chanyeol sendiri. Dia bisa mengetahuinya karena dia… dia…
Dia adalah saksi!
.
.
.
.
Ini sudah jam tiga dan Kris masih saja duduk di depan meja belajar. Galau. Biasanya kalo lagi susah tidur gini, dia selalu ambil hape dan sms Chanyeol. Tapi karena sekarang dia lagi bête berat, akhirnya cuma bisa mati gaya di depan laptop sambil buka – buka folder foto simpanannya.
Telunjuknya terhenti di udara saat tatapannya stuck di salah satu folder yang letaknya paling pojok sendiri di bagian bawah. Folder itu sengaja di pisah dari yang lain dan dia kasih nama 'Kalkulus 4'. Cukup aman, kan? Lagian manusia normal macam apa yang mau iseng membuka folder dengan judul 'Kalkulus 4'?
Selain di kasih nama begitu, Kris juga sengaja memprotectnya dengan kode yang kata sandinya cuma dia sendiri yang tau. Wajar. Soalnya apa yang ada di dalamnya juga bukan sembarangan. Folder ini berisi foto – foto dengan gambar yang…. bisa dibilang… tidak biasa. Atau… kriminalitas? Tidak. Kris tidak mau menyebutnya begitu. Dia lebih suka menyebut hari itu sebagai 'Insiden'.
Kris meng-klik folder itu lalu memasukkan beberapa deret angka dan huruf. Passwordnya sangat panjang, tapi Kris masih inget. Padahal ini juga ada sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Kris memang terkenal punya daya ingat yang cukup kuat.
Begitu folder rahasia itu berhasil terbuka, Kris langsung tarik napas dalam – dalam. Hal yang sering dia lakukan jika sudah melihat isi folder yang satu ini.
"Yeol, yeol… kenapa sih gue gak bisa ngehapus foto – foto ini?" gumamnya gak habis pikir.
Ada sekitar lima foto di depannya. Dan semuanya berisi adegan kekerasan seorang pemuda yang sedang berjibaku dengan pemuda lain yang kelihatannya lebih tua beberapa tahun. Wajah salah seorang pemuda di foto itu sangat familier. Cantik. Bahkan kecantikannya gak luntur sampai sekarang, menurut Kris. Panjang rambutnya berada di atas bahu, membuat wajah cantiknya terlihat makin cantik saja. Seperti seorang yeoja. Ya. namja itu adalah Chanyeol. Orang yang telah berhasil mencuri hatinya di pertemuan pertama mereka. Jauuh sebelum Chanyeol mengenalnya seperti sekarang.
Saat itu Kris masih ingat dengan begitu jelas. Kira - kira enam tahun yang lalu, saat dirinya masih menjadi seorang Don Juan yang digila – gilai para kaum hawa di sekolahnya. Bahkan beberapa kaum adam pun tidak luput dari pesonanya. Pesona seorang Kris Wu. Siapa sih dulu yang enggak kenal dia? Bahkan cewek – cewek dari sekolah tetangga aja tiap jam pelajaran olahraga rela ngantri di pinggir lapangan cuma buat nontonin dia maen basket.
Selain terkenal karena ketampanan dan auranya yang sesuatu banget, Kris juga dikenal sebagai Playboy kelas buaya darat. Mantan – mantannya kalo digabungin bisa jadi dua tim kesebelasan sepak bola plus penjaga gawang, pemain cadangan, wasit, sama komentatornya sekalian. Pokoknya saking banyaknya, orangnya sendiri ampe lupa siapa – siapa aja yang udah pernah dia pacarin dulu. Yaah… kebanyakan sih hubungan Kris dengan cewek – cewek itu singkat banget. Ada yang seminggu, sebulan, ada yang cuma tiga hari malah! Kalo semua cewek – cewek itu sibuk menghalalkan segala cara demi menarik perhatiannya, Chanyeol beda lagi kasusnya.
Dari awal ketemu, namja itu malah tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Mungkin karena Chanyeol orangnya suka sebodo amat. Elu – elu, gue – gue. Begitu prinsipnya. Tapi kok anehnya Kris malah yang tergila – gila. Yang lebih anehnya, Kris malah makin kesengsem saat Chanyeol dengan lancangnya numpahin jus stroberi diatas kepalanya gara – gara Kris iseng ngatain dia: 'Suka minum jus stroberi ya? Gak heran sih. Emang cocok ama muka lo.' Tuh… coba, berani banget kan si Chanyeol? Padahal Kris itu kan seniornya, lebih tua dua tahun diatasnya. Ckckck, Chanyeol emang sesuatu!
Semenjak insiden jus stroberi itu, mereka sebenernya gak pernah berkomunikasi sama sekali. Tapi untungnya Chanyeol ikutan ekskul PMR yang beruntung banget jadwalnya sering barengan ama jadwal latihannya anak – anak basket. Apalagi pas diksar pelantikan anggota dulu, diksarnya PMR sama basket 'kebetulan' berada di lokasi yang sama dalam seminggu. Nah… makin kuatlah perasaan Burung berwajah suram ini ke Jerapah doyan nyengir itu.
Emang Kris ini orangnya terkenal nekat dari dulu. Sampe tempat diksar aja bisa dia lobi biar bisa barengan hari, tanggal, dan tempatnya. Terus yang ketua PMR dulu itu kan si Jonghyun yang notabene temen akrabnya dari kecil, ya jelas gampanglah kongsi – kongsinya! Dan itu semua dia lakukan demi apa? Demi seorang Park Chanyeol.
Harusnya Chanyeol nangis terharu sambil berteriak kegirangan ada cowok yang sebegitu ngebetnya ama dia. Tapi sayang otaknya Chanyeol rada sengklek, ada cowok seganteng dan seperhatian Kris dia anggurin melulu. Dia malah sibuk jatuh cinta sama cowok kelas sebelah. Dan… cowok inilah yang nongol di foto – foto 'insiden' yang sekarang sedang berjejer dihadapannya ini. Cowok bernasib naas yang ternyata mendekati Chanyeol karena ada dendam pribadi dengan keluarganya.
Kris memijat otaknya pening saat memorinya kembali terputar ke 'insiden' beberapa tahun lalu itu. Kris masih ingat waktu itu hari kelulusannya dan dia lagi nongkrong – nongkrong galau di atap sekolah habis di marahin ama bokap nyokapnya gara – gara berkasnya gak lolos di Teknik. Tidak sesuai harapan kedua orangtuanya yang kontraktor itu. Dia malah keterima di pilihan ketiga, Ekonomi.
Lagi enak – enak mengkhayal sambil diterpa angin sepoi – sepoi, tiba – tiba nongollah Chanyeol dengan tindak – tanduk mencurigakan. Berselang beberapa menit kemudian, namja yang digebet Chanyeol juga datang. Kris yang pada dasarnya udah penasaran ada apakah gerangan diantara kedua orang itu, menyaksikan semuanya dengan ekspresi terperangah shock dari awal sampai akhir di balik tembok gudang penyimpanan tua.
Bahkan dia juga menyaksikan dengan jelas saat cowok itu mati – matian ingin melucuti pakaian Chanyeol, berusaha memperkosanya. Lalu karena Chanyeol memberontak dan berusaha membalas pukulannya, cowok itu seperti kesetanan dan mendaratkan pukulan secara brutal dan bertubi – tubi di wajah, perut, kaki, dada dan kepala Chanyeol. Tiba – tiba keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat saat cowok itu mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan dan menyakitkan pastinya bagi Chanyeol, sesuatu tentang Ibunya pelacur atau apalah, lalu Chanyeol seperti gelap mata melancarkan serangan balik dengan kalap di perut cowok itu. Tanpa ampun. Gak sengaja mendorongnya terlalu kuat hingga kaki namja itu terpeleset di genangan air, kepalanya membentur pinggiran tembok balkon yang keras lalu…
Tamat. Selesai. The end.
Oh ya, dan jangan lupa kalo Kris juga berhasil mengabadikannya dalam kamera.
Biadab? Iya. Kris emang biadab. Bukannya ngebantuin malah motret kayak paparazzi kekurangan bahan. Tapi waktu itu emang Kris lagi shock – shocknya sampe – sampe berubah jadi patung bisu yang bahkan bergerak aja gak sanggup. Dan akhirnya malah… motret.
…
…
Oke…
Itu biadab Kris. Dan kenapa elo gak ngehapus fotonya kalo emang lo sayang? Kenapa malah lo simpen – simpen?
Karena gue gak bisa! Gue gak tau kenapa gue gak bisa ngehapus foto – foto ini! Seperti ada suara dalam yang berteriak di dalam kepalanya untuk gak menghapus semua bukti – bukti itu. Entah itu suara siapa. Spiderman? Batman? Atau… KRisman?
Waktu itu juga Kris motretnya antara sadar dengan enggak, kayak ada semacam wangsit atau kekuatan gaib dari dalam dirinya yang merintahin Kris untuk motret. Dan dia juga dulu gak tau apa gunanya terus nyimpen foto – foto itu sampai saat tahun penerimaan mahasiswa baru. Tidak ada seorangpun yang bisa menggambarkan betapa bahagianya Kris bisa menemukan wajah Sang belahan jiwa (cieeh) diantara barisan para makhluk bau, jelek dan dekil (Baca: Maba) di lapangan parkir yang pada saat itu panasnya gila – gilaan kayak di gurun pasir.
Penantian itu kayak mimpi indah yang terkabulkan bagi Kris. Soalnya selama bertahun – tahun, hati dan pikirannya selalu ke Chanyeol lagi, Chanyeol lagi. Chanyeol itu macam morfine atau narkoba yang bikin dia kecanduan. Kris emang masih buaya laknat yang sama, masih mengencani banyak cewek demi petualangan dan kesenangan masa mudanya. Tapi begitu dipersatukan dengan Chanyeol lagi, dia langsung insyaf dari ke-Playboyannya. Kerjaannya tiap hari pedekate sama Chanyeol melulu. Dan beruntungnya kali ini dia… DITERIMA. Horeee!
Di awal – awal pacaran, mereka fine – fine saja. Malah Chanyeol berasa kayak dapet pangeran dari negeri dongeng. Bedanya kalo pangeran negeri dongeng naik kuda putih, Kris naik mercy warna putih.
Kris juga masih belum berubah menjadi monster penggila seks yang menyebalkan. Chanyeol juga masih dengan sukacita nempelin Kris kesana kemari. Persis anak ayam yang ngitilin induknya kemana – mana. Tapi semua itu berubah semenjak ada orang ketiga yang mencoba ngedeketin Chanyeol. Jungshin. Anak sastra. Lagi – lagi orang ketiga. Ya, orang ketiga yang berhasil dikirim Kris pulang ke kampung halaman lengkap dengan foto ronsennya.
Bukannya tadi udah dibilangin ya? Kris itu emang raja nekat. Kalo udah maunya ya maunya. Apalagi pengorbanannya ke Chanyeol itu gak gampang, makan waktu bertahun – tahun. Enak aja tuh orang mau maen ngerebut! Ya Kris gak tinggal diam lah.
Semenjak itu, mereka jadi sering ribut, apalagi Chanyeol ngerasa Kris mulai berlebihan, sering maksa Chanyeol untuk memenuhi 'tugasnya' dan terlalu overprotektif. Puncaknya pas malam itu, Kris ngajakin Chanyeol 'ngeong' di hotel. Chanyeol yang ngambek akut otomatis nolak dan ngeluarin ultimatum akan mutusin Kris kalo dia masih maksa. Mereka sampai berantem di lobi hotel. Untung aja hari itu pas lagi sepi – sepinya. Cuma beberapa staff hotel aja yang mondar – mandir dengan tampang pengen ngusir.
"Kita putus Kris! Aku muak dengan tingkahmu!"
"Kalo aku gak mau, gimana?" tantang Kris.
"TAPI AKU MAU!"
"TAPI AKU ENGGAK!"
"Putus. Kita putus. Titik!" tandas Chanyeol terus berbalik dan langsung melangkah pergi.
Kris geram banget, terus berusaha menjejeri langkah Chanyeol. Karena kakinya sama panjang jadi dia gak kesulitan ngejar Chanyeol, "Lo pikir lo mau kemana, hah?!" saking emosinya Kris sampai lupa ber-'aku kamu'. Kalo udah emosi yang bicara, persetan etika.
"Pulang. Muak ama elo!"
Kris mengatupkan rahangnya rapat – rapat berusaha menahan amarah. Gak! Ini gak bisa dibiarin. Dia gak mau hubungannya berakhir dengan sia – sia. Kris harus melakukan sesuatu. Ayo berpikir…
"Tunggu, sayang. Dengerin aku dulu." Kris berubah jadi lunak lagi, "Aku bisa jelasin ini semua…" Kris menyambar pergelangan tangan Chanyeol namun namja itu lebih sigap menarik tangannya.
"Jelasin apa lagi?! Males gue denger bacotan lo!"
Kurang ajar! Sepasang mata Kris berkilat marah. Tapi dia masih gak mau nyerah. Bocah ini harus tau dengan siapa dia berurusan. Tuan muda Wu yang digila – gilai banyak cewek! Sudah cukup Kris bersabar selama ini. Sekarang saatnya dia untuk unjuk gigi!
"Jangan kira aku bisa tenang aja ngeliat apa yang kamu lakuin dulu waktu di atap sekolah." Akhirnya senjata pamungkas Kris keluar juga. Sebenernya dia gak mau ngelakuin ini. Ini juga terpaksa banget. Yaa… mau gimana lagi. Kalo gak begini dia akan kehilangan Chanyeol lagi untuk yang kedua kalinya. Dan Kris gak mau itu! Pokoknya Chanyeol gak bisa putus darinya. Titik!
SET. Langkah dikejar – kejar penagih utangnya Chanyeol terhenti ditempat. Raut wajahnya berubah kaget bukan kepalang. Terus noleh dengan ragu – ragu. Berusaha meyakinkan pendengarannya kalo barusan dia gak salah denger.
"Iya, sayang. Aku udah tau semuanya. Aku bahkan denger apa yang kalian omongin waktu itu." tukas Kris dengan raut wajah tenang dan sedatar permukaan danau. Danau yang dipenuhi monster buas.
"Aku… aku…" Chanyeol mendadak mengalami lumpuh otak saking shocknya, "Aku gak tau apa yang kamu omongin. Jangan becanda." Tukasnya pake jurus basi. Berlagak amnesia.
"Nggak usah pura – pura bego. Aku bahkan masih simpen buktinya sampai sekarang." ucap Kris tajam.
Bu…bukti?!
"Terus… sekarang mau lo apa? Ngelaporin gue ke polisi?" tanya Chanyeol dengan senyum mengejek dan tatapan sinis.
"Ngelapor ke polisi? Hmm…" Kris pasang gaya berpikir ala detektif, "Saran yang bijak dan masuk akal." Gantian Kris yang tersenyum mengejek melihat Chanyeol terperangah, "Bukannya itu yang seharusnya kamu lakuin dari dulu?"
"Itu kecelakaan. Gue gak sengaja. Dia nyerang gue! Lo liat sendiri kan?" desis Chanyeol berang.
"Kecelakaan?" Kris menampilan senyum pokerface khasnya, "Itu kan menurut kamu. Bukan menurut Tuhan."
Kalo udah Tuhan yang dibawa – bawa siapapun pasti bingung mau berkata – kata.
"Jujur aja, aku salut sama kamu. Menjalani hidup seperti bocah kecil yang polos, berpura – pura seperti semua itu tidak pernah terjadi. Salut. Aku salut." Kris geleng – geleng kepala sambil berdecak nyebelin, "Kalo orang biasa mungkin akan mutusin untuk bunuh diri juga. Atau mengurung diri di ruang bawah tanah yang gelap dan gak pernah muncul – muncul lagi."
Chanyeol terdiam, merasa tertohok dengan ucapan Kris. Dia mati kutu. Mati gaya. Mati kejang – kejang. Mati suri. Pengen… mati aja deh pokoknya!
"Tapi… aku bisa ngerti kenapa kamu lebih milih 'bermain aman' meskipun sebenarnya kamu merasa serbasalah. Karena itu semua demi Bunda kamu. Iya, kan?"
Chanyeol masih diem. Karena omongan Kris benar. Dia emang gak mau ngecewain Bundanya. Dia gak mau bikin Bundanya sedih.
"Yaaah… kalo jadi kamu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi polisi mencatat kematiannya waktu itu sebagai kasus bunuh diri. Jadi seharusnya gak ada yang perlu kamu khawatirin lagi kan?"
Kris ini sok tau banget sih.
"Belum lagi aku…sebagai saksi hidup, masih bungkam sampai sekarang."
Chanyeol mulai tau kemana arah pembicaraan ini.
"Banyak orang bilang… aku ini penyimpan rahasia yang baik. Sekali masuk…" Kris menunjuk telinga kanan, kemudian telunjuknya berpindah di dada, "Aman selamanya disini. Dan gak akan bocor lewat sini." Kris nunjuk mulut, "Dijamin! Seratus persen."
Chanyeol ngeliatin Kris sangsi.
"Masih gak percaya?" tanya Kris pura – pura kaget, "Kamu masih inget sama Jonghyun kan? Ketua kamu dulu? Apa sih yang aku gak tau dari dia? Semua burik – buriknya aku yang pegang. Dan rahasianya aman sampai sekarang. Gak ada yang bocor sedikitpun."
"…"
"Makanya aku mau nawarin solusi biar rahasia kamu tetep aman, kuliah kamu tetep lancar, dan kamu juga masih tetep bisa ngebahagiin Bunda kamu dengan membawa pulang gelar Sarjana, bukan gelar Narapidana."
Mendadak perasaan Chanyeol tidak enak.
Kris menunjuk dirinya sendiri, "Aku." Jawabnya kalem, tegas, disertai senyum percaya diri.
Tuh kan…
Chanyeol gigit bibir gelisah. Mampus. Kayaknya Kris berhasil membuat Chanyeol memakan umpannya. Buktinya sekarang pertahannya mulai goyah. Tapi kalo dia nolak takutnya Kris akan melakukan sesuatu yang ekstrem. Dan dia gak bisa ngebayangin apa yang selanjutnya bakal terjadi kalo Kris sampai nekat membocorkan bukti – bukti itu. Meskipun bukan sepenuhnya Chanyeol yang salah, tapi tetap aja itu akan menjadi aib kan?
"Mm…"
Kris tersenyum lembut. Dua tangan Kris terulur meraih tubuh pucat di depannya lalu memeluknya dengan hangat dan perasaan ingin melindungi yang sangat dalam. Namja itu langsung bernapas lega karena Chanyeol tidak melakukan penolakan kayak menendang selangkangan, menyikut rusuk atau menginjak kaki.
"Tenang aja. Karena kamu udah mau ngerti, aku gak akan ngelaporin kamu ke siapapun. Apalagi ke polisi."
Dan emang Kris tidak berniat ngelaporin Chanyeol ke polisi. Come on! Sebangsat – bangsatnya dia, Chanyeol ini orang yang paling dia sayangi, tega bener kalo Kris sampai ngelakuin itu. Kris masih punya hati. Itu cuma… agar Chanyeol tidak pergi darinya. Udah. Itu saja.
.
.
.
.
Karena omongan Chanyeol semalam, mulai sekarang Sandeul berangkat ke kampus sendiri. Bukan apanya. Dia masih merasa gak enak soalnya.
Baro? Jemput dia? Jangan harap! Wong uang bensin aja masih sering ngutang ke Sandeul. Entah uang jajannya lari kemana. Beli kaset game? Beli komik tentang makhluk luar angkasa? Atau untuk proyek teleskop konyolnya itu? Tau deh! Sandeul bukan tipe orang yang rela berpusing – pusing ria memikirkan tetek bengek Sang pacar mulai dari hal – hal sekecil upil manusia, sampe segede upil gajah. Baginya hanya ada dua, benar dan salah. Kalo menurutnya apa yang Baro lakukan itu salah, ya dia wajib sewajib wajibnya ngomel. Kalo menurutnya benar, yaa… Sandeul santai, dan cukup memberi dukungan sama mendoakan. Itu doang sih.
Untung aja Sandeul mata kuliahnya cuma satu, jadi sisa waktu kosongnya bebas dia pake buat ngurusin tugas akhir sama mampir dulu ke sekret IT.
"Jinnie, temenin gue ya?"
"Kok gue lagi, sih?" tanya Jinyoung keruh. Mukanya udah keruh dari semalam. Sekeruh kolam ikan dari jaman prasejarah. Dia masih rada – rada gak rela Gongchan gak jadi mengambil keperawanannya semalam. Mana tangga menuju koridor elektro itu harus ngelewatin sekret mapala dulu.
"Yee! Nape? Lo malu ketemu Gongchan? Makanya udah gue bilangin harusnya lo bawa kantong plastik item buat penyamaran. Jadi muka lo gak bakal dikenali."
Jinyoung melengos, "Biarpun dia gak ngenalin muka gue, tetep aja dia ngenalin badan gue."
Sandeul cengengesan denger kata – katanya Jinyoung yang ambigu, "Kenapa bisa gitu dia ngenalin badan lo? Karena di leher lo masih ada bekas gigitannya?"
"SIALAN! DIA GAK NGEGIGIT GUE!"
Semua mata tertuju pada Jinyoung.
"Dia gak ngegigit gue!" Jinyoung mengulangi kata – katanya menjadi bisikan, "Lagian ama Chanyeol aja napa sih?"
Sandeul masih cengengesan, "Ya udah. Kalo gitu gue mau nyebrang ke ekonomi dulu. Bye! Selamat meratap." Ucap Sandeul dengan alis naik turun dan cengiran nyebelin, "Ciee yang hampir ternodai…"
Mukanya Jinyoung berubah jadi merah. Tinggal disuruh berdiri – berdiri aja di pinggir jalan, dia bisa jadi lampu merah yang sempurna.
"Sandeuullll!"
.
.
.
.
Baro menatap tumpukan kertas kalkir A3 berisi rancangan model teleskop karyanya dan Chen. Selama dua minggu yang baru jadi cuma kaki penyangganya aja. Mana penutupan lombanya sisa empat minggu lagi. Mana si Chen masih terkapar tak berdaya dan belum diperbolehin jalan sama sekali.
Habis itu dia tarik napas sambil memijat keningnya. Puyeng akut.
Kayaknya dia mesti pertimbangin sarannya Zico buat cari asisten pengganti sementara. Hanya sebagai asisten untuk membantunya, bukan partner lomba. Untuk sementara sampai kesehatannya Chen membaik dan bisa ikut bantuin dia lagi.
"Sung, lo bisa gak bantuin gue ketikin pengumuman buat di tempel di depan?" tanyanya pada Sunghak yang lagi nongkrong di sebelahnya, maen DOTA. Para penghuni sekret IT rata – rata sejenis semua. Maniak game.
"Entar aja! Tanggung nih, bray. Lagi asik gue." Tolak Sunghak masih fokus ngalahin monster gede bertanduk dan bentuknya kayak tokek.
"Lo mah gitu, dimintai tolong sama ketua nanti – nanti mulu. Anggota macem apa sih lo?"
Sunghak berdecak sambil matiin gamenya, "Kebiasaan lo bawa – bawa jabatan. Dasar atasan semena – mena," sungutnya misah – misuh gak jelas sambil membuka lembar kosong word.
"Yang iklas dong, Sung. Entar gaji lo gue naekin." Tukas Baro sok – sok bos besar.
"Monyet. Ini lembaga, bukan kantor. Mana ada gaji?"
Baro nyengir, "Oh iya ya, lupa gue. Ya udah lo lanjutin aja tuh. Gue mau nyari inspirasi lagi nih." ucapnya kemudian balik ngeliatin kertas sambil gigit pulpen kali ini.
. Suara ketukan membuat dua namja itu refleks menoleh dan langsung melongo mendapati seorang cewek berdiri di ambang pintu.
Baro malah terkena serangan epilepsi dadakan, "Bo…bomi?"
Cewek yang dipanggil Bomi itu langsung sumringah, "Haiii! Long time no see."
.
.
.
.
"Kriss~"
Kris bahkan tidak mau repot – repot melirik dari buku yang tengah dibacanya. Cewek ini sudah dua hari mengganggu ketentraman hidupnya di kampus. Dasar perempuan miskin harga diri.
"Kris, kalo orang lagi ngomong itu dengerin dong."
Ck! Siapa elo, batin Kris gondok. Dia udah biasa diikuti oleh cewek – cewek model begini yang begitu terobsesi dengan dirinya. Tapi baru si Jessica ini yang berhasil membuat kesabarannya berada di puncak dan nyaris meledak.
"Kris! Jawab! Jangan diem aja!" desak makhluk menor pirang itu dengan muka merengut yang gak enak diliat.
Tepat didetik saat Kris hendak menyemprot cewek itu, dia melihat ada Chanyeol yang sedang berjalan kearahnya barengan sama Sandeul.
Kebetulan yang sangat pas! Tapi sayangnya rencana Kris untuk membuat cewek ini enyah justru gagal total karena tangannya keburu ditarik dan Kris yang tidak siap malah terhempas kembali ke kursi dengan buku meluncur jatuh ke lantai.
"Kamu mau kemana? Temenin aku aja disini. Ya? Ya?" Owh, Owh. Sekarang dia lancang pake acara bergelayut manja di lengannya Kris. Dengan muka risih Kris berusaha melepaskan cengkraman cewek itu. Jangan sampai Chanyeol li-
"Lagi berduaan?"
Shit!
"Aku mau ke teknik dulu." Ucap Chanyeol berlagak cool, tapi masih sempet melempar tatapan yang bisa dipake ngiris bawang saking tajamnya. Tuh cewek diliatin gitu malah makin menjadi – jadi gatelnya. Badannya makin ditempel – tempelin ke Kris.
"Yeol… sayang… tunggu!" Kris kalap karena Chanyeol cuek aja ngeloyor pergi gak noleh – noleh lagi.
"Kris!"
Dengan sekali sentak, Kris berhasil melepaskan diri dari cengkraman nenek lampir penunggu lumpur lapindo itu, "Sori Jes, kalo lo mau nyari cowok cuma untuk naekin popularitas lo, tolong sama yang lain aja. Jangan gue. Lo salah orang." Tukas Kris tajam, nyelekit dan pastinya berhasil membungkam cewek menyebalkan itu untuk sementara ini.
Usai berkata begitu, Kris langsung mungut buku dan melenggang pergi dengan tampang tidak berdosa. Ninggalin Jessica yang kini berubah jadi patung mangap yang pantas dipajang di taman safari.
.
.
.
.
"Yeol, yang tadi itu…"
"Gak apa – apa." ucap Chanyeol dengan seringai iklan pasta giginya, "Kris udah biasa diikutin cewek – cewek gak jelas. Paling itu cuma salah satu fansnya yang terlalu kosong."
Sandeul berdecak – decak, "Jessica nuna emang hobi cari sensasi. Udah bagus pacaran sama anaknya Pak dekan kita yang terhormat, ehh… ditinggalin. Gak habis pikir gue."
Chanyeol mengibaskan tangan sok take it easy, "Ya udah gak usah dipikirin lah."
Karena jaraknya Teknik sama Ekonomi yang deket banget, gak makan waktu lama buat mereka nyampe ke gedung tetangga. Jadi jangan heran kalo banyak terjadi cinta lintas fakultas antara Ekonomi dan Teknik. Dua contoh suksesnya adalah Jinyoung dan Sandeul.
Begitu sampai di depan ruangan, Sandeul langsung ngetok pintu. Ruangannya tertutup rapat dan sepi banget. Apa lagi pada pergi ya?
"Kok sepi banget sih? Si Baro kemana lagi?" gumam Sandeul agak jengkel. Udah capek – capek dateng bawa laptop berat – berat, orangnya malah gak ada di ruangan.
"Weits… pada nyari Baro kan?" tanya seorang cowok yang entah nongol darimana. Tiba – tiba muncul di belakang mereka kayak penampakan. Bikin kaget aja!
"Oh, Zico… kirain siapa." Tukas Sandeul sambil ngelus dada, "Baro kemana?"
"Yang gue liat sih tadi dia ke kantin. Barengan ama cewek."
Cewek?! Kedua mata Sandeul membulat dramatis, "Siapa?"
"Kurang tau gue. Tapi yang gue denger – denger sih kayaknya temen SMP nya gitu." Ucap Zico sambil angkat bahu, "Ya udah. Gue cabut dulu ya?"
"Oh, oke." Jawab Sandeul.
Begitu Zico udah menjauh, Chanyeol langsung menjawil bahu Sandeul, "Deul, Deul, tadi katanya Baro lagi ama cewek. Siapa ya kira – kira? Lo tau gak?"
"Tauk! Emang gue paranormal?" ketus Sandeul.
"Jadi… mau lo susulin ke kantin apa enggak nih?" tawar Chanyeol.
Sandeul sebenernya males banget. Tapi secara dia udah jauh – jauh dateng kesini bawa laptop berat – berat sayang aja kalo gak ada hasilnya. Plus dia juga penasaran sama cewek yang dimaksud Zico tadi.
"Ya deh. Yuk!" ajaknya dan langsung narik tangan Chanyeol.
Tapi baru menuruni beberapa anak tangga, mereka melihat Baro dan cewek itu sedang berjalan beriringan menuju ke tangga.
"Itu ceweknya?" tunjuk Chanyeol, "Cantik."
Sandeul mendengus jengkel.
"Hai, sayang!" sapa Baro langsung mempercepat langkahnya menaiki tangga, "Sori tadi aku habis ngobrol sama temen aku. Eh iya kenalin, ini Bomi, temen SMP aku. Bomi, ini Sandeul, pacar aku. Dan ini Chanyeol."
Sret! Bomi menjulurkan tangan kanannya, ngajak salaman maksudnya, "Bomi." Ucapnya dengan senyum manis.
Chanyeol menyalami Bomi dengan suka cita. Sementara Sandeul menyalami Bomi dengan duka cita.
"Bomi ini anak elektro juga, tapi dari Universitas Jeosom. Dan mulai sekarang dia adalah asisten pengganti sementara yang bakal ngebantuin proyek aku."
A…What?
.
.
.
-TBC-
A/N: Maaf lagi - lagi menunggu lama. Jadi buat para Krisyeol shipper, disini saya rangkum secara singkat (?) latarbelakang jadiannya Chanyeol dan Kris. Biar kalian gak pada penasran ^^. Dan kayaknya ceritanya bakal makin complicated (-,-). Tenang aja... perjalanan mereka masih panjang (T.T).
Ya udah. Selamat membaca dan selamat berpuasa bagi yang melaksanakan ^^
