-oOo-
Happy Reading
BAB 6
Flashback
"Nah Sakura, Sasori, mulai sekarang Kushina adalah Ibu baru kalian." Suara Kizashi membuat Sakura dan Sasori menatap wanita itu tanpa arti.
"..."
Sakura yang tengah duduk di samping Sasori dengan sebuah boneka dolpin di pelukannya hanya diam menatap wanita bernama Kushina itu dengan pandangan kosong.
Berbeda dengan Sasori sendiri yang hanya bergumam tak jelas seraya membuang wajahnya dengan wajah datar. Sakura melirik sang Kakak dari ekor matanya, ya Sakura sangat tahu bagaimana perasaan Sasori sekarang—sakit. Tanah tempat penguburan Ibu mereka saja belum kering sepenuhnya, tapi kenapa Kizashi dengan tak berperasaannya justru menikah lagi dengan wanita buaya itu? Setidaknya itulah yang berada di dalam pemikiran gadis berumur sepuluh tahun itu.
Seakan tak peduli dengan sikap Sasori dan Sakura, Kizashi kembali mengenalkan anggota barunya pada mereka. "Ini adalah Karin, mulai sekarang Karin akan menjadi Kakak perempuan untukmu Sakura dan Karin akan menjadi Adik perempuan untukmu Sasori karena umur Karin hanya lebih muda beberapa bulan darimu."
Kembali Sakura mengalihkan pandangannya pada seorang gadis kecil berkacamata dengan helaian serupa dengan Ibunya itu dengan tatapan kosong. Entahlah Sakura tak merasa bahagia sama sekali padahal dulu Sakura sangat ingin memiliki seorang Kakak perempuan.
"..."
Sakura dan Sasori kembali bungkam tanpa niatan untuk menyambut anggota keluarga barunya itu.
"Dan ini adalah Gaara, dia Adik Karin. Sakura ... Gaara hanya beberapa bulan lebih tua darimu, tapi kau harus tetap memanggilnya Nii-san mengerti?" ucap Kizashi seraya menatap putri bungsunya itu lembut.
Sakura menatap anak laki-laki bermanik jade itu sejenak lalu ia kembali menatap sang Ayah. "Maafkan Sakura Ayah, Sakura mau tidur. Selamat malam." Dan tanpa memedulikan semua orang di ruang tamu, Sakura pun pergi dengan perasaan hampa.
.
.
.
.
.
"Ibu Sakura merindukanmu, kenapa Ibu meninggalkanku sendiri? Hikss, Ayah ... dia, dia bahkan sudah tak peduli lagi padaku dan Sasori-nii, Ayah sudah memiliki anak baru Ibu. Hiks, Ayah jahat ..."
"Ayahmu tidak jahat, tapi Ibuku, 'lah yang jahat." Sakura menghentikan isak tangisnya ketika mendengar suara asing di samping tubuhnya yang tengah duduk di taman belakang rumahnya.
Sakura mendongkakan kepalanya dengan mata bengkak dan berair. "Pergi kau dari sini!" teriak Sakura pada bocah berambut merah itu.
Gaara menatap Sakura geli. "Jika kau berteriak aku akan mendorongmu ke kolam itu." Ujar Gaara dengan mimik wajah serius.
Sakura membelalakan kedua matanya. "A-apa?"
Puk!
Gaara mengusap bahu Sakura lembut, lalu bocah itu ikut mendudukan tubuhnya di samping Sakura dan tatapan matanya menerawang jauh ke atas langit malam. "Jangan pernah membenci Ayahmu ya Sakura? Di sini Ibuku, 'lah yang salah. Aku sangat membenci Ibuku yang pergi meninggalkan Ayahku hanya demi menikah dengan Ayahmu." Ujarnya lirih.
Sakura mengusap bekas air mata di kedua pipinya lalu menatap Gaara polos. "Benarkah? Tapi kalau kau membenci Ibumu kenapa kau ikut dengan Ibumu ke sini?" tanya Sakura penasaran.
Gaara menatap kedua manik emerald milik gadis di sampingnya itu sendu. "Ayahku menyuruhku untuk ikut dengan Ibu karena Ayah bilang untuk saat ini dia tidak memiliki banyak uang untuk mengurusku."
Entah mengapa hati Sakura terasa tertohok melihat nasib -Kakak tirinya- itu.
Bruk!
Gaara sedikit membelalakan matanya ketika Sakura tanpa komando memeluk tubuhnya erat.
"Kukira kau adalah laki-laki yang baik. Mulai sekarang apa kau mau menjadi sesosok Kakak yang sesungguhnya untukku setelah Sasori-nii?" tanya Sakura seraya menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Gaara.
Gaara tertegun sejenak, namun sejurus kemudian bocah itu tersenyum tulus dan membalas pelukan Sakura tak kalah erat. "Hm, tentu. Kalau begitu panggil aku Gaara-nii mulai sekarang!" perintah Gaara setengah bercanda.
Sakura langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Gaara intens, lalu sejurus kemudian Sakura menggelengkan kepalanya polos.
"Aku tidak mau memanggilmu Gaara-nii, tapi aku mau—" Gaara menaikan sebelah alisnya ketika mendengar penuturan Sakura.
"Kau mau apa?" tanya Gaara penasaran karena Sakura tak kunjung meneruskan kalimatnya.
Sakura tersenyum kecil dan mengangkat kedua telapak tangannya pada wajah Gaara, lalu—
Gyuuuuuut!
"Agh! Apa yang kaulakukan?" Gaara menjerit kecil ketika Sakura memcubit kedua pipi tembemnya gemas.
"Hahaha wajahmu itu terlalu imut untuk kupanggil Nii-chan. Mulai sekarang aku akan memanggilmu Baozipa-kun!" ujar Sakura semangat dengan kedua tangan mungilnya yang masih setia mencubit pipi tembem Gaara.
"Baozipa-kun?" gumam Gaara bingung.
Sakura mengangguk mantap. "Iya Baozipa-kun! Karena kedua pipimu bundar seperti bakpao dan kedua kelopak matamu yang hitam seperti panda jadi aku akan memanggilmu Baozipa-kun. Baozi yang berarti bakpao, Pa singkatan dari Panda dan suffix-kun karena kau hanya beberapa bulan lebih tua dariku." Jelas Sakura panjang lebar seraya melepaskan cubitannya dari pipi Gaara.
Gaara mengusap kedua pipinya yang memerah serta kedua matanya yang sedikit berair. "Hm, terserah kau saja Rara-chan!" Sahut Gaara tak acuh.
Sakura yang tengah memandang kolam di depannya itu lantas menoleh pada Gaata dengan wajah bingung. "Rara-chan?"
Gaara tersenyum tipis lalu mengusap kepala Sakura lembut. "Itu panggilan kesayanganku untukmu Rara-chan."
Sakura tersenyum lebar seraya kembali memeluk Gaara erat. "Aku suka nama itu. Terima kasih Baozipa-kun!"
Flashback off
.
.
.
.
.
.
"Baiklah pelajaran cukup sampai di sini. Dan saya ada sedikit pengumuman, khusus kelas ini saya Kurenai Yuuhi selaku wali kelas kalian ingin mengumumkan; berhubung bulan depan kalian akan menjalani ujian kelulusan, dan nilai kalian enam bulan terakhir ini sungguh memuaskan saya, maka saya ingin kalian membuat sesuatu kenangan untuk kalian sendiri. Singkatnya saya akan memberikan kalian liburan dua minggu di beberapa tempat yang sudah saya tentukan." Ucap seorang wanita paruh baya berambut hitam bergelombang dan beriris mata merah menyala itu seraya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas.
Para siswa kelas XII-9 itu langsung berbinar-binar mendengar penuturan wali kelasnya itu, kecuali empat orang laki-laki yang duduk di belakang dengan jarak berjauhan itu hanya diam memandang wali kelasnya datar tanpa minat.
Seorang siswa ber-name tag Inazuka Kiba mengangkat sebelah tangannya. "Ne, Kurenai-sensei ... apa ada yang harus kami dapat dari hasil liburan itu?"
Kurenai tersenyum tipis lalu menjentikan jarinya, "jenius! Ya, saya ingin kalian membawa rekaman dekumenter tentang tempat yang akan kalian jadikan sebagai liburan nanti. Hasil rekaman dekumenter itu sesungguhnya bukan sesuatu yang akan saya nilai, saya hanya ingin memiliki kenangan dari kalian." Sahut Kurenai seraya tersenyum lembut kepada seluruh muridnya itu.
Para murid berotak jenius di kelas itu hanya mengangguk mengerti seraya membalas senyum guru mereka. "Arigatou Kurenai-sensei!" ucap mereka serempak.
Kurenai mengangguk lalu berdiri dari kursinya dan dengan santai guru wanita itu duduk menyandar di mejanya seraya bersedekap dada. "Baiklah, saya akan membagi lima kelompok yang terdiri dari empat orang. Kelompok pertama; Kaguya Kimimaro, Sakon, Yakushi Kabuto dan Tayuya. Kelompok kedua; Temari, Nara Shikamaru, Shion Miko dan Shimura Sai. Kelompok ketiga; Sara, Uzumaki Naruto, Otsutsuki Toneri dan Kankouro. Dan kelompok terakhir adalah; Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji, Nohara Nagato dan Haruno Sasori."
DEG!
Mendengar hal itu sontak saja keempat pemuda itu saling berpandangan dengan tatapan datar dan dingin.
Kurenai berjalan perlahan ke ujung kelas sebelah kiri, lalu kedua tangannya menyentuh bahu Sasuke dan Nagato yang duduk berseberangan dengan Kurenai sebagai pembatasnya itu. "Dan kalian boleh mengajak masing-masing satu Adik kelas kalian untuk membantu. Jadi satu kelompok terdapat 8 orang."
Para murid kelas jenius itu bersorak riang ketika mendengar penuturan wali kelasnya, sedangkan keempat pemuda lainnya kini mulai menatap wali kelasnya itu penuh arti.
Kurenai melangkahkan kakinya menuju ujung kelas sebelah kanan dan kembali Kurenai menyentuh kedua bahu anak muridnya yang tak lain dan tak bukan adalah bahu Hyuuga Neji dan Haruno Sasori. "Untuk tempatnya kalian boleh memilih antara; Villa milik keluarga saya di Konoha, Villa milik keluarga guru Kakashi di Suna, Villa milik keluarga guru Minato di Kiri, dan terakhir adalah ... Villa milik keluarga kepala Sekolah Orochimaru di daerah hutan belantara perbatasan Oto."
"Err, sensei? Bukankah daerah Villa milik Orochimaru-sensei terlalu berbahaya?" tanya Naruto sedikit merinding.
Kurenai menyeringai tipis. "Tak akan berbahaya jika di antara kalian memilih tempat itu untuk menguji adernalin. Ya, itu pun jika masih ada yang memiliki keberanian tinggi untuk memilih tempat itu." Jawab Kurenai dengan kilatan aneh di kedua manik matanya.
Naruto yang notabenenya pemuda paling suka tantangan itu langsung tersenyum lebar. "Wahhh! Baiklah kalau begitu yang akan memilih tempat itu adalah—"
"Hn, kami akan mengambil tempat itu Kurenai-sensei." Ucapan Naruto terpotong oleh suara dingin nan datar yang keluar dari mulut pemuda raven yang kini tengah menatap Kurenai penuh arti.
Semua murid di sana memandang Sasuke tak percaya, sedangkan Neji, Nagato dan Sasori ikut menatap Gurunya itu penuh arti. Untuk saat ini sepertinya empat pemuda itu kompak dalam memilih tempat untuk melaksanakan 'tugas' mereka.
Kurenai menatap keempat muridnya itu datar. "Baiklah, saya akan berikan Villa itu pada kelompok Sasuke, selebihnya kalian bisa memilih tempat yang tersisa." Ujar Kurenai pada 12 murid lainnya seraya kembali berdiri di depan kelas. Ya di kelas ini hanya terdapat 16 murid karena kelas ini adalah kelas istimewa.
Brak!
Naruto menatap Gurunya itu nyalang. "YA! BAGAIMANA BISA SEPERTI ITU? AKU YANG AKAN MEMILIH TEMPAT ITU, DATTEBAYO!" Teriak Naruto tak terima.
Kurenai menatap putra dari Uzumaki Minato itu datar. "Tidak bisa Uzumaki-san!" ucapnya tegas, "baiklah hanya itu yang saya umumkan, kalian boleh pulang sekarang." Ujar Kurenai dingin.
Para murid menatap Kurenai horror, "Ha-ha'i, Kurenai-sensei." Jawab para murid serempak, guru bernama Kurenai itupun tersenyum dingin lalu pergi meninggalkan kelas yang mulai gaduh.
Para murid lain langsung membereskan buku-buku mereka dan mulai berjalan keluar meninggalkan kelas, tapi tidak untuk empat pemuda yang masih betah duduk di kursi mereka masing-masing.
Hyuuga Neji duduk di pojok kelas barisan pertama seraya menatap pintu kelas yang terbuka lebar dengan tatapan kosong.
Haruno Sasori duduk di belakang kelas barisan kedua dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya itu menatap papan tulis di depan sana dengan tatapan datar.
Nohara Nagato duduk di belakang kelas barisan ketiga itu bersedekap dada seraya menatap lantai kelas dengan tatapan tajam.
Uchiha Sasuke duduk di pojok kelas tepat di sisi jendela itu tengah menatap keluar jendela dengan tatapan dingin seraya bertopang dagu.
Hening ...
Entah apa yang berada dalam pikiran keempat pemuda itu, namun melihat kerutan semar di kedua alis para pemuda itu cukup membuktikan bahwa mereka tengah memikirkan suatu 'hal' yang serius.
.
.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu Sakura?" tanya Gaara seraya menatap gadis yang tengah duduk di ayunan taman itu lembut.
Sakura menoleh ke samping dan menatap Gaara datar. "Kabarku baik." Lalu Sakura kembali menatap ke depan.
Gaara menghembuskan napas panjang, lalu pria itu kembali mendorong ayunan Sakura pelan.
Krek, krek, krek!
Suara besi saling beradu serta angin sore yang berhembus itu membuat suasana sore hari di taman dekat komplek perumahan milik Sakura tersebut terasa sangat damai.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Gaara memecah keheningan di antara mereka.
Sakura menatap langit senja dengan puluhan burung berterbangan bebas itu dengan tatapan kosong. "Menurutmu?"
Gaara kembali mendorong ayunan itu dan tersenyum getir. "Maaf, aku tahu kau sangat marah padaku. Tapi, bukankah wajar jika aku meninggalkanmu dan lebih memilih ikut dengan Ayahku?"
Sreeek!
Sakura menghentikan ayunan itu dengan paksa, lalu menatap Gaara penuh amarah. "Kau! Kau meninggalkanku ketika aku koma karena kecelakaan itu! Kau jahat! Apa kau lupa siapa yang membuatku koma? Dan dengan brengseknya kau pergi meninggalkanku ketika aku tak sadarkan diri! Apa yang salah padamu? Kau membenciku hah?!" teriak Sakura penuh amarah.
Gaara mengacak rambutnya frustasi, lalu menatap Sakura gusar. "Sakura dengar," pemuda itu berjongkok di depan Sakura dan meremas bahu rapuh Sakura lembut. "Sebenarnya—"
Sret!
Sakura menepis kedua tangan Gaara, lalu gadis itu berdiri dan menatap pemuda itu nanar. "Aku sudah tahu semuanya Gaara. Aku tahu kau dendam pada keluargaku karena Ayahku telah membuat Ibumu pergi meninggalkan Ayahmu, tapi haruskan kau menyakitiku separah itu?" tanya Sakura lirih.
Gaara beranjak berdiri dan mencoba merengkuh tubuh Adik tirinya itu, namun dengan tegas Sakura menepis tangan Gaara.
"Sakura kau salah! Aku—"
Sakura mengangkat tangannya dan menatap Gaara kecewa. "Cukup! Cukup ... Gaara. Aku tahu kau yang mendorongku ke jalan waktu itu hingga aku tertabrak dan koma selama tujuh bulan." Sakura mengigit bibir bawahnya kuat. "Semenjak kau pergi meninggalkanku dulu, aku sudah memutuskan untuk tidak menganggapmu sebagai seseorang yang begitu berarti bagiku lagi. Setidaknya kini aku tahu bahwa semua kebaikanmu dulu hanya sandiwara—kebohongan. Mulai detik ini jangan pernah menyapaku lagi. Selamat tinggal." Lalu dengan cepat Sakura berlari menuju rumahnya dan mengabaikan Kakak tirinya yang berteriak memanggilnya itu.
"SAKURA TUNGGU! KAU SALAH PAHAM! Arggggh! Kuso!" Gaara menatap punggung Sakura dengan tatapan tajam dan frustasi. "SIAL!"
.
.
.
.
.
Sudah dua hari Sakura mengurung diri di kamarnya. Tidak Sekolah, tidak les, tidak makan, tidak mandi. Gadis itu tak melakukan apapun dan sepertinya tak ada yang peduli padanya termasuk kedua orang tuanya dan Sasori yang tidak menjenguk keadaan Sakura yang kacau di kamarnya.
Sakura tak memedulikannya, lagipula ia tahu bahwa kedua orang tuanya sibuk dan Sasori masih berperang dingin dengannya setelah insiden itu. Ino sendiri ... entahlah. Sakura bahkan tak tahu kemana sahabatnya itu ketika ia sangat membutuhkannya seperti ini. Hm, mungkin Ino sibuk dengan Kekasihnya: Uchiha Sasuke.
Sakura menatap jendela kamarnya kosong. Bohong jika dirinya sudah tak peduli lagi pada Kakak tirinya itu: Sabaku Gaara. Sesungguhnya Sakura sangat menyayangi Gaara layaknya ia menyayangi Sasori, tapi kenyataan pahit yang terjadi beberapa tahun silam membuatnya hancur.
Gaara yang berpura-pura baik padanya, dan Gaara yang mendorongnya hingga kecelakaan itu terjadi. Semua kenangan manis-pahit itu terus terngiang di benaknya dan mebuatnya kacau.
Drrrt, drrrt, drrrt!
Deringan ponsel membuyarkan renungan Sakura. Gadis itu melirik ponselnya yang bergetar di atas nakas itu tanpa minat, Sakura pun mengabaikannya.
Drrrt, drrrt, drrrt!
Namun karena deringan itu semakin terdengar nyaring dan membuat Sakura terganggu, akhirnya gadis itu dengan lemah mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini.
Klik!
"Hallo?" ujar Sakura lemah dan serak.
'Hn, Haruno Sakura?' suara berat di seberang sana membuat Sakura mengerenyitkan dahinya bingung.
"Ya, saya sendiri. Siapa?"
'Uchiha Sasuke.'
DEG!
Sakura membelalakkan kedua matanya, lalu dengan cepat Sakura melihat layar ponselnya yang terdapat nomor asing di sana.
Sakura menghela napas panjang, lalu ia kembali menempelkan ponselnya ke telinganya. "Aa, Uchiha-senpai? A-ada apa malam-malam seperti ini menghubungiku? Ada yang bisa kubantu?" tanya Sakura dengan suara seraknya.
'Hn, kau sakit?' tanya Sasuke di seberang sana sedikit err ... khawatir ketika mendengar suara Sakura.
Sakura berdehem pelan, lalu menggeleng lemah. "Tidak, aku tidak sakit. Jadi apa yang bisa kubantu?" tanya Sakura seraya mencoba mengabaikan gelenyar aneh di dadanya ketika pemuda Uchiha itu terdengar mengkhawatirkannya.
PLAK!
Sadarlah Sakura! Kau bukan siapa-siapa! Dan ingat Sasuke itu Kekasih sahabatmu. Inner Sakura berteriak marah seraya menampar dirinya sendiri. Oke, lupakan.
'Hn, besok aku ingin kau ikut Touring bersamaku sebagai partnerku.' Pinta Sasuke telak, pinta? Tidak. Lebih tepatnya perintah yang tak bisa dibantah.
Sakura termenung. Ia sudah tahu tentang kegiatan Touring kelas special itu karena kemarin malam Sakura tak sengaja melihat Sasori yang tengah menelepon Ino untuk menjadi junior partner-nya.
Sakura sedikit bingung, kenapa Sasori meminta Ino bukan dirinya? Ah, Sakura menggigit bibirnya ketika mengingat hubungan ia dan Sasori sedang tidak baik.
Sakura berpikir mungkin karena Ino terlebih dahulu menyetujui permintaan Sasori, maka Sasuke tak ada pilihan yang lain selain memilih Sakura karena Sakura tahu Sasuke tak pernah berbicara dengan adik kelasnya selain Ino dan dirinya.
Setelah berpikir sedikit akhirnya Sakura mengangguk walau tahu Sasuke tak mungkin melihatnya. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
'Hn, bagus. Sekarang tidurlah, selamat malam Sakura.'
Klik!
Sambungan terputus meninggalkan nada "tuut" beberapa kali, dan meninggalkan Sakura yang tengah mematung dengan dada berdebar kencang.
"Apa Uchiha-senpai baru saja memanggil nama kecilku?" gumam Sakura takjub.
Sakura mencubit pahanya sendiri, lalu menggelengkan kepalanya kencang. "Tidak! Ingat Sakura! Uchiha-senpai adalah Kekasih sahabatmu! Dan yang kausukai adalah Hyuuga-senpai! Ingat itu!" gumam Sakura mencoba menyadarkan dirinya yang memikirkan hal yang iya-iya tentang Kakak kelasnya yang misterius itu.
Tak!
Sakura meletakkan ponselnya di nakas, dan mulai membaringkan tubuhnya di ranjang. "Ngomong-ngomong ... Uchiha-senpai tahu nomor ponselku dari mana?" gumam Sakura di sela uapan mulutnya yang mulai merasakan kantuk.
Sakura menyelimuti dirinya dan mulai menutup matanya, lalu bergumam pelan sebelum berlayar di dunia neverland-nya.
"Mungkin Uchiha-senpai tahu nomorku dari Ino..."
.
-oOo-
