Title : My Stepmother
Author : Minki Elfishy
Main Cast :
Lee Donghae
Kim Heechul
Choi Siwon
Kim Kibum
Tan Hankyung
Ft .another kpop icons
Main Pair : SiHae
Genre : Romance, Family, Yaoi, BL, Hurt, Sad
Rated : T
Summary : Lee Donghae, seorang remaja pria yang kini dilanda rasa sedih dan keputus asaan karena kehilangan sang Ibu, harus menerima berbagai perubahan dalam hidupnya saat ia harus menerima kehadiran ibu tiri dalam hidupnya.
On Previously chapter,
"Ibumu sudah mati! Dan dia tidak ada lagi disini! Apa kau paham!"
Donghae terdiam seketika saat tamparan itu mengenai wajahnya. Pandangannya kini jatuh kepada seseorang di depan pintu gerbang. Ekspresi wajahnya menjadi datar...
Siwon yang melihat itu hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Flashback on,
"Hae sayang kalau sudah besar mau jadi apa?"Tanya Leeteuk sambil memangku anak sematawayangnya itu.
"Kalo Hae suda besal, Hae mau jadi Pilot."jawab Donghae membanggakan.
Leeteuk yang mendengar jawaban anaknya pun tersenyum lebar. Ia sungguh kagum akan cita-cita anaknya itu. Bagaimana tidak? Dari keluarganya saja tidak ada satupun yang berprofesi sebagai pilot. Ditambah lagi Hankyung; ayah Donghae itu juga adalah seorang pengusaha. Karena bingung dan penasaran akan cita-cita anaknya itu, Leeteuk kembali bertanya,
"Sebenarnya Hae mau jadi pilot karena apa? Apa teman Hae di sekolah juga cita-citanya jadi pilot?"
Donghae spontan menggelengkan kepalanya lucu dan kemudian berbalik menatap sang eomma,
"Ani eomma.. Teman Hae maunya jadi penyanyi dan gulu."jawabnya serius.
"Lalu? Kenapa Hae mau jadi pilot?"Tanya Leeteuk lagi.
Dengan senyuman hangatnya yang mulai mengembang sekarang, Donghae dengan bersemangatnya menjawab pertanyaan dari eomma-nya itu,
"Itu semua kalena, Hae ingin membawa Eomma dan Appa telbang jauh ke tempat yang indah. Hae mau kita selalu belsama."
Leeteuk yang mendengar ucapan polos anaknya itu tersenyum cerah dan mencium pucuk kepala anaknya itu berulang-ulang.
Ia dengan perasaan yang kini sulit untuk digambarkan; memeluk erat anak kesayangannya itu.
Ia masih saja terus mengoceh dan membiarkan eomma-nya itu hanya menjadi seorang pendengar setia.
Tiba-tiba, muncul seseorang dari balik pintu dan menghentikkan ocehannya. Ia menoleh guna melihat seseorang yang kini berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum tulus kepada keduanya.
"Appa…"teriak Donghae histeris sambil berlari dan melompat kedalam pelukan hangat seseorang yang ternyata adalah Hankyung.
Hankyung yang mendengar itu semakin tersenyum lebar sambil mengangkat tubuh kecil anaknya itu dan mulai menggendongnya.
"Aigoo… Anak appa ternyata berat juga ya, seperti appa sedang memikul sekarung beras.."ujar Hankyung dengan nada menggoda.
"Ye? Apa Hae sebelat itu?"Tanyanya dengan nada bingung. Dalam pikirannya kini, mana mungkin dengan tubuhnya yang kecil seperti itu, beratnya bisa menyamai sekarung beras.
Hankyung dan Leeteuk yang mendengar itu hanya terkekeh pelan. Tanpa mereka sadari, kekehan mereka itu ternyata didengar oleh Donghae. Donghae pun menoleh bingung… Lalu, seketika keduanya tertawa dan hanya menyisakan Donghae yang bingung akan apa yang ia lihat sekarang. Karena tak ingin memikirkannya lebih lama, Donghae pun juga ikut tertawa tanpa tahu apa yang harus ia tertawakan."
Flashback Off….
Kenangan indah itu seketika terlintas seketika dalam benak Donghae.. Ia tersenyum ditemani dengan air matanya yang masih setia mengalir di pipinya itu. Ia masih saja menangis dalam diam, rasa perih karena tamparan keras tadi sungguh membuat ia sakit dan teramat sakit.
Bagaimana mungkin seseorang yang baru beberapa hari menginjak rumahnya itu telah berani bertindak seperti itu? Sungguh sebuah ironi yang membuatnya kini tak henti-hentinya menangis. Masa-masa indah bersama sang eomma yang sangat ia cintai itu kini berlalu dengan begitu banyak masa suram yang harus ia hadapi kedepannya.
Belum sampai seminggu kehadiran 2 orang yang kini sangat ia benci itu begitu teramat menyakitkan. Bagaimana bila sebulan? Atau 1 tahun? Dan bahkan selamanya? Apa ia akan terus menderita seperti sekarang ini. Ia menangis sambil merangkul erat sebuah frame berisikan gambar dirinya bersama sang eomma dan appa-nya. Air matanya terus saja mengalir membasahi celana pendek yang ia pakai sekarang. Tanpa ia sadari seorang pelayan kini sedang menatap miris kondisinya dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Pelayan itu ternyata adalah Suhae yang tanpa diketahui juga menyaksikan peristiwa beberapa waktu yang lalu.
"Tuan muda… neo gwaenchana..? Sebelumnya, aku belum pernah melihatmu menangis sepilu ini."ujar Suhae pelan sambil kembali menutup rapat pintu kamar Donghae.
.
.
.
.
"Shireo! Kau bukan ibuku. Ibuku hanyalah, Eomma Teukie seorang."
Plakkk...!
"Ibumu sudah mati! Dan dia tidak ada lagi disini! Apa kau paham!"
Kata-kata itu seakan terus terlintas dalam pikiran Siwon sekarang. Ia baru pertama kali menyaksikan orang yang sangat ia cintai itu diperlakukan dengan tindakan yang begitu kasar.
"Dia….? Siapa dia? Kenapa ia melakukan itu?"Siwon membatin.
Siwon masih saja terbayang akan peristiwa itu, ia bahkan tak menyadari sosok yang kini telah berdiri dibelakangnya sekarang. Sosok itu tampak sedikit kebingungan akan tingkah laku sang kakak di depannya sekarang.
"Hyung…"ujar Henry pelan tapi ia juga bahkan tak mendapatkan respon.
Henry yang melihat Siwon pun menjadi tambah bingung, apa yang sebenarnya tengah ia pikirkan? Apa ia setuli itu? Tentu saja tidak, karena Siwon masih bergelut dengan pikirannya tadi.
"Apa aku menelponnya saja untuk mengetahui keadaannya sekarang? Tapi…? Aku kan tak punya nomor telponnya? Lalu bagaimana ini?"Siwon menggerutu kecil.
Henry yang samar mendengar ucapan Siwon itu menjadi semakin bingung akan tingkah laku hyung-nya saat ini. Ia memijat sekilas dahinya dan kembali menatap pundak Siwon.
"Aigoo… Dia itu kenapa?"ucap Henry sambil berbalik untuk keluar dari kamar Siwon.
"Henry? Mungkin saja ia punya nomornya Donghae?"Siwon membatin sambil bergegas bangun dari kursinya. Ia berbalik dan hendak menuju kamar Henry, tapi ternyata sosok yang ia cari itu sekarang sudah mendekati pintu kamarnya dan hendak berjalan keluar.
"Henry-ah.."Siwon berucap
Henry yang mendengar panggilan itupun berbalik dan mendengus kesal,
"Ciihhh..! Kenapa baru sekarang dia memanggilku?"batin Henry kesal.
Siwon pun berjalan mendekati Henry dan mulai meletakkan kedua tangannya di bahu Henry,
"Henry-ah… Apa kau punya nomor telpon Donghae?"
.
.
.
.
Tangisannya kini sudah mulai berangsur reda. Hanya isakkan kecil yang masih sedikit terdengar dari bibirnya yang kini mulai memucat. Air matanya kini berganti dengan butiran keringat halus yang entah sejak kapan sudah mulai membasahi wajahnya. Tubuhnya menggigil dan isakkan yang terdengar pun sedikit bergetar.
Ia rangkul erat kedua lututnya dan membenamkan kepalanya. Matanya mulai tertutup, sepertinya ia kelelahan karena sudah seharian ia menangis.
Disisi lain, Siwon yang belum mendapat nomor telpon dari Donghae terlihat semakin gusar. Usahanya untuk menghubungi Donghae ternyata harus ia urungkan dulu saat ini. Henry saja tidak memiliki nomor telpon Donghae.. Ia jadi semakin bingung harus memintanya kepada siapa lagi.
Berbeda dengan Siwon, Heechul kini dilanda rasa bersalah atas kelakuannya tadi pagi. Ia terlalu dikuasai akan emosinya waktu itu. Sedangkan Ryeowook yang kini berada disampingnya asyik menonton acara reality show. Ia seolah tak peduli akan raut kekhawatiran yang ada pada ibunya sekarang.
"A..ani.. apa aku terlalu berlebihan tadi? Apa? Oh.. Maldo andweyo.. Seharusnya aku tidak menamparnya. Bagaimana bila nanti ia mengadukan hal itu kepada ayahnya? Tidak! Itu tak boleh terjadi.."batin Heechul berkecamuk.
Heechul yang kini dilanda rasa bersalah atas perlakuannya kepada Donghae tadi pun bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga.
"Eomma… Mau kemana?"Tanya Ryeowook yang ternyata menyadari kepergian eomma-nya.
Heechul yang mendengar itupun menghentikkan langkahnya dan berbalik untuk menjawab pertanyaaan anaknya itu,
"Aniya…Cuma mau melihat lebih lagi keadaan rumah ini."jawab Heechul singkat.
Ryeowook yang mendapat jawaban itu hanya mengangguk tanda mengerti dan kembali focus akan acara yang sedang ia tonton sekarang.
"Hyung.. sudah malam begini kamu hendak kemana?"Tanya Henry saat melihat sang kakak sudah rapi memakai jaket tebal dan topi sembari menutup pintu kamarnya.
"Ne Siwon-ah… Kamu sebenarnya mau kemana sayang?"Tanya Sang ibu yang ternyata adalah Jaejoong.
"Aku ada keperluan sebentar saja diluar.. Tidak akan lama.."sambung Siwon menjelaskan.
"Tapi ini sudah hampir larut sayang.."ujar Jaejoong khawatir.
"Gwaenchana eomma.. Aku akan baik-baik saja.. Neo geogjeong eun-hajima."Siwon berucap santai sambil memeluk ibunya.
Heechul yang tadinya menaiki tangga kini sudah tiba dilantai 2 rumah itu. Ia sepertinya ingin memastikan sesuatu. Benar saja, ia kini berjalan menghampiri pintu kamar Donghae. Sedikit keraguan tersirat dalam dirinya, ia pegang gagang pintu kamar itu perlahan; tapi sejenak ia melepasnya lagi.
Ia masih saja diselimuti keraguan untuk membuka pintu kamar itu. Tapi, ia kembali memutuskan untuk membukanya, hanya sekedar untuk memastikan keadaan seseorang di dalam sana.
Pintu kamar itu pun sedikit terbuka dan matanya menyelinap mencuri pandang dalam ruangan yang sebenarnya sudah ia lihat sebelumnya.
Tatapannya jatuh pada sosok pemilik kamar yang tengah membenamkan kepalanya dalam posisi yang mungkin sudah author jelaskan sebelumnya.
Tidak ada sedikit pergerakan dari sosok itu, dan hal itu makin membuat Heechul penasaran. Karena ingin segera melunaskan rasa penasarannya itu, Heechul pun berjalan ke dalam kamar itu dan mulai mendekati sosok yang masih berada dalam posisi yang sama diatas tempat tidur berseprai nemo.
Ragu-ragu Heechul duduk disamping ranjang itu; ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh kecil itu; tubuh Donghae. Tapi…..
Donghae langsung saja ambruk.. Heechul yang melihat itu langsung membulatkan matanya seketika.
Segera ia pegang tubuh Donghae, dan ia terkejut saat merasakan hawa panas dari tubuh itu kini sudah merambat ke jari-jari tangannya.
.
.
.
.
Siwon keluar dari rumahnya dengan mengendarai mobil pribadinya. Ia semakin khawatir sekarang, ia seperti merasakan ada sesuatu yang kini tengah terjadi pada Donghae.
Ia injak pedal gas mobilnya itu dan mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan tinggi. Ia seakan tak peduli akan makian dan omelan dari mobil dan kendaraan lain yang sudah ia lewati sebelumnya.
Dalam pikirannya kini hanya satu,
"Donghae.."
Dilain sisi, Heechul kini tengah panik dan mulai mengangkat tubuh Donghae. Ia berniat ingin membawa tubuh lemah itu ke rumah sakit sekarang. Dengan sekuat tenaga, ia gendong Donghae dan mulai menuruni tangga menuju lantai paling bawah. Ryeowook yang tengah asyik menonton terkejut saat melihat sang ibu berlari keluar menuju pintu rumah.
Ia bangkit dan berlari menuju sang eomma yang kini berusaha membuka pintu rumah. Sulit baginya untuk membukakan pintu itu kalau ia sedang dalam keadaan menggendong Donghae.
Tiba-tiba saja, Ryeowook kini sudah berada disampingnya dan bertanya,
"Eomma.. Mwohaneungeoya?"Tanya Ryeowook sambil melihat Donghae yang berada dalam gendongan sang ibu.
Bukannya menjawab pertanyaan sang anak, ia malah berkata lain,
"Ryeowook-ah… Ppa..ppali wa.. Buka pintu ini sekarang.. Kita harus mengantarnya ke rumah sakit sekarang."ujar Heechul dengan napas yang masih terengah-engah.
"Mworago? Ckckck.. Apa eomma gila? Buat apa kita bersusah payah membawanya ke rumah sakit. Cukup biarkan ia mati disini dalam keadaan seperti itu. Bukankah ini akan mempermudah kita untuk menyingkirkan ayahnya seperti rencana awal kita?"sambung Ryeowook acuh.
Heechul yang mendengar ucapan Ryeowook menjadi terkejut seketika, bukannya ia sudah melupakan rencana mereka sebelumnya. Tapi ini bisa menimbulkan kecurigaan bila ia tak bertindak apapun sekarang.
Tanpa menghiraukan perkataan Ryeowook lagi, Heechul kembali memegang gagang pintu dan hendak membukanya. Tapi Ryeowook dengan cepatnya menarik kembali pintu tersebut.
"Micchin neoiyya?"Heechul melotot kearah Ryeowook.
"Aku tidak akan membiarkan eomma membawanya.. Aku sangat membencinya eomma. Jadi biarkan saja ia lenyap sekarang juga."balas Ryeowook telak.
"Haaah…. Singkirkan tanganmu itu sekarang!"bentak Heechul.
"Shireo! Naega shireotta mariya!"Ryewook bersikukuh menahan pergerakan eomma-nya.
Tapi apa yang ia lakukan tidak dapat membuat ia menahan eomma-nya dalam waktu lama. Heechul dengan kalap mata mendorong Ryeowook ke belakang. Ryeowook pun terjatuh dalam satu dorongan; dan saat itulah Heechul membuka pintu rumah dan berlari keluar sambil mengunci pintu rumah itu.
Ryeowook bangun dan berlari menuju pintu, tapi na'as pintu itu telah terkunci dari luar. Ia menggeram kesal dan berlari menuju pintu belakang.
.
.
.
.
Siwon kini sudah tiba di depan gerbang rumah Donghae.. Ia hentikan mobilnya dan keluar menuju gerbang. Matanya menangkap sosok yang ia lihat sebelumnya tengah menggendong seseorang dan berlari menuju gerbang tempat ia berdiri.
"Wae geureuh ahjumma?"Tanya Siwon khawatir saat Heechul membuka gerbang itu.
"yaah… Ppali wa… Cepat antarkan kami ke rumah sakit sekarang!"jawab Heechul keras.
"Ada apa ini ahjumma?"Tanya Siwon yang masih belum menyadari sosok Donghae dalam gendongan itu.
Tanpa menjawab lagi pertanyaan Siwon, Heechul lalu mengisyaratkan Siwon untuk menggendong orang dalam pelukannya itu. Siwon tanpa ragu menggendongnya dan betapa terkejutnya ia saat sosok itu adalah Donghae.
"Cepat antarkan dia ke rumah sakit sekarang. Dia sedang sakit dan butuh perawatan."ucap Heecul sambil membukakan pintu mobil Siwon.
Siwon mengangguk mantap dan berjalan masuk ke dalam mobilnya dan meletakkan Donghae disampingnya.
Dengan segera, ia men-starter mobilnya dan melaju meninggalkan Heechul yang masih berusaha mengatur napasnya.
Ternyata, Ryeowook dari kejauhan sudah melihat hal itu. Ia pun segera mengendarai mobilnya untuk keluar gerbang. Heechul yang menyadari hal itu berteriak menyuruh Ryeowook untuk berhenti. Tapi Ryeowook tak mempedulikan hal itu.
Ia melesat cepat untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Siwon.
Tak berselang lama, Mobil Siwon kini berhenti di depan sebuah Rumah Sakit (Samsung Medical Centre).
Ia bergegas menggendong Donghae dan berlari memasuki pintu rumah sakit itu. Ryeowook juga kini telah tiba di rumah sakit yang sama. Dengan emosi yang membara, ia keluar dan menutup keras pintu mobilnya. Di tempat lain, Siwon kini sudah bertemu dengan para perawat dan mereka bergegas menangani Donghae. Ryeowook terus membuntuti Siwon dari belakang.
30 Menit kemudian,
Siwon masih saja mondar-mandir di depan sebuah ruangan "ICCU". Ia dengan setianya menunggu dokter untuk keluar dan memberitahu kepadanya akan keadaan Donghae.
Pintu pun terbuka dan seorang dokter bersama suster keluar dari ruangan itu.
"Uisa-sangsingim.. Eottokhe? Apa dia baik-baik saja?"Tanya Siwon dengan nada khawatir.
"Ne.. Dia baik-baik saja. Dia hanya mengalami demam.. Tapi ini bukanlah demam biasa. Panasnya tadi lumayan tinggi. Tapi sekarang suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Saya juga telah memberinya obat penenang.. Ia mungkin akan tertidur dalam beberapa jam kedepan."jelas sang Dokter.
"Oh… syukurlah.."balas Siwon lega.
"Apa anda keluarganya?"Tanya dokter lagi.
"Ne…"sambung Siwon mantap.
"Baiklah.. Kamu sekarang ikut ke ruangan saya. Saya akan memberikan resep obat yang perlu kamu tebus nanti."ajak dokter itu sambil berjalan bersama Siwon yang mengikutinya dari belakang.
.
.
.
.
Ternyata Ryeowook juga sedari tadi menguping pembicaraan Siwon dan dokter yang menangani Donghae.
Sebuah senyuman iblis terukir jelas di wajahnya saat ia melihat Siwon berlalu bersama dokter itu.
"Ini momen yang tepat.. Aku tak boleh menyia-nyiakannya."pungkas Ryeowook dalam hati.
Ia pun berjalan menuju ruangan dimana Donghae tadi di rawat. Ia menoleh kesana kemari untuk memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya.
Setelah merasa cukup aman, ia pun masuk dan mulai berjalan perlahan menuju tempat dimana Donghae terbaring sekarang.
Senyuman iblis makin tergambar jelas di wajahnya saat ia mendapati Donghae yang tengah tertidur.
"Hari ini.. Malam ini… Akan kupastikan ini menjadi malam terakhirmu untuk melihat dunia ini."ujarnya sambil mengeluarkan pisau sebuah botol cairan dari kantong jaketnya.
Setelah mendapat resep dari dokter, Siwon pun berjalan keluar ruangan dokter itu dan hendak menuju apotek dekat rumah sakit itu. Tapi, ia urungkan niatnya… Ia sepertinya masih ingin melihat keadaan Donghae secara langsung sekarang.
Ryeowook memasukkan cairan itu ke dalam suntikkan dan ia tersenyum lagi.
Sebelum melakukan tujuannya, ia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Donghae.
"Tidur yang nyenyak ya Donghae-ssi.."
Ia pun mulai mendekati botol infuse yang tergantung di samping Donghae.
Siwon yang sudah memutari beberapa blok kini sudah tiba lagi di depan ruangan Donghae di rawat.
Tangannya mulai memegang gagang pintu itu dan…
To be continued
Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Ryeowook?
Lalu?
Bagaimana dengan Siwon sekarang?
Akankah ia berhasil menggagalkan rencana Ryeowook itu?
Next Chap!
Thanks buat lovely readers yang udah ngereview di chapter sebelumnya..
Semoga semakin suka akan kelanjutan cerita ini..
Annyeong!
Sampai Jumpa lagi
