"Ke..Kenapa kau lakukan semua ini?" tanya Boboiboy marah. Tubuhnya masih menempel dengan batu-batuan panas. Matanya panas, menahan tangisan.

"Maaf. Aku…aku berada dibawah perintah, Boboiboy," jawab Fang. Tubuhnya merendah, menahan diri untuk menyentuh sang kekasih.

"Tidak perlu minta maaf, Fang," ujar Shielda dari belakang.

Boboiboy menatap Sai dan Shielda yang berada diatas. "Dimana Gopal?"

Sai mendengus. "Tuh."

Manik madu membelalak melihat teman-temannya tergeletak tak berdaya di mulut gunung berapi. Menahan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya.

Tubuhnya yang sakit akibat tamparan tangan bayang Fang karena tidak mendengar nasihat Fang tadi ia usahakan agar bisa bangkit. Hasilnya nihil. Ia menangis, menatap teman-temannya yang nyaris pingsan.

"Teman-temanku!"

Shielda menyiapkan perisainya. "Sekarang giliranmu, Boboiboy!"

Fang berdiri didepan Boboiboy, melindunginya.

"Sudah! Tugas kita untuk mengalahkan mereka sudah selesai!" perintah Fang.

Sai kembali mendengus. "Kau kasihan pada mereka?"

Shielda menceletuk, mengingatkan posisi sang korporal muda. "Sejak kapan kau jadi lemah seperti mereka, Fang?"

Sang pemuda berkacamata menahan amarahnya. Ia mengepalkan tangan membentuk tinju.

"Le…LEMAH?!"

Teriakan Boboiboy menarik atensi Fang. Ia berbalik. Menemukan pemuda elemental yang berhasil berdiri seraya memegangi lututnya sebagai tumpuan.

"Kau bilang kami lemah?!"

Tubuh Boboiboy mengeluarkan asap panas yang makin banyak seiring dengan intonasi suaranya yang meninggi.

"Aku akan tunjukkan pada kalian siapa yang lemah." Tangan Boboiboy terkepal disertai api yang keluar. "KUASA ELEMENTAL!"

Api dan angin bercampur menjadi satu. Bertiup kencang dan menggerakkan jubah ungu Fang yang berusaha bertahan agar tetap dekat dengan sang kekasih yang tengah mengeluarkan kuasa barunya.

Fang membelalakkan matanya tidak percaya. Boboiboy Api muncul dengan kemarahan yang membara. Manik madunya bersinar dan memantulkan bayangan api. Berteriak marah kepada Tim A yang notabene tengah menjalankan tugas.

"TINJU API!"

Fang kembali terkejut. Ia mengeluarkan tangan bayang yang besar, menahan serangan panas Boboiboy Api yang kemudian menjadi ledakan besar.

Pemegang kuasa bayang menahan diri. Ia menatap tajam pada Api yang menyerang Sai dan Shielda dengan berturut-turut.

Sai membelalak marah. Ia menyerang Boboiboy dengan topi besinya yang mengenai telak tubuh mungil sang musuh.

Terlempar jauh dengan topi besi di perut dan Shielda yang mendorongnya menjauh dengan perisai, Fang berteriak marah.

"CUKUP!"


Cemburu: AMARAH

Didedikasikan untuk Febiola/anak random dan Ekajaya

Setting cerita setelah episode 11: pertarungan hangat

Fang sangat tersakiti disini.


Fang berjalan dalam diam. Sepatu bootnya bergema tiap kali menapak lantai besi yang melingkupi stasiun TAPOPS. Manik merahnya menelusuri tiap ruang kesehatan yang ia lewati. Memeriksa mana ruangan yang tengah digunakan.

Langkah terhenti didepan ruangan yang pintunya tidak ditutup. Ia masuk lalu menutup pintu. Menemukan kekasihnya yang baru saja mengalahkannya—kau boleh menyebut Fang mengalah.

"Kau terluka, Boboiboy?"

Bahu Boboiboy menegang untuk sepersekian detik. Ia melemas kemudian, menurunkan bahu disertai kepala yang menunduk dalam.

"Tidak. Aku hanya memeriksa tubuhku."

Fang menahan nafas. Dadanya terlalu sesak melihat sang kekasih yang tak mau melihatnya. Memunggunginya dan tidak bergerak dari duduknya diatas ranjang klinik.

"Apa katanya?"

"Tidak ada masalah. Semua baik-baik saja. Petugas itu hanya memintaku untuk istirahat disini. Dia sedang mengobati yang lain."

"Ah, begitu. Syukurlah kau baik-baik saja, Boboiboy."

Ruangan 3x4 meter itu berubah hening setelahnya. Nafas Fang yang berat mengubah atmosfir disekitar mereka.

Fang meremas kain didepan dada kirinya. Menahan sesak yang melanda disekitar organ pernafasannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Meneguhkan diri dan menerima kenyataan bahwa Boboiboy sedang tidak menerima keberadaannya.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah menyuruhmu untuk berhenti tapi…tapi kau tidak mau…"

Fang menghela nafas kasar. Berbalik dan bersiap membuka pintu. Satu kalimat penuh arti terucap, "Aku mencintaimu." Lalu pintu ditutup tanpa suara.


Fang melempar segala barang dikamarnya dan Sai. Berkas-berkas lama dirobek dan diinjak. Kemarahan tak bisa ia bendung lagi. Ia berteriak kencang—ia harus bersyukur kamarnya kedap suara.

Ia berlutut ketika kertas sudah habis. Kacamata yang merangkap alat komunikasi dilepasnya begitu saja. Ujung manik merah mengalirkan air mata perlahan. Bibir tipis mengeluarkan isakan. Menyalurkan rasa perih diseluruh tubuhnya.

"Hei, Fang. Aku…aku benar-benar tidak bermaksud untuk keterlaluan tadi. Sungguh."

"DIAM, SAI! Aku sudah katakan padamu untuk berhenti! Shielda sudah menyerah dan kau masih saja menyerang!"

"Tujuan kita itu mengalahkannya, Fang!"

"Tidak, Sai! Kita menghalangi mereka! Tidakkah kau tahu betapa sakitnya hatiku mendapatkan tugas ini?!"

"Fang! Ingatlah kalau mereka itu manusia Bumi!"

"Lalu kenapa?! Kau harusnya mengerti betapa aku menahan diri! Aku berusaha untuk tidak menyentuhnya sedikit pun!"

"Tapi kau itu kuat, Fang! Kau itu KUAT! Tidak ada kata menahan diri untuk orang kuat!"

"Dia kekasihku!"

"Tapi dia manusia!"

"Dia kekasihku! Itu intinya. Aku sudah menahan perasaanku selama bertahun-tahun! Disaat aku bisa mendapatkannya, kau malah menyakitinya."

"Dia manusia, Fang! Dia bukan seseorang yang pantas kau cintai!"

"Memangnya kenapa?!"

"Kau alien! Humanoid Alien! Ingat itu baik-baik! Kau hanyalah pasukan TAPOPS yang harus siap pergi kapan pun."

Fang terdiam. "Hiks…" Air mata lolos dengan deras. Ia meninju lantai dibawahnya. Mengabaikan rasa sakit yang menjalar dikepalan tangannya.

"Aku…aku hanya berharap agar aku bisa selalu bersamanya…"

"Lalu kenapa tak kau katakan pada Laksamana?"

"Apakah Laksamana akan menerima penolakan?"

Sai mencengkram bahu Fang. Menyadarkannya agar tidak terlarut dalam tangisan.

"Fang…cinta itu memang menyakitkan. Sadarlah."

Manik merah menatap manik hazel penuh luka. "Apakah alien tidak boleh mencintai manusia…? Meski, meski tubuhnya begitu sempurna?"

Sai memalingkan wajah, enggan melihat air mata diwajah Fang yang dikenalnya sebagai pemuda yang tak kenal sakit.

"Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti apa itu cinta. Hidupku kuhabiskan untuk bertarung. Bukan menyelesaikan misi di Bumi." Sai memeluk Fang erat. "Aku tidak yakin tapi, tapi aku tidak bisa melihatmu kesakitan seperti ini. Kau sudah aku dan Shielda anggap sebagai adik."

Tangisan Fang mulai mereda. Alisnya turun disertai tatapan yang menyendu. Tangannya melemas dan menggantung disisi tubuhnya.

Rasa sakit yang dirasakannya kala ini lebih menyakitkan daripada terlempar karena ledakan. Rasa lelah yang dialami lebih lelah daripada kelelahan yang dialami kala selesai mengeluarkan naga bayang. Perasaan bersalah yang melandanya begitu menyiksa. Menyayat dan merobek tiap organ tubuh yang bereaksi terhadap perasaan.


Fang berjalan kembali ke lorong berisi ruang kesehatan setelah merasa lebih baik. Ruangan yang diisi oleh Boboiboy terdengar ramai. Pintu terbuka dan menunjukkan Yaya dan Ying yang keluar secara bersamaan.

"Ehm…Hai, Fang," sapa Yaya.

"Hai, Yaya. Bagaimana keadaan Boboiboy?"

"Dia baru saja tidur."

Kebohongan itu tergambar jelas dengan manik Yaya yang enggan menatap Fang. Yang dibohongi hanya menghela nafas kasar.

"Baiklah."

"Woi. Lu tak mau minta maaf, hah?"

Fang berbalik. Menatap Ying bingung.

"Lu sudah nyakitin kita pun tak mau minta maaf."

Satu-satunya pemuda disana mendengus. "Bukan aku yang lukai kalian. Lagipula aku sudah minta maaf tadi."

Ying menggeram dengan tinju yang ditunjukkan.

"Sudahlah Ying. Tidak baik bertengkar," nasihat Yaya.

"Kau sakiti hati kami lah, Fang. Itu yang dimaksud Ying."

Fang berbalik memunggungi kedua gadis. "Aku…aku tidak bisa melanggar perintah. Maaf."

"Tak pe lah. Semua sudah berakhir juga. Toh luka kami tidak serius."

"Terima kasih, Yaya."

"Hoi, Fang. Kau minta maaf pada kami je?"

Fang menghela nafas kasar. "Aku sudah minta maaf pada Boboiboy."

"Oh ya? Minta maaf dengan benar?"

"Jangan memancingku, Ying. Bohong kalau Boboiboy tidak cerita."

"Aku hanya ingin mendengar itu dari mulutmu."

"Kau tahu jelas kronologinya, Ying. Kenapa kau harus mendengarnya dariku. Kau tidak akan percaya padaku juga."

Tinju dirasakan dipunggungnya. Fang terdorong beberapa langkah. Ia menatap Ying garang.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Boboiboy marah." Ying menatap dalam manik merah Fang. "Dia kesal padamu. Dia…dia tidak suka akan sikapmu yang menutup-nutupi."

"Kau keterlaluan Fang…Yang kau lakukan itu tidak benar. Tidak seharusnya kau berbohong pada kami. Bahkan sampai membentak Boboiboy."

"Kapan aku membentaknya? Aku menjalankan misi, dan misiku itu bukan untuk dipublikasikan."

"Fang…maksud kami itu..em…"

"Maksud kami itu lu harusnya kasih tahu! Boboiboy pacar lu 'kan?"

Fang tertegun. "Aku…aku tidak yakin kalau kami punya status itu, Ying."

'BUAGH!'

Perih menjalar dipipinya. Ia melirik tajam pada Ying yang masih mengepalkan tangan.

"Ying! Jangan gunakan kekerasan lah! Semua harus dibicarakan baik-baik."

Yaya tak sempat menahan, Ying sudah kembali meninju wajah Fang dengan telak. Fang hanya terdiam membiarkan Ying memukulnya sesuka hati. Menendangnya hingga tersungkur ke tanah.

"Kau bahkan tidak menganggap Boboiboy! Kau hanya menginginkan tubuhnya, hah?!"

Yaya menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatannya. Ia menggigit bibir bawahnya, menjaga diri agar tidak bertindak ceroboh.

"Kau pantas menerima ini! Kau menyakiti hati Boboiboy! Kau menyakiti tubuhnya! Kau melemparnya! Mengatainya!"

Otak Fang menggelap. Ia mencekik Ying dengan tangan kanannya lalu menyeringai lebar.

"Kau pikir kau siapa berani meninjuku?"

Fang bangkit dengan Ying yang masih dalam cekikannya. Kemudian melepasnya agar bisa melihat Ying batuk dan menarik nafas dalam-dalam.

"Kau sudah keterlaluan Fang! Kuasa gravitasi!"

Yaya menekan Fang hingga terduduk karena tarikan gravitasi yang kuat. Kepalanya yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih kemudian menarik Fang keatas. Tangannya berayun lalu melempar Fang hingga membentur dinding.

"Mengharapkan dirimu yang kemungkinan bermain bersama orang lain menyakiti hatiku, Fang."


Fang hanya terduduk diam diantara robekan kertas. Makanan yang dibawa oleh Sai ditatapnya tidak minat. Tiga suapan berakhir dengan hambar dipengecap rasanya. Hari kiamat seakan datang dan Fang hanya bisa pasrah menerima kenyataan.

Nampan berisi makanan diangkat, Fang mengulas senyum tipis, harap-harap cemas jikalau ia akan menemukan Boboiboy didapur.

Ruang makan yang biasa ramai sekarang sepi. Begitu hening dengan hanya ada Papa Zola serta Cattus disana. Rotan terus dihabiskan oleh Cattus dengan semangat. Bunyi gemerincing bellbot sedikit mengusik pendengarannya.

"Selamat malam, Papa Zola."

Papa mendongak dan menemukan salah satu muridnya datang dengan wajah murung. Ia menelan makanannya dan meminum air dengan cepat, untuk kemudian berdiri dengan satu kaki menapak meja.

"Selamat malam, wahai anak mudaaa! Kenapa wajah murid kebenaran murung haaah?!"

Fang tersenyum kecil. Memberikan nampannya pada petugas di dapur dan berdiri berkacak pinggang.

"Saya hanya merasa kurang enak badan, Papa. Kelelahan."

Papa mendecakkan lidahnya seraya menggeleng. "Ckckckck. Kebenaran…tak kenal rasa lelah! Karena kebenaran…kenal berjuang sahaje!"

"Sudah berjuang tapi tak de hasilnya pun."

"Perjuangan itu harus dilakukan sampai tuntas lah! Jangan berhenti ditengah jalan!"

Fang memalingkan wajah. "Menurut Papa, apa saya pantas berjuang sebegitu jauh?"

Papa menghampirinya. Menepuk bahu berotot Fang dengan tangan terbalut sarung tangan merah.

"Kau tengah patah hati ke?"

"Eh?" Fang tersenyum kecut. "Percuma kalah bohong sama Papa."

"Ckckck. Patah hati memang seperti patah kaki. Tapi patah hati, bukan gaya lelaki sejati."

Cattus meloncat dari meja lalu mengeluskan tubuhnya pada kaki Fang dengan manja.

"Lihat tuh. Kucing kebenaran pun setuju dengan saya. Dengarkan nasihat ini anak muda, kalau memang Boboibot marah, hancurkan sahaja lah. Tapi kalau Boboiboy yang garang, minta maaf lah dibawah taburan bintang!"

"Darimana Papa tahu itu Boboiboy?"

"Kebenaran…akan selalu tahu isi hati murid-muridnya."

Cattus yang mengeong dibawah kaki Fang membuat empunya tersenyum gemas. Ia menggendong Catus dalam lengan kekarnya dan mengelus bulu kucing berekor 3 itu.

"Nah, kau bawa lah tu Cattus. Nanti kalau sudah kembalikan pada kebenaran, ya."


Fang mendengus ketika sadar sudah berada didepan ruang kesehatan lagi. Ia memberikan gulungan kertas pada Cattus lalu membuka pintu, membiarkan Cattus masuk kedalam.

Pemuda berkacamata itu lalu duduk didepan pintu. Menunggu hingga Boboiboy membuka pintu dan mengizinkannya masuk.

Kertas itu berisi kalimat singkat nan memikat. Ia menyusunnya hampir setengah jam. Duduk berkutat dengan otak dan pulpen yang hampir kering tinta karenanya.

Boboiboy, aku kekasihmu dan kau kekasihku. Aku mencintaimu tapi aku tidak tahu bagaimana denganmu. Aku tahu kau mempercayaiku lebih dari siapa pun, tapi perintah tetap perintah. Aku selalu menuruti dan mengikuti perintah seperti seharusnya.

Perintahkan aku, apa pun itu akan kujalani dengan segenap hati.

Cattus keluar sesaat kemudian. Kucing itu mengeong kecil lalu berlari meninggalkan Fang, sadar bahwa tugasnya sudah selesai.

Fang duduk terdiam. Ia hanya menatap dinding kosong dan mengabaikan rasa dingin yang menusuk dikakinya.

Pemuda berkacamata itu menerawang. Mengira-ngira apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya didalam—meski sekarang Fang tidak yakin ia pantas menyebut dirinya demikian.

Matanya melirik ke dinding yang sedikit rusak. Kekehan kecil lolos dari bibirnya. Ia ingat dengan jelas bagaimana sakitnya ditubruk dengan kekuatan Yaya yang luar biasa ganas.

Tangannya merayap menyentuh pipinya yang memar kecil. Mengusapnya pelan lalu menekannya demi merasakan rasa sakit. Ia tersenyum miring ketika sadar tinju Ying tidak berasa. Geligeli kalau istilahnya. Rasanya hanya seperti sentuhan atau tamparan kecil kala dirinya dibangunkan oleh orang lain.

Tanpa sadar 3 jam dihabiskan dengan lamunan. Jam malam sudah mau tiba dan ia harus segera kembali ke kamar. Kaki menapak dengan tegas. Ia menatap pintu sebentar sebelum berlalu kemudian.

Tersenyum kecil, Fang meremas kain didepan dadanya kasar. Ia menangis dalam diam. Membiarkan air matanya mengalir.

"Aku anggap kebisuanmu sebagai isyarat untuk pergi, Boboiboy."


Esoknya Fang bangun dengan mata sembab dan merah. Pipinya basah dan tubuhnya kaku. Kesemutan dirasakan disekujur tubuhnya ketika ia berusaha untuk duduk. Ia memilih untuk tetap terbaring ketika tahu jam belum menunjukkan pukul 7.

"Hei, Fang. Kau masih belum baikan?"

"Heh. Membalas suratku saja tidak."

"Sebegitu sakitkah dibohongi pacar?"

"Entahlah. Aku diabaikan. Bukan dibohongi. Mungkin sakitnya akan berbeda juga kalau kau cemburu."

Sai memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Fang yang berada disebrang kasur besarnya.

"Hei, apakah aneh kalau kau cemburu padahal statusmu belum jelas?"

Fang mengerjap lalu menggerakkan tubuhnya. "Kenapa kau menanyakan hal itu? Tidak nyambung dengan topik kita."

"Aku hanya penasaran. Kau tahu, aku merasa kalau Boboiboy kesal karena hal lain."

"He? Coba jelaskan."

"Begini, kau tidak memberitahunya apa pun 'kan?"

"Iya benar."

"Apakah kau pernah tidak memberitahukannya sesuatu dulu?"

"Dia menuduhku tidak memberitahunya misi laundry yang sebenarnya."

"Ah pantas saja. Dia pasti kesal karena hal itu juga. Apalagi kau mengatainya lemah."

"Kau duluan yang melakukannya, Sai!"

"Okeoke. Aku minta maaf. Jadi menurutku, Boboiboy cemburu karena kau tidak menomor satukannya."

"Teorimu boleh juga. Aku terima."

"Pergilah menemuinya lagi. Morning sex terdengar manis."

Fang tertawa lalu bangkit dari tidurannya.

"Akan kucoba membujuknya."


Fang membatu ketika Boboiboy membuka pintu disaat dia sampai didepan ruang kesehatan. Kekasihnya mengenakan topinya. Kaus oblong putih mencetak lekuk tubuhnya sementara kakinya dibalut celana training berwarna biru muda.

Boboiboy memalingkan wajah. Ia menyusup melalui celah yang ada lalu berjalan meninggalkan Fang.

"Boboiboy!"

Kaki polos berhenti melangkah. Ia tidak berbalik tapi ia berdiri tenang sebagai tanda mendengarkan.

Fang menggaruk pipinya. "Aku tidak mengerti tapi aku rasa kesalahanku sudah kusebutkan semua. Jadi katakan apa masih ada kesalahan yang belum kusebutkan?"

"Fang…"

Pemuda yang hanya mengenakan tank top sebagai atasan kembali merasakan sesak didadanya kala mendengar suara yang begitu lirih dan bergetar. Hendak mendekat, ia mengurungkan langkahnya. Membiarkan Boboiboy melanjutkan perkataannya.

"Kau belum…minta maaf karena mengataiku lemah."

"Bagaimana caraku menebusnya?"

Bahu yang bergetar membuat Fang ketakutan. Ia menggigit bibirnya untuk menetralisir rasa sakit.

"Apa kau kembali menyakiti Ying?"

"Dia meninjuku terlebih dahulu."

"Apa kau mencekik Ying?"

"Dia mendorongku jatuh lalu memukulku."

Boboiboy jatuh berlutut. Fang tidak tahu pastinya tapi ia yakin Boboiboy tengah menangis. Bahunya bergetar hebat dan isakan terdengar lolos dari bibir mungilnya.

"Jangan sentuh aku!"

Fang ikut menangis. Ia berdiri kaku dengan hawa dingin yang melingkupi.

"Kesalahanku adalah melupakanmu. Tapi apakah kau harus menghukumku seperti ini? Menyiksaku secara batin?"

"Hiks…kau…kau tidak mengerti.."

"Kau yang tidak mengerti. Kau tidak tahu betapa bimbangnya diriku ketika tahu kau harus ikut Ujian KENTAL. Aku hanya ingin kau terhindar dari bahaya. Galaksi ini penuh dengan ancaman."

"Aku melihatmu. Berusaha meyakinkan diri bahwa kau akan tetap disampingku untuk melindungiku. Tapi kau diam. Wajahmu dipenuhi tanda tanya. Kau ragu untuk menyetujui keputusanku." Jeda sejenak. "Dan ternyata keraguanmu itu karena kau harus menghadapiku. Lalu kau mengataiku lemah. Tak berdaya akan serangan para senior."

"Aku punya alasan. Sudah kukatakan padamu untuk menyerah. Kubilang kau lemah. Ada alasannya. Semua itu semata-mata agar aku bisa menghentikanmu. Agar aku bisa memastikan kau tetap aman berada di Bumi. Agar saat aku kembali ke Bumi nanti, aku bisa membawamu menuju kebahagiaan bersamaku didalam sebuah rumah yang hangat."

Boboiboy terdiam. Isakannya menghilang perlahan. Ia berdiri lalu berbalik. Berlari sekencang mungkin dan memeluk Fang yang telah menyurahkan isi hatinya.

"Aku tidak bohong kalau aku mencintaimu. Itu tulus dari hatiku yang paling dalam."

"Aku…aku…aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya. Tapi aku punya perintah untukmu."

"Katakan saja, Boboiboy."

"Aku ingin kau tetap bersamaku. Aku ingin kau tetap mencintaiku. Aku ingin kau…menemaniku berlibur ke Bumi. Menikmati hidup dan kebahagiaan yang hanya bisa kuraih bersamamu."

"Sesuai keinginanmu, Boboiboy."


Halo kawan-kawan. Salam penuh sakit hati bersama saya Ramboochan yang lagi galau abis.

Jujur aja, saya kemarin pas nonton episode 11 lagi mendadak sakit hati. Saya kayak sedih gitu nontonnya. Liat Fang yang frustasi harus lawan Bbb bikin saya ikutan frustasi. Belum lagi Bbb itu liat Fang dulu pas dia ditanya yakin apa nggak. Seakan-akan Bbb meyakinkan diri sendiri kalau dia bakal aman selama ada Fang.

Hurtnya mungkin gabakal gitu kerasa. Tapi kalau kalian tonton ep 11 lagi dan Cuma tonton part FangBoinya, saya yakin kamu bakal ikutan galau.

Episode 11 ini adalah episode yang paling banyak dibikin ffnya (semacam sequel). Saya agak ragu waktu diminta bikin episode ini. Tapi waktu saya ngetik paragraf pertama (setelah judul), saya langsung mikir, "gua harus bikin sesuatu yang beda dari yang lain. Bukan cuma sekadar Fang yang minta maaf lalu mereka baikan. Dibalik itu semua pasti ada amarah Bbb (dan itu alasan nama chapter kali ini AMARAH).

Saya bikin ini dari kemarin (terhitung cuma itungan jam soalnya gua bikinnya pas malem banget) terus lanjut hari ini. dan jujur aja, hari ini saya lagi patah hati. Saya sempat berpikir kalau chapter kali ini bakal sad ending, tapi saya pikir itu agak egois. Kalian semua butuh asupan yang manis tentang pair satu ini, jadi saya buat semanis mungkin di akhir.

Saya tidak menutup kemungkinan chapter selanjutnya bakal masih penuh sakit hati, tapi saya usahakan mood saya harus cepat-cepat membaik supaya fic ini tetap bisa asam-manis seperti sebelumnya.

Terima kasih untuk review yang sudah diberikan untuk saya. Saya sangat senang melihat kalian terhibur.

Silahkan hubungi saya via DM di instagram yang usernamenya sama dengan penname saya: ramboochan. Dengan senang hati saya akan membalas DM kalian untuk membicarakan seputar FangBoi dengan harapan fic ini dapat terus berlanjut sebagai drabble yang tiap chapnya panjang. Tiap teori FangBoi yang kalian berikan akan sangat membantu.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!