WAKE UP

Flashback

Berkat Yunhyeong yang terbang di angkasa, Junhoe dapat menemukan tubuh Jimin yang tak sadarkan diri di jalan buntu.

Ketika Hoseok tiba, Junhoe tengah membawa tubuh Jimin ala bridal keluar dari labirin, semuanya tak merasa was-was lagi dan Seokjin yang baru datang langsung memeriksa keadaan tubuh Jimin. Sementara Tae yang sudah pulang ke tempat asal, rumah Seokjin dan ia merengut ketika Seokjin secara terang-terangan mengusirnya "Ingat, jangan kembali lagi Tae" tihtah Seokjin yang tak bisa ditentang akhirnya keluar dari bibir seksi itu lagi.

000

Besoknya, Jungkook datang berkunjung dan merasa kenyang setelah diinterogasi dengan sejuta pertanyaan yang membuat mulut berbusa.

"Namjoon yang menaruh itu" jawab Hoseok ketus.

"Namjoon-hyung, dimana dia?" Jungkook penasaran, sungguh ia kangen dengan orang itu karena dulu kecil Jungkook dan Jimin sangat asyik jika sudah main tebak-tebakan, bergurau, bercanda dan melantunkan beberapa gendam (mantra yang membuat orang terlena) yang menggelitik kenangan manis Jungkook dan Jimin. Namjoon merupakan karakter utama terbentuknya pribadi dengan fikiran dewasa seperti Jungkook dan ceteknya otak Jimin.

"Jungkook-a deo arra?" Yoongi tak mau menjelaskan secara rinci.

"Jangan pernah berprasangka buruk Hyung" Jungkook memandang awas kedua Hyung-nya.

"Tapi dia yang membuat Jimin Hyungmu seperti itu" Hoseok menimpali.

"Hyung mengatakan Namjoon sebagai tersangkanya karena tidak tau alasannya" segelintir ucapan Jungkook mampu membuat Yoongi dan Hoseok gencar "Benarkan?" tanya Jungkook menyelidik.

"Jungkook kau punya memori yang indah" sergap Donghyuk pada saat tatap matanya bertemu sebentar dengan manik legam Jungkook.

"DONG-DONG!" Hanbin dan Yoyo berseteru.

"Bisa kita hentikan pembicaraannya dulu, masakannya sudah mulai dingin, aku tak ingin menghangatkannya lagi" Seokjin sangat handal dalam memerintah seperti kutukan, nadanya kalem tapi menjerat, anggukan cepat semua orang yang ada di meja makan menjadi saksi bisu akan saktinya tihtah Seokjin.

End

Junhoe menatap miris Jimin sedih bercampur kesal dan kecewa karena usahanya untuk membangunkan orang yang sudah tertidur selama 3 hari ini dengan apinya tak membawakan hasil, maka hal ini adalah jalan terakhir yang harus dilakukannya. Jika hal ini tidak berhasil maka besok acara pemakaman akan segera diadakan.

Tubuh Jimin kebal akn api yang Junhoe

Bathub sudah terisi penuh dengan air yang masih mengalir, Junhoe meletakkan tubuh Jimin dengan hati-hati hingga kaki Jimin kini bisa bersentuhan dengan air lalu tubuh Jimin yang terduduk dengan tangan yang masih meringkuk bebas dengan posisi seperti mendekap tubuh Junhoe, segera Junhoe letakkan ke dalam bathub agar semuanya dapat terendam dengan air. Hingga tinggal wajah Jimin yang masih tertopang kedua tangan Junhoe, tangan kanan Junhoe kini meraih dada Jimin untuk menenggelamkannya ke dalam air yang mulai bercucuran. Setelah kepala Jimin menyentuh bagian dasar bathub Junhoe melepaskan tangan kirinya dan dengan pisau Junhoe mengiris urat dekat nadi ditangannya agar darahnya dapat keluar lebih banyak, lalu memasukannya diatas air yang menghadap langsung ke mulut dan hidung Jimin agar darahnya yang bercampur air segera mengalir masuk ke mulut Jimin yang terbuka.

Darah Junhoe pun sudah mewarnai seluruh air yang tergenang, Junhoe membuang nafas kasar karena tidak ada satupun gelembung udara yang berhasil lolos keluar dari hidung Jimin, bahkan tak ada pergerakan sedikitpun pada tubuh Jimin, padahal Jimin sudah di tengggelamkan 15 menit yang lalu, itu adalah batas tidak normal untuk manusia biasa yang memiliki kekuatan. Junhoe merasa semakin naik darah, tangan kanannya yang sebelumnya berada di jantung Jimin kini beralih mencengkram erat leher Jimin.

Emosinya melunjak secara signifikan, tangannya membenturkan kepala Jimin beberapa kali ke bagian dasar bathub, hingga akhirnya ia menyerah dan melepaskan tangannya dari tubuh Jimin. Ia bangkit dari lantai yang mulai basah karena air yang terus mengalir keluar dari dalam bathub, lalu berjalan keluar untuk segera memberitahu Seok bahwa Jimin sudah tiada.

000

Menenggelamkan Jimin dalam kubangan air yang bercampur darah Junhoe sama saja membakar tubuhnya secara perlahan dan hal itu dapat di rasakan di alam bawah sadarnya. Tubuhnya terasa sangat panas dan Jimin tak bisa menahan hal itu, rasanya ingin sekali ia bunuh diri daripada tersiksa seperti ini. Jimin membuka matanya secara paksa, hal ini sungguh mengganggu tidur pulasnya, Jimin benar-benar tidak ingin kembali ke dunia sekarang karena ia tau posisinya sekarang berada di dekat Junhoe, bahkan Junhoe menyentuhnya, jika saja bukan karena rasa panas yang terus menguliti tubuhnya, ia tak akan sadar.

Jimin sekarang tak bisa bernafas, niatnya sudah bulat sekarang untuk segera keluar dari kenyamanan yang akan segera ia tinggalkan, terlihat pintu dengan sinar yang memancar yang ada di dalamnya membuat Jimin harus tertatih-tatih berjalan beberapa langkah ke arah pintu itu yang perlahan hampir tertutup kembali.

Usaha Jimin membawakan hasil, ia dapat menahan pintu yang beberapa senti lagi akan tertutup tapi tertahan oleh tangannya, cahaya itu mengarah ke sebuah kamar mandi dan Jimin dengan tubuhnya yang semakin lemah dapat melihat jelas punggung Junhoe yang mulai menjauh.

000

Setelah tiga langkah Junhoe meninggalkan bathub, tanpa Junhoe sadari terlihat satu gelembung yang berhasil pecah di atas air, lalu serentetan gelembung muncul dengan cepat keluar dari indra pernapasan Jimin. Tak lama ketika Junhoe mencapai pintu keluar dan pada saat ia hendak membuka kenop pintu, suatu ledakan terjadi di dalam bathub. Beberapa cipratan air tepat mengenai wajah Junhoe, tak lupa bagian bathub yang sudah terpecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang berserakan di lantai yang dialiri air, bercampur darah tumpah dari dalam tubuh bathub yang masih tersisa.

Gemercik air dalam keran masih mengalir, tubuh Jimin terduduk lemah dalam bathub, kepalanya pun masih tertunduk ketika Junhoe mengalihkan pandangannya tepat ke arah terjadinya hal maha dahsyat. Jimin perlahan bangkit dengan bantuan telapak tangan kirinya yang menempel pada dinding tembok, ia berhasil berdiri walaupun badannya sedikit bungkuk, deru nafasnya yang cepat mendominasi ruangan, dan rasa sakit dalam tubuhnya tak bisa di hindarkan, sungguh panas sekali tubuhnya saat ini, rasanya ia benar-benar ingin secepatnya memeluk Yoongi yang suhu tubuhnya dibawah 0 , mungkin hal itu akan membuat suhu tubuhnya kembali normal.

Disisi lain Junhoe membalikkan tubuhnya perlahan lalu berjalan lambat mendekati Jimin yang mengeluarkan uap panas. Jimin mendengar derap langkah seseorang yang menghampirinya, membuat Jimin teringat akan kakaknya Tae yang baru saja ia temui. "Tae-Hyung, ja-ngan de-ka-ti aku, men-jauh-lah dari-ku, mi-an-he Hyung" dengan terbata-bata Jimin berkata. Jimin mendongakkan wajahnya, ia ingin melihat siapa yang sedang berada tepat beberapa langkah di depannya sekarang dan ia butuh menyesuaikan matanya yang sedikit buram dengan hadirnya cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Tapi percuma saja tubuhnya terlalu lelah dan lemah, al hasil ia hanya bisa menjatuhkan dirinya tanpa sadar dengan kepalanya yang berdenyut membuat keningnya harus berkerut.

Junhoe yang melihat pergerakan Jimin yang melambat dan tiba-tiba mencelos di depannya membuat Junhoe harus menangkapnya dengan cepat. Kepala Jimin terjatuh tepat di punggung tangan kirinya, Junhoe menatapnya sebentar lalu menyeka tangan kanannya di bawah lutut Jimin dan menggendongnya menuju ke tempat tidur.

000

"Aku sangat terkejut, ternyata kau dapat membangunkan Jimin dari mimpi indahnya dengan cara itu" Seok memeriksa nadi di tangan kiri Jimin.

"Tubuhnya mengeluarkan asap sebelum aku membawanya kemari, kurasa dia mendidih" suara berat Junhoe menggema.

"Suhunya tidak teratur lagi, tapi sepertinya hal ini akan berakhir cepat atau lambat, kau ingin memilih yang mana?" tanya Seok yang mengalihkan pandangannya dari Jimin yang tengah berkeringat dingin.

Koo tanpa harus berfikir dapat mengetahui maksud dari perkataan Seok "APA? Aku bisa menyebuhkannya?" pekik Junhoe dengan mata melebar.

"Tentu saja, bukankah kau kekasihnya?" Seok segera membereskan alat kedokteran yang sempat ia keluarkan untuk mengecek Jimin, ia memasukan alat-alat itu ke dalam kotak berukuran sedang, lalu mengunci kotak tersebut.

"Otteoke?" tanya Junhoe dengan nada datar dan tampang pokerface-nya sambil menatap Seok menunggu jawaban.

"Jika kau mau cara lambat, kau harus berada di sisinya atau bisa dibilang tidur dengannya di ranjang yang sama dan tak lupa memeluk tubuhnya semalaman. Jika kau mau cara cepat, kau hanya harus..." Seok nampak gundah mengungkapkan hal ini jadi ia jeda sebentar sambil berjalan menjauh menuju pintu, diambang pintu ia mengucapkan satu kata yang membuat Junhoe tercengang "mencium bibirnya" percakapan mereka diakhiri dengan tertutupnya pintu.

Junhoe mengurut keningnya "Sial, apa dia sedang membodohi ku sekarang? Atau membuat komedi putar agar aku tersenyum? Bagaimana seorang dokter mengatakan solusinya adalah tindakan romantis seperti itu dan bukannya menggunakan obat untuk menyembuhkan Park..."

Ok bisa dibilang Hanbin dan Seokjin itu berteman dan sama-sama segle, pasti tau kan pepatah bilang kalau orang itu sifatnya bisa diliat dari temen gaulnya siapa, nanti juga keliatan kok orangnya gimana.

Junhoe mengusak rambutnya berkali-kali sampai acak kadul, ia mondar mandir di kamar Jimin sedari tadi, hanya 10 menit waktu yang dibutuhkan untuk merana dengan keputusan yang ia buat, hingga sampailah pada titik ia kehilangan kewarasannya, kening Jimin mengerut dan Junhoe tanpa sengaja khilaf dengan bibir tebal merah dan menggoda milik Park yang sedang tersiksa itu. Parahnya Junhoe terlena, ia mendekat, seperti insekta yang terpengaruh pada bau harum bunga, ia terjebak dalam pesona Jimin yang menggiurkan. Junhoe mulai memiringkan wajahnya dan mencoba meraup bibir, ia ingin menjamahanya tak kenal ampun hingga terpuaskan rasa nikmatnya.

Jaraknya hanya 2cm sekarang, seperti yang dijabarkan, Junhoe melakukan semuanya. Jimin yang terusik dengan pergerakan geragas di bibirnya yang lembab mulai membuka matanya perlahan, Junhoe menjilat setiap inci belahan bibir itu hingga nafsunya hilang, kekuatannya tersalurkan dengan mulus, dan daging tipis yang membungkus bola mata Jimin itu terbujur kaku. Jimin dapat melihat kegelisahan di mata Junhoe yang oren, bertatap muka saat ini tidak membuat keduanya rancu akan situasi. Jimin malah bertindak lebih, ia mengalungkan kedua tangannya ditengkuk Junhoe, menempelkan tubuhnya pada bidang dada Junhoe yang gagah dan mengendus ceruk berbau segar itu. Lekukan tubuh Jimin yang begitu pas di lengan kekar Junhoe membuat Junhoe mengangkat tubuh itu agar lebih merapat pada dirinya. "Aku harap ini tak terulang lagi."

'Ambigu' sepatah kata yang terngiang di fatamorgana-nya Jimin.

Taehyung akhirnya mendapat restu Seokjin untuk mengunjungi Jimin, ketika kedua pintu besar itu terbuka Taehyung menghambur masuk dan mendarat di pelukan Junhoe yang menangkap tubuh kurusnya. Junhoe terkejut sekaligus senang, senyum dibibirnya mengembang, kaki Taehyung terangkat di udara karena tingginya tidak setara dengan Junhoe "Bogoshipo" bisik Taehyung yang menggelitik daun telinga Junhoe.

Jimin memperhatikan dari atas, matanya serasa tertusuk jarum rajut yang tumpul, benang-benang halus yang telah teranyam apik kini amburadul, kisah hidupnya dengan Junhoe tak belandaskan apapun kecuali jalan takdir. 'Takdir memenjarakan semuanya, cinta, impian dan kehancuran melebur menjadi satu kesatuan utuh. Aku tak dapat menentangnya, hanya ada satu jalan keluar untuk memperoleh kebahagian, yaitu, menjalaninya dengan susah payah.'

Jimin mengeringkan rambutnya, bisingnya hairdry-er memenuhi seisi ruangan, dipantulan cermin, matanya berubah biru menyala, rambutnya berkilau, perpaduan warna coklat dan pirang membuat akal sehatnya semraut. 'Lari dari kenyataan hidup dengan bunuh diri seperti menjungkirbalikan nasib malang yang diperoleh. Kuakui buta karena capek melihat pahitnya kenyataan hidup harus disyukuri'

Jimin membuka kulkas dan mendapati bir dan anggur beras disana, ia membabat habis semuanya, dan Namjoon muncul secara tiba-tiba. Ia datang dengan dentuman langkah, Jimin memandangnya sayu, dan lehernya tercekik setelah itu. Namjoon menghempaskan tubuhnya ke dinding keramik, kaki Jimin bergelantungan "Kau... penghancur, jika aku membunuhmu sekarang mungkin akan lebih baik" Namjoon, mendudukan Jimin di kursi, Namjoon menuangkan benda cair berwarna kekuningan itu di gelas, lalu menutup hidung Jimin dengan telapak tangannya sampai menenggak dan minuman anggur ungu fermentasi yang siap disajikan telah tertata rapih di atas meja bundar.

"Jimin Hyung... Jimin..." suara Jungkook menggema, Namjoon murka, misinya melenyapkan Jimin gagal, ia langsung melesat pergi.

Beberapa not balok dilantunkan indah dengan alat musik piano disalah satu ruang bak gedung tanpa pintu, buku-buku jari Yoongi bergerak runtun. Melodi dalam larutan wiski yang mengandung alkohol menyengat, melenggang ke tenggorokan sehingga tersedak, Jimin sesak nafas, botol sampanye menggelinding dan pecahan beling menghiasi lantai marmer yang kokoh. Isi perut Jimin terkoyak, gejolak jantung dan kesadarannya terkikis dan suara Jungkook teredam.

Jungkook menggigiti kukunya, melihat Jimin yang terkapar di dapur membuatnya cemas. "Ia alergi" Seokjin menengahi pemikiran negatif Jungkook yang terus berkelana pada hal-hal terburuk yang mungkin akan terjadi "Ini tidak baik, Jungkook aku tidak suka kau begini. Jika kau ketahuan mabuk, aku akan segera menendangmu pergi. Menjadi gelandangan dan jalang akan jadi pilihan terbaik" Seokjin berkata sengit, bukan karena Jimin, tapi rasa bencinya akan Jungkook selalu membuatnya mendidih.

'Semua hal baik di dunia ini hanyalah tipu daya belaka. Kejujuran dalam mata sipit itu telah berubah menjadi monster menjijikan di depan orang lain, mereka yang mampu berinteraksi, aku yang terpuruk sendirian di padang pasir tanpa sumber air. Hanya dua orang yang dapat kupercai saat ini, mereka merupakan tetesan air kualitas terbaik, Namjoon hyung dan Jimin hyung' Jungkook tersenyum simpul "Gomapda Jin-Hyung. Nasihat mu memang yang terbaik."

TBC

.

~From SunAeBi~

Ue ngerasa ni ff ga hidup karena no comment atau review. Covernya nanti ue ganti agar lebih menarik, moga-moga ada yang review.