Chapter 6

Sehun POV.

Aku kehabisan kata-kata untuk mendiskripsikan manusia. Mereka memang pintar dan sangat inovatif, tetapi mereka memiliki jutaan sifat buruk yang menempel lekat di seluruhu permukaan tubuh mereka. Entahlah mengapa tiap aku memulai berbicara tentang manusia, pasti hanya kata-kata buruk yang muncul. Aku tidak peduli.

Tok.. tok..

"Masuklah Brenda." Firasatku mengatakan bahwa itu Brenda. Paling tidak aku bisa mempercayai manusia satu ini.

"Nona Sehun, tuan Kai meminta anda untuk menemuinya di ruang keja." Mau apa lagi si bajingan hidup itu.

"Ada apa?"

"Saya tidak paham nona." Aku memutar mataku.

"Katakan padanya aku tidak akan datang jika tujuannya tidak jelas begini." Brenda hanya mengangguk dan keluar kamar. Aku tau pasti ia merasa hubunganku dan Kai semakin menjauh. Memikirkan si keparat itu hanya membuat stresku bertambah. Bahkan mendengar atau melihat keberadaannya di rumah ini saja mampu membuat suasana hatiku buruk tiba-tiba. Hebat sekalikan ciptaan tuhan ini?

"Sehun?" Dan suara yang kubenci akhirnya terdengar. Aku malas memberinya jawaban, aku masih sibuk dengan laptopku sambil bersandar di kepala ranjang.

"Kita harus membicarakan tentang terapi kakimu."

"Jika boleh aku ingatkan, aku bukan manusia dan kondisiku terbilang lebih kuat dari mahluk seperti kalian." Aku masih memfokuskan pandanganku pada layar laptop.

"Apa kau baru saja menolak tawaranku?"

"Aku yakin kau tidak terlalu bodoh untuk mengerti arti kalimatku." Aku memasang senyuman mengejek dibibirku.

"Jika kau tidak mau, katakan saja dengan kalimat yang baik. Kau perlu diajari tata krama."

"Aku menggunakan tata krama hanya pada orang yang pantas dihormati."

"Aku sangat benci saat lawan bicaraku tidak menatapku saat sedang berbicara." Suaranya menajam. Dia pikir aku takut?

"Aku tau kita hidup berdampingan, tapi bukan berarti kau bisa mengatur hidupku tuan Kim." Aku mencampur kalimat seriusku dengan tawaan.

"Kau sangat tidak terduga Sehun."

"Keluarlah dari kamarku, aku tidak setuju dengan idemu. Aku akan sembuh segera." Aku menutup laptopku dan meraih ponselku di atas meja.

"Jika kau tidak bersikap baik kepadaku, aku juga tidak akan bersikap baik padamu."

"Lakukan semua yang kau inginkan dan jangan ganggu aku." Aku tersenyum pada akhir kalimatku. Akhir-akhir ini kita lebih sering berargumen. Ia sudah tak pernah menunjukkan basa-basinya untuk memperbaiki hubungan kami. Dan begitu juga aku.

"Turunlah, kita makan malam bersama." Ia menutup pintu kamarku pelan. Makan malam adalah momen dimana aku harus menahan semua rasa muakku demi mendapat makanan. Dan aku melakukannya setiap hari.

.

.

.

.

.

.

Author POV.

Makan malam berjalan seperti biasa. Sehun dan Kai tidak berargumen tentang apapun. Keduanya hanya diam dan menyantap makanan masing-masing. Bukan hanya Sehun dan Kai yang duduk di meja makan, tapi Brenda juga. Rick tidak tinggal bersama mereka, ia akan bekerja hingga pukul 6 sore. Brenda sebagai orang yang sangat mengenal Kai, ia tau ada yang salah dari hubungan Kai dan Sehun. Tapi ia sadar dimana posisinya, ia tidak ingin ikut campur masalah mereka.

"Kai aku ingin meminta ijin untuk memindahkan semua pakaianku dari kamarmu. Apa kau keberatan?" Kai memandang Sehun dengan pandangan tak sukanya.

"Mengapa bukan kau saja yang pindah ke kamarku?"

"Jawab saja boleh atau tidak?" Sehun menggertakkan giginya.

"Tidak."

"Baiklah." Sehun meminum

"Pindahlah ke kamarku."

"Go dream on sir." Saran Kai terdengar bodoh bagi Sehun.

"Kau sangat sulit Sehun."

"Aku selesai, masakanmu enak Brenda. Terima kasih." Sehun tersenyum pada Brenda.

"Sama-sama nona Sehun." Brenda menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Sehun berjalan menaiki kamarnya.

"Apa yang harus kulakukan pada Sehun? Ia semakin menjauh."

"Pendapat saya, jika nona Sehun tidak mencintai anda, mungkin nona Sehun sudah meninggalkan rumah ini." Kai tertawa dalam hati. Ya Brenda, kami saling mencintai. Sarkastis Kai dalam hati.

"Berbicara baik-baik akan menolong. Percayalah tuan."

"Oh percayalah, aku mencoba berbicara padanya puluhan kali dan kami selalu berakhir dengan bertengkar."

"Yang dibutuhkan wanita disaat seperti ini adalah perhatian. Jangan goda nona Sehun terlebih dahulu, buat nona Sehun merasa senang saat bertemu anda. Seperti halnya memberi hadiah-hadiah kecil, dan ciptakan quality time untuk kalian. Hal-hal seperti ini akan meluluhkan hati wanita." Kai mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Terima kasih Brenda, saranmu harus kucoba. Dan terima kasih, masakanmu sangat lezat." Kai berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kamar Sehun. Sekilas ia menatap jam dinding, pukul 19.03. belum terlalu larut.

"Sehun, boleh aku masuk?"

"Masuklah." Yang menyapa pandangan Kai adalah Sehun yang sedang duduk di kursi baca dengan mata terpejam.

"Kau sedang apa?"

"Berpikir." Sehun membuka matanya.

"Berpikir tentang?" Kai mendudukkan dirinya di atas ranjang berhadapan dengan Sehun.

"Bagaimana caranya aku lolos dari duniamu." Tidak ada senyuman di bibir Sehun. Hanya pandangan kosong.

"Apa kau sangat tidak menyukai di sini? Sebulan yang lalu kau terlihat sangat antusias dengan hal-hal baru yang bisa kau temukan di sini."

"Aku menyukai sebagian besar ciptaan manusia, hanya saja aku tidak menyukai suasana yang timbul karenamu." Kai menghela nafasnya.

"Sehun apa kau tau aku sangat menyesal?" Sehun mengangguk.

"Baguslah. Kau boleh marah kepadaku selama kau mau, yang terpenting bagiku adalah kau tau bahwa aku sangat menyesal." Kai berjalan mendekati Sehun dan mengusap kepalanya. Tidak dipungkiri Sehun merindukan usapan itu. Sehun memejamkan matanya.

Cup..

Kecupan singkat Kai berikan di kening Sehun. Sehun tak menolak. Ia diam saja dengan tangan yang mengepal rapat. Entah kemana perginya Sehun yang galak dan super judes. Ia bisa merasakan nafas Kai yang menerpa permukaan wajahnya. Aroma wine menyapa penciuman Sehun. Ia membuka matanya.

"Aku merindukanmu." Kai berjongkok di depan kursi Sehun dengan satu lutut menyangga tubuhnya. Ia menggenggam tangan kiri Sehun.

"Kita bertemu setiap hari." Sehun tidak menolak genggaman Kai.

"Tidak. Sehun yang dulu adalah si menyebalkan yang banyak bertanya dan sangat manja. Bukan Sehun yang dingin dan acuh."

"Aku telah bersumpah tidak akan memasuki permainanmu Kai."

"Kau selalu mengatakan tentang permainan sedangkan aku tidak memainkan apapun saat bersamamu." Kai memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sehun.

"Jika kau tidak bermain, kau tidak akan berbohong kepadaku. Aku jelas-jelas memintamu untuk tidak bermain dengan wanita lain dan kau berjanji tentang hal itu. Kenyataannya, dengan kesadaran penuh kau mematahkan kepercayaanku." Tidak ada senyuman mengejek. Aura Sehun kembali memekat.

"Aku melakukan itu untuk memastikan hatiku Sehun. Apa kau tau betapa sulitnya menjauhkanmu dari pikiranku agar aku tidak terjatuh semakin dalam? Aku ingin mencegah kemungkinan itu karena aku tau kau tidak akan bersamaku." Rahasia yang disimpan dengan rapat kini terkuak dengan sendirinya. Kebejatan dan keburukan itu hanyalah topeng dari sebuah alasan yang sangat dimengerti keduanya.

"Aku manusia dewasa yang tidak mudah menaruh hati pada orang lain Sehun. Dan aku sangat paham betul apa yang sedang aku rasakan saat ini. Hal buruk yang aku lakukan hanyalah sebuah alat pengukur, apakah aku telah terjatuh padamu atau masih berdiri tegap dengan segala keegoisanku." Kai menggenggam tangan Sehun dengan erat. Ia memandang manik pekat Sehun dengan tatapan sendunya.

"Aku akan menyimpan ini untuk diriku sendiri Sehun." Kai tersenyum dan mengecup tangan Sehun lama. Ia menghirup aroma candu wanita cantik di depannya. Sehun membelai rambut Kai dengan tangan kanannya yang bebas. Lembut dengan aroma wangi dari gel yang Kai kenakan. Ia memiliki selera yang baik dalam pemilihan aroma.

"Mengapa kau tidak jujur kepadaku dari dulu?"

"Aku ingin mengetahui perasaanku lebih dalam dengan segala perubahan sikap dan sifatmu." Kai kembali mengecup tangan Sehun dengan mata terpejam. Ia terlihat sangat menikmati pergerakan tangan Sehun yang membelai rambutnya.

"Kau membuatku terdengar buruk."

"Tidak Sehun, akulah yang buruk disini." Kai menggelengkan kepalanya dan menatap manik Sehun.

"Kau mungkin akan memakiku setelah mengatakan ini tapi aku sangat ingin meminta sesuatu darimu." Kai menggenggam kedua tangan Sehun.

"Katakan terlebih dahulu, kemudian aku akan memutuskan apakah aku akan memakimu atau tidak." Sehun menarik nafasnya dalam.

"Apa aku boleh meminta kesempatan kedua kepadamu Sehun?" Kai mengunci pandangannya pada mata Sehun. Entah sihir apa yang menjerat keduanya, sadar atau tidak kini Sehun dan Kai berdiri di sebuah tebing dimana mereka sangat dekat dengan kemungkinan akan terjatuh kedalamnya.

"Jangan memaksakan sesuatu yang hanya akan menyakiti kita berdua. Dan jangan melakukan hal ini lagi. Aku tidak menyukainya."

"Maafkan aku Sehun. Aku tidak akan mengulanginya."

"Kita berdua sama-sama tidak tau takdir apa yang akan terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah mengikuti garis kuasa sang pencipta."

"Aku mengerti. Jadi apa kau memberiku kesempatan?"

"Aku akan memberimu kesempatan setelah kau melakukan sesuatu untukku." Kai menaikkan satu alisnya.

"Aku ingin kau menari dengan gaunku."

"Whatt? Seriously?" Kai menampakkan wajah tak percayanya, dan Sehun terkikik karena melihat ekspresi Kai.

"Cepat lakukan, jika tidak aku akan kembali jadi Sehun yang acuh kepadamu." Kai terkekeh tak percaya dengan syarat Sehun. Jelas sekali Sehun hanya ingin mengerjai Kai.

"Satu.."

"Waahh kau berani mengancamku?" Kai tersenggal tak percaya.

"Jika kau tidak segera berlari ke kamar dan mengambil gaunku dalam hitungan ke 3 kau akan menyesal seumur hidupmu. Satu setengah..." Sehun tersenyum miring khas orang yang sedang mengejek.

"Gaunmu sangat kecil Sehun. Aku akan melakukan syarat lainnya." Kai memundurkan tubuhnya dan menarik rambutnya kebelakang. Bisa hancur reputasi pria jantannya jika seperti ini.

"Aku memiliki gaun dengan bahan spandex. Aku yakin itu akan muat ditubuhmu. Dua..." Kai menarik nafas dalam dan berlari kecil keluar kamar Sehun. Sehun tertawa melihat tingkah Kai. Sepuluh menit kemudian Sehun mendengan langkah santai Kai dari dalam kamar. Tapi tiba-tiba langkah itu berhenti sebelum pintu kamar Sehun.

"Apa yang kau lakukan? Masuklah!" Setelah Sehun berseru, Kai menunjukkan kepalanya dari luar. Ya hanya kepalanya.

"Sehun ini sungguh memalukan." Kai menggelengkan kepalanya.

"Ya sudah." Seringaian di wajah Sehun menghilang seketika.

"Hei hei hei jangan begituu.." Kai berjalan langsung menuju Sehun setelah menutup pintu kamar dari dalam. Dan saat Sehun menghadap kearah Kai, tawaannya pacah.

"HAHAHAHAHA.." Kai tersenyum miris melihat Sehun yang tertawa terbaha-bahak.

"Aku melakukan ini untukmu. Apa kau puas?" Sehun memandangi penampilan Kai. Ia mengenakan gaun pendek ketat berwarna putih dan dengan kaos kaki. Lekukan tubuh maskulin itu membuat gaun yang ia kenakan menempel sempurna di tiap kurva otot Kai. Dan yang lebih parah lagi, tonjolan diantara kaki Kai terlihat sangat jelas meskipun ia sedang tidak tegang.

"HAHAHAHA Kai lihat.. HAHAHA putingmu mencuat! HHAHAHA" Sehun memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.

"Hahaha lucu sekali." Kai mengatakannya dengan nada datar.

"Seharusnya aku menyuruhmu mengenakan bra sekalian. Hahahahaha.." Kai tersenyum kecut.

"Sudah tertawanya?"

"Belum hahahaha, ahh perutku sakit sekali." Sehun masih tertawa meskipun kini volumenya merendah.

"Apa lagi yang harus aku lakukan untukmu tuan putri." Kai berusaha tersenyum dengan terpaksa.

"Menarilah. Aku akan menyiapkan musik untukmu." Sehun berjalan dengan sedikit melompat ke arah ranjangnya dan meraih ponselnya. Beberapa detik kemudian lagu mc Jagger dari Maroon 5 terdengar.

"Mengapa harus lagu ini?"

"Karena penampilanmu cocok dengan lagu ini." Sehun menggigit bibir bawahnya karena menahan tawa.

"Menarilah Kai." Kai ikut tertawa kecil karena penampilannya. Ia mulai bergerak asal-asalan dengan menggerakkan bahunya.

"Kau menyebut itu menari? Gerakkan pinggulmu." Sehun bersandar pada kepala ranjang masih sambil tertawa. Kai mulai berputar menggerakkan bahu dan pinggulnya pelan. Ini sungguh memalukan.

"Sehun sudah ya." Kai meminta baik-baik dengan badan yang masih bergerak-gerak kecil.

"Ini baru setengah lagu Kai. Jika lagu ini berhenti kau boleh melepasnya." Sehun terkikik melihat wajah Kai yang memerah. Kai mengulum bibirnya karena tidak bisa berbuat apapun. Demi Sehun ia melakukan hal-hal gila seperti ini, hanya demi mendapatkan kesempatan kedua. Ia bisa saja mengabaikan Sehun dan kembali ke kebiasaan lamanya dimana ia memiliki kebebasan melakukan apapun. Tapi ia memilih menjadi Kai yang out of charecter untuk Sehun.

"Apa kau puas nona mermaid?" Lagu berhenti. Sehun mengangguk sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak teratwa.

"Jadi apa aku mendapat kesempatan kedua?" Kai berjalan ke samping ranjang dan mendudukkan dirinya di sana. Di samping Sehun.

"Jika kau membuatku kesal dan muak lagi, apa kau memperbolehkan aku untuk menghancurkan kepalamu?" Sehun menatap Kai dengan pandangan innocent-nya seolah ia hanya mengatakan bahwa kelereng itu keras.

"Aku benci mengatakan ini tapi ya Sehun. Kau boleh menghancurkan kepalaku." Kai mengangguk dengan ekspresi kesal yang terahan.

"Kau sangat menggemaskan." Sehun dengan spontan mencubit pipi Kai.

"Apa aku boleh melepaskan baju ini? rasanya sangat tidak nyaman." Sehun tertawa lagi dan mengangguk. Dengan gerakan cepat Kai menarik gaun pendek itu keatas dan melemparkannya ke kursi baca Sehun. Sehun terbelalak karena Kai hanya mengenakan celana dalam di balik gaun itu.

"Aku salut dengan para wanita, mereka mengenakan pakaian yang sangat tidak nyaman. Jangan kenakan pakaian seperti itu Sehun, aku akan membelikanmu pakaian yang longgar." Kata Kai lalu masuk ke dalam selimut bersama wanita yang beberapa minggu terakhir ini menjauhinya.

"Hei! Mengapa kau masuk ke sini?"

"Mengapa tidak boleh?" Kai menaikkan satu alisnya.

"Karena ini kamarku."

"Dan ini rumahku."

"Kau memberikan kamar ini untukku."

"Kau lebih memilih aku duduk di kursi dengan hanya mengenakan celana dalam? Baiklah." Kai menyingkap selimutnya dan bergerak menuju kursi Sehun, tapi ia merasa tangannya ditahan oleh seseorang.

"Jangan hehe jangan. Disini saja." Sehun pikir membiarkan pria tanpa urat malu ini hanya mengenakan celana dalam di kamarnya adalah ide yang buruk. Kai masuk dalam selimut Sehun sedangkan Sehun duduk di sampingnya tanpa berselimut.

"Apa yang biasa kau lakukan setelah makan malam?" Kai bersandar pada kepala ranjang seperti yang Sehun lakukan.

"Aku akan menonton berita atau membaca buku. Terkadang aku juga akan mengunjungi Brenda, ia teman berbicara yang menyenangkan."

"Apa kau tidak bosan?"

"Aku tidak memiliki hal lain. Ingin jalan-jalanpun juga sulit, Rick akan pulang sebelum makan malam dan tentu saja aku tak ingin meminta tolong padamu."

"Kau bisa meminta tolong kepadaku mulai sekarang." Kai tersenyum menatap Sehun.

"Aku tidak mau. Kau selalu sibuk dengan dokumen-dokumenmu."

"Aku akan meluangkan waktu untukmu."

"Aku merasa tidak nyaman dengan Kai yang sok perhatian." Sehun mengerutkan hidungnya.

"See, aku salah lagi." Kai terkekeh. Sehun membalikkan badannya menghadap tubuh telanjang Kai.

"Aku ingin melakukan sesuatu tapi tak tau apa."

"Kau bosan? Kau ingin kuajak jalan-jalan?" Kai mengusap tangan Sehun.

"Ide bagus." Sehun mengangguk.

"Baiklah aku akan bersiap-siap."

"Aku akan menunggumu di bawah."

"Jika Brenda melihatku hanya dengan celana dalam, mau ditaruh dimana mukaku?" Kai menggerutu pada dirinya sendiri sambil berjalan keluar kamar Sehun. Sehun hanya tertawa kecil mendengar nada Kai.

.

.

.

.

.

.

Musim panas adalah musim yang paling dicintai 95% manusia di bumi. Matahari akan terbit lebih lama, suhu akan meningkat dan orang-orang akan mengadakan pesta kebun. Tidak jarang orang-orang akan berenang di laut pada malam hari karena suhu air laut yang dingin dan menyegarkan dan suhu udara yang sejuk adalah kombinasi yang baik.

Sehun dan Kai memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman di pusat kota. Jam digital di tangan Kai menunjukkan pukul 20.10 p.m.

"Apa kau tidak malu berjalan bersama seorang wanita pincang yang hanya merepotkanmu?" Kata Sehun. Kai membungkukkan badannya agar bisa mendengar suara Sehun lebih jelas.

"Mengapa kau berhenti?" Sehun protes karena Kai yang tiba-tiba berhenti. Kai menghadapkan tubuh Sehun kehadapannya.

"Apa kau tau bahwa kau sangat cantik?" Kai membelai rambut Sehun.

"Tanpa riasan dan dengan kaki pincang?"

"Sekali lagi kau mengatakan hal buruk tentang dirimu, aku akan menciummu sekarang juga." Sehun memundurkan tubuhnya selangkah.

"Bukankah itu kenya-" Kai membungkam bibir Sehun dengan bibirnya. Ia menggerakkan bibirnya pelan. Sehun membelalakkan matanya. Ini memang bukan ciuman pertama mereka, tapi kali ini mereka melakukannya di tempat umum. Kai mengecap bibir bawah Sehun pelan. Sedangkan Sehun masih berada dalam keadaan kaget.

"Aku tidak main-main dengan perkataanku Sehun." Kai menyeringai saat menatap sepasang mata indah itu.

"Kau gila. Kita di tempat umum." Sehun mendorong tubuh Kai agar minggir dan berjalan menuju sebuah bangku taman di depan air mancur.

"Hei Sehun, apa kau tak pernah berniat membalas ciumanku?" apa Sehun pernah berkata bahwa urat malu Kai telah putus? Karena ya, Sehun ingin mengatakannya lagi.

"Kecilkan suaramu!" Sehun mendelik pada Kai. Ia berjalan cepat menuju bangku itu dan duduk dengan wajah masam.

"Jawab aku Sehun." Kai berbisik tepat di telinga kiri Sehun. Sehun menjauhkan kepalanya karena merasa geli.

"Apa yang harus aku jawab?" Sehun memusatkan pandangannya pada rumput-rumput di kakinya.

"Apa membalas ciumanku sangat sulit?" Suara Kai merendah. Aroma maskulin Kai tercium oleh Sehun. Salah satu aroma kesukaannya.

"Aku bukan mahluk tanpa urat malu sepertimu Kai. Dan jawaban dari pertanyaanmu bagiku sangat pribadi." Kai memutar matanya.

"Jawabanmu sedikit manyakiti hatiku." Kai menyentuh jantungnya.

"Kau memiliki Hati?" Sehun menolehkan kepalanya menghadap Kai dengan pandangan menyelidiknya. Kai terkekeh melihat ekspresi Sehun. Ia mengecup bibir Sehun singkat.

"Kau tak bisa melihatnya Sehun, tapi jika kau ingin tau aku bisa menceritakan kepadamu apa yang ada dalam hatiku." Sehun mengangkat satu alisnya.

"Wanita yang tidur denganmu malam itu?" dan Kai tersedak ludahnya.

"Berapa kali harus aku katakan bahwa dia bukanlah orang yang spesial bagiku."

"Lalu siapa yang ada di hatimu?"

"Aku pikir aku sedang tertarik dengan seorang wanita yang memiliki kepribadian yang sangat menarik. Ia sedikit galak dan aku menyukainya. Beberapa minggu terakhir ia membenciku dengan seluruh hidupnya. Dan aku merasa sangat kosong. Tapi anehnya, wanita itu semakin memenuhi tiap ruang hatiku meskipun ia sangat membenciku." Kai menggenggam tangan Sehun.

"Aku baru saja menyadari sesuatu." Sehun tak berani memandang Kai.

"Katakan."

"Kau pria yang penuh dengan kata-kata manis. Tak heran wanita itu terpikat olehmu." Kai mengerutkan dahinya. Ia berusaha menciptakan suasana romantis dengan kata-kata tapi Sehun dengan baik membelokkan prediksinya.

"Sehun mengapa kau senang sekali membahas wanita itu? Apa kau menyukainya?"

"Menyukainya pantatku? Dia menyiramku dengan anggur." Sehun menaikkan suaranya.

"Bisakah kita berbicara tentang kita berdua? Aku tak pernah berhubungan dengan wanita itu lagi dan aku tak tertarik." Kai merangkul bahu Sehun agar posisi mereka semakin dekat.

"Kau sangat pintar menghalau suasana-suasana yang aku ciptakan." Kai megecup pelipis Sehun.

"Karena kau menyebalkan."

"Benarkah? Aku harap aku bisa mengartikan itu sebagai pujian." Kai tersenyum bangga. Sehun memperhatikan senyuman itu. Rahang yang semakin tegas karena tertarik oleh senyuman itu seolah menantang untuk dibelai. Tawaan rendah itu selalu memberi kesan maskulin yang kental. Sehun tak berkedip. Ia menikmati pemandangan indah di hadapannya.

"Apa kau terpesona kepadaku?" Kai menarik dagu Sehun mendekat.

"Kepercayaan dirimu sangat tinggi tuan Kim."

"Kau benar." Kai memandang bibir merah muda Sehun lekat. Jelas sekali bahwa ia sangat ingin segera merasakan bibir manis itu lagi.

"Dan kau pantas mendapatkan ini."

Tukk.. Sehun menggigit rahang Kai dan menegakkan posisi duduknya.

"Aww.. kau berani sekali?" Kai kembali menarik Sehun dalam pelukannya dan menggelitiki wanita itu.

"HAHAHAH.. Kai berhenti!" Sehun terawa keras karena gelitikan Kai.

"Kau berani menggigitku, aku tidak akan berhenti!" Kai terus menggelitiki Sehun dalam pelukannya. Sehun tak kehilangan akal. Saat lengan Kai mengalungi leher dan bahunya, dengan sigap Sehun menggigit lengan itu.

"Aaww.. Sehun baiklah baiklah aku berhenti. Jangan menggigit terlalu keras!" Kai melepaskan pelukannya pada Sehun dan mengaduh karena taring Sehun menancap dikulitnya.

"Aku tidak pernah berbohongkan bahwa taringku tajamkan?" Sehun melepaskan gigitannya.

"Ahh.. sakit sekali." Kai meringis dan mengecek kulitnya. Ada bekas gigitan dengan lekukan dalam di lengannya.

"Lemah sekali, aku bahkan tidak menggunakan banyak tenaga."

"Kau hampir melubangi tanganku?!" Kai menunjukkan wajah skiptisnya.

"Jangan-jangan kau bukan jelmaan mermaid tapi jelmaan buaya!"

"Aaawww.. Sehun! berhenti menggigit!" Kai kembali merasakan gigitan Sehun di lengan bagian lain. wanita ini memang mengagumkan bukan?

.

.

.

.

.

.

Sehun POV.

Hari-hari setelah kami berbaikan berlalu dengan cepat. Aku memutuskan memberi Kai kesempatan kedua. Alasannya membuat pikiranku kembali kacau. Kata-katanya penuh dengan penekanan. Ternyata selama ini bukan hanya aku yang memberikan batas, ia juga. Meskipun cara kami berbeda. kalau begitu apa aku menyukai Kai? tidak. Aku akui Kai adalah pria yang sangat menarik, dari segi penampilan maupun kepribadian. Ada atau tidak adanya Kai bagiku sama saja. Kami hanya takut terjatuh pada lubang yang sama.

"Nona Sehun, apa anda ingin saya temani jalan-jalan?" Aku mendengar Brenda menyapaku dari arah dapur.

"Apa kau sibuk Brenda?" Aku membalikkan tubuhku dari grand piano yang beberapa minggu terakhir ini jarang aku mainkan.

"Tugas saya sudah selesai. Dan tuan Kim mengatakan untuk mengajak anda jalan-jalan jika saya memiliki waktu luang." Ide bagus.

"Jalan-jalan ide yang bagus. Tapi aku tak ingin ke pusat kota atau ke taman. Aku sering mengunjungi tempat-tempat itu bersama Rick."

"Lalu apa anda ingin ke pantai?" Hell no!

"Tidak Brenda. Aku memiliki trauma dengan pantai. Dan aku sangat membenci tempat itu."

"Ahh begitu ya. Lalu bagaimana dengan panti asuhan?" Panti apa?

"Panti asuhan?" akan jadi sangat aneh jika aku bertanya apa itu panti asuhan. Aku langsung menarik ponselku dan berpura-pura memainkannya. Dengan cepat aku mengetikkan apa itu panti asuhan di google dan hasil pencarian itu keluar kurang dari satu detik.

"Iya nona. Panti asuhan yang dikelola oleh tuan Kim." Whaaattt? Orang sepertinya memiliki yayasan sosial? Tidak terbayang sekalipun olehku.

"Woww sangat tak terduga. Aku pikir ia tipe manusia yang tak peduli dengan oranag lain."

"Tipe manusia? Penggunaan bahasa anda lucu sekali." Brenda terkekeh karena kalimat spontanku.

"Aku pikir itu ide begus."

.

.

.

.

.

.

Kami sampai di halaman yayasan sosial yang didirikan Kai. Cukup luas untuk menampung 35 anak-anak yatim piatu. Letaknya lumayan jauh dari Malibu. Satu setengah jam dengan perjalanan mobil.

"Tuan Kim biasanya mengunjungi yayasan ini hanya saat hari-hari perayaan saja. Seperti saat tahun baru dan natal. Mengingat jadwalnya sangat padat. Anak-anak disini sangat mengidolakan tuan Kim." Saat ini aku dan Brenda sedang berjalan memasuki bagunan rumah besar ini.

"Mengidolakan? Memangnya dia artis?" Kata mengidolakan terlalu tinggi untuk seorang Kim Kai.

"Bukan, tapi tuan Kim adalah role model yang tepat untuk mereka. Pekerja keras, baik hati, dan tampan." Kami memasuki bangunan rumah itu. Aku melihat banyak anak-anak berumur tujuh tahunan sedang bermain ayunan. Mereka sangat menggemaskan.

Beeppp..

"Ada delapan pengasuh di rumah ini. Mereka sangat ramah." Tepat setelah Brenda menyelesaikan perkataannya, pintu itu terbuka. Wanita paruhbaya berdiri dengan senyuman mengembang.

"Brenda?!" ia dengan segera memeluk Brenda erat.

"Bagaimana kabarmu?"

"Baik terima kasih. Bagaimana kabarmu dan anak-anak?" Brenda terlihat sangat akrab dengan wanita ini.

"Kami semua baik-baik saja. Kau membawa seseorang yang belum kami kenal, siapa wanita cantik ini?"

"Nama saya Sehun. Salam kenal." Aku memberikan tanganku pada wanita itu.

"Nama yang indah. Saya Elya."

"Nona Sehun adalah kekasih tuan Kim. Jadi aku berniat mengenalkan nona."

"Benarkah? Aku senang mendengar tuan Kim memiliki kekasih. Anda cantik sekali nona." Ekspresi terkejut Elya membuatku ingin tertawa. Ia terlalu berlebihan sungguh. Ia bahkan memelukku sangat erat.

"Ahh maaf nona, saya terlalu senang." Aku hampir saja jatuh.

"Masuklah nona, saya akan mengenalkan anda dengan panti ini." Ruang tamu ini terbilang sederhana. Ruangan luas yang hanya berisi satu set sofa dengan meja dan sebuah almari buffet besar yang penuh dengan foto-foto penghuni panti. Aku mengerti banyak anak-anak disini, jadi mungkin mereka membuat ruangan yang luas dengan perabotan yang sederhana agar anak-anak bisa bermain dengan leluasa.

"Saya akan memanggil pengasuh yang lainnya." Elya memanggil pengasuh lain. Dan sesi perkenalan kembali terjadi. Brenda benar, mereka sangat ramah. Dan ekspresi mereka saat Brenda mengatakan bahwa aku adalah kekasih Kai sungguh epik. Dengan antusias mereka menyambutku, menyuguhiku dengan berbagai kukis dan makanan kecil. Pengasuh disini memiliki peran penting untuk anak-anak. Mereka adalah ayah dan ibu disaat bersamaan. Aku kagum. Di duniaku, kami tak memiliki hal seperti ini. Sangat menarik.

"Apa ini Kai?" Aku terawa kecil saat melihat foto-foto itu. Ia mengenakan kostum santa untuk menghibur anak-anak. Ada karung besar yang penuh dengan hadiah di belakangnya. Dan yang membuat aku tertawa adalah, anak kecil yang sedang ia gendong menarik kumis palsunya hingga penyamarannya terbongkar. Ia sedang tertawa lepas. Tampan.

"Foto ini diambil sekitar tiga tahun lalu. Semua orang tertawa saat itu."

"Apa ia selalu datang dengan kostum santa?"

"Ya pada awalnya, dan penyamarannya selalu terbongkar karena anak-anak mulai menyadari bahwa itu bukan santa yang sesungguhnya." Elya tertawa saat mengenang memori indah itu.

"Aku tidak tau Kai menyukai anak-anak." Aku memandangi semua foto itu satu persatu. Mereka terlihat bahagia. Anak-anak itu menyukai Kai. Senyuman-senyuman lugu itu terlihat menggemaskan.

"Tuan Kim selalu senang dengan anak-anak. Saat disini beliau akan bermain dengan anak-anak bahkan beliau mau mendongengi anak-anak sampai mereka tertidur."

"Aku ingin berkeliling." Elya dan beberapa pengasuh lainnya mengantarku berkeliling rumah ini. ruangan pertama adalah ruang bermain para balita. Ruangan yang penuh dengan mainan dan buku-buku. Aku melihat ada kolam mandi bola di ujung ruagan, anak-anak pasti sangat menyukai ruangan ini.

Dan selanjutnya adalah kamar tidur mereka. Ada lima ruangan yang berfungsi sebagai kamar tidur. Ranjang bersusun itu tertata rapi memenuhi ruangan ini. Ada yang berantakan dan ada yang rapi. lalu kami menuju ke dapur. Aku melihat ada banyak sayuran di atas meja.

"Kami memiliki kebun di belakang. Lahan itu kami tanami berbagai sayuran dan buah-buahan." Aku mengintip dari jendela dapur ke arah luar. Ada beberapa anak panti yang sedang memanen hasil kebun mereka.

"Apa mereka sudah makan siang?" aku menunjuk pada anak-anak yang sedang berkebun itu.

"Kami baru saja selesai makan siang sebelum nona berkunjung. Apa nona ingin mencicipi masakan kami?" apa aku harus menerimanya? aku tidak tau yang mana yang terlihat sopan, menerima makanan ini atau menolak dengan alasan sudah makan? Tapi aku benar-benar sudah makan.

"Sebenarnya aku sudah selesai makan dengan Brenda. Tapi jika kalian menyiapkan sesuatu aku tidak akan ragu menerimanya." Apa jawabanku masuk akal?

"Saya memasak sup labu hari ini. Anak-anak menyukainya." Sup apa?

"Ini nona, silahkan mencoba." Pengasuh lain bernama Lydia menyiapkan sebuah mangkuk kecil dengan cairan berwarna oranye untukku. Aku duduk di meja makan. Rasanya tidak buruk. Aku menyukainya.

"Ini sungguh lezat. Brenda bisakah kau lain kali memasakkan yang seperti ini untuk aku dan Kai?"

"Tentu saja nona."

Tur singkat kami berhenti di sebuah kamar yang berisi lima ranjang bayi. Apa yang terjadi dengan mereka?

"Kalian juga menerima bayi-bayi ini?"

"Iya, mereka adalah anak-anak dari orang yang tidak mampu. Kami menampung mereka." Aku menggoyangkan ranjang bayi itu agar si bayi tertidur lelap. Aku menyadari sesuatu, tidak semua manusia kaya dan memiliki uang.

.

.

.

.

.

.

Author POV.

"Jadi kau berkunjung ke panti hari ini?" Kai mengusap kepala Sehun pelan. Mereka sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton tv. Sehun berselonjor di atas sofa dan bersandar di dada Kai.

"Ya, mereka menyambutku dengan baik." Sehun memejamkan matanya, ia selalu menyukai belaian Kai pada rambutnya.

"Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka."

"Mereka juga mengatakan itu. Kau tau Elya adalah pembuat sup yang handal." Kai terkekeh dengan kalimat Sehun.

"Aku percaya, sup labunya adalah kesukaanku."

"Benar! Tadi ia menyiapkan semangkuk untukku dan kurasa aku menyukainya."

"Kau lebih menyukai sup labu dari pada aku?" Sehun terdiam.

"Mengapa kau selalu berbicara ke arah situ?" Sehun menyundul dagu Kai pelan.

"Karena aku ingin kau menyukaiku."

"Aku telah menyukaimu. Sekarang berhenti mengarahkan semua pembicaraan kesana. Mengerti?" Kai terkejut dengan kalimat Sehun. Ia mengganti posisinya hingga setengah menindih tubuh Sehun dan mulai mencium bibir wanita cantik itu. Sehun terkejut karena Kai yang tiba-tiba mencium bibirnya. Tapi kemudian dia bisa mengendalikan ekspresinya.

Kai menggerakkan bibirnya dan menghisap bibir Sehun. Dengan otomatis Sehun mengalungkan tangannya ke leher Kai. Merasa diberi ijin, Kai semakin bersemangat. Ia menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan agar lebih leluasa mencicipi Sehun. Kai menggigit bibir bawah Sehun dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Sehun. Gerakan pelan dan memabukkan selalu menjadi ciri khasnya. Sedangkan Sehun, ia hanya diam sambil menikmati belaian-belaian pada rongga mulutnya.

Brruukk.. Sehun dan Kai menghentikan kegiatan mereka dan menoleh ke sumber suara. Brenda bediri disana dengan vacuum cleaner yang terjatuh ke lantai.

"Ah ma-maaf mengganggu. Saya se-sedang emm.." Brenda terlihat salah tingkah karena memergoki keduanya sedang berciuman.

"Aku mengerti Brenda. Kerjakan pekerjaanmu. Kami akan berhenti." Kai berdiri dan duduk di samping Sehun seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Sehun, wajahnya memerah. Ini sungguh memalukan baginya. Brenda melewati mereka dan berjalan menjauh.

"Sehun telingamu memerah." Kai berbisik pada telinga Sehun.

"Fuck you."

"Kau sungguh menggemaskan." Ia mengecup pipi merah itu sekilas.

"Sehun, kita harus kontrol. Kita tak pernah mengunjungi dokter lagi setelah bertengkar."

"Benar. Tapi Kai, aku merasa kakiku jauh lebih baik. Sudah tidak terasa sakit saat aku menggerakkannya. Kau tau aku sembuh lebih cepat dari manusia biasa jika pikiranku jauh dari wujud asliku. Aku pikir bertengkar denganmu sangat membantu proses penyembuhanku."

"Jika begitu menurutmu, maka kita harus mengunjungi dokter berbeda tiap kali kontrol dan memberika informasi seolah kau telah mengalaminya lebih lama." Kai memijat lehernya.

"Aku setuju denganmu."

"Aku akan menghubungi dokter lain kalau begitu."

.

.

.

.

.

"Keadaan kaki nona Sehun sudah membaik. Tulangnya sudah mulai menyatu. Tapi anda masih belum boleh berjalan tanpa tongkat. Saya sarankan untuk mengunjungi fisioterapi agar kesembuhan anda semakin cepat." Kai dan Sehun sedang berada dalam ruang praktek dokter.

"Kira-kira berapa lama lagi hingga saya sembuh total?"

"Kurang lebih tiga bulan. Jika anda mengunjungi fisioterapi."

"Terima kasih dokter. Saya sudah membuat janji dengan fisioterapi langganan kami."

"Baiklah, kalau begitu saya akan membuatkan janji untuk kontrol anda nona. Dua minggu lagi."

"Saya pikir anda tidak perlu melakukannya dokter. Kami akan pindah ke New Orleans beberapa hari lagi. Dan saya juga sudah menghubungi dokter disana." Sehun mengangguk menyetujui perkataan Kai.

"Aa baiklah. Kalau begitu semoga anda cepat sembuh nona." Dokter itu menjabat tangan Sehun. kemudian Kai berdiri dan menjabat tangan dokter itu.

"Terima kasih dokter."

"Sama-sama tuan." Mereka berjalan keluar ruangan praktek dokter muda itu. Kai menggenggam tangan kiri Sehun. Semua orang yang berpapasan dengan mereka menyempatkan diri untuk mencuri pandang. Pria tampan yang sedang mengantar kekasihnya yang cantik ke dokter. Tidakkah itu sangat romantis?

"Kita tidak benar-benar akan pindah ke New Orleans kan?" Tanya Sehun saat mereka berada di dalam mobil.

"Tidak. Kau tertarik pindah ke sana?" Kai menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya menjauh dari rumah sakit.

"Jika aku ingin pindah apa kau akan melakukannya untukku?"

"Tidak. Pekerjaanku disini dan aku tak mungkin meninggalkannya. Tapi aku bisa membawamu kesana untuk berlibur." Kai memperhatikan jalanan di depannya. Satu hal yang ia sadari, Sehun sudah tidak banyak bertanya tentang keadaan jalan raya seperti saat pertama kali mereka bertemu. Mungkin karena ia telah mengenal internet dan telah mengetahui banyak hal tanpa bertanya. Kata Kai dalam hati.

"Kapan kau akan mengajakku berlibur?" mata Sehun berbinar.

"Minggu depan aku akan mengambil jatah libur musim panas. Sebenarnya aku sudah merencanakan sesuatu untuk liburan kali ini. Tapi sepertinya beberapa hari di New Orleans bukan ide buruk."

"Apa yang bisa kita lakukan disana?"

"Tiap awal musim panas akan ada festival musik dan parade. Suasananya sangat berbeda dengan California. Aku yakin kau akan menyukainya."

"Kau membuat harapanku semakin besar." Sehun tersenyum membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan mereka lakukan disana.

"Kita akan bersenang-senang Sehun." Kai tersenyum. Ia memberhentikan mobilnya di sebuah tempat parkir bawah tanah di daerah pusat California.

"Kita kemana?" Tanya Sehun. Tapi Kai tidak menjawab. Ia segera berjalan ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Sehun.

"Apa kau ingat aku pernah berjanji akan mengajakmu ke bioskop?"

"Kita akan menonton film?" Sehun meninggikan suaranya. Ia sangat bersemangat.

"Aku telah memilihkan film untuk kita berdua. Kuharap kau akan menyukainya." Sehun menggoyang-goyangkan badannya karena sangat menyukai ide ini. Mereka berjalan langsung menuju theater dimana film itu akan diputar.

"Wooww.." Sehun kagum dengan banyaknya kursi yang tersusun melebar dan meninggi. Dinding-dinding berlapis busa biru itu membuat suasana bioskop semakin kental. Kai menuntun Sehun menaiki tangga dan menuju tempat duduk mereka.

"Apa kita tidak salah ruangan Kai? dimana orang-orang?" Sehun mengedarkan pandangannya tapi tak menemukan orang lain selain mereka berdua.

"Aku memesan theater ini hanya untuk kita."

"Mengapa?"

"Agar kau lebih leluasa." Kai memandang lurus ke layar besar yang tertutup tirai.

"Maksudmu?"

"Mereka akan berteriak dan melakukan hal-hal yang menyebalkan Sehun. Dan aku yakin kau tidak akan menyukainya. Begini lebih nyaman." Sehun mengangguk-angguk tanda setuju. Lampu teater meredup, dan tirai layar besar itu terbuka. Suara musik pengiring terdengar kencang dari speaker yang menempel di dinding.

"Ini sungguh keren." Sehun berkomentar. Selama pemutaran film Sehun terlihat sangat terbawa dengan alur cerita dan suasana yang tercipta. Sesekali ia akan berdecak sebal karena pemain utama yang bertingkah bodoh. Film yang Kai pilih rupanya sangat tepat. Sehun tak henti-henti menebak apa yang akan terjadi selanjutnya karena rasa penasarannya.

"Dia tampan sekali." Sehun berkomentar tentang pemeran pria yang sedang berolah raga tanpa mengenakan atasan.

"Badanku lebih seksi dari miliknya." Balas Kai.

"Bahunya sempit jika dibandingkan dengan ukuran kepalanya." Kai kembali melanjutkan komentarnya. Sedangkan Sehun, ia sama sekali tak menjawab Kai karena terbawa alur cerita. Adegan itu berubah menjadi lebih intim. Dimana sang pria dan wanita melakukan adegan ranjang. Tubuh mereka terlihat dengan jelas, kecuali bagian privat mereka. Suara desahan menggema di seluruh penjuru ruangan. Sehun mati gaya. Ia menutup mata dan telinganya. Kai terkekeh melihat reaksi Sehun yang menurutnya terlalu polos.

"Kau melewatkan bagian menariknya Sehun." Bisik Kai saat adegan itu selesai. Sehun tidak menjawab, tapi tangannya reflek mencubit paha Kai.

"Sakit!" Kai melepaskan cubitan itu.

"Makanya diamlah!" Sehun tidak menoleh ke arah Kai sama sekali hingga film itu selesai.

"Mengapa si aktor bodoh sekali sih?" Sehun mulai mengomel tidak jelas dalam mobil.

"Karena itu memang sudah menjadi perannya." Jawab Kai.

"Pemikirannya sungguh tidak logis. Mana mungkin sepasang kekasih hanya bertemu tiap hari Senin dalam seminggu dan tidak menaruh rasa curiga sama sekali?" Sehun terlihat sangat kesal.

"Ia curiga, makanya ia memutuskan untuk mengunjungi rumah si wanita." Sepertinya berdebat kecil dengan Sehun tidak ada salahnya. Jujur saja Kai merindukan perdebatan-perdebatan bodoh seperti ini.

"Tapi telat. Si wanita sudah menghilang. Ah entahlah." Sehun bersendekap.

"Yang penting film ini berakhir dengan happy ending Sehun." Kai mengusap kepala Sehun dan mengecupnya saat ia berhenti di lampu merah.

"Kau benar." Sehun menyentuh pipi Kai yang masih berada di sebelahnya. Kai sedikit terkejut dengan sentuhan Sehun, karena ini adalah inisiatif pertama Sehun selain mengalungkan lengannya ke leher Kai saat mereka berciuman.

"Kembali ke tempatmu. Lampunya sudah hijau." Kai terkekeh dan melajukan mobilnya.

.

.

.

.

.

.

Sehun memasuki kamar Kai karena ingin mengganti gaunnya dengan piama tidur. Kai tidak ada dalam kamarnya. Sehun mengedarkan pandangannya untuk mencari Kai, dan ia melihat cahaya terpancar dari celah bagian bawah pintu kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, Sehun tau pasti Kai sedang mandi.

"Ahh sedang mandi ya." Sehun berjalan kearah almarinya. Ia meraih sebuah setelan baju tidur berbahan sutra berwarna merah marun. Dengan cepat ia segera melepas gaunnya dan melemparkannya ke arah keranjang pakaian kotor. Sehun menarik pengait branya dan melepaskannya, lalu mengenakan celana pendek dan atasan tanpa lengan dengan potongan leher V rendah.

"Sehun?" Sehun menoleh ke sumber suara.

"Hai Kai." Kai keluar dari kamar mandi dengan bathrobe putih. Dada bidang yang tak tertutupi apapun itu terlihat. Kai berjalan mendekat kearah Sehun.

"Kemana tongkatmu?"

"Di kamar. Aku ingin berlatih berjalan tanpa tongkat. Percayalah tulangku sudah menguat." Sehun sedikit gugup entah karena apa.

"Dokter mengatakan kau belum boleh berjalan tanpa tongkat." Kai memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sehun.

"Aku tau. Aku hanya ingin mencoba." Sehun menyengir terpaksa karena keadaan canggung ini.

"Sepertinya aku harus segera kembali ke kamar." Sehun menyingkir dari hadapan Kai. Tapi dengan sigap Kai menarik Sehun dan menggendongnya seperti koala. Kepala mereka sejajar. Sehun mati kutu. Ia tenggelam dalam pandangan mata kelam itu.

"Aku akan mengantarmu." Kai menyangga pantat Sehun dan Sehun mengalungkan lengannya keleher Kai. Sehun meletakkan kepalanya diatas bahu Kai. Sedangkan Kai, ia sibuk memberi bahu telanjang Sehun kecupan kupu-kupu sambil berjalan keluar kamar.

"Selamat malam Brenda." Kai menyapa Brenda. Brenda terlihat kaget karena keadaan canggung ini. Sehun membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Kai.

"Selamat malam tuan dan nona." Brenda terkekeh kecil karena ini merupakan kedua kalinya ia menyaksikan mereka melakukan hal-hal intim khas sepasang kekasih. Kai berjalan melewati Brenda dan dengan otomatis Sehun berhadapan dengan Brenda.

"Aahh.. sangat memalukan." Sehun menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Kai. Kai tak bisa berbuat apapun melainkan tertawa rendah. Mereka bahkan bisa mendengar kekehan Brenda juga.

Kai memasuki kamar Sehun dan menutup pintunya kembali. Ia berjalan lurus ke ranjang Sehun dan menidurkan Sehun di atas ranjangnya.

"Yang barusan sungguh memalukan." Sehun menutup wajahnya.

"Hei, ini tidak seberapa dibandingkan yang kemarin." Kai meraih tangan Sehun dan mencium telapak tangannya.

"Jangan mengingatkanku." Sehun merengek.

"Apa kau baru saja merengek?"

"Tidak!" Sehun menyanggah pertanyaan Kai.

"Baiklah. Selamat malam. Tidurlah" Kai menarik wajah Sehun mendekat dan melumat bibir merah muda itu. Sehun tau ini akan terjadi. Hanya sebuah kecupan singkat. Kai menarik diri. Ia mengulum bibirnya sendiri seolah ingin merasakan bibir itu lebih dalam. Kai meletakkan tangannya dipinggang Sehun lalu ia kembali mendekat dan melumat bibir manis itu.

Sehun memejamkan matanya dan membawa tangannya meraih kerah bathrobe Kai. Perlahan ia menyandar pada kepala ranjang. Kai melumat bibir Sehun dalam. Bau nafas segar tercium dari keduanya. Sehun membuka mulutnya tanpa harus dipancing oleh Kai. Kai memasukkan lidahnya semakin dalam dan memaksa lidah Sehun untuk bermain dengan lidahnya.

Sehun menggerakkan tangannya keatas kepala Kai dan menekannya agar semakin dalam. Kali ini ia tak ingin menahan dirinya. Kai tentu saja senang karena Sehun mulai berani keluar dari kepasifannya. Ia menyeringai dari celah ciuman mereka. Ia menghisap lidah Sehun pelan, gesekan antara kulit lidah mereka memberikan rasa geli yang menyenangkan. Sehun mulai ikut menggerakkan lidahnya seiring dengan tempo yang Kai ciptakan.

Satu hal yang Kai sadari. Sehun lumayan baik dalam berciuman. Tidak ada gerakan kaku ditiap lumatannya. Setelah saling membelai lidah, Kai kembali melumat bibir merah Sehun. Sehun mengerti, saat Kai melumat bibir bawahnya maka ia akan melumat bibir atas Kai dan begitu sebaliknya. Mereka saling mencium, menghisap, membelai dan melumat bibir satu sama lain. Nafas keduanya memberat seiring dengan belaian yang Kai berikan di pinggang Sehun. Kai menarik ciumannya.

"You are impressinve." Kai membelai bibir merah yang sedikit membengkak.

"Kai.."

"Sebut namaku Sehun.." Kai mencium perpotongan leher Sehun. Lidahnya ikut melukis tiap alur yang ia ciptakan. Nafasnya keduanya memberat. Sehun menjambak rambut Kai untuk melampiaskan perasaannya. Kai kembali tersenyum dalam kecupan dan gigitan kecil yang ia berikan. Tangannya mulai meraba dada Sehun. Ia memberikan pijatan-pijatan kecil disana.

"Kaihh.."

Suara Sehun membuat nafsu Kai terbakar. Kai menggigit tali atasan Sehun dari bahunya dan menjatuhkannya ke lengan Sehun, hal itu membuat kain yang menutupi dada kanan Sehun melorot. Kai menyentuh dan memainkannya. Puting Sehun mengeras. Kecupan-kecupan itu berjalan semakin turun dan Kai melahap bagian tersensitif di tubuh bagian atas Sehun. Tangan kanan Kai memainkan dada kiri Sehun. Memijatnya pelan dan memainkan putingnya.

"Engghh.." tubuh Sehun melengkung kedepan. Sehun memandang apa yang dilakukan Kai pada dirinya. Entah mengapa ia beranggapan apa yang sedang ia lihat sekarang sangatlah seksi. Kai yang sedang membenamkan wajahnya di dada Sehun dan tubuh bagain atasnya yang telanjang seperti sebuah kombinasi yang baik. Kulit putih Sehun dan kulit coklat Kai menambah kesan sensual dalam kepala Sehun. Sehun membawa tangannya untuk membelai surai hitam Kai. Aroma menyenangkan menguar di sekitar mereka.

"Say my name Sehun." Suara rendah Kai membuat kulit Sehun meremang.

"Kaihh.."

Kai memindahkan lumatannya ke dada kiri Sehun. Sehun melihat puting kanannya memerah. Tidak, rasanya tidak sakit. Kai memainkan lidahnya di puting kiri Sehun. menghisap dan menggigitnya kecil. Sehun menegang. Nafas keduanya bersahut-sahutan. Sehun meremas tangan Kai yang sedang meremas dada kanannya. Ia melihat di sekitar puting kanannya terdapat bercak merah keunguan ciptaan Kai. Sehun bisa merasakan ada cairan kental yang keluar dari tubuh bagian bawahnya.

Kai menarik dari dan menatap keadaan Sehun.

"Sehun, aku.. maafkan aku. Aku akan berhenti jika kau menginginkannya."

"Tidak, aku tidak menginginkannya Kai."

.

.

.

.

.

TBC

HAHAHAHAHAHAHAHHAHAHA NGAKAKKKK...!

Chapter depan ya enaena-nya...

Anyway, Haloo readers.. ketemu lagi dichapter 6.

Baru update sekarang soalnya kemaren lagi sibuk ujian. Kaihun udah baikan tuh, mana udah berani gituan lagi..

Btw yang nanyain When the Love is Loved kapan lanjut, minggu depan aku lanjutin. Soalnya author pengen bikin chap Sea Diamond sama When the Love is Loved disamain. Trs yang minta sequel My Angel pasti author bikinin.

Ada beberapa readers yang tanya kenapa ff author nggak dipublish di wattpad sih? Jadi gini ceritanya, dulu author tu cm iseng aja nulis ff. Awalnya pengen bikin satu ff doang yang isinya max 7 chapter trs end, eh malah keterusan. Trs kenapa author milih ngepublish di ffn? Dulu sempet bingung jg sih, enaknya dipublish dimana. Entah gimana ceritanya akhirnya author ngepublish di ffn.

Author tuh dr dulu pngen nyelesein 1 ff aja sebenernya. Trs udah nggak main-main lagi. Seperti yang author bilang, author cm pemula. Tapi karena review-review kalian, author jadi semakin berani nulis dan sampek akhirnya terlahirlah ff kedua dan ketiga author. Dan keputusan author adalah...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author bakal publish semua ff author ke wattpad.

Id authoor diwattpad redaddict2

Author ttp akan lanjut disini juga kok. So stay tuned ;)

Mohon reviewnya teman-teman;)

Buat para shawol, author nggak tau harus bilang apa. Exo adalah boygroup pertama yang bikin author masuk ke k-pop, bukan shinee. tapi jauh sebelum exo debut, author udah denger tentang shinee. Bohong banget kalo ada kpopers yang nggak terpukul sama kejadian ini. Depresi emang nggak bisa disepelein. You've worked hard jonghyun. We love you.

Third Story Of Redaddict.