SAPPHIRE EYED BOY
.
.
.
.
Cast : XI LUHAN, OH SEHUN and other
.
.
.
.
Genre : Romance, Supernatural, Mistery, and Friendship
.
.
.
.
.
Warning : Boy x Boy ,typo bertebaran, kalimat tak beraturan dan abal-abal.
.
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
Pada dasarnya, mereka berdua bukanlah tipe yang suka memulai percakapan. Sehun adalah pribadi yang tak banyak berbicara dan Luhan masih tak mengerti bagaimana harus bersikap di depan seorang 'teman'. dalam hal ini, seorang teman yang masih bernafas.
Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Namun, pembahasan mereka hanya seputar kasus Sehun atau tidak sama sekali.
Bahkan pernah suatu hari mereka tak mengatakan apapun selain kata 'selamat pagi' dan 'sampai jumpa'. Meski begitu, bukan berarti hubungan mereka memburuk. Sebaliknya, di sanalah letak kenyamanan mereka satu sama lain.
Tapi hari ini berbeda, sunyi yang mereka ciptakan terasa lebih canggung dan kaku. Sejak percakapan dengan Luna berakhir, keduanya tak saling bicara lagi hingga mobil membawa mereka menjauhi perumahan kumuh tersebut.
Lalu lalang kendaraan lain adalah fokus tatapan Luhan, melirik lama pada hal yang sekiranya menarik untuk di pandang. Toko kue, taman bermain dan remaja pemberontak dalam gang. apapun, selama itu bisa mengalihkan pikirannya untuk sesaat.
Diam-diam Sehun akan melirik pada Luhan di sela kegiatannya bermain game ponsel. Melirik lagi dan lagi. Namun, pria itu terlalu asik dengan dunianya sendiri sehingga bahkan jika Sehun menatapnya hingga matanya terbakar pun, Luhan sama sekali tak menoleh.
"kau berfikir orang yang menemui Boa noona itu, aku?" Pada akhirnya dialah yang harus memulai jika tak ingin kecanggungan berlangsung selamanya.
Dia hampir melonjak kegirangan ketika Luhan memberi respon.
Pria berambut karamel itu melihat dari sudut matanya, sekilas melihat pergerakan Sehun yang tak banyak berubah, pria itu sedang menatap ponselnya yang sudah berlayar hitam.
"aku tak meragukan kejeniusanmu" Luhan bergumam, kemudian menatap pada jalanan, lagi.
Sehun menghela nafas dan menaruh ponselnya ke dalam saku "kau curiga padaku?"
Melirik lagi, Luhan memutuskan untuk menoleh dan menghadap padanya "aku tidak akan masuk ke dalam mobil seseorang yang tidak aku percaya"
"tapi, aku merasa kau sedang tak percaya padaku, saat ini"
Dari sudut matanya, Luhan menemukan supir Sehun meliriknya sesekali dengan pandangan aneh dari kaca, sama sekali tak berupaya untuk menyembunyikannya meski luhan terang-terangan melihat. Jika dia tak dalam kondisi curigaan pada apapun dan menganggap segala sesuatu adalah angin lalu, Luhan pasti hanya akan menganggapnya sebagai emosi jengah biasa yang sering seorang bawahan perlihatkan jika tuannya di perlakukan tak baik. Namun, dia menemukan saat ini berbeda. Ada sesuatu yang lain dari tatapan supir itu padanya, yang menekan Luhan untuk bersikap waspada.
Karena itulah, dia meminta Sehun menurunkannya di sebuah taman kecil di pinggir jalan. Sehun sempat ingin menolak dan mengatakan matahari akan segera tenggelam dan dia harus mengantarkan Luhan pulang. Tapi setelah Luhan memberinya tatapan tanpa kedip, pria OH itu akhirnya mengalah dan ikut turun bersamanya.
Bias cahaya orange mewarnai taman mini yang sepi, papan luncur yang kering dan bedebu menjadi teman bermain dedaunan gugur, angin sepoi bergoyang bersama rumput yang pecah terinjak. Ayunan berderit pelan ketika Luhan menumpukan berat sepenuhnya pada benda gantung itu, di susul oleh Sehun di sisinya.
Mobil terparkir jauh dari mereka seperti yang Luhan harapkan.
"sehun-ssi, aku memang tak sepenuhnya percaya padamu saat ini dan kau pasti tau dengan jelas alasannya"
Sehun mengangguk tanpa menoleh.
"kalau begitu, buat aku percaya padamu"
Pria yang lebih muda mengangkat alis kemudian menoleh dan menemukan Luhan juga tengah menatap padanya intens dari balik tali ayunan "jika aku mengatakan pria itu bukan aku, apakah kau akan langsung percaya?"
Gelengan pelan "kau bisa mulai dengan memberitahuku sesuatu tentang ayahmu" katanya.
Sehun menatap datar "kau mencurigai ayahku" sedatar nada suaranya.
Tak menggeleng dan mengangguk "lebih tepatnya, aku penasaran" Luhan mendorong tubuhnya kebelakang kemudian melepaskan tumpuan, dan meluncur bersama ayunan dengan mata terpejam "tentang di mana Boa noona dan yang lainnya di sembunyikan? Kenapa? Dan mengapa ayahmu bertindak sangat biasa dengan keadaanmu saat ini" ayunan berhenti dengan satu tumpuan kaki "aku melihatnya, dia membayar polisi yang menangkap Boa noona dan meminta mereka tutup mulut atas kasus itu"
Tak ada yang terlewat dari mata sapphire yang menyorot tajam. debu tipis yang melintas, riak angin tak berwujud, hantu taman yang bermain seluncuran. Tidak juga raut terkejut yang menghilang dalam sedetik.
Luhan merekam semuanya dengan jelas dan dia tau, Sehun cukup cerdas untuk menyadari tatapan menuntutnya.
"kau menemukannya terlalu cepat" Sehun memutuskan kontak mata "ayahku takkan menyukaimu karena ini" ucapanya.
"tak di sukai seseorang adalah keahlianku"
Sehun tersenyum tipis dan merapikan rambutnya yang tersapu angin pelan "keluarga kami harus terlihat sempurna tanpa cacat apapun. Pedoman itu adalah yang keluargaku genggam sejak dulu, tak peduli bagaimana pun buruknya keadaan di dalam rumah besar keluarga Oh, hal itu tak boleh sampai menjadi konsumsi media massa" di menggoyangkan pelan ayunannya dan menerawang ke langit "satu persatu orang-orang kepercayaan ayahku adalah yang menyerangku tanpa sadar, dan jika berita ini menyebar, perusahaan saingan akan sadar bahwa seseorang yang jenius tengah memecahkan pertahanan keluargaku dan memanfaatkannya untuk keuntungan mereka" Sehun menghela nafas "di mata orang lain, mungkin tindakannya ini terkesan mengorbankan keselamatannku untuk perusahaan, tapi bagiku, dia sedang menyelamatkanku dengan caranya sendiri. Dia menyembunyikan orang-orang yang terlibat karena tak bisa percaya pada mereka lagi, dia juga memecat semua pelayan dalam rumah sebelum mereka tau ada sesuatu yang salah. meski itu menyebabkan ibuku yang tak pernah memasak seumur hidupnya harus melukai tangannya dengan pisau dapur setiap harinya dan ayahku menelan semua makanan gosong itu tanpa keluhan dan aku harus memecahkan banyak barang ketika membersihkan kamar sendiri" Sehun mendengus kesal, mengingat bagaiman dia menjadi korban ceramahan panjang hanya karena memecahkan vas bunga kecil di dalam kamarnya.
Luhan mengangkat alis, jadi makanan gosong yang selalu Sehun bawa adalah buatan ibunya. karena itulah pria itu tak pernah membuangnya meski sudah makan makanan dari Luhan dan tetap menghabiskannya secara perlahan.
Tiba-tiba saja dia merasa iri. dirinya pun, meski makanan itu berisi racun, dia tetap akan memakannya jika yang membuatnya adalah tangan ibunya.
"Boa noona juga bekerja untuk ayahku, dia adalah bodyguard yang mengawasiku di dalam sekolah" di bawah bayang-bayang gelap tiang ayunan, Luhan menampilkan wajah yang cukup terkejut "dan sebenarnya, yang mengantarku ke sekolah hari ini adalah ayahku, dia mengemudi sendiri" Sehun menoleh "aku tidak tau apakah ini bisa membuatmu percaya padaku atau tidak, tapi hanya sebatas ini yang bisa aku beritahu padamu"
Luhan tak tersenyum, dia menatap jauh ke depan "bagaimana dengan supirmu itu?"
Sehun mengikuti arah pandangannya "aku punya orang kepercayaanku sendiri"
"ayahmu tau tentang dia?"
"dia pasti sudah tau sekarang" dia memainkan rerumputan di bawah sepatunya "aku berniat mempertahankannya meski ayah tak setuju"
Luhan mengangkat alis "kau terdengar seperti kekasih yang tak direstui"
"aku juga melakukan hal yang sama untukmu" Sehun tersenyum tipis, tapi Luhan tak mendengar perkataannya itu karena Sehun memang hanya menggumamkannya tipis-tipis.
"dia terus menatapku dengan aneh sejak tadi" Luhan menggerutu.
Kali ini Sehun benar tertawa "aku yakin dia sedang menodongkan senjata padamu dari dalam mobil saat ini"
"dia membuat supir kim berteriak padaku setiap kali dia mengganti posisi bidikannya" dia berkata seperti itu, tapi dia tersenyum.
"namanya chen, kau akan menyukainya jika mengenalnya lebih baik"
"sebaliknya, dia takkan menyukaiku" Luhan berdiri dan merenggankan otot lengan "kita pulang sekarang atau dia benar-benar akan menarik pelatuknya, itu kata supir kim padaku"
Sehun mengangguk dan mengikuti langkah Luhan untuk meninggalkan taman "aku akan menganggap ini sebagai kepercayaan" mereka berjalan berdampingan "aku berharap kau tak meragukanku lagi"
"aku akan mempertimbangkannya jika kau mulai memanggilku hyung mulai saat ini" Luhan menyeringai dalam hati ketika Sehun berhenti melangkah dan menatapnya horror.
"dari mana kau tau?"
"apa?"
"tentang usiaku—ahhhh sialan, apa mereka masih membahas tentang itu secara terang-terangan" berdecak-decak, Sehun mengacak rambut ravennya.
Luhan melirik ke samping dan menemukan supir kim sedang memohon-mohon padanya agar tak memberitahu bahwa dialah pelakunya.
"mereka siapa maksudmu?"
"gadis-gadis itu" sehun berdecak "aku takkan terkejut jika kau mendengar dari mereka"
"lihatlah sikapmu itu, kau memintaku untuk percaya tapi kau bahkan berniat menyembunyikan usiamu yang sebenarnya padaku"
"b-bukan seperti itu, aku hanya ingin kau memperlakukanku layaknya pria seumuran" dia memerah dan Luhan hampir tertawa "ahhhhh,,, baiklah...L-Luhan hyung, aku akan memanggilmu seperti itu mulai sekarang"
Luhan tersenyum manis "Sehun-ah" yang di panggil namanya membeku dengan jantung berlari. Astaga, suara Luhan sangat lembut ketika menyebut namanya dengan cara seperti itu "aku adalah seseorang yang memiliki banyak keraguan dalam hidupku, karena itu, aku takkan menjanjikan apapun. tapi untuk saat ini, aku punya banyak keperacayaan padamu"
Sehun mengangguk pelan, jawaban Luhan bukanlah hal yang dia inginkan. namun, bukan jawaban yang buruk. Karena itu, untuk saat ini, dia takkan mempermasalahkannya dan memilih bungkam.
Luhan menatap dalam diam ketika sehun masuk ke dalam mobil sedangkan dirinya bergeming di ambang pagar taman.
"hari ini sampai di sini saja, kau tak perlu mengantarku pulang" katanya, ketika sehun menatapanya dengan tanya dari dalam.
Sehun mengeryit dan mengeluarkan kepala dari jendela "jangan bercanda, daerah ini sangat jauh dari rumahmu dan kau tak membawa kendaraan apapun" dia baru akan keluar dan menyeret Luhan masuk ketika sebuah sepeda motor melaju cepat dan berhenti tepat di belakang mobilnya.
dia adalah Suho, pria yang waktu itu menatapnya tajam di rumah Luhan, dan sekarang dia pun mendapatkan pandangan yang sama meski hanya sejenak sebelum pria itu tersenyum lembut dan menyapa Luhan dengan suara yang sangat sama lembutnya.
Hingga saat ini, Sehun masih penasaran dengan hubungan yang mereka miliki, tapi dia masih belum berani bertanya.
"pulanglah, aku punya kendaraan sekarang" Luhan bersuara.
Sehun menoleh, menatap keduanya bergantian dengan keryitan yang lebih dalam. Dan dia bingung, bagaimana bisa pria itu tau bahwa mereka berada di sini. Dia bahkan tak melihat Luhan menatap ponselnya sejak mereka meninggalkan cafe, jadi sangat tidak mungkin jika Luhan yang memanggilnya.
Luhan yang menyadari tatapan itu dari Sehun, mendekat dan berkata "kau mungkin tak meyadarinya. Tapi, bukan hanya aku yang mendapatkan bidikan pistol" Sehun mengeryit "kau juga memilikinya, sejak kita keluar dari cafe"
Sehun membelalak, dia menatap suho sejenak dan menyesali perbuatannya kemudian karena pria itu lagi-lagi melempar tatapan mengerikannya "jadi dia mengikuti kita sejak tadi?" dia berbisik sangat pelan hingga Luhan takkan mengerti jika tak melihat gerakan bibirnya.
Luhan mengangguk "jika aku jadi kau, aku pasti akan pergi sekarang juga" ucapnya.
Dan selanjutnya, Sehun memang melakukan apa yang barusan Luhan katakan. dia meninggalkan keduanya di depan taman setelah merasakan tatapan tajam yang di tujukan padanya semakin membakar.
.
.
.
.
.
Sehun sampai di rumah ketika hari menjadi gelap, dan dia menemukan mobil ayahnya terparkir rapi di depan rumah. Akhir-akhir ini ayahnya memang pulang lebih cepat, bahkan jika ada pekerjaan yang membuatnya lembur, dia akan pulang untuk makan malam kemudian pergi lagi dan berusaha agar pekerjaannya tak membuatnya tidur di luar rumah.
Ayahnya pasti lelah dengan itu, namun, Sehun juga takkan melarang karena dengan begitu ibunya juga takkan kesepian karena mereka kini hanya hidup bertiga di rumah besar itu.
Dulunya, ketika Sehun masuk ke dalam pagar, beberapa pelayan akan menyapanya denga ceria tapi sekarang hanya ada sunyi dan bunga yang bergoyang.
Rumah tak pernah sesepi ini namun juga terasa hangat, bau hangus dari dapur tercium hingga ke ruang tamu mengundang senyuman lebar dari bibirnya. Entah apa yang ibunya hanguskan kali ini, karena baunya benar-benar menyengat.
Dia mengucap salam denga lantang, dan ibunya membalas dari dalam dengan setengah terbatuk. Asap tipis mengepul dari pintu dapur ketika dia mendekat dan dia tertawa-tawa kecil ketika menemukan ibunya meraung jengkel sambil meyiram wajan yang kini berbau gosong dan tak menyisakan makanan layak untuk di telan.
"ibu, masak ramen saja, atau kau akan meledakkan dapur" Sehun memeluk dari belakang dan megecup pipi ibunya yang penuh dengan noda hitam.
"diam kau, atau kugorengkan kodok gosong" balas wanita itu dengan suara melengking.
Sehun tertawa "aku dan ayah akan sangat menikmatinya" katanya jenaka. Dia melepas pelukannya dan berlari ketika ibunya hampir melemparnya dengan wajan.
"naik dan ganti baju, kemudian panggil ayahmu turun, dia pasti akan tertidur di kamar mandi jika tak di peringatkan" teriaknya.
Tidur dalam kamar mandi adalah kebiasaan ayahnya jika sudah kelelahan, karena itulah, pria baya itu tak pernah mandi jika tak memiliki siapapun di sisinya atau dia akan membunuh dirinya sendiri karena tenggelam dalam bak mandi atau mati kedinginan.
Sehun memanjat tangga dengan cepat, nyaris berlari, dia menyempatkan menoleh ke arah dapur ketika berada di depan kamar kedua orang tuanya. Dia sudah menunggu kesempatan ini, untuk memeriksa ponsela ayahnya. Ingatkan, dia perlu ponsel ayahnya untuk menemukan letak ponsel supir kim.
Kamar sedang kosong dan tak terdengar suara apapun dari kamar mandi, yang membuktikan bahwa ayahnya memang sedang nyenak.
Dia mengendap-endap berjalan di sekitar kamar, matanya tajam mengelilingi tempat-tempat yang umumnya menjadi tempat untuk meletakkan sebuah ponsel. mulai dari meja nakas samping ranjang, kemudian laci, lalu meja kerja dan di beberapa tempat lainnya.
Namun tak satupun dari tempat itu yang memberinya hasil. dalam pikirannya, ponsel itu mungkin ada di kamar mandi bersama ayahnya dan dia tak ingin mengambil resiko karena ayahnya adalah pria yang cukup peka ketika tertidur.
Dia telah memutuskan untuk menyerah dan mencari di hari lain ketika sebuah getara pelan dari sofa menarik perhatiannya, cahayanya yang terang membias dari saku jas yang tersampir di sana, seperti sinyal SOS yang berkedip-kedip.
Sehun hampir berteriak kegirangan ketika benda elektronik yang sejak tadi ia cari kini bergetar seolah ikut berbahagia di tangannya.
Tak menunggu lama, dia segera mengutak atik dan membuka file maupun aplikasi apapun yang dia temukan.
Keluarganya memang berada di bidang otomotif, namun dalam beberapa kondisi, ayahnya juga menciptakan beberapa alat keamanan untuk keluarga secara priabadi. Dan selama beberapa hari terakhir, sehun mempelajarinya secara diam-diam dari buku-buku ayahnya di meja kerja.
Hingga dia merasa bisa menguasainya dan mampu membuka file tersembunyi apapun di dalam ponsel ayahnya.
Jantung berdetak cepat dan keringat yang mengalir bak air hujan, Sehun merasa dia telah menjadi pencuri di dalam rumahnya sendiri, yang mana tak pernah dia lakukan sebelumnya. Dia sangat sadar bahwa tindakannya saat ini akan segera ketahuan oleh ayahnya, bagaimanapun, Sehun tau bahwa di salah satu sudut kamar itu—yang tak Sehun tau terletak di mana—ada CCTV yang merekam semuanya, namun hal itu akan menjadi urusan belakangan setelah dia menemukan jasada supir kim dan mendapatkan petunjuk tentang siapa penyerangnya.
Dia tak bisa membiarkan orang gila itu terus menekannya dan menyebabkan orang-orang di sekitarnya terkena imbas di saat dia bahkan tak tau apa dan kenapa orang itu menyerangnya.
Sehun hanya merasa itu tak adil.
Dia tersenyum puas ketika tak lama kemudian dia berhasil menemukan fitur aplikasi yang ayahnya sembunyikan sangat apik. Sehun sempat kesulitan menemukan sandinya, tetapi tetap berhasil dia buka.
Benar saja, di dalam terdapat banyak nama staf, mulai dari yang sehun kenal hingga yang tak bisa dia baca namanya karena berukiran asing.
Dia menemukan nama supir kim setelah cukup jauh menggulir ke bawah. Ketika dia menyentuh nama itu, gambar dalam ponsel segera berubah menjadi petak-petak yang di sebut dengan peta dengan satu titik merah yang tak bergerak.
Sehun memperbesar daerah di mana titik itu berada, semakin dekat dan lebih besar gambarnya. Detakan jantung Sehun semakin menjadi, bukan karena pacuan andrenalin akibat mengutak atik ponsel ayahnya tanpa izin, tapi karena lokasi titik merah dalam peta sangat familiar.
Tidak, bukan lagi familiar karena lokasi itu menunjukkan letak rumahnya, tepat di tempat dia berpijak saat ini.
Dia menelan ludah kasar, tangannya gemetar ketika memperbesar petanya yang kini bergambar kondisi detail rumahnya. Dalam hati, dalam kepanikan, Sehun masih sempat berdecak kagum dengan kemampuan ayahnya menciptakan benda canggih seperti ini. Entah mengapa tak di pasarkan.
Semakin lama, sehun merasa semakin dekat namun jantungnya seperti akan meninggalkan rongga dada.
Benar saja, ketika lokasi ponsel supir kim jelas, sehun bisa merasakan tarikan nafasnya sendiri yang tak juga dia lepas hingga hampir semenit.
Astaga...ponsel supir kim ada di dalam kamar itu.
Di sebelah kanan, di samping ranjang, tepatnya di dalam tas hitam yang terletak di atas nakas.
Sehun menoleh ke daerah itu.
Dan menemukan tas kesayangan ibunya di sana, di posisi yang sama.
Tidak mungkin, bagaimana bisa ibunya memiliki benda itu. Aplikasi pelacak ayahnya pasti sedang error kan?
"SEHUN-AH...TURUNLAH BERSAMA AYAHMU"
Berjengit dengan teriakan ibunya, Sehun meletakkan ponsel ayahnya ke tempat semula kemudian berlari tanpa suara ke arah tas tangan yang di tujukan peta tadi.
Dia hanya perlu memastikan bahwa lokasi itu salah agar bisa mencari di tempat lain, atau dia akan kepikiran kejadian ini sepanjang hari.
Gemetaran di tangannya sedikit membuatnya kesulitan ketika menarik zipper, hingga memakan waktu hampir semenit. Dia Menatap ke dalam tas dengan singkat dan hampir dengan mata tertutup, dan berniat menutupnya lagi.
Namun dia juga tak bisa mengabaikan apa yang dia temukan meski hatinya terus berteriak bahwa ini salah.
Ponsel berwana hitam yang sama persis dengan yang Luhan gambarkan ada di dasar tas, mencolok karena tak ada barang apapun selainnya di sana.
Sehun tak ingin percaya, tapi benda itu sangat nyata di tangannya yang licin karena keringat.
"SEHUN-AH"
Suara ibunya terdengar dekat dari sebelumnya.
Sehun berlari keluar setelah menutup tas kembali dan memasukkan ponsel temuannya dalam saku.
Mereka bertemu di depan pintu "ayah sangat sulit di bangunkan" sehun bersuara sangat gugup dan berharap ibunya tak menyadari itu "ibu saja yang membangunkannya lalu makan malamlah duluan, aku masih merasa kenyang" setelah mengatakan itu dengan cepat, dia melangkah hampir berlari ke arah kamarnya dan membanting pintu.
"ada apa dengannya? Dia seperti baru saja melihat hantu" wanita paruh baya itu menggumam sebelum masuk ke dalam kamar.
Gemetara di tubuhnya belum berhenti, sungguh. Rasa tak nyaman karena baju yang basah oleh keringat tak lagi dia pedulikan, tatapannya fokus pada ponsel hitam di tangan, menatapnya sangat lama hingga matanya perih.
Tidak mungkin. Kenapa ibu memiliki ponsel supir kim. Tidak mungkin. Apakah ibunya terlibat. Tidak mungkin. Tidak mungkin, tidak mungkin.
Hanya kata-kata itu yang menjadi penopangnya agar tak berteriak saat itu juga.
Sehun menjatuhkan tubuh ke ranjang, berguling dan menutup mata dan berharap kejadian ini hanya mimpi, dia bahkan lupa bahwa saat ini dia masih memakai seragam dan terlelap.
.
.
.
T.B.C
.
.
.
SEE YOU NEXT CHAP
DONT FORGET TO REVIEW
