KHR belong to Amano Akira sensei

I just own OC and story.

Rate K+ till T (SU = semua umur)

.

.

.

"Yang lebih dulu memasukkan satu serangan, dia yang menang!" Squalo memberi aba-aba untuk Yamamoto dan Hibari. "Mulai!"

.

Trak! Kedua pedang kayu langsung beradu. Hari ini mereka latihan kendo bersama Squalo. Laki-laki berambut perak sepinggang berdarah Italia itu tampak mengamati gerak-gerik kedua muridnya dengan tenang. Yamamoto menyerang, Hibari menangkis begitu pula sebaliknya. Tak ada yang mau mengalah sehingga pertarungan berlangsung alot. Tsuna, Gokudera dan Lirina memilih jarak agak jauh karena tak mau kena imbas. Kyoko, Haru menyemangati keduanya yang sedang duel. Hana memilih bersantai sekaligus jaga apartement setelah lelah berenang, hanya kedua anak perempuan ini yang masih punya semangat melihat latihan rutin di dojo keluarga Yamamoto.

.

Beberapa anak SMA, SMP dan SD dari sekolah lain juga bergabung dengan latihan hari ini juga menonton pertarunan keduanya dengan antusias. Jarang-jarang Yamamoto mau meladeni Hibari bertarung. Akhirnya pertarungan berakhit dimenit ke 10 setelah Serangan Yamamoto berhasil dipatahkan dan digunakan Hibari untuk mementalkan pedangnya. Yamamoto mengangkat tangannya setelah pedang Hibari terancung ke wajahnya.

.

"Ah..., kau kalah." Lirina mendengus pelan, kini gilirannya yang maju melawan Gokudera.

"Maaf, setiap pertarungan kan pasti ada pemenangnya. Selamat berusaha!" ujar Yamamoto saat akan kembali ke sisi groupnya.

.

Pertarungan yang sama alotnya dengan Hibari dan Yamamoto. Haru dan Kyoko menyemangati Lirina sementara Tsuna kebingungan mau menyemangati siapa karena keduanya adalah sahabatnya akhirnya meneriakkan nama Gokudera.

.

"Tenang saja Tsuna, aku pasti menang!"

"Jangan lengah!" Lirina langsung menyerang Gokudera yang sedang lengah.

"Pemenangnya Lirina!"

"Hei, kau curang!" Gokudera mencak-mencak.

"Salahmu sendiri lengah!"

"Aku tidak lengah!"

.

Kali ini duel berlanjut dengan aksi kejar-kejaran antara keduanya. Teriakan Squalo tak digubris mereka baru berhenti setelah Hibari mencegat mereka dan mengancam akan menggantung terbalik keduanya di halaman dojo.

.

"Rin, ayo pulang!" seru Haru pada anak berambut pendek yang tengah mengenakan sepatunya setelah mandi.

Hampir semua anak telah pulang, Yamamoto memutuskan membantu ayahnya sebelum warung tutup. Gokudera dan Tsuna juga sudah bersiap pulang, Hibari masih belum kelihatan.

.

"Kalian duluan saja, aku masih ada urusan dengan Kyouya."

"Hahi? Kau tak takut digigit?"

"Ahahaha, dia tak pernah menggigitku, paling menjitakku."

"Hie, bukannya itu sama saja?"

"Terserah, aku segera pulang. Aku juga mau menunggu Takeshi."

"Ya sudah, kami duluan ya." Kyoko mengamit tangan Haru yang tampak bersiap melucurkan pertanyaan lagi. "Biarkan saja."

"Mou~ baiklah."

.

Alis Hibari terangkat saat melihat sosok anak perempuan yang kini duduk manis di bangku panjang ruang ganti laki-laki sambil memangku ranselnya. Seperti biasa, cengiran selalu menghiasi wajahnya membuat Fuukiincou Namimori merasa anak itu sudah terinfeksi Takeshi Yamamoto (emangnya dia virus?).

.

"Lama sekali mandinya? Kau berenang di dalam sana?" tanyanya dengan senyum usil.

"Aku bukan Herbivora. Apa maumu sekarang?" skylark itu tak peduli, ia merebut ranselnya dan melempar seragam kendonya pada Lirina.

"Aih, bau keringat!"

"Cerewet!"

"Apa ada yang terjadi padamu?" tanpa sebab musabab pertanyaan itu meluncur dari mulut gadis itu, membuatnya ditatap dengan tajam oleh Hibari. "Kau aneh sekali sejak tadi siang. Reflekmu juga agak lambat."

"Sok tahu, kalau begini aku yakin kau anak paman Fon."

"Maaf deh kalau aku tak mirip ayah, yang membesarkanku kan bukan keluargamu."

"..." Hibari terdiam.

"Pertanyaanku belum dijawab." desak Lirina yang kini sudah berdiri dihadapannya.

"Sebelumnya aku yang akan bertanya, apa jika aku meminta nyawamu kau akan memberikannya?" pertanyaan apa ini?

"Apa kau kesal karena aku merubah nama keluargaku? Karena aku menolak tinggal dirumah utama keluarga Hibari? Kau seharusnya mengerti, aku tak mungkin meninggalkan kakak yang sudah merawatku selama ini. Ak-" belum sempat Lirina menyelesaikan kata-katanya dia sudah mendapati dirinya merapat di dinding dengan kedua tangan Hibari mencengkram erat kedua lengannya.

"Dia bukan kakakmu dan kau bukan berasal dari Gesso! Kau itu seorang Hibari, Lirina Hibari dan yang seharusnya menjadi kakakmu itu aku, bukan dia!" nafas Hibari terengah- engah, ini pertama kalinya ia kehilangan kontrol emosi karena kemarahan yang dipendamnya beberapa tahun belakangan.

"Jangan hanya menyalahkanku, kau sendiri yang menolakku saat aku kembali ke Jepang. Kau bersikap seolah-olah aku orang asing karena itu aku hanya bersikap sebagi temanmu."

"Karena kau memang sudah seperti orang asing dimataku." sahutnya dingin, Lirina tersenyum miris.

"Jika aku tak peduli lagi padamu untuk apa aku terus mengikutimu? Aku melakukan apa yang kau inginkan. Paling tidak aku tak pernah menolakmu seperti yang kau lakukan padaku, Kyouya-nii..."

"Kau bukan adikku lagi..." ia meremas bahu anak perempuan itu tanpa peduli akan bisa mematahkannya atau meninggalkan bekas memar "Pergi..."

.

Tanpa menunggu perintah kedua, Lirina melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti. Tak di sangka Takeshi sudah menunggu di depan gerbang dojo dengan menenteng sushi dari kedainya.

.

"Mana Kyouya-kun?"

"Dia tak mau diganggu."

"Oh..." Untungnya Yamamoto bukan tipe yang banyak tanya meski dalam kepalanya anak itu tahu ada yang tidak beres.

.

Lirina duduk di atas pagar balkon di kamarnya. Dulu dia biasa menghabiskan waktu bersama Hibari Kyouya saat mereka masih SD. Dulu tubuh Hibari agak lemah namun seiring waktu dia mulai menjadi orang yang kuat hingga seperti sekarang. Saat itu juga Hibari lebih ramah padanya, tidak pernah sok ngeboss atau kasar seperti sekarang. Saat naik kelas 6 sifatnya makin dingin dan puncaknya saat masuk SMP, dia sungguh menganggap Lirina sebagai anak buah yang bisa diperintah seenaknya.

.

"Lirina..." ia menoleh pada pemilik suara yang kini berdiri di pintu kamarnya sambil membawa sepiring sandwich dan kroket.

"Takeshi..."

"Aku bawakan makanan."

"Aku belum lapar..." sahutnya tanpa menoleh.

"Bibi Lavina sengaja membuatkan ini kalau-kalau kau lapar tengah malam nanti."

"Apa dia marah?"

"Tidak. Dia pikir kau tak nafsu makan karena kesal pada Byakuran-nii." katanya seraya meletakkan piring yang di bawanya di meja belajar.

"Setengahnya iya." Lirina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Yamamoto duduk di sebelahnya.

"Kau baik-baik saja? Apa ini karena Kyouya-kun?"

"Dia marah...padaku. Padahal seperti apapun aku menganggunya dia tak pernah semarah itu. Auranya kacau, wajahnya juga lebih pucat dari biasanya."

"Kenapa aku tak perhatikan ya? Menurutku wajahnya sama seperti biasa, memang sih dia agak lambat tapi kukira itu karena kurang istirahat."

"Dia merahasiakan sesuatu dariku." Lirina menghempaskan tubuhnya di tumpukan bantal besar yang ada di karpet kamarnya. Bantal yang suka dia gunakan untuk tiduran saat nonton tv. "Selain itu Kyouya-nii juga membenciku..."

"Sudahlah, mungkin ini memang tak harus kau tahu." Yamamoto juga ikut duduk di sebelahnya kemudian menyalakan televisi.

"Bagaimanapun juga aku kan masih ada hubungan darah dengannya...dia kan kakak sepupuku..."

"Paman Fon pasti kesal melihat kalian seperti ini."

"Jangan bawa-bawa ayahku! Lagian dia takkan marah hanya karena anak dan keponakannya berkelahi. Ayahku kan lebih penyabar dari paman Alaude."

"Memangnya kau ingat ayahmu seperti apa?"

"Mana aku ingat, usiaku kan baru 1 tahun waktu kedua orangtuku meninggal. Aku tahu tentang mereka dari paman Alaude dan kakak."

"Hoh, tapi aku kaget sekali saat tahu kau dan Kyouya-kun itu saudara. Kukira kau membuntutinya tanpa kenal takut karena sudah bosan hidup atau kau-"

"Heeeiii, jangan berpikiran negatif ya!" Lirina memukul punggung Yamamoto dengan cukup keras hingga anak berambut cepak itu berjengit kesakitan walau masih tertawa.

"Ahahahaha,a-aduh! Kau ini makin kuat ya!"

"Makanya jangan macam-macam!" ancaman yang setengahnya dengan nada bercanda. "Meski dia jadi dingin padaku itu tak selalu kok. Terkadang dia baik padaku."

"Kau itu lebih cocok kalau seperti ini, melihatmu murung itu sungguh merusak mata."

"Huh, kau mulai seperti kakakku dan Kikyo-san saja."

"Hehehehehe, jangan lupa kalau aku memang pantas kau panggil kakak."

"Kakak yang cengengesan? Melihatmu aku jadi lapar."

"Eh, kau mau memakanku?" kata Yamamoto dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat, Lirina memutar matanya karena candaan garing sahabatnya.

"Katakan lagi, aku sungguh akan membuatmu jadi dendeng." ancamnya dengan nada bosan.

"Ahahahaha! Makanlah, kau itu harus makan banyak supaya tinggi!"

"Nga puas-puas ya ngejeknya?"

.

.

.

Tanpa diketahui siapapun, kini Hibari telah berdiri di depan pintu apartement Lirina dan Byakuran. Ia menatap tajam nama yang tertulis didepan pintu, Byakuran Gesso dan Lirina Gesso. Padahal satu setengah tahun lalu masih tertulis Byakuran Gesso dan Lirina Hibari. Sejak nama keluarga Lirina diganti, tak pernah sekalipun Hibari mau menginjakkan kakinya ditempat ini. Namun hari ini untuk kedua kalinya ia mendapati kakinya membawanya kemari. Ia bisa mendengar tawa anak-anak dari dalam tapi tak terdengar tawa Lirina, mungkin sedang mengurung diri di kamar? Bisa dibilang Hibari hafal semua kebiasaan 'mantan' sepupunya itu.

.

"Kenapa kau lebih memilih orang asing dibanding keluargamu sendiri?"

.

~Flashback~

.

"Mau apa kau terus mengikutiku?" Hibari membentak anak yang terus membuntutinya sejak pagi.

"Rin mau sama Kyouya-nii! Rin mau disukai Kyouya-nii!" sungguh ucapan anak yang masih sangat lugu dan polos, pipinya yang cubby membuat skylark itu ingin mencubitnya. Tapi yang namanya Kyouya Hibari, meski masih anak kecil tetap saja ja-im.

"Aku benci perempuan lemah dan cengeng yang hanya bisa menangis dan berlindung di belakang orang dewasa dan laki-laki."

"Kalau begitu Rin akan jadi kuat! Rin tak mau dibenci Kyouya-nii atau menyusahkan Byakuran-nii! Kalau bisa Rin akan mengalahkan Kyouya-nii!" serunya langsung sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

"Berhenti menyebut dirimu dengan nama."

"Ri-eh... Aku...akan berusaha!" kalau yang ini mungkin agak susah, itulah yang ada di batin Hibari.

"Aku tak suka orang bodoh."

"Eh...,Ri- engh...aku kan tidak bodoh. Lihat sajah, a..ku pasti akan lebih pintar dari Kyouya-nii!" tuh kan, logat cadelnya saja masih ada.

.

Hibari tak bisa melepaskan tatapannya dari tubuh mungil dan mata coklat yang ada dihadapannya. Meski menyandang nama Hibari, anak perempuan ini hanya mewarisi rambut lurus dan halus khas Hibari dari sang ayah, Hibari Fon. Wajah, mata, sifat dan gerak-geriknya adalah tiruan sempurna dari sang ibu yang orang turunan Jepang.

.

"Yang terakhir adalah..."

"Apa? Apa?"

"Aku ingin kau-" namun sayang kata-katanya terputus karena seruan seseorang.

"Lirina, sebentar lagi kita berangkat ke bandara!" seru Byakuran dari halaman depan kediaman Hibari.

"Tak bisakah tunggu dulu?"

"Ini sudah hampir terlambat." Pemuda bersurai putih itu dengan enteng mengangkat tubuh mungil Lirina ke bahunya. "Nant kita ketinggalan pesawat."

"Kyahahahaha! Tinggiii!" anak itu bersorak girang.

"Makanya kau harus rajin minum susu! Nah, ayo ucapkan sampai dadah pada Kyouya-kun."

"Eehh? Bye-bye Kyouya-nii!" Hibari tak membalas salam itu. "Ri- eh, Aku pasti segera pulang dan mengalahkan Kyouya-nii!"

"Memangnya kalian janji apa?"

"Itu rahasia! Pokoknya Rin- auhhh! Aku akan rajin belajar dan jadi kuat!" semangatnya berapi-api, sepertinya dia belum sadar kalau itu bukan hal gampang.

"Itu bagus, itu baru adikku!" puji pemilik surai albino sambil menepuk pelan kepala anak yang baru berusia 4 tahun itu.

"Hehehe..."

.

Mereka tak menyadari sepasang mata kelabu menatap keakraban mereka dengan penuh amarah. Bahkan setelah taksi yang ditumpangi mereka menghilang dia masih ada di sana, terpaku sambil berbisik lirih. Sebuah bisikan yang berisi hal yang tak pernah bisa disampaikan.

.

"Aku ingin...kau tetap tinggal bersama kami dan berhenti memanggilnya kakak..."

.

.

.

.

.

"Lirina, apa kau sudah mengerti apa maksudnya merubah nama keluarga?" tanya Sakura Hibari, istri dari Alaude yang merupakan ibu Hibari Kyouya pada keponakannya yang baru berusia 9 tahun.

"Aku tahu bibi. Tapi ini sudah jadi keputusanku, Kakak juga sempat tanya tapi aku sudah putuskan akan masuk keluarga Gesso."

"Sebaiknya kau pikirkan lagi, sekali kau ubah namamu maka sama dengan keluar dari rumah ini."

"Sejak awal aku dan ayah memang tak tinggal disini kan, paman Alaude. Ayahku meski masih menyandang nama Hibari, dia hidup mandiri diluar."

"Tapi kau masih anak-anak, meski hak asuhmu ada pada Reborn dan Luce, juga kau dititipkan pada Byakuran kau tetaplah seorang Hibari." Sakura masih berusaha menyakinkan tapi tampaknya tekad anak ini sudah bulat.

"Jika aku tinggal disini, kakak akan sendirian. Aku tak mau dia kesepian. Toh kalian punya Kyouya-nii, sedangkan kakak hanya punya aku."

.

4 tahun tak bertemu, mereka langsung mengenali satu sama lain saat berpapasan di ruang guru. Anak itu bahkan masih ingat semua janjinya agar bisa bersaing dengan Hibari. Hibari yang saat itu baru saja pulang sekolah hanya bisa mematung saat mendengar pembicaraan mereka. Anak dari almarhum pamannya yang baru saja resmi masuk kesekolah yang sama bahkan kelas yang sama dengannya ingin mengganti nama keluarga dengan nama orang yang tidak pernah disukainya.

.

"Aku kira harus pulang sekarang sebelum ge-" mata mereka bertemu saat Lirina membuka pintu geser dari ruang tamu bergaya Jepang Klasik. Keduanya terdiam, begitu pula kedua orang dewasa yang itu. "Kyouya-nii sudah pulang..." anak itu tersenyum padanya seakan tak terjadi apa-apa.

"Jangan pernah memanggilku begitu lagi jika kau memang memilih meninggalkan keluarga ini! Kau bukan adikku lagi!"

"Kyouya Hibari!" namun Hibari tak menggubris teguran Alaude.

"Keluar! Jangan pernah kembali ke rumah ini orang asing!"

"Aku mengerti... Paling tidak kita masih bisa jadi teman." Senyum masih setia menghiasi wajahnya, sebuah senyum sedih. Mulai hari itu hubungan persaudaraan mereka telah berakhir. Hanya teman, teman sekolah, sekadar kenalan? Paling tidak Lirina terus berusaha agar bisa selalu sejajar dengan sang skylark muda, menjadi sahabat yang akan mengikutinya dari belakang. "Meski begitu...suatu hari aku ingin bisa kembali menjadi adikmu, Kyouya."

.

~Flashback end~

.

Hibari mengeluarkan sebuah amplop putih dari sakunya, entah apa isinya tapi raut wajah fuuki inchou Namimori itu mengeras. Amplop itu lecek karena digenggam dengan erat. Penuh emosi lembar putih itu menjadi berkeping-keping karena disobek menjadi bagian kecil dan terbang tertiup angin.

.

.

.

To be continue.