This Is Not Cinderella Story (Chapter 6)

Taeyong mengusap keringatnya sambil menunggu air untuk supnya mendidih. Di luar cuaca boleh dingin, tapi di dalam sini sangat panas. Tubuhnya ia sandarkan pada meja dapur, lelah. Sulit sekali bekerja sesuai keinginan ibu Jaehyun. Perfeksionis. Satu kata itu yang bisa menggambarkan ibu Jaehyun dalam urusan masak-memasak. Pantas saja masakan Jaehyun bisa seenak yang dirasakannya kemarin. Pasti ia dilatih secara spartan oleh ibunya.

"Sudah kau potong semua sayuran dan dagingnya?"

Sekali lagi ibu Jaehyun menyambangi dapur. Sebenarnya Taeyong sudah cukup lega tadi karena nyonya besar itu lebih memilih menunggu anaknya pulang di ruang tamu, tapi saat ia datang ke dapur lagi, Taeyong kembali diserang gugup.

"Su-sudah nyonya..."

Ibu Jaehyun melihat-lihat potongan sayur yang dibuat Taeyong, lalu berdecak. "Potongannya masih kurang halus. Berikan pisaunya padaku. Biar kutunjukkan yang benar bagaimana."

Taeyong menyerahkan pisau dapur pada ibu Jaehyun yang diterimanya dengan gerakan anggun- "Eomma! Jangan bunuh Taeyong-hyung!"

Dua orang di dapur menoleh saat suara laki-laki yang terdengar panik menginterupsi kegiatan mereka.

"Eomma… Jangan bunuh Taeyong-hyung, kumohon..." Jaehyun menghampiri dua orang itu dengan napas terengah. Sementara dua orang yang dihampiri menatapnya bingung.

"Siapa yang mau kubunuh anak nakal!" Tangan ibu Jaehyun siap melayang dengan pisau masih dalam genggamannya.

"Eomma, pisaunya, pisaunya… taruh dulu..." Jaehyun melindungi kepalanya dari tangan ibunya yang berbahaya. Ibu Jaehyun meletakkan pisau, memberi isyarat pada Taeyong untuk melanjutkan memasak dan menjewer Jaehyun sembari menyeretnya ke ruang tamu.

Johnny yang baru muncul tak lama kemudian menyapa ibu Jaehyun singkat sebelum beranjak ke dapur. "Sudah bertemu ibu Jaehyun?" tanya Johnny pada Taeyong. Melihat senyum garing Taeyong, sedikit banyak Johnny paham apa yang terjadi. "Yah, ibu Jaehyun memang begitu. Maklumi saja."

Taeyong mengangguk-angguk paham. Ia mulai memasukkan sayuran untuk supnya selagi bertanya, "kalian sungguhan tak jadi pergi main ski?"

"Menurutmu? Kami tak mungkin meninggalkanmu terjebak di sini bersama...nenek sihir." Johnny sengaja membisikkan dua kata terakhirnya. Setelahnya Johnny terkekeh dan mulai mendekati Taeyong untuk melihat apa yang dimasaknya.

"Kau sedang masak apa?" Masakan Taeyong telah menjadi salah satu makanan favorit Johnny, jadi ia selalu mengantisipasi itu.

"Sup daging dan sayuran."

"Mmm... Kelihatannya enak. Tapi jangan tersinggung ya kalau ibu Jaehyun tak mau memakannya. Dia sangat sensutif soal rasa masakan."

"Ya, aku tahu." Taeyong sudah mengalaminya sendiri ngomong-ngomong. "Ng, Johnny?"

"Yes?"

"Aku mau tanya sesuatu soal...mm…"

"Apa? Soal mengapa aku sangat tampan hari ini?" Asal Johnny, ia berusaha bercanda karena Taeyong tampaknya masih ragu untuk bicara.

"Ish, bukan! Aku hanya penasaran, apa benar Jaehyun sudah… punya tunangan?"

"Kenapa?"

"Eh? Kenapa? Maksudmu?"

"Kenapa kau ingin tahu?" Taeyong terkejut dengan pertanyaan Johnny, belum lagi ekspresi wajahnya yang tiba-tiba berubah serius.

"Ya, karena... ingin tahu saja. Kau tak mau jawab juga tak apa. Aku tidak benar-benar penasaran." Taeyong urung ingin tahu lebih jauh, sepertinya memang itu bukan urusannya untuk tahu. Taeyong berpaling pada masakannya, namun Johnny memegang lengannya memaksanya berbalik lagi menghadap Johnny.

"Apa kau khawatir Jaehyun memiliki tunangan? Apa itu membuatmu tak suka?" Sedikit menuntut, Johnny tak bisa menahan dirinya untuk menanyakan ini.

Melihat ekspresi wajah Taeyong yang kembali terkejut lalu berubah sendu membuat Johnny merasa kekhawatirannya menjadi nyata. Taeyong memiliki perasaan pada Jaehyun? Apakah ia cemburu?

"Ti-tidak... Aku hanya... Maafkan aku karena lancing." Taeyong memalingkan wajahnya. Mulutnya bisa berkata tidak, tapi mata jernihnya mengatakan lain. Johnny tahu sekali itu, karena selama ini diam-diam ia selalu mengamati Taeyong.

Menyadari Taeyong yang tampak tak nyaman, Johnny melepaskan pegangannya dan mengendurkan suaranya. "Tak apa. Aku juga tidak tahu. Memangnya kau dengar dari mana Jaehyun punya tunangan?"

"Ibunya mengatakan padaku, tunangan Jaehyun akan datang sebentar lagi." pelan Taeyong, mulai menguasai dirinya lagi.

"DEMI APA?!" Ingin mengumpat, Johnny tahan sebisa mungkin karena sedang berada di depan Taeyong. Sepertinya yang di ruang tamu pun tidak berbeda jauh keadaannya.

"Eomma! Yang benar saja! Eomma tidak bisa memutuskan sepihak begitu."

"Apa maksudmu sepihak, Jaehyuni? Eomma sudah mengatakan kalau kalian akan menikah, setelah dia lulus kuliah. Eomma harap kau tak lupa janjimu pada eomma."

"Eomma... Tapi tidak seperti ini caranya. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik. Bagaimana mungkin aku menikahi adikku sendiri?"

"Berhenti beralasan Jaehyun. Yerim bukan adikmu dan akan menjadi istrimu kelak. Belajarlah untuk mencintainya. Kau tahu 'kan tak ada yang tak bisa kau lakukan kalau kau mau belajar."

"Eomma..."

"Sekarang, persiapkan dirimu, Yerim akan datang sebentar lagi."

Jaehyun ingin berdebat lebih jauh, tapi ia tahu tak ada gunanya berdebat sekarang. Ia harus mencari cara lain kalau ingin lolos dari perjodohan konyol ini.

Sementara itu di dapur, Taeyong memandang heran Johnny. Ia dan Johnny memang mendengar pembicaraan Jaehyun dan ibunya barusan. Tapi reaksinya tidak seheboh Johnny.

Johnny terus-terusan mengumpat setelah mendengar percakapan tadi. Ia sudah tak peduli lagi soal mengumpat di depan Taeyong. Taeyong tak tahu saja, di dalam dirinya, Johnny tengah berperang batin. Apakah ia harus prihatin atau justru senang?

.

.

"Hhhh…" Mark menghela napas setelah melihat sesuatu di handphonenya.

"Ada apa?" tanya Donghyuk yang memang selalu berada di sekitaran Mark.

"Taeyong hyung bilang, jangan pulang ke apartemen dulu hari ini."

"Kenapa?"

"Tidak tahu. Hyung tidak bilang detailnya, tapi katanya sedang ada masalah dan akan lebih runyam kalau aku pulang."

"Lalu kau akan pulang ke mana?"

"Ke mana lagi..." Mark menatap Donghyuk memelas.

"Ke rumahku? Menginap di rumahku? Yeaaayy!" Donghyuk mengguncang-guncang bahu Mark saking senangnya. "Karena malam ini malam minggu, ayo main game semalaman!" Donghyuk berkata dengan antusias. Kelewat antusias sebenarnya karena ia mulai mendaftar apa-apa saja yang ingin dilakukannya bersama Mark nanti malam.

"Sebelum pulang, kita beli snack dulu yang banyak. Tenang saja aku yang traktir!"

Mark memutar matanya malas. "Lee Donghyuk. Jangan berlebihan deh, sudah bertemu denganku setiap hari juga."

"Ya, tapi 'kan kalau di rumah aku kangen Mark~" Donghyuk merajuk manja dengan gaya centilnya. Tak lupa tangannya menggelayuti lengan Mark

"Aigoo... Sepertinya kau perlu ke dokter."

"Waeee? Aku sehat-sehat saja!"

"Jiwamu yang tidak sehat."

"Ck. Serius deh, mau main game semalaman tidak? Kuajak Jeno dan Jaemin sekalian, nih."

"Eh, tidak usah!" Mark cepat-cepat mencegah Donghyuk yang hampir saja menuju meja duo-J itu.

"Heung?"

"Aku tak suka kalau ramai-ramai. Kita berdua saja cukup." Jawab Mark pelan, tapi penuh penekanan. Donghyuk agak terkejut sebenarnya mendengar kalimat Mark itu, tapi sebuah senyum jahil telah terkembang di bibirnya.

"Eiiii... Apa ini?" Donghyuk dengan sengaja menyenggol Mark, senyum jahilnya semakin menjadi. "Kalau mau berduaan saja dengan Donghyuki bilang, tak usah malu-malu begitu. Hahaha..." Donghyuk tertawa keras sekali, puas meledek Mark yang wajahnya sudah memerah sekarang.

"Ya! Lee Donghyuk!"

.

.

Taeyong sedang mencuci peralatan bekas makan dan masak saat ia mendengar ada seseorang datang. Sepertinya itu adalah tunangan atau lebih tepatnya calon tunangan Jaehyun, karena pada dasarnya Jaehyun memang belum bertunangan dengan gadis itu. Tapi akan segera, benar-benar segera karena kalau tak salah dengar tadi, pesta pertunangan mereka akan dilaksanakan minggu depan.

Taeyong cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya karena ia harus menyuguhi tamu yang baru datang dan ia juga penasaran seperti apa rupa tunangan Jaehyun itu.

"Sayang, kenapa baru datang setelah kami selesai makan siang?" Suara ibu Jaehyun terdengar menyambut calon tunangan Jaehyun itu.

"Maaf, imo, tiba-tiba saja jadwal pemotretannya diperpanjang. Aku benar-benar menyesal, padahal tadinya kukira bisa makan siang bersama imo dan oppa."

"Tak apa, sayang. Ayo duduk dulu. Kau mau minum apa? Biar imo minta pelayan siapkan."

"Eoh? Jaehyun-oppa punya pelayan?"

"Ya, baru bekerja, tapi kerjanya sudah lumay-"

"Bukan pelayan, eomma. Taeyong-hyung adalah asistenKU." koreksi Jaehyun yang juga ada di sana dengan menekankan pada bagian "–ku" nya. Taeyong yang tengah bersiap mendapat perintah cukup terharu mendengarnya karena ia tahu Jaehyun tak ingin dirinya dianggap rendah.

"Apa bedanya? Sudahlah, Jaehyun memang sedang sensitif. Kau belum jawab mau minum apa, Yerim-ah?"

"Eum... Jus buah saja, imo. Aku sedang diet soalnya. Hehe."

"Aigoo, anak cantik, kau tak perlu diet lagi, sudah mungil begini."

"Tuntutan pekerjaan imo."

Jaehyun memutar matanya bosan mendengar perbincangan dua orang wanita di depannya, tentang Yerim yang jadi model salah satu merek terkenal seragam sekolah atau apapun itu. Sampai akhirnya Taeyong datang membawakan jus pesanan Yerim. Otomatis senyum terkembang di bibir Jaehyun. Apalagi entah memang sengaja atau tidak, saat ia ingin membantu menggeser gelas yang baru saja diletakkan Taeyong di meja, tangannya menyentuh bahkan hampir memegang tangan Taeyong yang masih menempel di gelas. Sengatan listrik menyenangkan pun dirasakan keduanya. Cepat-cepat Taeyong menarik tangannya dan menyembunyikan wajahnya di balik nampan lebar sebelum membungkuk dan berlalu ke dapur. Kejadian tadi rupanya tak luput dari mata tajam ibu Jaehyun.

"Jaehyun-ah, dari mana kau mengenal Taeyong itu, apa kau menyewanya dari agensi pembantu?"

Mendengar nama Taeyong disebut membuat Jaehyun tersedak minumannya. "Eomma, berhenti menyebutnya pembantu dan ganti dengan asisten saja."

"Ya, terserah. Jawab saja pertanyaan eomma." Kalau sudah bertanya ibu Jaehyun pasti harus mendengar jawabannya.

Jaehyun menghela napas dalam sebelum menjawab. "Sebenarnya Taeyong-hyung adalah seniorku di kampus. Dia satu tahun di atasku. Belum lama ini rumahnya kebakaran sehingga ia tak punya tempat tinggal, jadi-"

"Dia tinggal di sini?" potong ibu Jaehyun, entah kenapa Jaehyun jadi gugup padahal tadi ia sudah memberanikan diri untuk jujur. "Dia yang memohon untuk tinggal di sini?"

"Ti-tidak eomma, aku yang menawarinya. Dan aku juga yang menawarinya pekerjaan asisten rumah tangga." Jaehyun menggigit bibirnya menunggu reaksi dari ibunya.

"Oh, begitu."

Reaksi yang ternyata jauh dari yang dikhawatirkan Jaehyun membuat Jaehyun bisa sedikit bernapas lega.

"Kalau begitu dia adalah tanggung jawabmu. Kalau terjadi apa-apa dengannya atau dia berbuat macam-macam, jangan harap bantuan dari eomma untuk mengatasinya. Membiarkan orang asing tinggal di rumahmu itu sebenarnya beresiko, jadi kalau ada kerusakan, kehilangan, dan lain sebagainya itu menjadi urusanmu sendiri." Ibu Jaehyun kelihatannya memang galak dan tegas, tapi sebenarnya ia peduli.

"Ya, eomma. Taeyong hyung adalah tanggung jawabku." Untuk yang satu ini Jaehyun bisa menjawab dengan mantap.

"Waah... Oppa keren sekali!" pekik Yerim tiba-tiba. Sepertinya gadis remaja yang baru saja lulus SMA itu dibuat kagum oleh kemantapan jawaban Jaehyun.

"Tentu saja, sayang, Jaehyun adalah calon suami yang terbaik untukmu 'kan?"

Yerim tertawa canggung, sepertinya kata 'calon suami' pun masih cukup asing baginya. "Ya, imo, tapi aku harus menyelesaikan pendidikanku dulu sebelum siap menjadi istri oppa."

"Hmm... Take your time, dear…"

.

.

"Jadi... Bagaimana 'tunangan' Jaehyun?" Johnny bertanya sekembalinya Taeyong dari mengantar minuman.

"Oh, dia cantik, manis, dan juga imut..." jawab Taeyong tanpa berpikir lama karena memang seperti itulah yang dipikirkannya.

'Itu adalah deskripsi dirimu sendiri Lee Taeyong...' Johnny senyum-senyum sendiri mengatakan itu di dalam hatinya.

"...dan kalau aku tak salah dengar dia baru lulus SMA?"

"Ya, dia seumuran dengan Minhyung."

"Benarkah? Tapi dia sudah lulus?"

"Ya, dia sekolah di luar negeri, tahun ajaran sudah berakhir sebelum liburan musim panas yang lalu. Dia baru ke sini menjelang ujian penerimaan mahasiswa baru karena ia ingin melanjutkan kuliah di sini."

"Itu kau tahu banyak! Tadi katanya kau tak tahu soal tunangan Jaehyun?"

"Memang tidak tahu. Aku dan Jaehyun sudah mengenal Yerim dari kecil. Jadi, aku cukup tahu riwayat hidupnya. Hanya saja, aku benar-benar tak menyangka anak itu yang akan dijodohkan dengan Jaehyun."

'Oh, jadi Jaehyun sudah mengenalnya sejak kecil… Mereka pasti sudah kenal dekat sekali ya... Tapi kenapa Jaehyun sepertinya tak ingin dijodohkan…? Kenapa juga dijodohkannya dengan Jaehyun? Kenapa tidak dengan Johnny? Kenapa hidup mereka seperti di drama-drama saja sih…?'

"Hei, Taeyong, jangan melamun."

"E-eh, iya..." ' dan kenapa juga aku ingin tahu?'

.

.

Mobil Johnny baru saja memasuki lingkungan apartemen saat matanya menangkap sosok yang familiar. Sosok jangkung berambut oranye itu..."Ah, bunny boy!"

"TIN...TIN..."

Johnny menglaksoni orang itu tanpa perasaan. Tentu saja yang diklaksoni terkejut bukan main, sedang berjalan santai di trotoar, tiba-tiba ada yang mencari keributan.

Johnny mulai menurunkan kaca mobilnya saat si bunny boy alias Doyoung menatap sinis mobilnya. "Mau ke mana, bunny boy?"

Wajah Doyoung yang tadinya tampak ingin marah-marah melunak saat mengenali orang di dalam mobil Jeep itu. Orang ini adalah salah satu tujuannya datang kemari.

Doyoung yang biasanya cerewet tiba-tiba saja menjadi gugup. "Ng, itu… aku..." Doyoung tampak ragu untuk mengatakannya di situ saja atau bagaimana dan Johnny sepertinya membaca gelagat itu. "Hei, naik saja dulu. Tak enak bicara di pinggir jalan." Doyoung pun menurut tanpa penolakan.

"Kau mau menemui Taeyong?" Tebak Johnny.

Doyoung yang duduk di sebelahnya mengangguk tapi kemudian ia sadar Johnny tak mungkin melihat anggukannya, makanya ia menjawab. "Ya. Aku mau meminta maaf padanya."

"Oh..."

"...padamu juga."

"Eh? Aku juga? Memangnya kau melakukan apa padaku?"

Doyoung cukup lega karena dari kalimatnya terdengar Johnny tak pernah marah padanya. Padahal ia sudah dengan jahilnya mengirim foto Taeyong yang sedang berduaan dengan Yuta. Ya, niat awal Doyoung sebenarnya hanya sedikit balas dendam pada Yuta dan Taeyong yang saat itu sempat membuatnya kesal. Ia yang sangat mendukung hubungan Taeyong dengan salah satu di antara Jaehyun dan Johnny tak bisa tinggal diam melihat pemandangan dua sahabatnya itu tengah berpegangan tangan. Ia tak terlalu ambil pusing soal apa yang tengah dilakukan keduanya saat itu karena yang ada dipikirannya adalah mengganggu Yuta dan Taeyong dengan bantuan Jaehyun dan Johnny yang pasti akan kelabakan dengan adanya foto itu. Dan benar saja, seperti dugaannya, Jaehyun dan Johnny datang tak lama kemudian. Yang Doyoung tidak sangka adalah perbuatan isengnya itu bisa menimbulkan masalah yang berujung pada pertengkarannya dengan Yuta dan Taeyong.

"Hei! Malah melamun, bukannya jawab..."

"E-eh iya, soal foto waktu itu, yang kukirim padamu."

"Oh, itu..."

"Maaf soal itu, aku sempat berniat memanasimu dan Jaehyun dengan foto itu. Sekali lagi maafkan aku..."

Tak terasa Johnny telah memakirkan mobilnya di parkiran basement apartemen. Ia memberi isyarat pada Doyoung untuk melanjutkan pembicaraan mereka sambil berjalan.

"Apa yang membuatmu berpikir bisa memanasiku dan Jaehyun dengan foto itu? Itu hanya foto dua laki-laki yang sedang berpegangan tangan." Johnny berjalan lebih dulu menuju lift dan bertanya selagi menunggu lift datang.

"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu aku sudah tahu soal kau dan Jaehyun yang menyukai Taeyong."

"Serius? Kau mengetahuinya?" Doyoung mengangguk. "Kok aku tidak kaget, ya?"

"Makanya kubilang jangan pura-pura bodoh."

"Yah, tidak salah sih memang kalau kau bilang aku menyukai Taeyong. Dan usahamu untuk memanasi kami berhasil. Aku tidak pasti betul dengan perasaan Jaehyun, tapi kurasa dia panas juga melihat foto itu."

"Karena itu aku minta maaf, maaf sudah ikut campur urusan kalian. Urusan kalian menyukai Taeyong atau tidak ya itu urusan kalian dengan Taeyong. Aku-"

"Hei, mau buat perjanjian denganku tidak?"

"Apa? Perjanjian?"

"Ya, kurasa kita akan sama-sama diuntungkan soal ini. Asal kau tahu saja Taeyong sangat kecewa padamu karena masalah ini. Kurasa dia juga agak...yah...jengkel." Johnny bercerita dengan gaya meyakinkan, walaupun agak dilebih-lebihkan.

"Jangan bercanda, Taeyong tidak seperti itu!"

"Hei, dengar, yang bicara adalah orang yang tinggal dengannya dan sudah jadi teman curhatnya, apa aku terlihat bercanda?"

"Iya... Tapi aku mulai percaya padamu. Apa Taeyong sungguh-sungguh marah padaku?"

"Bisa ya, bisa tidak. Aku tidak benar-benar tahu apa isi hatinya 'kan? Tapi terlepas dari itu, aku tetap akan membantumu mendapatkan maaf dari Taeyong."

"Ah, jadi ini maksudmu perjanjian itu. Kau membantuku dan aku balas membantumu begitu?"

"Yap! Kau memang pintar bunny boy!"

"Aku punya nama! Kim-Do-Young."

"Iya, iya, Kim Doyoung. Omong-omong, bantuan yang kubutuhkan adalah informasi. Aku butuh seluruh informasi yang kau ketahui tentang Taeyong. Dengan informasi itu akan lebih mudah bagiku untuk mengambil hati Taeyong, bukan begitu?"

"Kau tidak boleh memaksanya."

"Tidak, tidak, aku hanya berusaha, see? Tidak boleh?"

"Boleh saja, asal kau benar-benar akan dengan tulus menyayangi dan mencintai Taeyong."

"Kau tahu sendiri soal itu... Jadi, deal?"

"Heung… baiklah. Deal!"

.

.

"Taeyong-hyung?"

"Eoh, Jaehyuni?"

Taeyong yang sedang merajut berhenti menggerakkan tangannya. Ini hari minggu dan ia tak bekerja di café Taeil. Sudah beberapa hari sebenarnya ia tak bekerja, tapi bukan karena ia sedang bolos atau apa, melainkan karena cafénya tutup karena tengah direnovasi. Dan setelah hari yang sibuk kemarin, Taeyong memiliki banyak waktu senggang hari ini.

Di waktu senggangnya, Taeyong memilih merajutkan syal untuk Mark, dan kalau sempat ia juga ingin merajutkan satu untuk Jaehyun dan Johnny, hitung-hitung sebagai balasan atas kebaikan mereka padanya selama ini. Ia pernah diajari merajut oleh halmeoni, ibu dari Gong Ahjussi, jadi ini bukan pekerjaan sulit baginya.

"Boleh aku memelukmu, hyung?"

"Peluk?" Taeyong mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Jaehyun yang tiba-tiba itu.

"Aku sedang galau, hyung..." Jaehyun merajuk. Taeyong geleng-geleng kepala sambil menggumamkan, "masalah anak muda..." lalu melanjutkan pekerjaannya. Ia tak terlalu menggubris permintaan Jaehyun karena sejak kemarin Jaehyun selalu uring-uringan dan meminta yang aneh-aneh padanya. Taeyong tak menyangka Jaehyun akan menunjukkan sisi manja ini padanya.

"Hyuuung... Aku serius ingin dipeluk olehmu! Minhyung bilang kau selalu memeluknya kalau ia sedang butuh sandaran. Dan aku sedang butuh sandaran sekarang..."

Oh iya, Taeyong baru ingat, akhir-akhir ini Jaehyun banyak mengobrol dengan Mark dan sepertinya mereka cocok.

Taeyong menghentikan gerakan tangannya lagi, "Minhyung adikku, wajar 'kan?" masih enggan mengabulkan permintaan Jaehyun.

"Aku juga lebih muda darimu dan aku tidak punya kakak..."

"Lalu Johnny kau anggap apa?"

"Hyung! Katakan saja kau tidak mau memelukku! Tak usah berbelit-belit begitu!" Jaehyun fix ngambek. Sementara Taeyong mulai menertawainya. Anak ini pasti dimanja sekali dulu oleh ibunya. Ah, Taeyong jadi ingat lagi ibu Jaehyun yang menyeramkan itu 'kan.

"Iya, iya, sini kupeluk." Taeyong melebarkan tangannya. Memberikan akses pada Jaehyun untuk memeluknya sepuas hati.

'Yes berhasil!' batin Jaehyun setelah nyaman berada dalam pelukan Taeyong. Ia memang tidak bohong soal sedang galau dan butuh pelukan. Jadi, sekalian saja modus, beruntung Taeyong tidak menolaknya.

"Omo!" Pekik suara tertahan terdengar, bukan dari Jaehyun, Taeyong, atau penghuni rumah lainnya melainkan dari-

"Doyoungi!" Taeyong serta merta melepaskan Jaehyun, mencampakkannya dan setengah berlari menghampiri Doyoung yang berdiri tak jauh dari pintu masuk, turut mengabaikan sosok lain yang membatu di sebelah Doyoung.

"Tae-taeyong..." Doyoung melirik takut-takut pada Johnny di sebelahnya. Oh siapa yang tidak sadar muka Johnny sudah tak enak sejak melihat Taeyong memeluk Jaehyun dan kini memeluk Doyoung. Hanya Taeyong. Hanya Taeyong yang tidak sadar.

"Ehem!" Johnny berdeham, cukup keras untuk didengar telinga Taeyong.

"Oh maaf Johnny, aku tidak melihatmu karena terlalu senang Doyoung datang."

Johnny tersenyum aneh, tentu saja, karena senyum itu dipaksakan. "Tak apa, nikmati waktu kalian. Kurasa kalian butuh waktu berdua saja untuk berbaikan..." Johnny meninggalkan Taeyong dan Doyoung, menuju kamarnya.

"Oh, Jaehyun, kurasa kau harus mandi. Ada tamu, kasihan kalau ia terganggu dengan bau badanmu." sinis Johnny sebelum menutup pintu kamarnya. Ya, ia harus memastikan tidak ada bekas-bekas tubuh Taeyong pada Jaehyun dan ia akan pastikan juga Jaehyun mencuci sendiri pakaiannya sehingga tak ada bekas-bekas pakaian Taeyong pada pakaian Jaehyun. What a possesive Johnny.

.

.

Taeyong sudah berbicara banyak dengan Doyoung sepanjang siang itu dan sepertinya tak ada lagi masalah di antara mereka. Mereka bahkan memikirkan strategi yang baik untuk berbaikan dengan Yuta meskipun sepertinya Doyoung masih enggan melakukan itu.

Jaehyun yang tak punya kerjaan mengajak Mark main game. Anak laki-laki memang selalu bisa disatukan dengan game. Bahkan sampai Taeyong menyibukkan diri di dapur untuk menyiapkan makan malam pun Jaehyun dan Mark masih betah bermain. Mereka secara tiba-tiba sudah menjadi soulmate dan terlihat seperti kakak beradik lebih dari pada Taeyong dengan Mark.

"Mereka akrab sekali ya?" Doyoung yang ikut membantu Taeyong mencuci sayuran di dapur membicarakan Jaehyun dan Mark.

"Hm, begitulah..."

"Sepertinya tinggal di sini adalah pilihan tepat, ya?"

"Haah... Kau tidak tahu saja sih bagaimana saat kemarin ibu Jaehyun datang."

"Bagaimana memangnya?"

"Menyeramkan... Ibu Jaehyun sangat perfeksionis, tapi sepertinya orangnya baik."

"Ng... kau tidak diusir dari sini 'kan?"

"Tidak."

"Syukurlah..."

Diam mengisi di antara mereka sampai Doyoung kembali membuka pembicaraan. "Taeyong-ah, kurasa kau harus segera memilih di antara Jaehyun dan Johnny. Kau sendiri juga sadar 'kan mereka berdua menyukaimu. Kau harus dengan tegas memilih salah satu sehingga tidak membuat keduanya berharap."

Taeyong hampir tergelak mendengar Doyoung bicara dengan begitu seriusnya secara tiba-tiba. "Kau ini bicara apa? Jaehyun akan bertunangan dan Johnny kurasa tidak ada perasaan apapun padaku. Apanya yang harus kutegaskan?"

"Apa? Tunangan? Jaehyun?"

"Ck, sudah, jangan bahas itu lagi."

"Tapi, tadi, kau dan Jaehyun...lalu Johnny..." Doyoung menggaruk-garuk kepalanya sendiri, heran. Ini Taeyong yang terlalu tidak peka atau pura-pura tidak peka sih?

.

.

"Jaehyun, Minhyung, makan malam sudah siap..."

"Sebentar hyung..." jawab kompak keduanya. Mereka masih asyik dengan stick game masing-masing dan terus berseru sambil bermain.

"Makanannya tak enak kalau sudah dingin."

Tak ditanggapi, perempatan urat mulai muncul di dahi Taeyong. Ia paling tak suka kalau diabaikan gara-gara game seperti ini.

"Jaehyun! Minhyung! Matikan gamenya sekarang juga atau tidak ada jatah makan malam untuk kalian!"

Tulisan GAME OVER langsung terlihat di layar TV begitu Taeyong mengatakan itu. Kharisma seperti ibu-ibu milik Taeyong sepertinya berhasil membuat Jaehyun dan Mark segera menurut.

"Kalian cepat ke meja makan. Aku panggil Johnny dulu. Jangan lupa cuci tangan sebelum menyentuh makanan!"

"Ne, hyung..."

Setelah memastikan yang lebih muda menuju meja makan, Taeyong pun menuju kamar Johnny. Orang itu, sejak datang bersama Doyoung tadi belum keluar dari kamarnya sama sekali. Apa yang dilakukannya di dalam? Taeyong tak tahu.

"Johnny? Makan malam sudah siap. Keluarlah, yang lain sudah menunggu." Panggil Taeyong seraya mengetuk pintu kamar Johnny. Tak ada jawaban. "Johnny? John-" Taeyong tak sengaja menyentuh kenop pintunya dan dengan mudah pintu itu terbuka. "-ny..." Tak dikunci rupanya.

Taeyong menyembulkan sedikit kepalanya dan melihat ke dalam kamar Johnny. Gelap. Hanya ada sumber penerangan dari lampu di atas nakas samping tempat tidur. Taeyong membuka pintunya sedikit lebar karena tak melihat pergerakan selain gundukan di atas kasur. "Apa dia tidur?" gumam Taeyong pada dirinya sendiri.

"Johnny?" Taeyong memanggil dengan sedikit lebih keras. Berhasil. Gundukan di bawah selimut itu bergerak, dengan suara erangan terdengar setelahnya.

"Apa?" Tanya parau suara Johnny.

"Kau tidur? Maaf mengganggu tidurmu. Tapi sudah waktunya makan malam. Kurasa kau perlu dibangunkan biar kita makan bersa-"

"Nanti saja."

"Apa?" Taeyong bertanya karena tak terlalu jelas mendengarnya.

"Kubilang nanti saja. Sisakan saja makanan untukku, aku akan makan nanti." jelas Johnny, masih dari balik selimut.

Bukannya pergi, Taeyong malah mendekat ke tempat tidur Johnny. "Kau baik-baik saja?"

"Aku baik. Keluarlah Taeyong. Biarkan aku tidur sebentar lagi..."

"Baiklah..." Taeyong menyerah mengajak Johnny makan. Ia pun keluar setelah mengucapkan selamat tidur pada Johnny, agak aneh sebenarnya menurut Taeyong. Kalau Johnny tidur jam segini nanti malam pasti ia tak bisa tidur.

"Mana Johnny hyung?" Tanya Mark begitu Taeyong bergabung dengannya, Jaehyun dan Doyoung di meja makan.

"Dia mau tidur dulu katanya." Taeyong meraih mangkuk berisi nasinya dan mulai mengambil lauk untuk makan.

"Tidur? Aneh, tidak biasanya Johnny tidur jam segini." gumam Jaehyun di sela kunyahannya. "Apa dia oke? Sebaiknya kuseret dia ke sini."

"Jangan. Kurasa biarkan saja dulu, sepertinya dia memang sedang tak ingin diganggu." Taeyong mencegah Jaehyun yang sudah akan berdiri.

"Menurutmu begitu, hyung? Baiklah..."

"Tentu saja dia sedang tak baik." celetuk Doyoung tiba-tiba.

"Eh? Apa, Doyoung?"

"Ah, bukan, bukan, bukan apa-apa."

Diam-diam Doyoung menggerutu, tentu saja perasaan Johnny tidak baik-baik saja karena melihat Jaehyun dan Taeyong berpelukan tadi, dengan mesranya. Siapapun yang menyukai Taeyong pasti akan cemburu pada Jaehyun. Oh, dan juga padanya karena ia juga mendapat pelukan hangat dari Taeyong. Ugh. Sebenarnya Doyoung benci harus terjebak di pusaran kisah cinta Taeyong yang bahkan tak ada hubungan dengan kisah cintanya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Ia sendirilah yang menjerumuskan Taeyong ke dalam lingkaran setan, begitu Doyoung menyebutnya, perebutan cinta dua bersaudara.

Dan sebenarnya Doyoung ingin menyukuri si Johnny itu karena telah berbohong padanya. Nyatanya Taeyong sama sekali tak marah padanya. Sangat mudah mendapat maaf dari Taeyong tadi. Apa itu katanya bantuan untuk mendapat maaf dari Taeyong. Johnny tak melakukan apapun selain membukakan pintu apartemen sehingga Doyoung bisa masuk. Sisanya Doyoung lakukan sendiri dan voila, dalam sekejap ia sudah berbaikan dengan Taeyong.

Sialnya, ia sudah terlanjur melakukan kesepakatan dengan Johnny untuk membantunya mendapatkan Taeyong. Tapi ya sudahlah, Jaehyun juga akan bertunangan, jadi membantu Johnny tidak salah juga sebenarnya, daripada Taeyong menyukai Jaehyun dan malah sakit hati nantinya.

"Hei, Doyoung-ah dimakan, jangan cuma dilihat saja. Memangnya tak enak ya?"

"Eh, apa? Oh ini, enaklah, 'kan aku yang masak sendiri."

"Hm, kukira kau sudah lupa hasil perbuatanmu sendiri."

Suasana makan selanjutnya hanya diisi denting sumpit dan sendok. Doyoung pamit pulang setelah makan dan baik Mark maupun Jaehyun memilih melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya, main game.

Taeyong membereskan dapur dan mulai menempatkan sisa makanan ke dalam mangkuk-mangkuk kecil untuk ia bawa ke kamar Johnny. Mungkin saja Johnny sedang tak ingin keluar kamar untuk makan, jadi makananlah yang akan menghampirinya ke kamar.

"Johnny, aku membawakan makanan untukmu. Aku masuk, ya?" Tanpa menunggu jawaban, Taeyong membuka pintu.

Masih seperti tadi, pintunya masih tak terkunci dan posisi tidur Johnny masih tak berubah dari yang semula, masih di balik selimut. Taeyong meletakkan makanannya di meja nakas samping tempat tidur karena ia melihat pergerakan dari sosok di balik selimut itu. Johnny memunculkan sebagian wajahnya.

"Jatah makananmu. Jangan sampai melewatkan makan malam. Kau bisa tidur lagi setelah makan." kata Taeyong lembut. Benar-benar lembut dan menenangkan, layaknya perhatian seorang ibu pada anaknya.

Bibir Johnny diam-diam tersenyum di balik selimut. Sepertinya ia harus sering-sering begini agar lebih diperhatikan Taeyong. Ia juga inginnya langsung bangun dan menjawab suara lembut Taeyong dengan tatapan penuh kasih sayang. Sayang rasa berat di kepalanya menahannya untuk bangun.

Johnny sudah merasakan sakit kepala sejak tadi pagi dan semakin parah setelah pulang dari luar dan melihat momen berpelukannya Jaehyun dan Taeyong. Oke, mungkin itu tak ada hubungannya. Tapi jelas momen itu merusak moodnya dan mood buruk menambah buruk sakit kepalanya. Sepertinya ia terkena flu. Hidungnya tersumbat dan tenggorokannya sakit. Pasti ini efek cuaca yang mulai bertambah dingin. Salahkan saja terus cuaca, Johnny!

"Terima kasih." Hanya itu yang akhirnya Johnny katakan pada Taeyong. Dengan suara yang hampir tak terdengar seperti mainan habis baterei.

"Suaramu kenapa?" Taeyong meyadari suara Johnny tak senyaring biasanya, walaupun baru bangun tidur tak akan seperti ini, tadi seingatnya masih biasa saja.

"Tidak apa-apa. Hanya sedikit flu." jawab Johnny lagi, lalu kembali menutup wajah dengan selimut.

Taeyong mulai menyadari keanehan pada Johnny sejak tadi. Firasatnya mengatakan Johnny sedang tidak baik-baik saja. Ditempelkannya punggung tangannya pada dahi Johnny.

"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Johnny panik karena Taeyong tiba-tiba menyibak selimutnya dan melakukan itu.

"Mengetes suhu tubuhmu. Kau tahu, kalau Minhyung sakit biasanya dia akan bersembunyi di balik selimut seharian. Kupikir kebiasaan kalian sama. Jadinya aku ingin memastikan... Hmm, agak hangat. Sepertinya kau demam, kau sakit?" Taeyong merasa bodoh bertanya. Kalau seseorang demam sudah pasti ia sakit, apalagi suaranya hilang begitu.

"Ng, bisa kau bangun sebentar?"

Johnny bingung karena Taeyong tiba-tiba saja membantunya untuk duduk. Tapi ia menurut karena ia tak ingin melawan saat ini.

"Aku harus memastikan kau benar demam atau tidak. Tanganku mudah menjadi dingin jadi tidak akurat untuk mengukur suhu tubuh. Jadi, aku perlu melakukan-" Taeyong menempelkan dahinya pada dahi Johnny, "...ini."

Demi Tuhan, Lee Taeyong! Ada alat bernama termometer di dunia ini. Kau tak perlu membuat anak orang hampir mati karena jantungan akibat perbuatanmu.

Penempelan dahi yang hanya berlangsung tak lebih dari tiga detik itu sungguh berdampak besar bagi Johnny. Bayangkan saja! Jarak wajahnya dengan wajah Taeyong hampir tak bisa diukur dalam centimeter. Khilaf sedikit, bisa saja ia menempelkan bibirnya dengan bibir Taeyong. Sungguh sebuah godaan besar bagi pertahanan diri Johnny. Ia hanya bisa memegangi dada sebelah kirinya yang bergemuruh tak karuan, takut benda bernama jantung di dalam sana mati fungsi karena bekerja keras secara tiba-tiba.

"Sepetinya benar kau demam. Aku akan mengambil sesuatu untuk mengompresmu dan oh, kalau kau punya obatmu sendiri katakan saja di mana, akan kuambilkan juga."

Setelah Taeyong menghilang di balik pintu kamarnya, barulah Johnny mendapatkan kembali napasnya yang sempat ia tahan tadi. Manusia bernama Lee Taeyong ini benar-benar...

Melihat Taeyong yang bolak-balik ke kamar Johnny sambil membawa bermacam-macam barang membuat Jaehyun heran juga. Apa sih yang dilakukan Taeyong dari tadi di kamar Johnny? Teralih dari gamenya sesaat membuat Jaehyun dengan mudah dikalahkan oleh Mark. Ia pun meminta pada yang lebih muda untuk mengakhiri sesi bermain game mereka demi menghampiri kamar Johnny untuk memuaskan rasa penasarannya.

Pemandangan yang didapati Jaehyun begitu membuka pintu kamar adalah Taeyong yang sedang memeras kain basah untuk ditempelkan pada dahi Johnny.

"Johnny kenapa, hyung?" Jaehyun mendekat, turut mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur Johnny, di sebelah Taeyong. Tanpa bertanya pun sebenarnya ia tahu, tapi ia tetap bertanya.

"Dia demam dan terkena flu juga." Taeyong menyudahi kegiatan memerasnya dan mulai menempelkan kain setengah basah itu ke dahi Johnny.

"Hei, Johnny, are you okay? Do I need to call a doctor?"

"No, Jay, I'm okay. Just make sure you didn't disturb my rest. Get your ass out of here." bisik Johnny. Ia hanya bisa mengeluarkan bisikan saat ini, tapi masih cukup terdengar karena suasana yang sunyi.

"Tch. Masih bisa bercanda rupanya. Taeyong-hyung, Johnny baik-baik saja. Jangan terlalu dimanjakan. Flu dan demam tak akan membunuhnya." Meskipun berkata begitu, Jaehyun tetap meraih handphonenya di luar dan memanggil dokter Song untuk datang ke apartemen mereka sekarang juga. Omong-omong Dokter Song adalah seorang dokter wanita, masih muda, dan merupakan dokter pribadi keluarga Jung. Meskipun menjadi dokter pribadi, dokter Song tetap bekerja di rumah sakit salah satu universitas ternama di Seoul.

"Dokter Song akan datang setengah jam lagi. Taeyong hyung, kau bisa beristirahat saja. Aku yang akan mengurus Johnny setelah ini." jelas Jaehyun setelah mengakhiri teleponnya dengan dokter Song.

"Tak apa, aku di sini saja sampai dokter selesai memeriksa Johnny. Aku juga ingin memastikan Johnny baik-baik saja sebelum-"

"Hyung!"

Taeyong terkejut karena tiba-tiba saja Jaehyun menyerukan panggilan hyung itu agak keras. "Apa?"

"Kurasa ruang tv agak berantakan karena perbuatanku dan Minhyung, bisa tolong kau bereskan, hyung?"

"Hm baiklah..." Taeyong keluar dari kamar Johnny setelah sebelumnya berkata akan kembali setelah selesai beres-beres.

Johnny menatap tajam Jaehyun yang dengan seenaknya mengusir Taeyong. "Apa maksudmu, Jay? Mengusir Taeyong? Tidak bisa biarkan aku senang sedikit saja?"

Jaehyun balas menatap tajam Johnny. "Ini sih namanya memanfaatkan Taeyong-hyung!" Jaehyun kembali mengambil tempat duduk di tempat tidur Johnny. "Kau curang! Kenapa tidak bilang padaku kalau sakit?"

"Huh?"

"Ng, mungkin saja aku juga...mengkhawatirkanmu 'kan?"

"Jay, apa selama main game tadi Minhyung memukulmu?"

"Johnny, aku serius."

"Bro, saling mengkhawatirkan bukan gaya kita, itu milik Taeyong dan Minhyung. Jangan ambil milik mereka."

"Huh, menyesal aku mengatakannya. Awas saja kalau kau bermanja-manja pada Taeyong hyung lagi." Jaehyun bangkit dari duduknya meninggalkan Johnny yang senyum-senyum sendiri. "Ingat ya, aku belum menyerah soal Taeyong hyung. Kita bersaing secara sehat."

"Tapi aku sedang sakit!"

"Terserah, ah! Kau tidak bisa diajak serius!"

"Hehehe..." 'Maaf saja Jay, apapun adil dalam perang dan cinta.'

.

.

"Berawal dari sakit tenggorokan lalu jadi flu dan demam. Kau ini anak kecil atau apa? Begitu saja sudah tumbang! Padahal tadi pagi aku masih dengar suaramu di radio. Tumben. Johnny station tambah jadwal siaran, eoh?" Dokter Song baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada Johnny. Pembicaraan akrab di sela-selanya membuat pemeriksaan itu terasa lebih santai.

"Tidak, cuma hari ini diminta gantikan penyiar yang sakit. Malah jadi aku yang sakit."

"Dasar..." Dokter cantik itu menyiapkan alat suntiknya, menyentil ujung jarumnya pelan dan siap mentransfer isinya ke- "Noona! Kau serius mau menyuntikku? Aku tidak mau!" Bahkan saat suaranya hampir habis saja, masih sempat-sempatnya Johnny berbisik histeris.

Dokter muda yang dipanggil noona itu berkacak pinggang. "Tadi kau sendiri yang minta obat paling manjur! Kalau mau cepat bereaksi ya harus kusuntikkan! Ng, kau...?" Pandangan Dokter Song tepat mengarah pada Taeyong yang kebetulan juga ada di kamar Johnny saat itu, mau melihat Johnny diperiksa katanya.

"Namaku Lee Taeyong." jawab Taeyong cepat karena tampaknya dokter Song ingin menyebut namanya, tapi ia tak tahu harus menyebut apa.

"Ya, Taeyong-ssi, tolong pegangi Johnny. Jangan sampai dia bergerak saat aku menyuntiknya."

"E-eh iya, baiklah." Taeyong mengikuti perintah Dokter Song. Ia memegangi lengan kekar Johnny yang terasa hangat itu sebagaimana yang diinstruksikan padanya. Johnny yang tadinya ingin berontak jadi malu, masa iya mau kelihatan payah di depan Taeyong sih? Takut jarum suntik? Not cool, man!

Sambil menggigit bibirnya Johnny menahan teriakan yang hampir saja keluar saat jarum suntik itu menembus kulitnya. Refleks saja ia menyembunyikan wajahnya di bahu Taeyong karena itu adalah tempat terdekat yang bisa dijangkaunya.

"Ya! Sudah!"

"..."

"Err, Johnny, dokter Song sudah selesai menyuntikmu. Kau bisa...mm, sedikit menjauh dariku?"

Rupanya Johnny terlalu nyaman bersandar di bahu Taeyong sampai tak sadar acara suntik-menyuntik sudah usai. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Taeyong sambil nyengir lebar. Entah sengaja atau tidak yang pasti momen bersandarnya pada Taeyong barusan membuatnya merasa impas dengan Jaehyun. Ia bisa tidur nyenyak malam ini.

Dokter Song berdecak melihat tingkah Johnny dan Taeyong. "Kalau aku tak tahu Taeyong-ssi bekerja sebagai asisten di sini, aku akan menganggap kalian sepasang kekasih. Jangan mau jadi kekasih Johnny, Taeyong-ssi, mantannya sudah banyak. Dasar playboy cap kakaktua."

Taeyong hanya tertawa canggung menanggapi candaan dokter Song. Biasanya ia juga menganggap Johnny suka bercanda dan tebar pesona padanya, tapi kenapa lama-lama kamar ini terasa panas juga, ya? Apa ia sudah tertular demam Johnny.

"Aku sudah menulis resep obat untukmu, bisa ditebus di apotek terdekat, kalau bisa malam ini juga, karena kau harus minum obatnya sesegera mungkin." Dokter Song menyerahkan selembar resep dokter yang diterima oleh Taeyong.

"Kalau begitu, aku kembali ke rumah sakit sekarang, ya. Ingat larangan dariku dan minum obatmu, teratur dan sampai habis. Taeyong-ssi, tolong bantu awasi Johnny, ya?" Dokter Song memberi pesan terakhir sebelum benar-benar keluar dari kamar Johnny yang dibalas anggukan dari Taeyong. Selanjutnya, Taeyong mengikuti langkah Dokter Song keluar dari kamar Johnny. Belum sampai ke pintu, si pemilik kamar keburu memanggilnya.

"Taeyong-ah, mau ke mana?"

"Beli obat untukmu, tentu saja."

"Tak usah kau yang beli, berikan saja resepnya pada Jaehyun, biar dia yang beli."

"Tapi..."

"Aku belum menikmati makan malamku dan kau dengar sendiri 'kan tadi dokter bilang aku tak boleh makan makanan tertentu." Johnny melirik nampan makanan untuknya yang tadi sempat dibawakan Taeyong.

Taeyong mulai paham maksud Johnny. "Kau mau kubuatkan bubur? Dengan sup ayam bagaimana?"

"Call! Cepat ya! Setelah ini ada yang kubicarakan denganmu."

Taeyong hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Johnny yang sepertinya sudah kembali sehat dalam sekejap karena orangnya kini sedang nyengir lebar.

.

.

Jaehyun iri. Sangat iri. Karena Taeyong kelewat perhatian pada Johnny pagi ini. Memang Johnnynya saja sih yang cari perhatian dengan Taeyong. Memanfaatkan sekali sakitnya itu sebagai alasan untuk minta ini dan itu dari Taeyong. Jaehyun juga gemas karena Taeyong mau saja menuruti keinginan Johnny untuk menyuapinya makan. Taeyong bahkan mengabaikan sarapannya sendiri demi Johnny. Ish! Taeyong terlalu baik sih.

Mark yang merasakan aura-aura tak mengenakkan di sekitaran meja makan itu memilih memakan sarapannya dalam diam dan mengabaikan tiga orang lainnya. Mark sampai kaget saat tiba-tiba Taeyong menyebut namanya.

"Minhyung-ah..."

"Ya, hyung?"

"Pulang malam lagi hari ini?"

"Yah, begitulah hyung... Kau tahu sendiri bagaimana siswa kelas 3 belajar."

"Hmm... Aku punya sesuatu untukmu, sudah kuusahakan selesai semalam. Sebentar ya, kuambil." Taeyong pergi ke kamarnya dan kembali dengan selembar syal hangat dari wool yang ia kerjakan kemarin. Ia memasangkan syal berwarna coklat tua itu di leher Mark.

"Kukira kau membuat ini bukan untukku, hyung." Mark memang melihat Taeyong merajut kemarin, tapi sangkanya syal yang dibuat itu untuk Jaehyun atau Johnny, atau mungkin untuk Taeyong sendiri.

"Tentu saja untukmu. Adikku yang sedang belajar untuk ujian masuk universitas. Kau tidak boleh kedinginan dan sakit. Fighting!" Taeyong menyemangatinya dengan tulus, tapi Mark merasa bersalah mendengarnya. Itu semua karena...pikirannya tengah terbagi akhir-akhir ini. Ia menjadi kurang fokus belajar. Jika Taeyong tahu yang sebenarnya tengah dilakukannya, ia tak yakin Taeyong tak akan marah padanya.

"Hei, kau suka tidak?"

"E-eh, iya hyung... Terima kasih."

Taeyong tersenyum senang karena karyanya disukai oleh Mark. "Jaehyun dan Johnny, kalian suka warna apa? Aku juga berniat membuatkan untuk kalian, tapi aku tak tahu yang kalian sukai warna apa."

"Aku-"

"Aku akan pakai apapun yang Taeyongi buatkan untukku, bahkan warna pink sekalipun." Baru saja Jaehyun ingin menjawab, Johnny sudah keburu menyelanya. Johnny sudah mendapatkan kembali suaranya sehingga ia mulai menggombali Taeyong lagi dan kali ini Taeyong sama sekali tak menolak gombalan Johnny itu. Taeyong hanya berusaha menyembunyikan senyum kecilnya, serta wajah meronanya.

O-ow! Sepertinya Jaehyun harus waspada!

.

.

"Hyung."

"Ya, Jaehyun?"

"Apa jendela lebih menarik daripada aku?"

"Apa maksudmu Jaehyun-ah?"

"Kau tidak mengajakku bicara sama sekali dan hanya memandang keluar jendela dari tadi."

Jaehyun dan Taeyong sedang berada di dalam mobil Jaehyun untuk menuju kampus mereka pagi ini. Jaehyun senang akhirnya ia punya kesempatan berangkat ke kampus berdua saja dengan Taeyong, tanpa Johnny. Tapi kesenanganya itu rusak saat Taeyong mengatakan. "Aku hanya khawatir, apakah meninggalkan Johnny di rumah sendirian saja tidak apa-apa?"

"Hyung! Johnny bukan anak kecil! Dia bisa mengurus dirinya sendiri! Demi Tuhan dia hanya sakit flu biasa, tidak parah! Tak usah perhatikan dia! Perhatikan aku saja!" Ingin rasanya Jaehyun mencak-mencak begitu, tapi bukankah itu terlalu kekanakan? Akhirnya ia hanya berkata. "Tak apa, dia akan baik-baik saja."

"Hm, menurutmu begitu? Baiklah… Kurasa aku hanya khawatir berlebihan karena ini pertama kalinya aku mengurus orang lain selain Minhyung. Oh ya, Jaehyun, kau mau bicara apa? Aku akan mendengarkan."

Sial, batin Jaehyun. Taeyong yang dengan mata besarnya itu menatapi Jaehyun kini malah membuatnya tidak fokus menyetir. Harusnya tadi ia biarkan saja Taeyong menghadap jendela.

"Err, itu hyung. Aku masih belum bisa menerima perjodohan yang dibuat eommaku. Ya, itu." Jaehyun akhirnya mengangkat topik yang memang tengah menggaggunya akhir-akhir ini.

"Kenapa, hm? Ibumu bilang 'kan kalau kalian tak akan menikah dalam waktu dekat. Kalian masih punya banyak waktu untuk menumbuhkan perasaan terhadap satu sama lain."

"Tidak bisa, hyung!"

"Kau belum mencobanya, Jaehyun."

"Aku sudah mencoba, Hyung! Kau tahu berapa lama aku mengenal Yerim? Lebih dari separuh hidupnya! Tapi perasaan yang bisa kutumbuhkan untuknya hanyalah rasa sayang seorang kakak kepada adiknya. Aku tidak bisa menikahi Yerim! Ini… ini terasa aneh…"

Taeyong tersenyum prihatin, dielusnya pundak Jaehyun yang tampaknya tengah menahan emosi itu. "Jaehyun-ah… Aku pernah dengar cerita seseorang yang kurang lebih bernasib sama denganmu. Aku tak tahu apa ini akan membantumu, tapi akan kuceritakan sedikit saja."

Jaehyun mengernyitkan dahi, tapi kemudian mengangguk tanda ia mau mendengar cerita Taeyong. Taeyong pun memulai ceritanya.

"Dulu, ada seorang wanita. Dia keturunan keluarga terhormat. Hidupnya bergelimang harta. Apapun yang diinginkan pasti akan dipenuhi orang tuanya. Tapi ada satu, satu yang tak akan pernah bisa dia dapat. Yaitu, kebebasan memilih pasangan hidupnya. Dia itu telah menemukan laki-laki idamannya. Tapi laki-laki itu hanyalah seorang pemuda biasa, bukan anak keluarga terhormat apalagi anak orang kaya.

Laki-laki itu hanyalah laki-laki dari desa yang merantau ke kota untuk menempuh pendidikan dan mendapat pekerjaan yang layak. Dia bukan yang paling tampan dan bukan pula yang paling pintar. Tapi semua kekurangan laki-laki itu ternyata tidak bisa menyaingi ketulusan dan kebaikan hatinya. Wanita itu jatuh ke dalam pesona si laki-laki sederhana.

Singkat cerita, mereka menjalin kasih secara diam-diam, tanpa sepengatahuan orang tua si wanita. Hingga akhirnya si laki-laki itu melamar si wanita karena ia serius dengan rasa cintanya. Dia nekat menemui orang tua si wanita, tapi yang didapatnya bukanlah restu melainkan sebuah pengusiran yang kejam. Hidupnya yang sudah sulit semakin dibuat sulit setelah hari itu. Kekuasaan yang dimiliki orang tua si wanita membuatnya kesulitan mendapat pekerjaan. Tapi dia tidak pernah sekalipun menaruh dendam pada orang-orang berkuasa itu.

Sementara itu, si wanita tidak diizinkan keluar rumah dan akan segera dinikahkan dengan anak salah satu keluarga terhormat juga. Mudahnya, dia sudah dijodohkan. Si wanita tidak mau, karena yang dicintainya hanyalah si laki-laki sederhana, bukanlah laki-laki terhormat. Pada suatu malam, si wanita akhirnya memilih kabur dari rumah mewahnya, menemui si laki-laki, dan mengajaknya pergi ke suatu tempat yang jauh di mana mereka berdua bisa menjalin cinta tanpa ada yang memisahkan.

Mereka hidup berpindah-pindah sambil terus bersembunyi. Kehidupan yang sulit dan melelahkan mereka lewati. Si laki-laki merasa tak enak dan sedih karena si wanita harus hidup menderita karena hidup bersamanya. Tetapi si wanita keras kepala dan tetap pada pendiriannya bahwa dia hanya bisa bahagia jika dia bersama dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Dan terbukti, mereka akhirnya menikah dan kelak dikaruniai dua orang anak.

Setelah bertahun-tahun bersembunyi, si wanita mengetahui dari surat kabar bahwa dirinya telah dinyatakan meninggal oleh keluarganya. Dia hancur dan sedih. Dia sudah tak lagi ada dunia, dia sudah tak lagi dicari, dia tak lagi dianggap bagian dari keluarganya, tapi dia lega. Itu artinya dia sudah tak perlu lagi bersembunyi. Dia bukan lagi si wanita kaya, bukan lagi si anak keluarga terhormat, dia hanyalah seorang istri dari si laki-laki sederhana, yang merasa bahagia dengan pilihan sulitnya itu."

"Wow!" Komentar Jaehyun begitu Taeyong selesai dengan ceritanya.

"Maaf ya, malah kuceritakan banyak sekali." Taeyong mengusap matanya yang sedikit berair.

"Kau menangis, hyung?"

Taeyong menggeleng. "Tidak. Hanya…sedikit teringat. Kau tahu, kisah siapa yang kuceritakan tadi?"

Jaehyun menggeleng tanda tak tahu.

"Si wanita itu adalah ibuku dan laki-lakinya adalah ayahku." Jawab Taeyong dengan malu-malu. Ini pertama kalinya ia menceritakan kisah cinta orang tuanya pada orang lain.

"Wow, hyung. Ibumu pemberani sekali!" Jaehyun menunjukkan kekagumannya.

"Yah, begitulah eomma. Dia rela melepas segalanya demi appa. Tapi kadang aku merasa kasihan pada eomma. Kalau saja dia tetap di keluarganya dan hidup sebagai orang berada, eomma mungkin tak akan menderita di akhir hidupnya. Eommaku meninggal karena sakit keras dan kami tidak bisa mengobatinya dengan layak karena kami miskin. Aku pernah menyesalinya dulu, tapi kalau dipikir-pikir lagi, seandainya saja eomma tidak memilih untuk hidup bersama appa, aku dan Minhyung tidak akan pernah terlahir ke dunia ini 'kan? Semuanya memang sudah digariskan oleh takdir, bukankah begitu?"

"Ya, hyung. Dan kau tahu, kisah ibu dan ayahmu sebenarnya telah menginspirasiku." Jaehyun menepikan mobilnya di lahan parkir karena selagi bercerita, tanpa sadar mereka telah tiba di kampus. Taeyong bersiap melepas sabuk pengaman, tapi tangan Jaehyun lebih cepat mencapainya.

"Hyung… Bolehkah aku… mengikuti jejak ibumu?"

Mata Taeyong bergerak-gerak gugup, selain karena tangannya yang memegang sabuk pengaman tengah digenggam erat oleh Jaehyun, tatapan mata Jaehyun yang tajam itu juga tepat mengarah pada matanya. "Ke-kenapa tanya padaku?"

"Karena kaulah laki-laki sederhana yang ku-"

Bersamaan dengan Jaehyun yang menyatakan perasaannya, handphone butut Taeyong berdering nyaring sehingga Taeyong tidak bisa mendengar apa yang Jaehyun katakan.

"Maaf Jaehyun, bisa kau katakan lagi nanti? Ada telepon dari Doyoung." Taeyong bergegas melepas sabuk pengamannya karena Jaehyun juga sudah melepaskan genggaman pada tangannya. Yang Taeyong tidak ketahui adalah Jaehyun masih terdiam melongo, bahkan setelah Taeyong turun dari mobilnya. Jaehyun mengacak rambutnya frustasi karena pernyataan cintanya gagal. "Hyuuung…"

Taeyong berjalan sedikit menjauh dari mobil Jaehyun sebelum menyambungkan teleponnya dengan Doyoung.

'Taeyong…! Taeyong…! Taeyong…! Syukurlah kau angkat. Bagaimana ini…?' Suara panik Doyounglah yang menyambut telinganya.

"Kenapa, Doyoung-ah? Ada apa?"

"Yuta! Yuta menghilang!"

TBC

ENG ING ENG… Apa ini? Setelah pas sebulan ga diapdet, malah muncul dengan cerita panjang bin aneh ini. Huhuhu. Bener-bener ABIS ide buat chapter ini, jadi cuma segini saja yang bisa kupersembahkan untuk kalian wahai readers… huhu.

Semoga chapter depan bisa lebih baik, lebih seru, lebih cepat apdet, dan lebih2 lainnya (tapi ga janji ya, ini cuma doa aja, tolong aminkan!)

Thanks to all 102 reviews, 54 followers, and 48 favorites, siapapun dan dimanapun kalian berada, terimakasih ku tiada terkira. Love you all so much, eventhough we don't know each other.

I'm so sorry for my lacking in many ways.

P.S. ku mau nanya serius nih, kalian lebih suka chapter panjang dengan 5k+ word (atau lebih) atau yg pendek2 aja? Thanks tanggapannya.