Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. Di larang mengcopy tanpa seijin author.

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

[ Chapter 7 ]

.

.

.

[Sakura pov.]

Membuka mataku, ketukan di tengah malam ini membuatku kesulitan tidur, siapa yang bertamu saat jam seperti ini? pukul 00:04, aku tak berani membuka pintu jika mungkin saja itu hantu atau pencuri.

"Nona Sakura." Panggil seseorang yang terdengar familiar.

Membuka pintu dan melihat supir pribadi Sasuke.

"A-aku pikir siapa, aku sangat takut membuka pintu, maaf." Ucapku.

"Tidak apa-apa nona, aku tahu, tapi tolong ikutlah denganku, aku akan mengantar nona ke apartemen tuan Sasuke." Ucapnya.

Kenapa aku harus kembali ke apartemen Sasuke? Saat pulang tadi, dia sudah mengusirku dan meminta Kabuto segera mengantarku. Pak tua ini pun tak mengatakan apapun, dia hanya mengantarku dan pergi begitu saja.

Memencet password dan membuka pintu, aku bisa melihat seseorang dengan wajah kesalnya duduk di sofa.

"Kenapa lama sekali?" Ucapnya, dan tatapan itu tak senang.

"Kau lihat, ini sudah jam berapa, mana mungkin aku membuka pintuku saat tengah malam." Ucapku, dia hanya mengganggu tidurku.

"Cepat tidur, aku sudah mengantuk." Ucapnya dan berjalan pergi.

Mematung di tempat, sebenarnya ada apa dengannya? Atau otaknya memang sedang bermasalah?

"Kenapa masih berdiri saja? Cepat temani aku tidur, Jadwalku sangat padat paginya." Tegurnya.

"Aku tidak mau." Tegasku.

"Ha? Apa?"

"Aku tidak mau! Kau ini sangat aneh, kenapa menyuruhku pulang kalau sekarang pun kau repot sekali menyuruh orang untuk menjemputku, kau hanya mengganggu waktu istirahat semua orang, membangunkan supir pribadimu dan membangunkanku." Kesalku.

"Kenapa kau marah-marah padaku!" Kesalnya, dia pun akan semakin marah jika aku juga marah, tapi aku benar-benar kesal dengan sikapnya itu.

"Karena kau tak pernah memikirkan orang lain! Selalu saja harus memikirkan kepentinganmu!"

"Kau bekerja padaku, ingat itu."

"Lalu kenapa jika aku bekerja padamu."

"Kau bahkan tak ada selama kegiatan syutingku, masih mengatakan kau tidur di toilet, atau sibuk menggoda para pria di kafe."

Menggoda para pria?

"Kau ini benar-benar rubah licik, kibaskan saja ekormu sesuka hati."

"Apa!"

Kali ini aku tak bisa tinggal diam.

Plaak!

Memukul lengannya, aku sudah sampai pada puncak kekesalanku.

"Siapa yang menggoda siapa! Ha!"

Plaak!

Kembali memukulnya, kali ini punggungnya.

"Berhenti memukulku! Tubuhku ini punya asuransi, aku bisa menuntutmu!"

Plaak!

"Katakan sekali lagi, siap rubah licik!"

"Kau!" Ucapnya dan menahan kedua tanganku.

"Aku tak pernah menggoda pria! Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu! Baik, akan aku katakan, tadi, aku bertemu Sai, dia mengajakku minum kopi, hanya minum kopi dan tak lebih, lalu-" Ucapanku terputus, tanganku melemah, aku tak bisa mengucapkannya, itu hanya membuatku malu, aku malas untuk menyebutkan jika dia adalah mantanku.

"Lalu, apa? Kau mau berbohong lagi?" Ucap Sasuke.

"Sudahlah, aku lelah." Ucapku. Melepaskan tanganku darinya, berjalan ke arah kamar Sasuke, dia ingin di temani tidur, baiklah, aku juga capek meladeninya.

"Mau kemana kau? Kau belum menjelaskan segalanya."

"Tidur, kau yang mengajakku ke kamarmu. Lagi pula itu hal yang tak penting untuk di jelaskan." Ucapku.

Tiba di sana, aku melihat dua tempat tidur, Sasuke mengubah tempat tidurnya, di sisi lain aku melihat pakaian yang di berikannya padaku, bukan lagi di dalam kardus, tapi tertata rapi di gantungan baju, dia pun mengaturnya di sebelah pakaiannya.

"Apa ini?" Tanyaku, seharusnya aku tak marah dan memukulnya tadi, aku hanya kesal dia menuduhku yang tidak-tidak.

"Aku tak tahu, aku ingin tidur." Ucapnya dan mengabaikanku, dia pun sudah naik di atas ranjang miliknya dan berbaring.

Dengan waktu singkat dia sudah bisa menaruh dua tempat tidur di kamarnya, apa dia sengaja?

"Mau sampai kapan kau berdiri? Katanya lelah, dasar pembohong."

Aku harus bersabar kali ini, setidaknya dia membuatku lebih nyaman karena punya tempat tidur sendiri, tak perlu tidur di sofa atau di lantai. Naik ke atas ranjangku dan aku bisa mencium bau seprai baru di sana.

"Maaf."

Menoleh dan melihat Sasuke tidur membelakangiku, apa aku salah dengar? Sasuke mengucapkan maaf padaku.

"Sasuke? Apa kau sudah tidur?" Tanyaku.

"Lain kali jika kau pergi kemana pun, kau harus memberi kabar padaku." Ucap Sasuke dan berbalik, "Kau sedang bekerja padaku, aku harus bertanggung jawab padamu, jika kau hilang begitu saja, aku dan Kabuto akan susah, mungkin saja kau di culik dan mereka akan minta macam-macam padaku, padahal kau hanya bekerja padaku bukan keluargaku." Ucapnya.

Menutup mulutku, aku tak bisa menahan tawaku, Sasuke benar-benar lucu, mengucapkan banyak hal dengan ekspresi datar itu.

"Ini tidak lucu!" Kesalnya.

"Baik-baik." Ucapku dan tetap saja aku tak bisa menahan tawa ini.

.

.

.

.

Hari ini, Sasuke tak punya jadwal apapun, tapi malam harinya, dia akan mendatangi sebuah pesta, seharian ini pun aku tak melakukan apapun, Sasuke memilih tidur sepanjang hari, aku rasa ini bayaran saat dia sedang tak sibuk, lagi pula semalam dia pun kesusahan tidur dan aku harus membantu menenangkannya.

Menonton tv dan acaranya pun membosankan.

Tringgg..~


:: Sai.

Jika kau menonton hari ini, aku ada acara talk-show di channel TOP, aku harap kau menontonnya.


Sai mengirimkanku sebuah pesan, dia sedang syuting di salah satu acara talk-show, kebetulan aku sedang tak menonton apapun, mencari channel TOP dan menemukan acaranya yang sedang berlangsung. Dia terlihat berbeda saat di tv, sebenarnya aku lebih suka melihatnya secara langsung.

Hanya acara yang menanyakan tentang karir dan keseharian pribadi Sai, dia akan terus tersipu dan sangat mudah tersenyum.

"Ada yang ingin kau sampaikan Shimura Sai?"

"Uhm, aku harap temanku sedang menontonku."

"Wah, teman apa ini? Kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"

"Bukan-bukan, hanya seorang teman yang baik. Aku menunggu traktiranmu."

Dia bahkan berbicara seperti itu terang-terangan, kau sedang live tuan, bagaimana mungkin menagih traktiranku di depan orang banyak yang tengah menontonmu, ada-ada saja, dia benar-benar orang yang baik dan ramah.

"Acara macam apa ini?"

Channel yang tengah aku nonton di ganti begitu saja.

"Kau menonton acara orang lain dan bagaimana dengan acaraku?" Ucap Sasuke hingga menyuruhku bergeser agar duduk di sofa.

"Bagaimana bisa aku menontonmu jika saat kau live aku ada bersamamu."

"Kau bisa menonton siaran ulangnya."

"Buang-buang waktu, aku tak punya waktu untuk nonton acaramu."

"Dan kau punya waktu untuk menonton acara pria dengan wajah seperti wanita itu."

"Bisakah kau berbicara lebih baik pada seseorang?"

"Tidak."

"Biarkan aku pulang, lagi pula kau tak ada kegiatan, aku bosan disini."

"Kau sedang bekerja, bagaimana bisa kau pulang begitu saja? Meskipun aku tak punya kegiatan, kau harus terus bersamaku di apartemen ini."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Bersihkan dapur."

"Sudah."

"kamar mandi."

"Sudah."

"Bersihkan lagi. Lihat, bahkan meja ini tampak kotor." Ucapnya dan menyentuh meja itu dengan jari telunjuknya.

Aku melakukan seperti apa yang di perintahkannya, dia pun hanya sibuk dengan ponselnya di sofa.

"Gajimu sangat besar, kau harus bekerja ekstra padaku." Ucapnya.

"Kau yang mengatakan 'terserah' berapa jumlahnya."

"10 juta itu tak sedikit, dimana kau mendapat pekerjaan dengan gaji sebesar itu?"

"Baiklah, aku akan bekerja dengan baik."

"Bagus, aku lebih suka kau menurut seperti ini."

Ting tong...~

"Cepat lihat sana." Perintahnya.

Menekan layar di dinding, dan seorang pria tengah membawakan paket. "Paket anda tuan Uchiha Sasuke." Ucapnya.

Menatap Sasuke, tak perlu bertanya padanya, dia pasti akan menyuruhku turun, mengambil paket sebuah kotak berbentuk persegi empat, apa isinya? Di bungkus dengan begitu rapi.

"Ada paket untukmu." Ucapku.

"Buka saja, apa kau tak lihat aku sedang sibuk." Ucapnya, ya kau hanya sibuk dengan ponselmu sejak tadi, tuan.

Membuka kotak itu dan sebuah gaun malam yang indah, warna peach ini cukup cantik.

"Pakai itu, kita akan ke acara pesta sebentar lagi." Ucapnya.

"Apa gaun ini di potong dari gajiku lagi?" Tanyaku, aku tak mau di tipu untuk kedua kalinya.

"Jika kau mau aku potong dari gajimu itu tak masalah."

"Ja-jangan, aku dengan senang hati akan menerima hadiah ini." Ucapku, menyentuh gaun itu, bahkan kainnya sangat halus.

Tak hanya gaun indah, Sasuke mengajakku ke sebuah salon, seorang wanita yang terlihat cantik akan mendandaniku, cukup makan waktu, pantas saja Sasuke menyuruhku bergegas dan Kabuto akan menunggu kami di pesta, saat ini supir pribadi Sasuke yang mengantar kami.

"Anda terlihat cantik nona Haruno." Puji supir Sasuke.

"Mau di make up setebal apapun, dia tetap jelek." Anggap saja Sasuke juga tengah memujiku, padahal dia sempat menatapku cukup lama setelah selesai make up.

Katanya pesta ini hanya sebuah perayaan kecil dari agensi Sasuke, banyak artis yang akan di undang, aku sedikit tak percaya diri untuk kalangan semacam ini.

"Aku harap kau bisa menjadi pendampingku malam ini." Ucap Kabuto padaku, menawarkan lengannya padaku, hanya Sasuke saja yang tak pandai memuji seseorang.

"Kau harus berdampingan denganku." Ucap Sasuke dan menggandeng lengan Kabuto begitu saja, mereka berdua jauh lebih mesra di hadapanku, berjalan masuk dan aku pun mengikuti dari belakang.

Berhenti dan berbalik, seseorang menepuk pelan bahuku. "Aku pikir akan salah orang, kau jauh lebih cantik malam ini nona Sakura." Ucap Sai, dia pun berada di sini.

"Kau dan Sasuke satu agensi?"

"Ya begitulah, meskipun dia selalu menganggap tak kenal padaku, padahal kami merintis karir di tempat yang sama."

"Aku tak terkejut jika itu Sasuke."

"Aku rasa kau semakin memahami pria dengan sikap kasar itu."

"Aku jadi terbiasa dengannya."

"Untung saja kau datang, aku sungguh butuh teman malam ini."

"Terima kasih atas tawaranmu, tuan."

Melirik sekitar, Sasuke dan Kabuto sudah menghilang, mereka benar-benar meninggalkanku.

"Tenang saja, kau aman selama bersamaku, aku akan menghubungi Kabuto jika kalian ingin bertemu."

"Baiklah."

Berjalan bersama Sai, lagi pula tak ada fans disini, hanya ada pekerja di kantor agensi mereka dan para artis lainnya. Cukup ramai, banyak makanan dan minuman tengah di hidangkan, Sai akan menjadi pakar minuman terbaikku, dia menjelaskan beberapa minuman padaku dan aku harus menghindari alkohol, aku tak tahu bagaimana jadinya jika minum dan malah mengamuk di tempat seperti ini, aku hanya akan mempermalukan diriku.

Suasana tempatnya menghilangkan rasa tak percaya diriku, disini cukup nyaman dan alunan musik yang terdengar begitu lembut, orang-orang berbicara dengan santai dan tak ada yang heboh, inilah tempat untuk orang berkelas yang lebih menjaga sikap.

"Halo Sai, hari ini membawa seorang gadis? Tak biasanya." Ucap seorang wanita, dia pun datang dengan beberapa gadis yang terlihat cantik, tinggi dan bening.

"Mari aku perkenalkan, dia adalah temanku, Haruno Sakura." Ucap Sai ramah, dia bahkan memperkenalkanku dengan baik pada gadis-gadis yang mungkin saja artis.

"Aku tak pernah melihatnya, apa dia berada di agensi lain?"

"Dia bukan artis." Ucap Sai.

"Bagaimana bisa seseorang yang tak penting bisa masuk di sini?" Ucap salah satu dari mereka, aku tahu itu sindiran yang tepat, tapi aku ikut karena Sasuke maksaku.

"Aku harap kalian tak berbicara seperti itu lagi, dia datang bersamaku, artinya dia pun penting sama sepertiku." Ucap Sai dan tetap memasang senyum manis di wajahnya, Sai sedang melindungiku.

"Maaf Sai, kami hanya bercanda, nikmati pestamu." Ucap mereka dan pergi, aku bahkan melihat tatapan geram itu.

"Jangan dengarkan ucapan mereka, lagi pula manusia apa yang harus penting, semua sama saja 'kan?" Ucapannya membuatku tersenyum, dia pun tengah menghiburku.

"Terima kasih tuan yang banyak bicara, aku sungguh tertolong." Ucapku.

Ponselku berdering.

"Maaf Sai, aku harus pergi." Ucapku, dan memperlihatkan layar ponselku padanya.

Sasuke calling...~

"Apa perlu aku antar?" Tawarnya.

"Sekali lagi tidak, cukup aku saja yang kena marahnya." Ucapku, aku tak ingin Sai pun terlibat, sebelumnya Sasuke berani menendangnya, mungkin dia akan memukulnya jika ikut campur.

"Aku harap kita bisa bersama lagi nantinya."

Mengangguk senang dan bergegas, aku tak mau mengangkat ponselnya, dia pasti akan teriak, cukup mencarinya, tapi aku merasakan jika disini terlalu banyak orang dan aku kesulitan mencari Kabuto dan Sasuke.

Terkejut, seseorang menggenggam tanganku, menoleh dan menatap pria yang tengah menarikku ini.

.

.

TBC

.

.


update...!

eh, ada yang curhat yaa, *puk-puk* yang sabar yaa..., tragis amat, padahal cuma bilang pengen libur eh kena PHK, =_= ngerti...~ semoga dapat pekerjaan lagi :)

.

.

See you next chap!