BAEKHYUN IS MINE

.

BY OKTAVIANI WONGKIN

.

CHANBAEK / GS

.

READ AND REVIEW

.


HAPPY READING


.

Jongin melangkah dengan berat ketika kakinya menginjak lantai disepanjang koridor sekolah, lelaki bertubuh tinggi itu melirik kekanan dan kekiri untuk melhat suasana sekolah yang masih sepi. Ia menarik lengan kiri almamater sekolah dan melirik benda bundar berwarna hitam yang melingkar dipergelangan tangannya kemudian ia menghela napas berat.

"Semenjak kau dekat dengan Baekhyun, kau membuatku selalu membuatku bangun lebih awal." Keluh Jongin selama mereka berjalan disepanjang koridor.

Chanyeol memasang ekspresi acuh tak acuh. ia tidak terlalu fokus mendengarkan ocehan karena seluruh Pikirannya dipenuhi oleh gadis bernama Baekhyun. Seperti biasa sudah seminggu ini Chanyeol menaruh coklat kedalam loker gadis itu sebagai bentuk sapaan pagi yang manis untuk kekasihnya itu.

Jongin menghentikan langkah kakinya dan menoleh kesamping

"Chanyeol?" Panggil Jongin. Chanyeol tetap tidak memberikan respon.

Jongin mendesah melihat tingkah sahabatnya "Kau tersenyum sendiri, bagaimana mungkin aku berjalan dengan orang gila!" Umpat Jongin.

Chanyeol menurunkan garis senyumnya lelaki itu menghentikan langkah dan menoleh kepada Jongin. "Ulangi perkataanmu sekali lagi?" Ujarnya datar namun dengan tatapan menusuk.

Jongin sedikit tersentak kaget namun ia membalas Chanyeol dengan pura –pura tidak mendengarkan perkataan sahabatnya dan langsung menaiki anak tangga menuju kelasnya.

"Apa kau telah menemukan Tao?" Tanya Chanyeol mencairkan suasana,

"Aku.." belum sempat Jongin meneruskan kalimatnya tiba-tiba terdengar terdengar suara terkesiap dari atas mereka serta bunyi yang keras membuat mereka serentak mendongak. Semua terjadi secepat kilat sehingga Chanyeol tidak menyadari sesuatu yang menubruknya, membuatnya kehilangan kesimbangan dan jatuh berguling – guling dari tangga.

"Chanyeol!"

Chanyeol mendengar seruan Jongin sebelum tubuhnya mendarat kelantai. Pandangannya menggelap sesaat, napasnya sesak karena sesuatu yang berat menindihnya.

"Chanyeol! Chanyeol! Kau tidak apa ?" Chanyeol kembali mendengar perkataan Jongin namun dia tidak bisa menjawab, napasnya sesak karena tubuh itu masih menindihnya.

"Hey, Kau ?" Suara Jongin terdengar lagi namun Chanyeol yakin itu bukan untuknya.

Orang yang mengunakan topeng itu tersendak kaget ia segera bangkit dan mendorong Jongin dengan keras.

"TAO!" Teriak Jongin yang memacu Chanyeol untuk memaksakan tubuhnya agar dapat segera bangun kemudian menangkap dan mencekik Tao hidup-hidup.

Namun berkali – kali lelaki berpostur tinggi itu mencoba justru makin membuat tubuhnya sulit bergerak.

Tao segera berlari secepat kilat dan tanpa pikir panjang Jongin langsung mengejarnya.

Langkah kaki mereka menyapu lantai disepanjang koridor suara hentakan lantai terdengar nyaring.

Tao melirik sekilas dibelakang, bulir-bulir keringat keluar dari pori-pori wajahnya ketika suara hentakan kaki Jongin semakin terdengar nyaring ditelinganya.

"BERHENTI!" Teriak jongin sembari menjulurkan tangannya. Tinggal satu langkah. Hanya selangkah lagi dia bisa menangkap Tao.

Jongin makin mempercepat larinya sehingga lelaki itu tidak terlalu fokus dengan sesuatu yang tiba-tiba muncul dihadapannya.

BRUKK! Jongin menabrak seorang hingga membuatnya jatuh tersungkur.

Fokus Jongin masih sepenuhnya dengan Tao, Lelaki itu segera bangkit berdiri dan mengejar Tao tanpa peduli siapa yang menghadang langkahnya.

"Minggir." Bentak Jongin dengar napas terengah dia merasakan aliran darah tubuhnya mendidih.

Kris masih membentangkan kedua tangannya menghalangi langkah Jongin.

"Itu bukan Tao." Ujar Kris tersenyum licik seraya menaikan alis kirinya.

Jongin tidak mendengarkan perkataan Kris dengan sisa tenaga lelaki itu mendorong Kris hingga tersungkur.

Jongin langsung melangkah lebar namun berhenti kemudian menghela napas berat ketika Tao sudah hilang dari pandangannya. Sejenak Jongin memegang kedua lututnya. Manarik napas dalam-dalam kemudian dihembuskannya untuk menenangkan diri.

Lelaki itu berdiri dan berbalik menatap Kris yang berdiri memasang ekspresi angkuh tiga langkah darinya.

Emosi Jongin kembali memuncak "Apa yang telah kalian lakukan disini!" Bentak Jongin.

"Lepaskan tanganmu dari kerah bajuku." Ujar Kris pelan namun penuh penekanan disetiap kata.

Jongin menghela napas pelan kemudian lepaskan kedua tangannya dari kerah Kris.

Jongin memasukan kedua tangan dalam saku celana panjangnya yang berwarna putih.

"Aku tahu kau menyukai Baekhyun." Ucap Jongin tanpa menatap Kris.

HAHAHAA... Kris tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Jongin

"Baekhyun tidak menyukaimu, kau mencari berbagai celah untuk membenci Chanyeol padahal sebenarnya kau cemburu." Kali ini Jongin yang tertawa melihat mata Kris yang menatapnya tajam dan mungkin Kris berharap jika bumi harus menelan Jongin detik ini juga.

"Kau mencoba menfitnahku, Aku tidak mungkin..."

"Jangan mencoba membohongiku. Dasar pencundang." Sela Jongin membuat wajah Kris memerah merendam amarah.

Jongin tiba-tiba menepuk jidat tanpa pikir panjang lelaki itu segera meninggalkan Kris untuk menolong sahabatnya yang masih memiliki sisa separuh nyawa.

Mata Kris mengekori punggung Jongin dengan tatapan penuh kebencian.

":Aku akan membuat kalian menderita." Guman kris.

Lelaki itu mengepalkan kedua tangan dan tersenyum licik.

.

.

"Kenapa Tao terus membenciku." Baekhyun menatap Jongin yang duduk disampingnya dengan tatapan nanar.

"Untuk saat ini yang aku tahu Tao menyukai Chanyeol." Jongin membalas tatapan Baekhyun dan tersenyum tipis namun dari tatapan Jongin masih ada yang Jongin sembunyikan.

"Untuk saat ini?" Baekhyun mengulang kalimat awal Jongin.

"Ku rasa begitu" Jawab Jongin singkat membuat Baekhyun semakin penuh tanya.

"Berarti ada alasan lain?" Baekyun mencoba menartikan perkataan Jongin yang pertama kali lelaki itu ucapkan.

"Sekarang yang terpenting kondisi Chanyeol." Jongin mengalihkan topik pembicaraan agar Baekhyun tidak membahas Tao dan Kris.

Gadis itu menunduk dan menghela napas dalam – dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia dan Jongin duduk di bangku panjang koridor rumah sakit dan telinga mereka menangkap suara – suara disekitarnya seperti suara ranjang panjang yang didorong cepat sepanjang koridor, suara telepon dan lift berdenting lalu dokter dan perawat yang sedang membahas keadaan pasien dengan bahasa medis yang tidak mereka pahami.

Jongin menepuk bahu Baekhyun untuk menghibur gadis disebelahnya. Jongin seolah-olah tau isi pikiran Baekhyun yang mencemaskan keadaan Chanyeol.

Selang berapa menit. Baekhyun melompat berdiri melihat Chanyeol mengunakan kursi roda keluar bersama dokter dari ruangan pemeriksaan terlihat dokter paruh baya mengatakan sesuatu dan di balas dengan ekspresi muram oleh Chanyeol.

"Apa kau terluka parah." Nada kecemasan keluar dari bibir tipis gadis itu.

Baekhyun menitikan airmata melihat tangan kiri Chanyeol diperban.

"Aku tidak apa-apa, hanya dicidera ringan." Chanyeol tersenyum dan mengenggam tangan Baekhyun. Lelaki itu tidak ingin membiarkan Baekhyun melihatnya dengan lebih khawatir lagi. Chanyeol beralih pandangannya kearah Jongin.

"Tao, kehilangan jejak?" Chanyeol bisa menebak setelah melihat ekspresi Jongin yang terlihat kurang bersemangat. Jongin mengangguk pelan seolah-olah mengatakan jika Chanyeol benar. Gadis licik itu melarikan diri.

"Chanyeol beristirahatlah dan jangan lupa untuk minum obat." Sela dokter menepuk bahu Chanyeol sebelum beranjak pergi untuk memeriksa pasien lain.

Jongin menekan tombol dan begitu pintu lift terbuka Baekhyun mendorong kursi roda yang sedang dikenakan Chanyeol untuk masuk.

"Bagaimana Tao bisa lolos?" Tanya Chanyeol.

Jongin dan Baekhyun yang berada dibelakang kursi roda Chanyeol saling bergantian menatap.

Itu.. itu... Jongin mengerakan bola matanya kekanan dan kiri untuk mencari alasan yang tepat.

"Ada adik tingkat yang aku tabrak, aku tidak kenal siapa gadis itu yang jelas dia sangat cantik dan seksi jadi aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja." Bohong Jongin menatap Baekhyun terlihat lega.

Mereka sengaja berbohong kepada Chanyeol karena mereka tidak ingin tiba-tiba Chanyeol langsung menemui Kris dan pastinya Chanyeool tidak mungkin menang melawan Kris dengan satu tangan selain itu cideranya juga bisa bertambah parah bahkan bisa jadi cacat permanen.

"Kau gila ? Lebih mementingkan gadis cantik daripada menangkap Tao." Ketus Chanyeol.

"Kau tau aku tidak..."

Chanyeol langsung mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar Jongin berhenti berbicara.

Suasana menjadi hening. Baekhyun dan Jongin saling menatap dan kemudian tatapan mereka beralih kepada Chanyeol. Tawa mereka berdua mengema didalam lift.

"Baekhyun."

Tawa Jongin dan Baekhyun mereda.

"Ya?" Jawab Baekhyun.

"Dokter tadi bilang selama dua minggu aku tidak boleh mengerakkan tanganku."

"Kau tidak perlu khawatir, aku akan..." Chanyeol kembali menangkat tangan kanannya memberi isyarat agar Jongin diam.

"Lalu?" Sela Baekhyun.

Suasana menjadi hening kembali.

Baekhyun dan Jongin terdiam mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Park Chanyeol

"Kau harus tinggal di apartemenku." Jawab Chanyeol singkat bersamaan dengan bunyi berdenting dari pintu lift terbuka.

.


FLASHBACK ON


.

25 hari telah berlalu, tubuh Tao meringuk di sudut kamar, duduk diatas tempat tidur seraya menatap kosong kearah luar jendela kamar apartemennya yang tirainya terbuka. Sore itu langit temaram cahaya orange menyentuh kulitnya namun tidak mampu menutupi bekas air mata di pipinya.

25 hari dia mencoba untuk mempertahankan egonya untuk terus melawan rasa bersalahnya kepada Baekhyun dengan mengingat perlakuan buruk Baekhyun kepadanya, namun semakin dia mengingat itu maka semakin merobohkan dinding pertahanannya.

Kini wajahnya terlihat sayu, air mata mengalir deras dari sudut kelopak matanya. Rasa sesal itu menyelimuti hatinya, dia menyesal kenapa melakukan tindakan bodoh menjebak Baekhyun, gadis yang selalu mementingkannya dan Baekhyun juga yang membela dirinya mati-matian.

Tao mengambil botol obat penenang di atas meja kecil samping tempat tidurnya, dengan cepat dia mengeluarkan seluruh isi botol obat tersebut kemudian menatap nanar butir kapsul berwarna merah yang memenuhi telapak tangannya yang gemetar.

Sebuah ponsel yang nadanya sedikit asing berdering membuat Tao tersentak dan memasukan kembali obat-obat tersebut kedalam tabung plastik kecil. Dengan berat hati ia meraih ponsel Kris yang berada diatas meja kecil samping tempat tidurnya.

"Ponsel lelaki itu tertinggal." Tao membatin.

Tao menatap nama Tn Park pada layar ponsel tersebut.

Saat hendak mengangkatnya karena gadis itu bermaksud memberitahu jika ponsel Kris tertinggal atau mungkin itu Kris yang menelpon namun panggilan tersebut telah berakhir

Setelah panggilan itu terputus Tao hendak menelpon balik.

"Gadis inii." Tao membelalakan mata ketika melihat foto seorang gadis menjadi wallpaper pada layar ponsel Kris.

Tao ingin melihatnya lebih jelas namun ponsel itu terkunci. Tao tersentak kaget tiba-tiba ada yang mengambil ponsel ditangannya dengan kasar.

"Beraninya kau menyentuh ponselku." Ketus Kris.

Tao beranjak dari tempat tidur dan melipatkan kedua tangannya didepan dada.

"Gadis itu seperti tidak asing." Tao memasang ekpresi curiga.

Tao menaikan kepala sedikit kepalanya untuk menatap Kris "Jadi benar selama ini " Tanya Tao dengan nada mengejek.

Tao bukanlah gadis yang dulu terlihat baik dan polo, kini Tao berubah menjadi gadis antagonis yang ambisus untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan termasuk Chanyeol.

Kris tidak memperdulikan Tao dan langsung beranjak meninggalkan gadis itu.

Tao menatap punggung Kris dan tersenyum licik "Pertarungan ini semakin seru, aku yakin Kris adalah lawan yang kuat untuk mereka." Batin Tao.

Kemudian gadis itu mengambil obat penenangnya "Kau membuatku hampir menyesal." Ujar Tao lalu melempar botol obat itu sejauh mungkin dari pandangannya.

.


FLASHBACK END


.

Bayangan samar-samar dirinya memantul di kaca besar jendela kamarnya. Chanyeol berdiri memandang kota Seoul yang sangat indah. Ia sudah berdiri dua jam lebih di balik jendela kamarnya. Sejak kemarin ia menyadari jika hanya bisa melakukan pekerjaan yang sederhana dengan sebelah tangan termasuk membuat secangkir cappucino. Sebenarnya ia bisa memasak ramyeon atau sekedar membuka kaleng sup asal dia sering berlatih namun Chanyeol tidak ingin melakukan semua itu. Chanyeol mendengar suara bel apartemenmnya berbunyi dia tahu siapa yang datang dan lelaki itu sengaja tidak bergerak dari posisinya.

"Chanyeol."Suara lembut gadis itu berada di belakang Chanyeol.

Chanyeol pura-pura tidak mendengar gadis itu.

"Chan.."

"Kau bisa pulang." Sela Chanyeol dengan nada datar membuat Baekhyun tersendat.

Baekhyun tahu jika lelaki yang sedang berada didepannya sedang menunjukan suasana hati yang buruk apalagi hari ini dia terlambat dua jam. Baekhyun meletakan tas dan kantong plastik yang didalamnya berisi makanan untuk Chanyeol diatas meja kecil.

"Aku.."

"Kau tidak memperdulikanku." Sela Chanyeol lagi sembari tersenyum tipis.

"Kau pasti sedang berkencan dengan lelaki lain selama aku disini." Lanjut Chanyeol sekilas melirik kebelakang kemudian kembali menatap jendela. Kali ini lelaki itu tidak memandang gedung-gedung yang berjejer tinggi namun bayangan samar-samar gadis dibelakangnya.

Baekhyun memejamkan mata sejenak sekilas terlintas dipikirannya ingin mematahkan tangan lelaki yang kekanak-kanakan itu. Namun ia harus bisa mengendalikan diri. Tarik napas... Keluarkan... Tenangkan diri.

"Kalau begitu aku akan meminta gadis lain untuk mengurusiku." Chanyeol kembali mengumpat.

Baekhyun langsung membuka mata dan menatap punggung Chanyeol.

"Aku pulang." Ketus Baekhyun tanpa nada tulus dalam suaranya.

Baekhyun mengambil tasnya lalu berbalik arah. Chanyeol menyadari pergerakan gadis itu secepat kilat ia menoleh kebelakang.

"Kau meninggalkanku?" Ceplos lelaki berlesung pipi itu.

Baekhyun menghentikan langkah dan menoleh berjalan mendekati kekasihnya sambil tersenyum kemudian memeluk erat lelaki yang ia rindukan.

Chanyeol membalas pelukannya.

"Aku merindukanmu." Ujar Chanyeol kemudian mencium puncak kepala gadis itu dengan penuh sayang.

.

.

Luhan dan Sehun sedang membersihkan rumah yang terlihat sederhana berbanding terbalik dengan rumah Luhan. "Kau betah tinggal disini?" Tanya Sehun sembari mengelap guci antik peninggalan orangtuanya.

Luhan menoleh kearah sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya mengelap meja ruang duduk. Luhan tersenyum "Aku betah." Ujar Luhan penuh semangat membuat Sehun tersenyum tipis.

"Sebaiknya kau segera pulang daripada nanti Kris mengobrak-abrik isi rumah ini." Canda Sehun membuat senyum Luhan mengkerut. Belum Luhan menjawab pertanyaan kekasihnya itu tiba-tiba mereka mendengar suara bel berbunyi. Mereka sontak menoleh kearah pintu, Luhan menatap Sehun kemudian gadis itu berjalan ke pintu.

Seorang lelaki berwajah manis mengenakan kaos coklat ditengahnya bergambar boneka beruang kecil sedang membawa beberapa paperbag.

"Sudah seminggu kau mampu bertahan disini, kau ternyata sudah dewasa." Ujar Jongin sedikit tidak percaya dengan ucapannya.

Luhan melirik paperbag yang dibawa Jongin "Oppa, didalam sana ada krim wajah yang aku titip kepadamu keamrin, kau lihat ini ." Bisik Luhan sambil menunjukan keningnya yang dihinggapi jerawat kecil kemerahan.

Jongin mengangkat bahu dan mengelengkan kepalanya. Luhan mendengus kesal.

"Masuklah, jongin." Suara Sehun terdengar dibelakang.

Luhan memberi jalan kepada Jongin untuk masuk.

AKHH! Luhan meringgis kesakitan ketika tangan Jongin tiba-tiba menekan jerawatnya.

Jongin menyodorkan paperbag berisi makanan kepada Sehun "Aku lapar." Ujar Jongin.

Luhan mendengus lagi melihat tingkah laku Jongin yang dinilainya kurangajar terhadap Sehun.

"Bagaimana rasanya tinggal disini?" Jongin menyandarkan tubuhnya diatas sofa.

"Kau tidak membawa krim untuk wajahku." Ketus Luhan menghiraukan pertanyaan Jongin.

Jongin menatap Luhan dan memiringkan sedikit kepalanya "Kau tidur dengan Sehun?"

Luhan mengerjap "Tid.. Tidakk.." Luhan terlihat gugup

Jongin menghela napas berat "Dasar pembohong!"

Jongin kembali menyandarkan kepala pada sandaran sofa "Aku memberikan krim wajahmu dengan teman kencanku." Jujur Jongin membuat Luhan berdecak pinggang.

"Brengsek!" Ujar Luhan pelan.

"Apa? Apa ?" Jongin memperbaiki posisi duduknya dan meminta Luhan untuk mengulangi perkataan namun Luhan hanya membalas dengan tatapan tajam.

Jongin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Luhan yang seperti anak kecil.

"Aku akan membelikanmu banyak krim setelah ini." Ucap lelaki itu untuk meredakan amarah Luhan.

"Janji?" Senyum gadis itu terbit.

"Janji!" Yakin Jongin.

Mendengar bunyi samar piring – piring yang berdenting dari dapur membuat Jongin sedikit memajukan tubuhnya kearah Luhan untuk mempersempit jarak diantara mereka.

Jongin kemudian menceritakan seluruh yang terjadi antara dirinya, Chanyeol, Tao dan Kris.

.

.

Chanyeol bangun dari tidurnya lalu berjalan ke dapur, dan memandang berkeliling. Baekhyun lupa menyiapkan makan malam untuknya. Chanyeol memandang tangan kirinya yang masih dikelilingi perban. Sebenarnya Chanyeol bisa memakan buah yang berada didalam kulkas namun Baekhyun sudah beberapa hari ini memanjakannya. Chanyeol uring-uringan lalu tertegun ketika sekelebat ide muncul dalam otaknya.

Chanyeol kembali kekamar dan mengambil ponselnya.

Karena takut Baekhyun sedang tidur lelaki itu memutuskan untuk mengirim pesan.

Kau kesini bisa ?

Beberapa menit berlalu namun tidak ada balasan dari Baekhyun. Lelaki itu sudah tidak sabar menunggu rasanya ia ingin segera menelpon ponsel lelaki itu berbunyi dan cepat-cepat Chanyeol membuka pesan tersebut.

Kenapa ?

Singkat. Chanyeol kesal dan mengetik.

Kau rasanya mau mati karena kelaparan.

Dua menit kemudian ponsel Chanyeol berdering

Maaf, aku lupa. Bagaimana jika aku menghubungi Jongin?

Chanyeol berdesis

Jongin sedang kencan dengan pramugari

Tidak ada balasan kemudian Chanyeol mengetik lagi.

Kau

Namun ponselnya bergetar

Aku segera kesana

Chanyeol bersorak senang ketika membaca balasan dari Baekhyun. Rencananya berhasil. Padahal Chanyeol tidak tahu Jongin dimana.

.


DON'T LIKE DON'T READ


.

Baekhyun mendesah. Ini benarr..benar.. Apakah lelaki itu masih terus berusaha untuk membuatnya menginap.

Ponselnya bergetar kembali dan Baekhyun membaca pesan masuk.

Awas Jika kau telat aku akan menciummu

Gadis itu mengigit bibir dengan kesal kemudian melempar ponsel itu kesamping tanpa membalas pesan dari Chanyeol.

Baekhyun duduk di samping tempat tidur dan menarik napas dalam-dalam.

.

Setelah pintu lift terbuka Baekhyun melangkah menuju keluar lift. Langkahnya terhenti ketika melihat Chanyeol berdiri didepan pintu apartemennya.

"Aku kira kau tidak datang." Tatapan Chanyeol membuat Baekhyun resah.

Belum sempat menjawab ucapan Chanyeol

"Masuklah." Sela Chanyeol lalu berbalik dan Baekhyun mengekoti Chanyeol masuk kedalam apartemen.

Baekhyun merasa bersalah karena lupa menyiapkan makan malam untuk Chanyeol. Gadis itu meletakan tasnya pada sandaran kursi ruang makan.

"Kau belum makan apapun?" Tanya sambil melepas jaket

"Karena tidak ada yang bisa aku makan."Jawab Chanyeol dingin.

"Aku tidak bisa melakukan apapun dengan satu tangan ini."

Baekhyun menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan.

Sebenarnya Baekhyun ingin meminta maaf tetapi jawaban Chanyeol entah kenapa membuatnya sedikit kesal.

"Kau mau makan apa ?" Tanyanya tanpa basa-basi.

Baekhyun berjalan kedapur dan Chanyeol mengikutinya dari belakang.

"Kau mau makan apa?" Tanya Baekhyun lagi sembari membuka kulkas.

"Terserah."

Baekhyun menelan ludah "Baiklah."

Gadis itu mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat sup iga dan Chanyeol bersandar dilemari dapur mengamati Baekhyun membuat gadis itu sedikit kurang nyaman.

Baekhyun membawa panci berisi air tiba-tiba Chanyeol menghampiri dan memeluknya dari belakang. Saking terkejutnya panci itu hampir terlepas dari pegangannya.

"Satu menit.. eh duaa.. lima menit saja." Ujar Chanyeol membuat baekhyun mematung.

Jantung Baekhyun melonjak dan berdebar dengan cepat.

.

.

"Apa yang kau cari?" Tanya Baekhyun sembari meletakan dua mangkok sup diatas meja makan setelah itu ia melepas celemeknya.

"Aku ingin makan Ramyeon." Sahut Chanyeol menjulurkan sebungkus ramyeon kepada Baekhyun.

Baekyun lagi – lagi menghela napas dan mengarahkan jari telunjuknya pada sebuah mangkuk berwarna putih berisi ramyeon diatas meja.

Chanyeol tersenyum kecut karena tidak menyadari jika Baekhyun sudah membuatkan ramyeon sebelum dia minta.

lelaki itu bergegas duduk disamping Baekhyun menyantap ramyeonnya dengan cepat.

Tiba-tiba ponsel Baekhyun berdering. Chanyeol hendak meraihnya namun Baekhyun lebih cepat meraih ponselnya. gadis itu menatap layar ponselnya dan menjawab panggilan dari Jongin.

"Ya, Jongin?"

Chanyeol mengerutkan alisnya. Ternyata Jongin gumannya.

"Benar. Aku di apartemen Chanyeol." Baekhyun melirik sekilas kearah Chanyeol.

"Rasanya aku ingin menelpon Tn. Shin untuk membawanya pulang kerumah. Dia tidak dapat melakukan segala sesuatu sendiri. Dia sangat kekanak-kanakan." Kata Baekhyun lagi di telepon.

Chanyeol melotot kearah Baekhyun dan Baekhyun memalingkan wajahnya.

"Oke tunggu sebentarnya oh iya kau benar, sebaiknya aku menelpon Tn. Shin saja." Lanjut Baekhyun dan Chanyeol langsung menarik dan menyembunyikan ponsel itu di punggungnya.

"Apa yang kau lakukan." Baekhyun berusaha meraih ponselnya.

Chanyeol langsung melempar ponsel Baekhyun dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.

"Chanyeol?" Baekhyun mengangkat kepalanya menatap wajah Chanyeol.

Chanyeol langsung mengecup bibir Baekhyun dan membuat pipi Baekhyun memerah.

"Aku merindukanmu." Ujar Chanyeol menatap Baekhyun hangat.

Chanyeol memejamkan mata mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun, gadis itu perlahan memejamkan matanya dan merasakan napas Chanyeol semakin dekat menyapu wajahnya.

Napas itu semakin dekat dan...

"Aku datang." Sapa Jongin riang membuat Chanyeol dan Baekhyun kelagapan.

"Opss.. maaf." Ujar Jongin enteng.

Baekhyun segera beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai.

Chanyeol memicingkan mata kearah Jongin dari pergerakan bibir lelaki itu Jongin tahu jika sahabatnya sedang mengumpatnya. Brengsek!. Jongin pura – pura tidak bersalah dan berjalan mendekati Chanyeol.

"Kau sudah membaik." Jongin sengaja menepuk bahu kiri Chanyeol dengan keras sebagai balasan umpatan Chanyeol barusan kepadanya.

AKHH! lelaki itu meringgis kesakitan

Jongin kemudian mengambil alih tempat yang diduduki Baekhyun dan menatap Chanyeol.

"Apa kau tidak menciumku." Jongin mengedipkan mata kanannya dan Chanyeol langsung memalingkan wajah.

"Baekhyun." Panggil Jongin.

"Ya." Sahut Baekhyun sembari memeriksa ponselnya.

"Malam ini aku akan menginap disini dan besok aku tidak sekolah jadi kau tidak perlu mengasuh bayi raksasa ini." Ujar Jongin penuh semangat.

"Kau memang terbaik." Puji Baekhyun mengacungkan jempolnya kepada Jongin.

Membuat Chanyeol menatap tajam Jongin yang sedang tersenyum lebar kearahnya.

"Aku sahabat yang baik kan?" jongin mengucapkan itu dengan percaya diri.

Membuat Chanyeol memasang ekspresi jijik kearah Jongin lalu beranjak menuju kamarnya.

Jongin dan Baekhyun saling menatap kemudian tawa mereka meledak.

.


PLEASE GIVE YOUR REVIEW


.

Baekhyun membuka pintu lokernya. gadis itu tersenyum meskipun sudah satu minggu dia tidak menemukan coklat dalam lokernya.

Ia mengeluarkan tasnya lalu duduk di bangku panjang yang berada disamping loker paling ujung dan kemudian menarik napas panjang.

Entah kenapa suasana disekolah sangat berbeda tanpa Chanyeol. Entah kenapa dia selalu merindukan lelaki itu!.

Baekhyun mengambil sebuah buku kecil didalam tasnya.

"Baekhyun." Baekhyun mengenali suara yang menyapanya membuat dia sedikit kaget. Buku itu terjatuh kelantai sebelum Baekhyun mengambilnya, lelaki itu menjulurkan tangannya untuk mengambil buku Baekhyun.

"Kris" Baekhyun menoleh dan tersendak kaget.

Kris membuka pintu lokernya yang berada disebelah tempat Baekhyun duduk.

"Kau menginap di apartemen Chanyeol?" Tanya Kris tanpa menoleh kearah Baekhyun.

Baekhyun pura-pura tidak mendengar apa Kris tanyakan. Ia menutup tasnya beranjak dari tempat duduk.

"Baekhyun?" Panggil Kris menoleh kepada Baekhyun yang sedang mengantungkan tasnya kebagian belakang pintu loker.

Namun Baekhyun masih mengabaikannya.

BRAK! Kris menghempaskan pintu lokernya dengan kasar. Baekhyun tersendak kaget untunglah saat itu tidak ada siswa yang berlalu lalang.

"Kau harus menjauhi Chanyeol karena jika Tn. Park mengetahui hal ini maka kau dan adikmu akan menderita."

Ancam Kris lalu beranjak meninggalkan Baekhyun.

"Dimana Tao?"

Kris menghentikan langkahnya.

"Kenapa kau membenci Chanyeol?"

Kris berbalik dan menatap Baekhyun.

"Kau menyukaiku?" Baekhyun menatap tajam Kris seraya mengacukan kertas kecil berwarna putih.

Kris mempersempit jaraknya dengan Baekhyun, lelaki itu mengambil kertas kecil dari tangan Baekhyun.

Ditatapnya tulisan itu dan Kris menyadari jika itu adalah tulisan Tao.

Kris tertawa sembari merobek kertas kecil tersebut lalu melemparnya tepat di depan wajah Baekhyun.

"Kau percaya? Aku tidak mungkin menyukai gadis sepertimu. Kau bukan tipeku!" Ketus Kris.

"Percaya atau tidak itu tidak penting, yang penting adalah aku menyukai Chanyeol." Jawab Baekhyun tersenyum lalu berbalik arah.

Rahang Kris mengatup dan emosinya mulai memuncak dengan kasar dia menarik tangan Baekhyun dan mendorong tubuh gadis itu kearah loker.

Mengunci pergerakan gadis itu. Lelaki beralis tebal itu mengangkup kuat pipi Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan." Erang Baekhyun mencoba melepaskan diri dari cengkraman Kris.

Namun lelaki itu malah mencium bibir gadis itu. Baekhyun mendorong Kris, gadis itu menangis ketakutan.

Baekhyun hendak menampar Kris namun tangannya ditangkap oleh Kris. Kris kembali mendorongnya dan ingin mengecup bibir Baekhyun.

Gadis itu semakin memberontak hingga terduduk.

"Hentikan!" Baekhyun menangis. Gadis itu benar – benar ketakutan tubuhnya gemetar.

Kris terdiam dan berjongkok menarik kerah Baekhyun untuk membuat Baekhyun menatapnya namun justru gadis itu enggan menatapnya.

"Kau selalu mencampakanku." Gertak Kris, mata lelaki itu memerah. Lelaki itu berdiri dan meninggalkan Baekhyun.

.


FLASHBACK ON


.

Seorang gadis mengenakan jaket tebal berwarna hitam bernapas lega setelah menutup pintu taksinya.

Gadis itu menatap gedung sekolah yang telah satu bulan ditinggalnya.

"Aku merindukan sekolah ini." Desahnya lalu gadis itu sekilas melirik kertas kecil yang dia keluarkan dari saku jaketnya. Gadis itu tersenyum licik.

Dilihatnya sekali lagi gedung sekolah yang terlihat sepi. Wajar sepi karena tidak mungkin ada siswa yang datang sepagi ini.

Setelah memastikan kondisi aman Tao mengenakan topeng yang dia sisipkan dibalik jaket tebalnya itu dengan langkah pelan ia berjalan ketempat rahasia yang bisa membuatnya masuk sekolah tanpa perlu melalui gerbang.

Sekali lagi gadis itu menghela napas lega ketika sampai didepan loker Baekhyun. Dikeluarkannya kunci duplikat loker Baekhyun dari saku jaketnya. Sebelum dia membuka loker berwarna biru muda itu, dia melirik kanan dan kiri ternyata kondisi masih aman.

"To : Baekhyun

Kau tau rahasia besar, Kris menyukaimu."

Gadis bermata sipit itu kembali tersenyum ketika membaca catatan yang telah dia buat.

.


FLASHBACK END


.

TBC...

.

.

.

AKHIRNYA OKTA KEMBALI, SUDAH LAMA TIDAK MENYAPA KALIAN.. HIHIHI

TEMAN-TEMAN, TERIMA KASIH UNTUK DOA DAN SUPPORT YA..

.

xiuminnie14 : amiiinn. fighting kak.. cuma bisa bantu doa dari sini..
ditunggu kelanjutan ceritanyaaa

: Seru bgt ffnya G sabar nunggu lanjutnya.

kimmieuncho : Ok semoga lancar, di tnggu lnjutn ff nya

dst..

- Terima kasih yaa.. tambah semangat Okta karena adanya kalian semua hihihinarsihamdan :
Ciyeh yg udah baikan, d.o astaga, udah hun jadian , ibu cy di penjara, apa dia ngebunuh ibu kris, dan cy engga tau, itu tao mau buduh dirikah ckck

- Pantengi terusnya BIM ini, nanti akan ada ledakan disetiap capt *apasihOkta BeeJae :
semangaaat say. semoga sukses acaranya. salam buat para exol palembang yaa.

- Salam balik dari exol palembang untukmu jugaa :*

BaekHill :

Semangat kak.. Duh jadi pengen k palembang biar bisa kumpul2 bareng sesama EXO-L..
D tasik mh gk ada yg kayak gini..

- Seingetku Tasik ada kok, oh iya kita ( exolpalembang) sering ngadain project bersama 21 Kota seIndonesia hihihi siapa tau ada kotamu..

park yeolna :

siapa sih yang bakal meninggal thor?tao ya?

- Tao jangan kita buat meninggal dulu karena masih banyak urusannya didunia Chanbaek wkwkwkw

.

.

Terima Kasih guys udah menunggu diriku untuk update lagi hihihihi