Saya hanya meminjam tokoh-tokoh milik Masashi Kishimoto -sensei
.
Ino dan Tnten menata Hinata dengan alis berkerut. Hinata saat ini berdiri dengan tubuh menegang seperti ketakutan. Mata yang biasanya terlihat berbinar, kini terdapat butiran air yang mungkin akan jatuh jika sang pemilik tidak dapat menahannya. Kedua tangan bertautan, saling meremas satu sama lain menyalurkan getaran. Hinata menatap Ino dan Tenten dengan pandangan terkejut sekaligus lega, walaupun semuanya sangat tidak masuk akal, tetapi setidaknya ia sudah tidak sendiri sepeninggalan Sakura yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya.
Ino dan Tenten saling menatap satu sama lain, sama-sama terpancar rasa bingung pada kedua bola mata milik mereka. Dengan langkah perlahan, ia berjalan kearah Hinata. "Kenapa kau ada disini?" Tenten membuka pembicaraan.
Hinata tidak menjawab, ia langsung memeluk kedua sahabatnya dan terisak pelan. Mencoba menyalurkan ketakutannya pada sahabatnya, mencoba membuat tubuhnya menjadi sedikit tenang. Ino dan Tenten lagi-lagi hanya berpandangan bingung dari balik tubuh hinata yang bergetar ketakutan. Bibirnya tidak melontarkan satu katapun, mengingat dirinya juga bingung, namun tangannya aktif mengusao punggung Hinata.
"Apa yang terjadi?"
Pintu di samping mereka terbuka, Naruto keluar setelah mendengar suara ramai di depan kamanya. Dilihatnya ketiga teman perempuan satu timnya berkumpul, kebingungan tercetak jelas pada wajahnya kala melihat Ino dan Tenten yag seharusnya berjalan berlawanan bersama kelompoknya. Diarahkan pandangannya pada Hinata yang terlihat menghusap air matanya, terlihat jejak anak air mata yang jatuh kepipinya yang merona kemerahan.
"Apa yang kalian lakukan di depan kamarku? Hinata apa yang terjadi padamu? Ino. Tenten. Bukankah kalian berjala berlawanan denganku?" tanyanya heran.
Ino menganggukan kepalanya, "Sungguh. Aku tidak mengerti apa yang terjadi sebenarnya."
"Kami berniat mengambil air minum dan menemukan Hinata disini, jangankan kau, kami saja heran mengapa kita bisa bertemu disni."
Raut wajah kebingungan tidak hilang dari raut wajah mereka, dengan inisiatif, Naruto mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam kamarnya, membiarkan mereka untuk berpikir mengapa mereka bisa berada di tempat yang sama.
"Kupikir sebaiknya kita ke kamar Sai dan Neji, bersama-sama bisa mencegah timbulnya sesuatu yang tidak diinginkan." Ino menimpali, "Kalian tahu, perasaanku semakin tidak enak." Lajtnya.
"Baiklah, aku akan mengambil jaket sebentar." Naruto kembali masuk kedalam kamar, sesaat kemudian ia keluar dengan membawa jaket orange jeruk yang sudah ia kenakan.
Mereka berempat berjalan beriringan menuju kamar yang di dalamnya terdapat Neji dan Sai. Suasana remang-remang di dalam vila membuat suasana menjadi mencekam. Terlebih dengan berbagai lukisan manusia yang mengenakan pakaian khas jepang jaman kuno. Naruto mengerutkan alisnya kala melihat seekor kucing hitam diam di ujung lorong, bagian telinganya tedrapat tali bewarna merah yang dibentuk menjadi pita. Kucing itu memiliki mata bewarna merah dengan dua taring yang keluar, lebih panjang jika dibandingkan dengan kucing-kucing pada umumnya.
"Kalian duluan lah, aku akan memeriksa sesuatu."
Ino, Hinata, dan Tenten menganggukan kepalanya. "Kamar nomor 18 ya Naruto." Ucap Ino kemudian. Naruto hanya menganggukan kepalanya mengerti.
Pada dasarnya Naruto bukanlah seorang anak yang penakut. Semakin ia merasa takut, semakin ia merasa tertantang untuk menaklukan rasa takutnya. Dengan mantap, ia berjalan mendekati kucing hitam yang menatapnya dengan iris merahnya yang tajam.
Brakk!
Sai mengusap keningnya yang memerah karena tertatap dengan pintu yang berada tepat dihadapannya. Tubuhnya masih duduk dikarenakan dorongan pada pintu yang tiba-tiba membuatnya terkejut dan terjungkang ke belakang dengan bagian bokong yang menyentuh lantai kayu terlebih dahulu. Menggeram pelan, Sai menolehkan kepalanya menatap seorang perempuan bercepol dua yang ia sangat kenal sehingga membuatnya ingin menarik cepolan coklatnya itu.
"Sai apa yang kau lakukan disana?" ucap Tenten menatap Sai heran.
Sai yang ditanya dengan wajah tanpa rasa bersalah milik Tenten hanya memutar bola matanya bosan. Tanpa memperpanjang, ia menegakkan tubuhnya kembali berdiri dan berjalan ke kasur miliknya di samping kanan Neji. "Kau sudah mengambil air? Cepat sekali." Ucapnya seraya merebahkan tubuhnya yang masih basah karena sehabis mandi.
Tenten masuk ke dalam kamar diikuti dengan Ino dan Hinata yang dalam rangkulan Ino. "Ada yang harus kita diskusikan disini." Ucap Ino dengan wajah serius.
Neji yang sebelumnya berkutat dengan game di handphonenya, kini menatap Hinata dengan pandangan heran. Lagi-lagi pertanyaana sama dengn yang dipikirkan oleh teman-teman sebelumnya. "Hinata? "
"Bagaimana bisa kau disini?" Sai menyahut mewakili Neji.
Ino membawa Hinata duduk di kasur milik Neji, mendudukan dirinya dan Hinata disana. Sai kembali mendudukan tubuhnya kala Tenten berjalan setelah menutup pintu kamarnya. Sebuah kamar yang tidak terlalu luas ini kini dipenuhi oleh lima orang. Cahaya temaram yang dihasilkan oleh lima buah lampu sumbu membuat kamar itu menjadi bewarna orens. Bayangan lima orang dari mereka, terpantul setinggi langit-langit kamar.
Pikiran berkecamuk dalam benak masing-masing. Beberapa pertanyaan yang ingin mereka lontarkan, terpaksa mereka telan bulat-bulat.
Hinata memberanikan dirinya menatap temannya satu persatu. "Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian." Ucapnya pelan. Lebih terdengar seperti suara orang yang tercekik. "Aku melihat Sakura,"
"Dimana dia?" Ino mengerutkan alisnya kala menyadari bahwa Sakura tidak berada bersama Hinata.
"Aku melihat Sakura-chan, berada di dalam jam dinding." Hinata semakin menundukan kepalanya kala melihat empat pasang mata menatapnya dengan padangan bingung. "A-aku melihat Sakura-chan berada di dalam jam dinding. Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, yang aku tahu, tiba-tiba jam itu pecah dan hancur."
Kelimanya diam, mencerna apa yang dikatakan oleh Hinata.
Sakura menatap kedua tangannya yang terlihat tembus pandang. Ia mencoba mengatur napasnya agar tidak memburu karena ketakutan. Ia memundurkan langkahnya perlahan secara konstan, hingga kakinya menyentuh batu besar tepat dibelakangnya. Menundukan tubuhnya, lalu duduk direrumputan, bersandar pada batu yang kini menjadi tumpuan tubuhnya yang tiba-tiba melemas kala ia menyadari bahwa dirinya seperti hantu.
Masih dengan pemandangan yang tidak ia sukai, ia menatap lirih pada Kimo yang saat ini tertawa seperti kerasukan. Tangannya penuh darah, sorot matanya tajam menatap seorang wanita bersurai pirang yang mengenakan kimono indah.
"Apa yang terjadi sebenanya?" gumamnya untuk diri sendiri.
Setelah ia mampu mengendalikan tubuhnya sehingga tidak melemas, ia menolehkan kepalanya menatap wanita pirang yang kini berlari menjauh dari Kimo yang semakin menjadi membantai orang-orang yang berada di sana. Dengan terburu, Sakura melangkahkan kakinya mengikuti wanita itu. Teriakan Kimo yang mengejar dibelakangnya semakin membuat langkahnya terburu, keringat dingin meluncur jatuh membasahi leher jenjangnya hingga hilang pada kaus yang ia kenakan.
Napasnya memburu, terpatah-patah, hingga sulit rasanya untuk meraup oksigen yang berada disekelilinya. Dengan tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya kala seseorang yang dikejarnya juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa Utakata-kun?"
"Kau teruslah berlari, Shion." Laki-laki yang ia tahu sebagai Utakata meletakkan tangannya tepat diatas pundak Shion. "Jika kita terus berlari tanpa menyerang, akan percuma. Aku akan menahannya bebeapa saat, kau larilah sejauh-jahnya." Lanjutnya.
Sakura menatap keduanya dengan pandangan sayu, tanpa pikir panjang, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
"Apa yang kau katakan?!" Shion membentak. "Aku tidak akan kemana-mana tanpa kau disampingku."
"Jangan bodoh!" serunya. "Kau tahu apa yang terjadi kan? Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri." Bentaknya. Shion menatap Utakata dengan air mata yang berlinang.
"Pergilah sejauh yang kau bisa, jaga permata itu. Cari cara untuk mengubur kembali sihir makhluk menyeramkan itu."
Shion menggigit bibir bawahnya keras, hingga mengeluarkan sedikit darah. Sakura memandang itu seraya mengernyitkan alisnya. "Apa kau akan baik-baik saja?" tanyanya menyentuh pipi Utakata.
"Kau percaya padaku kan?" Utakata balas menyentuh tangan Shion. Shion menganggukan kepalanya. "Pergilah.."
"Berjanjilah kau akan baik-baik saja." Gumamnya dan hanya di balas Utakata dengan senyuman tulus. Selanjtnya, ia belari menjauh dari Utakata yang saat ini berlari berlawanan arah dengannya, menuju Kimo yang saat ini tentunya mengejar mereka.
Sakura menatap Utakata dengan padangan sayu. Rasanya seperti melihat televisi dengan kisah romansa menyedihkan yang sering ia tonton bersama ibunya jika di rumah. Pikirannya bercabang, antara mengkuti Utakata yang kembali menghampiri Kimo atau mengikuti Shion yang semakin kecil dipandangannya. Setelah memutuskan, ia segera kembali berlari mengikuti Shion yang saat ini masuk semakin jauh ke dalam hutan.
Naruto berjalan ditemani dengan temaram lampu petromak disetiap sisi kanan dan kirinya yang masing-masing berjarak sekitar tiga meter. Tidak cukup terang untuk membuat sebuah lorong menjadi terlihat hingga keujung. Kucing hitam yang tadi dilihatnya masih diam seolah menunggunya unuk menghampiri. Saat jarak semakin terkikis, kucing itu berjalan naik keatas, menapaki anak tanga. Naruto berdiri diam diujung tangga, rasa ragu menyergap kala melihat tangga-tangga tersebut tidak diterangi satupun cahaya, walaupun cahaya dari temaram lilin sekalipun.
Dalam kegelapan, Naruto dapat melihat sepasang mata tajam yang menatapnya. Rasa penasaran sudah menguasainya, ia meraih sebuah lilin petromak yang berada di sampingnya, lalu berjalan perlahan menaiki anak tangga, satu persatu hingga sosoknya hilang dalam kegelapan. Tanpa ia sadari, tembok kayu yang tadinya menunjukan anak tangga ke atas, kini bergeser perlahan, tanpa menimbulkan suara, menutup jalannya untuk kembali.
Sasuke berjalan sedikit tergesa menapaki anak tangga yang entah mengapa terasa jauh. Diusahakan dengan sangat agar langkah kakinya yang besar tidak menimbulkan suara apapun dalam kesunyian yang kini hanya dipenuhi oleh suara percakapan antara Kimo dengan makhluk yang ia sendiri tidak tahu apa namanya.
Samar, iris hitamnya menatap sebuah cahaya yang bergerak menjauh diujung tangga. Seseorang berjalan membawa cahaya itu, terlihat dari pantulan tubuhnya pada dinding-dinding ruangan. Logikanya bermain kala otaknya mengingat bahwa sebelum ia turun, tidak ada anak tangga yang menghubungkan antara lantai dua dan mungkin lantai tiga.
Matanya mengerjab. Cahaya itu hilang. Seseorang itu tidak ada. Mungkinkah hanya delusinya saja?
Tidak mau pikir panjang, ia segera mempercepat langkahnya. Peluh menetes membasahi kaos yang ia kenakan, membuat tubuhnya terasa lengket tak nyaman. Bibirnya mengeluarkan napas yang terlihat seperti asap, terlalu dingin. Tubunya kaku, persendiannya terasa linu, namun ia mengabaikan itu semua, ingin segera sampai ke tempat teman-temannya berada dan memberitahukan apa yang baru saja ia lihat dan dengar.
Sesampainya di depan kamar antara kamarnya dan Sakura, ia menundukan tubuhnya sebentar, mengambil napas dalam-dalam, mencoba meraup oksigen yang terasa menjauh dari tubuhnya. Ia membuka kamar miliknya dalam sekali dorong, pintu itu terbuka, namun tidak didapatinya sahabat pirang yang sering kali ia katakana bodoh.
Kakinya melangkah ke dalam, memeriksa kamar mandi yang tidak ada penerangan sama sekali. Lima lampu petromak yang sebelumya menyala, kini hanya tersisa dua buah. Satunya tepat berada di atas meja rias samping kamar mandi, sedangkan satunya di atas bupet kecil antara kasur miliknya dan Naruto. Kamar mandi ia periksa, lagi-lagi tidak ada Naruto di sana.
Bergegas, ia keluar dari kamar, membuka pintu kamar Sakura dan Hinata. Namun lagi, ia tidak menemukan mereka ada di sana. Matanya membuat kala melihat pecahan beling betebaran memenuhi setiap sudut kamar, bahkan diatas kasur terdapat pecahan beling selembut krikil halaman rumahnya. Selembar foto Sakura tergeletak begitu saja dilantai, pada bagian kening tertancap pecahen beling berbentuk segitiga, sehingga membuat foto itu sobek memanjang.
Perasaannya tidak enak. Sesuatu akan terjadi.
"Apa yang terjadi?"
Ino menatap Hinata yang terisak, memeluknya dengan pandangan takut. Rasanya sulit dipercaya cerita Hinata barusan, namun mengingat Hinata tipe orang yang tidak penah berbohong, ditambah keadaan fisiknya yang tidak baik, ia mempercayainya dengan sepenuh hati. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka semua, yang ia inginkan adalah agar mereka selamat sampai di rumah. Melupakan apa yang terjadi seolah ini adalah bunga tidur yang menyeramkan.
"Apa ada yang ingat mengenai cerita vila di tengah hutan?" terdiam. "Beberapa hari yang lalu kita membahasnya?" Tenten melanjutkan uapannya.
Sebuah bohlam tak kasat mata seolah bersinar dalam pikiran mereka, seperti mendaat pencerahan. Tapi, itu kan hanya cerita yang masih belum terbukti.
"Apa ini adalah yang mereka maksud?" Ino menimpali.
Sai menatap kekasihnya dengan pandangan bertanya, mencoba menyerap informasi yang baru saja ditemukan. "Apa iya?" gumamna pelan.
"Bagaimana cara keluar dari sini?" Neji menatap satu-persatu waja teman-temannya. Mencari sepercik jawaban yang mungkin saja tiba-tiba tercetus. Namun harapannya terhempas kala ia mendapati mereka sama-sama menggelengkan kepala tidak mengerti.
Sakura terdiam, tangannya bersandar pada batang pohon rindang di hadapannya. Rasa lelah yang sangat menyergap tubuhnya. Seumur hidup, ia tidak pernah berlari sejauh ini. Saat olah raga sekolah pun, jika diminta untuk keliling lapangan lima putaran, ia sering korupsi hingga hanya dua putaran saja. Irisnya masih memperhatikan Shion yang duduk bersandar pada batang pohon mati, ia simpulkan karena pohon itu sangat kering dan tidak memiliki satu helai daun.
Shion menatap kosong langit dengan air mata yang masih menganak sungai dipipinya. Ia mengeluarkan kalung berliontin permata bewarna merah, Sakura tersentak, permata itu seperti yang ia temukan di taman saat pulang sekolah bersama Sasuke. Ia meraba dadanya, tempat ia menyimpan permata yang ia jadikan kalung. Alisnya berkerut kala ia tidak menemukan permata itu, bingung, ia menarik kerah bajunya untuk memastikan. Namun hasilnya sama saja, hanya seuntas tali biasa yang melingkar dilehernya.
Sakura mendekati Shion, duduk tepat di samping kanannya. Melihat dengan lebih dekat permata itu.
Ini yang dicari Kumo? Batinya bertanya.
Shion menatap permata itu dengan pandangan lirih, lalu menempelkannya pada batang pohon di belakangnya. Perlahan, permata itu masuk ke dalam pohon, tertelan dengan serat-serat kayu yang tadinya kering menjadi kuat dan lembab. Ranting-ranting yang terlihat akan patah, kini mulai berisi dan ditumbuhi degan bunga-bunga bewarna merah muda.
Sakura memundurkan tubuhnya, menatap takjib perubahan yang terjadi pada batang pohon yang mati. "Apa ini magic?" gumamnya.
.
Tbc
.
Oyy gaess.. pasti udah lupa sama fic ini ya? ahaha.. sabra ya.. ini ujian hehe XD fic ini ngga akan di dis ko, Cuma ya updatenya ngaret parah, ini ada waktu luang jadi Fi lanjutin. Selamat berpetualang gaess..
Btw kalo sadar, disini beberapa panggilan ke tokoh ngga pake 'chan' karena beberapa alasan hew… palinga panggilan dari Hinata untuk ke teman-temannya ;p
Makasih untuk yang udah review dan nunggu kelanjutan dari Fic ini 😊 saya lanjut fic ini untuk kalian..
Salam,
Fiyui-chan
