Seminggu berlalu sejak ospek pertemuan ketiga.

Dan hari ini ospek pertemuan keempat.

Sejak kejadian di kamar mandi itu, Mingyu terus dihantui rasa bersalah.

Ditambah lagi setiap berpapasan atau tidak sengaja bertemu Wonwoo di kantin, koridor, perpustakaan, Wonwoo jelas-jelas menghindari Mingyu.

Sebenarnya Mingyu bisa menghiraukan hal itu, tapi perasaannya sungguh merasa bersalah.

Mingyu menengok kanan-kiri melihat siapa yang bertugas mengambil foto hari ini.

Dari tadi Mingyu tidak melihat Wonwoo sama sekali.

Padahal waktu sudah menunjukkan istirahat makan siang.

Biasanya Wonwoo selalu ada di ruangan untuk menampilkan foto-foto di sela makan siang.

"Lo nyariin siapa?" tanya Joshua.

Mingyu merentangkan tangannya.

"Enggak nyari siapa-siapa. Gue lagi peregangan aja, pegel duduk mulu," jawab Mingyu berbohong.

"Berarti lo selama 2 jam ini peregangan terus? Gue merhatiin dari dua jam lalu lo celingukan kaya gitu," sindir Vernon.

Mampus. Gak bisa bohong lagi.

"Hehehe," jawab Minggu dengan cengiran lebarnya.

"Lo nyari Wonwoo kan?"

"Hmmm," gumam Mingyu.

Vernon mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

"Tuh ada kak Jun, lo tanya aja. Dari pada leher lo sakit celingukan kaya tadi."

Mingyu sebenarnya merasa malu, tapi dia harus menjawab rasa penasarannya.

Dimana Wonwoo?

Mingyu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Jun yang sedang sibuk dengan kamera dan laptopnya.

"Kak Jun, Wonwoo hari ini gak dateng?" tanya Mingyu to the point.

Jun menghentikan kegiatannya dan mengalihkan fokusnya pada Mingyu.

"Wonwoo? Ada ko," jawab Jun.

Mingyu melihat ke sekeliling ruangan.

"Tapi kok ga ada? Seharian gue gak liat dia," sahut Mingyu penasaran.

"Dia bukan bagian ngambil foto lagi. Dia sekarang tugasnya jadi pengarsipan dokumentasi dan bantu bidang publikasi. Kenapa?"

Dia gak jadi tukang foto lagi?

"Gak ko. Gue duluan ka," kata Mingyu meninggalkan Jun.

Mingyu kembali ke tempat duduknya dengan rasa penasaran yang belum terjawab.

Kenapa dia ganti tugas? Gara-gara takut gue jailin lagi? Batin Mingyu.

"Gimana? Udah ketemu?" tanya Joshua.

Mingyu hanya menggeleng.

"Gue beneran pingin minta maaf. Gue gak mau terus-terusan ngerasa bersalah kaya gini," ucap Mingyu dengan nada frustasi.

"Lo tinggal temuin dia terus minta maaf. Masalah kelar kan?" kata Vernon.

Mingyu hanya mengangguk.

Mingyu's POV

Gimana caranya gue minta maaf ya?

Niatnya Sabtu kemarin gue mau nemuin dia dan minta maaf, tapi dianya yang gak ada.

"Woy, itu Wonwoo di koridor mau ke kantin tuh! Samperin sono!"

Untung Vernon lihat Wonwoo, jadi gue gak perlu ngelilingin fakultas buat nyariin dia.

Tumben dia sendiri.

Gue langsung aja ngikutin dia dari belakang.

Astaga, dia jalan di koridor sambil baca buku!?

Gue geregetan ngeliat dia beberapa kali hampir jatuh karena gak fokus lihat jalan malahan fokus baca buku.

Beloon banget!

Gue ngikutin dia sampai dia nyampe kantin.

Wonwoo's POV

Sialan banget DK dan Seungkwan, gue minta tungguin 10 menit malah langsung ngilang.

Gue juga mau makan.

Baru gue menginjakan kaki beberapa detik di kantin, ternyata suasana kantin begitu ramai.

Ya ampun, kantin penuh banget.

Gue lirik jam tangan hitam gue.

Pantesan, udah jam 12 siang memang waktunya istirahat dan kantin pasti penuh.

Arrgghh, gue laperrr.

Semua kursi di kantin sudah terisi penuh.

Bahkan sudah banyak orang mengantri untuk beli makan siang.

Gak ada tempat lain ya? Kenapa semua orang ke kantin ini. Gerutu Wonwoo dalam hati.

Wonwoo memutuskan untuk menunda waktu makan siangnya karena tidak memungkinkan untuk makan di kantin.

Wonwoo akhirnya memilih untuk kembali ke kelas.

Kelas masih kosong karena semua mahasiswa sedang istirahat makan siang.

Lagi pula mata kuliah selanjutnya adalah praktikum.

Pantas saja, tidak ada siapa-siapa di kelas.

Sebenarnya ada kantin lain di sekitar fakultas, tapi harganya mahal dan rasanya juga tidak begitu enak.

Lokasinya yang lumayan jauh membuat Wonwoo mengurungkan niatnya untuk makan di kantin.

Wonwoo memilih mendengarkan lagu sambil membaca buku untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa laparnya.

Dukk..

Wonwoo reflek membuka mata saat merasakan ada sesuatu di depannya.

Wonwoo bingung dan terkejut saat mendapati Mingyu yang duduk di depannya dan keresek putih yang tadi Mingyu taruh di meja Wonwoo.

"Lo ngapain ke sini? Ini apa?" tanya Wonwoo datar.

Mingyu mengambil keresek putih itu dan membukanya.

"Ini makanan. Lo gak bisa liat?"

Wonwoo menyilangkan kedua tangannya di depan Mingyu.

"Gue tahu. Maksud gue lo ngapain makan di sini? Kelas lo bukan di sini," jawab Wonwoo ketus.

Mingyu berdiri dari tempat duduknya.

"Itu buat lo, bego," jawab Mingyu seraya meninggalkan Wonwoo yang masih kebingungan.

"Ini buat gue?" gumam Wonwoo.

Wonwoo membuka bungkusan makanan itu dan ternyata isinya adalah nasi goreng seafood.

Wonwoo menelan ludahnya sendiri.

Wangi nasi goreng sangat menggoda Wonwoo.

"Ini beneran buat gue? Mungkin bocah itu lagi kerasukan, tiba-tiba ngasih gue makanan," pikir Wonwoo.

Wonwoo yang memang sedang lapar tidak mau berpikir lama-lama.

Langsung saja makanan itu dia santap dengan lahap.

Mingyu yang memperhatikannya dari pintu kelas hanya tersenyum melihat Wonwoo yang makan dengan lahap.

Akhirnya praktikum selesai.

Tiga jam dalam laboratorium bukanlah hal mudah.

Bagi Wonwoo sekalipun, setiap kegiatan praktikum selalu menguras tenaga dan pikirannya.

Belum lagi harus ada laporan praktikum yang harus dia susun setelah praktikum selesai.

"Wonwoo, lo mau kemana abis ini?" tanya Seungkwan sambil melepas jas laboratoriumnya.

"Kayanya gue mau ngerjain laporan di perpus," jawab Wonwoo.

"Gue sama DK balik duluan ya, mau istirahat. Tepar gue gara-gara praktikum," sahut Seungkwan.

"Iya."

Wonwoo sebenarnya merasa lelah dan ingin segera pulang, tapi dia membutuhkan buku-buku di perpustakaan sebagai referensi dia mengerjakan laporannya.

Wonwoo mengambil HP di sakunya.

Udah jam setengah 4 ternyata. Sebentar lagi perpustakaan tutup.

Meski pun 30 menit lagi perpustakaan akan tutup, Wonwoo tetap memutuskan untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan.

Wonwoo masuk lalu memindai kartu mahasiswanya di alat pemindai khusus yang disediakan pihak perpustakaan.

Wonwoo memilih kursi yang berada di dekat pintu masuk.

Tasnya dia taruh di meja.

Ahh gue cape. Keluhnya.

Rencana untuk mengerjakan tugas pun batal.

Wonwoo malah tertidur di meja dengan tangan sebagai alas kepalanya.

"Ini perpustakaan kan? Atau kamar tidur ya? Gue salah masuk ruangan kali ya?"

Suara itu membangunkan Wonwoo yang hampir tertidur lelap.

Mata Wonwoo mendelik kesal saat tahu itu adalah suara Mingyu.

Kenapa hari ini gue ketemu dia melulu?

Wonwoo membenarkan posisinya lalu berdiri tepat di depan Mingyu.

"Mau lo apa?" tanya Wonwoo sinis.

Mingyu mengambil tas Wonwoo seraya menarik Wonwoo ke luar perpustakaan.

"Lo apa-apan sih!?"

Wonwoo berusaha melepaskan tangan Mingyu tapi tenaganya tentu kalah dengan tenaga Mingyu.

Alhasil Wonwoo dengan pasrah mengikuti Mingyu.

Badannya juga sudah lelah dan tidak mau bertambah lelah hanya karena debat dengan Mingyu.

"Gue mau nugas, bukan mau makan," kata Wonwoo saat dia tahu Mingyu mengajaknya –lebih tepatnya memaksanya—ke kantin.

"Perpustakaan udah mau tutup, percuma lo juga di sana bukannya nugas malah tiduran kan?" jawab Mingyu.

Dari pada timbul perdebatan tidak berguna, Wonwoo lebih baik mengikuti apa kata Mingyu.

Wonwoo tahu kalau dia akan selalu kalah jika harus berdebat dengan Mingyu.

Di mata Wonwoo, Mingyu adalah tipe junior yang paling dia tidak suka.

Egois, pemaksa, ingin menang sendiri, like a boss.

"Katanya mau nugas, ko malah bengong?" tanya Mingyu yang melihat Wonwoo hanya diam saja tanpa mengeluarkan buku atau laptopnya.

"Gue bingung lo ngapain di sini? Lo punya kepentingan apa sama gue?"

Bukannya menjawab, Mingyu malah berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.

Akhirnya Wonwoo lebih memilih membuka buku catatannya dan menuliskan beberapa hal yang perlu dia susun pada laporan praktikum.

Lebih baik gue fokus nugas.

Lima belas menit menghilang, Mingyu datang dengan membawa nampan berisi dua mangkok mie ayam dan dua gelas es jeruk.

Wonwoo hanya memperhatikan Mingyu.

Dengan wajah datarnya Mingyu duduk di depan Wonwoo dan mulai menyantap mie ayam yang tadi dibawanya.

Wonwoo meletakkan pulpennya dan menatap lurus pada Mingyu.

"Lo sebenernya mau apa sih? Gue gak ngerti," kata Wonwoo jujur.

Mingyu menghentikan makannya dan membalas tatapan Wonwoo.

"Lo belum makan kan? Cape kan abis praktikum? Makan doang lo bawa ribet," sahut Mingyu.

Ini anak maunya apa? Tanya Wonwoo dalam hati.

"Lo minggu lalu bikin gue pingsan dan hari ini lo beliin gue makan siang bahkan bawain gue makanan? Menurut lo tindakan lo masuk akal gak sih?" ujar Wonwoo meminta penjelasan.

Mingyu tidak menghiraukan Wonwoo. Dirinya sibuk dengan makanannya sedangkan Wonwoo masih belum menyetuh makanan itu sedikit pun.

"Lo bener-bener gak tau mal—"

Satu sendok mie ayam yang Mingyu suapkan dengan paksa ke mulut Wonwoo, berhasil membuat Wonwoo berhenti mengoceh.

"Bisa kan kita makan makanan ini dengan damai tanpa ocehan lo? Karena gue juga gak ngerti dengan apa yang gue lakuin sekarang," jawab Mingyu seraya meneruskan makannya.

Hari ini menjadi sangat menyenangkan bagi Mingyu, Vernon dan Joshua.

Dosen killer yang seharusnya mengajar tidak bisa hadir karena ada pertemuan penting.

Itu artinya hari ini tidak ada kuliah sama sekali.

Dan mereka menghabiskan waktu seperti biasa, bermain game di apartement Mingyu.

"Lo udah minta maaf ke Wonwoo?" tanya Joshua di sela kegiatannya bermain game.

"Udah," jawab Mingyu singkat.

Vernon yang sedang bermain gitar menghentikan permainannya karena penasaran dengan ucapan Mingyu.

Vernon tahu bahwa Mingyu bukan orang yang mudah mengatakan maaf.

"Serius? Terus lo dimaafin?" selidik Vernon.

"Gimana ya jelasinnya. Gue gak minta maaf langsung sih," ujar Mingyu menggantungkan kalimatnya.

"Terus?"

"Gue beliin makan dan traktir dia di kantin. Dia makan dengan lahap sampai abis, itu artinya dia udah gak marah sama gue kan?"

Joshua mem-pause permainannya dan menatap Mingyu tak percaya.

"Lo oon semenjak masih jadi zigot ya? Yang begitu lo sebut minta maaf?" tanya Joshua.

"Gue bingung harus minta maaf gimana. Yang kepikiran sama gue itu, ya udah gue lakuin. Lo kan tau gue jarang banget minta maaf sama orang lain."

"Lo harusnya datengin dia dan minta maaf langsung pake omongan. Bukan lo sogok pake makanan. Belum tentu juga dia anggep kebaikan lo sebagai permintaan maaf. Serah lo deh,lo emang beloon dari lahir," sahut Vernon sedikit kesal.

Selamat membaca :)