"Draco, please. Jangan lakukan itu. Aku mencintaimu."

"Aku juga. You're My Soul, Hermione Granger."

-o0o-

Disclaimer : J.K. Rowling, tetapi ide dan cerita murni punya saya

Pairing : DraMione

Rated : T

Latar : Ketika Harry Potter dan kawan-kawan mencari Horcrux

WARNING!

DON'T LIKE, DON'T READ

RnR, please...

(Chapter 7)

-o0o-


Angin berhembus kencang di luar, membuat ranting-ranting pohon yang berada di taman belakang Mannor menggesek-gesek jendela—menimbulkan suara yang terkesan menyeramkan. Di tambah lagi dengan suasana gelap Mannor, pastilah setiap orang yang belum terbiasa mengira Mannor adalah bangunan berhantu. Suasana di Mannor terlihat sangat sepi, mengingat para Pelahap Maut sedang keluar untuk merekrut pengikut dan—mungkin saja—mencari Harry Potter.

Seorang pemuda berambut pirang platina sedang berjalan bolak-balik di kamarnya. Sesekali pemuda itu mengernyit merasakan sakit di tubuhnya. Ia resah. Pikirannya sedang kacau. Ia bingung harus mencari cara untuk mengambil buku Relikui Kematian di kamar Voldemort, belum lagi menyelamatkan dirinya dan juga kekasihnya yang sekarang sedang terkurung di Penjara Bawah Tanah—Hermione Jean Granger.

Kakinya berhenti melangkah tepat di depan jendela kamarnya yang berada di lantai tertinggi Mannor. Mata pemuda itu menatap pemandangan di taman Mannor dengan tatapan kosong. Sekarang, hujan mulai turun dan suasana menjadi semakin dingin. Ia merapatkan tuxedo yang ia kenakan, berharap dapat membuat tubuhnya semakin hangat.

Jari telunjuknya mengusap jendela yang berembun itu, menuliskan kata-kata—entah apa—dengan wajah murung. Perasaannya kalut. Setelah sekian lama berdiam diri, ia berbalik badan, melangkahkan kakinya menuju pintu, membukanya perlahan, dan berjalan dengan cepat menuju tempat kekasihnya berada.

Ketika ia sampai di ruang Penjara, ia melihat kekasihnya itu sedang meringkuk sendirian di dekat pintu sel yang dingin. Draco memutuskan untuk melepas tuxedo mahalnya, ia selimutkan ke tubuh Hermione yang bergetar kedinginan. Gadis itu tersenyum sayu.

"Kau kedinginan? Hm? Kenapa tidak memanggilku? Aku bisa membawakan baju hangat milik ibu dan beberapa selimut tebal." Ujar Draco, dengan nada khawatir.

Namun Hermione tersenyum, ia meraih tangan Draco. Ya Tuhan, tangan Hermione dingin sekali. "Aku tak apa, Draco. jangan khawatir. Aku tidak memanggilmu, karena aku takut kau khawatir hanya karena aku kedinginan." Hermione terkekeh. "Aku pernah mengalami hal yang 'lebih' dari kedinginan waktu mencari Horcrux. Kau tenang saja."

Iris abu-abu Draco berkaca-kaca menahan tangis. Astaga! Seorang Malfoy menangis? Dengan lembut, Draco memindahkan tangan dingin Hermione yang menggenggamnya ke pipi kirinya. "Aku berjanji, secepatnya kita akan keluar dari Rumah terkutuk ini. Aku janji." Ucap Draco mantap, meskipun suaranya agak bergetar.

"Aku percaya padamu." Kata Hermione, sebulir air mata jatuh di pipinya. Draco mengusapnya dengan lembut.

Suara kepakan jubah dan orang ber-disapparate terdengar jelas di lantai atas, menandakan para Pelahap Maut sudah kembali dari 'pekerjaannya'. Karena itu, Draco pamit kepada Hermione hendak ke ruang atas. Sebenarnya ia ingin berlama-lama dengan gadisnya itu, tetapi ia tidak bisa. Pastilah Pelahap Maut lainnya akan mencarinya.

Setelah keluar dari ruang bawah tanah, Draco berjalan dengan air muka dingin hendak menemui Pelahap Maut lain. Dengan hanya memakai kemeja putih lengan panjang, bow tie hitam, tanpa tuxedo, ia duduk di kursi yang disediakan.

Ketika Draco mendongak, ia tersentak kaget—hampir jatuh dari kursinya. Ia melihat gadis berambut pirang terlentang di udara—seperti Professor Charity Burbage dahulu. Draco mengenalnya. Gadis itu adalah gadis seangkatannya yang berasal dari asrama Hufflepuff, Hannah Abbot.

Hannah masih mengenakan jubah Hogwarts, tubuhnya penuh luka-luka. Kepalanya memandang langit-langit. Jika Draco tak salah lihat, ada sebutir kristal bening jatuh dari matanya—ia menangis. Draco tidak tega, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya, tak mau melihat pemandangan mengerikan di atasnya. Meskipun ia tidak terlalu mengenal Hannah Abbot, namun ia merasa kasihan.

Semua Pelahap Maut terdiam ketika Voldemort memasuki ruangan. Mata merahnya yang kecil memandang seluruh Pelahap Maut, dan terhenti ke arah Draco.

"Dimana tuxedomu, Draco Malfoy?" tanya Voldemort. Namun sebelum Draco menjawab, ia sudah menyela, "Lupakan. Yang terpenting, kau sudah datang di rapat istimewa ini." Voldemort menyeringai menyeramkan.

"Semenjak pagi tadi, aku bersama Severus Snape dan Lucius Malfoy pergi ke daerah Muggle untuk mencari penyihir berdarah Muggle-born yang masih tersisa. Dan beruntungnya kita, menemukan penyihir muda berdarah Muggle-born, Dean Thomas."

Mendengar nama yang diucapkan Voldemort, mata Draco membelalak. Dean Thomas—tidak salah lagi—adalah teman seangkatannya dari asrama Gryffindor. Ia adalah sahabat Hermione juga. Tangannya mengepal menahan amarah. Ia hanya menunduk untuk menyembunyikan mukanya yang mulai memerah akibat menahan amarah.

"Dan sayangnya, gadis ini," Voldemort menunjuk tubuh Hannah, "melindungi pemuda itu dariku." Ucapannya diakhiri dengan seringai mematikan. "Draco, apakah kau mengenalnya?"

Merasa namanya disebut, Draco mendongak menatap Voldemort. Namun ia tidak menjawab. Draco menatap Voldemort dengan dingin.

"Aw... baiklah, baiklah, Baby Little Draco. Jangan menatapku seperti itu." Olok Voldemort dengan nada manja yang dibuat-buat sehingga terdengar sangat menjijikkan. "Aku tahu, bahwa Pure-blood terhormat sepertimu tidak akan berteman dengan sembarang orang, kan? Ya, ya, ya, aku tahu."

Namun Draco hanya mendengus mendengar ungkapan Voldemort baru saja. Tentu saja Draco lebih tidak sudi—bisa dikatakan—berteman dengan Voldemort. Keturunan Muggleborn, cih.

Tangan Draco meraih gelas berisi Wiski Api yang sudah tersedia di meja sebagai jamuan. Ia menenggaknya dengan angkuh—khas seorang Malfoy. Ketika Wiski itu megalir melewati tenggorokannya, ia merasa lebih tenang daripada sebelumnya. Ia tidak mengikuti acara rapat ini dengan serius, matanya sekilas memandangi para Pelahap Maut—yang sepertinya mulai bosan dengan rapat menjijikkan ini, namun mereka tidak memperlihatkannya. Ia pun menundukkan kepalanya kembali.

Tiba-tiba Draco merasa ada sesuatu yang jatuh di atas meja itu. Ketika ia mendongak, ia mendapati tubuh Hannah sudah kaku di atas meja. Dia meninggal. Mata Draco membelalak melihat itu. Namun Voldemort dan Pelahap Maut lain tertawa terbahak-bahak ke arah jasad Hannah. Jantungnya berdegup kencang.

Karena tak tahan lagi melihat kekejaman Pelahap Maut, Draco menghentakkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Ia tidak memperperdulikan panggilan-panggilan Ayahnya. Hatinya terasa panas. Bukan, ini bukan efek dari minuman Wiski Api, tetapi Draco memang tidak tahan berada disini lagi. Memang, ia bisa saja kabur dari Mannor ini dengan alasan mengikuti patroli Pelahap Maut, namun—bagaimana dengan Hermione dan juga buku Relikui Kematian yang sudah ia janjikan kepada Harry Potter dan teman-temannya?

Hal itulah yang terus-menerus berputar di kepala Draco seperti baling-baling bambu Doraemon(?).

Draco membanting pintu kamarnya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi debam yang memekakkan telinga, membuat siapa saja pasti terperanjat kaget. Ia menarik dasinya dengan kasar hingga terlepas—dan melemparkannya ke sembarang arah, ia juga melepas beberapa kancing atas kemejanya dan melipat lengannya hingga siku. Rambutnya yang semula tersisir rapi, terlihat amat berantakan.

"Draco." paggil seorang wanita di belakang Draco dengan manja. Tiba-tiba Draco merasa seperti ada tangan yang melingkari pinggangnya.

Sang empunya nama berbalik badan—seketika ia tersentak kaget mendapati gadis berambut hitam berdiri di belakangnya, dengan hanya menggunakan lingerie transparan berwarna putih—sehingga bra dan celana dalam gadis itu terlihat.

"A-Apa yang kau lakukan disini, Astoria?" sentak Draco sambil melompat mundur.

Namun gadis bernama Astoria Greengrass itu malah maju—semakin dekat mendekati Draco. "Aku rindu padamu. Sudah lama kita tidak—er... bermain." Ujar Astoria dengan manja, sambil mengusap perlahan dada bidang Draco.

Tangan kekar Draco secara spontan mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh terjerembap ke lantai. Astoria hanya mengerang manja, lingerienya tersingkap, menampakkan tubuh seksi gadis itu—yang bisa membuat lelaki manapun menginginkannya.

Draco memejamkan matanya, tidak ingin melihat pemandangan itu. Dia berkali-kali menyebut nama Hermione dalam hatinya supaya tidak tergoda dengan Astoria. Bohong, jika Draco tidak tergoda, toh dia adalah laki-laki normal. Dengan melangkah mundur, ia membuka pintu dan melesat keluar kamar. Berlari menjauh dari Astoria. Tujuannya hanya satu—yaitu Penjara tempat Hermione berada.

"Hermione..." panggil Draco dengan lembut sambil menuruni tangga.

Keadaan di bawah sini gelap. Padahal, seingat Draco, Draco menyalakan obor di lorongnya. Apakah ada seseorang yang memadamkannya? Tapi siapa? Para Pelahap Maut tidak akan mau repot-repot turun ke bawah sini untuk melihat Hermione.

Draco merapalkan 'Lumos' dan tongkatnya mengeluarkan setitik cahaya. Yeah... lumayan cukup untuk penerangan. Berkali-kali ia memanggil nama Hermione, namun Hermione tidak menjawab. Draco mempercepat langkahnya, ia khawatir terjadi apa-apa dengan Hermione. Semoga saja tidak.

Betapa herannya Draco, pintu penjara terbuka. Kira-kira siapa yang membukanya? Batin Draco. Ia memasuki ruangan lembap dan berbau apak itu sambil mengernyit. Ia mengarahkan sinar tongkatnya ke segala arah.

Ketika ia mengarahkannya ke pojok ruangan, ia melihat Hermione meringkuk ketakutan. Di depannya ada seorang laki-laki yang membuat Draco terkejut. Laki-laki itu adalah Theodore Nott—sahabat Draco sendiri. Theo mencoba mencium Hermione. Hermione tidak berteriak—hanya terisak. Draco bisa melihat mantel dan baju hangat Hermione sudah tergeletak di lantai.

"THEO..." teriak Draco, sambil menerjang Theo. Hermione hanya meringkuk—isakannya semakin keras terdengar.

Untungnya, baju Hermione belum terlepas semuanya. Ia memakai tank top berwarna putih yang—meskipun begitu—membuat lekukan tubuh Hermione semakin terlihat jelas.

Draco terus-menerus menonjok wajah dan perut Theo. Ia tidak peduli dengan rintihan Theo. Ia merasa sakit hati karena Theo—dengan lancangnya, menyentuh tubuh Hermione, kekasihnya. Muka Draco yang sepucat rembulan kembali memerah layaknya kepiting rebus. Ia memukuli Theo tanpa ampun, meskipun Theo sudah mengeluarkan darah banyak.

"STOP, DRACO, STOP." Teriak suara perempuan dari depan pintu sel.

Astoria Greengrass berlari memasuki penjara, kali ini menggunakan jubah tidur berwarna hijau berbahan sutra. Ia memisahkan Draco yang terus-menerus memukuli Theo dengan membabi-buta. Ia berteriak-teriak mengatasi keributan yang terjadi.

Mata Draco mendelik menatap Theo. Nafasnya memburu. Kali ini amarahnya benar-benar keluar. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sedikit sakit. "Tega kau, Theo. Apa kau tahu? Dia kekasihku. Dia kekasihku, Theo. Dan kau sahabatku." Suara Draco terdengar bergetar ketika ia berbicara. Matanya berkaca-kaca saking marahnya.

Dengan terengah-engah, Theo menjelaskan, "Aku tidak tahu, Draco. Maaf. Astor—Astoria menyuruhku melakukannya—"

"Tidak," teriak Astoria, "dia bohong, Draco. Aku tidak menyuruh Theo melakukan apapun." Sanggah Astoria sambil mendelik menatap Theo. Mukanya terlihat memerah, entah karena malu atau apa.

"DASAR SETAN KALIAN BERDUA." Bentak Draco. Tanpa memperdulikan Astoria dan Theo, ia berlari ke arah Hermione yang posisinya meringkuk merapat ke tembok. Ia menyembunyikan wajahnya di balik rambut semaknya yang terlihat semakin berantakan. Hermione menutupi tubuhnya yang setengah telanjang dengan cara menekuk lututnya. Ia tidak berani menatap Draco sedikitpun. Ia merasa malu dengan kekasihnya itu.

Tangan Draco mengusap pundak Hermione yang bergetar dengan lembut, namun Hermione menepisnya.

"Ini aku Draco, Hermione. Ayo, kubawa kau ke tempat yang aman. Ayo ikut aku, ya." Bujuk Draco dengan lembut.*Namun Hermione malah semakin merapatkan dirinya ke dinding penjara yang berlumut. Ia menggeleng kuat-kuat—masih tanpa menatap kekasihnya itu. Ia merasa malu, ia malu dengan Draco. Ia tidak sanggup menatap kekasihnya itu. Namun Draco tetap membujuk Hermione. Ia bahkan melepas kemejanya dan dikenakannya ke tubuh Hermione yang hanya berbalut tank top tipis. Dengan pelan, Draco merangkul Hermione dan membantunya berdiri.

Akhirnya Hermione luluh juga.

Tetapi ia terus merapat ke tubuh Draco yang sekarang tidak memakai atasan. Hermione bahkan bisa merasakan tubuh Draco yang six pack. Pastilah ini berkat latihan Quidditch yang selama ini diembannya.

Tanpa sadar, mereka sudah sampai ke dalam kamar Draco. Draco mulai melepaskan pelukannya dan menyibak rambut Hermione yang menutupi wajahnya. Namun Hermione masih tidak ingin menatap Draco.

Draco mengerti perasaan Hermione. Ia tidak memaksanya untuk menatap dirinya. "Baiklah, aku tahu perasaanmu, Sayang. Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu. Maaf." Sesal Draco.

Tangan Hermione terangkat, ia membelai pipi Draco dengan lembut—dengan posisi masih menunduk, enggan menatap iris abu-abu dingin Draco. Ia hanya bisa membuka-tutup mulutnya, karena Theo telah menggunakan mantera 'Langlock' kepadanya.

"Apa kau mau mengatakan sesuatu, Honey?" tanya Draco.

Jari telunjuk Hermione yang bergetar menunjuk bibirnya yang masih membuka-tutup seperti ikan. Kali ini ia berani menatap kekasihnya itu, meskipun dengan mata masih berkaca-kaca.

Akhirnya Draco mengerti, ia mengucapkan mantera penangkalnya dan Hermione bisa mengeluarkan suaranya lagi. Mereka terdiam sejenak—berkabung dengan pikirannya masing-masing. Hermione mencengkeram ujung kemeja Draco yang ia kenakan sambil menunduk lagi.

"Uhm... Draco, apa—apa boleh kau membawaku keluar penjara? A-Aku takut ada yang mengetahui tindakanmu, aku takut kau dihukum karenanya. Bawa aku kembali ke tempatku, Draco. Aku mohon." Pinta Hermione dengan suara lemah.

Bibir Draco melengkung membentuk senyuman yang menenangkan. "Tak apa. Selama di Penjara, apakah kau pernah ditengok oleh Pelahap Maut lainnya? Tidak pernah, kan? Bahkan mereka tidak memberimu makan. Jika bukan aku, kau pasti sudah kelaparan sekarang." Ujarnya. "Jadi—intinya—mereka tidak akan tahu jika kau sedang disini, bersamaku. Kecuali jika mereka memasuki kamarku sekarang." Sambungnya, sembari terkekeh pelan.

"Lalu bagaimana dengan Theodore Nott dan—siapa nama perempuan itu?"

"Astoria Greengrass."

"Ya, itu maksudku—memberi tahu Pelahap Maut lain bahwa aku kesini?"

"Berarti mereka kan berurusan denganku—lagi." jawab Draco dengan santai.

Senyum Hermione kembali merekah di wajahnya yang manis. Entah mengapa, ia merasa lebih tenang sekarang—bersama kekasihnya, Draco Malfoy. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih kepikiran dengan hal tadi—yang ada di Penjara. Ketika Theo datang, kemudian tiba-tiba saja menerjangnya ke tembok, menghimpitnya, melepas baju-bajunya dengan paksa. Saat itu ia takut, ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya bisa berteriak-teriak histeris. Mendengar itu, Theo memantrai Hermione supaya tidak berisik. Kejadian itu terus-menerus berputar di kepalanya, membuat hatinya tertohok sakit.

"Apa kau mau mandi?" tanya Draco tiba-tiba, membuyarkan lamunan Hermione.

Hermione terperanjat, segera saja menoleh menatap Draco. "Ta—Tapi... bajuku—"

"Tidak masalah." Sela Draco sambil menyeringai. Pemuda itu berjalan menuju lemarinya, mengambil sehelai kemeja putih dan celana training berwarna abu-abu, yang kemudian ia berikan kepada Hermione. "Pakai dulu pakaianku. Aku bisa saja mengambilkan baju ibu, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu."

Hermione hanya tersenyum sambil menerima baju yang diulurkan Draco. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi Draco, melepas pakaiannya, dan berendam di dalam bathtub berisi air hangat dan busa-busa sabun beraroma mawar yang menggoda. Ia menghela nafas, merasa tenang berada disini. Sesaat ia lupa dengan apa yang baru saja terjadi dengannya.

Setelah selesai mandi dan memakai pakaian Draco, Hermione kembali ke kamar Draco dengan rambut yang masih setengah basah. Hermione melihat Draco duduk bersandar di tempat tidurnya, mengenakan celana hitam panjang dengan atasan kaos lengan pendek berwarna putih. Ia sedang asyik membaca—entah apa—sehingga tidak menyadari bahwa Hermione sudah berdiri di sampingnya dengan gugup.

"Ehem.." Hermione berdehem. "Draco, apa kau punya hairdrayer?" pertanyaan bodoh itu meluncur tiba-tiba dari mulut Hermione. Mana mungkin seorang penyihir pure-blood mempunyai benda muggle?

Draco menurunkan buku yang sedari tadi menutupi wajahnya. Sekilas, ia tercengang—atau lebih tepatnya—terpesona dengan tubuh Hermione. Harus ia akui, bahwa Hermione terlihat lebih seksi menggunakan kemeja Draco yang kebesaran di tubunya. Apalagi, Hermione menggulung lengan kemejanya sedikit dan kancing atasnya terbuka. Dengan celana training yang kepanjangan dan rambut yang setengah basah, membuat penampilannya terlihat semakin—tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Apa kau mendengarkanku, Draco?"

Tersentak, Draco menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran kotor dari kepalanya. "Ten—Tentu saja, Hermione. Sayangnya aku tidak punya alat yang kau sebutkan barusan. Jika kau mau, aku bisa membantu mengeringkan rambutmu menggunakan mantra pengering." Ujar Draco dengan salah tingkah.

Hermione mengangguk dan duduk di tepi tempat tidur Draco.

Dengan meneguk ludah, Draco meraih sisirnya yang berada di laci meja dan tongkatnya yang berada di sampingnya. Ia menyentuh helaian rambut Hermione. Dengan telaten, mengeringkan rambut Hermione menggunakan tongkatnya dan menyisirnya. Jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat ia mengangkat rambut Hermione—sehingga tengkuknya terlihat.

"Apa sudah selesai?" tanya Hermione, sambil menengok Draco dari balik bahunya.

"Oh ya, ya, sudah. Sudah selesai." Jawab Draco dengan gugup.

"Terima kasih."

Hermione menyisiri rambutnya menggunakan jari-jari tangannya dengan tersenyum senang.

"Hermione." panggil Draco. Sebenarnya ia agak ragu ingin membicarakan hal ini. Tetapi ia harus.

"Ya, Draco." jawab Hermione dari balik bahunya.

Namun Draco hanya membuka-tutup mulutnya lagi, agak ragu-ragu. Akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara. "Uhm... Bisa—Bisakah kau menceritakan padaku apa yang terjadi tadi?—Maaf bukannya apa-apa." Ucap Draco cepat-cepat menambahkan.

Hermione terdiam sekejap. Haruskah ia memberitahukan kejadian itu kepada Draco? Dan kenapa Draco menanyakan hal itu? Itu membuatnya teringat akan kejadian tadi. Mau tak mau, Hermione menceritakan yang sebenarnya dari awal, meskipun agak menyakitkan hati, namun ia tetap berusaha tegar di depan kekasihnya itu.

Draco hanya terdiam mendengar cerita Hermione. Entah ia harus marah kepada siapa. Kepada Theo yang sudah melakukan itu, atau kepada Astoria yang 'katanya' menyuruh Theo untuk melakukan hal itu? Entahlah. Mungkin ia harus marah kepada mereka berdua. Lantas, apa tujuan Astoria meakukan itu? Apakah gadis itu tahu, bahwa ada hubungan di antara Draco dan Hermione, sehingga ia ingin melakukan hal itu untuk memisahkan mereka berdua? Draco tahu, bahwa sejak dulu Astoria sangat menyukainya.

Tangan Draco sepontan melingkar di pinggang Hermione. Hermione tersentak kaget merasakan sentuhan mendadak Draco, namun ia hanya diam membiarkan sang kekasih melakukan itu. Draco meletakkan dagunya di atas bahu Hermione. Entahlah apa yang ia pikirkan, ia hanya ingin memeluk erat gadis mungil itu, seperti tidak ingin kehilangannya.

Hermione balas menggenggam lengan Draco. "Aku takut berada disini." Bisiknya perlahan. "Kapan kita akan keluar dari sini?"

"Setelah mengambil buku Relikui Kematian."

"Baiklah, ayo kita ambil sekarang."

"Kuharap bisa semudah itu."

Hermione menoleh dari balik bahunya. Draco melepaskan pelukannya di pinggang Hermione dan memutar tubuh gadis itu supaya berhadapan dengannya. "Kuharap bisa semudah itu mengambilnya, jika tidak berada di kamar The Dark Lord."

Mata Hermione membelalak mendengar penuturan Draco. Buku itu ada di kamar Voldemort, untuk apa Voldemort membaca buku tentang Relikui Kematian? "Lalu bagaimana cara mengambilnya? Apa kau sudah memikirkan caranya?"

Draco menggeleng pelan sambil menunduk. "Sayangnya belum."

Hermione mengerang frustasi. Ia memijat-mijat kepalanya. Waktunya tidak banyak, jika buku itu tidak segera diambil, bisa-bisa ia belum bisa membantu Harry mengetahui Relikui Kematian hingga Voldemort menyatakan perang kepada pihak penyihir putih. Tentu ia tidak bisa menyalahkan Draco begitu saja, karena Draco—seperti yang ia yakini—sudah berusaha memikirkan berbagai cara untuk mengambilnya.

Hermione bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir tak tentu sambil sesekali menggigiti bibirnya—mencoba mencari cara. Draco duduk di tepi tempat tidurnya masih sambil menunduk. Kepalanya serasa pecah.

Tiba-tiba pintu kamar Draco terbuka. Spontan, Draco menarik Hermione untuk bersembunyi di balik badannya—meskipun itu terlihat bodoh. Seberapa besar tubuh Draco, Hermione tetap saja kelihatan.

Dan untungnya, yang memasuki kamar Draco adalah ibunya sendiri, Narcissa Malfoy. Sekejap, Narcissa agak tersentak melihat Hermione berada di kamar putranya, namun ekspresinya kembali melembut dan tersenyum menyapa Hermione.

"Tak apa." Ujar Narcissa, dengan kalem. "Aku hanya ingin memanggil Draco."

"Ada apa, Mom?" tanya Draco.

"Kau harus ikut berpatroli bersama Ayahmu Draco. Ayo, Ayahmu sudah menunggu di bawah bersama Pelahap Maut lainnya." Bujuk Narcissa, sambil mengambilkan kemeja hitam di lemari Draco. "Ayo pakai."

Draco tetap bergeming. Ia menoleh ke belakang menatap Hermione.

Namun Narcissa mengerti dan memahami anaknya.

"Tenang saja. Ms Granger aman berada disini. Aku akan menyuruh Dinkle menjaganya selama kau pergi, dan akan kupasang mantra pengaman yang hanya aku yang tahu. Percayalah."

Draco tersenyum mendengar penjelasan ibunya. Ia mengambil kemejanya, mengenakan dasi dan jas hitamnya, kemudian pergi keluar. Sebelum keluar, ia mengecup sekilas pipi Hermione—membuat pipi sang gadis memerah. Draco juga tidak lupa memeluk ibunya dan mengucapkan terima kasih karena mau menjaga Hermione.

"Dinkle." Panggil Narcissa lembut.

Dengan bunyi TAR! Keras, seorang peri-rumah perempuan yang mengenakan serbet teh membungkuk rendah di kaki Narcissa. Hermione jadi teringat dengan Dobby, Winky, dan Kreacher. Namun sepertinya Dinkle seperti Dobby, baik dan suka membantu. Terlihat dari mukanya yang imut dan menggemaskan.

"Ya, Mistress. Ada yang bisa Dinkle bantu untuk Mistress Narcissa Malfoy?"

"Tolong kau jaga Ms Granger di kamar ini. Jika ia memanggilmu, kau harus datang cepat. Aku tidak ingin Ms Granger menunggu." Narcissa tersenyum sekilas kepada Hermione, Hermione membalas senyumannya dengan malu-malu. "Baiklah. Aku mau pergi dulu. Jangan lupakan tugasmu, Dinkle." Narcissa memperingatkan Dinkle. Dan sebelum pergi, ia memeluk Hermione sekilas dengan hangat.

Setelah Narcissa keluar, Dinkle tersenyum ramah kepada Hermione—seperti dugaannya—dan menawarkan berbagai macam makanan yang ia ingin sajikan. Hermione tersenyum, ia hanya meminta Dinkle membawakan segelas teh hijau hangat tanpa gula. Dinkle membungkuk patuh, dan menghilang disertai bunyi TAR! Keras seperti tadi ia datang.

Tanpa butuh waktu lama, Dinkle kembali ke kamar Draco sambil membawa secangkir teh hijau yang masih mengepul, dan ia menghilang lagi.

Hermione menyeruput teh itu sedikit-demi-sedikit sambil memikirkan rencana mengambil buku itu dari kamar Voldemort. Pastilah sangat sulit, pikirnya. Ia duduk di meja tulis milik Draco dan mulai menyusun rencana di selembar perkamen yang ia ambil dari laci meja itu.

Pukul 02.00 pagi. Mata Hermione sudah terasa berat. Ia sangat mengantuk. Ia memutuskan untuk pergi tidur sebentar sambil menunggu Draco pulang dan memikirkan lanjutan rencananya.

Hermione merebahkan dirinya di ranjang nyaman milik Draco yang beraroma relaksasi lavender. Mungkin Draco sengaja menggunakan aroma itu supaya tidurnya nyenyak. Hermione mendengus tertawa memikirkan dirinya sekarang. Ia berasa menjadi Mrs Hermione Malfoy yang sedang menunggu sang suami—Draco Malfoy—pulang bekerja. Rasanya lucu sekali membayangkan hal itu.

Tak lama kemudian, Hermione tertidur.

.

.

.

~To be continue~


Holla... ( '-')/ \('-' )

Maap author update lama ... XD

Langsung saja...

RnR, please...

Don't be silent readers!

Udah gitu aja ._.