Narchi: "Terus terang gue bingung…"
Sasori: "Bingung kenapa? hitsnya?"
Narchi: "Uwaa ada yayang Saso!" XD
Sasuke: "Panggilan lu norak amat sih, yayang-yayang pala lu peyang."
Narchi: *tidak memperdulikan Saske sama sekali* "Iya, hitsnya…"
Naruto: "Emang ada apa sama hitsnya?"
Narchi: *in matabelo mode on* "Mimpi apa gua disamperin sama orang2 ganteng ini?" 8Q *tersepona*
Gaara: "Dasar bego, baru liat cowok ganteng tuh author."
Sasuke: "Tauk tuh, noraknya gak ketulungan. Katarak kali ya matanya?"
Narchi: *masih tidak memperdulikan Sasuke & Gaara* "Gue bingung karena hits chapter kemaren nyampe 1k+, tapi reviewnya irit banget. Pada kemana tuh orang?" OwO
Gaara: "Lu tipe author pemuja review ya?"
Narchi: "Kagak juga… gue Cuma bingung, men!" =.=
Kakashi: "Itu karena lu kelamaan apdet, makanya mereka pada males ngasih review. Rasain lu."
Sasuke: "Lagian gak kira2 lu gak ngapdet selama 6 bulan. Kelamaan tauk. Sekarang juga gak apdet berapa bulan? Gagal lu jadi author!"
Narchi: "Huwee, pada tega ih kalian." DX TAT
Sasuke: "Air mata krokodil (?) itu mah, jangan dipercaya!"
Narchi: *pundung di pojokan* "Ini gue apdet asalnya buat SasuNaru Day 2011, tapi ada sedikit masalah, jadi gue apdet tepat pas Sasuke Birthday. Harusnya lu bersyukur, Saske! SasuNaru-nya gue banyakin di chapter ini. Kurang baik apa gue?" #bah
Gaara: "Tetep aja lu, readers udah lumutan dan jenggotan (?) nungguin ini penpik apdet." *pede banget* #dor
Kakashi: "Ini kapan mulainya kalo berantem mulu?"
Sasori: "Kita mulai aja langsung deh."
Previous chapter:
"Iruka, cepat! Aku bisa terlambat nih!" teriak seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke Uchiha.
"Baik, Sasuke-sama!"
'Argghh… ini gara-gara gue ketiduran nungguin SMS! Sampai telat berangkat les gini. Cih, padahal ini hari les pertama gua!' omel Sasuke dalam hati.
Dan dengan segenap kekacauan yang tercipta, satu tabokan yang didaratkan oleh Sasuke di jidat Itachi lantaran pemuda itu mau cium kening Sasuke, maka mobil yang dikemudikan oleh Iruka pun meluncur menuju tempat les. Tempat les yang sama dengan tempat les dimana Naruto berada. Ufufufu~
.
Naruto © Masashi Kishimoto
30 Hari Mengejar Uke © narchidori
CHAPTER 7
PERINGATANS: OOC-nya minta digampar! Lebay, garing, ngalor ngidul wetan kulon, gaje, siapin aja kantung kresek. Don't like? Don't read!
Sasuke menarik napas lega saat dilangkahkannya kaki miliknya ke dalam ruangan les yang saat ini masih tampak ramai. Ia melirik jam tangannya sebentar, pukul 18.55. Dengan kecepatan ampir menyaingi Dani Pedrosa, sang supir Iruka bisa juga ya nyupir kayak orang yang kesetanan, ya meskipun emang disuruh sih… hehe. Walaupun sempat nyalip mobil ambulans sampai supirnya mengumpat-ngumpat tapi akhirnya sampai juga dengan selamat.
Pemuda yang kata cewek sesekolahan itu ganteng abis mulai mengedarkan pandangannya, dari depan kelas nyampe pojok kelas. Dari anak yang lagi nunggu les mulai sambil dengerin mp3 ampe siswa yang ngupil sama nyiptain gelembung ingus di idungnya.
Bohong denk.
Dan sampailah pandangannya pada sesosok makhluk yang gak pernah absen dari mimpinya saat ini. Jreng jreng…
Kamulah makhluk Tuhan
Yang tercipta, yang paling seksi
Cuma kamu yang bisa membuatku terus menjerit
Aw aw aw—
Seiring dengan kaset yang terputar mendadak kusut, fantasi liar Sasuke terhenti saat menyadari lagu yang berputar di kepalanya sedikit deja vu baginya. Ia pun mulai menengok kanan kiri, syukurlah tak ada seekor babi yang siap menyeruduknya seperi dalam mimpi.
Namikaze Naruto, begitulah satu nama makhluk seksi yang ia elu-elukan tadi dalam lagunya—lagu yang bahkan entah kapan dan dimana ia dengar—tengah tertawa lebar, seperti biasa. Pemuda itu berada di sudut kelas barisan dekat jendela di bangku pertama.
"Dobe… ini sih surga dunia." ucap Sasuke nyaris berbisik, sehingga jelas aja suaranya gak nyampe ke telinga sang Namikaze yang saat ini lagi asik ngobrol ama seorang anak laki-laki. Seumuran mereka juga sih, rambut dan matanya berwarna hitam berpadu dengan kulit sepucat mayat, sekilas tampak mirip dengan Sasuke, tapi sangat jelas perbedaan sifatnya. Ah tapi lupakanlah sejenak makhluk pucat layaknya hantu yang berada di samping Naruto saat ini, kita fokus saja pada si tampan berambut pirang yang jadi peran utamanya.
Sampai dimana tadi? Ah ya, Naruto yang tengah tersenyum lebar. Naruto yang terlihat tertawa lepas—begitu tanpa beban seolah seluruh dunia pun ikut tertawa bersamanya. Naruto yang kini matanya menyipit tertarik mimik tawanya hingga pancaran mata itu tersembunyi dalam kelopaknya. Naruto yang—ah, sudahlah… Sasuke baru kali ini merasa teramat bersyukur pada Tuhan yang menciptakan takdir sedemikian indahnya pada dirinya, kalau perlu, ia pun rela mencium kaki Tuhan saat ini juga.
Berlebihan memang, karena sengaja. Namanya juga penpik romens.
Langkah kaki sang raven berjalan seirama dengan degupan jantungnya yang turun naik dengan cepat namun terkesan menyenangkan. Dan ia merasa, dekat…
Menuju semakin dekat pada sang safir.
Bahkan dilihat dari sudut manapun—tadi di samping, sekarang hampir di depan—Naruto layaknya lukisan Dewa yang sempurna tanpa cacat dalam setiap goresannya.
Sasuke yakin semakin dekat…
Dekat…
Dekat…
Dekat…
Lalu…
JEDUK!
"Aw!"
…Sasuke sukses menyentuh tembok di depannya.
Naruto yang notabene berada paling dekat dengan sang korban, segera mengalihkan pandangannya ke asal suara, dimana pemiliknya tengah mengaduh kesakitan. Eww…
Dan ternyata bola matanya menangkap sesosok makhluk gak asing yang gak pernah absen dalam korban bogeman mentah dalam mimpinya.
Uchiha Sasuke.
"Edan, Teme. Ini sih neraka dunia." ujar Naruto Buset, udah kayak Angel and Demon aja nih mereka. Ckckck.
"Eh, kau bilang apa barusan, Naruto-kun?" tanya teman cowok yang ada di sebelah bangkunya. For your information, tempat dudukna sendiri-sendiri.
"Nggak kok, Sai. Biasa, ada ayam lewat. Hahaha." tawa ejek Naruto membahana sambil setengah melet ke arah Sasuke, Sai yang sebenernya gak terlalu ngerti ikut ketawa aja, yang penting rame.
Sasuke keki, kehadirannya cuma dianggap ayam lewat doang. Akakaka.
'Aseemm, gua bales lu, Dobe. Liat aja.' cowok itu mengepalkan tangannya dengan kesal, sedikit menghentakkan kakinya ke lantai, dan kalo aja tangannya ngeluarin aliran chakra berupa elemen petir, bisa-bisa kecipta jurus chidori. (?)
Naruto melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 19.00, waktunya bel masuk. Dan terdengarlah…
Okelah kalau begitu
Okelah kalau begitu
Okelah kalo beg-beg-begitu
Seisi kelas kembali sweatdrop. Selidik punya selidik, ternyata itu bunyi ringtone punya Sai. Gak elit banget.
"G-gak salah tuh, Sai?" tanya cowok pirang itu.
"Nggak, emang bener ada SMS masuk kok, dari Ino-chan." jawab Sai nyante, gak peduli ama seisi kelas yang sekarang lagi sweatdrop berjamaah.
"Bukan, maksud gue ringtone lu."
"Hm… nggak." si Sai tetep anteng ngetik balesan SMS buat Ino.
'Seniman edan. Wedus gembel.' pikir Naruto mundur teratur, sambil geleng-geleng kepala dan ngeletakin jari telunjuk di depan, ajep-ajep. Padahal dia nggak tau arti dari 'wedus gembel' itu apaan. Yang penting ada 'gembel'-nya kali, yang berarti jelek.
Harga diri Sasuke runtuh sudah, dirinya sukses dipermalukan di depan khalayak umum—walopun sekelas tetep aja umum, Uchiha gitu loh gengsinya gede!
Dengan sisa harga diri dilengkapi wajah yang memang jutek dari sononya, Sasuke berjalan tenang ke arah tempat duduknya. Tidak memedulikan tatapan cengok kayak abis nemuin bangke ayam dari seisi penghuni kelas, walaupun dalam imajinasi pemuda itu harga dirinya tengah berjalan dalam versi ngesot.
Tak lama dari itu bel yang sebenarnya pun berbunyi nyaring—
Tenonet tenet teretetet…
—Musik ala odong-odong. Demi Jashin naek odong-odong, penpik nih author aneh banget.
"Attention, please!"
Pandangan semua murid tertuju padanya.
"I wanna introduce my self—"
—Pertama, dia seorang guru les yang memakai jubah hitam aneh bermotif awan merah.
"—My name is Tobi, you can call me Tobi-chwan. And I'm a GOOD BOY!—"
—Kedua, dia narsis gilak dan rada-rada sinting bin sedeng.
"—Lets play and learn something good with me. no what-what if you can't understand, its name new learn. But who wrong can a penalty!" (terjemahan: ayo bermain dan mempelajari sesuatu yang baik denganku, tak apa-apa jika kau tidak mengerti, namanya juga baru belajar. Tapi yang salah dapat hukuman!)
—Ketiga, oke, dia sarap dan bahasa inggrisnya kacau.
Naruto cengok, salah apa bunda mengandung sampe nemuin guru les kayak gini.
Sasuke sih stey kul aja lihatnya, padahal dalam hati pengen ngetawain bahasa inggrisnya yang sumpah minta ditabok. Kalo Sai ngelanjutin SMS-annya. Yang lain malah ada yang nyiptan gelembung ingus season dua, etc, etc.
"Baiklah… Tobi bicara pake bahasa Indonesia aja ya? Pake bahasa inggris ribet juga…"
'Siapa juga yang suruh, oon?' inner Sasuke.
"Tobi di sini akan mengajarkan pelajaran Geografi! Siapa yang pernah ke Hawaii?"
Krik.
Tobi sedikit keki karena seisi kelas hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan darinya.
"NAH, KAMU!" tunjuk Tobi tiba-tiba pada Naruto, resiko orang yang duduk di depan.
DEG!
"Y-Ya, sensei?"
"Tempat mana di dunia ini yang sangat ingin kau kunjungi?"
Naruto berpikir sejenak, perasaan kagak ada nyambung-nyambungnya sama pelajaran. Tapi gak ada salahnya juga untuk menjawab.
"Err… warung Ichiraku."
Sweatdrop berjamaah lagi, ditambah Tobi, author yang bikinnya juga sempet cengok.
"Hah? Alasan?" tanya guru nyentrik itu.
Naruto nyengir malu. "Sebenarnya… aku ingin makan ramen sepuasnya di sana, ramennya enak sekali."
Buset nih bocah malah promosi, tapi bagi Sasuke malah menambah kosakata baru seputar Naruto. Ra—to the—men, Ramen. Catet, Sas! Catet!
Tobi mengelus-elus dagunya yang nyaris tertutup topeng lollipop miliknya, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sok iyeh. "Hm… bisa juga…" gumamnya.
Sai otomatis menghentikan kegiatan SMSnya saat merasa pandangan sang guru aneh itu tertuju padanya. Pemuda berkulit pucat itu melirik ke arah Naruto barang sejenak, yang berarti "kok-gurunya-kayak-orang-sarap-sih?".
Si pirang hanya nyengir maklum antara jijik dan gak doyan, yang berarti "mana-gue-tau!-Bukannya-itu-bokap-lo-ya?".
Sai melotot sambil manyun, yang berarti "bukan,-lah!-Lo-aja-kaleeee!".
Naruto nahan ketawanya, sumpah ekspresi wajah Sai barusan pengen banget dia tabok. Pemuda ini mengernyitkan keningnya, yang berarti "gak-usah-manyun-juga,-kaleee.-Muka-lu-jadi-kayak-marmut."
Sai melotot lagi, namun tanpa manyun. Artinya "bibir-lu-doweeerr.". Perasaan kagak nyambung dah.
Naruto refleks memonyongkan bibirnya, yang artinya "bibir-lo-cenat-cenut!".
"AHEM!"
Tobi mendehem keras, otomatis membuat pesan telepati antara Naruto dan Sai terputus sudah, kandas di tengah jalan.
"Kamu… kalian berdua… kenapa saling berpandangan di dalam kelas saya?" ujar Tobi mengintimidasi.
Sai kaku dan Naruto keki. "Errrr…"
Sasuke yang menyaksikan adegan penuh drama di bangku belakang tersebut hanya membingkai senyum penuh kemenangan, sejujurnya dia cemburu liat Naruto dekat dengan pemuda ber-ring tone "Oke lah Kalo Begitu" itu.
Tobi mendesis, "jangan-jangan kalian saling mencintai, ya?"
JEDER! OH MY JASHIN! Bola mata seisi kelas menjadi memutih dan bulat sempurna.
"TIDAAKK!"
Oh bukan, itu bukan suara Sasuke kok! Tapi—
"TIDAK! Nggak lah, Sensei!" jawab Naruto ogah-ogahan, Sai cuma angguk-angguk disko.
Sasuke menghela napas lega. 'Ternyata kau memang mencintaiku, Dobe.' katanya dalam hati, GR banget.
Tobi menghela napas juga, "baiklah. Sekarang kamu!" tunjuknya pada Sai. "Tempat mana yang paling ingin kamu kunjungi?"
Sai berpikir sejenak. "Hm… saya ingin ke Paris, sensei." jawabnya mantap.
Guru aneh bertopeng lollipop itu terlihat bergetar. "Paris…?" ulangnya.
"Iya, Paris. Alasan, hm… karena saya ingin bertemu dan belajar pada sang masterpiece lukisan yang ada di sana." lanjut Sai lagi, lengkap.
Tobi tidak menjawab apa-apa dan tampak tidak terlalu menghiraukan ucapan Sai sama sekali, namun tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat disertai gumaman parau yang meluncur dari bibirnya. Seisi kelas menjadi bingung.
"PARISSSSS!" Tobi meraung tiba-tiba sambil menggebrak meja Sai. Seisi kelas kaget banget, apalagi Sai. Bahkan sekilas terdengar suara di belakang berupa "eh copot, eh copot!" milik gadis berambut merah marun yang emang terkenal latah.
"IMPIANKU! KENAPA KAU TEGA MENGHANCURKAN IMPIANKU, HAH?" teriak Tobi di depan muka Sai, untung gak muncrat-muncrat karena dia pake topeng.
"JAWAB!"
"Eh copot! Eh—eh copot!" latah gadis itu lagi.
"Ha—hah?" jantung Sai mendadak mau copot, ternyata guru ini sarap beneran.
"Kenapa kau tegaaaaa! KENAPA?"
"Copot, eh—ehhh! Copot—"
Tobi menggebrak meja Sai untuk yang kedua kalinya, kali ini sampai beberapa peralatan tulis dan buku jatuh berserakan ke lantai, termasuk hapenya juga. Murid yang lain nggak ada yang berani bantuin Sai—takut.
"ANAK KURANG AJAR!"
"E—ah anak guee… co-copot! Anak gue copot!"
"DIAM KAMU!" semprot Tobi, si latah sukses bungkam.
Sai aseli pengen nangis beneran.
"Kamuhhh…" Tobi mulai mencekik Sai. Sai beneran nangis.
"To-tolonkhhgh…"
Seisi kelas panik, tapi untunglah pintu kelas tiba-tiba terbuka dan beberapa orang dewasa berpakaian putih-putih masuk ke dalamnya.
"Cepat ringkus dia, Izumo, Kotetsu!" perintah salah satunya yang bermuka garang, dua orang lainnya segera menarik paksa Tobi dan melepaskan cengkraman mautnya dari leher Sai.
"Lepaskan!" ronta Tobi yang semakin terseret oleh kedua pria itu.
"Borgol dia." perintah si pria bermuka garang tadi pada seorang pria lain yang berambut pirang. Pria itu mengangguk dan segera memborgol Tobi supaya tidak meronta lebih lama.
"KALIAN SEMUA SAMA SAJA! DASAR BAJING—piiip, piip, piiip." teriak Tobi mengumpat dengan menyebutkan nama-nama satwa penghuni kebun binatang—demi keamanan dan kenyamanan fict ini kita sensor saja—sementara ketiga petugas berseragam putih itu menyeretnya keluar kelas.
Naruto dan beberapa siswa lain menarik napas lega, sementara Sai masih shock dengan kejadian barusan.
"Hahaha, Paris! Aim kaming, darling!" suara Tobi masih terdengar nyaring dari kejauhan, meskipun volumenya semakin mengecil.
Naruto menelan ludah. "Sai?" sapanya agak khawatir.
Sai membatu sambil sebelah tangannya menyentuh lehernya yang berwarna agak kemerahan. "Aku tidak mau ke Paris…" desisnya pelan.
"Ehem—"
Sang pria berwajah garang yang memberi instruksi tadi berdehem, seisi kelas menoleh ke arahnya.
"Maaf atas ketidaknyamanan kalian." sambungnya lagi. Para murid hanya saling berpandangan.
"Kami adalah petugas Rumah Sakit Jiwa Konoha yang mendapat laporan bahwa salah satu pasien kami—bernama Tobi, kabur dari rumah sakit. Mohon maaf apabila ada siswa atau siswi yang terluka akibat kelalaian kami."
Semua murid terdiam mendengar penuturan tersebut. Dari name tag yang digunakan oleh pria berwajah garang itu, Naruto dapat membaca ternyata pria itu bernama Morino Ibiki.
"Kau baik-baik saja, Nak?" Ibiki menghampiri Sai yang masih memegang lehernya.
"Aku—"
Ibiki memanggil salah satu wanita yang mengenakan pakaian yang sama dengannya. "Anko, tolong rawat anak ini sebentar."
"Baik." wanita itu langsung memapah Sai keluar kelas.
"Tobi, pasien kami selama dua tahun terakhir yang menderita penyakit jiwa karena obsesinya yang sangat besar terhadap Paris." Ibiki mulai curhat di depan kelas.
Naruto membatin, ternyata Tobi memang beneran orang gila.
XxXxXxX
Kakashi memencet-mencet keypad handphone yang sore tadi Naruto berikan padanya, katanya sih hadiah ucapan selamat datang gitu. Meskipun hapenya jadul, tapi Kakashi kelihatan seneng banget dan menerima benda itu dengan wajah yang kelewat gembira. Kakashi jadi inget flash back percakapannya dengan Naruto tadi sore…
"Aduh Den, beneran nih ini hape buat saya?"
"Iyalah, sensei!"
"Wah, makasih banget, Den! Etapi jangan manggil sensei ah… malu ke saya-nya."
Dan Kakashi inget sore tadi Naruto cuma tertawa menanggapi pertanyaannya sembari bilang "nyantei aja."
"Den Naruto baik banget, sumpah!" si pria bermasker ini berkata demikian sambil memencet lagi keypad hape-nya.
Sebenarnya dia bingung, cara memainkan hape itu seperti apa. Karena emang jelas banget seumur-umur Kakashi baru punya barang ginian semenjak sore ini doang, biasanya dia bergelung dengan ukulelenya yang telah tewas beberapa hari yang lalu. Ngomong-ngomong soal ukulele, Kakashi jadi sedih. Persahabatannya dengan ukulele itu bagaikan "persahabatan Dudung dan Maman" lagunya The Changcuters, tapi ya sudahlah—everythings gonna be okay. Lagu banget emang idupnya.
Kakashi mulai memencet tombol menu di hape itu sambil senderan di depan kap mobil di kawasan pelataran parkir, lalu memencet tombol yang lain lagi, sampai terdengar...
Kringg… Kringg… Kringg…
"Wow!" seru Kakashi takjub, katro banget.
Suara-suara ribut kecil terdengar di ujung jalan, Kakashi refleks menoleh ke arah sumber suara di sebelah kanannya. Terlihat oleh pria itu, tiga pria berseragam putih-putih tengah menyeret seorang pria aneh berjubah hitam bermotif awan yang kedua tangannya terborgol ke belakang. Wajah pria itu tertutup topeng bulat melingkar berwarna oranye mirip seperti lollipop.
"Kamuuhhh… lepasin akkuhh… aku kan mau ke Parisss! Kamu jahat!" rengek pria aneh tadi saat ketiga pria berseragam putih itu berjalan tepat di depan Kakashi lalu melewatinya. Kakashi bisa menerka kalau pria yang barusan lewat di depannya adalah pasien Rumah Sakit Jiwa.
"Hai, ganteng!" kata Tobi tiba-tiba sambil menoleh pada Kakashi. Pria berambut perak itu sweatdrop sekaligus ngeri, untung saja ketiga petugas tadi segera menyeretnya untuk menjauh.
"Wah, sepertinya ada ribut-ribut kecil, ya?" sebuah suara menyapa gendang telinga Kakashi.
Kakashi menoleh dengan gerakan slow motion, kalo dari suaranya sih kayaknya dia pernah dengar. Ah, jangan-jangan…
"Ah, kamu kan…"
Demi apa coba Kakashi bisa liat pemuda berambut coklat itu lagi?
Demi apa coba Kakashi bisa ketemu pemuda yang beberapa hari yang lalu bertemu dengannya di Taman Konoha?
Demi apa coba Kakashi tahun ini, bulan ini, tanggal ini, hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, ketemu lagi sama Iruka?
Cihuy!
"Hai, Kakashi-san." Iruka tersenyum teduh. Ah, tipikal anak baik dan orang tua penyayang nih. Seenggaknya gitu pemikiran Kakashi.
'DIA MASIH INGET NAMA GUE, MASAAAA. AH JODOH EMANG KAGAK KEMANAAA.' Inner Kakashi seneng banget.
"Hai juga Iruka-san. Lagi ngapain di sini?"
"Mengantarkan Tuan Muda Uchiha Sasuke." Iruka tertawa renyah, Kakashi terpesona. Maka terdengarlah lagu yang akhir-akhir ini sering banget didengarnya di tipi ataupun di radio.
Mengapa hatiku cenat-cenut tiap ada kamu?
Mengapa selalu hariku indah saat di dekat kamu?
Baris kedua lagu di atas ngarang banget, soalnya baik Kakashi maupun author sama-sama gak hapal lirik yang sebenarnya. Maaf bagi smashblast yang membaca fanfic ini.
Lanjut ke Iruka yang saat ini lagi mesem-mesem entah kenapa. Kayaknya gayung bersambut, saudara-saudara! Atau gara-gara ikutan gila gegara liat Tobi sebelumnya?
Cukup lama mereka terdiam, bingung mau ngomong apa kali ya. Lalu beberapa menit kemudian…
"Saya—" ucap mereka berbarengan. Kompak euy.
"Silahkan Anda duluan yang berkata, Iruka-san." ujar Kakashi sopan.
"Tidak, Anda saja." tolak Iruka.
"Tidak, Anda duluan." ujar Kakashi bersikeras.
"Anda saja." balas Iruka, bersikeras lagi.
"Anda, Iruka-san."
"Anda saja, Kakashi-san."
"…"
"…"
"Ya sudah saya yang duluan deh." dasar Kakashi geblek, dari tadi kek.
Kakashi berdehem. "Boleh saya minta nomor telpon Anda?"
Iruka cukup kaget juga mendengarnya, kaget campur seneng sebenernya sih.
"Hm, oke. Kosong delapan satu, delapan dua tiga, empat lima enam tujuh…" ujar Iruka menyebutkan nomor hapenya. "Missed call yah…"
Kakashi cengok, kata asing itu baru hinggap di telinga Kakashi. "Hah, miskol?"
"Iya."
Demi Jashin naek onta! Kakashi gak tau apa arti dari kata "miskol" yang barusan meluncur dari bibir Iruka. Please deh Kakashi baru pegang hape sore ini! Tapi keterlaluan banget ya ampe gak tau apa itu miskol segala.
"Hm… Iruka-san, baiklah nanti saya miskol Anda." ujar Kakashi hati-hati.
"Oke."
Padahal dia gak tau apa itu miskol. Nyehehehe.
XxXxXxX
Sudah berpuluh-puluh kali Neji menghubungi ponsel Gaara, namun yang terdengar masih deretan kata yang sama:
"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan area, cobalah beberapa saat lagi…"
"AH, KAMPRET!" Neji berteriak frustrasi.
Sesuai saran dari layanan SMS Mbah Jiraiya, hal pertama yang harus Neji lakukan adalah: "meneror si doi sesering mungkin lewat telpon atau SMS.". Dilengkapi dengan kalimat gak penting di bawahnya: "Cemungudh, cemoga berhasil! SEMANGKA! SEMANGAT, KAKA!"
Neji sweatdrop.
Pemuda tampan berambut coklat itu menghela napas, "SMS pun gak bakal guna kalo hapenya kagak aktif! Gah!"
Baru saja Neji mau protes dengan menghubungi call centre layanan SMS dari Mbah Jira, ponselnya tiba-tiba berbunyi tanda SMS masuk.
"Gaara?"
From: Mbah Jira
Ternyata bukan.
"Jika cara yang tadi tidak berhasil, coba hubungi nomor beberapa orang terdekatnya atau kerabatnya. Chu, aku mendukungmu!"
Bujug buset, kesambet kali ya tuh tua bangka ampe nyelipin kalimat-kalimat aneh di belakangnya. Boro-boro jadi tersemangati, yang ada malah najis!
Neji buru-buru menelusuri daftar kontak yang ada di handphone-nya, dari A sampai Z.
"Oke, yang ada cuma si Matsuri, mantan pembantu Gaara-koi. Coba gue telpon deh…"
"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak terdaftar."
"Gembel! Si Matsuri nomornya udah diganti! Rawr!" Neji menggigit-gigit bantal sofa sebagai pelampiasannya.
"Nomor Shikamaru aja deh, mantan temen SMP-nya."
"Tuut—tuutt—tuut—maaf, nomor yang Anda tuju sedang sibuk."
"Anjir! Saus tartar!" Neji mulai hilang kesabaran. "Tapi demi Gaara-koi, aku rela… oh, aku relaaa…"
Neji kembali mencoba menghubungi lagi, kali ini nomor Itachi, yang entah kenapa ada di dalam daftar kontaknya.
"Tuut—tuut—tuut—Halo! Itachi si ganteng tanpa keriput di sini! Sori bro gue nya lagi sibuk, maklum lah fans gue banyak. Hehe. So tinggalin pesan aja ya, teken bintang, kay? Bubye! Muach!"
Malangnya Nasib Neji, panggilannya malah tersambung ke voice mailbox. Neji langsung menekan tombol bintang dengan tak sabar.
"HALO, INI GUE, NEJI. COWOK TERGANTENG DI KOMPLEK GUE. KALO ELU KETEMU GAARA—UKE GUE, DIMANAPUN LO BERADA, HUBUNGI GUA OKE?" Neji segera menutup panggilannya. Dan dia tersandar lemah di sandaran sofa. Kemudian bersenandung kecil dengan putus asa dengan alunan mirip lagu Bang Toyib.
"Gaara-koi, Gaara-koi, kenapa tak pulang-pulang? Abangmu, abangmu, panggil-panggil namamu…"
Neji menutup matanya dengan punggung tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang hapenya yang seakan terasa panas dan penuh keringat karena dipegang terus olehnya.
Kemudian tanpa sadar, Neji mulai mengangkat hape itu. Matanya terbuka dan lengan kirinya tidak menutupi pandangannya lagi. Dia membuka mp3 dalam hapenya dan mulai menelusuri deretan lagu. Sampai jemarinya berhenti menekan keypad-nya saat judul lagu yang tak asing menghiasi pandangannya.
Joshua - Diobok-obok(dot)mp3
Neji galau, judul lagu barusan ternyata mau tidak mau mengingatkannya kembali pada sosok Gaara. Gaara yang sangat suka memutar lagu bertemakan anak-anak padahal sudah bukan masanya lagi, Gaara yang selalu protes bahkan marah ketika Neji menyetel lagu dangdut keras-keras di teras belakang rumah mereka, Gaara yang selalu menendang bokong Neji begitu pemuda berambut coklat itu mulai berjoget karena terbawa euforia dari lagu dangdut yang pemuda itu setel sendiri, Gaara yang—ah, sudahlah…
Betapa Neji rindu pada Gaara.
Mau makan, Neji rindu Gaara.
Mau minum, Neji rindu Gaara.
Mau tidur, Neji rindu Gaara.
Apalagi mau mandi, banget lah Neji rindu Gaara.
Mau buang air bes—eh, yang itu tak usah dibahas. Jijik juga ya.
Neji lalu meneken tombol play dan mulai memutar lagu Diobok-obok punya Joshua.
Diobok-obok airnya diobok-obok,
Ada ikannya kecil-kecil pada mabok,
Disemprot-semprot airnya disemprot-semprot—
Neji membenamkan kepalanya di bantal sofa.
Sementara itu di tempat berbeda namun dalam waktu yang sama, Gaara hampir saja menubruk tiang listrik jika Kankurou yang berada disampingnya tidak mengingatkannya.
"Ngelamun aja, kamu." protes Kankurou, Gaara cuma menatapnya datar. "Mikirin siapa sih?" selidiknya.
Bukannya menjawab, Gaara malah berjalan kembali meninggalkan Kankurou yang tertinggal di belakangnya.
"Woy, Gaara! Ah, gitu aja kok ngambek sih? Nggak usah malu-malu dong, aku kan aniki-mu!" ujar Kankurou agak berteriak di tengah keramaian pasar.
Gaara tetep aja mingkem, di pikirannya pertanyaan si Kankurou ini gak penting-penting amat buat dijawab.
"Woy, Gaar. Ih, adek gua kayak patung berjalan banget sih…" pemuda bertubuh agak tambun itu menyejajarkan langkahnya dengan Gaara, namun ia ikut berhenti saat Gaara menoleh ke arahnya tanpa ekspresi. Ngerasa gak enak juga kali ya si Gaara dibilang patung, wihihi.
"Eh? Kalo gitu arca berjalan deh… kan bagusan dikit, hehehe."
'Sama aja, ketek.' kata Gaara dalam hati, males meladeni Kankurou yang emang suka menggila dalam urusan ejek-mengejek.
Kali ini, dua Sabaku bersaudara sedang mengitari kawasan pasar tradisional di daerah Suna.
Kok ke pasar malem-malem? Jangan salah, meskipun malem tapi pasar ini emang rame.
Sebenernya karena suruhan Temari, sih… perempuan pirang berkucir empat itu menyuruh mereka berbelanja bahan makanan selama sebulan. Kedua adiknya ini sih ya nurut-nurut aja, selain karena emang Temari yang bekerja keras membiayai adik-adiknya, juga karena mereka… ehem, takut, ehem kalo Temari marah. Kalo Temari marah kan kayak setan, demen membuang barang-barang adeknya juga nyetel kipas angin kenceng-kenceng—entah apa tujuannya. Ya bisa disejajarkan sama ibunya Nobita lah, cuma gak nyuruh nyabutin rumput doang.
Kankurou melirik daftar belanjaan yang diberikan oleh Temari, lalu ia menyeret Gaara ke beberapa tukang sayur dan daging yang berdagang di sana.
Sudah hampir satu jam lebih mereka berbelanja, akhirnya pulang juga dengan membawa beberapa keresek penuh belanjaan. Di tengah jalan menuju rumahnya, mereka melewati sebuah tukang kaset yang selalu menyetel salah satu kaset jualannya dengan volume yang kelewat over, salah-salah bisa bikin orang yang lewat menjadi budek permanen.
Dan lagu yang terputar keras-keras itu adalah lagu…
Sekian lamaa~ aku menunggu, untuk kedatanganmu~
'Neji-kun…'
Bukankah engkau, telah berjanji kita jumpa di sini
Datanglaah~ kedatanganmu kutunggu
Tlah lamaa~ telah lama kumenunggu~
Dimana dengar dangdut, pasti dibenaknya terpikir sosok seorang Neji. Dan gara-gara mendengar lagu itu, Gaara menjadi galau.
JEDUK!
"Gaara! Udah gue bilang jangan ngelamun!"
Kali ini jidatnya beneran kejedot tiang listrik.
XxXxXxX
Gara-gara insiden memalukan dari pasien rumah sakit jiwa yang kabur, kelas les Naruto dibubarkan setengah jam sebelum jam pulang sebenarnya. Pihak les maupun pihak rumah sakit sudah meminta maaf sampai sujud-sujud. Kalau memang sudah begitu kejadiannya ya mau begimana lagi.
Naruto berjalan melewati lorong tanpa Sai di sampingnya, pemuda malang berkulit pucat itu sudah terlebih dahulu diantar pulang oleh pihak rumah sakit. Saat langkahnya mau menginjak kawasan pelataran parkir tempat Kakashi menunggunya untuk pulang, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang di belakangnya.
"W-Woy!" seru Naruto kaget, dan kekagetannya bertambah dobel saat melihat siapa pelakunya.
Sasuke? Bukan kok, tapi gadis bergaun putih berambut panjang.
Naruto merinding disko.
"I-ini… bu-buku kamu—ke-ketinggalan, Na-naruto-kun…" ucap gadis itu terbata dengan suara keciiiiiiiil banget, mukanya menunduk, lalu terangkat sedikit, tapi menunduk lagi.
Naruto bernapas lega, ternyata manusia bernama Hinata Hyuuga yang menarik tangannya.
"Ah, terima kasih ya." ucap Naruto seraya tersenyum ganteng, kalo aja di tangannya dia lagi megang sebotol Pocari Sweat, pasti langsung dibagi ke gadis itu. Kayak di iklan.
Melihat senyum ganteng pemuda pirang di hadapannya yang amat memesona—menurut pikiran Hinata sih, gadis itu makin menunduk malu disertai pipi yang merona merah.
"S—sa-sama-sama, Na-naruto-kun." ucapnya lagi. Hare gene masih gagu? Capek deh. Tapi lebih baik dari pada author yang gak berani nyapa si Baka. AH SUDAHLAH LUPAKAN. Maaf curhat dikit.
Setelah Naruto menerima buku yang diserahkan Hinata dengan tangan yang super bergetar bak berada dalam goncangan gempa bumi, akhirnya mereka berpisah dan Hinata pamit mundur. Naruto pun melanjutkan langkahnya menuju tempat parkiran kembali.
Tapi di tengah jalan, tangannya ditarik lagi.
"Hinata, ada ap—GAH, KOK ELU SIH, TEME?"
Nah kalo yang ini baru Sasuke.
"GUE KIRA SETAN!"
LOL. Whut?
Sasuke agak melotot, apalagi sebelumnya ia mendengar nama 'Hinata' disebut. Siapa pula itu Hinata? Di pikirannya cuma ada Naruto.
"Ikut gue, Dobe." pemuda sengak itu menyeret Naruto menjauhi tempat parkir.
"H-HEY! LEPASIN GUA, WEY! LU MAU CULIK GUE YE?"
'Demi Jashin naek komedi puter, nih anak berisik banget.' ucap Sasuke dalam hati seraya menutup sebelah kupingnya.
"TEME, WAH LU BRENGSEK. NGAPAIN LU BAWA GUE KE DALEM GEDUNG LES LAGI? AH ADA APA-APANYA INI MAH!"
"Bisa diem gak sih?" si Sasuke lama-lama risih juga.
Naruto mingkem, sementara Sasuke makin menyeretnya ke dalam gedung, ke dalam lorong yang walaupun penerangan terang-benderang namun sepi.
"Lepasin tangan gue, woy!"
"Berisik! Gue takut lo kabur."
"Cih." Naruto mendecih sebal. Tidak berguna juga sebenarnya Naruto memberontak, karena pegangan Sasuke di tangannya amat sangat erat dan tak kunjung lepas.
Hingga sampailah mereka ke depan sebuah ruangan yang Naruto kenali sebagai Toilet Pria.
"Ck, ngapain lu bawa gue kemari, HAH?" protes Naruto lagi, kali ini sambil berusaha melepaskan pegangan erat Sasuke di kedua pergelangan tangannya.
Sasuke sebenarnya agak kewalahan juga menahan pegangannya pada kedua lengan Naruto dengan kedua tangannya juga, karena mau bagaimana pun Naruto tetep aja seorang cowok, Naruto tetep aja punya tenaga standar para cowok, Naruto BUKAN cewek yang tenaganya lebih lemah. Tentu dengan otaknya yang jenius, Sasuke sadar akan hal itu.
"Tch," yang keluar dari mulut pemuda berkulit porselen itu hanyalah sebuah decihan disertai desahan panjang. Naruto yang melihatnya langsung mencibir.
Sasuke menendang pintu toilet pria dengan perlahan, ditariknya kembali kedua lengan pemuda pirang itu untuk ikut masuk ke dalam toilet pria bersamanya.
"Ck, apa-apaan lu?" kaki kanan Sasuke ditendang begitu saja oleh Naruto, membuat pemuda itu mengaduh kecil lalu balas menendang.
Bugh!
"GYAW! Wey, kusoooo!" Naruto balas menendang lagi, kali ini kaki kiri Sasuke yang jadi sasaran.
Bugh!
"Grrr, kuso Dobe!" Sasuke geram bukan main menghadapi tingkah menyebalkan dari Naruto. Ia balas menendang lagi, dan tanpa sadar melepaskan genggaman tangannya pada Naruto yang sedari tadi dipertahankannya.
Bugh!
"Anjret! Lu mau coba-coba nantang gue hah, TEME?" bukannya kabur, Naruto malah terlanjur terbakar amarah yang sengaja ia sulut bersama Sasuke. Tujuan utamanya tadi hilang sudah tertelan angin panas akibat atmosfir pertengkaran mereka. Tangannya yang kini bebas melayangkan bogeman mentah ke arah Sasuke.
Duagh!
Lumayan.
Lumayan lah bikin pipi kiri Sasuke serasa cenat-cenut, walaupun gak ada darah yang mengalir di sela-sela bibirnya.
Sasuke sudah kehilangan kesabarannya kali ini, "gue gak mungkin kalah dari elu, bego!"
Pemuda itu menendang lagi, dibalas pukulan. Lalu melayangkan pukulan, dibalas tendangan. Pukul, tendang, tinju, jambak, lompat, lompat, lompat—eh, maksudnya bogem, tarik, jungkir balik, de es te, de es te. Sampai akhirnya kedua penampilan pemuda ini acak-acakan luar binasa.
Rambut pirang Naruto acak-acakan, kaus yang dikenakannya sama-sama kusut dan kotor juga, bahkan sedikit tersibak di bagian pinggang.
Rambut Sasuke agak basah terkena keringat, namun tatanan berbentuk menyerupai pantat ayamnya masih mencuat ke atas dengan sempurna. Rupanya Sasuke tak salah memilih jel rambut yang berkualitas bagus. Kaus yang dikenakannya juga nggak jauh berbeda dengan kaus partner berantemnya barusan. Kalau celana mereka berdua? Jangan ditanya, penuh noda lumpur dari masing-masing sepatu yang dikenakannya.
Posisi mereka saat ini?
Saling menjambak rambut dan melempar tatapan maut dari kedua belah pihak, dengan Naruto yang berada di bawah Sasuke.
Tunggu, berada di bawah Sasuke?
"MAU APA, KAU?" teriak keduanya berbarengan.
Kedua pemuda ini masih sibuk melempar death glare satu sama lain, sampai sebuah gesekan aneh muncul diantara mereka di bawah sana.
Naruto maupun Sasuke sama-sama melotot kaget, dan tiba-tiba pemuda pirang itu menendang Sasuke menjauh dengan sekuat tenaga.
BRAK!
Punggung Sasuke sukses menjeblak pintu keluar.
"Argh…" rintihnya kecil, namun masih dapat bangkit. Pemuda itu berjalan agak terhuyung menghampiri Naruto yang tengah terbaring dengan napas ngos-ngosan.
Namun beberapa langkah lagi, Sasuke tiba-tiba berbelok ke arah kanannya dan segera membuka pintu boks toilet.
Blam. Pintu tertutup dan dikunci dari dalam. Lalu beberapa detik kemudian terdengar suara air pancuran kecil meluncur membentur permukaan air yang berada dalam kloset. Kesimpulannya, ternyata Sasuke buang air kecil. Naruto cengok.
Padahal sejujurnya dalam pikiran Naruto, Sasuke akan melakukan hal yang ia ketahui bernama piiip padanya. Namun ternyata tujuannya mengajak ke dalam toilet ini supaya ada teman? Sasuke takut sendirian kah? Lucu sekali si ayam itu.
Naruto bangkit duduk dari posisi berbaringnya ketika pintu boks terbuka, menampakkan sosok Sasuke di dalamnya yang keluar sambil menutup resleting celananya. Naruto sweatdrop.
"Halo, Dobe." sapanya datar. Garing banget. "Apa yang kau lihat?"
"Cih!" Naruto otomatis membuang pandangannya. Pemuda itu bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ada, hendak menuju pintu keluar toilet. Namun langkahnya dihadang cepat oleh Sasuke, Naruto terdorong ke arah tembok dan punggungnya terbentur kecil. Kedua lengan Sasuke sukses menahan kedua lengan Naruto yang sudah terkepal keras.
"Lo mau apa, hah?" Tanya Naruto agak dingin, safirnya menyorot tajam—mengerikan sebenarnya—tepat ke arah oniks milik Sasuke.
Sasuke menyeringai, merasa menang dalam pertarungan sengit tidak penting mereka.
"Kau."
Pupil Naruto membesar kaget atas jawaban Sasuke, "WATDEPAK? YOU WANT A COW? LU MAU SAPI?" teriaknya norak.
Catatan: telinga Naruto menangkap kata "kau" menjadi "cow".
Urat marah segede biji jagung menghiasi jidat tidak lebar Sasuke, kemudian ia agak murka. "BUKAN ITU, IDIOT!"
"TERUS APA, HAH?" sempet-sempetnya Naruto muncrat di depan muka Sasuke. Ini anak minta diketekin rupanya.
"I want you, Naruto Namikaze."
Naruto sukses membantu. "Tch, lu homo, ya?"
Pertanyaan Naruto tidak dijawab, Sasuke buru-buru mendekatkan wajahnya lalu bibirnya menyapu bibir si pirang sekilas.
"Ini untuk ucapan selamat datang ke duniaku, Dobe."
Naruto melotot lagi, namun kali ini lutut kakinya sukses menyikut perut Sasuke hingga pegangan pemuda itu terlepas.
Sasuke ambruk dengan setengah merintih di atas lantai kamar mandi, kedua lengannya memegang perutnya yang terasa sakit.
Naruto segera berjalan menjauh lalu membuka pintu keluar toilet, namun ia sempat berbalik untuk menatap tajam Sasuke.
"Jangan pernah bermimpi." dan ia pun berlalu.
Sasuke dalam keadaan masih terbaring di atas lantai hanya menyeringai, "kita lihat saja, Dobe." desisnya.
***TO BE CONTINUE***
W-wey! Kok kesannya jadi serius gini sih? OAO *dia yang buat, dia sendiri yang bingung* #dor
Bagaimana? Udah banyak kan SasuNaru-nya? Saya sudah bekerja keras nih! *ngelap keringat pake baju Sasuke*
Hah, siapa yang bilang masih kurang? Gua giles pake papan! #digampar
Ada yang sadarkah kalau perhitungan durasi 30 harinya sudah mulai dihitung dari chapter ini? Saya jujur lho ya jadi bingung sendiri mau ngebaginya gimana ==a #plak
Juga sori banget di chap ini malah gak ada scene ItaDei sama Sasori dan Akatskuter sama sekali =A= Soalnya kalo mereka ada, entah panjangnya chapter ini bakal berapa, ini aja udah 5000 words lebih, saudara-saudara! Bayangkan! Bayangkan! *lebay* #dzig
Ada yang suka nggak sih sama Akatskuter? Request dong biar mereka bisa tampil agak banyakan gitu di penpik ini :P Tapi entah bakal berapa chapter penpik ini bisa tamat =_=
Mau promosi ya, RnR juga dong fanfic saya yang berjudul Vendetta, itu fanfic khusus buat Sasuke Birthday lho ;)
YOSH, REVIEW!
V
V
V
