Note : chap terakhir dari kisah ini.. nanti setelah kata END akan ada beberapa pembahasan untuk maksud dari kisah ini..

untuk muni, makasih atas reviewnya. setelah ini segala misteri akan terungkap, hehee..

oh ya, saya mau memberitahu jika ada karakter yang mati di sini. hehee.. (nggak penting)

oke, selamat membaca..

.

.

.

Mystery7.Rahasia Sekolah

St. Serafine High School, 6.12 PM

Akane memasuki ruang kelas A dengan tatapan bingung. Ia menghampiri dua siswa yang sedang menunggu dirinya.

"Aneh ya.." ucap gadis itu tiba-tiba. "Teman-teman sekelasnya pada bilang tidak tahu.." lanjutnya kemudian.

Yuuichiro yang mendengar, mendengus pelan, "Sudahlah, mungkin saja dia memang pulang tadi pagi.."

"Loh, tapi kan tadi pagi kita bertemu dia, Yuu.." Mikaela menambahi.

Saat ini, ketiga murid itu tengah membicarakan Shinoa.

Gadis itu tiba-tiba saja menghilang. Padahal jelas sekali kan jika Yuuichiro maupun Mikaela bertemu dengan Shinoa pagi tadi?

Lalu ke mana gadis itu? Mana mungkin dia pulang tanpa ijin terlebih dahulu.

"Lagi pula ngapain sih nyariin anak itu?" tanya Yuuichiro dengan nada ketus.

"Kan kita teman. Aku bermaksud mengajaknya pulang bersama.." balas Akane dengan semangatnya. "Lagian Shinoa anak yang manis, kupikir dia orang baik.."

Remaja bersurai gelap itu mengalihkan pandangan, kesal. Ia menopang dagu, menatap langit di luar jendela yang tentunya sudah gelap.

Mikaela melirik sobatnya itu, kemudian tersenyum tipis penuh arti, "Bukannya kamu menyukainya ya, Yuu?" ucapnya tiba-tiba.

Akane segera mengalihkan pandangan, menatap Yuuichiro dengan tatapan terkejut. Sedangkan yang disebut langsung saja menunjukkan tatapan tajam ke arah remaja bersurai kuning tersebut.

"Jangan bodoh! Hanya karena dia mirip Senior Mahiru, bukan berarti aku menyukainya, tolol!" bentak Yuuichiro kasar.

"Aku enggak bilang Shinoa mirip Senior Mahiru, Yuu.." Mikaela membalas santai.

Si perempuan yang berada di kelas sepi itu menatap bingung ke arah dua kawannya.

"Eh, tapi jika diperhatikan, Shinoa memang mirip Senior Mahiru deh. Apa mereka bersaudara?"

"Peduli amat mereka mau saudara atau bukan!" Yuuichiro segera bangkit berdiri dari bangkunya, "Sudahlah, sebaiknya kalian segera pulang! Aku ada urusan!" Ia mengambil ranselnya kemudian melangkah lebar ke luar kelas.

Mikaela terdiam. Menatap sayu kepergian temannya itu.

.

.

.

Shinoa menggerakkan tangannya. Jari-jemarinya bisa merasakan lantai-lantai batu di bawah. Ia membuka mata perlahan. Pening masih menyerang.

Ada di mana dia sekarang?

Ruangan tempat ia berada sekarang amat sangat gelap. Atau memang matanya masih belum bisa melihat dengan sempurna?

Gadis itu terduduk, memegangi kepalanya pelan. Perlahan hidung dapat mencium aroma-aroma busuk. Seketika pikirannya kembali bekerja. Ia ingat jika tadi dirinya didorong hingga terjatuh ke bawah tanah.

Shinoa mengedarkan pandangan. Menatap ke arah tangga di mana satu-satunya jalan ke luar berada. Ia bangkit berdiri dengan susahnya. Indera penciuman kembali menangkap bau busuk.

Bau apa ini?

Ia melangkah pelan, mendekati dari mana asalnya aroma tersebut. Matanya dipaksa melihat dalam kegelapan.

Seketika itu juga, maniknya melebar terkejut menatap pemandangan mengerikan dalam ruangan ini.

Terdapat tumpukkan mayat di sana. Mayat-mayat siswa maupun siswi berseragam St. Serafine. Tak diketahui jumlahnya berapa. Namun Shinoa sudah ngeri sendiri melihatnya.

"Ap- apa ini?" gumamnya masih tak percaya.

Jadi ini isi dari ruang tertutup itu?

Pandangannya terhenti ke salah satu sosok yang tengah terduduk di kursi. Mungkin sengaja diletakkan di sana.

Shinoa merasa kesusahan bernafas sekarang. Ia menghampiri sosok yang tentunya sudah tak bernyawa itu.

"Kakak!" teriaknya pelan. "Bagaimana mungkin?"

Gadis itu menatap sedih kakak perempuannya yang terduduk di kursi. Tubuh wanita itu bau busuk bercampur aroma pengawet. Matanya tertutup rapat, ada pula jahitan di sekitar lehernya yang terluka.

Shinoa entah kenapa ingin menangis. Siapa orang yang tega melakukan hal kejam seperti ini? Bukan hanya terhadap kakak perempuannya, tapi terhadap seluruh murid yang sudah tak bernyawa dalam ruangan ini.

Tunggu dulu! Perlahan ia teringat akan sesuatu.

Ruangan ini hanya Yuuichiro yang tahu. Apa jangan-jangan remaja itu tahu sesuatu tentang mayat-mayat di sini? Atau jangan-jangan dialah pelaku yang telah membantai murid-murid itu, termasuk kakaknya?

Jika memang benar demikian, maka kemungkinan dirinya juga dalam bahaya. Apakah Yuuichiro akan berencana membunuhnya?

Shinoa sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Semuanya benar-benar tak masuk akal. Ia harus segera pergi dari sekolah terkutuk ini dan melaporkan segalanya pada polisi.

Gadis bersurai ungu itu segera angkat diri. Melangkah tergesa-gesa menuju tangga. Kali-kali saja ada keajaiban pintunya tak terkunci. Namun indra pendengarnya menangkap suara orang berbincang di luar sana.

"Kenapa masih kau biarkan anak itu hidup?" Suara kepala sekolah.

"Kupikir dia sudah mati di dalam sana.." Dan suara Yuuichiro.

Shinoa menguping. Apa semua ini ada hubungannya dengan kepala sekolah?

"Mana mungkin, bodoh! Segera singkirkan anak itu! Bisa bahaya jika dia masih hidup dan membeberkan rahasia sekolah ini!"

Dan perlahan, terdengar suara langkah kaki yang semakin menjauh. Shinoa masih bergeming menunggu kelanjutan, meyakinkan diri apakah masih ada orang di luar atau tidak.

"Dasar! Memangnya dia pikir membunuh itu gampang!"

Terdengar suara kunci. Gadis di balik pintu tersentak bahkan melangkah mundur, merasa jika dirinya sekarang dalam bahaya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Shinoa mengedarkan pandangan, membaca situasi juga mencari tempat untuk bersembunyi.

Pintu itu terbuka. Yuuichiro masuk ke dalam dengan raut bosan. Ia terdiam. Menatap ruangan tersebut yang ternyata sepi.

"Ke mana orang itu?" gumamnya pelan.

Shinoa yang memepetkan diri pada ruang kecil di samping pintu segera bergerak mendorong remaja di hadapannya. Yuuichiro tersentak kaget dan sekarang gantian dia yang berguling ke bawah tanah.

Tak pikir panjang, gadis bersurai ungu itu segera angkat kaki dari ruangan terkutuk itu. Remaja bersurai gelap yang masih mengaduh kesakitan sedikit mengumpat dalam hati, ia mengeluarkan pisau dari saku celananya dan ikut angkat kaki mengejar si gadis.

Sekolah sudah sepi sekali. Waktu sudah menunjukkan jam malam. Shinoa tak tahu mau lari ke mana lagi. Meminta pertolongan pun juga tak mungkin. Tubuhnya masih sakit bahkan mati rasa, sudah tak sanggup lagi untuk berlari jauh.

Gadis itu menghentikan langkah, bersembunyi di bawah meja dalam kelas. Berharap Yuuichiro tak menemukan dirinya.

Perlahan matanya mengaliri air. Kenapa? Kenapa semuanya malah berakhir seperti ini? Ia meringkuk ketakutan.

Tak terduga..

"Ketemu!" Yuuichiro yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya, mencengkeram lengan gadis itu kuat.

"Kyaaa!" Shinoa membuat perlawanan. Memberontak sebisanya. Namun tenaganya tentu tak lebih kuat dari pemuda di hadapannya.

Yuuichiro tak pikir panjang langsung saja menubruki Shinoa yang masih saja membrutal.

"Tidak! Hentikan!" Gadis bersurai ungu itu berteriak.

"Sial, jangan membuat pekerjaanku bertambah, bodoh! Seharusnya kau diam saja baik-baik!" bentak Yuuichiro kasar.

"Mana mungkin aku akan diam jika akan dibunuh seperti ini!" balas Shinoa ikutan membentak. "Kupikir kau orang yang baik, tidak tahunya kau GILA!"

PLAK!

Manik coklat kemerahan si gadis terbelalak, seketika bisu, merasakan panas di pipinya.

Yuuichiro sendiri ikutan bisu, namun perlahan senyum kecil meremehkan merekah, "Jangan bercanda! Memang kamu pikir enak terus menerus berbohong menyimpan rahasia sinting seperti ini!?"

Shinoa memberanikan diri menatap remaja di atasnya. Ia terkejut ketika tahu manik hijau itu berair, bahkan tetesan air jatuh ke pipinya.

Gadis itu meremat kedua tangannya kuat, "Tetap saja, kau sudah membunuh banyak siswa-siswi sekolah ini! Terutama kakakku!"

"Kakakmu bunuh diri! Sebagian besar orang di ruangan itu menjadi mayat lantaran bunuh diri! Sekolah ini sudah gila! Mana mungkin ada murid baru yang bertahan menuntut ilmu di sekolah gila seperti ini!" Yuuichiro entah kenapa meninggikan suaranya.

Shinoa membelalakkan mata. Kakaknya? Bunuh diri? Tunggu dulu! Apa maksudnya dengan 'murid baru yang bertahan'?

Apa jangan-jangan murid yang mati dalam ruangan itu kebanyakan adalah murid baru? Tapi kakaknya bukan murid baru?

Sadar jika gadis di bawahnya tak mengerti, Yuuichiro kembali melanjutkan penjelasan, "Kakakmu pembela kebenaran, dia salah satu senior yang menolak aksi bully di sekolah ini. Menentang segala ucapan senior lainnya dan mengancam kepala sekolah maupun guru jika dirinya akan melaporkan polisi atas aksi bully yang tak pernah dihentikan. Namun akibat tindakan nekatnya itu, dia malah jadi ikutan di bully. Bahkan dikurung di sekolah!" jelasnya panjang lebar.

Shinoa entah kenapa mendengarkan dalam diam. Keadaan menenang untuk waktu yang cukup lama.

Yuuichiro menundukkan kepala, menyembunyikan wajah yang sudah tak karuan emosinya. Perlahan ia berucap pelan, "Aku menyukai kakakmu.."

Gadis itu kembali membelalakkan mata.

"Sangat suka. Bukan karena dia cantik, tapi karena dia hebat.." ucap remaja bersurai gelap itu dengan suara serak, "Namun aku sudah mengetahui tentang ruang tertutup itu. Aku penjaga rahasia sekolah ini, tak akan membiarkan orang lain tahu tentang semuanya. Makanya, kepala sekolah menyuruhku untuk membunuh kakakmu. Sama kejadian dengan sekarang ini.."

Tubuh Shinoa bergetar pelan. Sudah tak tahu lagi harus berkomentar apa. Ia tetap diam menunggu kelanjutan cerita remaja di atasnya.

"Aku tak mungkin membunuhnya. Aku berencana untuk membebaskan dirinya, kabur dari sekolah dan berbohong memberitahukan kepala sekolah jika dia sudah mati. Tapi.., ketika aku menemukan dia.." Yuuichiro menghentikan ucapannya, tak mampu untuk melanjutkan.

Shinoa sekarang bisa memahami situasi. Mungkin saja Yuuichiro itu merasa tertekan dengan menyimpan rahasia sekolah ini.

"Kalau begitu berhentilah.." akhirnya Shinoa buka suara, "Berhentilah jadi penjaga rahasia sekolah ini. Kau yang tahu semuanya, kenapa tidak kau laporkan ke polisi!"

"Kau pikir gampang? Meremehkan saja!"

"Kau hanya takut!"

"Iya, aku takut! Aku sudah tak peduli lagi tentang kesintingan sekolah ini! Terserahlah mau berakhir seperti apa! Terserahlah kau menganggap aku ini apa! Pokoknya yang mengganggu harus disingkirkan!"

Yuuichiro menggerakkan tangannya, mencengkeram leher gadis di bawahnya kuat. Shinoa membelalakkan mata, ingin memberontak namun kedua tangannya sudah dikunci di atas kepalanya.

Remaja bersurai gelap itu menatap si gadis tanpa ekspresi, perlahan senyum aneh terpatri, "Terlalu sayang jika gadis manis sepertimu dibunuh.." ucapnya pelan, "Jadi ijin kan aku bersenang-senang terlebih dahulu ya.."

Tubuh Shinoa bergetar ketika tangan yang tadi mencengkeram lehernya berpindah meraba pahanya, terus naik hingga masuk ke dalam rok seragamnya. Ia ingin berteriak namun tiba-tiba bibirnya ikutan dikunci.

Dari bibir turun ke leher. Yuuichiro bermain liar di daerah situ, bahkan jari jemari di bawah sana bergerak nakal.

Shinoa memejamkan matanya kuat, ia menggigit bibir bawahnya. Seragamnya entah kenapa hampir terlucuti.

"Hen.. tikan..." ucap gadis itu pelan. Tubuhnya sudah terasa panas sekarang.

Tak didengar, atau memang Yuuichiro pura-pura tuli.

Shinoa mengepalkan tangannya kuat. Sudah tak mampu lagi membendung kesedihan. Air mata tumpah. Mulutnya terbuka, berusaha untuk berteriak namun nafasnya habis.

Apa semua akan berakhir seperti ini?

Tak terduga.., BUAK! Seseorang datang dan menonjok Yuuichiro agar menjauh dari si gadis.

"Hentikan, Yuu! Kau sudah kelewatan!"

Shinoa tersadar dari pikirannya, ia menatap sayu remaja bersurai kuning yang sudah menolongnya itu.

"Mika.." gumamnya pelan.

Mikaela melirik ke arah Shinoa yang pakaiannya berantakan, tangan mengepal kuat, kembali menatap sobatnya dengan raut kekesalan.

Yuuichiro sendiri berusaha untuk bangkit dari tersungkur akibat pukulan telak yang ia terima, tangan sedikit mengelap ujung bibirnya yang berdarah.

"Apa-apaan nih? Pengganggu baru?" tanya remaja bersurai gelap itu meremehkan. "Kupikir kau tak akan ikut campur, Mika.."

"Awalnya memang tidak!" balas Mikaela tegas, "Tapi jika caramu seperti ini maka semua tak akan ada akhirnya! Berhentilah, Yuu!"

"Berisik! Yang mengganggu harus disingkirkan!"

Tak ada jeda, Yuuichiro langsung saja maju menerjang temannya itu. Pisau yang disembunyikan berhasil menghunus perut Mikaela yang belum sempat menghindar.

Manik biru itu terbelalak, darah terciprat keluar.

"Mikaa...!" jerit Shinoa.

Mikaela berusaha melirik ke arah gadis di belakangnya, mulutnya mengatakan kata 'lari' sebelum akhirnya dia ambruk ke lantai.

Shinoa memandang ngeri ke arah remaja di hadapannya. Perlahan akhirnya angkat kaki, kabur dari kejadian tak wajar ini.

Namun Yuuichiro bergerak lebih cepat. Menarik kaki gadis itu dan membuatnya kembali tersungkur di lantai kelas.

"Tidak! Hentikan! Kumohon..." teriak Shinoa berusaha membuat perlawanan.

"Jika kau diam maka ini tak akan sakit!"

Gadis itu membrutal, kaki bergerak menendang-nendang bahkan tangannya bergerak ke sana kemari. Menyenggol meja di sampingnya, sebuah pulpen terjatuh dari laci meja tersebut.

Tak pikir panjang Shinoa segera meraih pulpen itu dan menghunuskannya tepat ke mata kiri remaja di atasnya.

"Akh..!" Yuuichiro merintih, mundur ke belakang dengan tangan memegangi matanya yang berdarah.

Sekarang Shinoa yang ambil alih. Ia langsung saja menubruki Yuuichiro dan menusuk-nusukkan wajah remaja itu dengan pulpen di tangannya.

Berteriak kesetanan, Shinoa tak sadar jika dirinya melakukan aksi gila.

Yuuichiro sudah tak bergerak lagi. Gadis itu akhirnya tersadar dari pikirannya. Ia menjatuhkan pulpen di tangan, bergerak mundur memepetkan diri pada tembok kelas. Tubuhnya bergetar. Maniknya menatap ngeri pemandangan di hadapannya.

Yuuichiro maupun Mikaela, sudah tak bernyawa. Pikiran Shinoa berputar. Takut. Jika seseorang melihatnya, maka dirinyalah yang akan dianggap sebagai pembunuh.

Shinoa mencengkeram kepalanya kuat. Menjambak surainya. Air mata tumpah.

Tak sengaja, pandangannya menangkap sosok kakak perempuannya, Mahiru, di ujung kelas. Wanita itu menatap adiknya dengan raut penyesalan bahkan sedih.

Kenapa? Kenapa semuanya malah berakhir seperti ini?

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya. Polisi berdatangan. St. Serafine High School ditutup karena dikabarkan telah terjadi pembunuhan di sana. Sang kepala sekolah pun ditangkap.

Akane yang menemukan tiga temannya tergeletak tak bernyawa di kelasnya pagi itu, dengan sebuah pesan tertulis dengan darah di dinding. Bertuliskan segala rahasia sekolah ini.

Ruang tertutup dicek. Ada sekitar 18 korban beserta 3 yang ditemukan pagi ini.

Menurut polisi, korban di kelas diduga terbunuh. Yang dua laki-laki mungkin saja dibunuh sama satu yang perempuan, lalu perempuannya melakukan bunuh diri lantaran takut telah melakukan aksi pembunuhan.

Depan sekolah riuh dengan penduduk yang menyaksikan sekolah gila itu. Ada sebagian orang yang menangis lantaran anaknya salah satu dari korban.

Di kejauhan, tampak seorang pria bersurai hitam gelap dengan tongkat penyangga, menatap ke arah riuhnya penduduk di depan sekolah. Ia kemudian menghela nafas singkat.

Tak terduga, seorang pria lain dengan surai perak datang menghampiri, "Di sini kau rupanya?" tanyanya singkat.

Manik ungu si pria bersurai gelap melirik sekilas.

Si surai perak lanjut berkata, "Sudah selesaikan? Pesanmu sudah diterima. Segala misteri di sekolah itu juga sudah berakhir.."

"Maaf karena aku melibatkan adikmu. Kupikir akhirnya tak akan seperti ini.." balas pria dengan tongkat penyangga. Ada raut penyesalan di wajahnya.

Lawan bicaranya mendengus, "Tak apa. Kau tak salah kok. Dulu kan kau juga korban.. Tapi tak ada bedanya sih dengan bocah itu, kalian sama-sama pengecut.."

Pria bersurai gelap itu mengepalkan tangannya kuat.

"Sudah.. Sebaiknya pulang, kurasa pembantumu menghawatirkan dirimu.." Si surai perak mendekati temannya, meraih lengannya untuk membantu berjalan.

.

.

.

... END ...

.

.

Last Note :

Nah, jadi sudah terungkap semua kan? Dengan begini saya nyatakan kisah ini sudah tamat. Horee.. *senangsendiri*

btw, saya minta maaf ya jika ending nya sangat tak memuaskan. entah tak jelaslah, atau terburu-burulah, atau malah kesel lantaran karakter di list mati semuanya. hehee..

awalnya sih ingin Yuuichiro sama Mikaela saja yang mati, terus nanti Shinoa nya jadi gila gitu ditangkap sama polisi.

Shinoa : "Emoh aku kalau jadi gila di akhirannya mana ditangkap polisi pula, mendingan mati.."

Mungkin ini perasaan saya saja, tapi pasti ada yang berpikir jika peran Mikaela di sini singkat banget. cuma dateng nonjok habis itu langsung collapse. maaf jika ada yang merasa demikian..

Mikaela : "Ya tak apa jadi pahlawan yang terlambat walau hanya sekilas.."

Terus, Yuuichiro itu gila, oke. bayangin saja, masa mayat Mahiru doang yang ditaruh di kursi sedangkan lainnya digeletakkan di lantai..

Yuuichiro : "Ya terserahlah! Peranku memang gak enak di cerita ini.."

Jadi saya akan mulai penjelasan sedikit..

- Sekolah ini memang sinting dengan sistem bully nya. setiap murid baru yang masuk pasti akan disiksa sama para senior. anggap saja kepala sekolahnya gila lantaran tak mau ngurus para murid-murid yang di bully. terus sebagian murid baru pada bunuh diri. karena tak mau nama baik sekolah turun, maka murid yang bunuh diri itu disimpan dalam ruang tertutup. dan setiap ada murid yang tak sengaja mengetahui ruang tertutup itu pasti akan dibunuh.

- awalnya penjaga ruang tertutup itu ada satu lagi. tapi dia berhasil kabur dari sekolah. tuh yang ada di akhiran cerita. dia juga yang mengirimkan pesan ke Shinoa.

- Yuuichiro tak sengaja nemuin ruang tertutup itu jauh-jauh hari sebelum Shinoa datang. takut to dia, tapi diancam sama kepala sekolah untuk tak sebar rahasia. makanya dia jadi penjaga ruang tertutup itu.

- Mahiru gak kuat lantaran di bully tiap hari, makanya dia bunuh diri. padahal kalo semisal dia gak bunuh diri mungkin saja dia bakal selamat. dan karena nemuin seniornya mati, kepribadian Yuuichiro jadi enggak beres. sudah bodo amat gitu sama semuanya. pokoknya yang mengganggu bakalan mati. padahal dia aslinya baik loh.. *masa?*

yah pokoknya begitulah.. saya jadi nulis kepanjangan dipesan terakhir ini. hehee.. jika masih ada yang kebingungan, silakan bertanya langsung lewat PM saja. hahaa..

nah, ini mungkin akan jadi kisah terakhir saya.. mau coba merampungkan LwtE sama SAS dulu. padahal saya ada kepikiran satu lagi kisah horor, tapi kapan-kapan sajalah.

oke, kesan pesan jika ada saya tunggu.. makasih ya untuk pembaca yang setia mengikuti kisah ini hingga tamat. yang review juga bahkan yang fav or fol. saya senang ^^

well, sampai bertemu kembali di fik OwaSe saya lainnya.. see yaa~