Naruto duduk bersandar di batang pohon yang ada di padang rumput ilalang dengan Sakura yang tidur menyandar di bahu lebarnya. Pria itu menatap wajah Sakura yang tertidur dengan damai, ia sedikit terkejut saat wanita itu mengecup kilat bibirnya.
"Apa yang kau lihat pria rubah," Sakura menatapnya dengan tatapan menyelidik, main-main.
Naruto terkekeh. Ia merapikan rambut yang menempel di wajah Sakura. "Bukan apa-apa."
Sakura membawa kedua tangan Naruto ke perutnya dan menggenggam tangan pria itu, seolah bila ia tidak melakukannya Naruto akan pergi meninggalkannya. Naruto tidak tahu harus senang atau sedih dengan perlakuan Sakura saat ini. Di satu sisi, ia senang Sakura menyentuhnya, tapi disisi lain, dia merasa sedih karena tidak menjadi dirinya. Kenyataan menamparnya kuat. Sakura tidak menganggap dirinya ada, yang wanita itu anggap ada kekasih lamanya, bukan dia.
Sakura tidak bodoh. Dia tahu, dia sangat tahu siapa pria yang ada di dekatnya saat ini. Biarkan dia berpura-pura bodoh, biarkan dia seperti ini, sebentar saja. Ada saat dimana dia merasa menjadi wanita jahat yang mempermainkan perasaan seseorang. Ada masanya... ia merasa bersalah karena sudah mempermainkan perasaan Naruto. Tapi... Sakura mengeratkan genggaman tangannya pada kedua tangan Naruto kemudian sebuah kecupan mendarat di keningnya membuatnya membuka mata. Naruto mengecup keningnya. Warna yang sama dengan tatapan yang sama, tapi beda pemilik, menatapnya hangat dengan seyuman lebar. Senyum yang terlihat tidak alami namun begitu tulus. Sakura terkekeh dan menarik wajah Naruto mendekat sampai kedua bibir mereka menempel.
Biar... biarkan seperti ini sebentar saja. Biarkan untuk saat ini ia menjadi wanita jahat yang mempermainkan dan memperalat perasaat seseorang demi kesenangannya sendiri... sampai ia benar-benar bisa melupakan pria dan cinta masa lalunya.
"Maaf... maaf untuk segalanya." Bisik Sakura di atas bibir Naruto. Untuk sesaat pria tampan berkulit tan itu terdiam mendengar bisikan dan pelukkan erat Sakura yang terkesan tiba-tiba sebelum ia membalas pelukkannya. "Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan."
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
Koizora (cinta dari langit) 7
.
.
.
.
Iruka masuk dalam ruangan Naruto setelah sebelumnya mengetuk pintu. Pria berambut gelap diikat rendah itu dengan sopan meletakkan amplop coklat pada Naruto yang tampak serius membaca dokumen. Iruka menunduk hormat kemudian berdiri tegap di depan meja kerja Naruto. "Sesuai yang Tuan muda inginkan."
Naruto menghentikan kegiatannya, tatapannya jatuh pada amplop yang Iruka letakkan di mejanya. Pria berambut pirang itu membuka amplop yang Iruka bawa, menatap isinya dengan seksama selagi Iruka menjelaskan semuanya.
"Nama mereka Jiraya, Tsunade, dan Karin. Dan pemuda berambut pirang itu... yang mirip dengan anda tuan, Naruto Uzumaki, dari informasi yang saya dapat Naruto Uzumaki adik Karin Uzumaki, gadis berambut merah, keponakan Jiraya dan Tsunade, meninggal beberapa tahun silam karena dipukuli geng motor di sebuah gudang tempat menyimpan hasil panen yang sudah tidak terpakai. Saat itu Uzumaki- san akan melakukan operasi tapi tidak jadi karena dia dipukuli dan mati." Naruto mendengar semua cerita Iruka seraya melihat lembar-demi lembar foto di dalam amplop.
"Rumah Jiraya- san disita bank karena ia tidak bisa membayar hutang,"
"Hutang?"
Iruka mengangguk. "Jiraya-san meminjam uang dengan jumlah yang banyak untuk mengoperasi keponakannya. Karena tidak bisa membayar rumah serta isinya disita."
Naruto merenung mendengar informasi dari Iruka, pria pirang itu kemudian membereskan kertas-kertas penting di atas mejanya. "Di mana mereka tinggal? Kau punya alamatnya?"
...
Hari sudah gelap saat Naruto sampai pada alamat yang Iruka beri siang tadi. Pria pirang itu berdiri di depan sebuah rumah kecil yang menurutnya tak layak huni dengan ponsel tempat ia mencatat alamat rumah Jiraya dan keluarganya di tangan dan mengenakan long cardi coklat tebal serta syal biru gelap melingkar di lehernya. Naruto berjalan perlahan mendekati jendela kaca berdebu rumah itu, menatap sekeliling hati-hati dan mengamatinya. Dari dalam terdengar suara tawa pria tua, suara manis seorang wanita dan omelan memekkan telinga wanita lainnya. Bibirnya melengkung melihat apa yang terjadi di dalam. Di ruangan sempit itu satu wanita muda berambut merah, wanita tua yang masih terlihat cantik dan pria tua berambut putih duduk mengitari meja kecil yang hanya menghidangkan dua mangkuk sedang yang entah apa isinya. Asap mengepul dari dua mangkuk itu membuat pria itu menggosok tangannya tak sabar.
Naruto mengamati keluarga kecil yang tengah menyantap makan malam itu dengan tatapan yang sulit diartikan, dan yang dia terkejut saat ada seseorang berbicara di sampingnya. "Aku merindukan mereka. Semuanya." Mereka saling menatap satu sama lain sebelum salah satu dari mereka mengalah dan kembali memperhatikan orang-orang di dalam yang kini sedang merapikan meja.
Orang yang berdiri di samping Naruto menatap rindu dua wanita satu laki-laki di dalam yang kini sedang menonton televisi dan Naruto hanya bisa menatapnya iba. Pria pirang mamakai long cardi coklat itu ikut menatap Jiraya dan keluarganya. "Aku tahu. Aku akan membantumu semampuku," dia kemudian menoleh menatap pemuda tak kasat mata di sampingnya. "Janji." Katanya sembari tersenyum.
Awalnya Naruto si hantu hanya diam menatap pria kaya di depannya, tapi kemudian dia tersenyum. "Aku akan menghantuimu seumur hidup kalau kau tidak menepatinya!" Ancamnya main-main. Mereka kemudian tertawa pelan.
"Yah... terserah."
...
Karin hanya seorang gadis lulusan SMA yang bekerja di toko kumuh di desa terpencil dangan gajih yang tak seberapa. Dia sosok gadis cantik baik hati yang memiliki rambut merah dan bertubuh tinggi. Dia... cantik, tapi... tidak semua lelaki menilai dari penampilan dan kebaikan, kan? Di jaman seperti ini banyak dari mereka yang menilai dari status keluarga, miskin, kaya.
Karin sedang merapikan toko ketika lonceng toko kecil tempatnya bekerja berbunyi dan seorang pria berperawakan tinggi tegap dan tampan mengenakan kemeja putih di padu celana bahan hitam masuk dalam tokonya. Karin menyapa pria itu ramah dengan senyumnya yang manis yang di balas senyum kalem pria tampan itu. "Anda punya waktu?"
"Eh. Apa?"
"Sebentar saja."
...
Selain menyuruh Iruka menemui Karin Naruto juga menyuruh orangnya yang lain membooking sebuah taman wisata tempat berhanami terbesar di kotanya, sebuah tempat wisata yang di lengkapi hotel dan kolam air yang dikelilingi pohon-pohon sakura. Dia ingin mewujudkan keinginan terakhir Naruto si hantu yang ingin mengajak Sakura berhanami. Dan tentu saja dia juga ingin membuat Sakura bahagia. Naruto menyuruh orangnya untuk tidak menyapu daun-daun dan rontokan bunga sakura agar nantinya terlihat alami. Dan sekarang di sini lah dia berdiri, di padang ilalang mengenakan jaket dan topinya menunggu Sakura.
Pria pirang itu tersenyum melihat Sakura datang dengan sepeda. Wanita berambut merah muda itu terlihat sangat cantik di matanya saat tersenyum. Naruto mendekati wanita itu dan langsung mengambil alih sepedanya. Setelah Sakura duduk aman di boncengan sepeda Naruto mengayuh sepedanya diselingi candaan dan gombalan membuat Sakura mencubit gemas pinggangnya.
"Kita mau ke mana?"
Naruto tersenyum. Diliriknya Sakura di belakang dan mempercepat laju sepedanya. Bunga-bunga ilalang yang ringan berterbangan tertiup angin melewati keduanya. "Melihat sakura."
Sakura merengut kening bingung, dia terlihat kekanakan. "Aku tidak mengerti," kemudian menggumam.
Naruto tidak menjawab melainkan mempercepat laju sepedanya membuat Sakura menjerit kaget dan memeluk erat pinggangnya. Pria tampan berambut pirang itu kembali tertawa dan kemudian dicubit Sakura.
...
Sakura tidak tahu Naruto mengajaknya kemana, wanita merah muda itu hanya mengikuti Naruto memarkir sepeda di belakang sebuah gedung. Naruto mendekati pagar kemudian menaiki tangga, Sakura mengikutinya di belakang. Tangan Naruto terulur pada Sakura, "ayo," namun Sakura tidak mau menerimanya.
"Ke mana?"
Pria pirang itu tersenyum meyakinkan. "Percayalah."
Mereka menaiki tangga. Naruto melompat turun lebih dulu kemudian membantu Sakura, mengangkat tubuh wanita itu sampai menyentuh tanah. Dia berlari menggenggam tangan Sakura mengikutinya seraya menatap sekitarnya waspada. "Aman. Ayo!"
...
Sakura tidak tahu apakah ia sedang bermimpi atau ini kenyataan ia berdiri di sini. Berdiri di bawah rimbunan pohon yang dipenuhi bunga berwarna merah muda yang sangat cantik di matanya. Permata hijaunya menatap sekeliling selagi kakinya melangkah menginjak daun-daun kering. Kepala merah mudanya menoleh saat Naruto menyelinapkan tangkai bunga di telinga kanannya kemudian tersenyum. "Apa tidak apa-apa menyelinap ke tempat seperti ini?" Tanyanya tak yakin seraya menatap sekeliling khawatir.
Naruto mendekati pohon sakura paling besar kemudian bergelantung di dahannya. "Memang kenapa? Tidak ada siapapun di sini."
Bunga di dahan yang Naruto gelantungi berguguran mengotori rambut Sakura, tapi sepertinya wanita itu tidak merasa risih dengan rontokan bunga di rambutnya. "Tapi..."
"Stt..." Naruto meletakkan telunjuknya di depan bibir. "Kalau kau berisik nanti ketahuan." Ia meloncat dari pohon kemudian menarik Sakura mendekati pohon sakura terdekat. "Duduk." Ditariknya Sakura duduk. Mereka duduk bersebelahan dengan Naruto yang menyandarkan punggungnya ke pohon.
Sakura menatap Naruto yang memejamkan mata di sampingnya sesaat kemudian menatap ke arah lain. Wanita itu menghela napas sebelum memejamkan mata dan menghirup udara segar di sekitarnya. Yang membuatnya terkejut saat seseorang menghisap lembut bibir bawahnya. Sakura menatap kaget Naruto yang sedang mengecup dan menghisap bibirnya bergantian sebelum mangalungkan kedua tangannya di leher pria itu. Ciuman ini seperti tidak asing. Mereka saling mengecup dan melumat dengan rakus seolah tidak bisa melakukannya lagi. Pelukkan Sakura mengerat saat merasakan ciuman ini tidak asing baginya, Naruto sangat tahu bagaimana memanjakan bibirnya. Tubuh keduanya semakin merapat dan ciumannya semakin tak terkendali. Napas kedua berat dan memburu saat ciuman mereka terlepas.
Sakura menatap langsung wajah Naruto yang memerah semenatara kedua tangannya merambat naik mengusap pipi kiri-kanan pria itu.
Flashback...
Naruto berdiri berhadapan dengan Naruto si hantu di dalam perpustakaan pribadinya. Putra Namikaze Minato itu tersenyum menatap pemuda tak kasat mata yang hanya bisa dilihat olehnya. "Aku sudah memesan tempat untukmu dan Sakura berhanami... kalian bisa duduk berdua di bawah pohon sakura yang sama seperti yang kau impikan."
Lama tidak ada jawaban sampai Naruto si hantu tersenyum dan menatap langsung kedua matanya. "Boleh aku minta tolong satu hal?" Naruto belum sempat menjawab ketika Naruto si hantu mengutarakan keinginannya. "Pinjam tubuhmu."
"Apa?"
"Aku janji tidak akan lama. Kami... para hantu diperbolehkan meminjam tubuh seseorang hanya tiga kali, itu juga tidak dengan waktu yang lama. Dalam waktu dua puluh menit kami di paksa keluar dari tubuh orang yang kami pinjam tubuhnya."
Flashback of.
Naruto menggenggam tangan Sakura di pipinya dan mencium tangan wanita itu. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu..."
"Siapa... kau?"
Naruto tidak menjawab pertanyaan Sakura melainkan merapikan rambut di sekitar wajah wanita itu dan mencium keningnya. Sakura yang sangat merindukan belaian kekasihnya memainkan imajinasinya, ia membayangkan pria yang mencium keningnya saat ini adalah kekasihnya. Seorang pria yang sangat ia inginkan kehadirannya. Dulu, dulu... sekali. Seorang pemuda berambut pirang merapikan rambut dan mencium keningnya membuat ia merasa nyaman dan haru sampai meneteskan air mata. Mereka berbagi kesedihan dengan hal yang sangat sederhana yang lambat laun menjadi sebuah kebiasaan. Disetiap kali mengunjungi dokter dan menerima kabar buruk Sakura yang lebih dulu menangis dan Naruto yang menjadi obat kesedihannya, pemuda itu akan merapikan rambut serta mencium kening kekasihnya seraya berbisik. "Semua akan baik-baik saja. Percayalah..."
...
Mereka saling berciuman dangan semangat menggebu seolah mereka tidak punya kesempatan melakukannya lain kali. Naruto menekan tubuh Sakura dengan tubuhnya ke pohon. Tangannya bergerak masuk dalam kaus wanita itu, mengusap permukaan perut ratanya kemudian meremas payudara dalam bra wanita itu.
"Ahh~" tubuh Sakura menggeliat dalam apitan tubuh Naruto berusaha untuk menolak sentuhannya. Dia tahu ini salah. Sangat salah. Ini sudah terlalu jauh. "Apa yang kau lakukan, ooh~"
Mendapat penolakan Naruto dengan cepat mengeluarkan tangannya dari dalam kaus Sakura kemudian menangkup wajah wanita itu. Ditatapnya wajah Sakura dengan rindu seraya tersenyum. "Kau tahu... aku selalu melihatmu di mana pun kau berada, dan aku selalu berharap kau menatapku. Aku selalu berharap bisa menyentuhmu seperti ini," Naruto merapikan rambut yang menempel di wajah Sakura kemudian mengecup keningnya, lagi. "Dan mengatakan aku mencintaimu. Masih mencintaimu seperti dulu."
"Siapa kau ..." Sakura terisak. Air mata menitik di pipinya yang memerah. Dia bingung dan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria di depannya ini. Apa dia sedang berhalusinasi dengan sikap Naruto? Kenapa sifat Naruto berubah-ubah? Ada saat dimana Naruto menjadi pria yang tidak begitu dia kenal, tapi, ada pula saat Naruto menjadi pria yang sangat dia kenal, bahkan dia rindukan.
Tidak ada jawaban melainkan sebuah pelukan. "Siapa aku?" Naruto kembali mencium Sakura dalam pelukkannya. "Kau tahu siapa aku Sakura." Bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan. Sakura mengisak dalam pelukkan Naruto, ia tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan, dan dia merasa lelah dengan semua ini.
Perlahan wanita merah muda itu tertidur dalam pelukkan Naruto. Naruto menatap wajahnya dan mengusap perlahan pipinya yang basah. Pria itu tersenyum sedih. "Kau tahu... aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk memelukmu, menatapmu dan mengatakan cinta." Pelukkannya mengerat. "Tapi aku tahu, aku masih memiliki kesempatan melihat dan memperhatikanmu, Sakura. Hari ini kita duduk di bawah pohon yang sama, berhanami seperti yang kau inginkan. Aku tidak akan pergi sebelum melihat kau bahagia..." bersamaan dengan itu waktu Naruto si hantu habis. Dia kembali menjadi roh dan mengembalikan tubuh Naruto.
Naruto tersadar dan mendapati Sakura tidur dalam pelukkannya. "Apa yang terjadi?" Tanyanya entah pada siapa saat melihat bekas air mata di pipi Sakura. Menghela napas Naruto mengusap rambut merah muda Sakura dan mengganti posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman. Dia bersandar pada pohon dan mendekap tubuh Sakura mencoba membuat wanita itu nyaman dalam pelukkannya.
Tbc...
Sepertinya fic ini gak akan manis kalo banyak lemon, apa lagi kalo lemon maksa, maka dari itu maaf untuk saat ini belum ada lemon.
Terimakasih :) dan sampai jumpa.
