Seoul, Republik Korea Selatan

Hal pertama yang kami lakukan setelah kami sampai di Seoul adalah mengunjungi rumah orang tua Kyuhyun. Walaupun Kyuhyun sudah meberitahuku bahwa dia sudah memberitahukan kabar kedatangan kami kepada orang tuanya tetap saja aku merasa ketakutan setengah mati. Bagaimana aku bisa tidak takut kalau bertemu dengan keluarganya saja aku tidak pernah. Kyuhyun berkali-kali meyakinkanku jika keluarganya sangat ramah—terutama ibunya. Namun apakah mereka masih akan ramah ketika aku ada di sana? Kyuhyun juga berkata bahwa dia yang akan mengurus ini semua. Aku hanya perlu menjawab pertanyaan yang ditujukan padaku. Selebihnya aku tidak boleh membuka suara, demi kebaikan kami.

Kyuhyun memimpinku untuk masuk ke dalam rumahnya. Satu tangannya sedang menggendong Henry yang tertidur. Tangannya yang lain membawa koper miliknya. Sedangkan aku dibelakangnya dengan koper milikku. Aku tidak bisa menaikkan kepalaku jadi aku hanya bisa menatap kaki Kyuhyun. Jantungku sungguh berdebar dengan kencang dan membuatku semakin gelisah. Rasanya seperti harus masuk ke ruang guru karena ketahuan mencontek dengan mengetahui konsekuensinya.

Suara dalam milik seorang laki-laki—yang kutebak Ayah Kyuhyun—menyambut kami ketika kami masuk. Tidak ada senyuman yang memberiku kesimpulan bahwa mereka tidak akan membuat semua ini akan mudah. Aku membungkuk dalam kemudian menyapa kedua orang tuanya dan seorang perempuan lain yang kuingat sebagai kakak Kyuhyun (dia memberitahuku sedikit tentang keluarganya di pesawat tadi).

Suasanapun menjadi semakin kaku ketika kami duduk bersimpuh di sebuah ruangan yang kutaksir adalah ruang keluarga mereka. Ayahnya duduk di sofa di depan kami, Ibu Kyuhyun duduk di sofa sebelah kananku dan kakak Kyuhyun duduk di sofa sebelah kiri Kyuhyun. Henry sendiri masih ada di pangkuan Kyuhyun, sedang tertidur dengan kepala menyandar di dada Kyuhyun.

"Siapa namamu?" Ayah Kyuhyun mulai bersuara setelah keheningan hampir saja membuatku susah bernapas. Suara ayah Kyuhyun lantang dan tegas. Mirip dengan karakter suara milik Kyuhyun yang juga lantang dan tegas—ditambah sedikit getaran sensual pada suaranya yang menggoda.

"Lee Sungmin." jawabku dengan tergagap. Tidak seperti saat di apartemen Victoria beberapa hari yang lalu, Kyuhyun tidak bisa menggenggam dan mengelus tanganku dengan ibu jarinya untuk memberi ketenangan. Ini demi kami juga. Akan terlihat tidak sopan jika kami menunjukan afeksi kami di depan orang tuanya pada situasi seperti ini.

"Anak itu siapa?" kembali Ayah Kyuhyun bertanya.

Aku baru saja akan membuka suaraku ketika Kyuhyun mendahuluiku untuk menjawab, "Dia anakku dan Sungmin. Anak kami. Henry Jo. Kami belum bisa menemukan nama Koreanya. Kami berpikir agar abeoji dan eomma yang akan memberikannya nama Korea."

Akibat dari jawaban Kyuhyun adalah sebuah kemarahan Ayahnya. Baru saja jantungku terasa hampir copot ketika mendengar suara benturan yang keras. Dan aku tahu betul bahwa Ayah Kyuhyun baru saja memukul kepala Kyuhyun dengan keras yang membuatnya meringis menahan sakit.

"Apa maksudmu?" Ayah Kyuhyun bertanya dengan suara yang ditinggikan. Terdengar begitu murka. Membuatku hanya bisa menunduk takut.

"Aku menghamilinya. Dan dia hamil anakku. Dia melahirkan anak kami tanpa aku. Aku ingin menikahinya, abeoji. Kumohon restui kami."

Sekali lagi aku mendengar suara benturan. Kyuhyun dipukuli lagi oleh ayahnya. Aku hanya bisa menatap kejadian tadi dengan terkejut. Kyuhyun masih menunduk dan menggigit bibirnya untuk menahan sakit. Ingin sekali aku menyentuhnya atau memeluknya. Namun aku harus menahannya. Demi kebaikan kami semua. Namun melihat Kyuhyun seperti itu membuat hatiku terasa diiris. Apalagi dia masih memangku Henry di atas kakinya yang terlipat ke belakang. Aku tahu betul dia sedang dalam kesakitan.

Aku menjadi tidak berdaya sama sekali. Selain karena posisi duduk ini membuat kakiku mati rasa, aku juga tidak bisa menggerakkan tubuhku. Terlalu takut. Rasanya ini berkali-kali lipat lebih buruk dari apa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika Kyuhyun mengetahui bahwa aku menghabiskan malam dengannya. Kali ini aku tidak bisa pergi ke mana-mana.

Jadi dengan keteguhan yang kulihat dari Kyuhyun, aku harus bertahan di sini.

"Appa."

Aku menoleh ketika mendengar suara itu. Henry terbangun. Aku sangat terkejut, begitu juga dengan Kyuhyun. Maka seketika kami tersenyum untuk menutupi ketegangan kami. Henry menatap kami bingung. Mungkin karena kami berkeringat di cuaca yang dingin seperti ini. Atau mungkin karena betapa tampak-tidak-baiknya kami sekarang.

"Sudah bangun jagoan?" tanya Kyuhyun sambil tersenyum. Aku sendiri hanya bisa mengelus kepala Henry karena tidak bisa berkata apa-apa akibat terlalu terkejut.

"Ini di mana?" tanya Henry sambil mengamati ruangan keluarga tempat kami berada. Sepertinya dia merasa asing dengan tempat barunya.

"Ini rumah appa." Jawab Kyuhyun.

Henry mengangguk, kemudian dia menoleh ke arah Ayah Kyuhyun. Dia terdiam sebentar memandangi Ayah Kyuhyun yang masih memasang wajah kakunya.

"Harabeoji!" Seru Henry sambil memamerkan deretan giginya yang putih. Kemudian dia memalingkan ke arah yang lain dan mendapati Ibu Kyuhyun. "Halmeoni!"

Seketika raut wajah mereka mencair. Walaupun masih terlihat dingin tetapi raut wajah mereka di sini tidak lagi membuatku gemetaran. Henry tersenyum lebar kepada mereka. Kemudian dia berdiri dan memberi salam dengan membungkuk dalam.

"Harabeoji, Halmeoni. Namaku Henry Jo. Aku ingin bertemu dengan kalian."

Henry dengan tiba-tiba berlari ke arah ayah Kyuhyun dan kemudian memeluk kakinya. Ayah kyuhyun terlihat bingung. Namun kemudian beliau tersenyum dan mengelus kepala Henry. Henry mendongak senang, kemudian ia menaikkan kedua lengannya meminta untuk digendong. Jadi seketika itu juga ayah Kyuhyun menggendong Henry dan mengajaknya bercanda.

"Jadi namamu Henry Jo?" tanyanya.

"Ya! Ibuku bernama Sungmin. Dan Ayah baruku bernama Cho Kyuhyun. Appa bilang dia akan menikahi mom ketika kami sudah sampai di Seoul. Apa sekarang kami di Seoul?"

"Benar. Sekarang kau di Seoul, Henry." Jawab Ayah Kyuhyun. "Bagaimana kalau kau dan ibumu bersama dengan nenek dan bibi dahulu. Kakek ingin berbicara dengan Ayahmu."

"Tentu saja, kakek!" Henry kemudian melompat turun dari gendongan Ayah Kyuhyun dan kemudian berlari kecil mendatangiku. Ibu dan kakak Kyuhyun kemudian berdiri memimpinku dan Henry untuk menuju suatu ruangan di dalam rumah itu. Ibu dan kakak Kyuhyun tampak tersenyum. Aku masih menerka maksud dari senyum mereka. Ibu Kyuhyun menggandeng tangan Henry dan bertanya beberapa hal. Sedangkan kakaknya berjalan di sebelahku. Dia tersenyum ramah kepadaku jadi aku sedikit mengendurkan syaraf waspadaku.

-Serenade In Blue-

Ibu Kyuhyun membawaku ke sebuah kamar dengan aksen berwarna putih yang kental. Aku tidak menemukan satu fotopun di dalamnya yang membuat aku berasumsi bahwa kamar ini adalah kamar tamu. Ruangannya luas dengan sebuah kasur besar di tengahnya dan sebuah lemari pakaian yang besar. Beliau menyuruhku dan Henry untuk beristirahat sebentar dan membersihkan diri serta berganti pakaian. Beliau juga memintaku untuk mengubungi keluargaku agar mereka bisa datang ke rumah keluarga Kyuhyun sekarang.

Aku hanya mengiyakan sebelum beliau menutup pintunya. Beliau juga berpesan bahwa Ahra—nama kakak Kyuhyun—akan menjemput kami lagi di sini setelah beberapa saat.

Aku memandikan Henry terlebih dahulu dengan air hangat yang tersedia di sana. Kemudian setelah menggantikan pakaiannya aku menyuruhnya untuk tidur. Penerbangan yang panjang dan jetlag pasti sangat menyiksa untuknya yang baru pertama kali ini berpergian jauh. Ketika Henry tidur, aku menghubungi Donghae karena terlalu takut untuk menghubungi pamanku.

Donghae terkejut ketika menerima telponku. Dia lebih terkejut lagi ketika dia tahu bahwa aku sedang berada di Seoul tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ini adalah kepulanganku yang pertama sejak aku meninggalkan Seoul lima tahun yang lalu, dan aku sudah mengutarakan niatku pada Donghae untuk menetap di sana setelah Henry lahir. Donghae berkata ia akan segera ke mari. Sepertinya dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Tentu dia membawa Ayahnya bersamanya ke sini.

Setelah menelpon Donghae, aku kemudian membasuh badanku di bawah shower dengan air hangat. Rasa lelah penerbangan ini nyaris tidak terasa begitu aku mengingat bagaimana Ayah Kyuhyun begitu murka pada kami. Bagaimanapun juga Kyuhyun adalah anak laki-laki yang sangat dibanggakan kedua orang tuanya. Mereka menaruh harapan besar pada Kyuhyun untuk tetap menjujung nama baik keluarga mereka dengan tidak melakukan hal bodoh—apapun alasannya.

Ini membuatku berpikir bagaimana kabar Kyuhyun saat ini. Apa dia baik-baik saja dengan Ayahnya? Apa dia dipukuli lagi? Atau mereka akan berbicara seperti Ayah dan anak pada umumnya? Semua pikiran ini membuatku khawatir. Bagaimanapun ini bukan salah Kyuhyun. Kyuhyun tidak melakukan apa=apa padaku. Justru aku yang telah memperkosanya, jadi aku yang harusnya bersalah. Aku yang seharusnya berada bersama Ayah Kyuhyun untuk dipukuli dan di caci maki. Bukan Kyuhyun.

Semua ini membuatku merasa bersalah. Jadi aku dengan cepat menyelesaikan acara mandiku dan berniat untuk menyusul Kyuhyun. Namun begitu aku akan membuka pintu, kakak Kyuhyun muncul dari balik pintu dan masuk.

"Oh, kau sudah selesai rupanya." Kakaknya tersenyum kemudian dia melirik Henry yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. "Biarkan dia tidur di sini. Kau ikut aku. Keluargamu sudah datang."

Aku mengangguk kaku kemudian berpaling untuk menyelimuti Henry. Setelah itu aku menghampiri kakak Kyuhyun yang berada di luar kamar ini.

"Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya sambil merangkul pundakku. Senyumnya mirip dengan Kyuhyun. Menenangkan.

-Serenade in Blue-

Ketika aku hadir, Kyuhyun sudah duduk dengan posisi kaki yang terlipat ke belakang seperti tadi di dalam ruangan itu. Ia belum mengganti bajunya jadi aku berasumsi ia dan Ayahnya membicarakan banyak hal. Ia juga tampak lelah sehingga aku merasa sangat bersalah padanya. Kyuhyun tersenyum padaku lalu seperti gerak reflek aku membalas senyumannya.

Aku juga mendapati Donghae dan paman sudah berada di sana. Donghae duduk dengan meninggalkan jarak dengan Kyuhyun, sedangkan paman duduk bersebelahan dengan Ayah Kyuhyun. Jadi kemudian aku membungkuk memberi hormat kepada orang tua Kyuhyun. Lalu kakak Kyuhyun menuntunku untuk duduk di antara Kyuhyun dan Donghae. Setelah itu aku berterima kasih kepadanya.

Kembali aku duduk dengan bersimpuh. Di depanku ada meja teh kecil dengan sebuah teko kecil dan beberapa cangkir teh. Ketika melihatnya cangkirnya kosong, aku secara otomatis mempersiapkan teh dan menuangkannya ke cangkir masing-masing.

Dengan dehaman, Ayah Kyuhyun kemudian membuka suaranya, "Apa maksud kalian datang kemari?"

Aku dan Kyuhyun sama-sama masih terdiam. Tangan Kyuhyun dibalik meja memberiku isyarat bahwa dia yang akan menjawab semuanya.

"Kami akan segera menikah. Kami memohon restu."

"Kyuhyun-ah…" Ibu Kyuhyun yang sedari tadi diam sekarang ikut bersuara. "Semuanya terlalu mendadak. Bisakah kau memikirkan ulang semuanya?"

"Tidak, Bu. Aku sudah memikirkannya selama bertahun-tahun. Kalian juga semua sudah melihat Henry. Aku tidak bisa mengundurnya, Bu. Aku tidak ingin melihat Henry tumbuh besar tanpa ayah—tanpaku—lebih lama lagi."

Ibunya mendesah lalu menyeruput teh yang ada di cangkirnya. Beliau kemudian memijat dahinya dan lehernya.

"Ibu, Ayah. Aku akan merestui mereka. " ujar kakak Kyuhyun secara tiba-tiba. Membuatku untuk mendongakkan kepalaku untuk melihat ekspresi wajahnya. "Tentu ibu ingat ketika kita berkunjung di apartemen Kyuhyun. Semuanya terasa tidak benar. Dia pernah menjadi mayat hidup, Bu. Dan lihatlah sekarang, anak bungsu keluarga ini. Biarpun ia terlihat seperti itu, aku melihat keseriusan Kyuhyun. Jadi aku merestui mereka."

Pamanku juga mengatakan sesuatu. "Hyungnim. Pikirkan kembali cucumu. Ini bukan sekedar menikahkan Sungmin dan Kyuhyun. Ini juga untuk Henry."

Lalu Donghae, cenayang satu ini yang awalnya diam kemudian mulai berbicara. Dia bercerita tentang banyak hal. Saat dia menyadari bahwa aku menyukai Kyuhyun, saat ia mendengar aku mengandung anak Kyuhyun, dan saat Kyuhyun tanpa sengaja bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dan lagi-lagi dia memprediksikan bahwa kami akan hidup bahagia. Seperti cenayang.

Setelah keheningan luar biasa, ayah Kyuhyun kembali bertanya pada kami. "Apa kalian serius?"

Aku mendongakkan kepalaku, begitu juga dengan Kyuhyun. Kami menatap ayah Kyuhyun dengan takjub.

"Ne, abeoji!" jawab Kyuhyun dengan antusias. Wajahnya kembali merona. Aku juga akhirnya bisa tersenyum lega. Rasanya senang sekali bisa melihat Kyuhyun tersenyum.

"Dan, kau. Lee Sungmin?"

Aku terkejut dengan pertanyaan Ayah Kyuhyun. Namun aku mengendalikan diriku dan menjawabnya dengan sama antusiasnya dengan Kyuhyun. "Ne, abeonim."

"Kalau begitu segera rencanakan pernikahan kalian." Ayah Kyuhyun untuk pertama kalinya tersenyum kepada kami. Karena sangat bahagia Kyuhyun kemudian berdiri lalu mendekati Ayahnya untuk memeluknya. Sedangkan aku dipeluk oleh Donghae yang aku tidak tahu alasannya dia merasa lebih bahagia dariku.

"Aku akan membantu pernikahan kalian!" seru kakak Kyuhyun setelah itu.

-Serenade in Blue-

Ibu Kyuhyun memaksaku untuk tinggal di sini malam ini. Tadinya aku akan ikut paman dan Donghae pulang, Ibu Kyuhyun menolak ide itu kemudian memaksaku untuk tetap di sini. Ia beralasan ingin lebih dekat denganku dan tentu saja cucu pertama mereka, Henry.

Keluarga Kyuhyun sangat tergila-gila pada Henry. Mereka saling berebut untuk menggendong atau memangku Henry. Mereka juga saling tunjuk bahwa Henry mirip dengan mereka di bagian tertentu. Dan tentu saja mereka mengajari Henry berbahasa Korea, mengingat selama ini dia terbiasa berbicara dengan bahasa Inggris dan hanya denganku dia berbahasa Korea. Dan malam ini kakak Kyuhyun bersikeras agar Henry tidur bersamanya.

Jadi ketika malam tiba, aku di kamar tamu ini sendirian dan memutuskan untuk menelpon Kangin oppa.

"Oh! Sungmin! Aku sudah mendengar kabarnya. Selamat!" katanya tepat setelah ia mengangkat telponnya.

"Terima kasih oppa." Jawabku. "Apa kabarmu?"

"Aku baik-baik saja. Kenapa kau tidak bilang akan kembali ke Seoul. Seharusnya kau bilang, jadi aku bisa menjemputmu dan memberika beberapa pukulanku untuk si tengik itu."

Aku tertawa, "Kurasa itu tidak perlu. Kau sudah menghajarnya bukan?"

"Iya, sih. Tapi rasanya masih ada yang kurang. Baru beberapa kali kupukul, dia sudah tidak mempunyai tenaga. Aku kurang puas." Ujarnya bercanda.

Kemudian beberapa menit setelahnya kami terus melakukan percakapan. Menanyakan berbagai macam hal yang kami lewatkan satu sama lain. Ketika aku melirik jam digital mungil di nakas sebelah kasur, aku menyadari bahwa ini sudah larut. Jadi aku berpamitan kepada Kangin oppa dan menyuruhnya untuk beristirahat.

"Beraninya kamu menelpon laki-laki lain."

Aku terlonjak dari dudukku ketika aku mendengar suara Kyuhyun. Aku mendongak dan mendapati Kyuhyun sedang berada depan pintu kamar ini yang entah sejak kapan terbuka. Aku buru-buru berdiri untuk menyambutnya sedangkan dia berjalan masuk dan kemudian duduk di pinggiran kasur.

Kyuhyun sudah berganti pakaian dan dia mencuci rambutnya. Rambutnya yang basah membuatku seperti… aduh, bagaimana aku mengatakannya ya? Rambutnya yang basah itu membuat perutku serasa tergelitik. Dia mengenakan sweater rajut dan celana olah raga yang akan membuatnya hangat di musim gugur yang dingin ini.

"Apa yang Kangin Hyung katakan?" tanyanya sambil menarikku lebih dekat darinya.

"Mmm.. tidak banyak. Hanya dia ingin menghajarmu lagi jika bertemu denganmu." ujarku sambil merapikan rambut Kyuhyun yang berantakan.

"Sebaiknya kita tidak usah mengundang dia di pernikahan kita nanti." Dia mulai menarik badanku lagi dan memaksanya untuk duduk di atas pangkuannya.

Kyuhyun tersenyum miring kemudian dia mengecup bibirku. Awalnya hanya kecupan-kecupan seperti biasanya, namun lama-lama kecupan Kyuhyun berubah menjadi jilatan yang panas. Lalu dia mengulum bibir bawahku dan menggigitnya, memaksaku untuk membuka mulutku. Dan ketika mulutku terbuka, Kyuhyun mencari-cari lidahku dan mengulumnya pula.

Aku tidak bisa berbuat banyak selain memeluk lehernya, meremas rambutnya, dengan mengusap tengkuknya sambil melenguh. Membiarkannya mencumbuku dengan panas. Sesekali ketika dia sedang tidak awas, aku yang akan menggodanya. Aku menggigit bibirnya, mengulum bibirnya, kemudian meremas rambutnya.

"Sungmin, aku tidak tahu apa rencanamu malam ini. Kau terlihat bergairah malam ini." ujarnya ketika dia menghentikan aktivitas kami karena masalah pernafasan.

"Aku juga tidak tahu, Kyuhyun. Aku hanya terbawa suasana." jawabku sambil terengah.

Kemudian aku merasakan tangannya sedang meremas bokongku. Membuat badanku lebih maju dan tanpa sengaja kemaluan kami yang sama-sama masih tertutup oleh celana masing-masing bersentuhan. Memberikan sensasi yang luar biasa panas.

Kyuhyun membiarkan posisi ini terulang beberapa kali. Ia seperti sengaja untuk menyentuhkan bagian kami yang satu itu sambil mengecupi leher dan tulang selangkaku. Aku bergetar dan bulu kudukku meremang. Tanpa sadar Kyuhyun sudah memacu semua hormon esterogenku untuk bekerja dan menaikkan suhu badanku menjadi sangat panas.

Kyuhyun kemudian beralih dari bokongku menuju payudaraku. Dia meremasnya dengan gemas. Aku yang malu kemudian memutuskan untuk mencumbu bibirnya kembali. Memaksanya untuk fokus pada sesi ciuman kami lagi. Dengan segala bunyi kecipak yang membuatku semakin bergairah.

"Astaga! Kyuhyun! Sungmin! Apa yang kalian lakukan?"

Suara teriakan kakak Kyuhyun, Cho Ahra, membuat kesadaranku kembali terkumpul. Dengan segera aku turun dari pangkuan Kyuhyun dan merapikan pakaianku. Kyuhyun juga terlihat kikuk karena ketahuan oleh kakaknya. Jadi dia ikut berdiri di sampingku.

"Kalian dengar kata Ibu untuk tidak melakukan hal-hal seperti ini sebelum kalian menikah, bukan? Kalian sendiri juga sudah berkomitmen untuk itu."

"Maafkan kami." ucapku menyesal.

"Tidak, tidak ini tidak bisa begini. Kyuhyun, kau harus keluar dari sini segera. Dan Sungmin, aku rasa kamu lebih aman untuk tinggal di rumah pamanmu mulai besok. Aku akan mengatakan kepada ayah dan ibu kalau kalian dilarang bertemu sampai pernikahan kalian." Cho Ahra yang tangannya sedang menggenggam gelas air putih itu berkata dengan nada final. Seperti Kyuhyun, ucapan Cho Ahra tidak bisa ditolak.

"Kyuhyun, keluar sekarang dan kembali ke kamarmu. Jika perlu, mandilah lagi."

-Serenade in Blue-

Pagi-pagi sekali aku dibangunkan oleh suara Henry melalui telepon. Henry mengingatkanku untuk melakukan fitting baju pengantin bersama dengan bibi, Ahra unni, dan ibu Kyuhyun pagi ini. Henry mengatakan hari ini kakeknya akan mengajaknya berjalan-jalan ke perpustakaan bersama Kyuhyun. Henry yang—berkat kelalaianku—tidak pernah mengunjungi perpustakaan merasa sangat gembira untuk bisa menemukan jejeran buku yang siap ia jajah. Aku mulai mengerti mengapa Henry sangat suka dengan buku dan cerita. Rupanya ini adalah keturunan dari Ayah Kyuhyun.

Kyuhyun juga menyapaku pagi ini. Semalam Henry ikut Ahra unni yang datang untuk memastikan aku sudah memakai perawatan wajah miliknya dan bermalam di sana. Dan rupanya Henry dan Kyuhyun tidur bersama. Sepertinya mereka melakukan urusan anak laki-laki dan ayahnya yang tentu saja aku tidak mengerti. Mereka sepertinya mempunyai malam yang luar biasa menyenangkan.

Ahra unni tidak main-main ketika ia bilang bahwa kami tidak seharusnya berada di dalam satu ruangan yang sama. Jadi dia benar-benar tidak memperbolehkan kami bertemu (kecuali dengan video call). Bibiku mengatakan bahwa jarang bertemu dengan si calon suami ketika akan menikah akan menimbul sesuatu yang luar biasa ketika hari pernikahan tiba. Aku kemudian mendiskusikannya dengan Kyuhyun. Kyuhyun awalnya memang memiliki ide agar kami bisa bertemu diam-diam seperti Romeo dan Juliet. Namun ketika aku mengatakan apa yang bibiku katakan, ia mengerti dan ia juga ingin mencobanya. Walaupun aku tahu apa yang ada di pikiran Kyuhyun berbeda denganku, tentu saja. Aku membayangkan perutku tergelitik lagi ketika aku bertemu degannya lagi di gereja nanti seperti ketika kami jatuh cinta pertama kali. Dan untuk Kyuhyun sebuah seks yang hebat setelah sekian lama tidak bercumbu.

Akhirnya setelah menutup telpon, aku segera mempersiapkan diri. Ahra unni mengirimiku pesan singkat bahwa ia dan ibunya akan menjemput kami setengah jam lagi.

-Serenade In Blue-

"Vinette! Vinette! Apa kau akan terus tidur di hari pernikahanmu?"

Aku terbangun karena guncangan keras yang kurasakan. Aku hampir saja terkena serangan jantung mengira akan ada gempa bumi besar sampai aku mendengar suara Victoria.

Begitu aku menemukan Victoria, aku langsung memeluknya erat.

"Victoria! Aku merindukanmu. Astaga! Aku tidak menyangka kau akan ke sini. Aduh aku senang sekali."

Victoria mengusap punggungku. "Yeah, awalnya juga aku hanya akan menelponmu melalui skype jadi aku tetap bisa melihat pernikahanmu. Sayangnya seminggu yang lalu Marcus memberitahu Ed bahwa kami harus ke sini. Sial aku tidak menyangka dia adalah orang kaya."

"Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti pada Victoria.

"Pria itu membelikan kami tiket ke mari. Sebagai gantinya dia memintaku untuk menjadi pengiring pengantinmu." jelasnya sambil berkeliling kamarku.

"Kau kemari bersama Edward? Di mana dia sekarang?"

"Oh, dia sedang bersama Marcus. Aku tidak menyangka laki-laki seperti dia bisa gugup."

Aku tersenyum pada komentar Victoria kemudian terdiam sebentar. Bertemu Victoria membuatku teringat sesuatu. Aku hanya memandangi Victoria yang sedang berkeliling kamar sambil mempersiapkan barang-barang untuk meriasiku.

"Aku tahu apa yang dipikiranmu. Dia baik-baik saja." ujarnya sambil berbalik ke arahku setelah ia mengambil handuk dari rak di depan pintu kamar mandiku. "Sebelum kami ke bandara, kami tanpa sengaja bertemu dengannya. Kami hampir saja tidak mengenalinya karena dia sekarang memiliki kumis dan jenggot. Dia menitipkan salam padamu. Kau tidak memberikannya undangan, ya?"

Aku terkesiap. Setelah mendengar penjelasan Victoria aku menggigir bibirku. "Aku sangat ingin mengundangnya. Namun Kyuhyun bilang akan lebih baik jika tidak."

"Bagus kalau kau mendengarkan kata Marcus. Dia benar." Aku mengangguk dalam diam. Kemudian aku dikagetkan dengan uluran handuk dari Victoria. "Ngomong-ngomong nafasmu bau. Mana ada pengantin yang bau nafas. Aku tidak yakin Marcus akan menciummu nanti. Cepat sana kau mandi. Ini sudah pukul delapan."

Aku tertawa sambil menerima handuk dari tangannya. Kemudian aku memeluk Victoria. Menyamankan diriku dipelukannya. "Selamat Vinette atas pernikahanmu. Aku tahu suatu saat kau akan dipertemukan kembali dengannya."

Aku mengerutkan dahiku. "Kau harus bertemu dengan sepupuku, Aiden. Kalian mirip. Seperti cenayang."

"Sudahlah, Vinette. Cepat mandi!" serunya sambil memukul pantatku.

-Serenade In Blue-

Aku mengaitkan lenganku pada lengan Paman. Pandanganku lurus ke depan, kepada pintu kayu berwarna cokelat yang tertutup beberapa meter di depanku. Jantungku berdebaran membuatku gelisah. Tanganku juga gemetaran. Rasanya aku ingin melarikan diri saja dari sini. Tapi pamanku yang memakai setelan berwarna hitam dengan sapu tangan putih di dada sebelah kirinya itu menahan tanganku yang terkait pada lengannya.

"Tenanglah, Sungmin. Kau tidak perlu khawatir."

Pamanku tersenyum padaku. Mengingatkanku pada sosok ayah yang sudah lama tidak kulihat. Paman kemudian meremas tanganku dan mengusapnya.

"Sungmin, aku minta maaf. Pamanmu yang banyak kekurangannya ini akhirnya yang akan menemanimu, bukan Ayahmu. Aku minta maaf, seharusnya aku memperlakukanmu lebih baik."

"Tidak apa-apa, Paman." jawabku sambil menatap Paman yang sedang berkaca-kaca. "Kehadiran Paman, Bibi, dan Donghae adalah kebahagiaanku. Kalian semua keluargaku. Harusnya aku yang meminta maaf karena selalu merepotkan."

Sekali lagi, Paman menepuk telapak tanganku. Tersenyum kepadaku dan kemudian kembali menatap pintu besar berwarna cokelat yang masih menutup itu.

Ketika suara derik pintu terdengar, pamanku kemudian menuntunku untuk melangkah. Tudung putih transparan yang sedang kukenakan tidak menghalangiku untuk menemukan teman-temanku yang berada di dalam ruangan. Dari kejauhan aku bisa melihat Kangin oppa yang berada di deretan depan dengan setelan biru tua favoritnya. Di sisi ruangan, aku melihat Victoria dengan biolanya dan Edward dengan cellonya sedang memainkan lagu milik Kyuhyun, Serenade In Blue.

Aku berjalan menunduk. Terlalu gugup untuk melihat ke depan dan terlalu malu untuk melihat teman-temanku. Tanganku masih saja terus bergetar dan aku mulai mengigil. Aku punya firasat buruk bahwa aku akan melakukan seuatu hal yang salah. Jadi aku berulang kali membisikkan "aku bersedia" agar nantinya aku tidak salah ucap. Lagi pula ini yang paling penting.

Setelah cukup lama berjalan—sebenarnya jaraknya tidak begitu panjang, hanya seolah waktu berjalan sangat lama—pamanku menyerahkan tanganku pada Kyuhyun. Aku bisa mendengar pamanku sedang memberi nasihat kepada Kyuhyun. Dia tersenyum kemudian membungkuk dalam kepada Pamanku. Lalu dia meraih tanganku dan membiarkan aku mengaitkan lengan kami berdua.

Aku dan Kyuhyun berjalan beberapa langkah untuk sampai di depan pendeta yang akan memberkati pernikahan kami. Kemudian kami membungkuk untuk menghormati pendeta kami. Kami mendengarkan nasihat dari pendeta dan beberapa ayat yang dibacakan. Aku tidak bisa berkonsentrasi, terlalu gugup. Aku terus saja mengulang-ulang sekelebat gambaran bahwa aku akan salah mengucapkan janji, atau aku akan menjatuhkan cicinnya. Aku menggigit bibitku dengan gelisah. Ini tidak akan mungkin terjadi, kan?

"Sungmin?"

Aku mendengar suara Kyuhyun yang memanggilku. Dengan terkejut aku menoleh dan memberikannya pandangan bertanya. Dia balas menatapku bingung kemudian dia melirik ke arah pendeta di depan kami.

"Lee Sungmin, apakah kau bersedia?"

Aku terkejut. Ternyata aku sudah melewatkan banyak hal. Dengan tergesa dan gugup aku menjawab pertanyaan tersebut, "Ya, aku bersedia."

Aku bisa mendengar helaan nafas tamu yang hadir. Aku jadi yakin jika sebenarnya aku memang cukup lama termenung memikirkan hal-hal yang sekarang tidak aku ingat lagi. Aku hanya bisa tersenyum canggung saat Kyuhyun membalikkan badanku untuk menghadap kepadanya.

Henry menghampiri kami dengan membawa sebuah bantal yang diatasnya ada kotak beludru yang terbuka yang menampilkan dua buah cicin platina. Kyuhyun berlutut dan mengecup kening Henry, membuatnya tertawa lucu. Kyuhyun mengambil cincin di dalam kotak beludru tersebut. Kyuhyun kemudian memasangkan cincin platina dengan hiasan batu permata bening di jari manisku. Begitu juga aku yang memasangkan cincin ke jari manisnya.

Lalu Kyuhyun menggulung tudung yang menutupi wajahku lalu melepaskannya di belakang kepalaku. Ia mendekatkan wajahnya dan—tentu saja—dia mencium bibirku. Begitu manis, hangat, dan ringan. Membuat perutku serasa tergelitik lagi. Ini ciuman pertama kami selama beberapa bulan belakangan. Walaupun singkat, namun sepertinya ini sudah mengobati rasa rinduku pada Kyuhyun.

"Aku harus berterima kasih pada bibimu. Beliau benar. Tidak bertemu dengan pengantin wanita sebelum pernikahan membuat sesuatu menjadi berbeda." bisik Kyuhyun sebelum kami membuat jarak diantara kami.

Henry kemudian berlari dan segera ditangkap oleh Kyuhyun yang kemudian digendongnya dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan yang lainnya menggenggam tanganku. Kami berjalan bersama keluar gereja untuk beberapa agenda yang lain. Seperti pelemparan bunga.

Disela-sela acara itu Kyuhyun berbisik padaku. "Aku mencintaimu, Sungmin. Sangat mencintaimu."

Aku tersenyum kemudian balas berbisik, "Aku juga mencintaimu. Kyuhyun. Sangat mencintaimu."

Dia tersenyum puas. Kemudian dia kembali berbisik. "Jangan pakai apa-apa nanti malam."

-Serenade In Blue-


Author's note:

Halo pembaca sekalian. Sekali lagi aku berterima kasih kepada yang sudah mengapresiasi SIB ini. Baik yang sudah meninggalkan review dan atau menekan tombol fav/follow. Sebagai gantinya aku mempersembahkan bab SIB terpanjang! Ini adalah bab spesial SIB untuk FFn. Jadi maaf sekali kalau mengecewakan. Kalau boleh berkata jujur, konsentrasiku hancur di tengah bab ini berhubung banyak sekali bertia tidak mengenakkan yang terjadi padahal berita yang lalupun masih belum kuterima 100%. Semoga pembaca sekalian tetap menyukainya, ya. Maaf sekali kalau ada misstype, Maaf sekali juga momen pernikahan mereka hanya sedikit. Aku belum pernah membuat adegan pernikahan sebelumnya dan aku juga belum pernah menghadiri pesta pernikahan, Jadi maaf sekali kalau ceritanya kurang detail.

Bab depan adalah bab terakhir! Yay! Tapi ceritanya sudah selesai sampai di sini. Jadi bab depan adalah tentang Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun karena selama ini hanya ada Sungmin, Sungmin, dan Sungmin. Sebenarnya aku mempunyai suatu kelebatan adegan tentang certita setelah mereka menikah (baca: malam pertama). Tapi sayangnya... aku tidak bisa membuat adegan NC. Barang kali ada yang mau membantu? Haha.

Aku akan menjawab beberapa pertanyaan pembaca, ya:

1. Guest: Seharusnya Sean dapat pelukan dari Sungmin.

Kalau kamu perhatikan baik-baik, Sean tidak memberi kesempatan pada Sungmin untuk melakukan pelukan. Sean meminta Sungmin untuk membayar kopinya. Padahal seperti yang sudah kuceritakan, Sean adalah karakter laki-laki yang sangat gentleman. Tipe laki-laki yang akan memberikan segalanya untuk perempuan yang dia suka. Sean sebenarnya marah kok. Hanya saja dia tidak bisa mengamuk seperti Kyuhyun.

2. LiveLoveKyumin: Serenade in Blue ini sangat "Kyuhyun" di kehidupan nyata.

Aku masih menerka bagian mana yang sangat "Kyuhyun". Memang ada apa dengan Kyuhyun? Apa dia juga patah hati?

3. ChoLee: Kyuhyun marah karena Sungmin meninggalkan Henry atau marah karena tidak bisa melakukan hubungan sex?

Kyuhyun tidak marah. Kalau kamu cermati, Kyuhyun hanya pura-pura marah. Mereka berdua sudah berkomitmen untuk tidak melakukan hubungan sex sebelum mereka menikah. Kyuhyun juga tahu kalau Sungmin tidak akan seceroboh itu untuk meninggalkan Henry sendirian di apartemennya.

4. gyumin4ever: Mengapa Sungmin mudah sekali menerima Kyuhyun?

Karena Sungmin mencintai Kyuhyun. Dan karena Kyuhyun sudah menunjukkan rasa cintanya pada Sungmin. Cinta mereka sesederhana itu kok. Hanya mereka sendiri yang membuat rumit (atau Sungmin yang membuat rumit dengan pikiran negatifnya).

Lalu aku berterima kasih kepada yang sudah memberiku semangat. Aku juga memohon sekali kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran agar penulis abal ini bisa menjadi lebih baik.

Terima kasih, semua!