Serius, saya lupa update sampai baca review LeviHanji-san di e-mail!
Gomenne, Minna XD
.
.
I don't own the characters. Copyright: Mangaka Eyeshield 21
Original artwork of cover book is not mine. Just modified it.
DiyaRi De present : Why Did You Kiss Me?
.
Last Chapter
.
.
"Aku tidak menyangka kalau orang-orang dari koran kampus begitu kurang kerjaan," keluh Mamori.
"Wajar saja. Amefuto kampus kita begitu terkenal. Orang yang tidak satu kampus juga pasti mengenal kalian," balas Sara yang duduk di sisi Mamori di kursi meja bundar kantin kampus. "Makanya sudah dari dulu kuingatkan agar kamu tidak terlibat gosip dengan anggota klub. Karena klub koran kampus kita juga sangat 'mati-matian'."
Ako menurunkan koran di hadapannya dan menatap Mamori. "Jadi kamu benar-benar melakukannya?" tanyanya mengembalikan topik utama mereka.
Mamori berpikir sejenak memikirkan kata-katanya. "Yaahh... Begitulah."
"Kenapa kamu kesana?" tanya Sara.
"Karena dia kecelakaan kan? Memang kamu belum baca?"
"Aku tahu," jawab Sara. "Maksudku kenapa kamu peduli?"
"Karena dia anggota klub. Dia juga kapten. Itu juga tanggung jawabku."
"Cuma itu?" tanyanya lagi.
Mamori mengangguk yakin.
"Kalau ada anggota lain yang kecelakaan seperti itu, apa kamu juga akan menengoknya?"
"Tentu saja."
"Tapi di koran bilang kamu sampai menunggu 'kedinginan' selama hampir satu jam. Lalu besoknya kamu datang ke apartemen dan di dalam sampai dua jam lebih," lanjut Sara lagi masih terus menyecar Mamori.
"Yaahhh... Itu karena aku khawatir."
"Apa yang kamu lakukan di dalam sampai selama itu?" timpal Ako penasaran, kembali ikut dalam obrolan kedua sahabatnya sambil melipat koran yang baru selesai dia baca dan menaruhnya di atas meja.
"Aku... Merawatnya," jawabnya hati-hati.
"Kalau anggota yang lain seperti itu, apa kamu juga akan merawatnya?" tanya Sara kembali.
Mamori terdiam berpikir. Dia tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada siapa pun. Jadi dia tidak tahu. "Kalau tidak ada orang lain di rumahnya. Mungkin."
Sara menggeleng, "aku rasa tidak," jawabnya cepat. "Merawat seseorang itu kalau kamu tidak benar-benar dekat dengan orang itu, maka kamu akan segan. Rasa peduli tidak mungkin akan sejauh itu Mamori."
"Sara benar," timpal Ako. "Peduli itu, kamu hanya akan menengoknya sebentar atau membelikannya makanan atau buah-buahan. Seperti layaknya menengok orang sakit."
"Memang apa saja yang kamu lakukan di dalam?" tanya Sara penasaran.
"Apa aku harus menceritakannya?" balas Mamori tidak berdaya.
"Ya. Aku penasaran," jawab Ako.
"Aku..." Mamori memikirkan kata-katanya sambil mengingat kejadian kemarin. "Membelikannya makanan. Mengganti seprai, cuci piring... Mengumpulkan pakaian kotor... Sudah itu saja," jawabnya, menghilangkan jawaban kalau dia juga mengurus Hiruma untuk mandi.
Ako mengangguk-angguk. "Kenapa kalian seperti orang pacaran... Kamu bilang kalian tidak pacaran."
"Apa kamu benar tidak mencintainya Mamori? Karena aku yakin kalau kamu sudah jatuh cinta padanya."
"Aku?" tanya Mamori tidak percaya. "Aku bahkan tidak tahu seperti apa rasanya jatuh cinta."
"Karena itu...," sahut Sara. "Kami sedang menyadarkanmu."
Mamori tiba melihat ke jam tangannya. "Oh. Aku harus pergi."
"Kemana? Kamu kan tidak ada kuliah lagi," sahut Ako.
"Aku mau ke apartemen Hiruma." Mamori lalu membereskan tasnya. "Kalau begitu sampai besok." Dia lalu meninggalkan meja dan keluar kantin.
"Dia melakukannya lagi," sahut Sara.
"Kapan dia akan menyadarinya." Ako lalu menghela napas.
.
.
Mamori menekan bel pintu apartemen Hiruma. Beberapa detik kemudian pintu terbuka dan Hiruma muncul dari dalam. "Kau datang, heh?"
"Aku sudah bilang akan datang." Mamori lalu masuk ke dalam sementara Hiruma menutup pintunya kembali. Dia lalu berniat membuka sepatu, namun terhenti sesaat. Dia melihat sepasang sepatu lain disana, sepatu perempuan. "Ada orang lain di dalam?"
"Ya. Ada temen sekelasku," jawabnya sambil lalu berjalan ke ruang tengah.
Mamori melangkahkan kakinya ragu mengikuti Hiruma masuk ke dalam. Setelah sampai di ruang tengah, dia melihat perempuan yang sudah tidak asing lagi di matanya.
"Oh. Hai. Maaf menganggu Hiruma-san, Anezaki-san," sapa gadis itu. "Aku Sagawa Kotomi. Teman satu kelompoknya." Dia lalu membungkukkan badannya.
"Aku Mamori Anezaki." Mamori balas membungkuk. "Tidak apa-apa. Malah aku yang mengganggu kalian." Mamori lalu melihat ke Hiruma yang masih berdiri di sebelahnya. "Kalau begitu aku pulang saja Hiruma."
"Jangan," cegahnya. "Kau tunggu saja disini. Sebentar lagi selesai."
Mamori terdiam memikirkan ide itu. Dia tidak mau melakukannya. Dia tidak mau lama-lama berada disini. Entah kenapa dadanya terasa sakit dan dia merasa sangat kecewa.
"Ya Anezaki-san. Sebentar lagi laporannya selesai."
"Baiklah," balas Mamori memaksakan senyumannya. "Kamu sudah makan Hiruma?"
"Hm," sahutnya menunjuk bento instan yang ada di atas meja makan. Dia lalu berjalan dan duduk kembali ke meja depan sofa untuk melanjutkan tugasnya.
"Kalau begitu aku taruh makanan ini di dapur untuk makan malam nanti," ujarnya karena memang dia sudah membeli makanan untuk Hiruma tadi.
Dia lalu dapur meletakkan makanan. Dia mengambil celemek dan mencuci beberapa piring dan gelas kotor yang ada disana. Beberapa menit dia selesai, dan sekarang dia bingung mau melakukan apa. Dia tidak ingin kembali ke ruang tengah. Rasanya cukup menyesakkan. Tapi Mamori tidak bisa berbuat apa-apa di dapur ini. Jadi dia menyerah dan akhirnya kembali ke ruang tengah.
Dia melihat Hiruma dan Sagawa yang serius mengerjakan tugas kelompok mereka. Seumur hidupnya, Mamori tidak pernah melihat Hiruma sedekat itu dengan perempuan lain. Apalagi mengobrol empat mata seperti itu. Mamori merasa dirinya tersingkirkan dan dia bukan lagi satu-satunya perempuan yang dekat dengan Hiruma seperti yang orang lain bilang.
Dengan tenang Mamori lalu masuk ke kamar Hiruma dan mencari sesuatu yang bisa dibereskan. Namun dia tidak menemukannya. Perlahan dia menutupnya kembali dan melihat ke kamar mandi. Tidak ada juga. Hanya ada handuk Hiruma yang masih menggantung. Dia lalu mengambilnya dan membawanya ke beranda untuk dijemur.
Mamori berbalik dari beranda dan matanya bertemu dengan Hiruma. Dia mengisyaratkan Mamori agar duduk saja di sofa yang ada di sebelahnya, tapi Mamori balas menggeleng dan duduk di bangku meja makan. Dia melihat bento Hiruma di atas meja. Apa Hiruma yang membeli ini sendiri? Atau Sagawa yang membelikannya saat dia kemari. Mamori tidak yakin. Tapi makanan ini masih sisa dan Hiruma bukan orang yang akan menyisakan makanannya. Selain itu ini makanan instan, Hiruma tidak mungkin membeli ini.
"Nah, kalau begitu besok pagi aku akan berikan laporan ini ke Sensei. Kamu besok sudah bisa kuliah?" tanya Sagawa membuat Mamori juga ikut mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.
Hiruma melihat ke Mamori sesaat, "ya. Aku datang," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu." Sagawa lalu merapikan barang-barangnya. "Aku permisi dulu ya Anezaki-san. Sampai besok Hiruma-san."
"Hati-hati di jalan Sagawa-san," sahut Mamori bangun dari duduknya dan mengantarkan Sagawa sampai pintu.
Sagawa lalu tersenyum dan mengangguk. Mamori lalu menutup pintunya lagi dan berjalan ke Hiruma yang sudah bersantai di sofa.
Mamori ikut duduk di sofa di sebelahnya dan mereka hening sesaat sampai Mamori membuka mulutnya. "Bagaimana ceritanya kamu bisa sekelompok dengannya?" tanya Mamori tiba-tiba. Entah bagaimana pertanyaan itu melintas begitu saja di kepala Mamori.
"Waktu itu aku bolos kelas. Berhubung semuanya pada takut sekelompok denganku, akhirnya dia yang terpilih karena dia juga tidak masuk," jawab Hiruma terang-terangan.
Mamori diam lagi beberapa detik, lalu bertanya, "dia sudah sering datang kesini?" Lagi-lagi Mamori tidak tahu bagaimana pertanyaan macam itu bisa terlontar dari mulutnya
"Hm. Karena tidak ada tempat sialan lain dan lebih dekat disini. Jadi mengerjakannya disini."
Perasaan tidak enak itu datang lagi. Rasanya lebih sakit dari biasanya. Mamori tidak tahu kenapa, dia hanya tidak suka dengan kenyataan yang didapatnya ini.
"Seberapa sering dia kesini?" tanyanya pelan dan ragu, menghindari tatapan Hiruma.
"Mana kutahu. Untuk apa aku menghitungnya, bodoh."
"Lebih sering aku atau dia?"
Hiruma tidak langsung menjawab dan hanya mengamati wajah Mamori.
Mamori yang merasa tidak enak, langsung menoleh sesaat dan berpaling lagi menghindari tatapannya.
"Kenapa bertanya seperti itu, heh?"
"Bukan apa-apa," jawabnya gelisah karena Hiruma masih menatapnya curiga seolah sedang mempermainkannya. "Aku hanya tidak suka ada perempuan lain di dekatmu," lanjutnya.
Hiruma menyeringai. Oh ya, tentu saja. Dia memang ingin sekali Mamori mengeluarkan kata-kata itu. Dia hanya kesal kenapa si bodoh ini tidak juga menyadarinya. "Kenapa?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak suka," jawab Mamori tertekan.
"Kau benar-benar bodoh ya." Dia lalu meraih pipi Mamori dan menarik ke arahnya. Hiruma lalu mencium bibirnya lembut.
Perlahan Mamori melepaskan ciumannya. "Kenapa kamu menciumku lagi?" tanyanya gugup.
"Apa tidak bisa, heh, kau katakan saja kalau kau sudah jatuh cinta padaku?"
"Aku tidak tahu seperti apa rasanya..."
Hiruma berdecak. "Aku beritahu kau, bodoh," sebalnya sambil menaruh telapak tangan ke atas kepala Mamori . "Pertama. Orang tidak akan suka kalau ada perempuan sialan lain yang dekat-dekat dengan lelaki yang dicintainya."
Hiruma berhenti dan membaca sesaat raut wajah Mamori yang menatapnya.
"Dan yang kedua." Hiruma mengecup bibir Mamori lagi. "Orang tidak akan begitu saja membiarkan orang lain menciumnya kalau dia tidak mencintainya."
Mamori memandangi kedua bola mata Hiruma dan bertanya, "begitu?" Akhirnya dia bisa bersuara dengan jelas.
"Ya," jawab Hiruma. Lalu menurunkan tangannya dan dengan santai merangkul pinggang Mamori.
"Jadi aku mencintaimu?" tanya Mamori lagi.
"Sudah pasti," jawab Hiruma percaya diri. "Nah, jadi sekarang mau bagaimana, bodoh?"
"Hmmm... Apa aku... Boleh memelukmu?" tanyanya ragu.
Hiruma hanya menyeringai dan Mamori perlahan melingkarkan lengannya ke Hiruma dan memeluknya hati-hati mengingat lengannya yang di-gips di depan dada. Dia mendengarkan detak jantung Hiruma selama beberapa saat. Setelah itu Mamori mendongak dan menatap wajah Hiruma sementara Hiruma hanya menyeringai dan menunggu apa yang akan Mamori ingin lakukan lagi kepadanya. Mamori lalu memberanikan diri dan mendekatkan wajahnya. Kali ini dia yang pertama kali menyambar bibir Hiruma dengan bibirnya. Dia meletakkan kedua telapak tangan ke pipi Hiruma sementara tangan Hiruma yang tidak terluka menarik ke belakang leher Mamori dan membalas ciumannya.
Mereka berdua akhirnya berciuman. Melepaskan semua kegelisahan dan godaan yang selama ini mereka rasakan. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi atau menahan diri lagi. Semuanya terasa tepat dan melegakan.
Mamori melepaskan ciumannya tapi tidak meninggalkan kehangatan mereka dan menempelkan kening mereka satu sama lain. Mamori masih memejamkan matanya dan tersenyum. "Jadi begini rasanya..."
"Memang apa rasanya, heh?" tanya Hiruma melepaskan pegangan di leher Mamori dan berganti merangkul pinggangnya lagi.
Masih dengan senyumannya, Mamori lalu membuka mata menatap Hiruma dan mengecup bibirnya lagi. "Aku merasa seperti orang yang paling bahagia di dunia." Dia lalu dengan lembut memeluk Hiruma kembali.
Hiruma tersenyum dan mengusap kepala Mamori dengan pelukan yang tidak lepas darinya. "Aku merasa seperti orang brengsek yang paling beruntung sedunia."
.
.
Mamori mengamati lengan Hiruma yang sedang dibalut perban oleh dokter. Sore ini Mamori menemani Hiruma ke rumah sakit untuk mengganti perban.
"Kalau melihat kondisinya sekarang. Semoga saja minggu depan kamu tidak perlu memakai perban," ujar dokter.
"Apa dia bisa bermain untuk pertandingan dua minggu lagi?" tanya Mamori.
"Pertandingan apa?" tanya dokter itu menoleh ke Mamori.
"Amefuto," jawab Mamori.
"Wah... Pantas saja tubuhmu terbentuk begini. Ternyata kamu atlet Amefuto," kagumnya. "Oh ya. Aku dengar di tivi kejuaraan Rice Bowl sebentar lagi mulai? Berarti kamu ikut?"
"Ya," jawab Hiruma.
"Dari universitas mana?"
"Saikyoudai."
"Wah. Saikyoudai si juara bertahan. Berarti kau harus jaga badanmu agar bisa ikut bermain."
"Dia kapten sekaligus Quarterback Sensei. Jadi sebisa mungkin dalam dua minggu ini cederanya segera sembuh."
"Kalau untuk sembuh, satu minggu bisa. Tapi tidak boleh melakukan aktivitas berat. Apalagi dia Quarterback. Harus menunggu sekitar tiga minggu untuk sembuh total. Itu pun asal jangan memaksakan diri," jawabnya. "Nah. Sudah selesai." Dokter itu lalu meletakkan perbannya ke atas meja. Dia menoleh ke Mamori dan bertanya, "kamu siapanya?"
Mamori ingin menjawab kalau dia pacarnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, Mamori harus terlihat profesional. "Saya Manager klub."
Dokter itu mengangguk-angguk. "Kalau begitu gampang. Waktu itu dia datang sendiri, jadi aku tidak yakin dia menuruti nasehatku atau tidak."
"Kalau begitu sampaikan pada saya Sensei. Saya akan mengurusnya dengan baik," sahutnya melotot tajam ke Hiruma.
"Baiklah. Tiga hari sekali perban ini harus diganti. Jadi harus kesini lagi nanti. Kalau mandi, jangan sampai basah. Jangan terkena guncangan berat. Yang paling penting, jangan terlalu lelah. Karena bisa menyebabkan proses penyembuhan jadi lama," jelasnya.
"Saya mengerti Sensei."
Setelah itu mereka pamit dan keluar dari ruang dokter.
"Berarti pertandingan pertama kamu tidak bisa main," sahut Mamori.
Hiruma tidak menjawab namun Mamori bisa menebak apa yang dipikirkannya.
"Kamu tetap tidak boleh main. Jangan maksa."
"Itu urusanku, bodoh."
"Hiruma!"
"Kau berisik. Ini rumah sakit," sahutnya walau ini di lorong rumah sakit ini hanya ada mereka berdua.
"Kamu harus nurut sekarang. Aku pacarmu."
Hiruma menoleh lalu menyeringai. "Sejak kapan?"
"Sejak..." Mamori tidak menemukan jawabannya dan berpikir lama sambil menunduk. Dia tidak sadar kalau langkahnya melambat sedangkan Hiruma sudah beberapa langkah di depannya. Mamori lalu mendongak kembali, "tunggu aku," sahutnya seraya merangkul lengan kiri Hiruma.
"Dasar kau lamban," protes Hiruma. "Aku mau ke kampus. Mau lihat bocah-bocah sialan itu latihan," lanjutnya. "Aku tidak akan ikut latihan. Kau tenang saja, bodoh," tambah lagi tanpa sempat Mamori memprotesnya.
"Baiklah," sahutnya tersenyum. "Oh ya Hiruma. Aku baru ingat."
"Apa, heh?"
"Kalau yang kamu katakan tentang aku jatuh cinta padamu itu benar, berarti kamu sudah lama mencintaiku, ya kan? Karena kamu yang menciumku lebih dulu."
"Makanya aku bilang kau itu benar-benar bodoh."
"Kenapa tidak kamu katakan saja..."
"sampai sekarang pun aku juga tidak mengatakannya."
Mamori terperanga dan baru menyadarinya kalau Hiruma belum mengatakan hal penting itu. "Kalau begitu katakan."
"Heh. Untuk apa.. Kau saja belum mengatakannya."
"Tapi bukannya kamu sudah tahu?" Mamori memamerkan senyum termanisnya.
Hiruma lalu menunduk, dan dengan cepat mengecup bibir Mamori lalu menyeringai usil. "Kalau begitu, berarti aku juga tidak perlu mengatakannya."
"Ya," balas Mamori tersenyum lagi sambil mengeratkan pelukan di lengannya. "Aku sudah tahu kamu juga mencintaiku."
.
.
END
.
.
So, how do you think?
.
Thank to:
My lovely readers:
Riku Aida, RenArdhika, Sora Hinase, , Crazyun, Indigo Pie, ammaclouds, Michel Kenneth, Inoue Kazeka, veira sadewa, Akira Hikari406, Mieko Kazuko, Z is ZPBellani, You poo, guestest, Rae, xxsr, Cygnus Jessenia, sreader-san, Aika for Bumblebee, dd, watashiwakiki, kyo, Quratul ain, ADWofficial, sais shiki, LeviHanji, dan sang guest yang selalu Review tanpa nama.
Sudah kesebut semua ya kan? Kalau ada yang ga kesebut, itu berarti kalian tidak meninggalkan jejak saat membaca XD
So guys, terima kasih sudah menyemangati, mengomeli saya karena lama update XD. Padahal satu minggu ga lama kok. Gimana kalo saya update sebulan sekali... -.-
Akhir kata, fic ini saya persembahkan untuk pecinta HiruMamo dimana pun kalian berada! We love them, so let's create more stories about them~!
See you at my birthday! 8 October! I will publish another stories (not the rate M that I told you. The rate M will be post on 2016!)
See you guys. Love You~!
