Sore itu, masih sama seperti sore sebelumnya. Kim Ryeowook hanya bisa memandang keluar jendela. Jiwanya memberontak, ingin segera keluar dari ruangan putih itu. Namun, apalah daya, tubuh manusianya menjadi beban berat di bahunya.

Ah, mengenai hubungannya dengan Yesung, entah mengapa masih sama seperti sebelumnya. Setelah ia mengucapkan semuanya, ia merasa Yesung memilih bersikap seakan-akan tidak ada hal yang terjadi. Akan tetapi, karena sikap itulah yang membuat Ryeowook emosi. Karena dirinya telah mengingat semuanya, membuat rasa sakit hatinya yang dulu kembali lagi.

"Ini, makanlah."

Ryeowook tersentak kecil dari lamunannya. Ia menoleh segera dan langsung menemukan sepotong apel disodorkan di dekat mulutnya. Mendengus kecil, Ryeowook membuka mulutnya dan menggigit setengah potongan apel itu. Kim Yesung lagi-lagi bersikap manis padanya, mengupaskan apel, menyuapinya, kemudian memakan apel sisa gigitannya. Membuatnya muak.

"Aku akan pergi keluar, kau menginginkan sesuatu?"

Yesung menghela napas karena Ryeowook tak menjawab apapun. Namja manis itu hanya mengalihkan muka darinya. Yeah, Yesung harus menerima itu. Meskipun ia tidak bisa mengingat apapun, ia cukup percaya pada semua pernyataan Ryeowook kemarin. Hanya saja, Ryeowook mulai tak memperdulikannya dan makin ketus kian hari.

Seperti waktu itu, ketika uisa selesai mengobati luka sayatannya yang banyak, uisa itu bertanya, "Apa yang terjadi? Apa penyebabya?" Lalu dengan ketus Ryeowook menjawab, "Kau di sini untuk mengobatiku tak usah banyak bertanya." begitulah.

Yesung mengambil mantelnya serta kunci mobilnya, "Aku pergi." Katanya lalu mengusap lembut kepala Ryeowook. Reaksinya ya sama seperti tadi. Yesung tetap tersenyum saja. Saat ia hendak melewati pintu yang terbuka, suara lirih dan bernada ketus Ryeowook didengarnya.

"Hati-hati."

Yesung tersenyum lalu mengangguk. Ia benar-benar keluar, meninggalkan Ryeowook yang terdiam melirik dirinya pergi.

"Menyebalkan." Ujar Ryeowook seraya meremas kesal selimut putihnya. Ia membuang napas lalu kembali pada kegiatannya tadi, menatap keluar jendela. Melalui jendela itu ia bisa dengan mudah melihat taman rumah sakit. Banyak anak kecil di sana membuatnya ikut tersenym juga. Lalu satu kedipan mata, semuanya berubah. Tidak ada anak kecil yang berlarian sambil tertawa lagi, melainkan hanya ada seseorang berjubah putih duduk sendiri di bangku taman. Orang itu menunggunya datang.

"U-umma?"

.

.-Magical Bloody Rose-.

.

by : Denies Kim

.

Disclaimer : Semua anggota (?) yang ada di fanfic ini, bukan milik Denies *sebenernya sih pengin memiliki* aku cuma pinjem nama demi kelangsungan cerita. Tapi fanfic ini murni milikku khekhe.

.

Rate : T

.

Genre : Romance, Fantasy, Drama.

.

Warning : BL/Yaoi/Shounen-ai/Cowo x cowo, gaje, alur lambat, typo(s), serta bahasa yang tidak sesuai EYD, dll.

.

Summary : Kim Yesung bertemu seorang namja manis yang mengklaim dirinya sebagai takdir atau bisa dikatakan pasangan hidup. Namja itu meminta hidup bersama dengan berbagai keanehan yang Yesung sendiri kurang memahaminya. Dimulai dari pertemuan hingga akhir yang entah bagaimana, semuanya ada dalam kisah ini.

.

Chapter tujuh : Monster

.

.

~Selamat membaca~

.

.

Ryeowook meneguk ludahnya susah payah. Kakinya yang lemah, membawanya turun dari ranjangnya. Hendak melangkah lebih jauh lagi, tangan Ryeowook tertahan sesuatu, jarum infusnya lepas membuat Ryeowook meringis sembari memegangi pergelangan tangannya. Sial, ia tidak bisa berhenti di sini. Ia harus keluar, meskipun harus dengan berpegangan pada benda terdekat seperti ini.

"Umma?" Ryeowook semakin mendekat, menapaki rerumputan hijau yang melapisi tanah. Semakin dekat hingga Ryeowook berdiri berhadapan dengan namja bertudung itu. Sosok yang menatapnya datar menusuk hati.

"Kau sudah mengingatnya kan?" Ryeowook hanya menatap umma nya dalam. Lalu Ryeowook mengangguk pelan.

"Kau juga menceritakan semua itu pada Yesung?" Ryeowook mengangguk lagi.

"Apa kau tahu betapa bahayanya mengatakan itu? Kau melanggar peraturannya, kau mencampuri hidup manusia dengan kenyataan dirimu."

"Tapi dia reinkarnasi Jongwoon hyung! Dia berhak tahu apa yang telah dia lakukan padaku!" Dengan berani Ryeowook menaikkan nada. Menatap nyalang sepasang mata umma nya. Yang terjadi selanjutnya adalah persendian kakinya kehilangan fungsi, membuatnya pasrah jatuh berlutut di depan umma nya. Umma nya itu telah melakukan satu sihir padanya.

"Umma..." Ryeowook menutup matanya yang memanas. Ia tak kuat memikirkannya lagi. Rasanya lebih baik menghilang saja. "Aku tidak bisa terus seperti ini, terkurung dalam kehidupan seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan pengkhianatan ini terus terjadi."

"Kalau begitu kita kembali."

Ryeowook mengangkat kepalanya, matanya menyiratkan ketidak percayaan yang kental. "A-apa?"

"Kita akan kembali ke Arthenia, aku akan membawamu kembali."

"A-aniya! Aku tidak mau kembali. Aku harus menyelesaikan semua ini. Aku tidak akan kembali. Aku lebih memilih mati dikhianati Yesung daripada melanjutkan kehidupanku lagi."

Ryeowook mengatakannya dengan raut kemarahan. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Aura di sekitar tubuhnya pun menggelap, namja di depannya itu mengetahuinya. "Kwon Jiyong, aku harus membalasnya. Dia yang membuatku menjadi seperti ini."

"Kim Ryeowook, aku harus membawamu sebelum kau berubah seperti dulu lagi." Kata sang umma sambil memegang salah satu bahu Ryeowook.

"Aku tidak mau!" Ryeowook menampik tangan umma nya kasar. "Kalau perlu aku akan menggunakan kekuatan yang ada di dalam tubuhku ini, aku akan membunuhnya! Aku akan mencabik-cabik seluruh tubuhnya!"

Plak!

Ryeowook bergeming setelah menerima tamparan di pipinya. Perlahan, satu tangannya merambat naik menyentuh pipinya yang memerah. Ryeowook menautkan deretan giginya. Raut wajahnya mengeras dan matanya menajam.

"Kenapa kau menyelamatkanku waktu itu? Seharusnya kau bunuh aku saja!"

Usai mengatakan itu, tenaga yang kuat keluar dari diri Ryeowook. Membuat tubuh umma nya terdorong jauh ke belakang lalu berhenti setelah membentur pohon besar. Padahal Ryeowook tak melakukan apa-apa. Saat melihat jemarinya, Ryeowook tersadar. Kukunya sudah memanjang, kalau ia marah lagi sedikit saja, maka keluarlah kekuatan gelap itu darinya.

"U-umma? Mianhae... A-aku menyakitimu. Mianhae."

Ryeowook tertunduk. Menatap kearah telapak tangannya dengan raut penyesalan. Ia pun mendekati umma nya, yang sedang bersusah payah bangkit. Tidak, ia menyakiti umma nya. Umma yang sudah membesarkannya itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Ryeowook benar-benar takut.

"Mianhae... hiks... umma mian..."

Ryeowook berusaha meraih umma nya namun kembali tepisan kasar ia dapatkan. Ryeowook semakin sedih. Ia juga ketakutan. Ia begitu takut kalau umma nya itu mati sama seperti appa nya.

"Ryeowook!"

Ryeowook menoleh. Ia lihat Kyuhyun datang dari kejauhan. Namja berambut coklat almond itu mendekatinya. Ryeowook panik, bagaimana jika umma nya dilihat manusia itu. Tapi tak seperti dugaannya. Kyuhyun sama sekali tak mengetahui keberadaan sang umma.

"Ryeowook kau baik-baik saja?" Tanya Kyuhyun khawatir. "Kenapa kau berjalan keluar?" Kyuhyun mencoba menggenggam tangan Ryeowook, namun namja manis itu langsung menyembunyikannya di balik punggung.

"Aku baik-baik saja."

"Lalu kenapa kau menangis?" Ryeowook menggeleng. "Tsk. Udara di luar sangat dingin, kajja kembali ke kamarmu."

Lalu Ryeowook dibawa Kyuhyun pergi. Keduanya menuju kamar rawat Ryeowook. Namja manis itu berulang kali menoleh ke belakang, ke arah umma nya yang berdiri bertopang pada pohon di belakangnya. Kyuhyun? Ryeowook tidak tahu kalau sebenarnya namja tampan itu juga ikut melirik ke belakang dan menatap ke sana dengan raut yang tak terbaca.

"Apa yang terjadi? Kau mencabut infusmu? Aku tahu kalau kau ingin pulang tapi bersabarlah. Jangan berbuat nekat seperti ini."

Ryeowook hanya mendengarkan perkataan Kyuhyun itu. Selagi infusnya kembali di pasang, Ryeowook memikirkan perkataan umma nya. Bukankah lebih baik kalau ia ikut saja? Akan tetapi perasaannya ini, dendam ini akan selalu ada sampai ia mati. Dan kalau ia ikut, kekuatan jahatnya tidak akan hilang dari tubuhnya.

"Gomawo, Kyuhyun-ah."

"Hm." Setelah melalui obrolan singkat, Kyuhyun memutuskan untuk pulang. Namja tampan itu terus saja tersenyum. Kyuhyun manusia yang baik. Orang yang mendapatkan Kyuhyun pastilah orang yang beruntung.

"Kau memikirkan apa?"

"Eh? Aw! Dingin!" Ryeowook memekik keras. Pasalnya begitu menoleh, sebuah benda yang sangat dingin langsung menempel di pipinya. Begitu melihat benda itu, Ryeowook mengerjap polos. Ia menatap Yesung bingung.

"Aku membelikannya untukmu."

Ryeowook nyaris saja tersenyum senang. Tapi ia tak jadi melakukan itu, ia masih mempertahankan pride nya yang sangat tinggi. Ryeowook mengangguk saja, tangannya terulur hendak mengambil cup es krim pemberian Yesung tapi lagi-lagi namja itu mau mempermainkannya.

"Aku akan menyuapimu."

Ryeowook mengerjap beberapa kali. Lalu ia memalingkan wajah. Sial, ia termakan rayuan Yesung. Pipinya terasa menghangat. Dan detik itu juga Ryeowook merutuki dirinya yang dengan mudah jatuh ke pesona seorang Kim Yesung.

"Buka mulutmu."

Ryeowook, yang pada dasarnya sudah sangat menginginkan makanan lembut dan dingin itu, membuka mulutnya menerima suapan dari Yesung. Ia tersenyum reflek merasakan manisnya vanila lumer di mulutnya. Dan hal itu langsung membuat Yesung terkejut juga, Kim Ryeowook tersenyum setelah sekian lama.

"Kau suka?" Tanya Yesung seraya tersenyum. Ryeowook mengangguk. Yesung pun mengambil satu sendok es krim dan menyuapi Ryeowook lagi.

"Ah, mianhae." Yesung gelagapan. Ia terlampau senang hingga salah menyuapi Ryeowook. Akibatnya, bibir Ryeowook belepotan dengan es krim berwarna putih.

"Aish! Di mana tisue nya?" Panik Yesung. Ryeowook menghela napas melihat tingkah kekasihnya.

"Tidak perlu." Kata Ryeowook sambil mengangkat lengannya mendekati bibir, ia kan bisa mengusapnya menggunakan lengan bajunya.

"Andwae, nanti kotor." Ryeowook memejamkan matanya. Cukup kesal juga dengan perbuatan Yesung itu. Terlalu rumit, kalaupun bajunya kotor kan bisa dicuci.

Dan Yesung? Namja itu serius kebingungan. Melihat Ryeowook yang menghela napas membuatnya menjadi mengerti kalau Ryeowook kesal. Yesung tentu tak mau usahanya selama ini untuk mengembalikan Ryeowook sia-sia. Lalu, Yesung menatap bibir Ryeowook lama. Mengambil keputisan yang nekat, Yesung mendekatkan wajahnya membuat Ryeowook yang saat itu membuka mata langsung memundurkan wajah.

Chup

"Nng!"

Ryeowook memejamkan matanya erat. Yesung sudah terlanjur menciumnya. Melumat bibir bawahnya dan menjilatinya dengan lembut. Ryeowook merasakan wajahnya terbakar. Lalu, Yesung melepaskan tautan bibirnya. Seraya melirik mata Ryeowook, menjilat sisa es krim di bibir kekasihnya itu. Kembali meraup bibir Ryeowook. Kali ini dengan niat yang berbeda. Tugasnya sudah ia selesaikam dan sekarang giliran hadiahnya. Bibir Ryeowook sudah menjadi candu untuknya. Menjilat, mengulum, menggigit lembut belahan merah itu sudah ia lakukan. Sementara Ryeowook hanya terdiam pasif sambil mencengkram lengannya.

Sesaat tautan keduanya terlepas. Napas keduanya tak beraturan dan wajahnya sudah sama-sama merona dengan mata yang sayu. Yesung meraih tangan Ryeowook lalu memindahkannya ke rambutnya. Ia kembali mencium Ryeowook. Menciumnya lebih dalam lagi hingga bisa merasakan saliva meluber dari sudut bibirnya. Remasan kecil di rambutnya membuat Yesung semakin betah melakukan semua itu. Ia tahu Ryeowook pasti suka juga.

"Ngh! Hyung..." Ryeowook mendorong bahu Yesung pelan. Ia sudah tak kuat lagi. Lebih lama dari ini maka ia akan meleleh saking nikmatnya ciuman Yesung.

Yesung tersenyum kecil, memindahkan bibirnya ke arah dagu, memberikannya kecupan cinta. Lalu turun lagi ke leher, menjilat leher putih bersih itu, mengecup dan menghisapnya kuat. Membuat Ryeowook meringis seraya meremas rambutnya. Yesung membuatnya, sebuah tanda kepemilikan di leher Ryeowook. Beralih lagi ke dagu. Yesung menjulurkan lidah, menjilat sensual saliva yang tadi meluber saat ciuman mereka. Dan yang terakhir mengecup sekilas bibir merah ranum di depannya. Ryeowok terlalu menggodanya.

"Aku mencintaimu." Ryeowook menggigit bibirnya. Ia ingin sekali mengatakan itu juga. Akan tetapi rasanya berat sekali untuk mengatakannya.

Mungkin untuk yang terakhir kalinya, Ryeowook berani mengusap pipi Yesung lalu memeluk namja tampan itu. Ia memang melakukan semua itu, akan tetapi ia tak menjawab pernyataan cinta dari Yesung.

"Kuanggap kau mencintaiku juga. Kau akan selalu mencintaiku."

Sepasang matanya terpejam erat dengan bibir yang memerah karena digigit. Ryeowook tidak tahu apa yang merasuki dirinya. Ia merasa sangat bahagia. Yesung tulus mencintainya. Akan tetapi, sesuatu membuatnya takut. Takut akan disakiti untuk yang kedua kalinya.

"Aku mencintaimu, Ryeowookie."

.

.

.

.

.

Ryeowook merapatkan sweaternya. Dilihatnya Yesung sedang membereskan kamar rawatnya. Hari ini ia akan pulang. Karena tubuhnya sudah dirasa cukup sehat oleh sang uisa. Padahal, untuk turun dari ranjang pun Ryeowook harus pelan-pelan, seperti sekarang ini. My! Ryeowook merasa seperti seorang kakek-kakek tua.

"Wookie, tunggu."

"Tsk. Apalagi? Kau mau..."

Ryeowook mengerjapkan mata. Ia menunduk menatap pinggangnya yang kini dilingkari sebelah tangan namja tampan itu. Shit, lagi-lagi bertingkah manis padanya.

"Aku bisa jalan sendiri!" Menampik tangan Yesung di pinggangnya lalu berusaha berdiri tegak. Baru beberapa langkah tubuhnya sudah terhuyung dan menabrak dada di depannya.

Yesung menggelengkan kepala melihatnya, "Seharusnya kau belum boleh pulang. Kau mau lebih lama di sini?"

Ryeowook menggeleng dengan kepala yang tertunduk. Dan Yesung tertawa karenanya. Ia mengacak gemas surai Ryeowook lalu kembali membantu namja manis itu berjalan. Ryeowook yang polos memang manis, tetapi Ryeowook yang tsundere lebih manis lagi.

Beberapa hari kemudian, Yesung mengajaknya makan malam, di sebuah reatoran yang terkesan romantis begitu. Ryeowook hanya menurut saja. Beberapa kali ia menghela napas dengan tingkah manis Yesung padanya. Seperti menarikkan kursi untuknya, memesankan makanan yang ia suka, mengelap bibirnya yang kotor, mencium punggung tangannya. Sigh, Ryeowook bukan yeoja.

"Aku akan ke toilet sebentar."

"Mau kutemani?"

Ryeowook memandang Yesung tajam. Lalu ia cepat-cepat pergi dari sana. Di dalam toilet Ryeowook menatap pantulan dirinya. Semuanya masih baik-baik saja, tidak ada perubahan negatif dari wajahnya. Ryeowook menghela napas lagi. Mengingat hari ini, ia jadi senang. Sudut bibirnya tertarik tanpa sadar. Begitu tahu, Ryeowook langsung menepuk pipinya sendiri.

"Menyebalkan."

Ryeowook mendengus kasar. Kemudian ia melangkah keluar, hendak menghampiri Yesung dengan perasaan bahagia yang ia sembunyikan. Lalu, matanya itu langsung terpusat pada seorang namja yang duduk di kursinya. Namja yang paling ia benci di dunia ini,sedang bercanda gurau dengan Yesung kekasihnya.

"Shit!" Ryeowook mengepalkan tangannya lalu kembali ke toilet lagi. Ia merasa marah. Emosinya kembali menguasai dirinya sendiri. Dan perubahan itu datang lagi, kukunya memanjang, gigi taring seperti vampire lalu berlanjut ke iris kirinya yang berubah menjadi biru.

"Jadi kau bersikap manis seperti ini karena kau mau meninggalkanku?" Ryeowook memperhatikan bagaimana rambutnya berubah menjadi silver dari pucuk-pucuk rambutnya.

"Kalau kau mau meninggalkanku, tidak perlu bersikap manis seperti ini!"

Prakk!

Bersamaan dengan suara itu, cermin besar yang memantulkan bayangannya retak terkena tinjunya yang terlampau kuat. Sedikit demi sedikit darah keluar dari kepalan tangannya yang masih menempel pada kaca retak itu. Sedangkan matanya masih menatap nyalang pantulan dirinya yang tidak jelas lagi.

"Wookie?"

Ryeowook terkejut, ia memandang kaget pantulan Yesung di kaca yang retak. Lalu Ryeowook menurunkan tangannya, beralih menutupi satu matanya yang sudah berubah. Ia meringis mendapati Yesung sudah mengetahui wujud jahatnya. Yesung pasti akan ketakutan.

"Wookie, apa yang terjadi?"

"Menjauh dariku!" Seru Ryeowook kasar ketika Yesung hendak mendekat. "Jangan mendekat atau kau akan mati di tanganku!"

Namun, Yesung menulikan telinganya. Ia tak mengindahkan seruan Ryeowook dan membahayakan dirinya sendiri. Kedua tangannya terangkat, satu menangkup pipi Ryeowook dan satunya berusaha menurunkan tangan berdarah yamg sedang mencoba menutupi matanya.

"Kau terluka." Kata Yesung sambil mengamati tangan Ryeowook yang berdarah.

"Tidak usah berlagak peduli padaku!" Ryeowook menghempaskan tangannya yang dipegang Yesung. Lalu ia mencengkram kerah namja tampan itu seraya menunjukkan wajah mengerasnya.

"Kalau kau mau meninggalkanku, maka lakukanlah. Aku sudah tidak peduli lagi, apapun terserah maumu. Tidak usah berlagak manis seperti ini. Aku sudah tidak percaya apapun yang kau katakan."

"Apa maksudmu?" Yesung sibuk memperhatikan Ryeowook. Iris mata kiri yang indah dan juga taring itu membuatnya mempesona.

"Kembalilah ke sana dan temui mantan kekasihmu itu!"

Yesung terdiam berpikir. Ah, ia mengingatnya. Ia rasa Ryeowook tadi melihatnya bersama Jiyong, padahal ia tidak melakukan apapun. Namja itu tak melakukan hal-hal aneh padanya, hanya mengobrol saja. Tapi kemudian ia meringis sedih. Ia ingat cerita masa lalu Ryeowook, yang mengatakan kalau Jiyong dari dunianya juga.

"Aku tidak melakukan apapun. Mian kalau aku membuatmu marah."

Tatapan nyalang itu berganti dengan mata yang terpejam. Karena usapan yang lembut pada salah satu pipinya. Yesung ingin mengubahnya. Mengubah mimik marah itu menjadi mimik lembut yang selalu menantinya dahulu.

"Aku hanya mencintaimu saja. Aku berjanji akan selalu mencintaimu."

Ryeowook membuka matanya. Lalu menatap Yesung mencari kebenaran. Matanya berubah sayu, termakan kata-kata cinta Yesung yang menggoyahkan pertahanan hatinya.

"Jiyong tidak akan mengganggu kita lagi."

Lalu tatapan tajam kembali datang. Kesalahan Yesung untuk mengatakan serangkaian kalimat itu.

"Jiyong tidak akan mengganggu kita? Dia akan terus berada di sekitarmu! Dia akan berusaha merebutmu dariku! Dia akan terus melakukannya selama aku masih hidup! Karena hanya itulah alasannya untuk tetap hidup."

"Tapi, tadi dia meminta maaf. Dia meminta maaf padamu melaluiku. Katanya dia tidak akan mengganggu kita lagi. Aku percaya kalau Jiyong—"

"Kau percaya padanya?" Ryeowook melepaskan cengkramannya. Ia mundur beberapa langkah. "Kau percaya padanya?!" Sentak Ryeowook sambil mengibaskan tangannya.

Brak

Tidak. Ia tidak menyentuh Yesung sama sekali. Akan tetapi namja itu sudah terhempas dan menabrak dinding di belakangnya. Ryeowook panik. Ia lihat di cermin rambutnya sudah hampir berubah sempurna. Kalau itu terjadi, maka hancurlah seluruh tempat ini. Ryeowook harus segera pergi.

Grab

Yesung menghentikannya. Menahan tangannya lalu menarik tubuhnya mendekat. Hingga kini ia dilingkupi kedua tangan Yesung yang melingkari punggungnya. Ryeowook terdiam linglung kemudian ia memberontak tak nyaman.

"Tenangkan dirimu!" Bentakan Yesung menghentikannya. Ryeowook memejamkan matanya yang terasa memanas. Lalu ia mendongak, menatap Yesung dengan mata yang berkaca-kaca.

"Jangan seperti ini. Segeralah bunuh aku. Aku hanya akan menyakitimu saja. Aku akan membunuhmu lagi jika kau selalu berada di dekatku seperti ini. Aku hanyalah monster—umph!"

Yesung mencium Ryeowook tiba-tiba setelah sebelumnya maniknya menajam karena kesal dengan omongan Ryeowook. Tangannya menekan tengkuk Ryeowook untuk menciumnya lebih dalam lagi. Memiringkan kepalanya mencari posisi yang dirasanya paling tepat. Mencoba memasukkan lidah akan tetapi malah tergores taring tajam Ryeowook.

"Umph!"

Ryeowook sudah memintanya berhenti. Jika ciuman ini hanya menyakiti Yesung maka lebih baik hentikan saja. Akan tetapi, Yesung malah menarik tengkuknya kuat. Dan tanpa mengindahkan rasa anyir darahnya, Yesung mulai bermain dengan lidah Ryeowook. Suara ciumannya terdengar ke mana-mana, bahkan lenguhannya juga karena Yesung beberapa kali meremas pinggangnya.

"Hhaa... hha..." Ryeowook mencoba menetralkan napasnya. Ia terlalu lelah dengan semua ini. Yesung, terlalu menekannya untuk tetap setia. Ia tidak bisa melakukan itu atau dirinya akan terus terkurung bersama monster dalam tubuhnya.

"Tenangkan dirimu." Kata Yesung seraya mengusap kepala Ryeowook di dadanya. "Rambutmu mulai kembali."

Belakangan Yesung mulai memahami. Kalau Ryeowook akan berubah ketika ia marah saja. Itu asumsinya, tidak tahu benar atau salah. Padahal kenyataannya bukan begitu. Yeah, memang kekuatan Ryeowook akan muncul ketika ia marah. Tapi penyebab yang paling mendasar adalah waktunya telah habis. Jiwanya yang buruk akan muncul pada saatnya. Dan ketika Ryeowook tak bisa mengontrol emosinya. Itu akan mempercepat perubahannya.

"I'm afraid of turning into a monster someday"

Ryeowook saat itu sedang berjalan-jalan dekat rumah. Ia malas terus terkurung di sana sementara Yesung sibuk bekerja. Melewati trotoar yang ramai, menyebrang jalan bersama orang-orang, menaiki bus umum, Ryeowook sudah lakukan semua yang ia inginkan. Dan ketika ia kembali, ia bertemu seseorang di depan rumah.

"Kwon Jiyong, apa yang kau lakukan?"

"Akh, kau pulang juga." Sahut Jiyong sambil berdiri dari posisi sebelumnya, duduk di teras rumah. Ia mendekati Ryeowook.

"Mau apa?" Ryeowook langsung mengambil langkah mundur. Ia selalu siaga jika berhadapan dengan orang itu.

"Kenapa kau begitu? Kau takut?" Ryeowook menghembuskan napasnya. Bukannya ia takut atau apalah kata lainnya, hanya saja namja di depannya itu memiliki segudang cara licik untuk melumpuhkannya. Ia tidak bisa jika—

"Kau lengah, hm?"

"Eh?"

Bagai tersengat listrik, Ryeowook berjengit kemudian terhempas sampai menyentuh tanah. Ia tidak tahu apa yang Jiyong lakukan padanya. Rasa-rasanya ia kehilangan kekuatan untuk menggerakkan tubuhnya. Ryeowook melihat tubuhnya berdiri lalu menyeringai padanya. Ia melihat dirinya sendiri mengambil sebalok kayu lalu rasa sakit itu datang. Dan semuanya gelap.

.

.

.

.

.

Yesung memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Pekerjaannya sudah selesai. Yang ingin sekali ia lakukan adalah bertemu Ryeowook dan tidur memeluknya sampai ia bangun kembali. Yesung jadi terkekeh geli karena membayangkan bagaimana nanti Ryeowook akan marah-marah.

"Eh?"

Lalu seseorang di depannya itu mengejutkannya. Cepat-cepat Yesung berlari mendekat. Ia langsung bersimpuh dan mengecek kondisi orang itu.

"Jiyong! Jiyong!" Panggilnya sambil mengguncang tubuh yang tergeletak di teras rumahnya itu.

"Ngh."

Namja manis itu mulai terbangun karenanya. Membuka matanya pelan lalu mengusapnya penuh dengan keimutan. Ia mengernyit lalu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.

"Hyung?"

"Jiyong, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau tiduran di situ?"

"Apa? Ryeowook? Di mana dia?" Kata namja yang dipanggil Jiyong itu masih dengan memegangi kepalanya.

"Apa yang kau katakan?"

Jiyong menyipitkan matanya, "Ryeowook, di mana dia? Akan kubunuh dia karena berani memukulku!"

Yesung berdecak kesal. "Apa maksudmu? Kau berani melukai kekasihku?"

" Jadi kau kembali padanya lagi, huh? Kau akhirnya mengakuinya?"

"Apa kau habis minum? Aku tidak pernah putus dari Ryeowook."

"Kau bercanda? Aku ini Jiyong, bukan Ryeowook."

Yesung memandang Jiyong aneh. Benar dugaannya, Jiyong habis minum. Buktinya kata-katanya aneh begitu. Sementara Jiyong terdiam memelototinya. Beberapa saat saling berpandangan, Jiyong mulai merasa aneh. Ia pun menunduk meneliti tubuhnya. Lalu raut panik itu datang padanya.

"Apa yang terjadi?!" Serunya keras sambil melangkah mendekati mobil. Yesung yang heran pun mendekat juga. Ia melihat Jiyong sedang berkaca pada jendela mobilnya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Yesung

Jiyong berbalik, mencengkram pakaian Yesung. "Hyung, ini aku Jiyong bukan Ryeowook. Aku Jiyong, hyung!"

Yesung berdecak malas lalu melepaskan cengkraman Jiyong. "Aku tahu kau Jiyong."

"Bukan! Aku Jiyong, bukan Ryeowook!"

Yesung mendengus sebal. Ia pun berbalik meninggalkan Jiyong yang terus saja mengikuti serta memanggil-manggil namanya. Ia cukup heran saja. Apa yang merasuki tubuh Jiyong hingga bicaranya melantur tak jelas. Lantas, Yesung berhenti kemudian. Terheran dengan apa yang diucapkan namja manis itu.

"Aku akan sekarat jika kau mencium orang lain."

Yesung menoleh, memandang Jiyong tak mengerti. Itu tadi adalah kata-kata Ryeowook. Mungkinkah Jiyong tahu rahasia Ryeowook? Atau mungkinkah yang dikatakan Ryeowook benar kalau Jiyong dari dunianya? Ataukah Jiyong sebenarnya seorang cenayang? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya.

"Pulanglah, Jiyong."

"T-tidak, hyung! Aku bukan Ryeowook."

Tapi Yesung tak mendengarkannya. Jiyong tak kehilangan akal. Tiba-tiba ia membalik tubuh Yesung lalu menarik kemejanya sendiri ke sisi yang berlawanan. Membuat kancing-kancing kemejanya lepas berceceran. Jiyong membuka bajunya, memperlihatkan Yesung tubuh bagian depannya.

"Kau gila!" Yesung ingin marah tapi kemudian ia melihat sesuatu di dada Jiyong, tato yang sama persis seperti milik Ryeowook hanya saja amat sangat samar. Apa maksudnya? Bisa saja Jiyong menirunya. Yesung menghentingkan tangannya.

"Pulanglah, Jiyong."

Jiyong kemudian mengambil ranting kayu, menulis nama seseorang di atas salju tapi yang dihasilkan tangannya adalah nama yang berbeda. Ia marah, menginjak gemas hasil tulisannya itu.

"Tunggu, hyung!" Cegah Jiyong ketika Yesung mau pergi.

"Apalagi?"

"Kau harus mengerti, aku Jiyong. Ani, aku ingin menyebut namaku sendiri, tapi yang kukatakan adalah namanya, hyung. Hyung mengerti maksudku?"

Yesung menatap Jiyong makin aneh saja. Lalu perlahan bergerak mundur ingin kabur dari namja manis itu. Ia tidak mau terkena masalah.

"Hyung, begini, beberapa hari yang lalu aku dirawat di rumah sakit. Lalu waktu itu aku memintamu untuk melakukannya denganku, kita berhubungan badan." Jiyong melihat Yesung sedikit terkejut tapi ia tetap melanjutkan perkataannya.

"Setelah kita melakukannya, aku menceritakan semua masa laluku padamu lalu tubuhku tersayat-sayat tanpa sebab."

Yesung terdiam memandangi Jiyong, lalu ia membuka mulutnya, "Jadi, maksudmu kau ini Ryeowook?"

Jiyong menganggukkan kepalanya.

"Kau tidak berbohong?"

"Kau tidak percaya? A-aku bahkan masih mengingatnya, kita melakukannya beberapa kali. Aku bahkan ingat berapa kali kau keluar, empat kali—"

"Cukup! Jangan mengatakan hal-hal itu lagi." Kata Yesung memotong perkataan vulgar Jiyong. Ia menghela napas sembari memijit keningnya.

Jiyong—yang sebenarnya adalah Ryeowook berdecak kesal. "Aku tidak bohong. Aku tadi habis jalan-jalan lalu saat pulang dia sudah ada di teras. Kami bicara beberapa saat sampai aku lengah dan dia mengambil alih tubuhku. Kau tahu, istilahnya..." Ryeowook terlihat berpikir.

"Swap?" Cetus Yesung.

"Ah, swap! Ne, dia melakukan itu menggunakan kekuatan sihirnya. Setelah dia berhasil, dia memukulku menggunakan kayu itu." Tunjuknya pada sebuah kayu yang cukup besar.

Ryeowook melihatnya. Melihat bagaimana Yesung menatapnya ragu-ragu. Tentu saja Yesung tak mudah percaya. Dia itu manusia biasa, sangat sulit untuk percaya pada kekuatan sihir. Apalagi Yesung pasti sempat mengalami yang namanya depresi dengan kenyataan yang ada.

Ryeowook menghela napas. Ia merogoh saku celananya dan menemukan sebuah ponsel, dari situ Ryeowook jadi tahu. "Hyung, cepat kau chat dia, tanyakan di mana dia berada."

Yesung mengangguk dan segera melakukan apa yang Ryeowook perintahkan. Mereka menunggu beberapa saat hingga ponsel yang dipegang Ryeowook bergetar. Ia pun segera mengeceknya, setelah itu, perempatan imajiner muncul di keningnya.

"Bukan aku, bodoh!"

"Eh?" Yesung sedikit terkejut. Wah-wah kalau begini sikapnya Yesung jadi tambah percaya sedikit. Jiyong yang asli kan tidak pernah mampu membentaknya begitu, apalagi mengatainya bodoh.

"Ne, ne. Aku tadi tak sengaja melakukannya. Aku ini manusia, patut melakukan kesalahan. Kenapa kau marah-marah terus."

Ryeowook memejamkan matanya. Sudah bosan dengan ucapan Yesung. Sementara Yesung melanjutkan tugasnya, kali ini benar. Tujuannya adalah ID Kim Ryeowook yang pastinya dipegang Jiyong.

"Balasan dari Ryeowook." Sahut Yesung lalu melirik sosok Jiyong yang dirasuki Ryeowook. Ia lupa kalau Ryeowook yang benar ada di sampingnya.

"Eh? Dia mengirimkan gambar." Kata Yesung terheran, pasalnya Ryeowook palsu tidak mau mengatakan di mana dia berada. Dan ketika gambar itu terbuka, wajah Yesung mendadak terkejut dan berlangsung beberapa saat. Hingga kemudian berubah merona sampai ke telinga. Ryeowook jadi penasaran.

"Apa yang dia kirim?" Ryeowook mendekat dan Yesung memperlihatkan ponselnya. Ryeowook ternganga, nyaris saja bola matanya keluar. Kwon Jiyong benar-benar bermain-main dengannya. Dengan menggunakan tubuhnya, namja itu memakai lingerie merah menyala dan berpose vulgar. Bayangkan saja, bagaimana kain yang hanya menutupi ketiga organ vitalnya itu hanya dihubungkan dengan tali-tali tipis. Ryeowook tak bisa menerimanya.

"Namja gila itu..." geram Ryeowook hampir mengeluarkan taringnya. Ia melirik Yesung sengit. "Kenapa kau diam saja? Cepat hapus!"

Yesung lantas menjauhkan ponselnya, "Tidak mau!"

"Ya! Apa maksudmu tidak mau?! Itu tubuhku, bodoh!"

Yesung tetap bersikeras menolak perintah Ryeowook. Foto yang dikirimkan Jiyong itu barang langka, tidak akan ia musnahkan. Hehe, ia bahkan terkekeh senang, gomawo Jiyong-ah.

"Hapus sekarang juga, atau aku marah!"

"Kau memang selalu marah. Ingat ne, aku tidak akan menghapusnya. Aku akan mencetaknya besok."

Ryeowook memerah wajahnya. "Ne, kau cetaklah foto itu lalu tempelkan di bantalmu. Tidurlah bersama foto itu!"

"Untuk apa? Aku akan tidur dengan Ryeowook yang asli, aku akan memeluknya sepanjang malam, lalu dia akan memberiku kecupan selamat pagi."

"Kecupan selamat pagi? Ciumi saja kura-kuramu!"

Bugh!

Ryeowook sudah terlampau gemas. Jadi jangan salahkan dirinya yang langsung meninju perut Yesung seperti ini. Tidak mau dipermalukan lagi dengan kata-kata namja mesum itu, inilah pilihan Ryeowook. Akan tetapi, ia tidak tahu, kalau dampaknya akan sebesar ini. Yesung—

"Ugh!"

—jatuh berlutut sambil memegangi perutnya lalu namja tampan itu tak sadarkan diri.

Keringat dingin mulai membanjiri. Ryeowook ketakutan. Ia langsung bersimpuh di samping tubuh itu. Matanya sudah memanas. Apa ia melukai Kim Yesung? Apa ada orang yang melukai kekasihnya sendiri?

"Pembunuh! Kau sudah dikutuk!"

Ryeowook terhempas tanpa ada yang mendorongnya. Mulutnya terbuka menghembuskan napas tak beraturan. Tadi, kenapa bisa muncul kelimat itu. Kenapa suara itu datang lagi?

"Hyung, kumohon sadarlah. Hiks... mianhae aku melukaimu lagi..." Jemari Ryeowook yang terulur berhenti di udara. Terkepal kuat saat ia menarik diri. Ia tidak boleh menyentuh lagi.

"T-tidak! Tidak seharusnya aku ada di sini. Appa, Jongwoon hyung, umma, lalu Yesung hyung, a-aku melukai kalian... mianhae..."

Saat menangis keras itulah, terdengar suara lain yang sangat dekat. Tertawa meremehkan atas apa yang ia alami hari ini. Ryeowook merasa, tidak bisa berbuat sesuatu yang benar.

"Ahahaha! Ryeowookie, aku hanya bercanda! Tidak sakit, sungguh. Lagi pula tubuhmu yang sekarang itu milik Jiyong kan? Bukan tubuhmu."

Ryeowook tercengang. Lelehan air mata masih tercetak di wajahnya. Lalu sekarang, ia dikerjai. Yesung menjahilinya. Padahal ia sudah takut sampai mau mati. Dalam tawa meledek itu, Ryeowook menundukkan kepala. Bukan karena ia malu, tapi karena hal lain. Mengenai sesuatu kedepannya.

"Aku tidak suka gurauan seperti itu."

Sontak saja Yesung berhenti tertawa. Ia beringsut mendekat, membawa tatapan bersalah bersamanya. Ia jadi tak enak begini.

"Mianhae... aku keterlaluan." Kata Yesung sambil menggaruk tengkuknya. Tapi ya, Ryeowook sama saja, masih tidak mau untuk menanggapi Yesung. "Jja, kita cari tubuhmu ne?"

Lalu Yesung menggamit tangan Ryeowook, ah bukan. Yesung menggamit tangan Jiyong. Meskipun jiwa di dalamnya adalah Ryeowook tetap saja kan yang bersentuhan itu apa. Langsung saja Ryeowook berusaha menarik tangannya.

"Jangan, tidak dengan tubuh ini."

Yesung sempat terdiam bingung, ia memaku diri. Tapi kemudian ia tersenyum tulus. "Ne, jja!"

Kalau Ryeowook diberi tahu tempat di mana tubuhnya sekarang berada, pastilah namja itu mengamuk. Karena Yesung sebenarnya sudah tahu. Akan tetapi ia memilih diam saja toh nanti juga Ryeowook akan tahu. Sampai di sebuah jalan, Yesung berhenti. Udaranya dingin, seperti hampir turun salju lagi. Mobil Yesung berhenti tepat di depan sebuah hotel, bertuliskan Love Hotel. Yesung tahu tempat ini dari foto yang dikirim Jiyong. Tanpa sengaja melihat label hotel ini.

"Kau tunggu di sini."

"Apa?" Sepasang manik Yesung terbelalak kaget. Eh? Ia tidak akan membiarkan Ryeowook pergi sendiri. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang diluar kendali orang yang ada di dalam sana?

"Ani, aku akan ikut." Paksa Yesung.

Dilihatnya Jiyong—Ryeowook menatapinya sendu. "Lebih baik kau di sini. Jika terjadi sesuatu, bergegaslah pergi."

Yesung merengut tak mengerti. "Ryeowook!"

Tapi Ryeowook sudah benar-benar pergi. Ia masuk ke dalam hotel yang cukup berkelas itu. Elegan, mengingat dirinya tak pernah memasuki hotel sekalipun. Dan kini ia menginjaknya, bicara kepada resepsionis menanyakan kamar atas nama Jiyong. Dengan cepat ia pun menemukannya, hingga kin berdiri di depan pintu sebuah kamar. Pelan Ryeowook membukanya, dan kemudian tersuguh dirinya sendiri yang sedang berpelukan mesra dengan seorang ahjussi gendut. Apa? Ryeowook tidak akan merelakan tubuhnya di jamah orang seperti itu.

"Sudah main-mainnya, Kwon Jiyong!"

Kedua orang di depan sana terkejut. Ryeowook juga terkejut, ia bisa mengucapkan nama namja gila itu. Tapi kemudian senyum mengejek kembali dilemparkan Jiyong padanya. "Kau sampai juga." Katanya bernada sinis.

Ryeowook melirik namja yang masih memeluk tubuhnya itu, "Kau mau membunuhku dengan bersetubuh dengan pria ini? Kau mau membunuhku dengan kutukan penyembuh itu?"

Jiyong di dalam tubuhnya itu terkekeh. Mendadak melepas pelukannya itu dan menyuruh ahjussi itu pergi. Ryeowook sedikit heran, apalagi Jiyong hanya berdiri sambil melipat tangan di dada. Raut wajahnya puas sekali. "Kalau benar, lalu kenapa?"

"Apa kau bodoh? Kau juga akan terluka!"

"Ah, kau mendadak peduli padaku, takut aku terluka?" Ryeowook mengepalkan tangannya. "Ahaha begini, Ryeowookie. Aku tidak akan terluka. Karena saat kau sekarat nanti, aku akan langsung kembali ke tubuhku."

Gigi Ryeowook bergemeletuk. Raut wajahnya sudah mengeras. Ia tidak tahan dengan semuanya.

"Kau marah? Kau mau menyerangku? Menggunakan apa? Itu bukan—"

Blarr!

Jiyong tersentak kuat, ia lihat api biru muncul dari telapak tangan Ryeowook, ani bukankah itu telapak tangannya? Tapi bagaimana bisa? Ryeowook, darimana kekuatan itu?

Lalu Jiyong meringis pedih. "Aah! Aww!"

Sekarang Ryeowooklah yang terkekeh sadis. "Kenapa? Panaskah? Tsk, apakah kau belum pernah dengar jika makhluk setengah manusia sepertiku yang terkuat? Kau meremehkanku beberapa kali." Jiyong tidak bisa mempercayainya, meskipun Ryeowook mengendalikan tubuhnya, tapi tetap saja ia merasakan sakit. Ia memegangi tangannya sendiri yang terasa melepuh.

"Biar kudinginkan."

"Tidak!"

Krak!

Lalu tangannya terasa kaku karena membeku, sangat dingin menusuk kulitnya dan menghentikan aliran darahnya. Sementara tubuh aslinya di sana tersenyum miring. Membekukan tangannya lagi sampai hampir mendekati siku.

"Berhenti! Ugh..."

"Tidak sebelum kau kembalikan tubuhku."

"Akan kulakukan! Aku janji!"

Ryeowook sebenarnya cukup tidak percaya, akan tetapi ia tetap menginginkan kembali tubuhnya secara utuh. Kalau bertanya mengapa ia tak melakukannya sendiri, karena itu bukan keahliannya. Hanya yang murni saja yang bisa melakukannya. Sementara ia dianugrahi kekuatan jahat di dalam tubuhnya.

Prak!

Ryeowook membenturkan tangan ke dinding di sebelahnya. Menghancurkan es padat yang tadi melingkupi daerah itu. Lalu Ryeowook mendekat hingga berjarak 4 meter dari tubuhnya yang dikendalikan Jiyong, sedang duduk bersimpuh di atas lantai.

"Lakukan!"

Jiyong menghela napas. Lantas memejamkan matanya. Sementara Ryeowook masih memperhatikan. Lalu Ryeowook merasa terhuyung sedikit. Ia masih dapat berdiri dengan kedua kakinya.

Degh!

Ryeowook melotot bingung, tangannya menekan dada kirinya yang tadi terasa nyeri, hentakannya terlampau kuat. Ryeowook sedikit was-was. Dan ketika rasa nyeri di jantungnya itu makin menjadi, ia membungkuk dengan mata tertutup.

"Hhaa...hhaa..."

Saat manik karamelnya kembali terlihat. Keadaannya sudah jauh berbeda. Kini dirinya yang di bawah dan Jiyong yang di atas. Ia yang bersimpuh dan Jiyong yang berdiri dengan angkuh. Ryeowook menormalkan napasnya. Ia lihat tubuhnya kembali yang sudah benar-benar miliknya.

"Kalau kau berbuat seperti ini lagi, aku tidak akan mengampunimu."

Tangan Ryeowook menjalar ke belakang, mencoba mencari pengait bra merah yang masih melekat di tubuhnya. Tak bisa melepasnya, Ryeowook bertambah geram. Kalau begitu ia bakar saja semuanya. Toh ia tak merasa panas. Mendengus sebal, Ryeowook mencari-cari celana panjang dan memakainya.

"Aku melakukan semua ini dengan sengaja."

"Huh?" Ryeowook berbalik.

"Aku tahu semua ini akan terjadi, karena memang semua inilah yang kuinginkan."

"Apa maksudmu?" Ryeowook mulai gelisah.

"Bagaimana jika maksudku yang sebenarnya bukanlah ingin membunuhmu dengan cara bersetubuh itu? Bagaimana jika aku ingin yang lain?"

"Yang lain?" Ryeowook terlihat berpikir keras. Apa ia dijadikan umpan saja? Lalu apa yang Jiyong inginkan? Ia pikir, Jiyong datang lagi ke kehidupannya untuk membunuhnya, untuk membalaskan dendamnya. Kalau ada hal lain itu pasti seorang Kim Yesung. "Jangan bercanda denganku!"

Ryeowook mengibaskan tangannya, ia melangkah tergesa-gesa mendekati pintu. Persetan dengan dirinya yang tidak memakai atasan apapun. Prioritas utamanya adalah Yesung, kekasihnya. Tidak ada yang boleh melukai namja tampan itu.

"Hmmff!"

Lalu seseorang tiba-tiba membekap hidung serta mulutnya menggunakan sapu tangan berbius. Ryeowook memberontak kuat. Ia menendang ke segala arah. Akan tetapi semuanya sia-sia. Ketika itu, kesadarannya mulai menghilang. Akan tetapi ia masih saja memikirkan Kim Yesung. Sial, apa yang akan terjadi nanti?

"Tragis sekali, heh."

.

.

*Bersambung*

Tarik napas panjang. Annyeoong! Kembali lagi sama kelanjutan dari kisah cinta Ryeowook dan Yesung yang tragis ini huhuhu…

Bagaimana dengan chapter tujuh ini? Feel nya dapetkah? Atau malah jadi bingung dengan semua yang ada di atas. Tenang aja, semua kebingungan pasti bakal terjawab di chap selanjutnya. FYI, Yesung di sini itu reinkarnasi dari Jongwoon gitu. Jadinya dia lupa karena dia yang sekarang itu manusia biasa.

Feel free buat tanya-tanya apapun itu. Kritik dan saran selalu berlaku. Makasih udah nyempetin baca apalagi review.

Silahkan komentari chapter ini sesuka hatimu. Silahkan isi komentar kalian di kolom review di bawah ini^

Penuh cinta,

Denies Kim