Disclaimer : Naruto - Masashi Kishimoto
LOVE & CAREER
Chapter 7
Annoyed
Sakura POV
Aku menyetir mobilku sedikit ugal-ugalan. Aku tidak fokus pada jalanan yang cukup padat itu. Sekali-kali aku mendengar suara klakson dari pengemudi lain. Mungkin mereka sudah mengucapkan sumpah serapah padaku. Tidak pernah aku mengemudikan mobil seperti ini.
Aku mematikan dengan kasar sebuah tombol yang ada di dashboard mobilku. Memusnahkan siaran radio yang sungguh berisik bagiku. Siaran radio itu sama sekali tidak bermasalah. Hanya aku sedang kesal. Bahkan, aku meninggalkan Sasuke yang masih tertidur di apartemennya tanpa pamit. Foto milik Sasuke yang aku remas ujungnya itu membuatku kesal. Entah bisikan apa yang sedang mengarungiku. Itu hanyalah foto masa lalu Sasuke, tidak ada hubungan denganku. Tapi aku tidak menyukainya.
Inisial itu, foto itu, nada tinggi, dan sikap dingin sekilasnya tadi kembali terngiang dipikiranku. Bodohnya aku. Itu hanya hal sepele. Ada apa sebenarnya denganku. Ck! Brengsek! Aku kesal pada diriku sendiri.
Langit semakin sore. Aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku bahkan menghabiskan minyak mobilku untuk mengelilingi jalanan Tokyo ini tanpa arah tujuan. Mood-ku sedang jelek. Beruntungnya Ino menghubungiku tadi saat diperjalanan. Sampailah aku di Ishino Kamiya Bar, tempat janjiku dengan Ino. Bar itu baru saja buka. Disana masih terlihat sepi.
Aku melirik kesana kemari mencari seorang gadis blonde. Ino sedang duduk disudut sendirian. Aku menghampiri teman sebayaku.
"Hai," Sapaku padanya. Kulihat wajahnya tidak jauh beda denganku.
Dia menunjukkan mata memerahnya padaku, "Aura kita sama kali ini." Dia meminum koktail yang dipesannya.
"Kau lebih menyedihkan." Aku duduk disampingnya.
Dia menyisir rambut blondenya kebelakang. "Aku putus dengan Hidan. Tepatnya semalam."
Brak! Aku memukul meja itu dengan keras. Beberapa mata pengunjung menatapku heran.
"Dia itu pria brengsek! Aku sudah pernah bilang, kan!" Nada suaraku meninggi. Aku tidak peduli dengan mata orang-orang itu.
"Tapi aku masih menyukainya," katanya begitu lirih.
"Tangisanmu hanya akan membuatnya tertawa terbahak-bahak. Aku benci dengan mata berairmu itu!" ucapku ketus.
"Hei, kau ketus sekali!" protes Ino.
"Aku sebagai temanmu, tentu saja tidak terima jika kau diperlakukan seperti itu. Dia playboy menjijikkan! Aku heran kau masih saja menyukainya."
"Kau tidak mengenal cinta. Kau bisa dengan mudah bicara seperti itu," sindirnya.
"Hei, kemana temanku yang selalu berkoar-koar tentang pria kepadaku. Masih banyak pria lain yang mau denganmu. Jangan begitu kecewa hanya karena satu hama." Aku balik menyindirnya.
Dari dulu aku menahannya. Aku sudah berkali-kali mengatakan padanya untuk putus dari Hidan. Pria brengsek itu sudah beberapa kali aku pergoki saat menggandeng wanita lain.
"Mungkin kau benar." Wajahnya memelas.
"Bisa kau hilangkan kata mungkin yang barusan." Aku melipat kedua tanganku tepat didepan dadaku.
"Nada bicaramu jangan tinggi begitu. Kau membuatku ingin menangis."
Aku mengurut keningku sejenak. Tidak pernah nada bicaraku setinggi ini pada Ino. Sejelek apapun perlakuan Hidan pada Ino, nadaku tidak sampai seperti ini.
"Aku gagal mengontrol diriku." Aku menyesalinya.
Ino menoleh kearahku. Mata sedihnya menyiratkan keheranan. "Kau, apa ada masalah yang tidak bisa kau atasi sendiri?"
Aku memandangnya sejenak. Apa aku harus mengatakan padanya. Jika aku mengatakan padanya, aku harus memulai dari mana. Mungkin dia akan mengejekku habis-habisan.
Ino seperti menunggu jawabanku. Pandangannya bahkan tidak dialihkan ke objek lain. Dia selalu menceritakan apapun suka duka yang dialaminya kepadaku. Tapi, aku terkesan tertutup padanya. Apa ini adil bagi pertemanan kita.
Aku meneguk koktail yang baru saja diberikan pelayan. Cairan berwarna kuning itu berhasil masuk kedalam kerongkonganku. Aku menghelakan nafasku. Menenangkan diriku perlahan.
"Sepertinya aku memang ada masalah." Aku memainkan jemariku ditiang gelas. Menggelitik benda tak bernyawa itu.
Ino tersenyum samar padaku, "Aku menunggu kisahmu."
"Aku hanya kesal pada diriku sendiri. Sesuatu yang bukan urusanku justru menyita memoriku. Hal yang sangat sepele." Aku menompang sisi kepalaku pada telepak tanganku.
"Kita para wanita memang selalu mempermasalahkan hal sepele," ujarnya.
Aku terkekeh kecil. Apa yang dikatakannya benar. "Apa yang sedang aku rasakan saat ini apakah aku harus menceritakan padamu?"
"Tentu saja! Berhentilah memikul kegundahanmu sendirian. Aku mengajakmu berbicara. Katakan saja jika kau ingin lebih baik." Ino menepuk pundakku pelan.
Ino terlihat berbeda dari biasanya. Dia yang selalu mengucapkan kata-kata jahil padaku, tetapi hari ini tidak. Apa karena dia yang sedang patah hati sehingga pikirannya dipenuhi kata-kata yang tidak biasa.
"Kau masih ingat dengan pria yang dirumah Naruto waktu itu?"
"Ada banyak pria disana. Sebutkan saja namanya." Dia tidak suka dengan kode yang aku berikan.
"Sasuke. Dia yang aku maksud," ucapku sedikit ragu. Ah! Aku sudah mengatakannya. Ino pasti akan menertawakanku.
Bibir indahnya terbuka kecil. "Tidak aku sangka kau akan benar-benar memikirkannya." Sembari senyuman mengukir.
"Kau pasti akan mengejekku," cibirku padanya. Aku mengerucutkan bibirku.
"Tidak." Dia mengeleng pelan. "Apa yang sudah dia lakukan padamu?"
"Tidak ada. Hanya-" aku menggigit bibir bawahku.
"Kali ini aku akan mendengarkanmu. Percayalah. Jadi jangan ragu," ucapnya.
"Dia bersikap dingin saat aku menanyakan sesuatu. Mungkin itu berkaitan tentang masa lalunya. Ah! Tidak. Itu pasti. Rasanya hatiku tak dapat menerima itu. Aku berubah sendu dalam sekejap. Dia sepertinya menyadari sikapku, lalu mengucapkan maaf padaku." Aku Berhenti sejenak. Mengambil nafas untuk melanjutkan ceritaku.
Ino mengangguk. Dia menunggu kelanjutan ceritaku tanpa berusaha menyelahku.
Aku menerawang langit-langit. Hanya sedetik saja. "Tapi ada sesuatu yang membuatku kesal. Aku tak sengaja menemukan foto masa mudanya. Dia dan kekasihnya, mungkin. Mereka terlihat bahagia dan serasi. Aku sungguh tidak menyukai itu. Aku bahkan merusak ujung foto itu." Aku mengepalkan tanganku. Bibir bawahku aku gigit dengan geram.
"Aku mengerti. apa yang kau rasakan adalah kecemburuan. Kau secara tidak sadar sudah menyukainya."
Nafasku berhenti mendadak. Aku membelalakan bola mataku. Menatap Ino dengan serius.
"Hahaha..." Aku tertawa palsu, seperti sedang mengejek ucapan Ino.
"Sakura!" Dia kelihatan kesal.
Bibirku mengulum, "Tidak. Pasti bukan. Kau salah." Aku menggelengkan kepalaku. Membantah seluruh pemikirannya tentang isi hatiku.
"Bisakah kali ini kau mendengarkanku? Aku serius." Ino mencengkram lenganku pelan. Bola matanya tajam kearahku.
Aku mengalihkan mata hijauku. Pengunjung yang lewat disampingku, aku melirik punggungnya. Aku menggigit tepi bibir bawahku. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku lirih.
"Bisakah kali ini kau menghargai perasaanmu?"
Aku membisu.
"Aku tahu kau menyukai karirmu. Aku selalu mendukungmu. Tapi, kali ini aku tidak ingin kau menjadikan karir sebagai pelarianmu. Aku benci itu. Aku tidak ingin ada tembok antara cintamu dan karirmu. Aku harap kau bisa meretakkan itu secara perlahan. Perasaan yang sedang kau alami, jangan kau biarkan terkubur. Itu hanya akan menyakitimu," nasehatnya. Nada bicaranya sungguh lembut.
"Aku tidak yakin," ucapku lirih.
"Dulu kau gadis manis yang kehilangan rasa. Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti itu dimasa lalu. Apakah ada sesuatu yang begitu pahit. Kau bahkan tidak pernah mengatakan apapun padaku. Tapi saat ini, kau mengatakan tentang hatimu padaku. Aku sungguh senang mendengarnya. Perasaan yang muncul tanpa kau sadari. Itu adalah sebuah harta karun. Kau harus menghargainya."
Aku menyentuh dadaku. Mencoba menyentuh apa yang sudah Ino katakan. Aku tidak merasakan apapun selain detak jantungku.
Ino tersenyum padaku. Rambut depan panjangnya disibakkan kebelakang. Wajahnya yang begitu sendu saat aku datang, kini berubah lembut. "Aku menyukai kau yang lebih terbuka tentang perasaanmu. Tentang foto yang kau temukan itu. Itu hanya foto masa lalunya. Siapa yang tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Hal negatif yang memutar dipikiranmu itu harus kau lenyapkan. Jangan buat bunga yang sedang mengucup menjadi layu hanya karena hal sepele. Biarkan bunga itu bermekaran."
"Pembawaanmu sungguh berbeda dari biasanya," ujarku padanya.
"Terima kasih." Bibirnya melengkung keatas.
Rasanya aku mulai menerima apa yang Ino katakan. Tapi tidak sepenuhnya, masih ada keraguan dalam diriku.
"Kau menasehatiku terlihat sangat begitu mudah. Tapi lihat apa yang terjadi pada dirimu sendiri. Kau justru terjerumus dalam kenakalan Hidan." Aku menyidirnya.
"Menasehati orang lain memang mudah. Tetapi, menasehati diri sendiri sangat sulit sekali. Aku sendiri juga heran." Dia mengidikkan bahunya.
"Kau benar." Aku terkekeh kecil.
Aura kami sudah sangat lebih baik dari sebelumnya. Aura gelap itu sudah mulai menyingkir. Wajah kami bahkan terlihat lebih cerah. Ternyata berbagi cerita memberikan efek yang bagus.
Kami berjalan keluar dari bar itu. Acara berbagi cerita pilu kami sudah berakhir. Tadinya yang masih petang sudah berubah menjadi gelap. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka tujuh, saat aku lihat barusan. Kami yang sama-sama memakai celana jins pendek berjalan beriringan dibawah sinar lampu jalan.
Kami berjalan tanpa arah tujuan di trotoar. Terus berjalan, bergerak, dan mengarah kedepan, meninggalkan hal-hal yang telah berlalu di belakang kami. Kami memasuki toko-toko satu persatu. Toko sepatu, toko tas, maupun toko pernak penik. Kantong kertas pun bergelantungan digengaman kami. Tidak tahu berapa lembar kertas uang yang sudah kami keluarkan. Uang itu melayang begitu saja di meja kasir.
Langkah kami berhenti di sebuah bakery & cafe. Saling pandang bersama. Bahkan, mengangguk bersamaan. Kaki-kaki berbalut boots itu memasuki ruangan berwarna biru laut. Satu sofa berbentuk huruf U dan satu meja menjadi wilayah kami sementara. Gambar-gambar kue di menu yang menggiurkan itu membuat kami meneguk air liur sendiri. Kami memesan banyak potongan kue yang terbaik. Siapa yang peduli dengan berat badan.
"Hei, Aku baru ingat sesuatu. Pppfftttt..." Ino menahan senyum geli. Krim kue yang dimakannya berserak diujung bibirnya.
"Ada apa?" Tanyaku setelah menelan sedikit Lemon Cheese Cake.
"Hei, kau punya nomor kontak Sai?" Tanyanya sambil mengelap sisa krim dibibir merahnya.
"Sai? Ada. Kenapa kau memintanya? Kau menyukainya. Perasaanmu cepat sekali berubah." Aku cukup heran.
"Bagaimana menceritakan ya. Hehehe..." Dia mengusap kepala belakangnya. "Seminggu yang lalu aku bertengkar hebat dengan Hidan. Aku benar-benar patah hati. Aku meminum banyak alkohol di klub Senpou. Aku mabuk berat. Sai menemukanku disana dan akhirnya mengantarku pulang ke apartemen."
Aku mengangguk mendengar ceritanya.
"Kami melakukan seks malam itu," ucap Ino. Kedua tangannya menyilang didadanya.
"Uhuk... Uhuk..." Aku tersedak. Aku begitu kaget. Aku menepuk-nepuk tengah dadaku. "Aku tidak salah dengar? Kau dengan mudahnya melakukan seks dengan dia?"
"Kau tahu, kan. Aku sedang setengah mabuk. Ditambah lagi aku hanya berdua dengannya di kamar. Dan juga aku sudah lama tidak melakukan itu. Tiba-tiba saja macan dalam diriku mengaum hebat!" Jari-jarinya membentuk cakaran.
Ino menarik nafasnya dan kemudian melanutkan ceritanya lagi, "Aku menarik tangannya, menciumnya, dan memasukkan lidahku. Membuka kancing kemejanya satu persatu secara paksa. Dia mendesah. Hahaha... Aku sungguh bergairah. Aku menggerayangi tubuhnya dengan nakal. Pada akhirnya dia juga tidak dapat menahannya."
Dia sungguh menggebu-gebu. Dia meneguk minuman sejenak. "Dia ikut melucuti bajuku. Menciumi kulit leherku. Menyesap dan memainkan putingku. Mengelus-ngelus bagian pahaku hingga keatas. Ahhh... Tubuhku semakin membara. Aku semakin mabuk. Kami saling bergoyang. Saling mendesah hebat. Aku tidak menyangka dia begitu liar. Kami memainkan beberapa gaya. Ahh... Rasanya begitu nikmat. Aku menyukai petualangan seksku dengannya," lanjutnya. Kulit wajahnya bersemu merah.
Aku terpaku mendengar ceritanya. Aku tidak habis pikir, kenapa dia bisa menceritakan seksnya walau tidak begitu rinci dengan mudahnya. Pikiranku jadi menerawang seperti apa adegan seksnya. Astaga!
"Aku seperti sedang mendengarkan radio seks," hanya itu komentarku. Aku begitu tercengang. Ino benar-benar gila.
Dia terkekeh mesum. "Jangan katakan pada siapapun tentang hal itu." Dia memohon padaku dengan memainkan kelopak matanya.
"Kau benar-benar gila," sahutku.
"Aku penasaran dia seperti apa orangnya. Jadi berikan saja nomornya," ucap Ino.
Aku membuka layar ponselku. Mataku terbelalak. Ada beberapa misscall dan notifikasi Line dari Sasuke. Aku tidak mendengar suara ponselku sejak tadi. Ah, benar. Ponselku dalam mode silent. Aku meninggalkan Sasuke tanpa pamit terlebih dahulu tadi. Wajar saja, mood-ku tidak karuan tadi. Mungkin dia sedang mencariku sekarang. Ah, biarkan saja.
Aku mencari dan memberikan nomor kontak Sai yang ada diponselku pada Ino. Wanita blonde dihadapanku ini terlihat sumringah.
kami masih belum ingin keluar dari ruangan beraroma manis ini. Rasanya sofa yang kami duduki memiliki medan magnet yang begitu kuat. Sesekali aku dan Ino mengomentari orang-orang yang mengunjungi kafe ini. Ino melirik kesana kemari mencari orang yang bisa dibicarakan. Mulutnya benar-benar jahil. Aku tersenyum geli melihat sikapnya.
"Hei, Sakura. Lihat dua orang yang baru datang itu?" Ino menunjukkan telunjuknya pada dua orang dewasa yang sedang memilih kue sekitar enam meter darinya.
Aku menggeser emerald-ku mengikuti arah jari telunjuk Ino. Tidak mungkin! Jantungku berhenti mendadak. Pompanya seakan terikat kuat. Tubuhku langsung membatu. Salah satu dari kedua orang itu adalah pria yang aku tinggalkan saat dia tertidur tadi.
"Tidak..." Gumamku pelan.
"Siapa wanita itu?" Tanya Ino berbisik.
Aku terdiam. Wajah wanita itu tidak kelihatan karena tertutupi tubuh Sasuke. Aku terus mengamatinya, tak berapa lama Wanita itu menggeser tubuh. Wajahnya terlihat olehku. Aku mengenalnya. Rambut hitamnya, wajah cantiknya, dan senyumnya. Dia orang yang sama dengan foto itu. Jangan katakan Sasuke sedang bersamanya.
"Ino. Aku tidak suka situasi ini." Aku meremas ujung bajuku. Apa yang aku lihat sungguh mengesalkan.
"Hei, tenanglah. Kau mengenal wanita itu? Dia kelihatan akrab sekali?" Ino berbisik pelan.
Aku menundukkan wajahku mendekati meja. Aku takut Sasuke akan melihatku.
"Dia orang yang ada difoto Sasuke yang aku katakan tadi," bisikku sedikit getaran.
"Hah!" Ino ikut terkejut. Matanya membulat sempurna.
Aku menutup wajahku dengan buku menu. Rasanya tekanan darahku meningkat drastis. Ubun-ubun kepalaku seperti memanas. Ck! Sialan! Respon tubuhku sangat menyebalkan! Mood-ku yang sudah baik malah kembali buruk. Aku mengintip-intip mereka berdua. Aku kesal, tapi aku penasaran.
Mereka berbincang begitu akrab. Wanita itu menepuk bahu Sasuke sekali. Mereka tertawa kecil. Senyum Sasuke yang aku kagumi dengan mudahnya diberikan pada wanita itu. Aku sungguh tidak suka melihat keakraban mereka.
Nafasku seakan memburu dengan cepat. Berbagai pertanyaan pun menggerayangi otakku. Apakah Sasuke masih mencintainya? Apakah wanita itu cerai dari suaminya dan kembali pada Sasuke? Apakah wanita yang menelponnya tadi itu dia? Dan sebagainya.
Brak! Aku memukul meja yang tak bersalah itu.
"Sakura!" Sahut Ino dengan pelan.
"Sial! Aku tidak bisa menahan diriku!" Aku menggeram kesal. Aku tidak tahu kenapa pikiranku jadi seperti ini. Shannaroo!
Aku dan Ino seperti detektif amatir. Kami terus menggerakkan bola mata kami mengikuti gerak gerik mereka berdua. Kelihatannya mereka sedang memilih kue. Saat Sasuke menoleh kearah sini, aku segera menyembunyikan wajahku kembali dibalik buku menu itu. Berbeda dengan Ino yang pura-pura menelpon seseorang.
Cukup lama Sasuke dan teman wanitanya itu, sampai akhirnya mereka terlihat akan keluar dari sini. Sasuke membantu membawakan kantong kertas berisi kue dan kantong belanjaan lainnya dari tangan wanita itu. Dia terlihat begitu lembut. Ck!
"Hei, ayo kita ikuti mereka!" Ino menarik paksa tangan kananku.
"Ino! Kue kita belum habis." Aku berusaha menolak.
"Lupakan kue itu! Rasa penasaranku sedang tinggi sekarang!"
Ino mengabaikan tolakanku. Dia terlihat begitu bersemangat menjadi penguntit malam ini. Mau tidak mau aku harus mengikuti kemauan Ino. Aku menundukkan pandanganku pada boots hitamku yang setengah berlari.
Kami mengendap-endap seperti kucing jalanan. Tidak ada suara yang keluar dari kerongkongan kami. Jarak kami hanya sekitar lima meter dari belakang Sasuke dan wanita itu. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa saja yang diperbincangkan mereka.
Ino merentangkan tangan kirinya. Itu adalah pertanda sebagai peringatan berhenti. Aku mengikuti instruksinya. Ino menyembunyikan tubuhnya dibalik tiang listrik yang tinggi, begitu pula aku. Kulihat dua orang itu sedang berdiri ditepi jalan. Sesekali Sasuke dan wanita itu melongok ke kanan dan kiri jalanan itu. Sepertinya mereka sedang menunggu taksi.
Taksi? Apa mereka akan pergi ke suatu tempat malam-malam begini? Bukankah Sasuke punya mobil sendiri? Kemana mobilnya? Apa mereka akan menghabiskan malam di apartemen Sasuke? Sial! Aku mengepalkan kelima jariku dan memukulkannya pada pahaku.
"Hei, kenapa mereka?" Bisik Ino.
"Mana aku tahu!" Nadaku menjadi ketus.
"Lihat! Mereka berpelukan." Tunjuk Ino.
Ucapan Ino melesat laju pada indera pendengaranku. Aku segera memandang tajam kearah mereka. Aku menggigit bibir bagian dalamku. Rasanya darah dikepalaku seakan meledak. Jemariku saling meremas. Mataku dalam sekejap berubah merah.
Ino memandangku dengan air wajah yang tidak terbaca. Dia membisu, tampaknya dia sedang memaklumi sikapku.
Aku berdiri, "sudah cukup hari ini, Ino! Sungguh menyakitkan!" Aku langsung membalikkan tubuhku. Aku berjalan begitu cepat. Meninggalkan Ino yang mungkin sedang menatapku. Ini sungguh menyesakkanku. Perasaan brengsek!
Ino tidak mengikuti. Biarkan saja dia yang masih senang menguntit Sasuke. Pelukan mereka tadi berhasil membuat kepalaku seakan mengandung muatan listrik tegangan tinggi. Perasaan kesal, marah dan sedih menyatu dalam ragaku. Aku ingin pulang, tidur dan melupakan hari ini. Terima kasih untuk kemuakkan di hari ini!
Kaleng yang tidak bersalah di trotoar itu aku tendang dengan kasar. Aku berkali-kali mengumpat. Aku begitu kecewa. Sialan!
"Sakura! Tunggu aku!" Aku mendengar suara Ino yang berteriak padaku. Aku tidak ingin menoleh kearah belakang ataupun menjawab teriakannya.
Ino berhasil mengimbangi jalan cepatku. Dia terlihat terengah-engah. Dadanya terlihat naik turun dengan cepatnya, "Baru saja aku berhasil menyampaikan kekesalanmu padanya." Tangannya mengepal tepat didepan bibirnya. Dia menghembuskan nafas pada kepalan tangannya. Wajahnya terlihat puas.
"Terserah saja!" Aku berbicara dengan kasar. Aku tidak peduli dengan cara bicaraku padanya. Hatiku sedang buruk saat ini.
.
.
Sasuke POV
Aku memutar-mutar liontin kompas yang dulu kubeli bersama Sakura. Berkali-kali membuka dan menutup kompas itu. Ada rasa resah dijiwaku. Bagaimana tidak, Sakura pergi disaat aku sedang tidur. Dia bahkan tidak meninggalkan pesan apapun padaku. Cukup lama tadi aku mengelilingi apartemenku untuk mencari gadis merah muda itu, berharap dia masih ada disini. Ternyata, dia memang pergi. Aku sudah menghubunginya berkali-kali. Hasilnya tetap nihil. Tidak ada respon darinya. Apakah mungkin dia sedang di rumah sekarang? Apa yang sedang dilakukannya? Aku ingin menanyakannya pada Sasori. Tapi, aku begitu gengsi.
Aku teringat dengan sikap dinginku padanya tadi. Itu muncul begitu saja. Responku sungguh berlebihan saat dia menanyakan itu. Aku sudah meminta maaf padanya. Tapi, entah kenapa masih ada rasa menyesal disela hatiku.
Ibu jariku bolak balik menekan tombol home di ponselku. Berharap dia memberikan respon atas panggilan tak terjawabku tadi. Disana hanya tampak notifikasi tidak berarti yang memenuhi ponselku. Ah, sial! Aku berdecak kesal.
Ruangan tempat aku berada terasa begitu sepi. Aku berjalan menuju kardus yang sudah kosong itu. Sepertinya Sakura yang membereskan buku-buku itu. Kaki tangguhku berjalan menuju lemari yang berisi buku-buku dengan berbagai warna. Sebuah buku novel usang memanggilku. Itu novel pemberian kekasihku, dulunya. Aku membuka lembar per lembar. Beberapa kertas terlihat sudah tidak menyatu lagi dengan lemnya. Sampai pada akhirnya aku menemukan foto kenanganku.
Itu adalah foto yang dulunya diambil dari kamera mantan kekasihku. Itu satu-satunya foto kami berdua yang aku miliki. Aku memperhatikan secara teliti foto itu, sampai akhirnya aku menemukan keganjalan. Terakhir aku lihat kertas foto itu masih begitu bagus sewaktu memasukkan kedalam kardus. Tapi, kenapa ujungnya terlihat seperti remasan, sehingga timbul retakan pada warna foto itu.
Tidak perlu butuh waktu lama untuk menganalisa. Aku tahu, Sakura yang merapikan buku-bukuku. Itu artinya dia secara sengaja atau tidak membuka isi buku-bukuku. Aku membuang sisa udara dari paru-paruku. Apa yang dia pikirkan sehingga meremas foto ini? Apa dia masih kesal dengan sikap dinginku tadi?
Ah sial! Aku baru sadar ada inisial SK dibelakang foto ini. Dia mungkin menyadarinya. Tanganku mengepal erat. Entah kenapa aku jadi kesal.
Aku keluar dari apartemenku. Menutup keras pintu utama itu. Aku ingin menikmati kopi sendirian saja. Aku berjalan sedikit tergesa menuju mobilku yang terparkir di basement.
Diluar masih tampak sore, tapi warna jingganya sudah semakin gelap. Itulah yang terlihat dibalik kaca mobilku saat berhenti di lampu merah. Aku menekan pedal gas mobilku saat lampu hijau sudah menyala. Tujuanku hanya satu. Sebuah kafe kopi.
Aku berjalan sendirian di trotoar. Telapak tanganku, aku selipkan pada kantong celanaku. Aku menutup rambutku dengan topi hitam. Setidaknya bisa menyembunyikan wajahku dari orang-orang disekitarku.
Tepat didepanku seorang wanita dengan tinggi sekitar 167cm berjalan sendirian dengan membawa banyak kantong belanjaan. Kedua tangannya terlihat penuh. Dia memunggungiku. Aku melirik kantong yang terlihat robek itu. Bola mataku mengikuti kantong plastik yang semakin lebar robeknya seiring berjalannya wanita itu. Aku risih melihatnya tapi aku tetap diam. Apa wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.
Krek! Bruk!
Plastik itu robek besar. Seluruh isinya berjatuhan di trotoar. Merah, jingga, hijau dan kuning berserakan disana.
"Ya Tuhan!" Wanita itu kaget. Dia terlihat gegabah mengambil satu persatu buah-buahan itu. Rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sedang menunduk.
Satu buah apel menggelinding diujung sepatuku. Aku berjongkok mengambil buah itu. Dia tidak melihatku. Aku membantunya mengambil buah-buah malang itu. Menyumpulkan ditelapak tanganku.
"Ini," ujarku padanya. Aku menunduk kebawah dan memberikan buah-buah itu padanya.
"Terima ka-" suara lembutnya terputus saat melihatku. "Sasuke!" Teriaknya begitu kaget.
"Kau-" aku hanya bisa menyebutkan satu kata itu. Pita suaraku seakan terikat kencang. Nafasku juga terhenti.
Kami saling bertatapan cukup lama. Bola mata biru indahnya menyiratkan kekagetan dan juga kerinduan. Dia mengambil buah-buahan digenggamanku sembari mengucapkan terima kasih. Ada sedikit rasa canggung yang menyelimutiku.
Aku tidak menyangka disore yang petang ini akan bertemu dengannya. Mantan kekasihku. Dia yang begitu aku cintai dulunya. Bentuk wajahnya masih sama seperti dulu. Dia semakin cantik dan awet muda walau usianya hampir menginjak kepala empat. Aku terpaku melihatnya. Ini sungguh suatu kebetulan yang tak terduga.
Kami berjalan berdua di trotoar yang tidak terlalu ramai itu. Beberapa kantong belanjaannya berada ditanganku. Sesekali dia tersenyum saat melirikku. Aku hanya terdiam. Pikiranku sedang tidak terkendali saat ini. Kami membisu selama perjalanan hingga masuk kedalam kafe kopi.
Aku yang awalnya hanya ingin sendirian datang kesini, justru berdua dengannya. Dia memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu masuk. Aku hanya mengekori keinginannya. Kami tetap terdiam hingga dua buah cangkir terhidang dihadapan kami. Aku dan dia saling mencuri pandang.
"Bagaimana kabarmu?" Aku akhirnya membuka suara.
"Seperti yang kau lihat." Dia tersenyum begitu indah padaku. "Tidak aku sangka akan bertemu denganmu disini. Rasanya seperti reuni tak terduga."
"Hn."
"Aku senang bisa mendengar kata 'hn'-mu lagi." Dia tertawa kecil.
"Sudah dua belas tahun lamanya aku tidak mendengar tawa kecilmu." Satu sudut bibirku naik keatas.
"Sungguh aneh rasanya bertemu denganmu kembali. Kau yang dulu selalu memanggilku dengan kata sayang, sekarang sudah tidak lagi." Dia terkekeh kecil.
"Aku tidak akan berhenti mengucapkan kata sayang jika saat ini kita masih bersama," ujarku padanya dengan nada yang lirih.
Dia tersentak dengan ucapanku. Kata-kata itu terlontar begitu saja dari kerongkonganku.
"Kau tumbuh dengan sangat sehat. Wajahmu cukup berubah. Kharismamu semakin terlihat. Aku senang bisa melihatmu kembali." Dia memasukkan gula pada kopi itu.
"Kau juga. Semakin cantik walau sudah memiliki seorang anak," balasku.
"Kau pernah melihatku bersama Kiyoshi?" Dia menutup mulutnya dengan jari-jari manisnya.
"Jadi namanya Kiyoshi?" Aku tersenyum miris.
"Ah, dia anak lelakiku satu-satunya."
Aku memainkan sendok kecil pada secangkir kopi. "Kau, apakah sungguh bahagia bersamanya?"
"Maksudmu?" Dia menatapku heran.
"Tidak ada," ujarku berbohong. Aku menolehkan kepalaku disebelah kanan. Mengikuti punggung orang lain melalui onyx-ku.
"Sasuke. Bisa kau lihat wajahku sejenak?" Pintanya.
Aku menarik dan melepaskan nafasku. Aku memandangi wajah cantiknya. Itu yang dia pinta dariku.
"Kau, apakah masih belum merelakanku?" Tanyanya dengan nada suara kecil.
"Jika saja kita bertemu saat aku sudah memiliki pekerjaan, apakah kita akan bersama?" Ah, tidak. Kata itu terlontar begitu saja. Apa yang sudah aku katakan padanya.
Aku dan dia sama-sama terdiam. Dia belum menjawab pernyataanku. Sepertinya dia sedang merenungi apa yang sudah aku katakan.
Akhirnya, dia tersenyum padaku. "Jangan mengatakan hal yang abstrak. Kenyataannya takdir sudah membelenggu dalam jiwa kita. Tuhan menentukan itu. Kita yang lahir di waktu yang berbeda juga sudah memiliki jalan yang berbeda."
Aku terdiam. Bola mataku masih fokus padanya.
"Aku senang dulu kita pernah bersama. Waktu yang dulu pernah kita habiskan sungguh luar biasa. Kita bisa tertawa, berpelukan, bergandengan tangan, dan juga tersenyum bersama. Itu tidak akan pernah aku lupakan. Itu akan aku simpan dalam harta karun kenanganku. Terima kasih banyak sudah pernah menjadi milikku."
Dia berhenti sejenak. Mencicipi kopinya. Bibirnya kembali terbuka untuk melanjutkan isi hatinya. "Saat ini, kita sudah berbeda. Aku sudah memiliki suami dan anak. Walau dulu aku tidak mencintainya, tetapi seiringnya waktu perasaanku berubah. Cinta itu datang begitu saja tanpa aku sadari. Aku sungguh mencintainya sekarang. Jadi, apapun yang terjadi dimasa lalu, tidak akan pernah aku sentuh lagi. Aku harap kau mengerti maksudku. Bukankah dulu kita sudah sepakat untuk saling merelakan? Karena itu, aku harap kau jangan membuka kotak masa lalu. Jika kau tetap bermain dikotak itu, kau akan terus terjerumus disana. Jadi, bukalah hatimu untuk orang lain. Jangan membukanya secara paksa, bukalah secara perlahan."
Aku mencoba mendalami setiap kata demi kata yang terucap darinya. Itu adalah isi perasaanya saat ini. Sedikit menyakitkan, tetapi membuatku tersadar. Dia benar. Aku terlalu lama melintasi lingkaran itu.
"Aku mengerti." Senyuman samar mengukir disudut bibirku. Walau sebenarnya hatiku terlihat menyedihkan.
"Aku senang kali ini kau tidak keras kepala seperti saat perpisahan kita dulu," ucapnya begitu lembut.
Aku tersenyum padanya. "Itu sudah begitu lama. Cara berpikirku tidak sama seperti dulu."
"Aku senang bisa melihat senyummu lagi. Sungguh hangat."
"Terima kasih." Ujarku padanya. "Kau tidak bersama anakmu?"
"Tidak. Dia dan suamiku sedang mengunjungi rumah mertuaku. Mungkin nanti malam mereka akan pulang."
"Kau tidak ikut?" Tanyaku.
"Tidak. Aku sedang ada urusan tadi."
"Kiyoshi itu, Dia sangat mirip denganmu."
"Hahaha... Dia seperti kembaran kecilku. Tetapi versi pria," katanya begitu bersemangat.
Kami menikmati secangkir kopi yang pahit dan manis itu. Tidak ada kata yang terucap lagi setelah itu. Orang-orang yang lalu lalang sedang menarik perhatian kami. Mungkin kami sedang canggung. Sekian lama tidak bertemu dengannya, aku bingung harus membahas apa.
"Kopi kita akan habis. Apakah kita akan melanjutkan reunian?" Tanyaku padanya saat kulihat air hitam milikku dan miliknya sudah begitu sedikit.
"Tentu saja. Mumpung hari ini aku bisa bertemu denganmu. Ayo kita berkeliling bersama," Jawabnya begitu mantap.
Aku dan dia berjalan bersama dengannya. Keluar dari kafe kopi yang ramai itu. Kaki-kaki kami melangkah serasi. Tanganku dan tangannya sama-sama menggantung kantong plastik dan juga kantong kertas. Kami menyisiri trotoar yang ramai dengan makhluk Tuhan. Muda, tua, tinggi, pendek, gemuk dan kurus, kami lintasi mereka.
Kami masuk ke sebuah toko peralatan sekolah. Wanita yang bersamaku ini ingin membeli sebuah kotak pensil untuk anaknya. Toko dengan warna lampu yang cukup terang itu menyinari kami yang sedang memilih-milih kotak pensil. Hamparan kota pensil dengan berbagai warna dan bentuk menyulitkan dia untuk memilih yang terbaik. Aku mengikuti kemana tangannya bergerak. Cukup lama kami menyeleksi kotak pensil itu.
Tangan rampingnya berhenti pada sebuah kotak pensil berwarna abu-abu. "Bagaimana dengan yang ini?" Tanyanya padaku.
"Bagus." Jawabku singkat.
"Aku akan mengambil yang ini saja. Semoga Kiyoshi menyukainya." Dia tersenyum kecil.
"Hn."
Kami berjalan menuju meja kasir yang ada didepan sana.
"Melihat alat-alat tulis ini, mengingatku sewaktu menjadi guru privatmu dulu." Dia bernostalgia disela-sela antrian pembayaran.
Dia benar. Aku jadi teringat masa disaat dia menjadi guru privatku dulu. Senyuman tersungging diwajahku, "kau benar."
"Aku senang bisa berbagi ilmu denganmu dulu," ucapnya begitu manis.
"Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk mengajariku," balasku padanya.
Satu kotak pensil sudah berhasil masuk dalam kantong belanjaannya. Kami kembali menapakan kaki pada trotoar abu-abu itu. Jarum jam ditanganku terus bergerak. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Aku mau mampir ke restoran kecil itu. Aku ingin membeli kue," ujarnya padaku.
Aku mengiyakan keinginannya. Langkah kaki kami mengikuti jejak-jejak orang yang juga ingin menuju bakery & cafe itu. Tidak memakan waktu yang lama, kami sudah memasuki bangunan berwarna biru muda itu. Disana terlihat cukup ramai.
Etalase kaca berisi kue-kue itu seperti memanggil-manggil kami. Dia menarik salah satu tanganku untuk segera menuju kesana. Bola matanya berbinar saat melihat kue-kue dengan berbagai warna itu.
"Terlalu banyak pilihan," ucapnya tanpa menoleh padaku. Air wajahnya menyiratkan kebingungan.
"Pilih yang paling kau sukai," ujarku.
"Aku bingung," dia mengerutkan keningnya. "Hei, lihat kue itu! Kita dulu pernah mencoba membuatnya, kan?" Dia menunjuk sebuah kue yang menjadi andalan toko itu sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Hn." Aku mengangguk. "Dan kita gagal. Rasanya sama sekali tidak enak," sindirku padanya.
"Hahaha... Kau benar," dia tertawa kecil dan menepuk bahuku pelan. "Itu kue terburuk yang pernah kita buat," ucapnya lagi. Matanya tenggelam dalam lengkungan kelopak indah itu.
Aku tersenyum melihat wajah indahnya.
Bola mataku bergerak keseluruh penjuru ruangan itu. Pikiranku mengatakan bahwa ada seseorang yang aku kenal disini. Ada gadis berambut blonde yang memunggungiku. Tingkahnya sedikit aneh. Rasanya warna rambut itu pernah aku kenal. Disampingnya ada temannya yang aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Wajahnya tertutup buku menu. Hanya jemarinya yang terlihat. Mungkin dia sedang memilih menu.
"Aku mau yang ini saja," ujar wanita disampingku. Akhirnya, dia berhasil menemukan kue yang diinginkannya.
Aku mengalihkan pandanganku padanya. Dia menunjuk sebuah kue berwarna cream dan ungu dengan taburan buah blueberry diatasnya.
"Hn." Aku menyetujui pilihannya.
Aku kembali mengamati semua pengunjung di ruangan ini, kecuali wanita disampingnya. Rasanya ada sesuatu yang ganjil. Firasatku masih memberontak mengatakan ada seseorang yang aku kenal disini. Sampai akhirnya aku menyerah saat tanganku ditarik oleh wanita yang sepuluh tahun lebih tua dariku.
Dengan kepala menuju kedepan, aku menyeret kedua belah kaki, menuju keluar bangunan itu, bersama dia. Udara malam mendayu-dayu dikulit kami. Aku melihat keatas, langit malam ini tampak begitu riang. Bintang-bintang saling berkelap-kelip memperindah keanggunan sang primadona, Bulan.
"Dulu, awal pernikahanku dan suamiku begitu hambar. Aku merasa tidak bisa memberikan perasaanku padanya. Kau tahu, aku sungguh tidak bisa melupakanmu saat itu. Hahaha... Hari-hari awalku terasa begitu berat. Aku selalu tersenyum dan tertawa palsu padanya. Aku seperti seekor ular yang berkepala dua. Aku sungguh menyesali itu." Ibu beranak satu itu mencurahkan isi hatinya yang tidak aku ketahui dulu.
Aku melirik wajahnya.
"Sekarang, aku sungguh sangat mencintainya. Aku seperti sedang menerima karma. Aku selalu melakukan yang terbaik padanya untuk membayar seluruh penyesalanku," ucapnya penuh kelembutan.
"Aku mengerti," kataku pelan.
"Kau tahu, rasanya aku seperti seorang pedofil saat mengencanimu. Hahaha... Aku hanya bercanda." Dia tertawa kecil.
"Kau benar." Seringai kecil mengalir dibibirku.
"Maaf sudah melukai perasaanmu dulu. Pilihanku begitu berat saat itu. Aku hanya memikirkan hal yang terbaik untuk ayahku," katanya dengan suara lirih.
Aku tidak menjawab perkataannya. Apapun yang salah dengannya, aku akan selalu memaafkannya. Aku tidak pernah bisa membencinya.
"Hei, sampai disini saja. Aku akan menunggu taksi disini," kaki berhak tinggi itu berhenti dipinggir trotoar.
"Kau tidak ingin aku antar?" Tawarku.
"Tidak perlu. Itu akan merepotkanmu." Dia menggelengkan kepalanya. Dia mengambil seluruh kantung belanjaannya dari tanganku.
"Hn." Jawabku.
Kami saling menggerakan kepala kami menuju arah kiri, mencari taksi yang mungkin sedang melintasi jalanan ini. Sesekali aku mencuri pandangan kearah wajahnya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadanya sebelum dia pergi.
"Koyuki..." Aku memanggil namanya.
"Hmm..." Dia menoleh kearahku. Jarak aku dan dia dekat. Dia memandangku dengan heran.
"Aku akan merelakan seluruh sisa-sisa perasaanku padamu. Kau akan kembali kerumahmu, bertemu dengan anak dan suami yang sangat kau cintai. Kali ini, biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya." Aku serius memohon padanya.
Dia tersenyum kecil padaku. "Hahaha... Boleh saja. Asal kau tidak mengatakan ini pada suamiku. Dia akan cemburu berat." Dia terkekeh kecil. Aku sungguh menyukai wajah cerianya.
"Kemarilah..." Pintanya padaku. Angin malam menerbangkan rambut panjang halusnya. Sinar lampu jalan menyinari wajah manisnya. Sungguh, seperti bidadari.
Aku mendekati dirinya. Tanganku langsung melesat pada punggungnya. Melingkari tubuh langsingnya. Aku memeluknya dengan penuh kehangatan, walau dia tidak membalasnya. Aku memejamkan mataku. Menghirup aroma manisnya. Rasanya sudah begitu lama aku tidak memeluknya. Dia adalah mantan kekasihku, Koyuki Kazahana.
Aku memeluknya tidak lama. Kembali melepaskan pelukanku padanya. Aku dan dia sama tersenyum hangat.
"Mulai sekarang, bukalah hatimu untuk wanita yang jauh lebih baik dariku. Jangan tergesa-gesa, biarkan itu mengalir perlahan," pintanya.
"Hn. Seseorang sedang berada dibenakku sekarang."
"Aku senang mendengarnya."
"Selamat tinggal kekasihku terdahulu, Koyuki," ucapku padanya begitu lembut.
"Selamat tinggal juga, Sasuke." Lengkungan indah mewarnai wajahnya.
"HEI, KAU YANG BERNAMA SASUKE!" Teriak seorang wanita dengan lantang secara tiba-tiba.
Aku dan Koyuki melihat wanita yang sedang berdiri lima meter dariku. Rambut blonde yang terpapar cahaya lampu jalanan. Satu tangannya mengepal erat. Aku bisa merasakan auranya sedang terbakar.
"Kau..." Aku tahu, dia Ino, teman Sakura yang datang kerumah Naruto waktu itu.
Gadis itu berjalan menuju arahku dan Koyuki tanpa mengucapkan sepatah kataku. Air wajahnya tampak begitu kesal. Kepalan ditangannya masih bertahan.
Buk!
tanganya melesat cepat kearah tubuhku. Dia berhasil meninju bagian perutku. "Itu untuk kekesalan Sakura padamu!" Sahutnya begitu lantang. Dia memandangku dan Koyuki begitu sinis. kemudian dia berlari meninggalkanku dan Koyuki.
Sakura. Dia baru saja mengatakan Sakura. Bola mataku tertuju kedepan kearah dimana Ino berlari. Apakah dia sedang bersama Sakura sekarang? Tapi, aku tidak menemukan gadis merah muda disekitar trotoar ini.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Tanya Koyuki dengan cemas. Satu tangannya berada dibahu kiriku.
"Aku baik-baik saja." Aku mengelus perutku yang ditinjunya tadi. Tidak begitu sakit.
"Siapa dia?"
Aku menghembuskan nafasku pelan. "Teman Sakura." Pandanganku masih tidak teralihkan dari punggung Ino hingga akhirnya dia menghilang diantara pejalan kaki lainnya.
"Sakura yang dia maksud apakah dia orang yang sedang menyita pikiranmu?"
Aku diam tidak menjawab pertanyaan mantan kekasihku. Pikiranku masih menerawang pada kejadian barusan. Kenapa Ino begitu marah padaku? Kekesalan Sakura apa yang dimaksudnya? Apa karena sikap dinginku tadi? Bukankah dia sudah memaafkannya? Ck! Aku berdecak kesal.
.
.
To be continued
.
.
Author note:
Terima kasih banyak bagi yang sudah menyempatkan me-review chapter sebelumnya.
Akhirnya saya mengungkapkan siapa orang dimasa lalu Sasuke. Saya lebih suka menggunakan nama Koyuki Kazahana, nama aslinya, daripada nama panggungnya Yukie Fujikaze, untuk story ini.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya. Love u all.
