Two Sides Girl's Butler
Chapter 7: Why?
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai),de-el-el.
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
.
.
.
Pagi yang cerah di Konoha International High School. Matahari bersinar terang, angin berhembus sejuk, dan langit bewarna biru lembut. Para pelajar, baik pria atau wanita saling menyapa dengan riang, siap menyambut hari. Ya, semua wajah yang memasuki gerbang KIHS terlihat begitu ceria dan bersemangat.
Yah, kecuali...
Naruto menatap tajam Sasuke yang sedang membaca buku dengan pandangan menusuk. Giginya bergemerutuk keras dan kedua alisnya saling bertautan, menandakan bahwa dia sedang murka. Aura hitam pekat menguar dari badannya dan itu membuat semua orang yang berada dalam radius 2 meter darinya langsung menyingkir. Tapi Naruto tak peduli. Dia terus menatap Sasuke dengan pandangan mematikan nyaris tanpa berkedip.
1 menit...
2 menit...
5 menit...
"Hentikan," kata Sasuke tanpa mengalihkan perhatian dari bukunya. "Kau membuatku merasa tidak nyaman." Lanjutnya lagi dengan nada tak acuh seperti biasanya. Mendengar itu Naruto menggeram.
"Makanya ceritakan apa yang terjadi!" teriak Naruto kesal. Dia sudah memohon berkali-kali pada Sasuke untuk memberitahunya tentang insiden tadi pagi, tapi Sasuke tidak mengatakan apapun!
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa, Bodoh." Sahut Sasuke dingin.
"Aku tidak percaya!" lengkingnya lagi.
"Terserah."
"Huh!" Naruto menggembungkan pipinya cemberut, kesal dengan sikap Sasuke yang mengacuhkannya. Memang apa salahnya meminta penjelasan? Toh, si Sasuke juga sepertinya menyembunyikan sesuatu. Wajar, kan, kalau dia bertanya?
Apalagi kalau kejadiannya seperti itu.
Flashback.
Kukuruyuk...
Naruto terbangun dengan mata masih setengah terpejam. Kepalanya terasa sangat berat dan seluruh badannya sakit, seperti baru saja duduk di dalam bus selama berjam-jam. Pusing, kantuk, dan mual menyergapnya begitu dia bergerak. Padahal dia yakin kalau dia tidur nyenyak semalam.
"Erggh.." erang Naruto sambil meregangkan tangannya. Dalam hati dia merutuk. Sudah beberapa minggu ini dia seperti ini terus.
'Menyusahkan saja' batin Naruto kesal seraya membalikkan badannya ke arah kiri. 'Kalau seperti ini terus aku bi-'
DEG.
Naruto merasa wajahnya tenggelam dalam sesuatu yang hangat.
'Eh?' batin Naruto heran. Kenapa tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang kembang kempis, ya? Lalu kenapa mendadak dia mendengar suara seperti degup jantung?
Dengan perlahan, Naruto mendongakkan wajahnya ke atas.
"..."
SIINGG...
Sunyi senyap.
"HYAAA!"
End Flashback.
Gadis itu menggoyang-goyangkan kepalanya cepat, berusaha menyingkirkan bayangan Sasuke dari benaknya. Dia sangat syok begitu mendapati Sasuke tengah tidur di sampingnya ketika dia membuka mata tadi pagi. Awalnya dia pikir itu hanya ilusi, tapi saat dia membalikkan badan dan wajahnya menyentuh dada Sasuke, gadis itu langsung tahu bahwa dia salah. Sasuke benar-benar...
'Tidak...' batin Naruto frustasi. 'Tidak mungkin Sasuke akan melakukan hal itu... Mustahil dia men-'
"Lupakanlah."
"Heh?"
"Lupakan apa yang terjadi dan jangan bertanya padaku lagi." Ulang Sasuke sembari menutup bukunya dan memberi penekanan khusus pada kata 'terjadi'. "Karena memang tidak ada apa-apa." Lanjutnya begitu melihat Naruto yang cuma tercekat mendengar kata-kata Sasuke. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi Sasuke beranjak dari kursinya. Ya, dia tidak akan mengatakannya. Dia tidak akan mengatakan bahwa dia telah ti-
"Mana mungkin aku melupakannya."
Langkah Sasuke terhenti.
"Mana mungkin aku melupakan kejadian seperti itu. Kau benar-benar bodoh." kata Naruto dengan kepala tertunduk dalam, seolah kepalanya tertarik oleh gravitasi bumi.
"..."
"..."
"Tidak mungkin lupa..."
Mata Sasuke membesar.
'Naruto...'
"Mana mungkin aku melupakannya! Siapa tahu kau berniat membiusku malam itu untuk mencuri ketampanan, kesempurnaan, dan kekuatanku! Asal kau tahu, Sebastian Michelis saja dapat menyerap jiwa orang, apalagi kau yang melebihi iblis ini! Dan kau menyuruhku untuk melupakannya? Yang benar saja!" seru Naruto berapi-api. Tangannya terkepal erat dan rasanya Sasuke dapat melihat semburan asap dari hidungnya.
"Kau..."
"Makanya cepat kau jelaskan padaku, sebenarnya apa yang kau incar! Ketampananku, kekuatanku, atau apa? APA? Apa yang kau mau sampai kau rela tidur di kamarku, hah?" teriak Naruto dengan suara nyaring, tidak sadar kalau semua orang yang mendengar kata-katanya langsung berjengit dan memekik kaget.
"APA?"
"Kenapa sih, kalian? Tidak lihat orang lagi bicara?" bentak Naruto sewot sambil melempar deathglare pada kerumunan orang di belakangnya. Apa-apaan sih, mereka? Kenapa tadi mereka berteriak seperti itu? Menganggu orang saja. Apa mereka tidak tahu ka-
"Naruto..."
"Eh?" responnya sambil memutar kepalanya ke belakang, hendak melihat Sasuke yang mendadak memanggilnya.
GLEK!
Sa-Sasuke...
"Kenapa tiba-tiba di belakangmu ada ular derik raksasa, ya?" tanya Naruto ketakutan setengah mati dengan ekspresi Sasuke yang sudah seperti pembunuh psikopat dan sebuah ular yang entah kenapa muncul di belakang punggungnya.
.
.
.
Sasuke melompati semak yang tumbuh di dekat lapangan dengan kakinya yang panjang dan berlari menyebrangi lapangan olahraga. Napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran dari dahinya. Rambutnya tersibak dan jasnya melambai-lambai dipermainkan angin, membuat sosoknya semakin menarik untuk dipandang.
"Jangan lari kau!" seru Sasuke mengejar sosok di depannya. Sosok itu berbalik, lalu menjulurkan lidahnya.
"Tangkap aku kalau kau bisa!" tantang si pirang berandalan itu sambil tertawa ngakak, kemudian mempercepat larinya hingga melesat jauh di depan Sasuke.
"Cih! Si bodoh itu selalu membuat masalah." Gerutu Sasuke stay cool. Dia sudah berhenti mengejar Naruto dan memilih untuk beristirahat di bawah pohon. Anak itu lari secepat cheetah setelah keceplosan bicara dan menerima deathglare mematikan Sasuke. Dia sampai melompat dari lantai 3, memanjat pohon, dan menyebrangi lapangan demi menghindari Sasuke. Dasar.
Sasuke memejamkan matanya dan menyisir rambut dengan tangannya, menikmati hembusan angin yang memainkan dedaunan dan menimbulkan suara gemerisik semak. Naruto itu... selalu membuatnya lelah. Dia sangat hiperaktif, tidak bisa diam, dan suaranya keras. Dia juga ber-IQ jongkok. Dia sering bertindak tanpa berpikir dulu dan berbuat seenaknya.
Tipe orang yang mati muda.
Tapi dia memiliki daya tarik yang membuat semua orang menjadi merasa nyaman berada di dekatnya. Energi, semangat, dan gairah kehidupan yang dimilikinya begitu besar sehingga siapapun mengira kalau dia tidak pernah punya masalah. Walaupun terkadang suka mengamuk dan menendang orang seenaknya, dia memiliki jiwa yang kuat.
Sesuatu yang tidak dimiliki Sasuke.
Dan itulah yang membuatnya kehilangan 'dia'.
'Kenapa kau selalu bertingkah seolah-olah kau akan mati besok, Sasuke? Tersenyumlah! Kau kan, tampan.'
"Mana mungkin aku bisa melakukannya..." bisik Sasuke lirih di antara gemerisik semak. Masa lalu menguasainya lagi, masa lalu dimana dia masih memiliki semangat untuk hidup dengan wanita yang dicintainya. Ya, seorang wanita yang amat dicintainya hingga dia rela melakukan apapun untuknya.
Seorang wanita yang sangat mirip dengan bocah pirang itu...
"Hei! Aku bicara padamu!"
Sasuke tersadar dari lamunannya dan mendongak, hendak melihat siapa yang barusan bicara padanya.
Sai.
"Mau apa kau?" tanya Sasuke to the point. Dia benci diganggu di saat-saat seperti ini.
"Aku butuh penjelasan darimu soal Naruto," ujar Sai datar. "Tentang bagaimana dia bisa seperti itu dan juga tentang kau yang tinggal bersama dengannya. Aku ingin tahu." Lanjutnya lagi. Sasuke tersenyum sinis.
"Itu bukan urusanmu," katanya dingin seraya bangkit berdiri dan berjalan melewati Sai. "Kau hanya cukup menggambar untuknya. Itu saja." Sambungnya dengan nada sedatar-datarnya, menunjukkan bahwa dia tidak peduli.
"Aku menyukainya."
Langkah Sasuke langsung berhenti.
"Aku menyukainya sejak pertama kali kami bertemu, saat dia menendangku demi melindungi temannya. Ketika itu aku amat kesal karena ditendang oleh makhluk tengil seperti dia. Tapi begitu tahu dia perempuan, aku jadi terpesona dengannya yang berani melawan kami. Dan sejak saat itu, aku bertekad untuk mendapatkannya." Ujar Sai panjang lebar dengan wajah merona merah.
"..." Sasuke tidak bereaksi.
"Kupikir... dia belum menjadi milik siapa-siapa, hingga aku sampai pindah sekolah demi mendapatkan dia. Tapi aku tidak menyangka kalau kau dan dia-"
"Dikutuk."
"Eh?"
"Naruto... dia akan kehilangan jiwanya pada saat malam hari, dan aku ada untuk menjaganya. Hanya ini yang bisa kukatakan padamu." Jelas Sasuke singkat dengan wajah tanpa ekspresi.
Sai membelalakkan matanya.
"A-apa?" tanya Sai tak percaya.
"Kau sudah mendengarku" kata Sasuke dingin. "Dia dikutuk dan kau tidak akan bisa memilikinya." Lanjutnya sambil berlalu, meninggalkan Sai yang kini diam mematung.
"..."
Brak.
Sai terjatuh dengan kedua lutut sebagai tumpuan badannya. Badannya bergetar hebat dan wajahnya 2 kali lebih pucat dari biasanya. Apa katanya tadi? Na-Naruto... dia dikutuk?
Lalu...
Jiwanya... menghilang pada malam hari?
Mata Sai melebar ngeri. Bayangan Naruto yang berubah mendadak ketika berada di Konoha Land berkelebatan di benaknya.
Nada suara bak berasal dari jauh...
Wajah tanpa ekspresi...
Dan mata kosong seperti orang mati itu...
"..."
'Tolong... siapa saja, tolong aku... Tolong katakan kalau semua ini bohong!'
.
.
.
Sasuke berjalan di koridor tanpa suara. Otot wajahnya menegang dan giginya bergemerutuk keras. Kedua tangannya yang tersembunyi di dalam saku terkepal erat seakan ingin menonjok wajah seseorang.
"Aku menyukainya."
"SIAL!" geram Sasuke sambil meninju dinding dengan keras. Kata-kata Sai terus terngiang-ngiang dalam kepalanya bagaikan perekam suara yang diputar. Dan itu membuat dada Sasuke naik-turun saking geramnya dia.
Bukankah Sai sudah tahu kalau dia adalah butler Naruto? Lalu apa-apaan sikapnya itu! Mendekati Naruto dan mengatakan 'suka' di depannya. Apa dia tidak pernah berpikir kalau dia bisa saja membantai mayat seperti dia dalam sekali kipas, ha?
'Jaga baik-baik Naruto.'
Deg! Jantung Sasuke seakan mau berhenti.
Ku-Kushina-hime...
'Baik-baiklah padanya.'
"..."
' Jangan biarkan ada seorang laki-laki pun mendekati dia'
"..."
'Atau kau akan kubantai.'
"..."
'Khekhekhe...' kini kata-kata Sai berganti dengan ucapan Kushina yang meneleponnya tempo hari, ucapan yang memiliki kadar kriminalitas tinggi serta tawa iblis yang mampu membuat merinding seorang Uchiha berhati batu seperti dia sekalipun.
"Po-pokoknya... jauhkan dia dari Sai. Jauhkan semua laki-laki dari Naruto. Ya... harus..." gumam Sasuke OOC dengan badan gemetaran. Kepalanya sekarang dipenuhi dengan bayangan Kushina yang menyodok-nyodok boneka Saskay-kun di ruang bawah tanah...
"Sasuke? Ngapain kau pundung disitu?" tiba-tiba terdengar suara peranakan ratu iblis(Kushina) dari arah belakang.
"Bukan urusanmu." Sahut Sasuke kembali cool seraya bangkit dari keterpurukannya. Ketampanan dan ke-jaim-an seorang Uchiha kini telah kembali.
"Sepertinya wajah tanpa ekspresi itu sudah jadi trademarkmu, ya? Oh, ngomong-ngomong, kau tahu nomor telepon ambulans?" tanya Naruto gelisah. Sasuke mengangkat alisnya.
"Siapa yang mati?" tanyanya tanpa intonasi. Mendengar itu hanya Naruto menatap sedih Sasuke.
"Sai."
.
.
.
"Psst... Kasihan sekali, ya, Sai. Badannya sampai lemas seperti jeli begitu."
"Iya, macam tak bertulang."
"Badannya juga dingin."
"Kau tahu kalau denyut nadinya sangat lambat?"
"Ya. Dan tadi aku merasakan ada hawa dingin keluar dari mulutnya. Mungkin itu rohnya, kali, ya?"
"Sayang, ya... sampai sekarat begitu. Memang apa yang terjadi dengannya, sih?"
"Entahlah. Tapi dengan denyut jantung selambat itu sempat-sempatnya dia mengigau. 'Malam...', 'Mata...', dan 'Ayam kampung sialan' katanya."
GUBRAK
"Berhenti menggosipkan Sai, atau riwayat kalian tamat." Desis Naruto penuh ancaman setelah menendang meja gerombolan penggosip dengan sebelah kakinya. Aura berbahaya pemegang ban hitam di seluruh cabang bela diri menguar dari badannya.
"Ma-maafkan kami, Namikaze." Ujar mereka takut dengan badan mengkeret. Bahkan ada diantara mereka yang langsung terserang bronkhitis.
"Huh!" dengus Naruto sembari meninggalkan kerumunan penggosip itu dan berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas. "Kenapa dengan Sai? Kenapa mendadak dia seperti melihat setan begitu?" gumamnya nggak jelas, namun cukup jelas bagi Sasuke yang duduk dengan pose cool(seperti biasa) di dekatnya.
"Kau tahu sesuatu, Saskay?" tanya Naruto cemas. Sasuke menggeleng.
"Tidak."
"Cih! Dasar tidak berguna! Tampangmu saja yang lumayan, tapi otak cekak." Hina Naruto ilfil. Dia memang lagi uring-uringan karena Sai mendadak sakit. Padahal gambar karakter anime yang dipesannya belum siap.
Oh... jadi itu alasanmu, Naruto...
Sasuke memasang tampang 'i don't care'nya dengan santai. Dalam hati dia merasa senang. Ya, apalagi yang menyebabkan Sai sampai syok setengah mati kalau bukan tentang kutukan Naruto? Lagian si Sai itu juga bodoh. Mudah sekali percaya pada orang(tapi tentang kutukan itu benar,kok). Kalau dia sih, tidak akan percaya begitu saja. Apalagi tentang kutuk-mengutuk seperti itu.
"Aku pergi."
"Eh?"
"Daripada aku khawatir nggak guna disini, lebih baik aku menjenguknya di rumah sakit. Hei, Neji. Tolong katakan pada Kurenai-sensei kalau aku izin pulang, ya." Teriak Naruto pada Neji yang berjarak 3 meter darinya. Neji mengangguk cuek.
Sasuke terpaku menatap kepergian Naruto. Otaknya masih sibuk membayangkan kemungkinan terburuk jika Naruto benar-benar menjenguk Sai.
"Aku ikut." Tegas Sasuke seraya bangkit berdiri dan berjalan di belakang Naruto. Kata 'kubantai' yang dikatakan Kushina merasukinya sampai sum-sum tulang belakangnya.
"Tidak! Mana mungkin aku membiarkanmu pergi! Kau pasti membuat masalah dengannya!" tolak Naruto cepat sambil mendorong Sasuke menjauh.
"Sudah pasti, kan? Mana mungkin aku tidak membuat masalah kalau hal itu bisa membuatnya benar-benar mati?" tanya Sasuke innocent sambil memiringkan kepalanya dengan bingung, membuat Sasuke FG yang kebetulan lewat langsung mimisan.
"Hah!" seru Naruto penuh keyakinan dengan telunjuk mengarah ke hidung Sasuke. "Kau sendiri mengakuinya! Karena itu kau tunggu saja disini sampai aku kembali dan jangan pernah mengikutiku!"
"Perintah ditolak." Sahut Sasuke tenang sambil berlalu, berjalan mendahului Naruto yang masih syok dengan 'penolakan blak-blakan' begitu.
"Tidak boleh!" teriak Naruto berlari sekencang-kencangnya. "Kau tidak boleh ikut! Kalau Sai marah dan tidak mau menggambar lagi untukku gimana, hah?" lanjutnya setelah menerobos kerumunan orang di koridor. Sasuke mengejarnya secepat kilat dan sekarang hanya berjarak 1 meter darinya!
"Cih! Kau kira aku akan mendengarkanmu?" cibir Sasuke di sela-sela larinya. Sial, anak itu cepat sekali. Kombinasi dari tubuh yang sering dilatih, kaki yang panjang, dan kepala yang tidak ada isinya pasti membuat tubuhnya ringan dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Sasuke mempercepat larinya. Walaupun Naruto sangat kuat fisiknya, dia tetaplah seorang perempuan. Dan perempuan itu lebih lemah daripada laki-laki.
'Sasuke sialan! Sampai kapan dia mau mengejarku?' rutuk Naruto dalam hati. Kakinya terus berlari di sepanjang koridor, sesekali melompati orang-orang yang lewat. Dia harus kabur dari Sasuke! Kalau tidak...
BRUAKKK!
Mendadak Naruto merasakan tubuhnya terasa seperti melayang.
Dan jatuh.
"A-aduh..."ringis Naruto kesakitan. Tangannya memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Matanya menyipit tajam. Apa yang terjadi? Kenapa mendadak dia jatuh di lantai seperti ini?
"Kau pikir kau bisa lari dariku?" terdengar suara yang paling tidak ingin didengar Naruto saat ini. Dengan ngeri Naruto mendongak keatas dan melihat Sasuke menyeringai licik padanya sambil mencengkram kepalanya kuat, seakan mau meremukkannya.
"Sa-Sasuke? Sejak kapan kau ada di depanku? Perasaan tadi-belakang..." gagap Naruto dengan suara semakin lama semakin mengecil. Jujur, dia sangat kaget. Selama ini tidak ada manusia yang bisa mengejarnya(selain Kushina dan Minnato, tentunya). Palingan cuma si Lee dan dia tidak usah dianggap-dia bukan manusia. Tapi Sasuke...
"Nah, sekarang ayo kita jenguk Sai dan buat dia menjadi mayat sungguhan." Desis Sasuke sadis dengan seringai setan di bibirnya. Kemudian dia menyeret Naruto yang mendadak berkeringat dingin begitu melihat senyum iblis Sasuke.
'Tidak... TIDAK! Kau tidak boleh ikut!'
"HEAATT!"
Lalu tanpa basa-basi dia langsung melompat kearah pemuda itu dan mengayunkan kakinya sekeras mungkin tepat di depan wajahnya.
Bruk.
"Kau sedang menari balet?" cemooh Sasuke dengan pandangan mencela. Dipeganginya kaki kanan Naruto dan diangkatnya gadis itu sehingga posisi Naruto sekarang kaki diatas kepala dibawah.
"Hei lepaskan kakiku!" teriak Naruto berusaha masih berusaha menendang. Kekagetan menyelimuti wajahnya. 'Siapa dia? Kenapa dia bisa dengan mudah menangkis seranganku secepat itu dan mengangkat tubuhku dengan sebelah tangan saja?'
"Baik."
DUK
"AKH! Hidungku!" ringis Naruto dengan hidung yang mengucurkan darah. Ya ampun... memangnya seberat apa sih, badannya? Sampai mengeluarkan bunyi keras begitu...
"Apa yang kau lakukan, ha? Mau membunuhku, ya?" seru Naruto sembari menutupi hidungnya yang berdarah. Sasuke mengangkat bahu.
"Aku hanya melakukan apa yang kau perintahkan." Jawabnya enteng tanpa merasa bersalah. Mendengar itu Naruto langsung menggeram marah seperti kucing.
"Dengan resiko membunuhku? YANG BENAR SAJA! DASAR KAU SIALAN!" teriaknya emosi. Wajahnya merah padam dan urat darah bermunculan dari dahinya. Mengerikan.
"Kau bodoh." Balas Sasuke tak kalah menyakitkan. Bahkan kata-katanya lebih menusuk karena didukung oleh wajahnya yang stoic dan tatapan merendahkannya itu.
Mata Naruto membelalak murka. Dadanya naik turun saking marahnya dia. Bodoh? Bodoh katanya?
"Kau... beraninya kau... aku-AKU BENCI PADAMU!" teriak Naruto naik darah. Si Pantat Ayam itu sudah bersalah, dan bukannya meminta maaf, dia malah mengejeknya?
DEG!
'Kau jangan menjadi orang yang dibenci oleh orang lain, Sasuke.'
"Kau-kau membenciku?" tanya Sasuke lirih dengan kepala tertunduk. Koridor sudah sepi sekarang, dan itu membuat Naruto dapat mendengar Sasuke dengan jelas.
"Iya! Kau itu sangat menyebalkan, kau tahu!" keluh Naruto seraya berjalan ke depan dengan kaki menghentak, meninggalkan Sasuke. "Lidahmu itu sangat tajam dan kata-katamu menyakitkan hati! Pokoknya aku sangat ben-HMPH!" Naruto memberontak. Tiba-tiba mulutnya disumpal oleh sesuatu yang amat dingin, yang baru diketahui adalah tangan Sasuke.
"Jangan... mengatakan apapun lebih dari itu." desisnya pelan tepat di telinga Naruto. Gadis itu merinding. Suara Sasuke amat mengerikan, terdengar begitu berbahaya dan mengeluarkan aura pembunuh yang menusuk jantung. Dan sepertinya dia pernah mendengar suara seperti itu. Tapi suara siapa, ya?
"..."
JDERR! Petir menyambar di belakang Naruto.
Suara itu... suara itu mirip dengan suara Kushina yang sedang kumat!
"Am-ampun... tolong ampuni aku..." pinta Naruto memohon dengan sangat. Sekujur tubuhnya gemetar.
"Katakan kalau kau tidak membenciku. Kalau tidak..." Sasuke mengeluarkan pisau dan menempelkannya di leher Naruto, membuat lehernya terluka sedikit. Naruto merinding.
"A-aku tidak membencimu! Ya, aku sangat menyukaimu, kok! Sangat! Hahaha..." ujar Naruto berdusta sambil tertawa gugup. Dia menggaruk-garuk lidahnya dengan gigi-lidahnya terasa amat gatal karena berbohong se-impossible itu.
Mendengar itu, Sasuke tersenyum lega.
"Syukurlah, kau tidak membenciku." Ucapnya lirih. Diturunkannya pisau yang tadi melukai leher Naruto dan menjatuhkannya.
'Bagaimana denganmu? Apa kau akan membenciku kalau aku terus seperti ini?'
'Ng... bagaimana, ya. Kurasa tidak akan.'
"Sa-Sasuke? Kau pakai body lotion, ya?" tanya Naruto sambil mengendus-endus lengan kanan Sasuke yang melingkari lehernya. Mendengar itu Sasuke tidak menjawab, dia hanya menarik bahu Naruto dengan lengan kirinya dan menopang dagunya sendiri di bahu gadis itu.
"Terima kasih. Aku sangat senang." Katanya lagi. Pandangan matanya kosong.
'Aduh... jangan-jangan Sasuke kerasukan lagi, nih.' Batin Naruto sweatdropped. Nih anak imannya lemah, ya? Masa' dua hari berturut-turut kerasukan terus. Mana hantunya mesum lagi! Enak saja melingkarkan kedua lengannya seperti itu. Susah bernapas, tahu!
"Eh, Sasuke..."
"Ng?"
"1+1 berapa?" tanya Naruto datar. Sasuke menjawab cepat tanpa berpikir(karena memang lagi nggak bisa mikir).
"Dua..."
"Salah. Jawabannya jendela. Dasar bodoh. Nggak cool banget." Hina Naruto dengan wajah tanpa ekspresi.
"..."
BRUAKK
"Apa katamu? Orang bodoh mengejek orang lain bodoh? Dimana otakmu, hah?" seru Sasuke dengan emosi yang jarang ditunjukkannya. Mata hitamnya mendelik dan tangannya terkepal kuat.
"Maaf. Tapi bagaimanapun juga kau tidak perlu melemparku sampai 3 meter segala, kan." Keluh Naruto meringis. Dasar psikopat! Masa' gara-gara hal sepele begitu dia sampai melempar Naruto dengan sebelah tangannya sejauh 3 meter? Padahal dia melakukan itu kan, untuk menyadarkan Sasuke!
"Tapi untuk apa kau menanyakan soal bodoh semacam itu? Jangan karena kau bodoh, levelku kau samakan dengan levelmu." Caci Sasuke pedas.
"Level, level! Level apanya! Mana mungkin aku menyamakan levelku dengan level orang yang kerasukan 2 kali sampai menodong pisau seperti kau! Lagipula untuk apa kau membawa pisau ke sekolah?" teriak Naruto dengan suara yang semakin meninggi. Sasuke mengangkat alisnya.
"Kerasukan apa, maksudmu? Kau mengigau, ya?" tanya Sasuke dengan nada mencemooh.
"Itu, saat kau menodongkan pisau ke leherku dan mencekikku dengan lenganmu!"
"Kau mengarang. Aku tidak ingat apa-apa, tuh." Sanggah Sasuke santai sambil mengangkat kedua tangannya, tak peduli.
"Walau kau tidak ingat, tapi itu benar-benar terjadi, kok!" seru Naruto bersikeras.
"Mustahil."
"Ada!"
"Mustahil."
"Ada!"
"Aku tidak pernah mempercayai orang bodoh." Ujar Sasuke datar tanpa ekspresi. Dan skak mat! Kata-katamu berhasil menusuk celah sakit hati Naruto yang terdalam!
"Uh-huh... Awas kau nanti! Akan kuhajar kau!" seru Naruto marah. Lalu dia langsung berlari ke arah utara sambil mengutuki Sasuke yang kini menatap kepergiannya dengan pandangan kosong.
"..."
"Hahaha..." Sasuke tertawa hampa. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" gumamnya pelan. Dipandanginya kedua telapak tangannya sendiri. Kenapa? Kenapa dia melakukan hal itu pada Naruto? Kenapa dia melakukan hal yang persis dia lakukan pada 'wanita itu' dulu?
Kenapa si pirang bodoh itu selalu mengingatkannya pada 'dia'? Padahal mereka sama sekali tidak mirip, bagai langit dan bumi. Naruto persis seperti laki-laki, sedangkan 'dia' adalah orang yang lembut dan penuh kasih sayang. Lalu, kenapa Naruto selalu membawa bayangan 'wanita itu'?
Bayangan yang tidak pernah bisa dilupakannya, walaupun dia sudah berusaha?
Padahal dia sudah bertekad untuk hidup dengan membuang masa lalunya dan melupakan wanita itu. Dia sudah memutuskan untuk tetap hidup. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuang semua kelemahannya dan menutup pintu hatinya...
Tapi, kenapa?
'Kenapa kau datang ke kehidupanku dan mengenggam kelemahan yang sudah kubuang, Naruto?'
'Padahal aku sudah bersumpah untuk tidak akan mencintai lagi...'
"Uchiha? Kau Uchiha dari kelas 2-A, kan?" tiba-tiba sebuah suara memuyarkan lamunannya. Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu berbalik.
Hatake Kakashi.
"Ya, ada apa, Sensei?" tanya Sasuke berusaha tersenyum, walaupun tak dapat dipungkiri kalau dadanya terasa amat dingin.
"Begini, kami dari Komite Sekolah dan Osis akan mengadakan Festival Kembang Api KIHS minggu depan. Tolong kau beritahukan seluruh anggota kelasmu, ya?" kata Kakashi-sensei. Sasuke mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu. Terima kasih, Uchiha." Ujar Kakashi seraya berlalu, tak lupa melambaikan tangan dan cengiran tak kasat mata khasnya.
"Festival Kembang Api KIHS? Sepertinya menarik." Gumam Sasuke. "Tapi apa yang harus dikenakan si Dobe itu, ya? Yukata atau hakama? Tapi dia kan tetap perempuan, jadi-"
GLEK
Tiba-tiba sebuah kesadaran mendadak menghantamnya.
'Festival Kembang Api...'
'Itu artinya...'
'Malam hari?'
.
.
.
HIATUS
Hiks...hiks... maaf,maaafff... banget. Rei udah lama publishnya, sekarang malah hiatus. Tapi Rei nggak punya pilihan lain. 2 minggu lagi Rei ujian semester dan Rei harus belajar. Jadi kira-kira rei akan hiatus selama 3 bulanan, kalo ditambah dengan musim remedial dan musim liburan. Sekali lagi Rei mohon maaf sebesar-besarnya untuk para readers. Rei janji akan segera publish chap 8 kalo semua urusan ujian udah selesai.
Croot!(buang ingus). Ku-kushina hime... tolong bales reviewnya dong. Si sai lagi sekarat dan rei nggak sanggup bales review. Mohon bantuannya, Kushina-hime...
Kushina kumat mode-on:
Meg chan
Hah? Bukannya sudah kubilang supaya bocah ingusan itu menjaga Naruto? Siapa lagi itu si Sai?(ngancem pake setrika) Lalu kenapa kau bisa tahu Naruto berkepribadian ganda? Apa lagi yang kau ketahui, heh? KATAKAN!(nyekik leher Meg chan sampe berbusa)
(author merebut mike dan mencoba nolongin meg chan) Maaf meg chan. Biarpun author nggak sanggup ngebales review, author lebih nggak sanggup lagi ngeliat meg sekarat. Iya, naruto pasti akan tahu kalau dia kepribadian gada kok, tapi bukan di chap ini maupun chap depan. Kalo soal Sai dan Naruto malam muncul apa nggak, itu sih rahasia author...(ketawa-ketiwi gaje)
Ok, Meg chan, makasih atas reviewnya, ya!
schiffer gray
Oh... kau masih smp, ya? Kau sudah buat pr? Bagaimana dengan ulanganmu, heh?(kushina nanya2 sambil bawa basoka). Dan aku tidak peduli siapa orang yang dicintai sasuke. Lagipula author ini nggak mau kasih tahu. Rahasia negara, katanya(nunjuk author yang sibuk ngacir ke Solo)
Yah, aku berterima kasih padamu, schiffer(nepuk-nepuk bahu schiffer). Soalnya author senang sekali kau mau mereview ficnya.(author yang nari hula-hula)
monkey D eimi
hah? Masa' makin seru? Bukannya makin membosankan?(nguap) apalagi nih author otaknya cetek banget. Masa buat fic segini aja pake nangis2 darah. Dasar cengeng kau!(melempar kunai dan nyaris mengenai kepala author)
makasih buat reviewnya, ya...HOAEHMM(nguap lagi)
uchiha cucHan clyne
hei, Cu. Lihat, gara-gara kau bilang kalau kau senang fic kemaren nggak hiatus, nih author mau bunuh diri(nunjuk author yang ngiket lehernya pake tali rafia). Dan kau benar, kalau mau curcol jangan disini, nnt ketahuan. Lebih baik kau add aku di FB. Namaku . Kalo kepanjangan kita chattingan aja, nih alamat e-mail (tuh alamat e-mail apa kutukan,ya?)
dan soal siapa orang yang dicintai Suke, yang pasti bukan kau. Karena kau terlalu bagus untuk dia. Lebih baik kau cari orang lain yang lebih pantas untukmu. Tapi jangan kau rebut Minato!(ngelempar deathglare)
akhirul kalam, makasih atas reviewnya, cu.
kyu's neli-chan
kyu... kenapa kau tidak ikut beladiri? Atau kau mau kulatih, heh?(smirk)
lalu apa-apaan ini? Kenapa dari tadi kalian nanya soal orang yang dicintai Suke, sih? Woi, author, tanggung jawab nih! Suaraku jadi serak gara2 tereak. Ambilin air!(merintah author sambil menghentak-hentakkan kaki)
(author datang sambil bawa nampan)sstt... Kyu, nanti pasti akan author ungkap(jyah!) siapa orang yang dicintai Sasuke. Tapi nanti aja, ya. Kushina hime lagi ngamuk. Thamks buat reviewnya ya, kyu.
NanaMithrEe
BRAAKKK!(ngebanting kapal titanic ke swedia) adegan apa? ADEGAN sWEET APA? Narutoku ngapain sama si Pantat ayam, hah? Apa dia nembak naru? OMG, tuh ayam yaoi kali, ya, suka dengan naruto yang kayak gitu(ngehina anak sendiri)
Arigatou gozaimasu, nana atas review dan informasinya. Sekarang aku tahu kalo nih author buat yang enggak2 sama Naru dan Suke. Hei, JANGAN KABUR KAU!(ngejar author pake laser)
Kazuki NightNatsu
"..."
"..."
"..."
"ku-kushina hime nggak ngamuk lagi? si naruto ditembak lho, sama sai. Terus sasuke tiduran di bahunya naruto."(author nanya-nanya bego)
"sudahlah, aku tidak mau ngamuk2 lagi.
Fyuh...(author menghela napas lega) makasih, Kazuki, mungkin berkat reviewmu yang panjang(author bahagia), kushina hime nggak ngamuk.
"Karena aku akan membunuhmu sekarang juga!" (nyemprotin racun sianida ke muka author."
"HYAA... ampun, Kushina hime!"
-chan
akhirnya ada juga reader yang nggak nanya2 soal cinta Suke.(menghembuskan napas lega). Terima kasih, tsuki...
tsuki, kuberitahu ya, Suke itu nggak akan bisa minta yang macam-macam sma naru. Karena kalau dia minta yang aneh-aneh, maka aku akan melakukan *ini*, *ini*, lalu *itu* padanya. Khekhekeh...(ketawa iblis)
Tsuzuka 'Aita
Hei, Tsuzuka, sadarlah! Jangan menghayal terus! Nanti kalo jiwamu nggak balik-balik lagi gimana,dong?(tumben baik sama reader)
Ok, terimakasih telah mereview Tsuzuka dan menunggu di updatenya fic ini!
