Cast: All BTS member

Pair: JiminxYoongi – and other~

Rate: T

~Gone~

.

Chapter 7

.

Yoongi tengah duduk di ruang makan sendirian. Di depannya ada semangkuk ramen yang sudah tinggal setengah. Tangannya mengaduk malas ramennya dengan sumpit.

Ia menatap sendu kalender yang tergantung di dinding. Dihembuskan nafasnya dengan berat. "Waktunya tinggal besok." gumamnya lirih.

Yoongi kemudian memejamkan matanya, berusaha menghalangi air matanya yang lagi-lagi ingin keluar. Digigit kuat bibirnya untuk meredam isakannya yang hampir keluar.

"HYUNG!"

Yoongi membuka matanya. Suara yang sangat familiar baginya itu terus berteriak memanggilnya.

"YOONGI HYUNG! HYUNG!"

Suara itu terus berteriak. Dengan cepat Yoongi mengambil tisu di hadapannya dan menyeka air matanya yang sudah berada di pelupuk matanya. Segera ia berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.

.

Yoongi berdiri di ambang pintu rumahnya setelah ia melihat seseorang sedang berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum, dengan dua sepeda di kedua sisinya. Yoongi hanya diam menatapnya.

"Hai hyung." sapa suara itu. Masih terdengar sangat ceria di pendengaran Yoongi. Seperti tidak tahu bahwa mereka akan berpisah, dan tidak akan bertemu lagi.

"Jimin, ada apa?" Yoongi mendekati Jimin lalu memeluk laki-laki bersurai hitam itu. Mencium pipinya lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam dada Jimin. Jimin balas memeluk Yoongi dengan erat, menggerak-gerakkan kecil badannya dengan Yoongi.

"Ayo kita bersepeda hyung. Cuacanya sangat cerah." kata Jimin pelan di telinga Yoongi.

Yoongi memundurkan kepalanya dan mendongak menatap Jimin. "Kemana?"

"Ke suatu tempat."

.

Jimin merapikan helaian rambut Yoongi sembari menunggu pemiliknya itu berpikir. Lalu Jimin tersenyum setelah mendapat anggukan setuju dari kekasihnya.

"Nah ayo kita berangkat hyung." Jimin menuntun Yoongi untuk mendekati sebuah sepeda berwarna kuning cerah.

Yoongi segera menaiki sepedanya setelah Jimin memberi kode padanya untuk menaiki sepedanya. Sedangkan Jimin menaiki sepeda warna biru di sampingnya.

.

.

Mereka menyusuri jalan dengan beriringan. Bunga cherry blossom masih berguguran dengan indah, menghujani mereka berdua yang tengah bersepeda.

Mereka terus mengayuh sepeda dengan tawa yang menghiasi wajah mereka.

Hingga beberapa saat, Jimin menghentikan kayuhannya, yang segera diikuti Yoongi sadar, mereka sudah berada di tempat yang sangat luas.

Yoongi menatap kagum hamparan padang bunga di hadapannya.

"Jimin." panggilnya.

"Indah kan hyung? Ini tempat favoriteku." Jimin turun dari sepedanya dan menyandarkannya di bawah sebuah pohon rindang tak jauh dari tempatnya dan Yoongi berhenti, sedangkan Yoongi masih memandangi hamparan bunga warna-warni di hadapannya.

"Hyung? Tidak mau bergabung?" Jimin berteriak pada Yoongi sambil berjalan mendekati padang bunga. Yoongi yang melihat Jimin sudah lebih dulu berjalan mendekati padang bunga segera turun dari sepedanya dan menyandarkan sepedanya di sebelah sepeda milik Jimin. Kemudian Yoongi langsung berlari mengejar Jimin dan memeluknya dari belakang.

"Ini sangat indah!" serunya senang.

Jimin terkekeh lalu melepaskan pelukan Yoongi dan berbalik. Menatap bola mata cokelat di hadapannya lalu menangkup pipi dengan rona merah muda tipis milik Yoongi. "Kau menyukainya hyung? Aku senang jika begitu."

Jimin memajukan kepalanya berlahan dan memejamkan matanya. Yoongi yang mengerti juga ikut memejamkan matanya. Merasakan bibir tebal Jimin yang menyentuh lembut bibir tipisnya. Bergerak lembut menautkan bibir mereka berdua. Saling menyalurkan perasaan melalui ciuman lembut tersebut. Bahkan Yoongi dapat merasakan bagaimana tulusnya ciuman yang diberikan Jimin untuknya.

Yoongi yang merasakannya tanpa sadar meneteskan air matanya, mengalir di pipi hingga bibirnya. Jimin yang mengetahui Yoongi menangis, melepaskan tautan mereka setelah sebelumnya menjilat kecil bibir Yoongi yang teraliri air matanya.

Jimin menatap Yoongi yang telah membuka matanya.

"Jangan menangis hyung, kau sudah berjanji untuk bahagia di hari-hari terakhir kita." Jimin mengusap air mata Yoongi yang hampir mengering.

Yoongi mengangguk lalu menggenggam tangan Jimin yang masih berada di pipinya. "Ayo kita buat hari terakhir kita berkesan."

Yoongi segera menarik lengan Jimin semakin mendekat dengan bunga-bunga indah disana.

.

~Gone~

.

Jimin memejamkan matanya sambil berbaring di atas rerumputan hijau penuh berbagai macam bunga, dengan paha Yoongi yang ia jadikan sebagai bantalnya. Menikmati angin semilir menenangkan yang menerpanya. Sedangkan Yoongi sedang sibuk dengan kamera yang dibawanya. Memotret bunga-bunga disana dan pemandangan indahnya.

Yoongi mengamati gerombolan bunga mungil berwarna biru di dekatnya. Diarahkan kameranya dan memotret bunga-bunga itu.

"Indahnya." gumamnya kagum sambil terus memotret bunga-bunga mungil itu.

Jimin yang mendengarnya membuka matanya berlahan. Lalu ia berguling hingga tengkurap di atas rumput, ikut mengamati bunga yang sedang Yoongi foto.

"Apa nama bunga ini Jimin?" tanya Yoongi ingin tahu sambil memeriksa hasil fotonya.

Jimin mengamati bunga-bunga itu lalu menyentuhnya pelan. "Namanya forget me not." ucapnya.

Yoongi yang mendengarnya mengalihkan perhatiannya dari kameranya untuk menatap Jimin. "Kau bercanda?"

Jimin menggeleng pelan. "Tentu saja tidak. Namanya benar-benar bunga forget me not."

Yoongi kembali menatap bunga berkelopak biru tersebut.

"Mau mendengar dongengnya?" tanya Jimin.

Yoongi mengangguk. "Bagaimana?"

"Dahulu kala saat Tuhan menciptakan bumi, Tuhan menghiasinya dengan bunga beraneka rupa. Saat waktunya menamai mereka, dipangillah satu per satu, 'Rose, Lily, Jasmine, Lavender.' Para bunga berseri-seri nama mereka disebutkan. Tapi mereka tidak sadar ada serumpun bunga mungil berwarna biru tersembunyi di bawah bayang-bayang mawar liar. Bunga-bunga itu mulai khawatir

Tuhan tidak melihat mereka dan lupa menamai mereka. Lalu mereka berseru 'Forget me not, my Lord! Forget me not.' Lalu Tuhan tersenyum memandangi mereka. 'Maka itu akan menjadi namamu.'" Jimin menyudahi dongengnya.

Yoongi menatap Jimin yang telah menyelesaiakan dongengnya barusan. "Kau bercanda kan? Itu tidak mungkin." katanya.

Jimin mengendikkan bahunya. "Kau tahu kan hyung itu dongeng?"

Yoongi terkekeh kecil mendengarnya.

"Mau mendengar dongengnya lagi?" tanya Jimin kembali.

"Ada dongeng lagi?"

"Yup!"

Yoongi tersenyum, ia mulai merebahkan dirinya, tengkurap di samping Jimin. "Ya baiklah."

"Tapi ini sedikit menyedihkan." ujar Jimin memberi tahu.

Yoongi hanya mengangguk. "Ceritakan saja." pintanya.

Jimin diam sebentar sebelum memulai kembali ceritanya. "Di abad pertengahan, seorang ksatria dan istrinya sedang berjalan di sepanjang sisi sungai. Lalu ksatria itu mengambil sebuah buket bunga, tetapi karena baju besinya yang berat, ia jatuh ke sungai. Saat tenggelam ksatria itu melemparkan karangan bunganya untuk orang yang dikasihinya dan berteriak 'Forget me not.' Karena itulah bunga ini sering dijadikan tanda kesetiaan dan cinta abadi."

Jimin memetik setangkai bunga mungil itu lalu memberikannya pada Yoongi.

Yoongi terdiam mendengar satu lagi dongeng dari Jimin dan menerima bunga yang diberikan untuknya. "Dan kisah kita akan menjadi dongeng ke tiga." Gumamnya pelan.

"Apa?" tanya Jimin yang tidak mendengar perkataan Yoongi.

Yoongi menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku hanya berkata kau tahu banyak sekali tentang bunga."

Jimin hanya menganggukkan kepalanya mengerti. "Eommaku sangat menyukai bunga. Aku jadi menyukai bunga juga. Hehehe." jelasnya, lalu ia mulai berdiri dan menjulurkan tangannya pada Yoongi.

"Ayo kita pulang hyung, hari sudah menjelang siang." ujarnya.

.

~Gone~

.

Yoongi duduk dengan menopang dagunya. Ada Jimin di hadapannya yang sedang melihat-lihat hasil fotonya tadi. Sedangkan ia hanya mengamati Jimin. Ia terlalu lelah dengan hari ini, tadi pagi ia bersepeda dengan Jimin, sedangkan baru saja ia selesai membantu Jimin yang menanami halaman belakangnya dengan bunga. Tapi ia senang juga sih, sangat senang malah.

Lalu Yoongi melongokkan kepalanya ke arah pintu saat mendengar suara ketukan pada pintu rumahnya.

Jimin berdiri dari duduknya. "Aku bukakan dulu ya hyung."

Yoongi mengangguk. Ia lalu menyandarkan kepalanya di atas meja saat Jimin telah berjalan meninggalkannya untuk membuka pintu.

Baru sejenak matanya tertutup, ia mendengar suara berisik yang sangat mengusiknya. Lalu teriakan nyaring terdengar olehnya.

"YOONGI HYUNG!"

Yoongi membuka matanya. Ia tahu suara siapa itu.

Masih dengan kepalanya yang berada di atas meja, Yoongi berusaha menoleh untuk melihat orang-orang yang barusan berteriak dan berjalan dengan tergesa sehingga menimbulkan bunyi langkah tidak teratur yang sangat berisik.

Yoongi menghembuskan nafasnya lalu menegakkan duduknya. Di depannya telah berdiri Taehyung, Jungkook, Hoseok dan Namjoon.

"Ada apa?" tanya Yoongi pada teman-temannya.

Taehyung dan Jungkook mendekati Yoongi dan duduk di hadapannya.

"Hyung tidak apa-apa kan?" tanya mereka berdua.

"Ya." ujar Yoongi menjawab pertanyaan Taehyung dan Jungkook.

Hoseok mendekati jendela lalu menyingkap gordennya. Ia merasa melihat sesuatu yang asing di halaman belakang rumah Yoongi barusan. Dan saat melihat ke halaman belakang rumah Yoongi melalui jendela. Mereka berempat memekik.

"Sejak kapan halaman belakang rumahmu penuh bunga seperti ini hyung?" tanya Namjoon yang juga ikut menyingkap gorden jendela lainnya.

"Jimin yang menanamnya barusan." ungkap Yoongi.

Mereka lalu mengangguk-angguk mengerti.

"Jimin memang menyukai bunga." beri tahu Taehyung.

"Omong-omong, ngapain kalian kesini?" tanya Yoongi yang tidak tahu tujuan teman-temannya itu datang berkunjung secara tiba-tiba ke rumahnya.

"Jimin yang mengundang kami."

Yoongi mendongak saat Seokjin yang baru saja masuk bersama Jimin menjawab pertanyaannya. Kedua tangannya menenteng banyak kantung plastik, begitu pula Jimin.

"Kalian bukannya membantuku malah langsung berlari ke dalam seperti anak kecil." keluh Seokjin pada empat orang lainnya yang kini sedang menunjukkan cengirannya.

Seokjin langsung berjalan menuju dapur diikuti Jimin untuk meletakkan semua belanjaannya disana.

Setelah Seokjin dan Jimin sudah berada di dapur, Yoongi kembali menatap teman-temannya, berniat menginterogasi teman-temannya lagi.

"Kenapa Jimin mengundang kalian?" tanya Yoongi ingin tahu, sekali.

Taehyung dan Jungkook tersenyum bersamaan.

"Pokoknya malam ini adalah malam yang indah untukmu hyung!" seru mereka berdua.

Yoongi mengernyit heran. "Apa?"

Taehyung dan Jungkook tidak menjawab. Mereka berdua berdiri dan langsung menggandeng kedua tangan Yoongi, menariknya menuju kamarnya.

.

Sesampainya di kamar, Taehyung dan Jungkook langsung mendudukkan Yoongi di atas ranjangnya.

"Kenapa sih?" tanya Yoongi yang semakin bingung dengan apa yang teman-temannya lakukan padanya.

"Hyung bersiap-siaplah. Kami akan menjemputmu lagi nanti jika semuanya sudah siap." kata Taehyung lalu menarik tangan Jungkook, mengajaknya keluar dari kamar Yoongi.

.

Yoongi menatap heran pintu kamarnya yang baru saja ditutup oleh Jungkook. Ia lalu menidurkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya hampa.

"Sebenarnya mereka merencanakan apa sih?" gumamnya penasaran.

Yoongi kembali mendudukkan dirinya dan melihat jam yang tergantung di dinding.

"Sudah jam 5? Ah, aku harus mandi."

Yoongi segera melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya dan mulai membersihkan dirinya.

.

.

.

.

Yoongi meletakkan ponselnya dengan kesal di atas meja. Ia menopang dagunya sambil menatap keluar jendela.

Sudah 1 jam lamanya ia terjebak di dalam kamarnya. Pintu kamarnya terkunci, sehingga ia tidak bisa kemana-kemana sekarang. Ia sudah mengirim pesan dan berkali-kali menelepon teman-temannya, tetapi tidak ada satupun yang menggubrisnya. Bahkan saat ia menelepon Jimin, dengan santainya Jimin hanya bilang 'Tunggu saja hyung, sebentar lagi selesai.'

Samar-samar Yoongi mendengar derap langkah tergesa yang menaiki tangga, lalu berhenti tepat di depan kamarnya. Selanjutnya yang didengarnya adalah gemericik kunci yang diputar hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka.

Cklek...

Yoongi menoleh pelan dan kembali mendapati Taehyung dan Jungkook telah berdiri di depan kamarnya dengan senyum yang mengembang.

Lagi-lagi Yoongi mengerutkan keningnya melihat mereka berdua.

"Pakaian kalian?" tanya Yoongi yang semakin bingung. Pasalnya kedua teman termudanya itu sedang berdiri di depannya menggunakan pakaian, waiter?

Taehyung dan Jungkook mendekati Yoongi, meraih kedua tangannya dan menariknya hingga ia berdiri.

"Tamu special sudah siap!" seru mereka berdua, menuntun keluar Yoongi yang pasrah ditarik oleh mereka.

.

.

Yoongi menatap lantai rumahnya heran. Lantai rumahnya kini bertaburan dengan kelopak mawar merah. Setiap ruangan di rumahnya juga nampak remang, hanya diterangi cahaya lilin.

Tangannya masih saja ditarik oleh Taehyung dan Jungkook menuju ruang makan. Dan sesampainya di sana, ia melihat seseorang yang berdiri membelakanginya, itu Jimin.

Lalu Jimin berbalik dan menatap Yoongi sambil memberikan senyumnya.

"Selamat datang Yoongi hyung." ujarnya.

Yoongi membeku ditempatnya. Di hadapannya kini terlihat meja makannya yang tertata rapi dengan 1 vas berisi mawar. Cahaya lilin juga menjadi penerang di ruangan itu. Semua gorden yang mengarah langsung ke halaman belakang rumahnya dibuka, membuat cahaya bulan memasuki ruangan tersebut, dan juga menampakkan hamparan bunga-bunga yang tadi ditanamnya bersama Jimin.

Jimin mendekati sebuah kursi lalu menariknya. Ia menatap Yoongi. "Kemari hyung."

Taehyung dan Jungkook melepaskan genggaman mereka di kedua tangan Yoongi. Lalu Yoongi melangkah mendekati Jimin dan duduk di kursi yang telah Jimin tarik untuknya. Jimin menarik kursi di hadapannya dan mendudukinya.

Taehyung dan Jungkook mendekat. Memberikan buku menu dan bersiap mencatat pesanan mereka.

"Jadi apa yang akan dipesan?" tanya Jungkook, tangannya telah memegang note dan bolpoin.

Yoongi membuka buku menu di tangannya dengan kikuk. Dia hanya merasa sedikit gugup dengan situasi ini. Ia membaca dengan seksama apa yang ada di dalam buku menu itu.

"Hanya ada, steak?" tanyanya sambil membaca buku menu.

"Hehehe agar terlihat seperti sungguhan hyung. Dan itu menu special hari ini." ucap Taehyung sambil mencatat menu.

Yoongi tersenyum kecil. "Baiklah,mmm dan strawberry squash?"

Taehyung segera mencatat pesanan Yoongi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Aku juga sama dengan Yoongi hyung." kata Jimin pada Jungkook yang segera mencatatnya.

"Baiklah, tunggu sebentar, pesanan akan segera datang." ucap mereka serentak lalu pergi menuju dapur.

Yoongi tertawa kecil melihat Taehyung dan Jungkook yang baru saja pergi. Lalu ia menatap Jimin di hadapannya. Ia tersenyum manis.

"Astaga Jimin. Jadi ini yang kau rencanakan bersama teman-temanku?" tanyanya tanpa melepas senyum dari bibirnya.

Jimin membalas senyumnya. "Kau suka?"

Yoongi menganggukan kepalanya. "Kurasa aku tidak akan bisa berhenti tersenyum."

.

.

Beberapa menit kemudian, Hoseok dan Namjoon datang untuk membawakan pesanan Yoongi dan Jimin. Mereka meletakkan makanan tersebut dengan hati-hati di atas meja.

Mata Yoongi berbinar-binar menatap makanan yang terlihat lezat itu.

"Silahkan menikmati." ucap Hoseok dan Namjoon sebelum kembali ke dapur.

Yoongi menatap steak dihadapannya lalu beralih menatap Jimin.

"Boleh kumakan sekarang?" tanyanya.

Jimin terkekeh kecil. "Makan sebanyak yang kau mau hyung."

Yoongi langsung saja mengambil garpu dan pisau lalu mulai mengiris kecil steak nya. Yoongi membuka mulutnya dan mengunyah steak nya dengan riang.

"Ini lezat sekali." puji Yoongi sambil terus menyuapkan irisan daging ke dalam mulutnya.

Jimin mengangguk setuju. "Ya, Jin hyung memang chef hebat." pujinya.

.

.

Yoongi menyeruput strawberry squash nya. Ia telah menyelesaikan makannya dan mengusap pelan bibirnya dengan tisu.

"Aku kenyang." desahnya.

Jimin lalu menepuk tangannya beberapa kali, hingga Jungkook, Hoseok, dan Namjoon datang dan menghampiri mereka kembali.

Hosoek dan Namjoon segera mengambil piring milik Yoongi dan Jimin yang telah kosong. Sedangkan Jungkook memberikan sebuah kotak kepada Jimin.

Mereka bertiga tersenyum kecil pada Yoongi sebelum akhirnya kembali lagi ke dapur.

"Hyung." panggil Jimin membuat Yoongi kembali menatapnya.

Ia lalu mendorong kotak yang diberikan Jungkook mendekat pada Yoongi. Yoongi memperhatikan kotak silver yang didorong Jimin dengan penasaran.

Berlahan Jimin membukanya, menampakan sebuah cincin yang terlihat berkilau indah di dalamnya.

Yoongi agak melebarkan matanya melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.

"Ji-Jimin." panggilnya gugup.

Jimin segera beranjak dari duduknya untuk mendekati Yoongi, lalu berjongkok di hadapan Yoongi. Mengambil cincin di dalam kotak lalu memasangkannya di jari manis Yoongi. Ia lalu mengecup lembut punggung tangan Yoongi.

"I love you, Yoongi hyung."

Yoongi menatap mata Jimin dalam. Tidak terasa ia mulai meneteskan air matanya dan langsung mengusapnya. Yoongi segera menarik Jimin untuk berdiri dan langsung memeluknya erat.

"I love you too Jimin."

Jimin membalas merengkuh tubuh mungil Yoongi erat. Lalu mengecup dahi Yoongi.

Hingga suara alunan musik yang lembut terdengar.

Jimin meraih pinggang Yoongi dan berbisik, "Mau berdansa?"

Yoongi segera mengalungkan kedua lengannya di leher Jimin dan mengangguk. "Ya."

Mereka berdua bergerak kecil mengikuti irama musik yang mengalun. Sesekali mereka tertawa kecil, karena tidak bisa menahan rasa kebahagiaan di hati masing-masing.

.

~Gone~

.

Disisi lain, terlihat lima orang lainnya yang berada di dalam dapur. Taehyun dan Jungkook mengintip Yoongi dan Jimin yang sedang berdansa. Ditangan mereka masing-masing menggengam tisu untuk mengusap air mata mereka yang menetes.

"Hiks, kenapa mereka romantis sekali sih?" kata Jungkook dengan suaranya yang serak akibat menangis.

"Kenapa mereka harus berpisah sebentar lagi?" Taehyung ikut menimpali sembari mengusap air matanya.

Berlahan Seokjin mendekati Taehyung dan menyentuh bahunya, membuat Taehyung yang terisak menoleh padanya.

"Mau makan, Taehyungie?" tanyanya.

Taehyung kembali terisak pelan sebelum akhirnya mengangguk. Lalu Seokjin menggandeng tangannya sambil membawa nampan berisi 2 piring spaghetti, mengajaknya menuju halaman belakang rumah Yoongi untuk makan berdua disana.

.

Jungkook masih menangis sambil mengusap hidungnya yang sudah memerah. Ia masih memperhatikan Yoongi dan Jimin yang sedang berdansa.

Hingga akhirnya ia merasa ada sesuatu yang menggelitik tengkuknya. Ia menoleh, bermaksud melihat ada apa di belakangnya.

Dan yang dilihatnya adalah sebuket bunga warna-warni yang indah, menutupi wajah seseorang yang membawa buket bunga itu.

Orang itu menurunkan tangannya, memperlihatkan wajahnya pada Jungkook. Tentu saja dia Hoseok.

"Jungie jangan menangis lagi ya." ucapnya, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang menetes di kedua pipi putih Jungkook.

"Hoseok hyung!" seru Jungkook lalu menghambur ke pelukan Hoseok. Hoseok lalu mengusap rambut Jungkook dengan sayang dan mulai menggerakkan tubuhnya dan tubuh Jungkook pelan, mengikuti musik yang tadi diputarnya untuk Jimin dan Yoongi.

Jungkook sesekali terkikik geli saat bunga-bunga di genggaman Hoseok lagi-lagi bersentuhan dengan kulit tengkuknya, membuatnya terasa tergelitik.

.

~Gone~

.

Namjoon menghembuskan nafasnya lalu menyeruput lemon tea nya. Ia berdiri di tengah pintu yang langsung mengarah ke halaman belakang.

Di halaman belakang ia dapat melihat Seokjin dan Taehyung yang sedang saling menyuapi di tengah-tengah hamparan bunga, di bawah rembulan yang bersinar cerah.

Disampingnya, ia melihat Hoseok dan Jungkook yang sedang saling berpelukan dan bergerak ke kanan dan ke kiri, dengan Jungkook yang terkikik geli dengan bunga-bunga yang terus menyentuh tengkuknya.

Sedangkan di ruang makan sana, tentu saja ia tahu tanpa melihatnya, Jimin dan Yoongi juga sendang berdansa dengan saling berpelukan.

Ia mendesah pelan.

"Jadi sekarang aku terlupakan oleh mereka."

.

.

To Be Continued

.

.

A/N

Halo semuanya...
Sekali lagi, apa yang udah aku tulis diatas? Tambah absurd kan ya, tau kok._.
Dan sekali lagi aku buat Namjoon ngenes, salah siapa habis ulang tahun nggak ngasih pajak/?
Bales review aja deh, kalo dilanjutin aku bakalan tambah ngawur xD

shinyeonchal: Semoga mereka berbahagia pada waktunya/? Aku juga nggak tega sama Yoongi yang coba bunuh diri gitu T_T

Kamong Jjong: Iya tuh Yoongi, ngapain coba rela bunuh diri demi Jimin/dilelepin Jimin/

TaeKai: Haha udah update lagi nih :D. Itu Suho ngomongnya...hanya Suho yang tahu/?

TKTOPKID: Ahh maafkan aku*peluk* Hahaha aduh Suho emang tuh, nggak tau suasana lagi kayak gimana. Ini udah update ya :D

DaeMinJae: Aku juga mikir itu absurd banget ya hahaha, biarlah kan yang absurd Hoseok/ditendang Hoseok/ Ini udah update, nggak lama-lama banget kan ya? :D

BangMinKi: Aww makasih yaa, *pelukin*

Elsa Mandira: Aduh aku dibanting xD Aduh endingnya gimana nih kkkk~ Iyakan mereka tuh jadian nggak kira-kira waktunya. Aduh Jungkook tolong, aku dijambakin/? xD

izz. sweetcity: Ini Suganya udah full bahagia ya kayaknya, aku aja iri/? Aku juga nggak bisa liat Yoongi nangis terusT_T/elap ingus Yoongi/

N-Yera48: Hahaha Jungkook peka sih ya xD Iya aku juga percaya mereka berjodoh kok._. Endingnya, ini endingnya gimana ya/? Makasih, kamu juga semangat ya :D

jessica. clouds: Haiii :) Hayo endingnya bakal gimana nih? Ini udah lanjut ya :D

chohyunsungie: Ahh makasih :D Tuh Jimin disuruh nggak boleh ninggalin Yoongi, hayo tanggung jawab/? Ini udah lanjut ya :D

KimmyJinV. s: Ayo kita bersama bersihkan dan sterilkan kembali bibir baby Kookie/? Nah ayo ayo papah Suho selamatkan mereka beruda._. Hoseok ditagih tuh pj nya hihihi xD

RLDR: Duh sini sini aku peluk terus nangis bareng/? Mmm ini end nya kapan ya? Ini udah lanjut lagi :D

Phylindan: Ah Jimin mending cepet pergi aja deh kalo kayak gitu/dibunuh Jimin/ Hahaha doa nya aku aminin sekalian deh :D

Amu-i: Aduh makasih banget..Ini udah lanjut kok :D

yoon: Tuh Min, disuruh jangan pergi, udah netep aja bareng Yoongi/?._.

Terimakasih buat yang sudah mau mereview yaaa...*pelukin satu satu*
Sampai sini dulu pertemuan kita.
Komen, kritik, dan saran diterima.

Last,

RnR juseyo