Ramoeus - The Power of DNA : War is Begin

.


.

Terkadang Tao bermimpi aneh saat dia sedang sakit. Memimpikan seorang kakek tua dengan tongkat jalan di tangannya. Menatap Tao dengan pandangan mengejek dan hormat secara bersamaan. Lalu dengan cepat kakek tua itu berubah menjadi sesuatu yang ditakutinya, Grim Reaper.

Grim Reaper itu tidak bergerak, hanya menatap Tao dengan pandangan lapar. Tangannya yang tertutup jubah hitam kelamnya, memegang sebuah sabit besar dan wajah yang tampak menyeramkan. Keringat dingin Tao bercucuran. Dan pada saat itulah dia terbangun, di dalam pelukan hangat sang ibu yang berusaha menenangkannya.

Tapi sudah lama sekali sejak terakhir kali Tao memimpikan sang Grim Reaper. Dan sekarang di tengah rasa takut, cemas, panik dan bingung yang melandanya, Tao kembali melihat sosok sang Grim Reaper. Sosok itu lebih besar dari yang terakhir dilihatnya. Kedua matanya berkilat senang, seperti seorang anak yang mendapat hadiah dari orang tuanya.

Dan kali ini sang Grim Reaper tidak tinggal diam. Dia melangkah maju menuju Tao. Dengan wajah ketakutan yang terpancar jelas, Tao berlari tak tentu arah. Dia akan masuk ke dalam sebuah gedung tua tidak terpakai dan sesaat kemudian, dia mendapati dirinya berada di tengah-tengah hutan belantara.

Tao terus berlari hingga kakinya tersangkut pada sebuah akar tanaman yang menonjol ke atas. Grim Reaper itu semakin mendekat, sekitar 5 meter dari tempatnya terjatuh. Tao bisa mencium bau busuk bangkai manusia yang menguar dari tubuh sang Grim Reaper.

Napas Tao semakin memburu saat jaraknya dengan Grim Reaper itu semakin menipis. Lalu saat jarak keduanya hanya tinggal beberapa langkah-

.

-Tao terbangun.

.


.

Rating: T+/PG-15

Genre: Sci-Fi, Romance little bit, Action, Friendship.

Cast: All EXO member, Eunhyuk SuJu.

Length: Chapter – The Rebellion

Pair: KrisTao, ChenMin, SuLay, HunHan, KaiDo, ChanBaek

Warning: AU/OOC/Typos/BL!/Sci-Fi

.


.

Sehun menyelinap keluar dari pintu yang setengah terbuka di hadapannya. Dengan langkah yang pelan dan teratur, dia berjalan melintasi lorong suram ini dan melompat ke lorong selanjutnya dengan penerangan yang lebih bagus. Suara derap langkah terdengar menggema di lorong yang sepi, dan dengan cepat Sehun bersembunyi di belakang sebuah pintu yang menghubungkan lorong tempat dia berada dengan sebuah ruang pembedahan.

Sehun menahan napas saat indra penciumannya menangkap bau busuk dari dalam ruangan tersebut. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Sehun menyelinap masuk ke dalam ruangan. Sesaat rasa mual menghampirinya, kepalanya berputar dan dia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan itu.

Kembali berjalan -kali ini dengan langkah besar yang tergesa- dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia merasa harus segera menemukan seseorang. Seseorang yang bernasib sama dengannya, disekap dalam tempat mengerikan ini tanpa tahu apapun.

Sehun masih terus berjalan saat sebuah tangan besar membungkam mulutnya cepat, membuatnya tidak dapat berteriak. Sehun meronta, tapi tangan itu masih terus berada di mulutnya. Lalu dengan sebuah gerakan tidak terduga, dia membalikkan tubuh Sehun ke belakang. Sehun membelalakan matanya terkejut saat tahu siapa orang yang membungkam mulutnya.

Seorang pemuda berambut pirang dengan tinggi melebihi Sehun berdiri di hadapannya. Sehun kenal siapa pemuda di depannya itu. Kris.

Kris memberi isyarat agar Sehun diam. Sehun mengangguk dan baru menyadari seseorang yang tertutupi badan tinggi Kris. Seorang pemuda. Pemuda berkulit tan. Walau punggung pemuda itu lebar, tapi Sehun masih bisa melihat sepasang sayap cokelat yang besar menyembul di punggungya.

Melihat tatapan penasaran Sehun, Kris segera menoleh dan melihat siapa yang menjadi objek perhatian Sehun saat ini.

"Dia Kai. Sama seperti kita. Aku bertemu dengannya di lorong," ucap Kris singkat namun mendapat sebuah anggukan puas dari Sehun.

Kai melangkah maju menghadap Sehun, tangannya terulur. "Aku Kai. Seorang mutan half eagle. Kau?" tanya Kai setelah memperkenalkan dirinya pada Sehun.

"Oh sehun. Aku- err... entahlah, yang pasti aku mutan dan- em.. sepertinya aku bisa membekukan sebuah kaca," ucap Sehun ragu. Dia tidak tahu mutan apa sebenarnya dia ini. Dia tidak mempermasalahkannya, toh sekali mutan tetaplah mutan, seorang manusia yang telah rusak.

Kai tampak menimbang-nimbang dan kembali menatap Sehun. "Aku yakin kau bisa menggunakan kekuatan es. Seperti Jack Frost ku rasa. Lihat saja penampilan mu yang mirip dengannya," ujar Kai.

Sehun hanya mengedikkan bahunya, tidak peduli. Dia menatap Kris dengan tatapan penasaran yang datar. Kris yang mengerti arti tatapan Sehun hanya menjawab dengan cuek. "Api, dan jangan tatap aku begitu atau kau ku lelehkan."

Sehun memasang wajah poker face-nya dan mulai menggerutu dalam hati.

"Baiklah, saatnya kita kembali melanjutkan perjalanan dan membebaskan yang lainnya," ucap Kai mengomando.

Kris dan Sehun hanya mengangguk dan mulai berjalan mengikuti Kai.

.


.

Kyungsoo masih meringkuk di dalam ruangannya yang gelap -kesakitan, saat mendadak ruangannya tertimpa cahaya terang yang remang. Sesosok bayangan menyembul masuk dari luar pintu, ah bukan, dua. Kyungsoo mendongakkan kepalanya untuk melihat pemilik bayangan tersebut.

Matanya menyipit akibat cahaya yang memasuki ruangannya yang biasanya gelap. Setelah berhasil membiasakan diri dengan cahaya, akhirnya Kyungsoo dapat melihat dengan jelas siapa pemilik dua bayangan tersebut. Mata Kyungsoo membulat dan berkaca-kaca. Dia kenal siapa mereka.

Untuk pertama kalinya sejak di bawa ke tempat ini, Kyungsoo merasa lega dan bahagia. Seperti tali kasat mata yang melilitnya kini telah dilepas. Bebas dan ringan.

"Cha-Chanyeol, Tao?" dengan suara gemetar yang kesakitan, Kyungsoo berusaha memanggil nama kedua orang di depannya.

Tao yang melihat kondisi Kyungsoo yang tampak mengenaskan segera masuk ke dalam dan memeluk Kyungsoo.

"Tenanglah, kami ada di sini sekarang," ucap Tao dengan suara lembut yang membuat Kyungsoo tenang.

Chanyeol mengikuti masuk ke dalam. Mengacak pelan rambut Kyungsoo. Tao melepaskan pelukannya pada Kyungsoo dan menatapnya dengan khawatir.

"Apa kau bisa berjalan?" tanya Tao cemas.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya lemah. Masih meringkuk menyembunyikan wajahnya di dada Tao. Lalu dengan tatapan mata memohon, Tao menatap Chanyeol. Chanyeol mengangguk dan tersenyum lebar, menampakkan deretan rapi gigi putihnya.

"Bantu Kyungsoo berdiri Tao. Aku akan menggendongnya," ucap Chanyeol sambil merunduk membelakangi Kyungsoo.

Tao mengangguk dan membantu Kyungsoo untuk naik ke punggung Chanyeol. Setelah Kyungsoo aman di atas punggung Chanyeol, mereka segera melangkah keluar. Koridor yang mereka lewati semakin remang. Dengan perlahan dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, mereka berjalan mengedap ke arah sebuah lorong yang tampaknya menuju ke sebuah aula utama.

Tidak pasti memang, tapi firasat Chanyeolmengatakan demikian. Dengan perasaan mantap, dia menggenggam sebelah tangan Tao, berusaha untuk menenangkan pemuda panda itu. Tao menggangguk dan melangkah mendahului Chanyeol, masuk ke dalam lorong tersebut.

Chanyeol mengikuti dengan perlahan di belakang Tao. Suasana mencengkam makin terasa menyelimuti ketiga-nya. Kyungsoo mengerang pelan di balik punggung Chanyeol saat rasa sakit itu kembali datang. Chanyeol sedikit terhuyung akibat gerakan tiba-tiba Kyungsoo, tapi akhirnya dia berhasil menyeimbangkan kembali langkahnya.

Tao menoleh ke belakang dan menatap Kyungsoo khawatir. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Tao dapat melihat kepala Kyungsoo yang muncul dari balik punggung Chanyeol mengangguk.

Tao kembali memfokuskan pandangannya ke depan saat suara derap langkah kaki terdengar. Tidak hanya satu, tapi terdengar seperti satu batalion tentara dengan sepatu bot berat yang terbuat dari karet. Chanyeol dan Tao bertatapan dengan raut wajah panik

.

Bersembunyi!

.

Chanyeol kesulitan menggunakan kekuatannya dengan badan yang menopang tubuh Kyungsoo di punggungnya. Sementara Tao sama sekali tidak tahu kekuatannya. Jadi satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan saat ini adalah bersembunyi,

Tao dan Chanyeol mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tempat persembunyian. Mereka harus cepat atau para tentara itu dapat menemukan mereka dan menyeret mereka kembali ke ruangan mengerikan itu.

kyungsoo masih mengerang kesakitan, saat Chanyeol dan Tao memutuskan untuk bersembunyi di dalam sebuah ruangan penuh barang, tampak seperti gudang. Chanyeol bersembunyi di sudut, di balik sebuah lemari kayu tua. Sementara Tao bersembunyi di seberang tempat Chanyeol, di bawah tempat tidur lapuk yang sewaktu-waktu dapat roboh.

Chanyeol membungkam mulut Kyungsoo agar erangan kesakitannya tidak terdengar. Suara langkah kaki itu makin terdengar, disertai dengan suara pintu yang didobrak secara paksa. Langkah kaki tersebut terdengar berepencar. Napas ketiganya tertahan, menunggu saat-saat menegangkan yang terasa sangat lama.

Tao membungkam mulutnya sendiri agar tidak menjerit, sementara Chanyeol mempersiapkan sebelah tangannya, bersiap untuk menerima serangan tiba-tiba. Chanyeol dapat merasakan napas Kyungsoo yang mulai tersengal. Dia mendekatkan diri ke arah Kyungsoo.

"Gigit tanganku jika kau tidak dapat menahan rasa sakitnya," bisik Chanyeol di samping telinga Kyungsoo. Yang dibalas dengan sebuah anggukan lemah.

Salah satu langkah kaki tersebut melangkah masuk ke ruangan tempat mereka saat ini bersembunyi. Sinar laser dari senapan tentara tersebut menyusuri setiap jengkal barang yang ada di dalam ruangan. Kyungsoo mengigit tangan Chanyeol keras, membuat sang pemuda tinggi tersentak kaget.

Tentara tersebut mulai melangkah mendekati tempat Chanyeol dan Kyungsoo bersembunyi. Keduanya -lebih tepatnya Chanyeol- mulai memasang sikap waspada, dia akan menyergapnya jika keadaan mendesak.

Tentara itu terus melangkah mendekat dan dengan tidak terduga, dia menundukkan kepalanya ke bawah tempat tidur lapuk dimana Tao bersembunyi. Chanyeol menatap tentara itu dan Tao bergantian. Dan dengan pikiran yang berputar panik, Chanyeol menggerakkan tangannya. Membuat kilatan cahaya listrik dari tangannya menyambar badan tentara tersebut. membuat tubuh sang tentara jatuh tidak sadarkan diri dengan suara debuman yang keras.

Kilatan cahaya yang dikeluarkan oleh listrik Chanyeol dan suara debuman yang keras rupanya menarik perhatian tentara yang lain. Karena sedetik kemudian para tentara telah merangsek masuk ke dalam ruangan.

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, dan mengingat keselamatan mereka bertiga dipertaruhkan, Tao tanpa pikir panjang segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Shit!" Chanyeol mengumpat pelan melihat tingkah bodoh Huang Zitao. Bagaimana mungkin pemuda panda itu dapat melawan satu batalion tentara tanpa tahu kekuatan yang dia miliki.

Lalu setelah memastikan keadaan Kyungsoo yang mulai membaik, Chanyeol segera bangkit menghadapi tentara-tentara tersebut. Tangannya menarik mundur lengan Tao. Dan tanpa peringatan, Chanyeol mulai membentuk sebuah cambuk panjang. Dia menatap dengki pada barisan tentara di depannya yang tengah menodongkan senjata ke arahnya.

Chanyeol mengibaskan cambuk listrik itu dan tepat mengenai 5 orang tentara di barisan depan. Melihat hal itu, tentara yang lain mulai menembaki Tao dan Chanyeol dengan brutal. Chanyeol mendorong Tao ke samping, terlindung sebuah meja tua, memimbulkan suara debuman diiringi erangan kesakitan. Dan dengan tangkas, Chanyeol memutar cambuk petir itu tepat di depannya, membuat sebuah perisai untuk melindungi dirinya dari amukan timah peluru.

Tapi sebuah peluru lolos dari perisai listriknya, dan menembus bahu kanannya. Chanyeol mengerang, gerakannya terhenti dan membuat beberapa peluru kembali menembus perut dan pahanya.

Tao menatap panik dan dengan seluruh keberanian yang tersisa, dia merangsek maju -melindungi Chanyeol, merentangkan kedua tangannya. Kilatan matanya penuh dengan kebencian. Dan tanpa terduga, kedua mata Tao memutih seluruhnya. Di depannya kini sebuah lubang hitam terbuka dengan lebar. Lubang itu menghisap semua benda di hadapannya. Meja, tempat tidur, kursi, bahkan para tentara. Dan setelah semua hampir kosong -hanya tersisa Tao, Chanyeol, Kyungsoo serta sebuah lemari tua- lubang itu lenyap, tak bersisa.

Tao merasa kedua kakinya lemas dan tidak bertenaga. Pandangannya mulai memburam. Dan saat tubuhnya limbung, Chanyeol segera menangkapnya.

.

Kedua mata Tao telah kembali seperti semula. Berwarna hitam pekat. Sepekat jelaga.

.


.

Lay berenang panik di dalam akuariumnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Hyukjae walau dia sudah berulang kali memanggilnya. Lay kembali mengamati tubuh Suho yang mulai mengambang-tidak bergerak.

Lay semakin panik. Dia takut jika terjadi apa-apa pada Suho. Air di akuarium Suho semakin pekat karena darah. Tubuhnya kaku dan tampak mulai tidak bernapas. Lay mulai menggedor-gedor dinding akuariumnya. Matanya menyiratkan ketakutan yang amat sangat.

Lalu dengan dengan satu sentakan keras dari kekuatan luar biasa -yang entah dari mana- didapat oleh Lay, kaca akuariumnya mulai retak. Lay tersenyum senang dan kembali menekan kaca tersebut dengan telapak tangannya. Kembali retak. Lay mencoba sekali lagi dan-

.

-WHOOOSSH!

.

Lubang besar di kaca akuariumnya menyedot Lay keluar dari akuarium. Lay terjatuh dengan posisi badan menelungkup. Rambut dan badannya basah. Genangan air tercipta di sekelilingnya. Napas Lay sedikit terengah.

Badannya mulai menyesuaikan diri dengan suhu ruangan yang berbeda dari suhu dalam air. Insang di samping telinga nya mulai menutup, digantikan dengan fungsi hidung dan paru-paru yang mulai kembali normal.

Tangan-tangannya yang kurus mulai menopang berat badannya. Sedikit mengalami kesulitan ketika harus berpijak dengan kedua kakinya -Lay lupa kapan terakhir kali dia berjalan dengan kakinya. Lalu dengan langkah tertatih-tatih dia berjalan menuju tabung akuarium milik Suho.

Lay berhenti di depan sebuah mesin yang berdiri di depan akuarium Suho. Kedua matanya mulai menelusuri mesin itu, berusaha mengingat tombol yang ditekan oleh Hyukjae untuk membuat air di tabung tersebut surut dan kemudian membuka kaca akuarium. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengingat apapun.

Lay terus memandang tubuh Suho cemas. Apa yang harus dia lakukan?

Lay tampak berpikir keras. Kerutan di dahinya tercipta dengan sempurna. Dan setelah beberapa lama terus berpikir, akhirnya sebuah senyum cerah dengan dimple yang tercetak manis mengembang. Ada sebuah ide gila yang muncul di otaknya.

Jika dia tidak bisa membuka kaca akuarium itu, kenapa tidak dia pecahkan? Seperti yang dilakukannya pada kaca akuariumnya yang berlubang besar. Lay melihat sekekeliling mencoba mencari benda tumpul dan berat yang bisa dipakai untuk memecahkan kaca. Tidak ada apapun.

Lay kembali berpikir. Tangannya masih sakit karena pukulan kerasnya pada kaca akuariumnya tadi. Lay memerhatikan telapak tangannya yang membiru. Lalu dengan satu anggukan yakin, Lay belari menerjang akuarium Lay. Memakai bahunya untuk memecahkan kaca tebal tersebut.

Kaca tebal itu tidak bergeming maupun retak.

.

-Sekali lagi!

.

Lay kembali menerjang. Kali ini menggunakan kepalan tinjunya.

Berhasil!

Kaca itu retak. Kepalan tangan Lay mulai lecet.

.

-Sekali lagi!

Darah segar mulai mengalir di tangannya. Lay menahan rasa sakitnya.

.

-Sekali lagi!

Tangan Lay membiru. Napas Lay mulai terengah. Tapi hanya ada Suho di benaknya.

.

-Sekali lagi!

.

Dan-

.

-PYAAARRR!

Kaca tersebut pecah, memuntahkan sosok Suho yang masih tidak sadarkan diri. Masker oksigen dan beberapa kabel di punggungnya terlepas. Lay segera berlari ke arah Suho, mengabaikan rasa sakit dan lebam di tangannya.

Lay menepuk-nepuk pipi Suho pelan. Tidak ada respon. Lay berinisiatif untuk menekan dada Suho -memberi pertolongan pertama. Masih tidak ada respon. Lay semakin panik. Tangannya terus menekan dada Suho semakin cepat dan kencang.

Ayolah!

.

-Ayolah!

.

-Ayolah!

.

BROOSH!

OHOK, OHOK!

.

Sejumlah air bercampur darah keluar dari mulut Suho. Lay menghela napas lega dan berusaha menyandarkan Suho ke dinding. Suho perlahan mulai membuka matanya. Pemandangan kabur mulai terlihat di matanya. Suho berkedip, pemandangan di depannya semakin jelas. Kembali berkedip dan Suho melihat seorang pemuda berdimple yang tengah tersenyum kepadanya.

Suho mengerang pelan saat kepalanya berdenyut pelan. Ingatannya kembali ke kejadian sebelum dia pingsan. Bagai rol film yang memutar balik dan membuat tubuhnya tersentak.

Luhan.

Dia harus mencari Luhan.

.

Masih mengerang pelan, Suho berusaha bangkit walau lengan Lay berusaha mencegahnya.

"J-jangan!" seru Lay panik.

Suho tidak mengindahkannya dan tetap berusaha berdiri. Lay bingung. Menolong Suho berdiri atau mencegahnya. Sementara Suho telah berhasil bangkit, sambil meraba dinding berusaha berjalan ke pintu keluar. Wajahnya tampak kelelahan, tubuhnya gemetar dan kepalanya berdenyut sakit.

Dia harus menemukan Luhan, segera. Suho telah melangkah keluar ruangan dengan langkah terseok-seok. Lay memandangnya bimbang. Lalu dengan cepat dia menyambar dua buah kemeja di atas meja di sudut ruangan. Setidaknya jika dia tidak bisa mencegah Suho, dia akan ikut bersamanya dan menjaganya.

Lay berlari keluar menyusul Suho.

.

Meninggalkan ruang kosong denga dua akuarium berlubang.

.


.

Luhan masih berbicara dengan Xiumin melalui jendela kecil di pintu, saat suara nyaring alarm berbunyi diiringi suara pintu yang terbuka. Luhan yang melihat hal tersebut segera tersenyum senang. Dia bisa keluar sekarang. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Xiumin yang memandang Luhan bingung.

"Kita harus keluar Xiumin," ucap Luhan yang hanya dibalas dengan raut bingung di wajah Xiumin.

"Kenapa keluar? Mr. Choi menyuruhku untuk diam di sini dan menghabiskan makananku. Kita tidak bisa melanggarnya," ucap Xiumin polos.

Luhan memutar matanya sebal. "Baiklah, aku akan ke tempat mu. Jangan ke mana-mana, okay?"

Xiumin mengangguk patuh. Luhan segera berlari keluar ruangan, lalu dengan langkah tergesa dia segera berbelok ke arah ruangan tempat Xiumin berada. Dia membuka pintu itu perlahan dan menemukan sosok Xiumin yang masih berada di samping pintu dengan jendela kecil.

Luhan masuk dan segera menarik tangan Xiumin yang masih menatapnya bingung. Walau begitu langkahnya terus mengikuti ke mana langkah Luhan pergi. Dia memandang punggung mungil Luhan.

Mereka masih terus berjalan hingga tiba di sebuah pintu hitam. Satu-satunya penghubung lorong tempat Xiumin dan Luhan berada dengan lorong lainnya. Luhan mendorong pintu itu perlahan, menjulurkan kepalanya untuk mengintip.

Namun sialnya seorang tentara melihat sekilas bayangannya. Luhan terbelalak kaget dan segera menarik Xiumin berlari ke arah sebaliknya.

"Ayo cepat Xiumin!" teriak Luhan panik. Namun Xiumin menahan tangannya. Luhan berbalik dengan raut wajah panik.

"Ada apa?!" tanyanya emosi.

"Jika kau ingin cepat, kenapa tidak naik ke punggung ku dan biarkan aku berlari," ucap Xiumin dan mulai berjalan ke depan Luhan, memyodorkan punggungnya.

Luhan tampak berpikir. Suara derap kaki beberapa orang semakin mendekat. Dan di tengah kepanikan dan keputus asaannya, akhirnya Luhan menganggik. Badannya dengan cepat dia hempaskan ke atas punggung Xiumin. Xiumin tersenyum dan mulai mempersiapkan dirin untuk mulai berlari. Sudah lama sekali sejak dia merasakan angin yang berdesir di telinganya saat dia berlari.

Xiumin bersiap saat Luhan telah naik ke punggungnya. Derap langkah kaki di belakang semakin mendekat. Xiumin membungkuk dan membalikkan badannya. Luhan terkejut dan sebelum Luhan sempat berteriak, Xiumin telah lebih dahulu berlari dengan cepat.

Rambut Luhan tersapu ke belakang saat angin mulai berhembus kencang di sekelilingnya. Para tentara ada di depan mereka, dan-

.

-WHOOOSH!

.

Xiumin berhasil berlari melewati para tentara dengan kecepatan yang luar biasa. Luhan tersenyum. Dia seperti mendengar kekehan bahagia Xiumin. Luhan tampak terkejut jika saja dia tidak ingat jika Xiumin adalah seorang mutan half leopard. Mereka terus berlari hingga mencapai sebuah tikungan. Luhan melihat seorang pemuda berwajah pucat yang sedang melangkah gotai dengan pandangan marah.

Luhan menyuruh Xiumin untuk berhenti. Xiumin mengangguk dan menghentikan gerakannya dengan suara decitan yang keras, bunyi gesekan telapak kaki dengan lantai. Mereka berhenti tepat di depan pemuda tersebut -yang nampak terkejut. Luhan turun dari punggung Xiumin dan berdiri diam di hadapan sang pemuda.

"S... S-siapa kau?" tanya pemuda itu tampak waspada.

Luhan semakin mendekat dan berhenti sekitar satu lengan dari pemuda tersebut. Sang pemuda tampak takut tetapi sama sekali tidak melangkahkan kakinya mundur. Dia menatap Luhan dengan pandangan yang terkesan berani. Luhan balas menatap pemuda tersebut. Pandangan mereka bertemu dan seakan saling bertukar pikiran, Luhan tersenyum.

"Kau sendirian?" tanya Luhan ramah. Sang pemuda tidak membalas, dia tengah sibuk mengamati sosok Xiumin yang menurutmya aneh dan -ganjil.

Xiumin tampak risih dengan tatapan sang Pemuda yang tampak menelanjanginya. Luhan yang tahu hal tersebut kembali tersenyum dan berusaha menjelaskan kepada pemuda di depannya.

"Namanya Xiumin. Dia mutan. Yah kau tahu, setengah leopard," ucap Luhan masih terus mengamati pemuda pucat di hadapannya. Pemuda tersebut tampak tertarik dan mulai berani membuka suaranya.

" Kau juga mutan?" tanya pemuda tersebut dengan pandangan mata penasaran.

Luhan tampak ragu untuk menjawab. "Well, sebenarnya aku tidak tahu. Sampai sekarang aku tidak berubah dan tidak memiliki kekuatan khusus," jawab Luhan akhirnya. "Tapi sepertinya aku juga seorang mutan," tambah Luhan cepat.

Pemuda tersebut mengangguk pelan. Masih penasaran dengan ekor totol Xiumin yang bergerak kesana kemari.

"Kau? Apa kau juga seorang mutan?" tanya Luhan lagi, masih penasaran dengan pemuda di hadapannya -yang masih memandang Xiumin heran bercampur kagum.

Pemuda tersebut menoleh memandang Luhan. "Sepertinya. Karena saat aku keluar dari ruangan ku, aku berhasil membuat pintu besi menjadi ogokan besi yang tidak berguna," jawab sang pemuda.

Mendengar ucapan pemuda tersebut, Luhan mulai berpikir. Dengan pandangan menyelidik dia kembali pemuda berambut caramel di depannya.

"Bisakah kau mengangkat besi di sana?" tanya Luhan sambil menunjuk beberapa batang besi di ujung lorong.

Pemuda tersebut melihat arah yang ditunjuk oleh Luhan. Matanya memandang besi itu malas. "Untuk apa?" tanyanya heran.

"Lakukan saja. Aku hanya mencoba memastikan, apakah kau benar mutan atau tidak," jawab Luhan.

"Baiklah," ucap pemuda tersebut setelah memandang Luhan cukup lama.

Dia memandang salah satu batang besi dengan pandangan fokus. Sesaat pandangannya memudar, namun dengan segera dia kembali memfokuskan pikirannya. Kepalanya kembali memutar, walau tidak sehebat saat pemuda tersebut meremukkan pintu besi. Lalu dengan satu sentakan keras dari tangannya, besi tersebut terbang, meluncur ke arah dinding dan hancur berkeping-keping.

Luhan dan Xiumin memandang pemuda tersebut tidak percaya. Hal yang baru saja terjadi sangat hebat. Setelah keluar dari keterkejutannya, Xiumin memekik riang.

"Itu sangat hebat! Maukah kau mengajari ku?' tanya Xiumin antusias.

Pemuda tersebut hanya menggerakkan pundaknya. "Tidak tahu, aku bisa sendiri."

"Kau benar telah berubah menjadi mutan," gumam Luhan pelan. Matanya lekat memandang pemuda yang telah berhasil bermain dengan ekor Xiumin,

"Maukah kau ikut dengan kami? Mencari yang lain dan keluar dari tempat ini?" tanya Luhan lantang. Pemuda tersebut mengalihkan pandangannya dari ekor Xiumin. Dia memandang Luhan.

"Ada yang lainnya?" tanyanya dengan raut wajah senang.

"Ya. Dan aku juga harus menemukan kakak ku. Dia pasti bisa mengeluarkan kita dari sini," jawab Luhan.

Pemuda itu mengangguk dengan semangat. "Baiklah," ucapnya setuju.

"Siapa nama mu?"

Pemuda tersebut memandang Luhan dan tersenyum lembut.

.

"Baekhyun. Byun Baekhyun."

.


.

-To Be Continue-

.


.

Oke, TBC. Siapa yang kemaren minta dipanjangin? Ini Blanket undah panjangin -dikit #plaaaakk. Oke chap depan bakal panjang banget dan tentunya penuh action. Di atas udah disempilin action juga tuh ya. Stay tune aja ok?

Buat yang nanya ff ini bakal sampe berapa chap, jawabannya... -Blanket nggak tahu #digebuk. Oke, oke, pastinya lebih dari 10 chap atau mungkin 20? Liat nanti aja deh, takutnya ada plot yang Blanket ubah.

Dan maaf nggak bisa bales review kalian satu-satu, tapi Balanket baca semua kok dan dengan senyum-senyum pastinya. Apalagi pas baca review yang bilang penasaran. Blanket-kan emang demen bikin orang penasaran kikikik~

Oke udah dulu a/n nya, nanti kepanjangan lagi ="=

PS: ada yang mau beliin Blanket pulsa modem? Cekak nih =3=

.


.

Thanks to:

SHINeexo, vee, Riyoung17, , Fantao, ivha, Squishysoo, junia angel, sweetyYeollie, Kim Hyunshi, Jylyn Rui, Dep Jung, fitripitroy, aninkyuelf, Reezuu Kim, 12, babybyunsoo, ou.

Thanks for review, follow or favorite this ff ^^

Last, mind to review?