Inside Out
HoMin
Chapter 7
Warning : Masih sama seperti yang lain, Typo's merajalela. Be ready for a disaster .
Please be nice to me^^
"Shiver"
.
.
.
Changmin membuat suara gaduh didalam dapur. Suara air mengucur, suara teflon yang berbentur dengan kompor, suara piring yang berdenting dengan sendok dan bunyi-bunyian lain yang berpadu riuh, bagai paduan konser kecil didalam sana. Entah apa yang sedang dilakukannya, terlalu sibuk Yunho untuk datang dan melihatnya, dia disibukkan pekerjaannya yang tidak bisa dia duakan.
"Ahhh fuckk!"
Changmin didalam dapur berteriak, Yunho didepan computer memukul kepalanya. Dia mendesah lalu segera berlari menuju dapur dan mendapati Changmin yang sedang berjongkok memunguti spaghetti belum jadi yang merata diatas lantai.
"Changminnie gwenchana ?" Khawatir Yunho melihat Changmin meniupi jemari tangannya. "Apa yang kau lakukan dari tadi ?"
"Aku lapar!" Changmin memajukan bibirnya, dia berdiri memeluk sendiri perutnya.
"Ah! bukankah tidak lama tadi kita baru saja sarapan ?" Yunho mengulum tawanya, membingkai wajah Changmin dengan dua tangannya. Changmin terlalu menggemaskan saat dia sedang lapar.
"Tadi sarapan, sekarang makan siang!" Changmin mendudukkan tubuhnya diatas meja makan.
"Mwo-yah.. ini baru jam 10 pagi, bahkan belum siang..!"
Yunho gagal menahan tawanya. Dia menganga mengeluarkan suara yang sempat tertahan di dalam dada, matanya menyipit, menggigit kepalan tangannya.
"Begitu lucu menurutmu ? Menyebalkan, orang kelaparan ditertawakan!" Changmin menyilangkan tangan didepan dada. Dia merengut memasang wajah marah, namun hanya berhasil membuat Yunho menambah volume tawanya.
"Baiklah, Kau mau makan apa jhagi?" Tanya Yunho setelah berhasil menahan dan menelan kembali tawanya, mendekati tubuh Changmin yang duduk mengerucutkan bibir diatas meja makan. Yunho melingkari pinggang Changmin dengan tangannya, menggurai rajutan tali apron yang Changmin kenakan, lalu melepas kain yang hanya digunakan pada saat memasak itu dari tubuhnya.
"Sesuatu yang mengenyangkan" Jawab Changmin absolute meneleng kepalanya, menjatuhkan tatapan mata meminta pada kekasihnya.
"Seperti ..?"
"Daging !" Jawab Changmin melengking.
"Jangan daging lagi.. " Tolak Yunho lembut, menyatukan ujung hidungnya pada ujung bangir hidung Changmin.
"Lalu ?" Tanya manja dari Changmin, mendaratkan kecupan singkat dibibir Yuhno. Dia selalu tidak bisa tahan dengan Yunho yang suka dengan permainan.
"Ice cream!"
"Oh Hyung! Ah mwo-yahhh…. Itu bukan makanan!" Changmin menjauhkan wajahnya, matanya menyipit, bibirnya mengerucut.
"Kau selapar itu ?" Ledek Yunho menarik hidungnya. "Baiklah terserah aku saja, eat here or.. ?"
"Outside! Jappanese restaurant!"
Yunho mengumbar senyumnya dibarengi anggukan. Changmin menyeringai senang, kembali menarik tengkuk Yunho dalam pelukan.
Terlalu menyenangkan untuk berpelukan diruang belakang, Changmin duduk diatas meja yang lumayan tinggi, melilit leher Yunho dengan dua tangannya. Sedangkan Yunho berdiri diantara dua lututnya, erat memeluk pinggangnya, menyembunyikan wajahnya di antara bahu dan telingannya, membuat kecupan-kecupan hangat, mengalihkan diri mereka dari dunia nyata.
"Yunho-ah oddiya?" Hingga mulai terdengar suara teriakkan seseorang membuyarkan rajut badan meraka. Suara itu sangat mereka kenal, suara melengking dari pria celana dalam. Suara keras dari model yang terus memanggil-manggil nama fotografernya.
"Kau harus mengganti nomor combinasi pintu rumahmu!" Desis Changmin tidak suka.
Setelah kelakuan gila yang dilakukan orang itu beberapa hari yang lalu Changmin memang belum lagi melihat model dari Yunho tersebut, Changmin memang sudah percaya dengan ucapan Yunho yang mengatakan mereka hanya sekedar sahabat. Namun demikian tidak serta-merta Changmin akan menyukainya.
"Aku akan!" Jawab Yunho meyakinkan. Dia tidak berjalan keluar menemui modelnya yang berteriak didalam rumah, dia juga tidak mengeluarkan suara jawaban kapada sang model yang berkali-kali menyebut namanya. Yunho lebih memilih melanjutkan pelukannya dengan Changmin yang masih terduduk diatas meja makan, tidak memusingkan orang yang meraung diluar sana. Leher putih Changmin lebih meraik dunianya, membuat kecupan-kecupan kecil dan menghidu dalam-dalam aroma cologne favorite Changmin yang sekarang juga sudah menjadi wewangian kesukaannya.
"God! Are you deaf ?!" Rutuk Jae pada Yunho yang dia temukan sedang mencumbui kekasihnya diatas meja makan. "Katakan padaku, kalian tidak pernah melakukannya disitu, kan ?!" Lanjutnya menunjuk meja makan melingkar yang masih diduduki oleh Changmin. "Aku tidak akan pernah makan disini!" Lanjutnya lagi sambil menggigit jari. Cutie, tapi Changmin tetap tidak menyukai.
"Jae kau lupa ?" Kata Yunho, keluar jauh dari semua pertanyaan yang dilontarkan modelnya. Dia mengangkat alisnya, melirik pada Changmin yang belum mau mengubah raut wajahnya kembali dalam mode ceria.
"Ahh baiklah!"
Pria cantik tersebut mendesah. Dia berdecak lidah, dan berjalan malas mendekati meja. Mendekati Yunho dan Changmin yang berhimpitan tidak mau terpisah.
"Yo bocah!" Suara Jae hampir menggema karena Changmin dan Yunho diam, dapur juga senyap tenang.
"Jae!?" Suara Yunho menuntut modelnya membenahi sebutan untuk kekasihnya.
"Baiklah-baiklah! If it's not for you, I won't ever do this you freak !" Rutuk Jae menggeram
"I know, I owe you one!" Jawab Yunho meyakinkan.
Sementara Changmin masih diam, menyimak setiap kata yang meraka ucapkan, matanya bergulir dari kiri ke kanan, dari Yunho ke modelnya. Namun dia tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari rasa penasarannya. Changmin ingin tahu, tapi dia tidak ingin bertanya apa yang sedang mereka bicarakan. Terlalu malas untuknya, dia ingin Yunho sendiri nanti yang akan menjelaskan.
"Changmin-ah ?" Sang model memanggilnya, Changmin tersadar dan mulai mengangkat wajahnya. "Mianhe.. " Lanjut Jae menyambung ucapannya. "Ya.. aku tidak bersalah! .. maksudku, baiklah.. aku yang salah!" Jae kembali berhenti, dia berhenti untuk mendesah. " Yunho is yours, I'm nothing but pals. Percaya padanya kalau kau memang mencintainya, he might be so stupid sometimes, but don't lose faith in him, 'cuz I know he's truly love you! Ahh.. aku sangat cemburu padamu!" Dan masih mendesah lagi di ujung kalimatnya, entah ini sudah kali berapa.
Changmin tertegun, dia memandang wajah perpaduan antara tampan dan ayu yang berada didepan wajahnya. Tidak pernah Changmin mendapati wajah pria celana dalam ini menampakkan wajah serius dengan ketulusan yang sedang diitunjukkannya sekarang. Entah apa yang sudah Yunho katakan pada model putih ini, sepertinya kata-kata penuh nasehat dan kata permohonan lainnya sudah memasuki telinganya hingga dia mau saja berucap maaf dan bertutur lembut juga panjang untuk Changmin
"euh.." Changmin tidak bisa membalas kata, dia juga ingin berucap maaf karena pernah begitu membencinya, juga terimakasih tentunya namun dia tidak yakin mau mengatakannya. Shim Changmin selalu hidup berdampingan dengan ego dan gengsinya.
"Ahh.. baiklah aku sudah berbicara! Kau juga sudah mendengar dan yup! Itu saja!" Jae tidak menunggu Changmin menjawab, dia tidak memusingkannya, dia sendiri yang kembali mengeluarkan suara dan kembali juga dia mengenakan wajah model centilnya yang memang tidak diragukan dia mempesona. "Yun.. kalau kau sudah selesai dengan , euhh.. table sex, euh.. kiss-mu itu aku menunggumu didepan. Bekerja, jangan lupa!" Lanjut model cantik ini lagi sebelum dia menarik diri dari hadapan Yunho dan Changmin yang sudah kembali merajut pelukan meraka.
Changmin mengulum senyum, dia tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Yunho yang belum akan mau mengurai dekapannya.
"Kau sudah dengar bukan ?" Yunho bersuara, membuat dadanya bergetar,terasa jelas oleh Changmin yang meletakkan wajahnya disana.
"Um! Dia cantik sekali!" Jawab Changmin menyimpang, membuat Yunho menarik wajah kekasihnya itu kembali menengadah manatapnya. "Wae ?"
"Bukan bagian yang itu!"
"Lalu ?" Changmin berpura-pura bodoh.
"Mau aku menggigitmu ?"
Yunho menunjukkan gigi-giginnya, wajah Changmin kembali menguar rona merah.
"Um! Aku tahu I love you too!" Kembali Changmin menjatuhkan kepalanya, menyembunyikan wajah merahnya pada dada bidang Yunho, tangannya melilit sampai kebelakang pinggang. " aku juga sedikit mempunyai salah padanya.."
"Mau meminta maaf ?" Tawar Yunho mengecup ujung kepalanya.
"Tidak!" Changmin tegas menjawab, menarik kambali wajahnya dari tubuh Yunho.
"Wae ?"
"Waee ?" Ucap Changmin mengulangi suara Yunho. "Did you apologized to Daniel Patrick ?"
Changmin menarik ujung bibirnya, membuat wajah sebal namun sepertinya gagal. Yunho sudah kembali mengumbar tawanya, mengacak lembut rambut kepala kekasihnya yang menggemaskan.
"What so funny ?" Gerutu Changmin memutar mata.
"You addicted to me Changmin!" Kepercayaan diri yang berlebih, Yunho kembali memeluk Changmin didalam tawanya. Sedangkan Changmin diam saja tidak meronta. Tubuh meraka bergerak kekiri dan kekanan seperti sebuah gerakan dansa namun tetap diam ditempat. Mereka melekat, berlama-lama seperti itu sampai suara Jae kembali mencuat dari ruangan depan, mengutuk Yunho yang tak juga kunjung datang untuk melanjutkan pekerjaan yang ditelantarkannya diatas meja kerja.
"Aku akan meminta maaf juga padanya.. " Tekat Changmin menebar senyum, disambut Yunho dengan kecupan hangat disusut mata. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan mendekati Jae yang memasang wajah kesal namun samasekali tak mengerikan.
.
.
.
Senja dilangit Korea dibuat datang pukul tujuh belas lebih empat puluh lima. Langit memerah, ramun seperti anggur, bagai sedang berucap sampai jumpa hendak pergi membawa serta cahaya siangnya. Peluh tipis nampak beranak diujung pelipisnya, musim dingin namun dia kegerahan, dua kantung putih besar menggantung ditangan kiri dan kanannya. Nafasnya terengah, memburu bagai dia selasai berlari dengan jarak beribu-ribu.
Seorang wanita mengikuti langkah kakinya dari belakang, wanita yang pernah dia lihat, namun namanya belum bisa kembali dia ingat. Hanya, gurat ayu wajah itu yang membuatnya ingat pada malam pertama dia melihatnya, malam dimana gadis cantik ini memaksanya untuk makan malam bersama. Gadis manis itu menawarkan bantuan, namun dia halus menolaknya. Bukan tidak mengindahkan bantuan, namun Shim Changmin tidak ingin terlalu dekat dengan gadis yang kini telah berdiri dengannya didepan pintu tertutup kediaman Jung Yunho.
"Tidak perlu, aku tau door-code nya!" Cegah gadis itu menghentikan gerakan tangan Changmin yang sudah akan menekan bell pintu rumah.
Sebenarnya Chagmin sendiri juga hanya berpura-pura. Berpura-pura tidak mengetahui code pintu rumah kekasihnya. Lebih dari itu, bahkan Shim Changmin sekarang sedang berpura-pura kembali menjadi pembantu paruh waktu dari Jung Yunho. Tidak mungkin dia menguar panjang cerita meraka kepada seorang wanita yang bahkan berada didekatnnya saja dia tidak suka.
Pintu berat terbuka lebar, kaki gadis itu melangkah lebih dulu, tangannya memegangi daun pintu, mempersilahkan Changmin untuk melangkah masuk.
"Masuk!" Suruhnya kepada Changmin yang mengakar diambang pintu. Tubuhnya disana, namun pikirannya entah kini mulai hilang kemana.
"Ne.." Jawabanya mengangguk, berjalan kikuk melangkah masuk.
"Kau sudah pulang ?" Sambut Yunho, keluar dari dalam kamar dengan sebuah koran ditangan.
Changmin tidak menjawab. Dia hanya mengangguk berat.
"Wae-yo ?" Tanya Yunho lagi seraya berjalan mendekat. Indra penglihatannya belum menemukan sosok wanita yang sedang berjongkok mengurai rajut tali sepatu tingginya dibelakang tubuh Changmin. Wanita yang dengan tanpa permisi memasuki mobil dan sekarang mengikuti Changmin memasuki rumahnya.
"Oppa?"
Lengking suara wanita itu membuat tangan Yunho mengambang diudara. Hendak menjamah wajah kekasihnya, mengusap peluh diujung pelipisnya, namun tangannya kaku seketika.
"Kau.. disini?" Bergetar suaranya, wajah Yunho memucat cepat, koran ditangan kirinya pun menjatuhkan diri dari genggamannya.
"Tentu saja !" Jawab gadis itu mendekatinya. ".. Aku merindukanmu!" Lanjutnya berlari jatuh memeluk tubuh Yunho yang kaku.
Jarum jam seperti tidak mau bergerak memutar, air yang Changmin masak belum juga mau memanas dan berbuih mendidih. Air dalam pot berukuran sedang itu belum mau memanas seperti panas hatinya saat ini. Waktu menjadi terlalu lama rasanya untuk berlalu.
Shim Changmin menundukkan kepalanya, poninya jatuh menutupi mata. Gemeletak pisau dan nampan terdengar berulang ulang. Kerasnya suara dari gerakan tangannya memotong lobak merah diatas nampan bagai mewakili protes cemburu Changmin pada Yunho yang sedang duduk bersebelahan dengan gadis yang tidak lama tadi memperkenalkan dirinya dengan nama Soe Ye Ji.
"Maaf kukira kau hanya adalah pekerjanya, jadi aku fikir tidak perlu mengenalkan diriku padamu.." Ucap gadis itu tadi saat Yunho mengatakan Changmin bukan hanya perkerja dirumahnya. Namun dia tentu saja juga tidak menyebut Changmin sebagai kekasihnya, 'sahabat' dia menyebutnya, Changmin diam saja berusaha menerima. Sementara itu gusar hatinya, ucapan seorang Ye Ji terngiang panjang didalam telinganya, permintaan maaf namun lebih terasa merendahkan baginya. Kalau memang hanya seorang pekerja, tidak salah juga bukan kalau hanya untuk saling berenalan. 'Wanita menyebalkan' Rutuk kepala Changmin
"Jae Hyung sudah pulang?" Changmin memalingkan wajahya dari lobak merah yang belum selesai terpotong semua. Dia mengangkat wajahnnya melempar tanya pada Yunho yang sejak duduknya berdampingan dengan Ye Ji diatas sofa, memainkan kamera ditangan mereka, dia sama sekali tidak membuat suara, ataupun melempar pandang untuknya.
"Iya, tidak lama setelah kau berangkat, dia pulang .." Jawab Yunho berakhir dengan lengkungan senyum dibibirnya.
Sebenarnya, Changmin sama-sekali tidak perduli dengan Jae yang sudah ataupun belum keluar dari rumah Yunho, dia hanya ingin melihat wajah Yunho melalui pertanyaannya. Ingin mengetahui seperti apa gurat wajah kekasihnya saat ini, masihkah berbinar cinta seperti biasa, masihkah tetap disana janji-janji ucapan manisnya. Bukan Changmin tidak percaya, dia hanya ingin keyakinannya tak goyah oleh Yunho yang seolah menghindar membuat tatapan mata dengannya. Tentu saja, Soe ye Ji disana, mungkin itu sebabnya. Dia wanita yang sebenarnya Yunho sendiri tak pernah menyinggung atau mengenalkan dan membicarakan siapa itu Soe Ye Ji padanya. Sampai malam ini tiba, resah tiba-tiba saja merayap begitu saja didalam hatinya.
"Kapan terakhir kita bertemu ?" Ye Ji meletakkan kepalanya pada ujung bahu Yunho, bermanja-manja pada orang yang duduk berdekatan dengannya . " Um kurasa sabtu lalu bukan ?"
Changmin didapur berhenti membuat suara. Yunho yang merasakannya pun bagai turut berhenti detak jantungnya.
"Sebenarnya aku masih ingin ke tempat lain sore itu, tapi kau terlalu sibuk!" Lanjut Ye Ji membuat suara manja yang jelas tidak disukai oleh telinga Changmin yang mendengarkan dari balik meja marmer disamping kompor menyala disebelah kiri tubuhnya.
Kembali terdengar beberapa ketukan dari belakang, Changmin kembali membuat bebunyian khas orang memasak disana. Sementara Yunho masih saja diam, menolak bersuara walau tangan nakal Ye Ji mencubit sudut bibirnya.
"Apa Jihye sudah menghubungimu ? dia bilang Ayahmu akan mengundang ayahku untuk makan malam, tentu saja kita semua… kind of family gathering, I guess.."
Kembali senyap seketika. Changmin yang berada dibelakang meraka bagai hilang tiba-tiba.
".. mungkin meraka akan menanyakan bagaimana kelanjutan pertunangan kita? Apa kau sudah punya jawaban ?"
Yunho masih betah dengan diamnya, sementara itu terdengar gaduh dibelakang punggungnya. Sebuah piring pecah terbelah, hancur berantakan merata diatas lantai. Yunho bergeming, sementara Ye Ji sontak berjingkat berlari mendekati dapur, dan mandapati pekerja paruh waktu dari tunangannya tersebut sedang berjongkok memunguti serpihan beling dari pecahan piring.
Putih warna piring yang pecah, namun memerah saat jemari Changmin memungutnya. Tangannya bergetar, nafasnya terasa tersekat, bagai terjerat utas tali yang ketat.
"Ya Tuhan tanganmu berdarah.. " Jerit Ye Ji membingkai sendiri wajahnnya. Changmin enggan mengangkat wajahnya, berusaha menyembunyikan luka yang tidak bisa disembunyikan oleh matanya. Sementara itu mendengar jeritan Ye Ji, Yunho yang semula masih kaku diatas sofa melompat juga dia mendekati Changmin, menyampingkan Ye Ji yang menutup mata takut akan darah.
"Changmin-ah.."
Yunho menjulurkan tangan, ingin menyentuh jemari Changmin yang menangis darah namun Changmin lebih memilih menyembunyikan tengannya dibalik badan. "Aku tidak apa-apa.." Menyembunyikan isakkannya dibalik tunduk kepala dan parau suara.
"Aku ingin pulang!" Serunya, bersuara mengiba.
"Tidak! Obati dulu lukamu!" Cegah Ye Ji berdiri disamping tubuh Yunho.
Tidak mungkin Changmin tinggal untuk mengobati luka ringan ditangannya sementara hatinya berdarah-darah. Changmin membuat gerakkan mundur, menjauh perlahan tidak ingin melihat tangan Ye Ji yang melingkari lengan Yunho.
"Aku akan mengantarmu!" Seru Yunnho setelah aksi diamnya dan lebih memilih memperhatikan.
Retak hati Changmin semakin menganga. Kenapa Yunho harus berbicara kalau dia mengeluarkan kalimat yang samasekali tak ingin didengarnya. Kenapa dia tidak mencegah saja agar Changmin tidak pulang dan menjauh darinya.
"Tidak! Tidak perlu. Ye Ji noona.. aku pulang, permisi!"
Changmin membungkukan tubuhnya berulang , namun masih enggan menunjukkan wajahnya. Terlalu memalukan untuknya, wajah tampan yang dimilikinya kini basah menangis luka. Air mata bercampur dengan keringat merata diwajahnya.
"Aku bilang aku akan mengantarmu!" Teriak Yunho menghentikan kaki Changmin yang sudah berada didepan pintu keluar.
"Oppa.." Suara Ye Ji menyela mencegah. Bukan mencegah sebenarnya, dia hanya tidak ingin Yunho meneriaki Changmin lebih tepatnya. Karena teriakkannya yang baru saja menggema didalam rumah terdengar sama seperti saat Yunho sedang murka.
Changmin mematung didepan pintu. Sejenak. Dia berusaha menghentikan isak tangisnya, dia menelan nafasnya, lalu kembali merangkai langkahnya yang sempat tertunda, mengacuhkan Yunho dengan perintah dan teriakkannya.
"Oppa..?" Kembali Ye Ji bersuara. Kali ni dia benar-benar terdengar sedang berusaha mencegah namun gerakan tubuh Yunho lebih cepat dari suaranya. Yunho sudah menghilang dibalik pintu mengejar Changmin yang sudah berlalu.
Darah meniti turun menuju ujung jari, dikibaskan tangannya berkali-kali, cipratan merah kesana-kemari , menetes bergantian memberi warna merah pada aspal pucat yang dijejaki panjang langkah kaki, Changmin tidak menaruh perhatian pada sakitnya, tangannya mungkin berdarah namun tak seperih hatinya. Dia berjalan panjang di buat tuli telingannya dari suara Yunho yang melolong memanggil dari belakang.
"Changmin!"
Yunho menarik kasar lengan Changmin. Sama kasar seperti dulu saat Changmin pertama kali menolakknya, saat Changmin membuatnya cemburu, hanya saat ini Yunho yang membuat Changmin menangis mengharu. Yunho hanya menginginkan Changmin berhenti dan kembali menghadapnya, mendengarkan suara dan penjelasannya.
"Kubilang berhenti!"
Tubuh Changmin tersendat kembali tertarik kasar, namun kali ini dia tidak diam, saat tubuhnya berputar karena tangan Yunho yang selalu saja bisa menarik tubuhnya dengan mudah, Changmin melayangkan genggaman tangannya menghantam rahang Yunho sekuat dan sekeras dia bisa, sontak Yunho melayang dan tersungkur jatuh diatas aspal, matanya nanar menatap tidak percaya pada Changmin yang sudah terlihat lebih berantakan dari dirinya sendiri. Changmin basah oleh keringat dan air mata. Sementara itu rahang Yunho memerah, darah dari tangan Changmin berpindah pada rahangnya.
"Fine I'll stop! " Changmin berteriak serak, menarik sendiri ponninya yang menggantung menutupi dahi, darah pada tangannyapun ikut berpindah dan terjiplak merah diatas alis kanannya. "Aku akan berhenti mempercayaimu, berhenti mencintaimu,dan aku juga akan berhenti melihatmu, happy now ?" Changmin tidak lagi berteriak, namun suaranya lebih menyakitkan jauh dari teriakkannya.
"Jangan bodoh!" Yunho tidak kalah menyalak. Dia berdiri kembali menarik tangan Changmin kedalam genggamannya. Tidak menginginkan Changmin lari menjauh darinya.
"Wae ? Bukan kah aku sudah kau bodohi selama ini ? Kemana kau sabtu sore itu ? meninggalkanku ditengah taman, kau mencari makanan ? atau bergandengan tangan ?"
Yunho bungkam. Changmin mengibaskan tangan, melepaskan diri dari genggaman Yunho. Dia tidak lagi menangis, Changmin menyeka kasar tiap peluh dan air mata yang membasahi wajahnya dengan punggung tangan, dia mengumbar senyumnya, senyum lebar menunjukkan barisan giginya, senyuman yang terlihat sedikit gila, hanya berisi lara disetiap sudutnya.
"Changmin?"
"Don't!"
Changmin menyembunyikan tangannya, dia melangkah mundur membuat jarak lebih kentara.
"Don't ever .. call, my name again!" Desis Changmin menunjuk wajah Yunho sebelum berlalu menjauh.
Yunho hancur diatas tempatnya berdiri, matanya hanya bisa mengamati Changmin berjalan cepat menghilang diujung parkiran. Tangannya bergetar, tubuhnya mulai ambruk terduduk diatas aspal, merutuki ketidaksanggupannya menanggung dan menyelesaikan derah masalah yang bahkan sudah bisa dibayangkannya akan ada saatnya tiba. Namun kini saat apa yang ditakutkannya benar-benar datang menyapa, Yunho hanyalah seorang manusia yang dipenuhi hasrat cinta, tidak ingin terluka namun dia tersungkur jatuh ke tanah. Sesuatu yang disembunyikan, menolak untuk selamanya dia samarkan. Yunho terguguk dalam menitikan airmata untuk pertama kalinya. Dia tidak pernah hancur sebelumnya, setidaknya tidak sehancur apa yang dirasakannya sekarang.
-Pun sama dengan Shim Changmin yang sekarang sedang hancur ditepian jalan. Dia meneriaki langit malam yang hanya bisa membisu menyaksikannya mengharu biru. Langit yang ditatapnya bahkan menunjukkan ribuan berlian diatas sana, bagai dia sedang mencemooh dan mengolok-olok Changmin yang sedang terluka. Darah ditangannya mungkin sudah mengering, tak lagi merembes mengeluarkan cairan berbau anyir, namun luluh lantah hatinya saat ini sangat sulit terbenahi, terlalu cepat hari sedih datang menghampiri sedangkan dia belum betah menikmati wewangian dari hari yang menyenangkan hati.
"Wajahmu .." Soe Ye Ji menghampiri Yunho yang kembali memasuki rumahnya. Dia terlihat berantakan dengan darah milik Changmin yang mengering dirahang kirinya.
"Bukan apa-apa, tadi Changmin sengaja bermain dengan darahnya diwajahku.." Yunho mengeluarkan senyum palsu. Dia berpolah seperti tidak terjadi apa-apa, menghindari tangan Ye Ji yang sudah akan memengang wajahnya. "Sebaiknya kau pulang dulu, maaf aku lelah sekali hari ini.."
Ye Ji diam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, Wanita itu, terlihat baik-baik saja. Dia mengulas senyum tipis lalu melenggang pergi setelahnya, tanpa berucap pamit pada Yunho yang sudah lebih dulu meninggalkan dia untuk memasuki kamarnya.
.
.
.
"Bagaimana kalau Yunho Hyung kesini dan menanyakanmu ?" Taemin berdiri menghalangi pintu keluar, mencegah Changmin melewatinya.
"Jangan beritahu dia, sekali ini saja Taeminnie, huh ? aku rindu pesta seperti itu.. " Mohon Changmin mengangkat dua tangannya, membingkai sendiri dua pipinya. Satu diantarannya dihiasi lilitan kain kasa putih yang masih terlihat bersih. "Ayolah, aku sudah bilang padanya, aku berkunjung ke pesta ulang tahun teman.."
"Itu bohong namanya.." Taemin memutar mata, masih enggan dia memberi jalan pada Changmin yang memaksa minta keluar.
"Taemin jangan koreksi aku, ayolah aku mencintaimu, kau mencintaiku bukan ?"
Rengek Changmin berkelanjutan. Dia sudah siap dengan baju baru yang melekat membalut tubuhnya, party yang ingin ditujunya, namun Taemin tak menghendakinya, Yunho akan marah yang ditakutkannya. Namun wajah memohon Changmin yang amat menyiksa membuat kekeh Taemin luluh juga.
"Baiklah, jangan terlalu lama. Kalau kekasihmu itu marah, aku tidak menanggung apa-apa.." Ucap Taemin menyerah. Menyerahkan juga pintu yang sudah terbuka membiarkan Changmin berjalan melewatinya.
"No worries, orang itu tidak akan marah!" Kata Changmin berakhir tawa, dan melenggang pergi setelahnya.
Changmin berkendara berlambat-lambat menuju tempat yang ingin dikunjunginya, bukan dengan perasaan senang tentunya, dia hanya ingin menghamburkan dirinya diantara puluhan orang, dibawah lampu temaram, dikelilingi music tidak beraturan, menginginkan berat di hati dan kepalanya mungkin sedikit bisa dia redakan.
"Kekasih, huh ?" Changmin mengulangi kata yang diucapkan Taemin untuknya, menyebut Yunho dengan sebutan kekasihnya. "Fuck!" Dia hantamkan tangannya kasar pada kemudi mobil.
Tentu saja Taemin sang sahabat masih menyebut Yunho sebagai kekasih dari Changmin, karena yang Taemin ketahui mereka masihlah sepasang kekasih yang tentunya masih baik-baik saja, Changmin pun menjelaskan tangannya terluka karena dia mengupas apel untuk Yunho-nya, dan tajam pisau melukis tangan putihnya. Entah apa yang juga sedang menghuni kepala Changmin, dia memilih diam, enggan menceritakan sakit hatinya yang berulang bahkan penyebabnya pun adalah orang yang masih saja sama.
Sementara itu Taemin yang ditinggalkan Changmin sendirian sedang menikmati drama korea kesukaannya, namun mulai terganggu oleh Yunho yang duduk mengawasi tiap gerak-geriknya. Pria itu menanti Changmin kembali, atau setidaknya menunggu Taemin memberitahunya kemana Changmin pergi karena alasan pesta ulang tahun teman tidak diterimannya dengan gampang.
"Hyung kau menakutkan .."
"Changmin.." Tidak menenggang resah Taemin yang ketakutan oleh tatapanya, Yunho masih menanyakan petanyaan yang sama, mempertanyakan kemana atau dimana sekarang Changmin berada.
"Baiklah-baiklah…"
Taemin menyerah, dia gerah dengan tatapan Yunho yang datar namun menakutkan, dikatakannya dengan jelas dan gamblang tempat sebenarnya Changmin sekarang berada, Yunho mendegus marah selanjutnya, dia sempat menggebrak meja dan menggulingkan gelas kaca, membuat basah meja dengan air mineral yang belum selesai Taemin habiskan.
Tidak sulit menemukan alamat dari tempat yang Taemin katakan, saat ini Yunho sudah berdiri diantara puluhan orang yang sedang berdansa liar, dan semuanya telanjang. Sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah , hasil hantaman dua penjaga pintu yang melarangnya masuk , setidaknya tidak masuk dengan pakaian lengkap karena pesta ini adalah pesta telanjang.
Gelap ruangan membuat Yunho sama sekali tidak mudah menemukan Shim Changmin diantara puluhan orang, wanita dan laki-laki ada disana, dan semuanya pun telanjang tanpa busana. Mereka meliuk-liukkan tubuhnya didalam gelap ruangan, sembarangan mencium atau memegang tubuh orang adalah aturan, membuat Yunho semakin geram ditambah degupan jantung, juga tarikan nafasnya yang masih belum beraturan sisah dari pergelutan singkatnya dengan dua penjaga pintu di ruangan depan.
Sementara itu dilantai dansa, diantara puluhan orang yang menari disekitarnya, Changmin sedang menikmati lagu dari Nicky Minaj yang memenuhi ruangan gelap. Dia berdansa dibarengi seorang pria yang tentu saja baru dikenalnya. Bibirnya basah oleh minuman yang baru saja dihabisakannya, entah minuman apa namun Changmin akan reflex menjulur-julurkan lidahnya selesai minuman itu berhasil melewati lidahnya.
Puas dia menghentak-hentakkan tubuhnya diatas lantai dansa, Changmin mulai berbalik dan berciuman dengan pria yang sedari tadi berdansa dengannya. Manis, terasa seperti cocktail saat dia memasukkan lidahnya kedalam mulut orang yang sedang memeluk tubuh telanjangnya. Meraka bergulat saling mencecap, dan sayang nya tanpa Changmin sadari Yunho disana geram memperhatikan. Jantungnya berdegup lebih dari kencang, melebihi dentuman sebuah genderang.
"Hey!" Teriak teman dansa Changmin yang terdorong menjauh,, sementara Changmin sudah tersungkur jatuh.
Yunho memisahkan pelukan meraka, menarik tangan Changmin namun bukan segera menariknya keluar, melainkan memukul wajahnya dengan sabetan tangan.
Yunho benar-benar menunjukkan wajah murkanya, bukan memberi tatapan cemburu namun kemarahan pada Changmin yang belum mau kembali berdiri dari lantai. Sedangkan Changmin sendiri bukan menunjukkan wajah takut, lebih dari itu, dia malah mengumbar senyumnya. Senyum remeh yang mengesalkan.
.
"Kau pulang saja!" Usir Changmin pada Yunho yang mengikuti Changmin pulang setelah pergelutan diam mereka didalam ruangan yang dipenuhi orang-orang tanpa busana.
"Kau mau merusak dirimu disana ?" Yunho menyalak
"Kau tidak sadar, disini kau yang sudah merusakku!" Suara Changmin tak kalah kasar menyalak. Asbak diatas meja berwarna merah hancur berantakan menghantam dinding rumah, Changmin kehilangan kesabarannya.
Hening. Yunho bungkam, Changmin diam. Ikan mas dalam aquarium pun seperti ikut berhenti membuat gerakan.
Changmin melenggang kesana kemari mengelilingi rumahnya membuat ribuan gerakan yang entah apa tujuannya. Dia memegang dan melempar boneka, dia menyeduh minuman, dia menyalakan televisi, memutar lagu dari ponselnya dan masih banyak lagi, hingga akhirnya dia berakhir melempar tubuhnya diatas sofa memanjang, memegang kantung kompres ditangan. Sementara Yunho hanya terduduk menunduk, mungkin sedang merangkai sebuah kata manis atau kata maaf untuk dia katakan pada Changmin yang sama sekali tidak menaruh perhatian padanya, Changmin lebih memilih sibuk memegangi kantung balok es untuk mendinginkan pipinya yang masih terasa panas oleh sabetan tangan Yunho.
"Maafkan aku.." Desah Yunho mengangkat wajahnya. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu.."
"Aku tahu, kau hanya membantuku membenci perasaan cinta dan memukul wajahku baru saja, kenapa? kau dendam aku memukulmu hari lalu ?"
"Changmin!" Suara Yunho menggema, dia sakit permintaan maafnya terdengar seperti lelucon saja untuk orang yang dipujanya.
"itu bukan menyakitiku, tidak apa-apa.." Lanjut Changmin tak memandang, dia tak memusingkan, dia menyibukkan dirinya dengan kantong es ditangan.
"Aku mencintaimu Changmin, sungguh!"
Yunho bergerak, berpindah mendekati sofa dimana Changmin terduduk disana.
"Aku juga.. tapi aku ingat kau sudah membantuku untuk membencimu, kau lupa ?" Changmin mengangkat tubuhnya, berdiri dari sofa meghindari Yunho yang sudah menempatkan tubuhnya disana. "Bukankah seharusnya kau bersama dengan tunanganmu itu, pergilah, tenang saja aku akan berpura-pura tidak mengenalmu.. "
Hening menyelimuti isi rumah, hanya gemericik air dari aquariaum ikan mas yang samar terdengar ditelinga. Sakit hatinya kali ini, tidak membuat Changmin menangis ataupun meratap, dia tidak membiarkan matanya kembali sembab. Sakit hatinya kali ini jauh lebih sakit dari lukanya kemarin, menimbulkan lubang besar didalam dadanya, rasa sesak itu mengoyak ulu hati, bukan lagi membuatnya menangis bersedih, namun lebih seperti mengubah Changmin menjadi pribadi yang lain, walau sebenarnya Changmin tidak berubah sama sekali, dia hanya kembali pada dirinya sendiri, kepada seorang Shim Changmin yang tidak memiliki rasa perduli –pun sekarang semakin berlebih.
Dia merasa benar-benar dipermainkan. Luka yang diberikan Yunho kali ini membuat Changmin membekukan perasaannya, hatinya seperti balok es yang puluhan kali jauh lebih dingin dari butiran salju yang jatuh menyelimuti jalanan Korea malam ini. Sakit didalam dadanya, namun dia tidak menunjukkan emosi apa-apa, dia memilih berpura-pura tegar acuh dan tenang walau hatinya berdarah-darah.
"Dia tunanganku, dari dua tahun yang lalu.. aku mencintainya , dulu..sebelum dia pergi meninggalkanku ke California untuk melanjutkan study-nya. Dia kembali satu bulan sebelum kita bertemu, namun jauh sebelum hari itu perasaanku sudah tidak sama seperti yang aku punya untuknya dulu.. "
".. aku kesepian Changmin, orang yang kucintai tidak ada disana saat aku ingin berbagi perih, dia tidak ada disana saat aku ingin berucap rindu, dia tidak mendegarkanku saat aku ingin mengeluh, sampai Jae datang membagi bahunya untuk aku bersandar, lalu kau.. kaupun datang menawarkan kehangatan yang sudah lama aku rindukan, kemudian aku sadar Ye Ji tak lagi aku butuhkan. Semua yang aku inginkan hanyalah kamu, aku bersedia melakukan apapun asal itu akan selalu berakhir denganmu, Changmin... I love you so much, it's hurts…"
Yunho meremas sebelah dadanya, dia mengangkat wajahnya menatap Changmin yang berdiri tanpa membuat gerak ditempatnya. Lelehan airmata jatuh tanpa suara membasahi pipi dan berakhir meniti di digaris rahangnya. Yunho tidak pernah menangis sebelumnya, tidak untuk Ye Ji ataupun yang lainya, kecuali ibuunya, dan kali ini Changmin, pemuda yang sudah merenggut kewarasannya.
Didepan Changmin dia tidak memiliki kekuatan apapun, dia menunjukkan kelemahannya disana, menahan suara tangisnya. Dua tangannya meraup wajah kecilnya, menutupi matanya yang memerah, ingin menyudahi tangisnya namun nafasnya tersendat oleh sesak didalam dada. Sementara Changmin masih bergeming ditempatnnya, dia ingin percaya namun dia tak lagi ingin terluka. Dia terlanjur membuang perasaannya, walaupun itu cinta dan dia menerima, Changmin sadar penuh apa yang akan diaharapakan dari seorang yang sudah siap untuk menikah. Tidak ada. Dia tidak akan memiliki keberuntungan apa-apa dalam kisahnya. Dia hanya akan terluka kembali dan kembali untuk yang kesekian kalinya. Changmin lebih memilih berdiri dalam kesimpulannya sendiri, acuh tak perduli dengan Yunho yang meratap sedih bercerita panjang, memuja dan mengatakan mencintainya.
"Kau tak akan pergi bukan ? aku akan keluar, biarkan saja pintunya tidak terkunci saat kau pergi nanti. Jangan tunggu aku.."
Yunho sudah melakukan apapun yang dia bisa, mencoba menghentikan Changmin agar tidak pergi, dia bahkan merengek meminta Changmin untuk tidak meninggalkannya, namun panggilan ngilu yang Yunho buat sama sekali tidak didengarnya, tidak berhasil membuat Changmin kembali kedalam rumah dan menjamah tangannya. Changmin berkelebat menghilang dari sana meninggalakan Yunho dengan sisa isak yang masih menyekat didalam rongga dada.
Pintu tertutup rapat, gemericik air dari aquarium kembali mendominasi bebunyian didalam rumah. Yunho masih belum berdiri dari duduknya, air mata meluncur bebas di kedua pipinya, dia tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikannya. Lara hatinya semakin dalam kesalahannya membuat Changmin benar-benar membuang perasaan dan mengacuhkannya begitu saja.
Yunho meratapi ketidakadilan, sepertinya tidak ada yang mampu mengerti sepi hatinya saat sang tunangan pergi jauh memilih mengejar mimpinya, dan sepertinya tak ada juga yang mampu memahami sakit sesak hatinya saat ini, saat dia baru saja menjamah hangat yang dirindukannya, namun dia diharuskan untuk menjadi orang jahat setelahnya. Dia tidak ingin menyakiti siapa-siapa, hanya sakit ternyata memilihnya.
.
.
"Oppa kau sakit, ayolah! kita ke dokter saja.." Bujuk sang adik yang mengkhawatirkan sang kakak yang menggigil panas diatas matras.
"Tidak perlu Jihye, kau pulang saja. Aku hanya perlu tidur!" Tolak Yunho membungkus dirinya dalam selimut.
"Kalau begitu, pindah ke dalam kamarmu, jangan tidur dilantai seperti ini!" Gemas Jihye memukul pelan lengan Yunho yang terbalut selimut tebal. "Aku akan memangggil Ye Ji oennie, agar dia kemari.."
.
.
.
To be continued...
Hi there how's it goin' ?
Jadi bagaimana ? Ada yang bosan ? tenang! secepatnya akan ditamatkan saja! mungkin di chapter selanjutnya, bagaimana ? yes maybe..
Nah! Bercanda! Infact.. update lama ga lamanya, atau cepet tamat ga tamatnya itu tergantung kalian para peminat tulisan saya^^. Mengerti maksud saya, mohon angkat suara! ヽ(^。^)ノ
Ok! i don't have anything else to say, again hope you enjoy it! Gimme your point of view, some love maybe.. and Dah! Thankyou^^
Love love love
InoCassio
