VOCAL

Don't Like Don't Read

Precious Love, KyuMin's

It just my delution, Hope you like it.

enJOY~

.

.

.

Sudah hampir jam dua belas.

Dua jam sudah Kyuhyun menunggu. Gelisah, ia memainkan ponsel. Berusaha menghubungi nomor Sungmin. Tidak ada jawaban. Dengan kebebalannya, Kyuhyun tetap menunggu. Menunggu pergantian waktu yang kurang lebih tiga belas menit lagi akan memasuki tahun baru.

Melongok kepala kekanan dan kiri. Duduk dan berdiri bergantian. Rasa gelisah tak menyenangkan muncul disaat mengeratkan pakaian hangatnya. Ada hal lain yang lebih penting dari pergantian tahun yang ditunggu semua umat.

Sebuah jawaban.

Konser perdana telah ia lalui. Hasilnya sangat memuaskan. Manajer telah diusir segera setelah konser berakhir. Wajah berseri dan senyum terkulum, ia berkata punya urusan pribadi. Manajer mengiyakan, beberapa kata nasihat dilontarkan. Kyuhyun berlari girang menuju tempat pertemuan sendirian.

Menit terus berlalu. Bagaikan darah yang mengalir dari cela ujung jari yang terluka. Setetes demi tetes lain bersatu mengeluarkan ngilu. Ngilu merambat menusuk ulu hati. Menunggu, terlebih untuk sesuatu yang belum pasti.

Semua orang berkumpul di titik pusat kota. Menanti kembang api dan pekik meriah menyambut. Taman yang tadi ramai mulai sepi perlahan. Menyisakan beberapa pasangan dan diri Kyuhyun seorang. Tanda Sungmin akan datang, tak ada.

Lima menit lagi. Badan Kyuhyun bergetar lalu lemas. Sebelumnya, telah yakin sembilan puluh sembilan persen perasaan tak terbalas. Mungkin ia terlalu percaya diri, menafsirkan sebagai sinyal positif Sungmin yang tak sulit didekati Kyuhyun.

Satu persennya, keajaiban. Dan itu yang setia dinanti namja berambut ikal.

Sebuah konsep terpatri dalam pikiran Kyuhyun. Sungmin tak datang, berarti penolakan. Sia-sia kah usahanya selama ini?

Belum. Semua belum berakhir. Belum sampai melewati batas waktu. Air telah menggenang di pelupuk mata Kyuhyun. Dinginnya tengah malam tak bisa menyaingi suhu hati vokalis itu.

Di konsernya tadi, jelas ia melihat Sungmin duduk di bangku yang dipersiapkan. Tapi mengapa Sungmin tak datang sekarang? Apa keputusannya, membuka identitas diri adalah salah?

Tak ada kemungkinan lain selain penolakan. Kyuhyun membayangkan akan mudah mendapatkan Sungmin setelah namja itu tau siapa yang selama ini dipuja. Kyuhyun hanya ingin memberi kejutan.

Hei, siapa yang tidak mau menjadi kekasih sang idola? Yang ternyata berada sangat dekat dalam jarak pandang. Namun sepertinya semua rencana dan pemikiran terbantahkan.

Dua menit terasa sangat lama. Menyiksa. Degup jantung setara detak jam ditangan yang terus menerus dipelototi Kyuhyun. Tak melepaskan pandangan, menunduk masuk lingkaran detik berjalan perlahan.

Satu menit terakhir. Kyuhyun memejamkan mata. Ia hanya bisa berdoa sekarang. Sembari menghitung angka enam puluh mundur kebelakang.

Kyuhyun menahan nafas, sesak melingkupi dada sambil terus menghitung mundur. Siap tak siap, ia harus mengakui kekalahan di depan mata.

15…14...13...12…

"Hei, Kyuhyun?"

Hitungan berhenti di angka sepuluh. Kyuhyun tersentak. Keajaiban datang?

Menengadahkan muka menatap sosok laki-laki di hadapannya. Mengerjab. Menguapkan air yang menggenangi mata merahnya. Raut wajah kebingungan. Bukan Sungminnya.

Lelaki itu menyodorkan sebuah kotak. Terbungkus kertas dengan pita biru bagian atas. "Ada yang memintaku menyerahkan ini padamu. Ambillah."

"Siapa?"

Lelaki itu tak menjawab. Mengarahkan bungkusan sedikit paksa dalam dada Kyuhyun. Kemudian berlalu dengan cepat. Menyisakan Kyuhyun dengan sejuta tanda tanya.

Kembang api memenuhi langit kota. Gemuruhnya menulikan indera dengar manusia. Tak terkecuali pria bersuara emas itu. Bukan, bukan karena ikut serta dalam gempita suasana. Tapi karena isi dalam kotak di pangkuannya.

Matanya berpendar menelisik lingkup disekitarnya. Tak ada tanda keberadaan seorang pun disana. Keyakinan kuat Kyuhyun tak mungkin salah. Terlebih kertas yang ia kenali dengan yakin tulisan milik Sungmin.

Pulanglah. Satu kata singkat disertai jam tangan di dalam kotak tersebut yang menunjukkan pukul dua belas lewat. Tak salah lagi, Sungmin pasti berada di sini. Sekarang. Entah alasan apa, namja itu tak mau menemui. Kyuhyun tak tahu, tak ada pencerahan untuk pertanyaan yang ia lontarkan pada pikirannya sendiri. Tapi ada satu hal yang Kyuhyun pahami.

Semua belum berakhir. Setidaknya benda ditangannya kini menjadi jawabannya. Ia tak bisa menyerah begitu saja sampai disini.

Masih ada setitik harapan.

.

.

.

"Hachiihh.." Hidung mancung yang memerah kembali digosoknya. Menggerak-gerakkan badan agar suhu tubuh tetap terjaga panasnya. Tangannya membawa bungkusan plastik.

Menatap pintu yang tak kunjung dibuka. Menekan bel telah ia lakukan dari tadi tapi tak ada jawaban. Apa pemilik kamar ini tengah pergi? Ah tapi tidak. Sungmin yakin si narsis itu ada di kamarnya.

Sungmin beralih pada handphonenya. Menghubungi nomor teman kerjanya itu lagi dan lagi. Nihil. Handphone bergetar tiba-tiba, Sungmin terperanjat. Untungnya ia tidak langsung mengangkatnya. Nama Kyuhyun muncul untuk kesekian kalinya. Sejak ia tadi melihat pria itu sudah menerima bungkusan darinya intensitas panggilan semakin meningkat. Tombol merah jadi pilihan.

Sungmin datang dengan perasaan campur aduk. Setelah konser berakhir ia kembali kerumah dan membenamkan diri pada kasurnya. Dalam hati ia terus bertanya, tapi tak menemukan jawabannya.

Apa maksud Kyuhyun melakukan itu semua? Jadi sebenarnya Kyuhyun adalah GX? Lalu untuk apa ia menyentuh Sungmin? Menyatakan cinta? Ingin mempermainkannya? Apa ia pikir Sungmin bisa dipakai sesukanya?

Ia tak tahu bagaimana Kyuhyun dengan identitas GX diluar sana. Kehidupan dunia hiburan tentu tak jauh dari hubungan semacam itu, dan Kyuhyun atau GX siapapun itu sepertinya sudah ahli memanjakan desir seksual seseorang. Rasa malu dan terhina Sungmin muncul disertai bayangan apa yang telah Kyuhyun lakukan padanya.

Satu jam lamanya Sungmin berpikir dengan kepala panas dan emosi negatifnya. Saat handphonenya berdering dari dalam tasnya, kecewa kembali berlipat ganda. Kado yang telah ia siapkan. Kata-kata yang ingin ia ungkap, rasa rindu yang akhir-akhir ini mengasai harinya.

Apa Kyuhyun benar-benar serius dengannya atau hanya mempermainkan saja? Tak berlama dengan spekulasinya, ia menuju tempat yang dijanjikan Kyuhyun.

Setengah jam sebelum pergantian tahun ia melihat Kyuhyun masih berada disana. Sungmin tak tahu kenapa hatinya berdebar begitu cepatnya. Ia pikir mungkin karena marah saat melihat orang yang telah membohonginya. Menyembunyikan identitas asli darinya.

Sungmin meminta bantuan pada lelaki yang kebetulan lewat untuk menyerahkan kado yang ia bawa untuk diberikan pada Kyuhyun. Sebelumnya ia menyelipkan kertas ke dalam kotak kecil itu. Untungnya lelaki itu mau membantunya.

Kini ia terdampar di depan pintu teman kerjanya. Untuk sementara ia tak ingin pulang. Bisa saja Kyuhyun mencari ke rumahnya. Sungmin benar-benar tak ingin melihat penipu itu untuk sementara.

Sungmin mendecih kesal. Tak ada telepon balik dari orang yang berusaha dihubungin, yang ada malah dari seseorang yang sedang dihindarinya. Padahal mereka hanya dipisahkan pintu berwarna abu-abu. Kekesalan berkumpul, kesabaran Sungmin habis sudah. Ia tak mau mati membeku di malam tahun baru –ah tidak, ini sudah tahun baru.

Menggedor pintu dan sesekali menendangnya jadi pilihan Sungmin selanjutnya. "Ya! hyung-ah! Cepat buka pintunya!" tak peduli kemungkinan tetangga sebelah kamar akan keluar dan memarahinya. Itu urusan nanti, yang penting ia harus bisa masuk ruangan hangat di depannya terlebih dahulu.

Nampaknya usaha Sungmin membuahkan hasil semenit kemudian. Disambut dengan wajah marah lalu berubah menjadi raut bodoh yang menatap dirinya. Headset melingkar menutup indera dengar Yesung. Sungmin memutar bola mata malas. Oh, pantas saja.

Mengindahkan sopan santun bertamu, Sungmin menerobos masuk. Yesung melotot tak percaya akan tingkah aneh temannya itu. "Yah! Sungmin-ah!" sambil berkacak pinggang, lelaki itu mengikuti langkah tamunya setelah menutup kembali pintu apartmennya.

Masih tak habis pikir dengan tingkah Sungmin, Yesung dikejutkan lagi oleh kehadiran botol-botol berwarna hijau berasa keras di mejanya. "Lee Sungmin! Kau gila? Soju?"

"Tck! Yesung hyung sini temani aku minum, aku sudah berbaik hati membawakan ini untukmu." Dengan cekatan satu botol telah terbuka. "Kemarilah, ayo minum hyung-ah." Ucapnya seraya menyodorkan segelas kecil di tangan kanannya.

Yesung mengambil tempat cepat disebelah Sungmin. Memperhatikan Sungmin yang menatap balik dengan mata polosnya. "Kau kenapa? Sedang ada masalah? Kenapa tiba-tiba-"

Gluk "Pahitt! yaick.." satu teguk telah masuk membasahi kerongkongan Sungmin. "Aku baik-baik saja hyung, tak usah khawatir ne? Nah, sekarang minumlah, minum." Sungmin memaksa. Menyodorkan gelas kecil yang sudah ia isi kembali pada Yesung. Membuat namja kurus itu tak berkutik selain menerima dan menghabiskannya. Setidaknya ia menghargai pemberian tamunya.

"Bagus! Ayo kita rayakan tahun baru ini! Juga ayo rayakan ulang tahunku! Ayo kita minum sepuasnya!" lagi-lagi Sungmin menenggak air bening beralkohol itu.

.

.

.

Senyum itu, palsu. Jelas ada hal yang ditutupi Sungmin. Isi botol telah berkurang setengahnya. Membuat lelaki satu tahun diatas itu khawatir. Berulang kali ia mencoba menghentikan Sungmin. Tapi sifat keras kepala temannya itu benar-benar membuatnya pusing.

"Sudahlah Sungmin-ah, hentikan jangan minum lagi." Yesung kembali berusaha menjauhkan botol dari jangkauan Sungmin.

"Yaa~ biarkan aku minuuum. Aku sudah berumur tujuh belas tahun sekarang. Jadi aku sudah boleh minum hyungie.." racau namja manis itu.

"Untuk orang yang baru pertama menyentuh minuman dan masih sadar kau hebat Sungmin-ah, tapi sudah waktunya kau berhenti."

"Tidak! Aku masih mau minuum. Kemarikan minumanku hyung, aku masih mau minum. Hikk.. Aku masih kuat," dengan sisa tenaga Sungmin meraih kembali botolnya.

Percuma menghentikan Sungmin saat ini. Kepala Yesung mendadak pusing melihat Sungmin seperti ini. "Terserahlah!" ujar namja sipit itu lantas berlalu ke kamarnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Yesung yakin ada yang Sungmin sembunyikan. Minum bukanlah gaya Sungmin yang selalu mengutamakan kesehatan. Orang bilang minum adalah cara untuk lari dari masalah dan melupakannya. Memang apa masalah Sungmin? Selama ini dia tampak baik-baik saja. Bahkan akhir-akhir ini dia terlihat senang.

Melamun, senyum-senyum sendiri. Mungkinkah ini masalah cinta? Otak cepat Yesung menyimpulkan demikian. Lalu apa Sungmin ditolak atau di campakkan? Yesung penasaran, tapi ia tak ingin terlibat lebih jauh. Masalah cinta tak seharusnya ada intervensi pihak ketiga bukan?

Ah, sebaiknya ia kembali menemani Sungmin, takut-takut namja itu hilang kendali atau tak sadarkan diri. Yah, benar saja. Sesampainya di ruang tengah Yesung mendapati Sungmin sudah merebahkan kepalanya pada meja. Pasti kepalanya terasa berat –atau mungkin malah ringan? saat ini.

Yesung menghampiri dan duduk disebelah Sungmin. Menyingkirkan gelas dan botol sejauh mungkin. Menatap miris teman kerjanya itu. "Kau mabuk Sungmin-ah."

"Uuuh.. Brengsek.."

"Hn? siapa?" tanya Yesung. Ternyata rasa penasaran masih menyelimuti batinnya.

"GX.. Kau ternyata GX, hahaha.. Bodoh!"

Kening Yesung mengkerut heran. GX? Setaunya itu idola Sungmin kan? Beberapa hari lalu namja itu membanggakan tiket konser VVIP yang dibanggakan. Jadi, ini masalah dengan idola. Kesimpulan abu-abu lain muncul dipikiran Yesung.

"Kenapa? Apa GX tak seperti harapanmu? Apa konsernya kacau tadi?" Yesung tertarik ingin tahu.

"Kenapa? Hikk.. Kenapa kau membohongiku Kyuhyun-aaahh!" teriak Sungmin.

"Kyuhyun?" gumam Yesung. Kalau tidak salah, Kyuhyun ini orang yang akhir-akhir ini sering bersama Sungmin. Tuan muda kaya teman sekolah. Orang aneh yang menyuruhnya mengawasi Sungmin di tempat kerja, agar tetap sibuk dan tak ada waktu memutar mp3nya. Disaat istirahat sekalipun. Tentu bagian uang yang Yesung terima adalah rahasia.

"Tadi GX? Lalu sekarang Kyuhyun? Sepertinya kau bermasalah dengan idola dan temanmu." gumam Yesung. Jadi bukan masalah cinta atau perempuan, dasar anak sekolah jaman sekarang. Well, sebenarnya ia juga baru lulus sekolah menengah tahun lalu.

Drrt Drrt Drrt

Handphone Sungmin menampilkan dering panggilan masuk. Tubuh Sungmin menegap seketika sambil memicingkan mata melihat handphonenya. Yesung melihat Sungmin mengucap sumpah serapah pada benda pipih tanpa mengangkatnya. Melirik sekilas, namja pecinta hewan lambat melihat nama Kyuhyun tertera disana.

"Tidak diangkat?"

Tak ada jawaban. Sungmin kembali meletakkan kepala pada meja. Yesung sebenarnya tak ingin ikut campur. Tapi sebisa mungkin ia harus menyingkirkan Sungmin dari rumahnya. Besok kekasihnya akan datang berkunjung!

Segera ia meraih benda yang masih berdering itu. tombol hijau ditekan. "Yeoboseyo Kyuhyun-ah."

"Ini aku Yesung, masih ingat?"

Nada khawatir dan berondongan pertanyaan segera Yesung terima. Dengan santai ia menjawab satu persatu pertanyaan Kyuhyun. "Hmm, Yah Sungmin ada di tempatku sekarang. Dia baik-baik saja, hanya sedang mabuk sepertinya."

"Dengar Kyuhyun. Aku tak tahu masalah kalian apa dan aku tak ingin ikut campur. Jadi bisakah kau jemput Sungmin sekarang? Besok hari penting bagiku jadi bisakah kau antar Sungmin pulang? Aku sudah lelah dan mengantuk tapi tak bisa tidur karena ada seseorang yang sedang meracau dan memakimu." Dalam satu tarikan nafas yesung menambahkan isi kepalanya.

"Ya,akan aku kirim pesan dimana alamatku. Cepatlah." perintahnya sebelum sambungan komunikasi mereka terputus.

"Maaf Sungmin, aku mengangkat panggilan ini. Kau tenang saja, sebentar lagi Kyuhyun akan menjemputmu. Hoahhm."

Tak ada respon dari Sungmin. Yesung segera mengirimkan alamatnya lewat handphone Sungmin. Berharap Kyuhyun benar-benar cepat datang karena ia sudah sangat mengantuk.

"Kyuhyun-ah.. Kyuhyun-ah.. aku membencimuu.." kembali Sungmin meracau. Matanya terpejam penuh saat ini. Yesung berdecak dan memutar bola matanya malas. "Kyuhyun sebentar lagi datang, kau bisa katakan sendiri padanya nanti." jawab Yesung. Hal tak berguna memang berbicara pada orang mabuk.

"GX.. GX.. Hikk.. Kyuhyun.. Kyuhyuun.. Kenapa kau mempermainkanku.." Yesung memutuskan kembali ke kamar tidurnya daripada mendengar omongan tak terarah Sungmin. Merebahkan badan sembari menunggu kedatangan tamu lainnya. Semoga saja ia tak ketiduran.

Sungmin ditinggal sendirian dalam keadaan setengah sadar. Rasa sakit di dadanya tak kunjung reda kala mengingat sosok itu. Setetes demi setetes air keluar dari mata indahnya. Terus menggumamkan sebuah nama. "Kyuhyun.. bodoh.. Aku, aku mencintaimu hikk.. brengsek,"

.

.

.

Maaf update lama dan cuma sedikit pula

lagi ada kesibukan lainnya

Terimakasih

Keep Love to KyuMin