Am I Your Father?

Disclaimer: Karakter milik mereka sendiri

Pair: SuLay, Slight KaiSoo, ChenMin, dan yang lainnya.

Warning: BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita), dan shi(t)netron sekali. Oh iya, anggap saja MPREG itu hal yang lumrah di sini.

.

.

.

Rangkulan yang tiba-tiba mendarat di pundak pemuda bermarga Zhang itu membuat pergerakan tangannya terhenti dan ia menyimpan kembali piring-piring yang hendak ia bereskan. Mendesah lelah, ia menoleh malas kearah wanita yang sedang tersenyum lebar kepadanya.

"Ada apa lagi, sunbae?"

Sebelum menjawab, wanita cantik berambut coklat bergelombang itu sempat menari-narikan jari telunjuknya pada pipi kiri Yixing dan membuat pemuda itu menampilkan kembali wajah malasnya.

"Dasar kau penggoda ulung" Ujar sunbaenya itu dengan nada menggoda "Setelah tadi kau ditemui pria tampan, sekarang kau kembali ditemui pria tampan yang lain"

Yixing menaikkan kedua alisnya "Hah?". Ia tahu, para rekan kerja termasuk sunbae di depannya ini memang punya otak yang mungkin bisa dibilang agak geser, jadi mereka termasuk sunbaenya itu memang sering berbicara hal-hal yang nonsense, dan ia sudah mafhum. Tapi untuk sekarang, dia benar-benar gagal paham dengan apa yang dikatakan wanita di hadapannya itu.

Wanita itu menghela napas panjang lalu melepaskan rangkulannya "Kenapa kau kenal banyak pria tampan dan tidak pernah mengenalkan mereka padaku—ah pada kami" Sunbaenya itu diam sejenak, sementara wajah Yixing masih tampak kebingungan "Ah! Atau jangan-jangan kau ingin mendirikan kerajaan haremmu sendiri hah? Dasar serakah"

Yixing merotasikan bola matanya "Seriously, maksud sunbae apa, sih? Tidak usah bertele-tele, see? aku sedang sibuk sekarang"

"Kau kenapa jutek sekali sekarang? Apa kau sedang menstruasi?"

Yixing kembali mengehela napas panjang, lalu ia tersenyum berusaha semaksimal mungkin menarik kedua sudut bibirnya lebat-lebar supaya tidak terkesan dipaksakan "Aku tidak jutek kok, sunbaeku yang cantik" Ujarnya. Ia tidak mau memperlihatkan wajah kesalnya akibat dari pertemuannya dengan si—Ah Yixing lupa, ia sudah tidak sudi menyebut namanya. "Jadi ada apa, sunbaeku yang seksi aduhai bohai?"

Melipatkan kedua tangannya pada dada, sunbaenya menjawab "Itu, ada lagi pria tampan yang menemuimu. Dia ke sini bersama anakmu, Samson" Ujarnya menghiraukan pujian yang sarat akan dusta dari juniornya itu.

"Anson, sunbae"

"Lebih baik kau temui dia sana, dan sampaikan salamku pada pria itu ya—ah maksudku pada Bison" Ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Anson, sunbae" Ralatnya kembali, lalu ia melepas apron berwarna hijau tua yang ia pakai untuk mencuci piring "Ya sudah aku ke sana dulu" Ujarnya sambil mulai melangkahkan kakinya untuk ke luar dari sana dan yeah, keluar dari interogasi dan tudingan-tudingan yang tidak jelas dari sunbaenya.

Ketika ia hampir sampai ke meja dimana buah hatinya duduk, wajah lembut yang tadi hanya menampakan roman suram setelah ia bertemu dengan orang nomer satu di dunia yang paling tidak ingin ia temui, menjadi cerah kembali ketika netra hitamnya bersibobrok dengan iris cokelat orang yang paling ia sayangi.

"Mommy!" Anson yang tadi duduk langsung berdiri dan memeluk tubuh yang tadi sempat menyamakan tingginya dengan pemuda kecil itu seolah mereka sudah lama sekali tidak bertemu.

"Anson kenapa ke sini sayang—" Lalu Yixing menoleh kearah pria yang membawa anaknya ke sana, lalu bibirnya mengurva untuk membalas senyuman lembut yang dilayangkan pria itu padanya "—Ah, Yifan ge juga ke sini ya"

Yifan mengangguk "Aku sedang ingin makan siang di sini, jadi sekalian saja aku bawa Anson ke sini"

"Terima kasih, Yifan ge" Ujar Yixing dengan senyum lebar yang masih terukir di kedua belah bibir penuhnya. Lupakan soal Junmyeon, Yixing masih berpikir bahwa di dunia ini masih ada pria baik seperti Yifan.

Setelah mendapat anggukan dari Yifan, Yixing kembali berdiri dan memangku Anson untuk kembali duduk di kursinya. "Jadi kalian mau pesan apa?" Tanyanya dengan semangat, seolah kegalauan hatinya yang tadi tersapu bersih dari ingatannya. Yeah, lagipula untuk apa memikirka orang yang belum tentu peduli kepada kita, kan?

"Aku… ingin sesuatu yang dingin Xing, karena kebetulan suasananya sedang panas sekali hari ini"

Yixing diam sejenak, panas? Seriously? Maksudnya, ini sudah termasuk sore dan menurut Yixing, angin sore yang berhembus dari celah-celah jendela dan bahkan tanpa ac yang menyalapun sudah bisa membuat suhu ruangan menjadi dingin. Well at least, tidak bisa disebut panas. Begitu.

Tapi, ya sudahlah. Mungkin saja indra peraba setiap orang memang berbeda-beda.

Mengangkat bahu, Akhinya Yixing mengangguk sambil berkata "Baiklah, kalau makanannya apa ge?"

"Aku pesan minum saja"

Yixing kembali mengangguk, tidak peduli dengan fakta bahwa tadi Yifan bilang bahwa dia kesana ingin makan siang. "Kalau Anson mau makan apa?"

"Anson apa saja mom, yang penting enaaakkk" Ujar Anson sambil menunjukkan ibu jarinya.

"Alright! Kalau begitu pesanan kalian akan segera datang!"

.

.

.

Yixing berjalan dengan langkah pelan beriringan dengan langkah kecil Anson dan Yifan yang kebetulan pulang bersamanya ketika mereka selesai makan siang (yang sebenarnya sudah terlalu sore untuk dikatakan makan siang) karena kebetulan juga shift Yixing berakhir pada waktu yang sama.

Mereka berjalan dengan hening, kecuali ketika sesekali Yixing menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari Anson tentang apapun yang ia lihat sepanjang jalan. Dan yeah, Yixing bukannya tidak peka dengan perbedaan yang ada pada bossnya, tapi ia hanya tidak terlalu berani untuk lancang bertanya.

Biasanya, Yifan akan lebih aktif mengobrol dengan anaknya dibandingkan dengan dirinya sendiri. Bahkan, Yifan yang biasa suka kelewat semangat sampai-sampai dengan wajah seserius itu ia bisa saja jadi orang yang suka membicarakan hal random dengan Anson. Tapi, Yixing merasa hari ini Yifan berbeda. Ia lebih banyak diam dan entah kenapa Yixing merasa wajah Yifan yang biasanya menguarkan aura lembut kini terasa mengeras.

Sebenarnya, Yixing sudah mencium hal yang berbeda dari Yifan sedari tadi di Restoran. Yups, ketika Yifan yang tiba-tiba meminta air dingin dan tidak jadi memesan makanan padahal ia bilang ia pergi ke sana untuk makan siang, awalnya ia hanya berpikir bahwa Yifan mungkin hanya kecapean. Tapi, dengan sikap Yifan yang sekarang, meskipun dengan kapasitas otak manusia seperti Yixing, ia bisa paham atasannya itu memang sedang ada masalah.

Tapi, ketika ia berniat untuk bertanya, ia kembali menarik pikirannya ketika ia sadar bahwa ia siapa? Ia hanya seorang bawahan yang mungkin saja Yifan tidak menghendakinya untuk ikut campur urusan pribadi atasannya itu.

Tapi seriously, ia sudah merasa tidak nyaman dengan keheningan yang ada diantara mereka. Dan hal itu membuat Yixing dilemma apakah ia harus memulai percakapan atau membiarkan saja Yifan memendam masalahnya sendiri?

"Umm… anu—" Akhirnya, setelah menimbang-nimbang, Yixing memutuskan untuk bertanya saja daripada hanya ia sendiri yang tersiksa oleh suasana "—Yifan ge, maaf kalau aku lancang tapi—" Yixing menjeda kalimatnya untuk menatap Yifan yang sekarang telah menoleh kearahnya "—apa gege sekarang sedang ada masalah?"

Yifan menaikkan kedua alisnya. Kentara sekali ia terlihat kaget dengan pertanyaan yang Yixing lontarkan kepadanya. Namun hal itu tak bertahan lama karena setelah itu, Yifan langsung melembutkan raut wajahnya.

"Aku tidak apa-apa, Xingie" Jawabnya sambil tersenyum lembut.

Yixing menggigit bibir mendengar jawaban Yifan yang jelas sekali terdengar bohongnya. Pemuda China itu kemudian menunduk "Aku… mungkin memang tidak bisa membantu menyelesaikan masalah gege, tapi yeah, aku bisa jadi pendengar yang baik—"

PUK

Sebelum sempat Yixing menyelesaikan kalimatnya, sebuah tepukan bersarang di atas kepalanya. Yixing mendongak dan mendapati cengiran Yifan yang sekarang sedang mengusap lembut rambutnya.

"Serius. Aku tidak apa-apa" Ujarnya "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku"

Yixing kembali menunduk "Maaf" ujarnya lemah.
Yifan mengangkat tangan besarnya dari kepala Yixing, lalu menunduk sehingga ia bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah karyawannya itu "Maaf untuk apa Xingie?"

"Maaf karena aku sudah lancang bertanya. Padahal aku bukan siapa-siapa" Jawabnya jujur. Ia jadi menyesal bertanya padahal ia sudah tahu bahwa Yifan akan menjawab seperti itu. Tapi tetap saja, mendengar jawaban langsung dari orang yang bersangkutan rasanya beberapa kali lipat lebih sakit. Rasanya, ia memang benar-benar bukan siapa-siapanya Yifan yang berhak tahu dan mendengar keluh kesah yang dirasakan atasannya itu.

Ah Yixing jadi merasa sangat melankolis sekarang.

Sementara itu, Yifan langsung menempelkan telapak tangannya pada dagu Yixing dan mengangkatnya untuk membuat Yixing kembali mendongak dan menatap kearahnya "Gege yang minta maaf" Ujarnya.

Lalu setelah ia melihat Yixing balas menatapnya, kedua tangannya kini berpindah pada kedua belah bahu Yixing "Mungkin aku memang ada masalah. Tapi untuk sekarang, biar ini jadi masalahku sendiri. tapi jangan salah paham, aku bukannya tidak menganggapmu siapa-siapa, kau adalah orang yang berharga untukku, aku tidak bohong. tapi serius, untuk kali ini mungkin aku belum bisa menceritakan apapun padamu, Xingie"

Yixing tersenyum dan kembali meminta maaf. Setelah mendengar apa yang Yifan katakan, ia jadi merasa malu juga kepada Yifan dan juga pada dirinya sendiri. Ia jadi sadar bahwa ada saatnya masalah itu hanya bisa orang itu pendam sendiri. "Lain kali, aku janji aku akan menceritakan apapun padamu"

Yixing tersenyum "Iya ge. Maafkan aku"

"Pokoknya, kau tidak boleh berpikiran macam-macam. Oke?"

Yixing terkekeh kecil "Iya, ge" Jawabnya singkat. Merasa bodoh juga karena sudah bersikap seperti heroine di drama-drama yang kadang ia tonton di televisi. Padahal ia sendiri sering berada pada posisi seperti Yifan sekarang.

Sementara itu, di sana, mereka melupakan Anson yang sedari tadi hanya menatap tidak paham kearah keduanya.

"Ah kehidupan orang dewasa memang membingungkan"

.

.

.

Setelah mereka kembali berjalan dengan suasana yang mulai kembali mencair, tidak terasa akhirnya mereka hampir sampai ke gerbang rumah Yixing. Namun, sebelum mereka sampai, langkah mereka terhenti ketika sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di depan pagar rumah pemuda China itu.

Sejenak. Yixing merasa was-was. Takutnya orang yang tadi menemuinya sekarang kembali nekat dan datang lagi ke rumahnya setelah tadi sore Yixing berhasil mengusirnya. Namun ternyata perasaan was-wasnya tak terbukti ketika ia melihat sosok adiknyalah yang keluar dari mobil mewah itu.

Yixing tidak terlalu ambil pusing, ia hanya menyangka bahwa itu adalah salah satu teman Luhan dari universitas dan mungkin saja mereka baru pulang dari mengerjakan project kelompok. Atau jika itu memang pacar Luhan, Yixing juga tak mau terlalu ikut campur asalkan adiknya tidak melanggar batas seperti dirinya dulu.

.

.

.

Kim Jongin mendendangkan lagu lewat suara siulan yang keluar dari celah kedua belah bibirnya. Perasaan senangnya tersirat jelas oleh ekspresinya yang tersenyum-senyum lebar dan langkah kakinya yang terlihat bersemangat.

Dengan suara siulan yang masih berdendang, ia menghampiri kakaknya yang sedang terlihat duduk manis di depan televisi. Melihat raut suram yang tercetak jelas di wajah rupawan kakaknya yang kentara sekali sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya sendiri, Jongin jadi menghentikan siulannya secara perlahan.

"Kau kenapa hyung?" Tanyanya to the point setelah ia meloncat dan menempelkan pantatnya di samping tempat duduk kakaknya.

Hening. Junmyeon tidak menjawab dan bahkan ia sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

"Oi, hyung, Kau kenapa?"

Pertanyaan Jongin kembali tersapu angin karena Junmyeon bahkan tampak tidak mendengar pertanyaan dari adiknya sama sekali.

Jongin yang sudah merasa ngeri melihat kakak keduanya seperti mayat hidup, langsung mengguncang-guncangkan tubuh Junmyeon hingga kakaknya itu tersentak dan langsung tersadar dari lamunannya saat itu juga.

"Ah gempa bumi?" Ujarnya panik.

"Gempa bumi? kepalamu yang gempa bumi hyung!"

Junmyeon yang akhirnya sudah mengumpulkan seluruh kesadarannya, menoleh kearah Jongin yang sedang mengerucutkan bibirnya karena sedari tadi presensinya tak dianggap sang kakak "Eh Jongin ternyata"

"'Eh jongin ternyata', palamu hyung. Kau tak sadar dari tadi aku disini?"

"Tidak" Jawab Junmyeon jujur "Kau gelap sih"

Sungguh sakitnya tuh disini.

"Gelap itu seksi hyung. Kulit tan itu sudah jadi tren jaman sekarang"

Junmyeon merotasikan bola matanya "Iya iya" Jawabnya malas.

"Well, 'kid zaman old' tidak akan mengerti sih ya" Ujarnya yang kembali mendapat tatapan malas dari Junmyeon "Anyway hyung, kau kenapa melamun sendiri?"

"Kalau berdua, aku tidak akan melamun Jongin"

Jongin menepuk dahinya sendiri. Iya juga sih, tapi bukan itu yang dimaksud Jongin "Maksudku, kenapa kau melamun? It's not like you at all. Tidak Kim Junmyeon sekali" Yeah, karena sosok hyung yang dikenal Jongin adalah sosok yang bersahaja, berkharisma, dan sangat bisa diandalkan. Bukan tipe manusia peratap keadaan.

"Kau sendiri kenapa aura-mu terasa sangat fuwa-fuwa dan merah muda?"

Jongin tersenyum lebar "Ah itu karena… kau tahu hyung? Aku akan pergi trip selama tiga hari dengan perusahaan dan itu artinya aku bisa mendekati managerku yang—" Jongin berhenti sejenak, sadar ia sudah dijebak "Kau malah mengalihkan pembicaraan"

Junmyeon terkekeh pelan "Memangnya kenapa? Lanjutkan saja ceritamu"

"Tidak mau! Aku ingin tahu, kau ini kenapa? Apa ada masalah? Kalau ada masalah kau bisa cerita padaku"

"Tidak Jongin. Aku sedang tidak ada masalah"

"Dusta! Mana mungkin orang yang tidak ada masalah bisa melamun sedalam itu"

Junmyeon menghela napas panjang. Ia jadi kembali teringat dengan pertemuannya tadi siang dengan Yixing yang berakhir dengan dirinya jadi seorang pengecut lagi. Harusnya, ia bisa bilang dengan lantang bahwa ia akan bertanggung jawab atas apa yang Yixing alami, meskipun ia tahu mungkin terlalu terlambat untuk melakukan itu. Tapi ia sendiri tidak mengerti kenapa tidak bisa mengatakannya, dan akhirnya ia malah kembali membuat pemuda itu kecewa.

"Ahh hyung, kau mulai melamun lagi, kan?"

Junmyeon kembali tersentak "Ah Jongin, maaf. Aku memang sedang banyak pikiran"

"Jangan banyak melamun hyung, kau tahu ada lagu yang mengatakan… ehem—" Jongin berdeham untuk mulai memperagakan lagu yang ia maksud "Janganlah melamun, tak ada gunanya tak akan mengubah keadaanmu. Kamu kesurupan kemasukan setan jadi tambah edan—ah sepertinya bukan itu liriknya"

Junmyeon kembali terkekeh melihat kelakuan adik bungsunya "Iya iya maaf Jongin"

Jongin ikut tersenyum "Hyung, kalau kau siap, kau bisa ceritakan apapun kepadaku karena—" Jongin menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya "—kalau hyung jadi edan beneran, aku tidak mau jadi pengganti posisi hyung di perusahaan" Setelah mengucapkan itu, Jongin langsung ambil langkah seribu ke kamarnya.

"Sialan"

.

.

.

TBC

.

.

.

a/n: Waaahhhh maaf lamaaaaaaaaaaaaa. Hahaha. Dan udah lama, sekarang updatenya pendek pula.

Sebenarnya, aku udah bingung dan stuck sama ff ini, jadi sekarang itung-itung ngebangun mood lagi buat ff ini. jadi untuk kedepannya, semoga saya bisa update rutin lagi wkwk (kalau gak sibuk ya)

Oh iya btw maaf yaa saya emang so sibuk, tapi doakan ya supaya lancar sampai wisuda wkwkk *apaan?

Dan kalau misalkan ada perubahan entah itu dari gaya bahasa atau apa, tolong beritahu supaya saya bisa memperbaiki.

Udah ah.

Terimakasih yang udah setia menunggu ff yang sudah karatan ini, sudah meriview, fav, dan follow, sungguh itu penyemangat buat saya.

Dan maaf untuk sekarang belum bisa membalas reviewnyaa

.

.

.

Ehem mind to review again?