Make Me Love You
Chapter 7
By : Hanaeri Delia
Disclaimer : Naruto milik Mashasi Kishimoto.
Aku Cuma minjam chara kok. Tapi, fic ini punyaku!
Warning : GaJe, Abal, OOC, Miss Typo(s), OOC, Ide pasaran, EYD tidak diperhatikan, Kekurangan dalam hal mendeskripsikan, Dan masih banyak kekurangan lainnya, maklum saya hanya penulis amatir yang mencoba berusaha menjadi penulis sesungguhnya.
Pair : SasuHina
Rate : T
Summary : Hyuuga Hinata, seorang gadis yang sudah tak peduli lagi dengan masalah cinta, karena kehilangan cinta pertamanya, kini didatangi oleh seorang pria yang mengaku sebagai penggemarnya dan berjanji akan membuat Hinata mencintainya. Akan kah Hinata melupakan cinta pertamanya dan berpaling pada pria yang mengaku sebagai penggemarnya itu?
DON'T LIKE? DON'T READ!
...
..
.
" Kau ingat padaku?" Tanya orang itu dengan suara tenang. Hinata diam.
" Mana mungkin aku lupa," mendengar itu, orang yang berada di hadapan Hinata mengulas senyum tipis.
…
" Lama tidak bertemu, Sasuke-kun," tambah Hinata dengan senyum manisnya.
" Hn. Kau tidak pulang?" Tanya Sasuke.
" Aku baru ingin pulang," jawab Hinata.
" Kau tidak bawa mobil?" Tanya Sasuke lagi, Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Naik ke mobilku, ku antar pulang," tawar Sasuke.
" Eh?"
" Naiklah," kata Sasuke lalu menarik tangan Hinata menuju pintu mobilnya.
…
Mobil mewah itu melaju di jalan dengan mulusnya, jalanan sedang lenggang saat ini. Di dalam mobil tersebut sangat sunyi, tak ada percakapan. Maklum, mereka berdua bukanlah orang yang tidak bisa diam. Namun, tidak berapa lama, Sasuke membuka percakapan.
" Temani aku makan malam dulu, setelah itu ku antar pulang," kata Sasuke dengan tenangnya.
Hinata tidak menjawab, di telinganya perkataan Sasuke tidak meminta pendapat, itu mutlak. Jadi, hening kembali menguasa sampai mereka tiba di sebuah restoran yang suasananya khas muda-mudi. Mereka berdua memilih meja di dekat jendela, tidak ada istilah meminta pendapat Sasuke langsung menarik Hinata duduk disana.
Seorang pelayan menghampiri mereka, menanyakan makanan apa yang ingin mereka pesan. Terjadi percakapan singkat antara Sasuke dan Hinata untuk memilih makanan, setelah sepakat mereka pun memberitahukan pesanan mereka pada pelayan yang setia berada di samping meja mereka. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu pergi. Tinggallah dua orang kalem ini dengan keheningan yang setia menyelimuti. Tiba-tiba handphone Hinata berbunyi.
" Moshi-moshi, Tenten-chan," sahut Hinata saat mengangkat teleponnya, ekspresi tenang Sasuke tampak berubah saat mendengan nama Tenten.
" Kau dimana? Sudah sampai?" cecar Tenten, suaranya terdengar khawatir.
" Aku sedang makan malam. Tenang, aku bersama Sasuke-kun. Kalian tidak usah khawatirkan aku," ucap Hinata tenang sambil mengarahkan senyum pada Sasuke. Sasuke tampak mengalihkan pandangannya.
" Eh? Sasuke? Bagaimana ceritanya?" Tanya Tenten lagi.
" Kami bertemu di jalan," jawab Hinata. Pelayan yang tadi datang membawa pesanan mereka.
" Tenten-chan, sudah dulu, yah," kata Hinata sebelum menutup hubungan telepon mereka.
…
Tenten's P.O.V
Hinata sedang bersama Sasuke? Apa Sasuke akan mengakui dirinya? Ah kuharap mereka bisa lebih dekat lagi.
" Bagaimana? Hinata sudah di apartemennya?" Tanya Neji padaku. Kami sedang makan malam.
" Belum, tapi dia baik-baik saja. Dia bertemu dengan seorang teman," jawabku.
…
Author's P.O.V
Setelah makan malam bersama, Sasuke mengantar Hinata ke apartemennya. Mobil mewah Sasuke itu kini tengah berada di depan apartemen dengan 12 lantai itu.
" Terima kasih, Sasuke-kun," ucap Hinata saat turun dari mobil Sasuke. Sasuke juga ikut turun.
" Hn. Hinata, boleh aku minta nomor ponselmu?" kata Sasuke. Hinata pun menyebutkan nomor ponselnya.
" Baiklah, aku akan menghubungimu nanti. Aku pulang dulu," pamitnya. Hinata hanya tersenyum menatapnya.
…
Malam semakin kelam, Hinata belum beranjak menuju dunia mimpi. Dia masih setia memperhatikan keindahan malam dengan bulan yang tersenyum indah serta bintang-bintang yang berkerlip-kerlip manis melalui jendela kamarnya. Hinata selalu suka kebiasaannya ini, menurutnya dunia saat malam lebih indah dari pada saat mentari bersinar di siang hari. Bulan lebih indah dibanding matahari. Bintang lebih menarik dibandingkan kumpulan awan putih yang mengagumkan itu. Ya, itu yang ia pikirkan.
Beberapa menit berlalu, Hinata masih setia dengan pandangan menakjubkan di atas sana itu. Tiba-tiba ia bergerak, nampak mencari sesuatu di saku celananya. Handphone. Handphone-nya berdering, sambil bertanya dalam hati siapa yang tengah malam begini mengiriminya pesan ia merogoh sakunya itu. Nomor tidak diketahui. Walau nomor tersebut tidak terdaftar dalam kontaknya, tapi Hinata hapal betul nomor siapa itu hanya dengan melihat tiga angka di belakangnya. Itu dari Si Aneh. Alisnya berkerut, bukankah orang itu mengatakan tidak akan mengganggunya lagi? Tanpa banyak berpikir lagi, Hinata membaca pesan itu. Isinya hanya menanyakan apakah Hinata sudah tertidur atau belum, namun tidak memakai sapaan 'hime' seperti yang biasa Si aneh itu lakukan. Hinata hanya membalas belum. Tak lama handphone-nya berbunyi, kali ini ada telepon, dari nomor yang sama.
" Moshi-moshi," ucap Hinata. Hening.
" Kau masih ingat nomor ini?" suara baritone itu mengalun dari seberang sana dengan nada tenang, pertanda bahwa orang yang berbicara itu termasuk orang yang kalem.
" Ya," setelah Hinata menjawab seperti itu hening kembali berkuasa.
" Maaf, mengganggumu. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu…," kata-katanya menggantung, entah sengaja atau tidak, Hinata tidak begitu peduli ia terlanjur cuek dengan orang itu.
" Aku… Uchiha Sasuke," suara baritonenya kembali mengalun. Hinata terbelalak.
" M-mana mungkin?" tanpa sadar ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir pulm-nya.
" Hn. Ini aku. Maaf dulu sempat mengganggumu,"
" A-aku masih tidak percaya. Bagaimana mungkin? Maksudku, kau…?" racau Hinata tidak jelas.
" Besok kita bertemu, akan ku jelaskan semuanya. Ku jemput jam 4 sore," kata orang yang mengaku sebagai Sasuke itu.
" Kau tidurlah," katanya singkat saat tidak mendengarkan balasan dari lawan bicaranya.
" Hm, oyasumi, S-sasuke-kun," ucap Hinata. Ucapan cukup pelan saat menyebut nama pemuda itu, dia masih belum percaya.
" Hn," hanya itu balasan Sasuke, setelah itu terdengar bunyi yang mengganggu pertanda telepon telah di putus.
…
Minggu yang menyenangkan, itu yang Hinata harapkan, ya semoga saja. Ia tetap berharap walau ia yakin mungkin hari ini ia akan badmood karena bertemu dengan orang yang beberapa waktu yang lalu membuatnya kesal.
Kini ia sudah berada dalam mobil mewah biru metalik itu lagi. Mobil mewah milik seorang Uchiha yang ia perkirakan akan merusak hari minggu damainya. Seperti kemarin, tak ada dialog yang terjadi. Beginilah jika menyatukan dua orang yang lebih suka kedamaian daripada berbicara tak berarti.
Mobil mewah itu berhenti di sebuah kafe. Hinata mengenal kafe itu. Itu kafe yang sering ia kunjungi bersama Tenten. Sasuke turun dari mobilnya, berjalan memutari bagian depan mobil untuk membukakan pintu untuk Hinata yang duduk di samping kursi pengemudi.
Setelah dibukakan pintu, Hinata ikut turun. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kafe tersebut, lalu duduk di kursi yang berada di samping jendela besar.
Dialog yang terjadi hanya karena pemesanan minuman, mereka tidak memesan makanan apapun. Setelah itu tak ada lagi yang membuka mulut. Hinata bergerak gelisah. Ia tidak suka kesunyian ini. Ini tidak seperti yang terjadi kemarin. Mereka canggung. Hinata tahu pasti masalahnya apa, dia masih belum menerima orang yang mengganggunya beberapa hari yang lalu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Hinata mencoba menghentikan kecanggungan itu. Sasuke hanya diam, tak bergeming. Tatapannya dingin, tapi tidak jelas menatap ke mana.
"Aku minta maaf," ucap Sasuke setelah sekian lama terdiam. Kali ini Hinata yang tak bergeming, ia tahu akan ada kalimat selanjutnya.
"Aku tidak tahu harus mulai darimana," ucap pemuda es itu lagi. Tatapannya kosong, menatap mata lavender Hinata.
"Tapi aku sungguh tidak sedang mempermainkanmu," katanya begitu cepat, mungkin ia takut Hinata salah paham.
"Aku benar-benar mengagumimu. Bahkan lebih, kau tahu maksudku, kan?" ucapnya lirih. Mata obsidiannya dengan tulus menatap lavender di depannya.
Sedetik, Hinata terbius oleh pancaran yang diberikan oleh mata sekelam malam itu. Setelah tersadar, ia mengedip-ngedipkan matanya, lalu menunduk.
"Aku rasa, a-aku ha-harus pulang sekarang. Perasaanku tidak enak," ucap gadis dengan mata sewarna lavender itu agak gugup tapi cukup terburu-buru.
Gadis lavender itu berjalan meninggalkan Sasuke yang masih terdiam. Sejenak mata sekelam malam itu nampak semakin kelam, namun dengan sekali katup, mata itu kembali seperti biasa, dingin.
Ia menaruh beberapa lembar uang di atas meja, lalu menyusul gadis Hyuuga itu.
…
Mereka kembali berada di atas mobil mewah itu dengan keheningan yang kembali mencekam. Hinata lebih memilih menyibukkan diri dengan pemandangan kota Konoha. Matahari sudah bersiap menuju belahan bumi lainnya.
Sekelebat kenangan-kenangan menyakitkan di masa lalunya berputar seperti adegan-adegan film di otaknya. Mata bak ladang lavender itu seperti akan menciptakan hujan. Sementara itu, Sasuke masih memfokuskan dirinya pada jalanan di depannya. Mata kelamnya seolah mengumumkan pada semua orang yang menatapnya bahwa ia tidak sedang baik-baik saja saat ini.
Mobil itu kembali memasuki kawasan apatemen tempat Hinata tinggal. Sasuke ingin membukakan pintu untuk Hinata seperti tadi, namun Hinata sudah lebih dulu turun. Gadis itu berjalan melewatinya seperti tidak menganggapnya ada di sana.
Mata onyx itu menatap punggung Hinata yang berjalan pelan menjauhinya. Bibirnya membuka, ia ingin mengatakan sesuatu.
"Hinata," panggilnya. Hinata terhenti, namun gadis itu tetap pada posisinya, tidak berminat melirik keadaan sang Uchiha di belakangnya.
"Maaf," lirih Uchiha itu, lalu beranjak pergi dengan mobil mewahnya.
Hinata terdiam, ia berbalik menatap mobil itu. Mata lavendernya menyiratkan kepedihan, entah apa. Seperti ada sejuta kepedihan yang sudah di tahan oleh lavender itu.
TBC
Membosankan kah? Aish Gomen. Terimakasih yang sudah baca, yang sudah review.
Review lagi yah? Arigatou~
