Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
.

.

.
DLDR
Selamat membaca.
.

.

.

Connecting With You
.

.

.

[Normal POV]
"Rin. Bisa kau hentikan itu."

"Menghentikan apa, Kak?" Tanya Rin bingung. Tangannya dengan santai meraih satu roti yang baru selesai di panggang lalu mengoleskan selai jeruk di atasnya. Tidak buruk untuk sarapan pagi.

"Sejak pulang dari rumah utama. Kau menjadi aneh. Apa terjadi sesuatu disana?" Desak Rinto menyelidik. Menaruh telur mata sapi di atas piringnya.

"Uhuk..." Rin terbatuk. Menelan Roti yang baru setengah jalan dengan terpaksa. "Mungkin cuman perasaan mu saja, Kak."

Perasaan? Yang benar saja! Batin Rinto tidak percaya. Jelas-jelas Rin bertindak mencurigakan. Rinto sangat sadar kalau adiknya itu akhir-akhir ini sering memperhatikan dirinya secara instens. Jangan-jangan...

Glup

Dalam mimpi pun dia tidak berani membayangkan adiknya menyukai dirinya. Itu kesimpulan paling buruk yang pernah dia pikirkan. Len bisa membunuhnya.

"Rin..."

Merasa namanya di panggil dengan nada aneh, Rin menoleh, menatap Rinto dengan satu alis terangkat. "Ya?"

Rinto bergerak gusar, mengabaikan rayuan telur mata sapi. Ini bukan saatnya untuk sarapan. "Kau tahu, kalau kau sudah bertunangan?"

Rin memutar manik birunya malas. "Ya, lalu?"

"Kau tahu, kalau Len tidak suka miliknya di ganggu?"

Di bagian ini, Rin sedikit gagal paham. Sejauh ini dalam ingatannya, dia tidak pernah mengusik barang-barang milik Len. Pikirnya polos. "Hm... mungkin."

"Jadi, kau tahu kan kalau Len bisa membunuhku?" Tanya Rinto memelas. Berharap adiknya mengerti.

Rin menatap kakaknya datar. Rinto sudah gila. Pasti. Tidak diragukan lagi. "Hm."

Sulung Kamine itu tersenyum. Biarpun adiknya bersikap menyebalkan. Dia tetap menyayanginya. Jangan sampai pisau ditangannya salah memotong. "Kau mengerti maksudku kan, adik?"

Rin mendesah. "Langsung ke intinya saja, kak." Finalnya.

"Jawab pertanyaan pertama ku kalau gitu."

Mendelik. Maunya apa sih?

"Aku sudah menjawabnya." Tutup Rin mengambil tas sekolahnya. Berlama-lama bersama kakaknya bisa membuatnya ikut gila.

"Aku berangkat." Pamitnya.

BRAK

Rinto mengelus belakang lehernya. Rin marah. Simpulnya cepat.

"Aku harus mencari bantuan."

.

.

.

Teto yakin matanya sedang bermasalah. Dia sudah memakai obat tetes mata. Tapi, mengapa pesan mengerikan di handphone-nya itu masih tetap ada? Jadi itu nyata?

From: Raja Drama

Bantu aku atau aku bisa mati!

Ada angin apa raja drama nomor satu meminta bantuannya? Seingatnya dia dan Rinto tidak pernah berdamai. Mungkin salah kirim. Kalau benar-benar mati pun, itu bagus. Dia tidak perlu mengotori tangannya untuk balas dendam.

"Pesan dari siapa?"

Dengan panik, Teto menyimpan handphone-nya. Dia melempar senyum kikuk pada Rin yang menatapnya curiga.

"Pagi, Rinny ~" Sapanya senormal mungkin.

Rin mengedikkan bahunya acuh. Tidak tertarik dengan privasi orang lain. "Hm."

"Kau mirip Len sekarang." Ups! Cepat-cepat Teto menutup mulut lancangnya. Rin sudah menatapnya horror. Itu artinya dia dalam kondisi tidak baik. Tanpa merubah posisi kursinya, Teto duduk menghadap Rin yang berniat untuk tidur.

"Sebentar lagi masuk." Peringatnya mengetuk kepala Rin.

"Kak Rinto sudah gila." Hanya itu yang Rin ucapkan sebelum terbang ke alam mimpi. Wow, Teto menatap takjub sahabatnya. Rin dan kakaknya, mereka berdua sama-sama gila. Memikirkan pesan Rinto, dia merasa ucapan Rin ada hubungannya dengan pesan yang belum lama ini di terimanya.

"Teto-chan." Bisik SeeU di telinganya.

"Ya am... hmmmpppp." SeeU dengan panik membekap mulut Teto sebelum teman merahnya itu berteriak. Matanya dengan awas melirik Rin.

"Sttt!" Peringatnya. Teto mengangguk mengerti. Dia tidak boleh bicara.

"Ada yang ingin bertemu dengan mu." Ucap SeeU. Teto mengikuti arah yang di tunjuk SeeU. Tidak ada siapa pun.

"Siapa?" Tanyanya. SeeU memberi kode padanya untuk melihatnya sendiri lalu pergi begitu saja. Tanpa memberinya penjelasan.

Mengehela napas. Teto pergi menemui tamu misteriusnya.

"Kau!"

.

.

.

"Yo, Len!" Cengir Kaito menyambut kedatangan laki-laki berwajah datar. Len melewatinya begitu saja. Tanpa membalas. Bahkan sekedar melirik pun tidak. Mendapat respon tak bersahabat, Kaito hanya mampu melapangkan dadanya. Sabar.

Sadar es ditangannya mencair, dia melahapnya cepat. Tidak baik membuang-buang makanan. Apalagi itu es krim.

Dibenahi penampilannya, Kaito memasuki kelas yang beberapa detik lalu dimasuki oleh es pisang berjalan. Di Crypton Academy Kaito berperan sebagai guru. Biarpun banyak yang mengejeknya bodoh, dia sebenarnya pintar. Tak perlu diragukan lagi.

"Kau telat Kaito."

Senyum yang di persiapkan Kaito untuk menyapa para muridnya luntur begitu saja saat melihat wajah judes Miku. "Miku, sedang apa kau disini?" Tanyanya bingung. Dia tidak salah gedung kan?

"Papa." Gadis cilik bergaun biru berlari kecil menghampirinya. Mengatasi rasa terkejutnya, Kaito merentangkan tangannya lebar untuk menangkap gadis cilik tersebut.

Hup

"Ada yang bisa memberiku penjelasan?" Tanyanya sambil mencium pipi putri kesayangannya.

"Tanyakan saja pada Rinto." Merasa namanya disebut. Rinto berhenti menggoda Lenka dan kegugupan langsung merasukinya, Miku sepertinya punya dendam tertentu padanya. "Dia yang memanggil kita kemari. Apa kau tidak mendapat pesan darinya?

Buru-buru Kaito mengeluarkan ponsel dan meringis. "Ponselku mati." Lapornya.

Miku menghela napas maklum. Sudah biasa menghadapi kecerobohan suaminya.

"Bisa aku mulai?" Rinto bersuara. Keringat dingin menguasai dirinya saat mendapati anggukan semua vampire yang dipanggilnya. Dia sebenarnya enggan melakukan ini kalau saja mata merah tidak mengancamnya. Dia menyesali keputusannya tiga jam yang lalu. Menemui dan meminta tolong pada sahabat adiknya adalah keputusan yang salah.

"Begini... aku rasa Rin menyukaiku."

"Uhuk... uhuk..." Gakupo tersedak minumannya. Meninggalkan jejak merah dilantai putih. "Kau pasti bercanda!"

Malu-malu, Rinto menggeleng. Gakupo tercengang. Otaknya pasti sudah geser. Pikirnya. Dia memilih untuk mundur. Kesabarannya akan diuji jika dia nekad menghadapi Rinto dan otak error-nya. Dia bisa lepas kendali. Biarpun sering dikatakan banci, dia tidak pernah bersikap malu-malu seperti halnya vampire bodoh di depan sana. Jadi, siapa yang banci sekarang?

"Err... aku pasti sedang bermimpi. Hahaha." Ucap Kaito menggaruk belakang kepalanya. Matanya, melirik-lirik takut pada Len. Dia langsung menyuruh putrinya bermain diluar. Aura gelap di pojokan sana menandakan akan datangnya badai. Tidak baik membiarkan anak kecil melihat adegan kekerasan.

"Ternyata kau lebih bodoh daripada Kaito. Sebaiknya kau jelaskan pada kami alasan mu bicara hal gila seperti itu." Perintah Luka berbahaya, menekan rasa mualnya. Rinto terlihat menjjiikan dengan sikap malu-malunya itu. Gakupo diam-diam memberi semangat pada tunangan tangguhnya.

Rinto sadar jika posisinya saat ini dalam bahaya. Jika dia salah bicara sedikit saja, maka dokter cantik itu akan langsung memberinya racun. Candaannya tadi gagal total. Bukannya mencairkan suasana, yang ada tatapan membunuh yang dia dapat.

Oke. Ambil napas dan lakukan yang terbaik. Dia mulai menjelaskan alasanya mengatakan sesuatu yang mengerikan untuk keselamatan nyawanya. Dia yakin teman-temannya akan mengerti.

"Jadi, cuman karena itu kau mengira Rin... Ya ampun! Kau sungguh idiot!" Gakupo kembali buka suara. "Kau berhutang satu liter darah berkualitas padaku!" Lanjutnya. Rinto hendak protes. Tapi, Teto menyelanya.

"Dia hanya vampire bodoh yang tidak pandai menyimpulkan. Abaikan saja dia. Ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas!"

Hancur. Teto menghancurkan perasaan dan juga harga dirinya. Tidak tahu kah dia kalau hati Rinto itu terbuat dari kaca. Mudah pecah dan rapuh. Hatinya lebih hancur lagi saat Lenka tidak mau melihatnya. Masa bodo dengan Rin. Masa depannya perlu di selamatkan. Dia mulai memikirkan bagaimana caranya berbaikan dengan Lenka. Telinganya menendang jauh semua penjelasan Teto.

Teto merasa berada di atas angin. Melihat wajah menyedihkan Rinto adalah suatu kesenangan tersendiri untuknya. "Aku akui, Rin memang bersikap aneh. Seperti yang di katakan raja drama sebelumnya, itu juga terjadi padaku."

Matanya terpejam. Berusaha menggali ingatannya saat Rin mulai bertingkah aneh. Dia ingat saat dimana Rin beberapa kali melihat kearahnya ketika makan. Juga saat ia dan Rin berada di luar ruangan, Rin berubah jadi cerewet menanyakan tentang kondisi kulitnya. Semua itu diluar kebiasaan sahabatnya.

"Aku merasa Rin tahu kalau kita adalah vampire."

Yang dikatakan Teto lebih mengerikan daripada hubungan terlarang antara kakak beradik. Setidaknya jika pemikiran Rinto terbukti benar, mereka tinggal membunuhnya dan masalah selesai. Berbeda dengan apa yang di sampaikan Teto. Mereka tidak bisa memikirkan solusi untuk masalah itu.

Gumiya mematikan kameranya. Dia merasa pembicaraan ini tidak seharusnya di rekam. Rinto yang memang tidak mau mendengarkan ucapan Teto dibuat heran dengan keheningan yang tersaji di depannya. Apa yang terjadi?

Melihat kebingungan kekasihnya, Lenka berbaik hati berbagi informasi. Dengan isyarat, dia meminta Rinto untuk mendekatkan telinganya dan mebisikkan sesuatu.

"APA? RIN TAHU KALAU KITA VAMPIRE?!" Rinto berteriak seperti anak perempuan. "Bagaiamana mungkin..." Lanjutnya berpikir.

"Apa yang dilakukannya selama dia berada di rumah utama? Kau tahu Len?"

Hanya itu yang terpikirkan olehnya. Mendengar pertanyaan Rinto, Teto dibuat teringat dengan pembicaraanya di telpon. "Rin mencari sesuatu disana."

"Sesuatu?" Tanya Gumi bingung.

"Ya, aku tidak tahu apa itu. Tapi, saat di telpon dia bilang sedang mencari sesuatu." Jelas Teto. "Kagamine berada di dekatnya saat aku bicara. Jika kalian tidak percaya."

Len mengangguk. Membenarkan. "Hm."

"Lalu apa kau tahu apa yang di carinya?" Tanya Gumiya berharap mendapat jawaban memuaskan.

"Tidak. Selama kami disana dia tidak terlihat sedang mencari sesuatu. Dia hanya..."

BRAK!

Kaget. Itulah yang dirasakan semua vampire disana. Len tiba-tiba saja menggebrak meja dan mengumpat.

"Kau tidak bisa tenang sedikit? Ya ampun..." Mengelus dadanya. Gumiya hampir saja membalas umpatan Len. Namun, di urungkannya ketika melihat kilatan marah dan aura gelap dari laki-laki bersurai kuning tersebut. Badai benar-benar akan datang. Ini bukan waktunya bercanda. Dia tahu itu.

"Rin tidak ada di kamarnya saat aku selesai bicara dengan Tetua Kamine. Sial!" Kalimat Len memperjelas semuanya. Sesuatu yang di cari Rin adalah kuncinya. Kunci untuk mengetahui rahasia mereka. Jika mereka tahu apa yang di cari Rin. Mungkin mereka bisa berbuat sesuatu.

"Aku akan menelepon ibu. Mungkin dia tahu." Rinto mencari nomor ibunya. Namun belum sempat dia menelepon, suara gadis kecil di luar sana menghentikan gerakannya.

"Kak Rin, apa yang Kakak lakukan disini?"

Rin?

.

.

.

"Hoaammm... jam berapa sekarang?"

"Jam 10. Kau tidur seperti berada dirumahmu sendiri, Rin." Kekeh Mayu. Rin tertawa canggung. Melihat boneka kelinci milik Mayu begitu dekat dengannya. Seram.

"Kau tahu dimana, Teto?" Tanyanya saat tidak mendapati surai merah diantara teman-temannya. Dia tidak mau tahu apa yang sedang mereka lakukan. Berisik sekali. Heran juga, kenapa dia bisa tidur dengan nyenyak?

Mayu menujuk pintu kelasnya. "Dia keluar bersama seseorang." Katanya. "Bukan begitu Usa-chan?"

Mengabaikan Mayu yang bicara dengan bonekanya. Rin berjalan keluar. Dia memutuskan untuk mencari teman merahnya daripada terjebak di kelas. Lagipula ada misi yang harus dia selesaikan.

"Kira-kira Teto pergi kemana?"

Rin sudah mengelilingi koridor kelas biasa. Tapi, tidak mendapati apa yang di carinya. Hanya kelas bangsawan yang belum dia telusuri. Jika pergi kesana. Dia bisa saja bertemu dengan alien shota. Membayangkannya saja enggan apalagi jika sampai bertemu. Mengerikan.

"Hhhh... apa boleh buat. Aku hanya perlu lari jika bertemu alien shota."

Dengan terpaksa, dia menginjakkan kakinya di koridor kelas bangsawan. Kakinya melangkah pasti, seakan tahu kemana tujuannya. Hanya ada satu kelas bangsawan yang aktif di jam pagi. Letaknya berada di ujung. Rasanya aneh, berjalan di tempat yang biasa terlihat ramai di malam hari dan sepi di siang hari. Kalau bukan karena ulah Len, tidak akan ada kelas bangsawan yang aktif di jam sibuk. Khususnya untuk para murid yang mengurus perusahaan keluarga. Kelas bangsawan memang kelas spesial. Siapa pun yang sekelas dengan Len pasti mengalami nasib sial. Pikirnya simpati.

Sayup-sayup, Rin mendengar suara ribut dari dalam kelas lalu mendadak hening. Apa mereka sedang diskusi? Pikirnya.

"Lain kali saja kalau begitu." Rin hendak pergi kembali ke kelasnya namun teriakan dari dalam kelas mengurungkan niatnya.

"APA? RIN TAHU KALAU KITA VAMPIRE?!"

Matanya melebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Vampire." Rin bergumam shock. Tubuhnya menyandar ke tembok. Telinganya masih bisa mendengar suara di dalam sana. Kepalanya tertunduk ke bawah, menyembunyikan ekspresinya.

Seorang gadis cilik dengan bunga di tangannya tersenyum cerah saat mata teal nya menangkap sosok yang di kenalnya. Dengan riang, dia berjalan menghampiri sosok yang berdiri di luar kelas. Tempat papanya mendiskusikan sesuatu yang tidak di mengerti olehnya.

"Kak Rin, apa yang Kakak lakukan disini?" Tanyanya antusias. Ekspresi senangnya lenyap saat melihat Rin menangis.

"Kak, kenapa kakak menangis? Apa aku nakal?" Tanya gadis kecil itu sedih. Menarik-narik rok Rin seakan meminta jawaban. Bunga di tangannya sudah tak berbentuk lagi.

Kriet.

Melihat Kaito yang membuka pintu, Gadis kecil itu melompat kepelukan papanya dan mengadu.

"Pa, Kak Rin sedang sakit. Papa, harus cepat menolong Kak Rin."

Kaito tidak menuruti keinginan putrinya, dia berjalan menjauh. Mengaibaikan putrinya yang protes minta di turunkan.

"Papa jahat. Kasihan Kak Rin. Dia sedang sakit."

Rin menghapus air matanya. Dia tidak kenal siapa gadis kecil tadi. Dalam hati, dia berterima kasih, siapa pun gadis kecil itu, dia akan mentraktirnya es krim, jika bertemu lagi nanti.

"Rin... kau sudah mendengar..." Rinto tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Bahkan dia tidak sanggup melihat wajah adiknya. Lantai di bawah kakinya jauh terlihat lebih menarik.

Dalam diam, Rin mengangguk. Melihat bayangan kepala Rin bergerak ke atas ke bawah, Rinto tak tahu harus berkata apa lagi.

Rin menarik napas. Matanya terasa perih tapi hatinya jauh lebih sakit. "Boleh aku ikut bergabung? Bersama kalian. Mendiskusikan masa depanku." Tanyanya sinis.

Rinto merinding. Dia bisa merasakan tatapan tajam dari adiknya dan aura mengerikan dari dalam sana. Pilih manapun. Dia akan mati. Nasibnya sungguh mengenaskan.

"Ahahaha... Apa maksudmu, Rin. Kami di dalam sedang bermain drama. Ya drama."

Akting yang buruk Rinto. Rin langsung tahu kalau kau sedang berbohong.

Rin menghela napas. Membuat Kakaknya takut hanya akan menambah kebohongan dalam hidupnya. "Apa semua orang disini adalah vampire? Kuharap Kakak menjawab dengan jujur. Aku sudah lelah di permainkan." Tanyanya lagi dengan nada lemah. Langsung keintinya.

Rinto menggeleng. "Tidak. Hanya kelasmu saja dan seluruh kelas bangsawan."

"Kalau begitu, pindahkan aku ke kelas lain di kelas biasa. Ini penawaran dariku. Aku akan memaafkan kalian. Termasuk kau Teto. Kau tidak perlu ikut pindah bersamaku."

Rin pergi begitu saja. Jika lebih lama lagi, dia yakin Kakaknya akan memberinya seribu alasan. Dia tidak terkejut. Hanya tidak percaya. Dia pikir apa yang ditulisnya di buku harian itu hanya cerita fiksi buatannya. Mengingat dirinya suka peri.

Rinto tercengang. Semudah itu kah?


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Teto Pov]

"... Termasuk kau Teto. Kau tidak perlu ikut pindah bersamaku."

Tubuhku menegang kaku mendengar suara dinginnya. Hei, Rin, apakah kamu akan tetap menganggapku sebagi teman saat ingatanmu kembali? Aku mulai ragu. Padahal beberapa hari yang lalu aku dengan percaya diri mengatakan pada Luka kalau kau tetaplah Rin yang ku kenal.

Tanpa banyak bicara, aku kembali ke kelas ku. Teman-teman langsung menyerbuku dengan berbagai macam pertanyaan. Dari pertanyaan mereka, aku tahu kalau Rin sudah pulang.

"Rin sudah tahu, kalau kita adalah vampire." Ucapku singkat dan berlalu pergi.

Aku berjalan tak tentu arah. Pikiranku kacau. Orang-orang yang berjalan disekelilingku nampak tidak jelas. Tanpa sadar, kakiku melangkah ke tempat yang paling ku hindari. Tempat yang menjadi awal pertemuanku denganya. Tempat penuh kenangan.

Di tengah hujan salju, dia dengan tangan mungilnya memberiku kesempatan hidup. Dalam keadaan sekarat, Rin mengulurkan tangannya.

Saat itu, aku dan ibu ku baru saja selasai belanja kebutuhan rumah. Tapi, dia meninggalkan ku saat orang asing tiba-tiba muncul dengan wajah menyeramkan. Ibu ku lari seorang diri. Sementara aku terpaku di tempatku berdiri menatap ngeri kegelapan.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain merintih kesakitan saat orang asing itu menggigit leherku. Aku merasakan setiap sel dalam tubuh ku mati seiring gigitannya yang semakin dalam. Orang asing itu pergi begitu saja setelah melihatku sekarat dan aku langsung sadar kalau aku baru saja digigit oleh vampire. Ibu selalu membacakan banyak dongeng waktu aku kecil. Tapi, ini tidak mirip dengan dongeng yang sering aku dengar dari suara lembutnya karena aku bukanlah seorang putri dan kurasa vampire itu juga bukan seorang pangeran. Vampire itu meninggalkan ku dan aku akan mati atau berubah menjadi vampire lalu mengamuk seperti di dalam film yang sering ku totonton.

Aku hanya pemeran piguran disini, pemain tak beruntung yang harus menerima perannya sebagai vampire kelas rendah atau bahkan mati karena di gigit vampire. Andai saja suara bagaikan lonceng itu tidak datang dan menawarkan ku suatu kehidupan, mungkin peranku sudah habis sampai disana. Seorang gadis kecil berpakaian lusuh berdiri menatapku polos. Aku pikir dia sudah gila saat mengulurkan tangannya dan memintaku untuk menggigitnya.

Apa dia pikir dengan tangan kecilnya itu bisa menyelamatkan hidupku? Dalam kesakitan, aku menatapnya sengit dan menyuruhnya untuk pergi karena aku sendiri tidak tahu seperti apa akhir dari hidupku. Jika aku berubah menjadi vampire kelas rendah. Aku tidak ingin menyakiti gadis kecil yang masih polos seperti dirinya. Aku tidak ingin merusak masa depannya. Namun, semua pemikiran ku salah. Gadis kecil itu dengan mudah nya mematahkan semua pemikiranku dengan dua kata miliknya.

"Aku Vampire." Ucapnya santai.

Aku mungkin tidak bertemu dengan seorang pangeran tapi aku bertemu dengan peri kecil. Peri itu memberiku pilihan. Hiduplah sebagai vampire atau mati sebagai manusia. Dia bersedia melumuri tangannnya yang kecil itu dengan darahku. Biru cerahnya seakan tahu kalau aku tidak ingin berubah menjadi makhluk kejam dan menjijikan.

"Berikan tanganmu, bodoh." Putusku.

Aku tidak mungkin menjadikan penolongku sebagai pembunuh. Lagi pula aku ragu, bagaimana caranya dia membunuhku dengan tangan yang bergetar dan sebuah pisau kecil. Dia terlalu baik untuk menjadi jahat. Setelah meminum darahnya, keadaan ku tidak langsung membaik. Rasa panas menyerang tubuhku.

Peri penolongku menguburku dalam tumpukan salju. Mungkin dia berpikir bisa mengurangi rasa panas yang kurasakan. Aku berjuang bersamanya melewati malam yang panjang. Mulut mungilnya terus memperdengarkan suara lonceng penuh harapan. Tanpa lelah dia terus memberiku semangat. Aku mendapati diriku berubah sepenuhnya mejadi vampire di pagi hari. Peri penolongku menyarankan aku untuk pergi ke suatu tempat. Dia memberiku alamat agar aku bisa melangsungkan hidupku sebagai vampire. Dia bilang, itu alamat seorang tuan rumah yang baik hati. Tuan rumah itu seorang vampire dan dia sedang membutuhkan tenaga tambahan. Peri penolongku mengatakan akan membantuku keluar dari kehidupan ku sebagai manusia. Aku pikir dia bohong.

Bagaimana mungkin gadis sekecil seperti dirinya bisa bermain sandiwara dengan baik?

Di saat aku mendengar suara langkah kaki, dia menyuruhku tiduran dan dia menangis. Langkah kaki itu mendekat terburu-buru dan semuanya terjadi begitu saja.

Siangnya namaku muncul sebagai korban pembunuhan. Peri penolongku pergi setelah menyelamatkan ku dari acara pemakaman. Dalam hati aku berjanji akan membalas kebaikannya.

Malamnya aku pergi ke alamat yang diberikan peri penolongku. Aku diterima sebagai pelayan disana. Aku sudah berkerja selama dua bulan. Semua orang di tempatku bekerja sangat baik. Mereka tidak masalah dengan statusku sebagai vampire baru. Mereka bilang banyak vampire muda yang bekerja sebagai pelayan karena sudah digariskan seperti itu. Mereka bilang aku terbilang beruntung bisa selamat setelah digigit vampire tak jelas. Aku setuju dengan pendapat mereka. Entah apa yang akan terjadi padaku jika peri penolong ku tidak datang.

Mereka mengajarkan ku banyak hal tentang dunia vampire. Aku menyukai dunia ku yang sekarang, tidak buruk seperti yang sering di gambarkan dalam film-film yang menceritakan keangkuhan dan harga diri vampire. Namun, pendapatku itu segera lenyap setelah tahu sisi gelap tempatku bekerja.

Waktu itu aku sedikit bingung, disiang hari aku di bangun kan kepala pelayan. Padahal itu waktu yang tidak baik untuk vampire keluar. Aku diminta mengantarkan sayuran mentah ke ruang bawah tanah karena hanya aku yang belum kesana. Dahiku mengkerut, bingung dengan sayuran mentah di tanganku.

Binatang seperti apa yang dipelihara tuan rumah? Sapi? Kerbau? Kambing? Atau Kelinci?

Aku melangkahkan kakiku turun sambil menebak binatang peliharaan tuanku. Aku merasa ini lucu, tuan ku yang terkenal tegas bisa memelihara binatang di dalam kediamannya.

"Ya ampun!" Pekikan ku tak bisa kutahan saat melihat sosok yang kukenal berada di balik jeruji. Dia Peri Penolongku. Bagaimana bisa?

"Hm? Ternyata kau kemari."

Matanya masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Dia tetap polos. Aku menghampirinya. Jeruji itu tidak di kunci. Aku tidak mengerti, mengapa dia tidak kabur?

"Apa yang kamu lakukan disini? Apa mereka menyakitimu?"

Peri penolongku terkekeh merdu dan berjalan keluar jeruji untuk mengambil sayuran yang kujatuhkan. Aku mengerang dengan kecerobohanku dan segera menyusulnya.

"Selamat datang di kamarku." Ucapnya sambil mengembangkan senyum tipis. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menjerit.

"Ini! Kamarmu? Yang benar saja? Bagaimana bisa mereka memperlakukan gadis kecil seperti mu dengan cara seperti ini?!"

Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku menjalani hidup baruku dengan tawa sementara peri penolongku mungkin sedang meringkuk sedih di jeruji yang dia sebut kamar.

"Aku bukan gadis kecil. Umurku sudah tujuh puluh tahun." Tuturnya santai sambil menggigit salah satu sayuran yang kubawa. Mataku melebar kaget.

"Janga makan itu!" Seruku panik.

"Ayo cepat muntahkan. Kau bisa mati." Dia kembali terkekeh dengan suara loncengnya.

"Aku tidak akan mati karena aku setengah manusia." Tubuhku tersentak kaget. Dia memberiku senyum meyakinkan seakan mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan semua sayuran yang kubawa.

"Kembalilah. Kamu bisa kena marah jika berlama-lama disini."

Aku terpaksa menggangguk. Dia benar. Aku hanya akan membuatnya susah jika terlalu lama disini. Kepala pelayan mungkin akan curiga dan aku akan di pecat. Aku tidak mau itu terjadi karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membalas kebaikan peri penolongku dan ini lah waktunya.

"Teto. Panggil aku Teto. Itu nama baruku."

Dia berkedip dan bersuara ragu. "Rin."

"Rin?"

"Itu namaku." Wajahnya bersemu merah. Aku baru sadar kalau dia benar-benar bernapas seperti manusia, tidak seperti ku.

Aku menangis mengetahui kenyataan sebenarnya tentang penolongku. Aku benar-benar beruntung dan jahat di waktu yang sama. Sekarang aku mengerti mengapa dia menawarkan diri untuk membunuhku waktu itu.

Aku bertemu ibunya. Dia manusia sama seperti ku. Dia diubah menjadi vampire setelah menikah. Rin dilempar ke penjara bawah tanah dua puluh tahun yang lalu saat darah manusia nya muncul. Dia dinyatakan sebagai aib keluarga. Ibunya sangat baik dan rapuh. Dia begitu menyayangi Rin.

Rin hanya kurang beruntung. Terlahir sebagai setengah vampire dan setengahnya lagi manusia. Aku sedih karena tidak bisa melakukan sesuatu untuknya. Hidupnya sudah ditentunkan sejak darah manusianya diketahui. Dia akan menghilang diumurnya yang ke 170 tahun. Tanganku sudah tidak tahan ingin membawanya keluar dan menunjukkan dunia luar padanya. Walau hanya sebentar, aku ingin membuatnya bahagia. Rin selalu bercerita dengan riang mengenai dunia luar yang bersinar kekuningan.

Nyonya Kamine selalu datang mengunjungi rin menjelang senja dan Rin akan duduk manis berselimut kotor menunggu kedatangannya. Tidak peduli sekotor apa penjara (kamar) yang Rin tempati, nyonya Kamine akan duduk disamping anaknya. Dia menceritakan banyak hal tentang dunia luar. Terkadang aku ikut menambahkan.

Waktu cepat berlalu, sebentar lagi peri penolongku akan bebas dengan cara mengerikan, tinggal satu tahun lagi dan aku tidak akan mendengar suara loncengnya lagi. Aku sangat marah pada tuan besar (Kakek Rin). Dia tega menyuruh Rin bersekolah di sekolah vampire. Rin seperti daging lezat yang di lempar ke kandang singa. Dia dalam bahaya.

Aku dan nyonya Kamine berlutut, memohon pada tetua kejam satu itu untuk mencabut perintahnya. Rin masih punya waktu satu tahun, aku masih punya banyak cerita tentang dunia luar untuknya. Dia tidak boleh menghilang secepat itu. Usahaku dan nyonya Kamine tidak membuahkan hasil tapi Nyonya Kamine berhasil membujuk tetua kejam itu untuk menyekolahkan ku juga. Aku berjanji pada nyonya Kamine akan menjaga Rin dari semua hal buruk yang mengantri menunggu kedatangannya.

Sesuai dugaanku. Rin tidak di terima di sekolah vampire dengan harga diri dan keegoisan tingkat akhir. Dia mendapat perlakuan buruk. Aku melihatnya terdiam terpaku setelah terkena tumpahan cairan merah yang kutebak itu adalah darah. Rin terlihat ingin memuntahkan isi perutnya.

Aku segera berlari dan membawanya keluar. Rin benci darah. Aku memberi pelototan tajam pada orang yang membuat Rin kacau sebelum menghilang di balik pintu kantin. Lalu tak lama setelah kejadian itu, dia datang.

"Menikahlah denganku."

Aku tidak tahu, apakah aku harus membecinya atau berterima kasih. Dia datang bagaikan pangeran berkuda putih. Dia memang seorang pangeran tapi dia tidak datang membawa kuda putih melainkan cincin emas berkilauan. Penentu masa depan Rin. Dia meminta Rin untuk menjadi pendampingnya. Aku menahan diriku untuk membujuk Rin agar mau menerimanya dan menampar pangeran sialan itu yang berani melamar Rin setelah menyiramnya dengan darah. Dia belum minta maaf pada Rin.

"Seharusnya dulu aku mencegah kalian menikah. Maaf...Maafkan aku... Rin." Lirihku mengabaikan tatapan aneh orang-orang.


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Rin POV]
"Aku bisa berangkat sendiri!" Ucapku pada Teto dan Mayu. Semenjak pindah kelas, mereka berdua rajin mengantar jemputku. Pulang pergi.

"Lebih asyik ramai-ramai, Rin." Ucap Mayu riang. Asyik darimananya?

"Kalian membuat temanku takut." Protesku. Mengingat dua hari yang lalu mereka nyaris mematahkan tangan salah satu temanku untuk sebuah alasan konyol. Karena terlalu dekat. Apa salahnya? Bahkan dulu aku dekat dengan mereka.

"Vampire tidak butuh teman manusia." Aku mendengus. Mendengar jawaban yang di keluarkan Teto.

"Mereka baik." Belaku.

"Kau terlalu polos." Mayu mendekatkan boneka kelincinya, membuatku melangkah mundur.

"Kalian terlalu menyeramkan." Kataku. Mengambil langkah cepat. Meninggalkan mereka di tengah lapang.

Sudah dua hari aku pindah kelas. Meskipun begitu, aku masih dihantui oleh misteri kehidupanku. Kak Rinto tidak banyak memberiku penjelasan. Dia hanya mengatakan kalau aku sama seperti mereka. Lucu sekali. Bagaimana bisa aku menjadi seperti mereka? Kenyataannya aku bisa makan seperti manusia normal dan tidak merasa kepanasan saat di bawah terik matahari. Bukti terkuatnya adalah buku harianku. Disana tertulis kalau aku setengah manusia dan setengah vampire. Tapi jika aku sudah melewati umur tertentu, aku diminta untuk memilih, menjadi manusia atau vampire. Aku hanya perlu menunggu sampai waktu ku untuk memilih dan saat itu tiba aku akan menjadi manusia seutuhnya. Tapi, ada satu hal yang membuatku bingung. Statusku dengan Len. Di buku harian tidak tertulis apapun. Aku sepertinya berhenti menulis setelah masuk sekolah karena lembar berikutnya yang kutemukan cuman kertas putih. Namun, kemarin malam saat akan bersiap untuk tidur, aku tidak sengaja menyenggol buku harianku. Akibat kecerobohan ku, aku menemukan satu penyataan yang membuat perutku keram.

'Pangeran gila melamarku!'

"Siapa itu pangeran gila?"


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Normal POV]
"Rin-chan masih berpikir kalau dirinya setengah manusia dan setengah vampire." Ucap Mayu melihat kepergian Rin.

"Biarkan saja. Setidaknya kita sudah memberitahunya. Yang dia tahu hanya terbatas pada buku harian miliknya. Kunci utamanya adalah ingatannya sendiri. Kalau ingatannya sudah kembali. Dia akan tahu kalau kita benar." Balas Teto santai. Melewati Mayu yang menatapnya polos.

"Jadi, apa sekarang kita tidak perlu berpura-pura lagi?" Mayu mengejar Teto dan menyamakan langkah.

Manik merah Teto tanpa sengaja menangkap surai kuning milik Len. Dia mendengus saat tahu kemana arah tujuannya. Rin. "Ya, bisa dibilang begitu. Tujuan utama kita sekarang adalah membuat Rin percaya kalau dia Vampire, sama seperti kita."

Sudut bibir Mayu berkedut senang mendengar kalimat yang sudah di tunggunya sejak lama. Tidak ada salahnya dia bersabar. Sudut hatinya yang gelap mulai di tumbuhi beberapa bunga. Telinga Usa-chan bergerak, seakan tersapu oleh angin. Padahal disana tidak ada angin. "Usa-chan, penantian kita mendekati akhir. Apa kau senang?"

Melihat hal aneh yang dilakukan Mayu, membuat Teto merinding dan mempercepat langkahnya menuju kelas. Pikirannya berteriak untuk melupakan apa yang baru saja dilihatnya. Menulikan telinga dan menutup mata adalah cara paling aman untuk mempertahankan kewarasannya. Berada disekitar Mayu, tidak baik untuk pikiran rasionalnya. Dia sendiri tidak mengerti. Mengapa dia bisa dekat dengannya? Dan sejak kapan?

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Errr... ada sedikit pemberitahuan, rencananya saya akan memindahkan beberapa fanfic ke wattpad dan kemungkinan lanjutan ceritanya pun akan di publish disana... saya sedikit mengalami kesulitan untuk mengakses situs FFn... kalau pun tetap lanjut disini, kemungkinan saya update sebisanya/? *eh?

Chapter selanjutnya, tergantung dari pendapat kalian...

Terima kasih sudah membaca sampai akhir.