special thanks
kira-sama, Asaichi23, Kie2Kie, 0, Akihisa Funabashi, Rein Yuujiro, bananAISUcream, Accelerator-sama, Indexaccel, Rivania, Azura-sama, Chinatsu Chi-nyan,
dan yang semua yang telah memasukkan cerita ini ke dalam fave list mereka ataupun alert list mereka :)
ayah yang telah memberikan info modem
kakak unyu, aku kangen kamu!
dan kamu yang udah buka halaman ini!
disclaimer
yang kemarin ngikut aja yaa~
Kiss Me adalah lagu yang pernah dinyanyikan Sixpence none the richer dan New Found Glory, maaf saya tidak tahu penciptanya siapa. Bisa tolong beritahu saya?
warning
alur cepat dan mungkin sedikit memaksa. banyak perpindahan adegan antara Kaito dan Miku
super gombal tahun 2011! super gombal abad 21 lah~
bab ini panjang, sekitar 5k lebih, siapkan diri Anda! XD
berry blue
(sendok ketujuh)
Kaito menatap jalan lurus di hadapannya dengan seulas senyum lebar. Hatinya bagai berada di surga ketika dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan malaikat pengisi hari-harinya selama ini, orang yang paling disukainya, Megurine Luka. Sama sekali tidak percaya bahwa ini kenyataan, Kaito mencubit pipinya dan senyumnya semakin merekah saat dia merasakan rasa sakit.
Lagu Kiss Me yang dinyanyikan oleh New Found Glory terputar pelan di mobil sedan kesayangannya dan diikuti oleh suara rendah Kaito yang terdengar amat merdu. Bahkan hanya dengan dia tahu Luka menunggunya di rumah, Kaito merasa seluruh dunia berada di pihaknya, seolah mendukungnya untuk berusaha menggapai cinta pertamanya.
Cinta pertama? Jelas, Kaito memang baru merasakan perasaan ini ketika dia melihat Luka. Sebuah perasaan kekaguman yang dianggapnya sebagai cinta. Dia tidak salah kan? Toh Luka memang membuat jantungnya berdebar tak normal setiap saat.
Rumah bercat pink itu sudah kelihatan dari kejauan. Cahaya lampunya terlihat meneduhkan hati Kaito. Senyumnya sama sekali tidak luntur. Ketika dia akan memarkirkan mobilnya, sedan hitam lewat di sampingnya dengan kecepatan tinggi. Hampir saja mereka bertabrakan jika saja Kaito tidak mengerem mendadak.
Suasana hatinya sempat rusak karena itu, tapi saat dia teringat gadis cantik itu menunggu di dalam rumah untuknya, senyumnya kembali muncul. Nggak akan bisa yang mengacaukan momen spesial ini, benaknya berkata. Kaito akan menyatakan segalanya hari ini. Itu rencana terbesarnya dan entah kenapa dia merasa yakin kalau Luka akan menjawab 'ya' atau pernyataan cintanya.
Ataukah dia teralu percaya diri mengingat sahabat-baik-yang-selalu-mencelanya tidak berada di sampingnya akhir-akhir ini?
Kaito menggelengkan kepalanya saat bayangan Luka di dalam kepalanya mulai tergantikan pada sosok gadis berkuncir dua itu. Dia masih marah pada Miku dan tidak seharusnyalah dia memikirkan Miku. Mereka bahkan tidak pernah saling menyapa lagi sekarang semenjak Kaito selalu berangkat sekolah bersama Luka. Apapun yang terjadi, dia tidak akan menegur gadis itu duluan sebelum gadis itu menengurnya terlebih dahulu.
Pemuda itu menarik napas panjang, mematikan mobilnya, dan keluar dari sedan biru kesayangannya sekarang juga. Udara hangat khas musim panas seketika langsung menerpa wajahnya, membuat dia sedikit berkeringat gugup, tapi dia berusaha mengabaikannya.
Dengan senyum di wajahnya, Kaito mengintip rumah Luka lewat pagarnya. Gadis itu sudah berdiri di berandanya dengan setelan one piece berwarna putih. Rambut merah mudanya digelung ke atas dengan sedikit menyisakan beberapa rambut tipis yang menambah kesan seksi dari dalam dirinya. Sepatu berhak sekitar dua senti digunakan olehnya, menambah kesan kedawasaan di diri Luka yang masih berusia tujuh belas tahun.
Perhatian gadis itu kemudian tertuju pada Kaito saat dia kemudian menatap Kaito. Dia tersenyum tipis dan berlari menuju pagar, membukakannya untuk Kaito.
Senyumnya tampak polos dan matanya terlihat bercahaya. "Aku senang kau akhirnya datang dan menepati janjimu. Aku benar-benar suka sama orang yang selalu menepati janjinya."
Kaito merasa wajahnya memanas. Dia mengulurkan tangannya pada Luka, tersenyum dengan lembut seperti biasanya. "Princess, would you like to go out with me, now?"
Luka meletakkan tangannya di atas tangan Kaito, membiarkan pemuda itu mengenggamnya hangat seperti biasanya. "Kau memang benar-benar manis, Kaito-kun."
.
.
.
.
"Kita coba main itu yuk, Luka-chan!"
Wajah Kaito yang tersenyum lebar benar-benar membuat Luka nyaman. Mereka berada di kerumunan orang yang sedang mengunjungi festifal musim panas itu. Beberapa ada yang menggunakan yukata, tapi jelas Luka lebih memilih mengenakan pakaian biasa dibandingkan yang resmi seperti itu.
Gadis itu melirik tangannya yang digenggam erat oleh Kaito agar mereka tidak terpisah. Hanya dengan sedikit sentuhan saja, dia merasa seolah melambung tinggi. Sesuatu di dalam hatinya bergejolak nyaman dan bahkan meminta lebih.
Sejak kapan Luka bisa meminta lebih dari Kaito walaupun dia yakin jika dia memintanya, pemuda itu pasti akan memberikannya.
"Memangnya kau ahli dalam menembak?" tanya gadis itu pelan.
Kaito mengambil anak panah dan busurnya. Mereka sedang memainkan permainan dengan sistem 'bidik dan ambil'. Hadiahnya macam-macam, tapi sebuah boneka gurita menarik perhatian Luka.
"Kau mau yang mana?" Kaito balik bertanya dengan ekspresi sombong.
"Hee... kalau kau tidak bisa bagaimana?"
Pemuda biru itu mengedipkan sebelah matanya. "Nggak ada kata 'nggak bisa' dalam kamus Shion Kaito untuk seorang Megurine Luka."
"Baiklah." Luka tersenyum lebar, merasa senang dengan apa yang barusan dia dengar. "Aku ingin boneka gurita yang ada di sudut." Telunjuknya mengarah pada boneka imut berkaki banyak itu. "Apapun yang terjadi, kau akan memberikanku benda itu."
"Tentu saja, my princess! Jangan lepaskan pandanganmu dari ksatria tampanmu ini!"
Luka melirik Kaito yang kemudian berubah serius. Dia ingin tertawa karena pemuda itu tidak cocok seperti itu. Kalau teralu serius, Luka seolah merasa bahwa Kaito telah menjelma seperti pacarnya yang tidak pernah memberikan waktu untuk mereka berdua.
Kemudian, anak panah di lepas, tapi tidak mengenai boneka itu.
"Nggak kena," sahut Luka tanpa nada kecewa sama sekali.
"Pemanasan. Nggak enak kan kalau langsung kena?"
"Eeh?" Alis Luka terangkat sebelah. Sudut bibirnya ditarik ke atas, membentuk seulas cengiran jahil. "Alasan doang kan? Padahal sendirinya memang nggak bisa kena!"
Kaito menatap kedua mata Luka. "Kalau yang kedua ini kena, mau nggak kamu kasih aku hadiah."
"Hadiah apa?"
"Sebuah kecupan."
Luka tertawa. "Dasar mesum!"
"Eh? Tidak boleh ya?"
"Tentu saja. Kita bahkan nggak pacaran, Kaito-kun."
Kaito mengangguk penuh keyakinan. "Kalau aku pacar kamu, kamu mau ngasih aku sebuah kecupan?"
Luka diam. Matanya menatap Kaito. Apakah yang dia dengar barusan adalah sebuah pernyataan cinta?
Kemudian, pemuda biru itu memutar bola matanya menuju boneka gurita itu dan mebidikkan anak panahnya kesana. Senyuman lebar terpasang di wajah tampannya, membuat Luka sama sekali tidak bisa memalingkan matanya. "Yosh! Sekarang, sudah tiba saatnya untuk bertambah serius!"
Busur di lepas. Anak panah melaju.
Pemuda biru di hadapannya memekik bersemangat. Lalu tersenyum lebar padanya. Luka jelas mengerti maksudnya. Dia bisa segera memeluk boneka guritanya.
"Aku hebat kan?" seru Kaito.
Luka tersenyum. "Ya. Hebat banget. Aku bahkan sempat terpesona padamu!"
Mendengar pujian dari orang yang paling kau cintai adalah sesuatu yang paling membahagiakan bagi seseorang bukan? Anehnya, seorang Shion Kaito sama sekali tidak merasakan hal itu saat mendengar pujian Luka barusan.
Ada sesuatu yang aneh.
Ada sesuatu yang salah.
Bukankah selama ini dia mengagumi Megurine Luka?
Lantas... kenapa...
Apakah itu berarti... Kaito salah mengartikan kekaguman itu?
"Kaito-kun," panggilan Luka menyela pikiran Kaito. Pemuda itu menatap wajah cantik di hadapannya.
Tidak ada yang salah disana. Masih cantik seperti pertama kali mereka bertemu. Lantas... kenapa sekarang Kaito merasa biasa saja?
"Hadiahnya sudah bisa diambil."
"Eh? Ah... iya... sebentar ya, Luka-chan." Kaito berjalan menuju meja pengambilan, meletakkan busur dan kembali dengan boneka gurita di tangannya.
"Kawaii!" sahut Luka sambil meraih boneka itu dan memeluknya erat-erat. Senyumannya semakin lebar hingga membuat wajahnya terlihat amat cantik di bawah taburan bintang. "Makasih ya, Kaito-kun! Aku suka banget!"
Kaito membalas senyumannya, tapi dia sendiri tahu, semuanya terasa biasa... teralu biasa... Maksudnya, dia senang karena dia tidak gugup, tapi dia seolah tidak merasakan apapun saat Luka berada di sampingnya saat ini.
Apa ini juga merupakan kemarahan Miku padanya juga mempengaruhi hal ini?
Ataukah...
"Kaito-kun, kita mau kemana sekarang?"
Iris biru lautan itu mengerjap perlahan, kemudian dia memasang cengiran bodohnya. "Kemana saja kau ingin, Luka-chan!"
"Hee... benarkah? Kalau begitu, aku ingin makan gula-gula kapas yang warnanya sama seperti rambutku!"
Kaito mengangguk cepat. "Kau mau tunggu disini atau bagaimana?"
Luka tersenyum tipis. "Apakah aku boleh menunggu disini layaknya seorang putri yang menunggu pangerannya?"
"Tentu sa..." Dan kalimat Kaito terpotong ketika dia merasakan kehangatan bibir Luka di pipinya. Matanya mengerjap perlahan, tidak percaya dengan apa yang barusan dirasakannya.
"Aku menunggumu disini, Kaito-kun." Gadis itu terlihat sangat cantik. Begitu cantik hingga membuat Kaito tidak mampu berkedip sama sekali.
Dan pemuda biru itu terlihat begitu bodohnya, hanya terpaku di depan gadis cantik itu. Sedikit bimbang dengan perasaan yang sebenarnya dia rasakan kepada gadis itu. Bukankah setiap pria di dunia ini akan jatuh cinta pada gadis secantik itu? Lantas, kenapa Kaito masih meragukan perasaannya?
Tentu saja dia kagum pada Luka.
Tentu saja dia mencintai Luka.
Bukankah orang bilang batas kekaguman dan cinta hanya setebal lapisan tipis gelembung udara? Sekitar 0,00001 milimeter bukan?
Kaito tersenyum lebar. "Makasih ya, Luka-chan." Tangannya mengusap pelan kepala gadis berambut sewarna permen kapas itu. Dan kemudian, dia beranjak pergi dari tempat itu menuju tempat penjualan permen kapas.
Sementara itu, dengan wajah memerah menahan rasa senangnya, gadis itu memeluk erat boneka guritanya dan berbisik pelan, "aku suka padamu, Kaito-kun!"
.
.
.
.
Miku membuka matanya dan menatap langit-langit di kamarnya. Entah kenapa dia merasa begitu lelahnya. Beberapa hari yang lalu setelah insiden ciuman itu, Miku selalu tampak uring-uringan, menjerit-jerit marah, ataupun mengomel tidak jelas. Tentu saja teman sebangkunya si gadis yang paling jenius itu sudah teralu dibuat lelah olehnya dan memutuskan untuk menjauhinya sementara waktu.
Alhasil, Miku yang sudah uring-uringan, sekarang tambah kesepian. Terutama sejak sahabat sejak kecilnya itu mulai bersikap cuek padanya entah kenapa seolah Miku sudah melakukan hal yang salah pada Kaito.
"Kenapa kamu berlagak marah kayak gitu sih?" sahut Miku entah pada siapa. Iris hijau kebiruannya berputar ke bingkai foto yang terletak di pigura kayu. Disana ada dua orang anak kecil, si manis berkuncir dua dan si bodoh berambut biru, sedang tertawa lebar sambil berpegangan tangan.
Pikiran Miku menerawang ke saat-saat foto itu diambil. Tepat saat mereka akan masuk ke sekolah dasar. Dulu, semuanya terlihat begitu nyata dan menyenangkan. Hanya ada Miku dan Kaito. Hanya ada Kaito dan Miku. Tidak ada Kaito dan orang lain yang tidak dikenal Miku serta tidak ada Miku dan orang yang tidak dikenal Kaito.
Mereka selalu bersama, menceritakan segala hal yang mereka rasakan bersama.
Hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekedar persahabatan, atau mungkin hanya belum disadari oleh mereka berdua saja mengingat semua orang selalu mengatakan kedua orang remaja itu hanya sok mencari alibi pacaran mereka. Atau juga mungkin karena sikap kakak laki-laki Miku yang teralu menyayangi adik kecilnya.
Entahlah.
Tapi jelas, sebuah cerita Kaito tentang Luka telah membuat suatu guncangan hebat di dirinya, bagaikan menghancurkan ikatan persahabatan itu.
Di sisi lain, keberadaan Len juga sanggup mengguncang Kaito dengan beban yang sama besarnya. Membuat kedua remaja yang selalu bersahabat itu mulai bimbang dengan perasaan mereka sendiri.
Setelah sepuluh tahun lebih bersama, apakah perasaan persahabatan itu tetap tidak berubah?
Miku mengangkat tangannya, menatap pergelangan tangannya dengan hampa. Sebelumnya, disana melingkar gelang pemberian Kaito dari Kyoto dengan tulisan friends forever. Gelang itu hilang sekarang, Miku tidak tahu dimana dia meletakkannya terakhir kali. Yang jelas, si bodoh Kaito pernah berkata kalau gelang yang berpasangan itu merupakan bukti kalau mereka adalah 'teman selamanya'.
Apakah itu berarti kalau gelang itu hilang, mereka boleh keluar batas dari lingkaran persahabatan, masuk ke tahap pendewasaan, dan mulai menyadari bahwa perasaan mereka berdua mulai mendekati... cinta?
Miku menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia harus menjernihkan kepalanya. Gadis yang rambutnya diurai ke belakang itu berjalan menuju beranda kamarnya dengan mata terpaku pada rumah Kaito di hadapannya. Dia ingat beberapa minggu terakhir ini, setelah Luka muncul di persahabatan mereka berdua, dia jarang main kesana begitu juga dengan Kaito yang jarang main ke rumahnya.
Seolah Luka ada disana untuk merusak hubungan Kaito dan Miku.
Gadis itu menghela napas panjang dan meraih ponselnya, menghubungi sebuah nomor yang sudah amat dikenalnya karena selalu mengingatkan dia akan tugas yang harus dikumpul besok. Siapa lagi kalau bukan si siswi teladan, Kojima Gumi.
Tidak, Miku tidak berniat belajar bareng dengan si jenius itu. Dia hanya ingin menanyakan beberapa hal yang sedang membebani hatinya.
Saat sambungan telepon tersambung, Miku bisa mendengar suara bosan Gumi di seberang sana.
"Kau mau apa, Kapten?"
"Menghubungimu. Tidak boleh?"
"Kalau kubilang tidak, apakah kau akan langsung menutup teleponnya dan membiarkanku terlelap di alam mimpi?"
"Bercanda! Kau sudah ingin tidur sekarang?" Iris Miku beralih ke jam dindingnya. "Pukul delapan tepat. Nggak biasanya kamu tidur cepat."
"Yaah, sebenarnya ada beberapa hal menyebalkan, tapi aku nggak akan cerita karena itu menyebalkan! Jadi, akan kuulang pertanyaannya, kenapa kau meneleponku?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
"Apa?"
"Kenapa beberapa hari yang lalu kau bilang aku uring-uringan karena cemburu pada Megurine-san?"
Di seberang telepon, Gumi menghela napas panjang. "Menurutmu kenapa?"
"Jangan membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya! Jawab dulu pertanyaanku tadi!"
"Baiklah. Alasannya simpel saja." Jeda sejenak. "Karena selama aku kenal dengan kau dan Shion-san, aku seolah melihat perasaan cinta yang tidak nyata."
Alis Miku terangkat sebelah. "Apa maksudmu?"
"Kalian selalu bersikap seolah kalian hanya sahabat baik, tapi kelihatannya lebih dari itu. Perhatian Shion-san padamu itu beda, Miku! Cara kau melihat Shion-san itu beda, Miku!"
"Apa yang beda?"
"Kau selalu memberikan perhatian padanya di atas segalanya. Kau selalu terlihat nyaman ketika kau berada di dekatnya. Kau selalu terlihat begitu cantik saat berhadapan dengannya. Apakah kau tidak bisa menyadari hal itu?"
Miku diam. Mencoba membayangkan setiap adegan saat dia bersama Kaito. Apakah dia sebegitu bodohnya hingga tidak menyadari hal seperti itu? "Masa sih?"
"Itu benar." Gumi menghela napas. "Aku yakin kalau kalian berdua belum pernah merasakan perasaan suka kepada orang lain selama ini."
"Hah?"
"Karena pikiran kalian saling dipenuhi oleh yang lainnya. Aku yakin sepanjang masa kecilmu, kau selalu bersama Shion-san dan itu jelas membuat tembok tak terlihat antara kau dan cowok lain di dunia ini. Sama halnya seperti ada tembok tak terlihat juga di sekeliling Shion-san akibat adanya dirimu, Miku! Akibatnya, kalau seseorang tanya Shion-san soal cewek lain di sekolah, dia pasti nggak bakalan tahu apa-apa. Bukannya ansos, tapi gara-gara semua perhatiannya tersedot olehmu!"
Miku tak berhenti mengerutkan dahinya. Semua kalimat Gumi terdengar sungguh tidak masuk akal di telinganya. Apa itu 'tembok tak terlihat' dan 'tersedot'? Dia dan Kaito hanya teman baik biasa dan...
"Berhentilah menyangkalnya, Miku!" sahut Gumi kemudian seolah gadis jenius itu bisa membaca pikiran Miku. "Jangan bersikap defensif. Maksudku, kau itu hanya belum menyadarinya saja."
"Nggak mungkin, Gumi!" Miku menggelengkan kepalanya kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Jemarinya memainkan rambut panjangnya dengan gugup. "Aku dan Kaito itu cuma..."
"Sahabat?" potong Gumi. "Benarkah kalian masih sahabat sekarang? Siapa yang menjamin kalau kalian sudah melewati batas itu, Miku?"
"Batas apa?"
"Batas antara persahabatan dan cinta yang jaraknya hanya setipis lapisan gelembung balon cair."
Miku menghela napas panjang. "Aku nggak ngerti lagi deh sekarang."
"Apanya?"
"Bisa beri aku cara supaya aku sadar?"
Di seberang telepon, terdengar suara kertas yang saling bergesek dan beberapa bunyi benda berjatuhan. Kemudian, Miku kembali mendengar suara Gumi yang berkata, "aku punya kuis, tapi setelah kau mengerjakan kuis ini dan hasilnya keluar, jangan pernah bersifat defensif terhadap apa yang terjadi antara kau dan Shion-san! Mengerti?"
"Memangnya kuisnya seakurat apa sih?" Miku memutar bola matanya.
"Persentasenya lebih dari 90%!"
"Bercanda! Menurutmu pasti benar begitu?"
"Yap," Gumi berkata dengan mantap. "Atau kau tidak percaya pada kepintaranku?"
Miku sudah mulai kesal kalau Gumi menyombongkan betapa jeniusnya dirinya. "Oke deh. Aku percaya aku percaya." Jeda sejenak. "Jadi, apa kuisnya?"
.
.
.
.
"Kuis satu pertanyaan satu jawaban."
Kaito mengerjap pelan dan menatap wajah cantik gadis di sebelahnya. Luka tertawa kecil hingga iris biru langitnya menyipit perlahan. Pemuda biru itu menatap gula kapas di tangannya dengan bingung.
"Jadi, masing-masing dari kita harus saling bertanya dan harus menjawab dengan jujur!" sahut gadis berambut panjang itu lagi. Senyumnya masih merekah di wajah cantiknya.
"Ayo aja sih!" Kaito kemudian menyetujuinya. "Mulai dari siapa dulu nih?"
Luka berbalik menatap Kaito dalam-dalam. "Ingat ya, harus jujur. Kalau ada yang bohong, dia harus menraktir es krim selama sebulan!"
"Kau suka es krim memangnya, Luka-chan?"
"Nggak karena itu bikin gendut."
"Terus?"
"Karena Kaito-kun suka banget sama es krim. Iya kan?"
Kaito tertawa pelan dan mengangguk singkat. "Baiklah. Ayo kita mulai saja!"
Luka mengangguk cepat dan mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba mendapat inspirasi dan cerahnya langit malam musim panas yang dihiasi taburan bintang terang. Wangi dahan bambu di sekitarnya membuatnya nyaman, terutama karena keberadaan pemuda biru di sampingnya.
Setelah menikmati pasar malam musim panas, Kaito membawa Luka ke sebuah perbukitan kecil dengan beberapa pohon sebagai latar belakangnya. Dari atas sana, mereka bisa melihat cahaya lampu yang menari dengan indah dari bawahnya.
Tempat yang awalnya hanya biasa dikunjungi oleh Kaito dan Miku.
"Umm... baiklah, pertanyaan pertama. Siapa aku?"
Kaito ingin tertawa sebelum menjawab pertanyaan Luka barusan. "Megurine Luka, malaikat yang nyasar ke bumi... mungkin?"
Luka tersenyum lebar. "Gombal."
"Sekarang dari aku ya... hmm... apakah kau merasa senang malam ini?"
"Yap. Kenapa kau mengajakku malam ini kesini?"
"Karena kupikir kau pasti akan merasa senang jika pergi ke tempat seperti ini. Lanjut... Saat kelas satu dulu, apakah kau mengenalku?"
Gadis dengan rambut digelung ke atas itu mengangguk pelan. "Kau terkenal di pembicaraan cewek-cewek kelasku. Apakah kau dulu pernah mengenalku?"
Kaito mengigit bibir bawahnya. "Tidak... kurasa dulu aku begitu ansos ya?" Si biru tertawa pelan. "Padahal aku yakin kalau aku bertemu denganmu dari dulu, mungkin aku akan bahagia lebih cepat."
"Benarkah begitu? Bukankah kau selama ini dekat dengan seorang gadis yang merupakan kapten basket putri sekolah kita ya?" Luka menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum menggoda. "Apakah kau akan memilihku begitu?"
"Tentu saja aku akan memilihmu, Luka-chan." Kaito mengangguk dengan yakin. "Aku dan Miku cuma sahabat biasa. Lagipula, aku tidak mungkin menyukainya." Pemuda biru itu tertawa pelan. "Kita cuma sahabat biasa."
.
.
.
.
"Dia akan memilihku daripada Megurine Luka? Kau bercanda, Gumi!" sahut Miku diikuti tawa darinya. "Sama sekali nggak mungkin!"
"Kenapa kau tertawa?"
"Hah?"
"Kau sama sekali nggak punya alasan untuk tertawa, Miku."
"Eh?"
"Ataukah itu menjadi refleksi supaya hatimu tidak perlu merasa sakit? Seperti tertawa palsu begitu... Mengerti maksudku?"
Dahi Miku berkerut. Dia berpindah posisi dari telentang menjadi duduk kemudian berbicara dengan ekspresi serius. "Aku nggak ngerti."
Di seberang sana, Gumi menghela napas panjang. "Kau takut untuk menyadari perasaan sukamu pada Kaito karena kau yakin kau akan terluka. Terutama sekarang setelah cewek sok cantik itu muncul."
"Maksudmu?"
"Karena kau yakin Kaito akan memilih Megurine Luka dibandingkan dirimu."
.
.
.
.
"Heeeh... benarkah?" Luka memiringkan kepalanya dengan usil. "Tapi semua orang di kelasku membicarakan betapa dekatnya kalian berdua. Pergi sekolah bareng, makan siang bareng, terus..."
"Kau cemburu, Luka-chan?" tanya Kaito langsung dengan senyumnya yang menggoda.
Luka menggembungkan pipinya dan wajahnya berubah cemberut. "Kalau kubilang iya gimana?"
Kaito mengerjap pelan sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Luka barusan. Tidak mungkin itu benar kan? Maksudnya... ini semua agak teralu janggal. Kaito baru mengenal Luka sebulan dan kalau seandainya semua usahanya berbuah manis...
Masa sih Luka suka pada Kaito?
"Kaito-kun?" panggil gadis merah muda itu. "Kau tidak apa-apa?"
"Nggak... aku nggak apa-apa kok. Cuma... agak syok."
Diam-diam Luka memikirkan apa dia teralu cepat mengatakan hal seperti barusan? Bukankah Kaito menyukainya? Lantas, kenapa pemuda itu masih menahan dirinya? Bahkan Luka bersumpah dia akan langsung menerima Kaito tanpa perlu berpikir dua kali...
Supaya dia tidak perlu mengingat keberadaan orang itu, kekasih sebenarnya yang seharusnya menemaninya malam ini.
Dia tidak perlu berpikir karena jika dia berpikir, perasaan bersalah itu akan langsung menyerangnya.
"Masih mau main pertanyaan?"
Kaito mengangguk cepat. "Sekarang giliran siapa?"
"Kaito-kun... mungkin." Luka tersenyum lebar. Merapatkan lengannya di sisi tubuhnya saat merasakan udara yang mulai mendingin.
"Kau mau turun sekarang?"
"Tapi katanya akan ada kembang api sebentar lagi. Aku tidak mau melewatkan hal itu."
Pemuda biru itu tersenyum tipis dan segera melepaskan jaketnya lalu memakaikannya ke pundak Luka. Sesaat gadis itu dapat merasakan napas hangat Kaito di pundaknya yang membuat wajahnya memanas seketika.
"Makasih," bisik Luka tertahan. Dan lagi-lagi rasa senang membuncah di hatinya. Orang itu tidak pernah melakukan hal semanis ini padanya. Kekasihnya masih teralu kaku hingga tidak bisa menunjukkan hal-hal manis secara langsung. Luka sayang padanya, tapi ketika dia tidak bisa menunjukkan bahwa orang itu adalah kekasihnya di depan teman-temannya, ada suatu rasa kekecewaan yang begitu nyata.
"Kalau merasa dingin, segera beri tahu aku. Aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa. Oke?"
Betapa manisnya.
Betapa baiknya.
"Lanjut ke pertanyaan sekarang. Giliranmu, Kaito-kun."
"Umm... apa ya... hmm..." Pemuda biru itu berpindah posisi ke sebelah Luka, menyandar pada pagar yang menjaganya agar tidak jatuh ke lembah di bawah bukit itu. "Ah, baiklah! Mungkin ini agak frontal, tapi..." Iris biru gelap bertemu dengan iris biru terang, sebuah lengkungan terbentuk. "Apa ada seseorang yang sudah menjagamu dari setiap cowok yang mendekatimu sekarang?"
Kenyataannya ya, tapi bibir itu berkata dusta. "Tidak. Kenapa?" Matanya memancarkan sorot penuh goda.
"Hanya untuk sekedar informasi saja." Kaito membuang muka ke tempat lain, berusaha menahan cengirannya.
Luka tersenyum sambil mengalihkan wajahnya ke tanah rerumputan di bawah mereka. "Kau sendiri bagaimana?"
"Apanya?"
"Punya seseorang yang sudah menjagamu dari setiap cewek di dunia ini?"
Jantung Kaito berdebar lebih cepat, tapi dia justru merasa nyaman karena itu. "Pacar maksudmu?"
"Yap."
"Belum, kurasa."
Luka mengangguk pelan. Senyumnya sama sekali belum hilang dari wajah cantiknya.
"Kenapa tersenyum?"
"Memangnya nggak boleh?"
"Nanti kucium lho!"
"Silahkan saja!"
Kaito menatap Luka dalam-dalam dengan sebelah alis terangkat. Apakah indera pendengarannya telah rusak?
"Beneran nih?"
Luka masih saja tersenyum lebar. "Kasih passwordnya dulu dong!"
Pemuda biru itu mengerutkan bibirnya saat otaknya dipaksa berpikir dengan cepat. "Boleh kasih petunjuk?"
"Hanya tiga kata saja." Gadis itu tersenyum makin lebar. Benar-benar terlihat amat cantik.
"Hmm... tiga kata..." Kaito menggaruh-garuk tengkuk belakangnya. "Apa ya..."
"Kira-kira apa coba ya..." Luka mengatupkan kedua kelopak matanya, masih terus tersenyum.
"Aah! Mencoba membodohiku kan ya?"
"Nggak kok."
"Umm... apa sih... Jangan bikin penasaran dong!"
"Tebak saja!"
Kaito menarik napas panjang, menatap Luka dalam-dalam. "Kalau salah, jangan tertawakan aku ya!"
Luka mengangguk cepat. "Yap. Apa?"
Jeda sejenak, kemudian pemuda tampan itu melanjutkan, "Megurine Luka cantik." Jeda lagi. "Benar tidak?"
Suara tawa renyah terdengar beberapa saat kemudian. Luka mengangkat boneka guritanya sehingga menutupi wajahnya. "Kaito... kau konyol sekali..."
"Jangan tertawa dong!"
"Habisnya..." Kalimat Luka seketika langsung terhenti ketika dia merasakan genggaman tangan Kaito di pergelangan tangannya. Mata mereka berdua saling terpaku, menatap sosok lainnya dengan begitu dalam. Saling menikmati keindahan wajah yang lainnya.
"Kalau... 'Aku suka padamu'... Bagaimana?"
Kaito tersenyum sambil mengangkat tangan Luka, meletakkan jemari gadis cantik itu di bibirnya, mengecup mereka dengan kelopak mata tertutup. Hangat. Penuh perasaan.
Dikecupnya lama jemari itu hingga gadis itu bisa merasakan napas hangat sang pemuda.
Dan gadis mana yang bisa menolak pernyataan cinta semanis itu sebenarnya?
Luka merasakan debaran jantungnya menjadi semakin cepat. Ini yang ditunggu-tunggunya bukan? Sebuah pernyataan cinta manis dan romantis yang menghangatkan hati?
Lantas apa yang dia tunggu lagi?
Sekelabat bayangan hadir di pikirannya. Wajah orang itu mendadak hadir disana, tersenyum lembut sembari mengenggam tangannya... membisikkan kata cinta untuk pertama kalinya.
Sama seperti Kaito membisikkan kata cinta padanya untuk pertama kalinya.
Setidaknya, walaupun dia berdusta, dia ingin mencecap sedikit kebahagiaan bersama Kaito lebih lama lagi.
"Aku juga."
Hanya bisikan dua patah kata yang mampu menerbangkan Kaito hingga ke langit ke tujuh. Pemuda biru itu tersenyum, tanpa ragu-ragu menarik jemari itu hingga membuat pemiliknya maju ke arahnya, merengkuh tubuh hangat itu, mencium aroma parfum Luka yang memabukkan.
Hatinya seketika dipenuhi rasa bahagia.
"Jadi, aku benar kan?" bisik Kaito lembut. Pemuda itu meraih dagu mungil Luka dan mendekatkannya ke wajahnya.
Seketika tangannya terhenti ketika gambaran itu tiba-tiba saja muncul.
Gambaran tentang sosok gadis berkuncir dua yang tersenyum lebar padanya.
Hatsune Miku.
Kenapa tiba-tiba muncul di pikirannya?
Mengerjapkan kedua irisnya sambil mencoba tersenyum, Kaito menghapuskan bayangan itu. Menatap wajah Luka yang cantik, yang mengisi relung hatinya selama beberapa waktu yang lalu, cintanya yang pertama, yang sekarang juga ada di pelukannya.
Kaito memajukan wajahnya, menghapuskan jarak antara dia dan Luka, merasakan napas Luka yang hangat dan beraturan.
Jantungnya benar-benar berdebar hebat saat kemudian jarak di antara mereka hilang. Sapuan lembut bibir Luka terasa nyaman.
Pikiran Kaito seolah melayang... ke kejadian yang tidak sengaja di lihatnya saat dia mencari Miku beberapa hari yang lalu...
Apakah Miku juga merasakan hal ini saat mencium Len?
.
.
.
.
"Aku bersumpah kalau itu konyol!" seru Miku dengan suara beberapa tingkat di atas rata-rata. Dia berdiri dengan gusar dari tempat tidurnya, masih dengan wajah memerah. "Nggak mungkin! Kau bohong, Gumi!"
"Hasil dari kuis ini benar-benar akurat. Dibuktikan hampir lima puluh lebih gadis yang menggalau dengan persentase kebenaran lebih dari 90%."
"Iya, tapi bukan berarti hasilnya selalu benar kan?"
"Tingkat kebenaranmu dalam menjawab kuis ini adalah 90%, artinya kau merasakan perasaan suka yang begitu kuat kepada orang yang sedang kau pikirkan saat kau menjawab pertanyaannya."
"Jangan bercanda, Gumi!"
"Kau memikirkan siapa saat menjawab soal?"
Lidah Miku terasa kelu. Mulutnya terasa kering. "Shion... Kaito..."
Dan setelah itu, deru mobil sedan yang selalu dia dengar selama sepuluh tahun lebih itu menyela perhatiannya. Miku berjalan menuju beranda kamarnya, menggeser sedikit gorden hingga dia bisa melihat sosok biru yang keluar dari dalam mobil. Kaito—yang entah memang bagaimana caranya bisa sadar kalau Miku berdiri disana memperhatikannya—melambaikan tangan kanannya dengan bersemangat. Cengiran lebarnya terpancar di wajah bahagianya.
"Gumi, kututup dulu ya."
"Kenapa? Cinta pertamamu datang menemuimu?"
"Kenapa sekarang kau memanggilnya seperti itu?" Miku meraih kenop pintu kamarnya, berjalan keluar sambil tetap meletakkan ponselnya di telinganya. "Perasaan yang seperti itu..."
"Kalau seandainya kau menangis karena dia menjauh darimu, siapkan aku semangkuk yoghurt dingin. Kau harus traktir aku!"
"Apa maksudmu?" Dahi Miku berkerut. Dia sudah akan sampai ke pintu rumahnya, siap menyambut Kaito.
"Cowok itu lebih suka sesuatu yang pasti, Miku. Menurutmu kenapa Shion-san bisa bertemu dengan Megurine-san?"
Pikiran Miku teralih ke janji menonton Harry Potter antara dirinya dan Kaito. "Karena aku membatalkan janji."
"Mengerti sekarang?"
"Tapi itu nggak membuktikan kalau aku suka padanya!"
"Jadi, kapan kau mau sadar? Ketika Megurine-san sudah merebut Shion-san darimu? Ketika kau merasakan rasa perih itu semakin hebat lagi? Setelah semuanya terlambat, kau baru akan memberitahunya, begitu?"
"Gumi! Aku tutup sekarang!" seru Miku gusar dan melemparkan ponselnya ke atas sofa. Mau tidak mau beberapa kalimat yang barusan diucapkan Gumi sempat membuat rasa cemas muncul di hatinya?
Kalau pun dia terlambat menyadari perasaan itu memangnya kenapa?
Kalau pun Kaito memang menjauhinya karena Luka memangnya kenapa?
Bukankan perasaan Miku sendiri juga belum tentu cinta?
Lagipula siapa yang bilang dia akan menangis kalau misalnya Kaito dan Luka pacaran?
Itu semua masih sesuatu yang abstrak dan belum ditentukan. Masih tidak jelas jawabannya apa.
Miku menarik napas panjang, mengeluarkannya dalam dengusan tajam. Dia benci Gumi. Dia benci kenapa dia harus mengikuti kuis itu. Dia benci dengan kegalauan yang muncul di hatinya dari kemarin-kemarin.
Gadis itu memejamkan matanya dan membuka pintu rumahnya. Kaito berdiri disana, tersenyum padanya dengan setangkai bunga mawar kuning di tangannya.
"Kaito?" tanya Miku memastikan bahwa pemuda tampan itu memang Kaito yang dia kenal selama sepuluh tahun lebih.
Semua terlihat berbeda malam itu. Pemuda itu terlihat jauh lebih tampan daripada biasanya. Begitu memukau dan memesona. Bahkan tanpa sadar, Miku mulai merasakan wajahnya merona merah, tersipu malu ketika bunga mawar itu disodorkan tepat di hadapannya.
"Buatmu," bisik pemuda tampan itu lembut. Dia tersenyum lebar sambil mengusap kepala Miku. "Aku punya kejutan buatmu malam ini."
Miku menerima bunga itu dengan takut-takut. Kemudian, tanpa ragu dia mendekatkan bunga indah itu ke indera penciumannya, mengendus wangi alami yang terasa menghangatkan hati. Kaito tidak pernah memberikannya bunga. Ini pertama kalinya.
Atau mungkin ini juga merupakan bukti yang pernah disampaikan Gumi tadi bahwa Kaito juga menaruh perasaan lebih pada Miku.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba mengusir pikiran aneh dari otaknya. Dia menatap iris biru di hadapannya. "Kenapa memberikan bunga ini tiba-tiba?"
"Karena saat melihatnya di festifal tadi, aku merasa bunga itu amat cocok untukmu."
"Mawar kuning?" Alis Miku terangkat sebelah.
"Terima kasih karena membantuku selama ini."
"Atas dasar apa?"
"Aku sayang padamu Miku."
Dan ucapan Kaito dengan sukses membungkam mulut gadis berambut hijau kebiruan di hadapannya.
.
.
.bersambung
a.n.
waa... saya hampir dikeroyok semua gara-gara bab ini lama dikeluarinnya. ,..
maaf... bukan gara-gara saya sengaja merubah jadwal update, tapi beneran deh, bulan april mei saya sibuk ujian.. beneran nggak megang laptop dan buka file word. ;(
beneran maaf deh buat semuanya dan tentunya makasih banyak buat yang pada nungguin.
aduuh, saya cinta kalian semuaa! :*
maaf kalau seandainya bab ini terlihat mengecewakan. -_-"
aduh, alurnya kecepatan, saya tahu itu, tapi saya juga nggak mau memperpanjang bab.
dan voila... jadilah begini.
silahkan berpendapat sepuasnya, nilai saya sepenuhnya di bagain review. saya benar-benar membutuhkan hal itu! semua yang kalian sampaikan adalah suatu pembelajaran buat saya! :D
