Aku tak cukup berharga untuk di perebutkan. Aku membayangkan kalau saja orang-orang akan merasa iri padaku jika mengetahui ternyata aku; pelayan pria yang biasa-biasa ini, di perebutkan oleh dua tonggak Jepang, dan mereka mengatakan betapa beruntungnya dirimu, sungguh sangat wajar jika aku menyombongkan diriku selama sisa hidupku.

Namun pada saat itu, bagiku, keberuntungan kadang bisa menjadi semacam melankolia yang menyedihkan.

…:0-0-0:…


© All Story Rights Reserve. DESTINY chapter VII

©INUYASHA belong to ;
TAKAHASHI Rumiko

©INUYASHA Fanfic, DESTINY belong to ;
AUTHOR

Genre: drama, romance. Tragedy.

Warning: ADULT CONTENTS.
Author plot universe; alternative universe in Edo setting, explicit content. Adult-view only.


…:0-0-0:…

Aku pastilah tertidur dengan sangat pulas, atau berhasil di minumkan obat bius atau minuman mabuk, karena lenganku sudah di ganti perbannya dan pakaianku sudah berganti motif dari kimono yang beberapa waktu lalu kukenakan, dan aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku membuang napas keras-keras, jika udara yang keluar dari mulutku berhasil mengosongkan semua kesakitan dan racun-racun di dalam tubuhku, itu pastilah berhasil karena tubuhku ternyata menjadi ringan sekali. Seperti bulu.

Aku menatap ke langit-langit yang bersih. Mataku berkedip-kedip sementara pikiranku melayang kesana kemari. Ketika khayalanku tentang bertemu tuan Sesshomaru sudah punya banyak waktu untuk berkembang, aku seperti bara api tersambar minyak. Imajinasi kebahagiaan seakan mengambil alih tubuhku dan membawaku terbang menembus buntalan awan yang padat. Aku meremas selimutku dan memeluknya ke dalam dadaku, atau jika itu adalah tubuh tuan Sessomaru, aku yang mungkin sedang berada di dalam dadanya.

Aku mungkin tertidur seharian. Saat terakhir kalinya tuan Naraku bersamaku, itu saat dimana ia menciumku… ya, mencium.

Selama bersama tuan Naraku, aku sering merasa bahwa satu perasaanku tersambung ke hatiku, sementara perasaanku yang lain tersambung ke otakku. Aku bisa mendegar nadiku berdesis di telingaku setiap kali mengingat kebaikannya, kehadirannya juga sentuhan kulitnya yang menyapu tubuhku seperti aku adalah daun-daun kering rapuh di taman. Tapi di satu sisi lainnya, rasa waspadaku selalu melompat dari tubuhku setiap kali deteksi bahaya kurasakan mendekat tanpa komando. Anehnya, tidak ada bahaya yang muncul, seperti itu hanya imajinasiku yang berlebih saja, mengambang di atas telapak tanganku.

Jika diingat-ingat, aku belum pernah bertemu secara sopan dengan tuan Sesshomaru. Maksudku, kami bertemu pertama kali dengan keadaan diriku yang menyedihkan, juga disaat dia duduk di atas ranjangku seperti melihat anak bayi yang baru di lahirkan, lemah dan tidak berdaya. Aku seharusnya sedang merunduk sedemikian rupa sehingga mungkin kepalaku menembus tanah sebagai tanda terima kasihku. Atau, dalam kasusku, aku pelayan, aku harus menebus rasa terima kasihku dengan suatu hal.

Mengingat akan hal itu, aku tidak sanggup bertingkah seperti Puteri Tidur lebih lama lagi. Aku mencoba turun dari ranjangku dan menapak ke ubin lalu berjalan ke pintu keluar, sebelum akhirnya pelayan tuan Naraku mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

"Tuan Inuyasha, baru saja saya ingin melihat anda." Ucapnya.

Aku melompat kebelakang satu langkah, "Ma-maaf, aku merasa tidak enak kalau terus tidur-tiduran saja. Aku baru saja akan keluar."

"Tentu, tidak apa-apa. Tadinya tuan Naraku sendiri yang ingin membangunkan anda. Tapi tiba-tiba tuan Naraku harus memenuhi suatu panggilan. Jadi saya di gantikan untuk menengok anda."

Aku melihat kearahnya, "Apa tuan Naraku pergi?" tanyaku.

"Iya. Tapi tuan Naraku berjanji akan kembali sebelum jam makan pagi usai. Apa tuan Inuyasha ingin menghampiri tuan Naraku sekarang?"

Aku menggeleng dengan begitu cepat. "Oh tidak, aku tidak ingin mengganggunya."

Wanita itu tertawa, "Saya rasa anda tidaklah mengganggu, tuan." Wanita ini mengamati pergelangan tanganku, "Sepertinya saya tidak harus mengganti perbannya sekarang. Tuan kelihatan baik sekali keadannya hari ini."

"Maaf. Itu, terima kasih." Aku yakin akan ada seseorang yang merawatku, mengganti pakaian dan perban-perbanku juga melihat tubuh kurus pucatku yang terluka. Aku tidak mengharapkan tuan Naraku mau berbaik hati mengganti pakaian dalamku tapi pasti ada seseorang yang melakukannya. "Sepertinya nona melakukan hal-hal yang seharusnya tidak di lakukan."

Wanita ini tersenyum dan melihat ke wajahku, "Walaupun tuan Naraku tidak menyuruh saya merawat anda, jika saya menemukan anda di tengah jalan, saya tetap akan merawat anda."

Ucapannya itu merupakan kata-kata paling menyenangkan yang kudengar semenjak aku berada disini. "Dan lagi," ucapku dengan cepat. "Aku akan berterima kasih kalau nona tidak memanggil saya dengan sebutan tuan. Nama saya Inuyasha."

Wanita itu melihat kearahku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Dia seperti ingin tersenyum tapi bibirnya seperti tertahan. Matanya berkedip sebelum akhirnya dia menunduk lalu berpaling kearah lain. "Baiklah Inuyasha-san, saya Karin. Mari saya antar anda."

Kami berjalan ke luar istana sampai kira-kira satu blok, melewati pohon-pohon pinus yang meliuk ke arah air yang gelap, lalu kami melintasi jembatan kayu yang melengkung menuju ke bagian tanah yang berumput. Tak lama kemudian langkah kami berhenti secara mendadak saat tiba-tiba tiga orang wanita menghentikan langkah kami.

"Tayuu-sama," seru Karin. "Saya pikir anda sedang di Senzuru untuk beberapa hari ini?"

"Tidak," ucap wanita muda di depan kami. "Tuan Naraku lebih membutuhkan aku disini. Dan lagi, kau tidak perlu tau apa yang akan aku lakukan. Kau bukan almanak." serunya.

"Tentu, nona." Karin mengangguk lebih dari dua kali.

Aku menatap tiga orang wanita di depanku. Satu wanita yang berdiri di tengah benar-benar wanita yang sangat cantik. Rambut hitamnya menyala di bawah matahari dan wajahnya mungil sekali seakan bisa hilang di bawah telapak tanganku. Kimononya menjuntai kebawah sampai menutup setengah sandal kayunya. Lalu, dua orang lainnya, kemungkinan pelayan pribadi wanita ini.

Hiasan rambutnya bergoyang saat ia menatapku. "Tuanku sepertinya membawa anjing liar lagi." Ucapnya.

Tidak ada anjing di sekitar sini. Tapi pelayan yang berdiri di sebelah kanan dan kirinyanya memandangku, jadi pastilah aku yang dia maksud.

"Beliau tamu tuan Naraku. Tayuu-sama." Ucap Karin. Sampai disini mungkin aku bisa menyimpulkan pelayan wanita yang satu ini berada di pihakku.

"Jangan biarkan dia berkeliaran di tempat lain," Katanya. "Suruh seseorang memakaikan dia rantai leher, aku tidak ingin rumah ini berbau pesing karenanya."

"Tentu, Tayuu-sama."

Aku begitu kaget sampai tidak bisa berbicara. Setelah memakiku —atau seperti itulah menurut dugaanku walau dia tidak benar-benar bicara kepadaku— aku meliriknya yang berjalan menjauhiku, langkahnya kecil-kecil dan cepat sekali sehingga kelihatannya dia sedang meluncur di undakan jalan, di ikuti dua pelayannya yang sedikit menatapku dan menunduk dengan dalam.

Tayuu adalah ungkapan honorifik yang begitu sopan untuk mengatakan pelacur yang berkelas tinggi; yang artinya bukan pelacur murah seperti di rumah-rumah bordil. Harga satu orang Tayuu bisa sangat mahal karena mereka harus membayar sejumlah uang yang besar untuk okiya —sebutan asrama tempat mereka di latih— mereka masing-masing. Itulah alasan mengapa Tayuu lebih di hargai sebagai geisha bukan pelacur, mereka lebih terpelajar dalam berbagai hal. Orang dengan jabatan tinggi memiliki setidaknya dua atau lebih Tayuu untuk dirinya sendiri. Namun walau seperti itu, Tayuu bukanlah seorang istri atau selir, dia tetaplah pelacur yang sewaktu-waktu bisa di tarik kembali oleh okiyanya.

"Mohon jangan diambil hati, Tuan Inuyasha. Beliau nona baru dan tuan Naraku terpaksa mengangkatnya menjadi Tayuunya karena satu dan lain hal."

"Tuan Naraku memiliki Tayuu yang begitu cantik,"

"Tapi tidak dengan sikapnya. Tidakkah menurut anda begitu, Inuyasha-san?"

Aku tersenyum, "Aku rasa begitu."

Tak lama kemudian setelah kami berjalan, kami berhenti di depan sebuah bangunan berpintu kayu. Karin membuka pintu gesernya. Tangga kayu berpelitur terjulur menuju kegelapan. Begitu melihat lorong yang sunyi itu, aku merasa begitu ketakutan sampai gemetaran. Mendadak rasa ngeri meledak di dalam tubuhku dan memancing keringat dingin keluar dari leherku. Aku bahkan tidak sanggup memegang pegangan tangga.

"Permisi tuan, saya membawa tuan Inuyasha."

Tidak lama suara yang berat menyahut dari dalam, "Bawa dia kemari, Karin. Dan kau boleh pergi."

Suara itu amat asing bagiku. "Siapa diatas sana, Karin-san?" tanyaku. Seakan aku tengah mengikuti lomba berlari dan seluruh pesertanya adalah ketakutan dan traumaku di masa lalu. Aku berdiri agak miring, bersandar pada pegangan tangga, tungkai kakiku bergetar lebih kuat daripada yang pernah kurasakan selama ini.

"Anda akan tau. Anda tidak perlu setakut itu, Inuyasha-san. saya bisa saja memberi pewarna bibir saya karena Inuyasha-san pucat sekali." ucap wanita itu dan dia hanya tersenyum. "Nah, saya mohon undur diri."

Aku mencoba menguatkan diri dan berjalan ke atas. Begitu tiba di ujung tangga, aku pastilah sangat terkejut saat melihat pria dengan kimono bercorak lotus petal emas duduk di dalam cahaya remang-remang. Tidak ada orang di seluruh edo yang punya corak kerajaan yang sama, dan lotus petal emas hanya baner milik tuan Sesshomaru. Tubuhku berputar, seandainya tuan Sesshomaru sedang bersembunyi dan aku menemukannya, kakiku akan bertingkah lebih cepat dari otakku untuk berlari ke arahnya.

Tapi tuan Sessomaru tidak ada dimanapun.

"Orang yang kau cari tidak ada disini, nak."

Aku berputar ke arahnya.

"Jadi kau Inuyasha?" Tanyanya.

"Benar," Suaraku tercekik diantara tenggorokanku yang kering. "Benar, tuan."

"Panggil saja aku Jaken," katanya. "Ternyata benar, kau memang kelihatan luar biasa ya, padahal kau anak laki-laki. Kalau saja kau tidak memiliki terung diantara kedua kakimu, aku pasti mau bercinta denganmu."

Aku sama sekali tidak menyangka dia akan berbicara hal semacam itu padaku. Mataku membulat dan aku menatapnya sangat lurus, hanya jika ia hantu, aku bisa berdoa dan melemparinya dengan kacang polong. Sampai saat dia tiba-tiba berdiri, aku menundukkan wajahku.

"Apa kau tau siapa aku, anak muda?"

Keningku memberengut. "Ti-tidak."

"Kan tadi aku sudah menyebutkan namaku, apa kau tidak dengar? Jaken loh, aku Jaken."

Aku menatapnya kebingungan. Aku sudah cukup merasakan hari-hari yang penuh dengan misteri dan tanda tanya. Lalu pria ini membuat semua rasa takut dan khawatirku seperti sebuah lelucon, "Saya rasa anda bertanya siapa anda dengan maksud yang lain."

Pria itu menghampiriku, "Kau memang anak yang pintar. Jadi kau pikir siapa aku yang sebenarnya, Inuyasha?"

Aku tidak menjawab.

Pria itu menarik kursi di dekatnya lalu menyentuh pundakku dan mendorong tubuhku untuk duduk. "Tidakkah kau pikir aku ini orang jahat? Apa kau lihat simbol di pakaianku ini? aku yakin kau tau simbol emas ini milik siapa. Tapi kenapa aku ada di kediaman musuh tuan Sesshomaru?"

Aku bergetar saat mendengar nama tuan Sesshomaru disebut. Tapi lidahku sangat kelu dan berbicara sama sulitnya dengan mengambil napas diantara jantungku yang memukul-mukul di dalam dadaku. Aku meremat kedua tanganku dan berharap pria ini bergerak menjauh dariku karena aku bisa merasakan hangat napasnya menerpa sisi wajahku.

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. "Apa ini milikmu?"

Dia menyodorkan buntalan yang di bungkus kertas linen berwarna krem dan meletakannya di pangkuanku. Aku membuka simpul ikatannya dan melihat sebuah kimono lusuh berwarna merah. Tapi setelah kusentuh, ternyata itu adalah noda darah yang mengeras. Punggungku sangat lemas begitu mengetahui ternyata itu kimono yang aku kenakan di hari Perdana Menteri menculikku.

Tanpa aku menjawab sepatah katapun, pria bernama Jaken itu mengambil kembali kain itu dari pangkuanku dan membungkusnya kembali ke dalam kertas linen. "Jadi kau tidak mati, Inuyasha." Serunya.

Aku menatapnya, "Hah?" hanya itu yang berhasil keluar dari mulutku.

"Naraku mengatakan pada tuan Sesshomaru kalau kau sudah mati! Tapi, mempercayai kata-kata Naraku sama bodohnya dengan jatuh ke dalam lubang yang sama sebanyak ratusan kali. Tuan Sesshomaru tau Naraku berbohong."

Aku terdiam sanking terkejutnya.

"Aku harus pergi. Menyelinap ke sarang labah-labah sangat berbahaya. Aku bisa tersangkut di jaringnya yang beracun." Mungkin tidak tepat jika pria ini berlagak puitis di saat genting seperti ini. Tapi dia berwajah sangat serius saat mengatakannya.

Aku menoleh kepada pria ini dengan cepat dan meraih tangannya. "A-apa anda akan mengatakan pada tuan Sesshomaru jika saya baik-baik saja?"

Aku mendengar suara gaduh di lorong. Mungkin saja itu tuan Naraku. Dan pria ini membuka jendela lebar-lebar, berisiap melarikan diri.

"Tentu saja. Siapapun tidak ingin perang Edo pecah hanya karena orang sepertimu menyebabkan kegaduhan yang begitu sepele."

Aku berpura-pura untuk tidak tersinggung mendengar itu. Untuk pertama kalinya selama seumur hidupku aku merasa sangat percaya diri bahwa aku mungkin tak selamanya tak mendapat perhatian di catatan sejarah. Kalau saja aku ternyata benar-benar pemicu perang diantara dua tonggak Edo, aku pasti bangga sekali —dalam berbagai arti— aku benar-benar berharga untuk di perebutkan. Tapi jika catatan sejarah mengulas tentang kehidupanku, atau siapakah aku sebenarnya selain pelayan pria di rumah bordil lalu aku di perebutkan oleh dua nama keluarga paling berkuasa di bagian timur bumi, kurasa seluruh makhluk di Edo akan mengutukku.

"Aku harus pergi!"

"Bagaimana dengan saya?"

"Aku tidak bisa membawa sekarang. Kecuali kau bisa mengecil dan kumasukkan ke dalam kantungku, kau boleh ikut bersamaku."

Seandainya ada batu di dekatku, aku ingin sekali memukul kepalanya dengan itu.

Pria itu keluar melalui pintu, "Bersabarlah." Hanya itu yang dia ucapkan sebelum tubuhnya melompat pergi dan hilang seperti ninja.

Aku menoleh begitu mendengar suara hentakan kaki berada di ujung ruangan.

"Lihatlah. Karena anjing ini tidak di pakaikan rantai, dia menjelajah kemana-mana seakan ini tempatnya biasa sesuka hati membuang kotoran."

Ternyata itu si nona berperangai buruk dan pelayannya.

.

.

.

"Bagaimana bisa seorang pelayan rumah pelacuran menjabat menjadi orang penting untuk Sesshomaru?"

Aku yang begitu banyak melamun dan hanya mengaduk nasiku dengan sumpit, langsung melihat ke arah tuan Naraku dengan cara yang begitu mendadak, "Ma-maaf tuan?"

"Kau banyak melamun hari ini. Ada apa?"

"Saya tidak apa-apa, tuan Naraku."

"Begitukah?" tanya tuan Naraku dan dia menyesap teh hijaunya sambil tetap melirikku.

Kejadian di tempat tadi tidak sedikitpun membuatku merasa lebih baik. Setelah menyaksikan misteri yang begitu menyesatkan, aku kelihatan lebih idiot dan dungu dari biasanya. Nona Minamiza berpura-pura sedang menyidikku dan menuduhku ingin mencuri karena berjalan-jalan tanpa pengawasan dan membuat gaduh pengawal tuan Naraku. Karin yang mendengar hal itu langsung berlari-lari kencang sampai hiasan rambutnya terlepas, mengatakan kalau dia telah lalai menjagaku dan itu sepenuhnya adalah kesalahannya. Sampai ternyata aku terbukti tidak melakukan apapun yang melanggar hukum, aku di bebaskan dan di antar ke ruangan tuan Naraku untuk sarapan pagi. Dan Karin kelihatan lega sekali karena pengawal-pengawal itu tidak mengendus kejanggalan apapun.

Lalu mengenai pria bernama Jaken. Ada sejuta hal yang ingin kuketahui darinya, atau kemampuannya menyelinap mungkin yang terbaik di seluruh Edo. Apa yang dia lakukan? Jika benar pria itu suruhan tuan Sesshomaru, apa dia akan mengatakan kalau aku baik-baik saja dan butuh pertolongan kepada tuan Sesshomaru? Atau malah menegaskan pada semua orang jika aku benar-benar telah mati dan membawa tulang palsu sebagai alibinya? Kenyataan yang pahit bahwa mungkin seluruh orang menduga aku telah mati membuatku seperti di hantam longsoran salju. Mungkin karena hal itu semua orang sepakat berhenti mencariku.

"Apa yang kau lakukan di rumah pelayanku? Tadi katanya kau berada disana dan membuat ricuh? Seseorang membawamu kesana?"

Aku mengambil napas untuk menenangkan kegelisahan yang muncul, "Saya hanya berjalan-jalan terlalu jauh tuan. Mohon maafkan saya, saya tidak akan lagi berjalan-jalan tanpa permisi terlebih dahulu."

Aku menatap tuan ini melalui ujung bulu mataku, berharap dia puas dengan kebohonganku. Dan sepertinya aku berhasil.

"Tapi mungkin saya merindukan rumah saya." Ujarku.

"Rumah…" tuan Naraku menatapku lagi. Dari ujung meja berjarak mungkin dua langkah, aku bisa merasakan gelombang panas membasuh wajahku. "Atau Sesshomaru?" Suara tuan Naraku sangat lembut hampir seperti berbisik.

Aku tidak menjawab dan hanya menekan bibir gelas ke mulutku.

"Jika aku mengantarmu pulang, apa aku masih bisa bertemu denganmu, Inuyasha? Apa kita masih berteman?"

Aku menatapnya dan menjawab dengan sangat cepat, "Apa yang anda lakukan terhadap saya tidak bisa saya bayar dengan apapun, tuan Naraku. Saya sangat berterima kasih karena anda menemukan saya dan merawat saya di rumah tuan. Dan jika memulangkan saya berarti kita tidak lagi berhubungan, maka saya adalah manusia yang paling tidak tau berterima kasih." Ucapku, yang kurasa hanya butuh satu tarikan napas saja saat aku mengucapkannya.

"Bagus," ucap tuan Naraku. "Kau boleh pulang tapi kau harus makan dulu nasimu. Jangan mengaduk-ngaduknya dengan sumpit seperti itu, atau menu ini menu yang tidak kau sukai?"

"Saya menyukainya tuan." ucapku begitu antusias. Padahal tidak ada satu suapan pun masuk ke dalam mulutku. Tuan Naraku sampai bicara tiga kali agar aku makan dengan benar-benar. Barulah piringku kosong.

.

.

.

Setelah sarapan, kami keluar dari istana tuan Naraku dan naik kereta kuda yang baknya terbuka dan di tarik dua kuda. Aku baru menyadari betapa seringnya aku berkendara dengan kuda. Kendaraan umum di jaman ini adalah ricksaw —kereta yang di tarik manusia dan beroda lebih besar— aku bahkan jarang sekali naik ricksaw. Tapi bahkan pelayan sepertiku bisa berpindah tempat dengan berkendara kereta yang di tarik dua kuda.

Aku duduk di sebelah tuan Naraku, cukup dekat sehingga lengan kami sering kali bertubrukan saat roda kayu kereta menabrak kerikil di jalanan. Kami hampir tidak berbicara selama perjalanan. Karena tuan Naraku juga tidak memulai apapun, aku tidak bisa mengajaknya berbicara sebelum dirinya. Walaupun sebelumnya kami sudah berciuman dengan cara yang tidak bisa aku lupakan dari dalam impresiku. Tapi setelah beberapa lama bertarung dengan pikiranku, aku berani bertanya padanya,

"Kita mau kemana tuan?"

Tuan Naraku tidak menengok ke arahku, tapi ke jendela. "Tau kah kau, sebelum kita makan pagi, aku bertemu dengan Sesshomaru?"

Aku berpura-pura terkejut mendengarnya.

"Dan aku mengatakan kalau kau sudah mati. Tapi kelihatannya Sessomaru bersikeras dan tidak percaya. Aku tau, dia bisa saja menggeledah rumahku besok. Tidakkah kau pikir dia begitu sayang padamu?" tanya tuan Naraku.

"Saya tidak mengira seperti itu, tuan. Karena saya bukanlah apa-apa baginya."

Akhirnya tuan Naraku menoleh padaku. "Oh. Kau tidak tau karena kau tidak berada disana saat itu. Jika kau berada disana dan melihat air muka Sesshomaru, mungkin kau akan tau seperti apa dirimu baginya."

Aku tak berani lagi menjawabnya. Dan beruntunglah aku memang tidak perlu menjawab lagi karena kereta kuda kami berhenti. Kusir kami membuka pintu dan tuan Naraku turun kemudian aku mengikutinya. "Dari sini kita akan berjalan saja." Ucap tuan Naraku dan aku mengikutinya dari belakang seperti anak ayam.

Kami berjalan ke jalan raya yang ku ketahui ini adalah jalan di sekitar Hijashi-oji —tempat yang cukup jauh dari rumah bordilku. Aku sudah begitu lama tidak mendengar bisingnya jalan raya, atau suara derik ricksaw juga suara orang-orang yang berbicara dengan keras. Jadi mendengar keramaian seperti ini malah membuatku merasa sangat tentram. Kami berjalan menyeberangi jembatan dan halaman berkerikil kemudian menaiki undakan lain. Sampai akhirnya aku menabrak punggung tuan Naraku karena tuan Naraku berhenti secara mendadak.

"Ma-maaf tuan, sa-saya…"

Tapi saat tatapanku melihat ke jalanan, jantungku melompat. Kakiku seperti di paku ke dalam tanah.

Hatiku mencelos. Aku menggosok mataku kuat-kuat sampai beberapa bulu mataku terlepas. Mataku tidak membohongiku. Napasku terasa berat, seperti ada belati yang menembus dadaku. Mulutku menganga tapi suaraku tidak sedikitpun keluar, kalau-kalau aku bersuara bahkan oleh telingaku sendiri pun aku tidak mendengarnya.

Aku menatap tuan Naraku, tapi tidak seperti yang kubayangkan, wajahnya tampak senang. "Nah, tuanmu sudah menunggumu. Kau boleh pergi."

Suaraku bergetar, "Ta-tapi…"

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, tubuhku ditarik ke dalam kehangatan pelukan yang begitu nyata —atau ya ini memang benar pelukan yang nyata. "Astaga Inuyasha. Jadi benar kau masih hidup!"

Aku menjangkau belakang punggungnya, telapak tanganku berhasil meyakinkan diriku bahwa aku bisa menyentuhnya. Ini bukan imajiner atau mimpi. Aku bisa merasakan helai rambut peraknya di punggung tanganganku, rambut itu halus kau bahkan tidak sadar itu bukanlah benang-benang yang di pakai untuk membuat pakaian dalam wanita. Apalagi aroma tubuhnya, seperti gelembung sabun yang pecah dan menimbulkan wangi mint bertebaran di udara sekitarku.

Aku menyadari sedang memeluk seseorang —bangsawan— dengan cara yang benar-benar tidak enak. Aku menunggu penolakan darinya, kalau-kalau dia merasa jijik denganku dan dia melepaskan tanganku lalu mundur sampai sejauh-jauhnya, tetapi ternyata dia tidak melakukannya.

Rasa haru menyerbu melalui darahku, "Tu-tuan Sesshomaru?"

"Ya. Ya, ini aku."

Aku mau saja bicara, tapi suaraku tertimpa kesedihanku sendiri. Aku mengangkat tanganku dan memeluk tuan Sesshomaru sekencang-kencangnya. Tubuh itu sangat kokoh dan kuat, aku tidak bisa memuatnya ke dalam lenganku yang kurus. Sedu-sedanku tidak bersuara. Tenggelam di dada tuan Sesshomaru.

Tapi kemudian lengan kekar tuan Sesshomaru mengendur. Aku ditariknya kebelakang tubuhnya dan ia mengapitku lebih dekat ke belakang punggunya.

"Naraku." Suaranya datar dan dingin, sama dinginnya dengan air sungai yang membeku. Saat aku ingin memajukan tubuhku, tuan Sesshomaru menarik lenganku, dan membuatku untuk tetap di belakang tubuhnya.

"Sa-saya mohon, tuan Sesshomaru, sebaiknya anda mendengar cerita saya."

Naraku menjauh tiga langkah dan menundukkan kepala. "Sesshomaru-dono."

"Kau berbohong padaku?" tuan Sesshomaru bicara lebih galak, dan tangannya siaga di sabuk pedangnya.

"Awalnya seperti itu," Tuan Naraku balas menjawab dengan suara yang sangat tenang, tapi tangannya juga siaga di sabuknya. "Tapi saya tau bawahan anda menyelinap ke rumah saya dan ada satu orang pelayan saya yang mengkhianati saya. Tapi itu tidak masalah. Saya tau anda pasti akan datang, atau mungkin anjing anda, dan dia sudah datang dengan cara yang sangat tidak terhormat. Tapi saya tidak menyangka akan secepat ini."

Tuan Sesshomaru menghentakkan kakinya maju tanpa bisa aku hentikan, jadi saat tanganku masih menangkap lengannya, aku ikut tersentak dan maju ke depan.

"Aku tidak akan membiarkan bawahanku menyelinap seperti itu jika kau tidak berbohong!" Suara tuan Sesshomaru hampir sama seperti berteriak dan aku pasti terkejut karena semua orang sampai berhenti dari kegiatan mereka dan melihat ke arah kami. Aku menunduk-nunduk dan berulang kali mengatakan gomennasai tapi orang-orang di sekitar tetap tidak mau menyebar dan malah mengerumuni kami. "Kau yang mengirim kimono berdarah itu! Kau juga yang mengirim bajingan bernama Bankotsu untuk membunuhnya! Kau juga bekerjasama dengan perdana menteri untuk —"

"Menculiknya? Membunuhnya? Sesshomaru-dono, siapa yang kau genggam itu? Hantu? Bukan aku yang mengirim kimono itu. Lalu Bankotsu, siapa dia? Mana ku tau dia siapa, bisa saja orang lain yang mengatasnamakan jika sayalah yang mengutusnya."

Tuan Sesshomaru memandangku dan kami berpandangan sebentar, sampai tuan Sesshomaru bicara lagi dengan suara yang sama keras dengan sebelumnya. "Jangan kau kira ini akan selesai hanya dengan cara seperti ini!"

"Mencurigai seseorang memang sudah menjadi tugas anda," aku tau kalau kata-kata itu seperti menyindir. Seharusnya tuan Naraku bisa saja diam atau menurut jadi dia bisa bebas, tapi tuan Naraku tidak mau mengalah. "Tapi silahkan periksa saya. Saya juga bukan bodoh, saya tidak akan berkeliling dengan enteng disini, bersama tuan Inuyasha, jika saya punya masalah denganmu, Sesshomaru-dono."

Tuan Sesshomaru melihat dariku ke arah tuan Naraku, "Perdana menteri? Apa yang kau lakukan dengannya?"

Aku melihat ke arah tuan Naraku dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tuan Sesshomaru tidak menyadari. Mengatakan padanya untuk menyerah saja dan pergi.

"Apa pedulimu, tuan? Bahkan sekarang anjing pemerintahan juga mengendus masalah pribadi orang lain?"

"BAJINGAN, BERNANINYA KAU—"

Aku menarik tuan Sesshomaru, sekarang lengannya menjadi lebih rapat ke dadaku. "Tuan, saya mohon, hentikan. Saya tidak apa-apa sekarang, sungguh. Semua melihat kesini dan saya merasa tidak enak."

Tuan Sesshomaru melihatku. Matanya garang dan memelototiku, tapi itu tidak sampai sedetik karena bukan hanya saja matanya tapi semua air wajahnya berubah, seakan aku baru saja mengusapnya dengan kain dingin. Rahangnya tidak bergemeletuk lagi dan saaat dia menggerakkan lengannya yang sedang ku dekap di dalam dadaku, tuan Sesshomaru seperti melupakan amarahnya yang barusan meledak seperti erupsi gunung berapi.

Tuan Naraku membungkuk dan tersenyum, tapi kurasa senyumnya itu untukku. "Saya pamit. Kali ini jagalah dia benar-benar, Sesshomaru-dono. Jangan sampai kejadian tidak mengenakkan terulang lagi padanya." Katanya dan kami bertatapan rahasia lagi.

Diluar dugaan, tuan Sesshomaru tidak murka mendengarnya.

"Aku harap kita bisa berjumpa lagi, Inuyasha."

Tapi saat mendengar kata-kata barusan, tuan Sesshomaru mirip kepala ular kobra yang marah, menyambar dengan ganas dan pedangnya hampir terlepas dari sarungnya.

"Sudahlah tuan, kumohon," Aku kemudian menangis.

Aku menghadapi kenyatannya betapa aku sangat tidak tau berterima kasih. Aku belum mengucapkan ungkapan perasaanku dengan benar, belum mengatakan pada tuan Naraku betapa rasa terima kasihku teramat besar, atau membalas semua yang telah dilakukannya untukku. Tapi jika aku mengejarnya, kurasa tuan Sesshomaru akan mencurigainya untuk hal yang bahkan tidak di ketahui tuan Naraku.

"Ada apa? Apa dia melukaimu?" Tuan Sesshomaru memeriksaku, memiringkan badanku ke kanan dan ke kiri. Tatapan tuan Sesshomaru menyapuku dari kepala hingga ujung tumitku. "Luka-luka apa ini?"

Aku merasa tenang mendengar pertanyaan tuan Sesshomaru, dan ia terus menerus menyentuhku.

Aku mendengar wanita berbisik-bisik di belakang kami. Dengan kejadian ini, dua bangsawan yang sedang berkelahi di depan umum bisa meniup berita tidak baik bahkan tanpa kami mencoba untuk meniupnya sendiri.

"Tuan Sesshomaru,"

Aku melihat wajahnya saat ia memandangiku. Tatapan mata yang kuat itu menusuk hati kecilku dan menyuruhku untuk menciumnya. Tapi bukan itu yang aku lakukan.

"Ada apa, Inuyasha? Kau baik-baik saja?" Lantunan suara tuan Sesshomaru mengirimkan sensasi tepat di bawah kulitku yang menegang.

Aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku dan bicara padanya. "Sa-saya sangat senang bertemu dengan anda," suaraku parau sekali, hampir tedengar seperti sedang tercekik. "Tapi tolong rahasiakan ini. Saya tidak ingin nyonya Izayoi dan yang lainnya tau. Bantulah saya berbohong, tuan Sesshomaru."

.

.

.

Saat berkendara, Tuan Sesshomaru lebih banyak memandangiku, tapi dia tidak mau bicara. Alisnya berpagutan dan terkadang ujung bibirnya berkedut-kedut. Kurasa yang dia inginkan hanya bertanya seputar Bagaimana kabarmu? atau Kau baik-baik saja?, tapi aku tau tuan Sesshomaru tidak mungkin bertanya mengenai hal itu, dan aku pasti tidak akan sanggup bicara lebih banyak selain ya atau tidak. Jadi kami tidak bicara sepatah katapun di perjalanan.

Aku tidak sadar kereta kami berhenti jika kudanya tidak meringkik. Aku melihat ke kanan ternyata tuan Sesshomaru sudah turun mendahuluiku, tanpa perintahnya aku mengikutinya turun dan berjalan menuju jalan yang lebih kecil. Karena kereta kuda kami pergi, aku yakin kami pasti akan menetap lama disini.

Rumah itu tidak besar, tapi jika membandingkan dengan rumah bordil kami, bangunannya memang agak sedikit lebih besar. Jalannya semakin menyempat saat kami menyusur lebih jauh. Sampai akhirnya kakiku menginjak batu-batu kecil yang membentuk jalanan setapak dan rumputnya menjadi lebih hijau daripada rumput di luar, dan ada suara wanita yang tertawa-tawa di segala penjuru juga bau makanan yang di bakar dan di goreng, aku tau kami sedang ada di tempat penginapan.

Di depan pintu, kami disambut wanita yang wajahnya bulat sekali, bibirnya lebih merah dari minyak mawar, lalu dia tersenyum kepada kami —tuan Sesshomaru— sambil melihat ke arahku sebentar. "Tuan Sesshomaru. Saya sudah menyiapkan tempat anda, mari, tuan."

Aku kira kami akan di antar ke sebuah kamar penginapan, tapi ternyata tidak. Kami di antar ke bangunan lain yang lebih besar dari bangunan ini. Tempat ini seperti labirin dan punya banyak rumah-rumah lain di dalamnya. Lalu semua mendadak menjadi sunyi, dan suara air mendekat, atau ternyata kamilah yang mendekati air itu.

"Saya akan membawakan makan siang ke taman tengah. Kalau tidak ada lagi yang tuan butuhkan, saya memohon undur diri."

"Apa tidak ada lagi yang kau butuhkan?" tanya tuan Sesshomaru padaku. Dan saat tuan Sesshomaru berbicara dengan suara yang sangat berat, wanita itu mengigit bibir bawahnya.

"Tidak tuanku." Ucapku.

Wanita itu mengangguk, "Permisi, tuan." lalu dia berjalan menjauh dan menghilang.

Di belakangku, aku merasakan helaan napas tuan Sesshomaru. Kehangatan dari napasnya seperti berada tepat di belakang leherku, kuat, nyaris tak tertahankan, aku berbalik menatapnya dan ternyata tuan Sesshomaru juga sedang menatapku.

"Aku harus bertemu seorang, bisakah kau menungguku?"

Rasa menggigil merayapi punggungku. Itu kata-kata yang pernah tuan Sesshomaru katakan padaku, dan berujung tidak mengenakkan. Kurasa aku begitu ketakutan dan semuanya terlihat jelas dari wajahku. "Itu tidak akan terulang lagi, aku berjanji." Ucap tuan Sesshomaru lagi.

Kata-kata itu juga pernah di ucapkan tuan Sesshomaru. Aku rasa aku benar-benar kurang ajar kalau mengatai tuan Sesshomaru itu tukang ingkar janji. Tapi aku benar-benar takut hal buruk terjadi lagi padaku.

"Inuyasha," Nada suaranya benar-benar menyenangkan. "Hei. Lihat aku. Aku bersumpah kalau kau di celakai lagi, disini, saat kau berada dalam pengawasanku sepenuhnya, aku akan bumi hanguskan tempat ini."

Aku berhasil tersenyum, "Tidak apa-apa tuan, tuan punya tugas yang lebih penting yang harus di kerjakan,"

Tuan Sesshomaru meraih pundakku dan meremasnya. "Jangan membuatku marah."

"Saya tidak mencoba membuat anda marah, tuan, karena jika saya melakukannya, anda pasti tau."

Kehangatan yang tersalur melalui telapak tangan tuan Sesshomaru terbersit ke dalam kulitku, kekuatan yang luar biasa, seakan matahari jatuh ke bumi dan sedang berdiri di pundakku, hangatnya mendesak melalui pakaianku ke dalam urat nadiku yang berdenyut.

"Hitunglah sampai seratus." Kata tuan Sesshomaru. "Jika aku tidak kembali, nanti kau boleh menuntut dariku."

"Tentu. Tentu, tuan." Aku bisa tersenyum lebih tulus. Karena itu lelucon dan seperti yang sebelum-sebelumnya, baik itu karena rasa percayaku yang kelewatan terhadap tuan Sesshomaru atau karena aku begitu fanatik tentang semua hal tentang tuan Sesshomaru, aku selalu bisa mempercayai kata-kata tuan Sesshomaru.

"Kau boleh menjelajah kemanapun yang kau mau." Ucap tuan Sesshomaru. "Tidak akan ada yang melarangmu."

Aku tersenyum dan mengangguk, meyakinkan pada tuan Sesshomaru jika aku akan ada disini saat dia datang, atau saat hitunganku sudah ke sejuta, atau setahun kemudian, aku akan tetap disini menunggunya. "Tentu, tuan."

Kemudian tuan Sesshomaru pergi.

.

.

.

Kaki yang di perban membawaku lebih jauh ke luar rumah menuju teras. Ada jalan setapak berupa tanah bata berwarna hitam, jadi aku mengikuti alur yang berkelok-kelok menuju kolam ikan koi berukuran raksasa, dengan air mancur buatan yang di pompa ke dalam bambu dan mengalirkan air-air dari lubang-lubangnya.

Aku berjalan lebih jauh lagi, keindahan pemandangan yang di sajikan di depan mataku membuat diriku mengucap puji syukur ratusan kali karena masih bisa bernapas sampai saat ini. Tempat ini punya belantara padi mirip seperti karpet emas cemerlang, dan tanah itu seperti di naungi kaki gunung yang ujungnya di tutupi awan berarak. Udara segar memenuhi relung dadaku, hangat tentram menjalar di setiap gelombang nadiku.

Aku tidak yakin apa aku masih berada di dalam penginapan atau di taman Nasional

"Apa sudah hitungan ke seratus?"

Aku menoleh. Darah sepertinya berhenti di kepalaku karena aku butuh beberapa waktu untuk mengucap, "Sepertinya lebih dari seratus, tuan. Dan saya ingin menuntut makan siang."

"Kau tidak harus menuntut untuk yang satu itu. Mereka sudah menyiapkannya disana."

Tuan Sesshomaru berjalan di depanku, dan aku mengikuti tuan Sesshomaru di belakangnya. Entah sudah berapa lama aku merindukan pemandangan ini. Rambutnya peraknya bergelombang di bawa angin, aroma tubuhnya seperti oksigen murni hutan di pagi hari. Aku mengamati punggungnya yang bergerak. Di dalam hatiku aku bergumam, bisakan saat aku dewasa nanti, tubuhku tumbuh dengan kandungan otot dan tulang yang kokoh seperti itu?

Tuan Sesshomaru berbalik dan menatapku, wajahnya benar-benar sangat menggodaku untuk menyentuhnya. Wajahku mungkin seperti wajan penggorengan yang panas. "Kau ingin sesuatu untuk di makan?" tanyanya.

"Saya akan memakan apapun yang tuan pesankan untuk saya." Kataku sambil menunduk.

"Apa saja?"

"Apa saja, tuan."

Tuan Sesshomaru tertawa, "Bagaimana denganku? Apa kau mau memakanku?"

Aku tersenyum lebar sebelum akhirnya kami berjalan lagi.

Rambut hitamku terurai, bergerak sesuai irama langkah tuan Sesshomaru. Aku merasakan sinar matahari pagi meresap ke kulit tubuhku yang putih tanpa cacat seperti salju. Kakiku berjalan, menyeret Kimonoku di atas rumput mengikuti tuan Sesshomaru yang mengarahkanku ke sebuah taman.

Taman tertutup, lebih tepatnya. Paviliun kecil yang ditutup dahan-dahan pohon rindang berdaun coklat. Di dalam paviliun beratap bambu ada dua kursi kecil dan meja kayu setinggi pinggang. Bangunannya tertutup tanaman rambat yang cukup rimbun, melingkar di pilar-pilar kayu sampai keatas atapnya, namun tidak meninggalkan kesan belantara. Indah dan sejuk. Tempat yang bagus untuk bermain sembunyi-sembunyian.

Tuan Sesshomaru menarik satu bangku, dan satu bangku lain untuknya duduk. Dia menatapku lagi sebelum akhirnya duduk di kursi kayu dengan buntalan busa yang terlihat sangat nyaman.

"Duduklah, kita akan makan disini."

Aku menuruti perintahnya, dan duduk di depannya.

Aku meremas tanganku yang lembap berulang kali. Keheningan yang terjadi membuatku masuk ke dalam pikiranku sendiri. Apa yang akan kami lakukan? Oh tentu makan siang. Tapi setelah itu apa? Kenapa tuan Sesshomaru tidak mengantarku kembali ke rumah? Aku mengintip tuan Sesshomaru yang ternyata juga sedang menatapku, jantungku mencuat dari balik tulang dadaku

"Jadi, kau bisa ceritakan semuanya padaku sekarang?"

Oh. Tentu saja topik ini.

"Tapi sepertinya tuan sudah tau ceritanya." Perasaan berat mengukungku.

"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."

Aku takut jika aku mengatakannya , tentang penculikan dan pemerkosaan itu, tuan Sesshomaru bisa saja membakar hampir setengah jantung ibu kota. Bahkan jika tuan Naraku sudah membunuh orang-orang yang berbuat keji padaku, aku yakin tuan Sesshomaru akau mengutip tulang mereka dan melemparnya ke tempat paling hina di muka bumi —agar ruh mereka tidak akan pernah sampai ke surga— dan menceritakan kebaikan yang tuan Naraku lakukan padaku pastilah tidak membuat suasana hati tuan Sesshomaru menjadi lebih baik.

"Saya tidak bisa menceritakannya sekarang."

Aku berharap ini bisa membuat tuan Sesshomaru tidak bertanya, dan ternyata itu benar-benar bekerja. "Kau benar. Maafkan aku."

"Tuan," Rasa panas membasuh tubuku. Tatapan mata tuan Sesshomaru seperti membuatku berdiri dalam genangan air hangat yang menenangkan. "Seharusnya sayalah yang meminta maaf kepada anda karena saya membantah."

"Tidak. Aku tau. Padahal ini salahku, tapi aku mencoba mencelakaimu lagi dengan memaksamu mengingatnya. Maafkan aku."

Pelayan wanita berwajah bulat tadi yang mengantar makanan kami. Nasi dengan irisan nori kering, di mangkuk terpisah ada sup miso dengan potongan tofu dan gulungan rumput laut disiram kaldu ikan, di piring rendah ada ikan saba yang terpanggang bagus dan di mangkuk terakhir ada irisan acar plum dan acar lobak.

Setelah meletakkan cangkir minum berisi air putih, pelayan wanita yang rambutnya di sanggul menggunakan tusukan berhias bunga tulip imitasi mengucap, "Selamat makan, tuan." Sepertinya ucapan Tuan itu bukan untukku, tapi dia melihatku saat mengucapkannya. Lalu dia pergi.

"Apa tuan bersiteru dengan tuan Naraku?" tanyaku dan aku tau benar tuan Sesshomaru membenci pertanyaanku.

"Tidak. Tidak dalam artian yang paling buruk. Kami hanya tidak baik secara pribadi tapi kami bisa bekerja bersama." Tuan itu meneguk air putihnya sampai habis, aku bisa melihat jelas airnya mengalir ke dalam leher tuan Sesshomaru yang panjang. "Ada apa?"

"Sa-saya sebenarnya di selamatkan olehnya, tuan, dan menetap di tempat tinggalnya selama beberapa hari ini. Dan mengenai kabar kematian saya..."

Tuan Sesshomaru menegang, "Kau diselamatkan olehnya?"

"Iya. Tepat sebelum pedang memisahkan kepala dari tubuh saya."

Aku kira hujan akan turun sebentar lagi karena kulitku mengigil. Tapi ternyata bukan hujan, aura kegelapan mendadak mendudukiku. Aku memandang tuan Sesshomaru dan ia kelihatan begitu marah, aku yakin sumpit alumunium itu hanya seperti tangkai bunga jika tuan Sesshomaru mematahkannya.

"Lalu?"

Aku rasa tuan Sesshomaru ingin tau cerita setelah atau sebelum tuan Naraku datang menolongku —saat aku sedang dinodai— dan jika aku ceritakan detailnya, mungkin kata-kata membumi hanguskan benar-benar akan menjadi sejarah yang terwujud.

"Lalu tuan Naraku datang menolong saya. Mengobati saya dan memperhatikan saya lebih banyak dari yang sebenarnya saya butuhkan. Maka saat tuan memarahinya, saya sebenarnya sedih sekali. Saya bahkan belum mengucapkan terima kasih."

"Kau hampir terdengar seperti sangat mengaguminya." Aku terkejut mendengar ucapan tuan Sesshomaru. Dia tidak marah, mungkin seperti sakit hati. Atau cemburu.

"Tuan, saya rasa tidak seperti itu,"

Tuan Sesshomaru menatapku, mengoyak perasaan mengigil dengan senyumannya yang keindahannya mengalahkan mentari di ujung lautan. "Tapi kau disini. bersamaku. Aku pun harus mengucapkan terima kasihku. Sekarang makanlah."

Hal ini mengirimkan perasaan menyenangkan pada diriku.

Aroma sup menelusup ke dalam penciumanku, perutku berteriak. Aku ternyata lebih lapar dari pada saat aku makan pagi dengan tuan Naraku. Aku menatap ikan Saba di piring dengan seksama seakan-akan seseorang yang menunggangi angin akan mengambil ikan bagianku. Aku tidak bisa bohong tapi aku benar-benar lapar sekali. Mungkin sekarang ususku menggiling dagingku sendiri.

"Makanlah."

"Tidak sebelum tuan." ujarku.

Tuan Sesshomaru mengambil sumpitnya lalu menggenggam mangkuk nasinya. Aku hampir melepas etikaku saat menyuap sekaligus gumpalan besar nasi ke dalam mulutku. Gila. Aku bahkan bisa menegak liurku sendiri karena aku benar-benar sangat kelaparan.

Tuan Sesshomaru menatap wajahku yang membulat. Aku mungkin seperti sapi atau babi yang sedang makan. Tapi aku hampir tidak perduli. Tenggorokanku seperti di guyur tetesan surgawi saat aku menelan supku seperti aku meneguk air putih. Dan dia tertawa.

"Pelan-pelan saja, kau bisa makan satu panci penuh sup daging di belakang."

Aku menatap bagaimana tuan Sesshomaru menikmati makanannya. Rahangnya mengunyah perlahan, mulutnya menutup tanpa suara, dan dadanya membusung saat ia bernapas. Kenapa seorang bangsawan bisa sangat terlihat indah? Bahkan jika ia sedang buang air, keindahan tetap terpencar pada dirinya.

Aku berhenti di mangkuk ketiga, dan tidak bisa mencegah diriku bersendawa. Hal itu ternyata membuat gelak tawa diantara kami berdua.

"Melihatmu bergitu bersemangat, sepertinya kau sudah tidak apa-apa." Ucap tuan Sesshomaru. "Kemarilah, Inuyasha."

Aku menatap, bingung, "Ma-maksud tuan?"

Tuan sesshomaru menegakkan punggungnya dan menepuk-nepuk pahanya. "Kemari dan duduk di pangkuanku, Inuyasha."

Aku membeku, kepanikan melompat-lompat di tubuhku. "Tidak tuan, sa-saya disini saja, duduk di kursi."

Suara tuan Sesshomaru merendah, "Aku tidak suka memerintah lebih dari dua kali. Berdiri dari kursimu dan duduk di pangkuanku."

Gemetar yang kurasakan naik kepunggungku.

Aku berdiri dan berjalan pelan-pelan melawati meja dan berdiri di depan tuan Sesshomaru. Tuan Sesshomaru mendongak, menatapku seperti tupai kecil yang bergetar-getar ketakutan. Tuan Sesshomaru memandangiku dari ujung rambut sampai ke bagian bawah tubuhku. Tidak lama tuan Sesshomaru menarik napas panjang.

"Kenapa kau gemetaran? Aku belum melakukan apapun padamu dan kau sudah seperti ini?"

Tuan Sesshomaru berbicara seakan-akan ia berencana melakukan sesuatu yang berbahaya nantinya —mungkin sekarang. Ia meraih pergelangan tanganku dan menarik tubuhku mendekat kearahnya. Aku nyaris menolak bergerak. Hanya saja dorongan tak kasat mata mendorong tubuhku menjadi lebih condong dan terkunci diantara lutut tuan Sesshomaru.

Tuan Sesshomaru meremas jemariku, "Sekiranya aku ingin makanan penutup. Apa kau mau juga, Inuyasha?"

Suara rendahnya menyentak tubuhku, "Y-ya, tuan." Seharusnya aku tidak mengiyakannya.

"Bagus."

Aku seharusnya mengerti siasat semacam ini sering dilakukan tuan Sesshomaru. Tuan Sesshomaru bisa menjadi sesuatu yang lembut, pengertian dan menggoda dengan cara-cara tertentu. Atau jika tuan Sesshomaru ingin meminta hal-hal tertentu, tuan Sesshomaru jadi mudah sekali di tebak.

"Tu-tuan, nanti bisa saja ada yang datang dan melihat tuan."

Tuan Sesshomaru mengumpulkan semua rambutku yang menutupi wajahnya dan menyampirkan rambutku ke depan pundakku. Tuan Sesshomaru lalu membimbingku untuk duduk di atas pahanya.

"Tidak ada yang datang."

"Pasti ada, tuan."

"Biarkan saja. Biarkan mereka." Ucap tuan Sesshomaru.

Aku terkesiap, rematan tangangku yang menjadi tumpuan di lutut tuan Sesshomaru mengencang, "Apa yang tuan— ah!"

Tak menggubris rintihanku, tuan Sesshomaru mendorong kencang tubuhku sampai menabrak tepian meja. Meja kayunya sampai menyeret ke depan, menumpahkan sedikit kuah kental dari sisa sup miso.

"Letakkan tanganmu di atas meja." Perintahnya. Tuan Sesshomaru menggigit permukaan kulit leherku yang jenjang, meninggalkan jejak giginya di atas kulitku.

"Aku marah, aku marah sekali. Kau kira melihatmu jatuh ke tangan orang lain tidak membuatku berang? Apa dia melakukan hal-hal ini padamu?" tuan Sesshomaru bernapas di antara kulitku yang memerah, bibirnya mencumbu area kulit yang lecet karenanya.

Aku menyentak saat tuan Sesshomaru mengigit telingaku, "Tidak, tidak tuan…"

Tuan Sesshomaru meremat pinggangku lebih erat, menggoyang badanku dan membuatku bergesakan dengan ereksinya yang terjepit di antara dua pipi bokongku. Aku meremang, kenikmatan pada gesekan di antara kain kami mengirim denyut menyiksa di selangkanganku, dan tuan Sesshomaru menyentak panggulnya, sehingga aku mengeluh lebih keras.

"Hm… kau suka ini?"

Aku membusungkan dada, kepalaku terlempar ke atas, menengadah menatapap langit-langit dengan mata setengah terpejam. Sesuatu yang terhimpit diantara belahan bokongku menabrak kelaminku juga, mengirimkan serangan listrik ke ujung kelaminku yang berdenyut-denyut.

"Saya mohon, hentikan tuan," Aku memberontak dan mencoba melepaskan tangan tuan Sesshomaru yang hampir mematahkan tulang pinggangku. Tapi semakin memberontak, aku kian memberi tenaga gesekan antara bokongku dan tonjolan yang ada di bawah tubuhku. Menusuk lebih dalam dan —mungkin membus kain kimono yang aku pakai.

"Jangan mencoba-coba melepas diri." Diantara suaranya yang rendah itu, tuan Sesshomaru masih belum puas mengigit leherku, meninggalkan jejak merah hasil giginya dan ruam-ruam berwarna sama hasil dari decapan dan hisapannya yang kuat.

Mataku melebar. Udara di sekitar tubuh bagian belakangku tiba-tiba menjadi hangat dan terasa terbuka. Kulit bokongku menggesek luaran yang semestinya bukan kain yang kupakai. Saat aku mengintip dari belakang pundakku, tuan Sessshomaru berhasil melepas kain bawahku.

Aku mencengkram lengan tuan Sesshomaru saat ia berhasil menjangkau kelaminku. Menekannya di balik kimonoku yang mencuat, "Tangan tetap pada meja." serunya.

"Nghh," tanganku meremat pinggiran meja, "Kumohon, tuan…"

Tuan Sesshomaru seperti tuli dan sama sekali tidak bereaksi dengan penolakanku. "Apa kau tidak merindukanku, Inuyasha?"

Aku tidak punya cukup tenaga untuk menggelinjang, tapi tubuhku bergetar-getar. Otot-otot bokongku mengencang, bantalan yang semakin mengeras di antara bokongku menggesek-gesek lebih kencang, dan testisku juga ikut mengencang karenanya. Tuan Sesshomaru terlalu sibuk menggunakan tubuhku yang kecil mungil untuk materi manstrubasinya. Panggulnya bergerak lebih kencang lagi dan saat erangnya timbul di sela mulutnya yang menutup, kelaminku seperti di tekan ke dalam karet basah dan berminyak.

Aku bergerak seakan-akan aku mendominasinya, seperti aku sedang menunggangi kuda liar yang belum pernah di jinakkan sebelumnya. Darah berpacu melalui nadiku yang berdenyut, kelopak mataku menampung air mata dan saat berkedip, air mataku jatuh sampai menetes-netes. "Ahh, tuan, disitu… nhmm..." Racauku lupa diri.

"Disini?"

"A-ah! ya… di sana!"

Tubuhku bergerak maju mundur, aku meraih ereksiku tidak begitu cepat sebelum tuan Sesshomaru berbisik diantara giginya yang mengatup, "Kau tidak mendengarku, Inuyasha? Tangan tetap pada meja!"

Kedua tanganku mencengkram pinggiran meja. Aku menengadah keatas dengan mata terpejam, kenikmatan yang diberikan tuan Sesshomaru membuatku begitu basah sampai mengalir ke pada dalamku terus menuju lututku. Tuan Sesshomaru masih berpakaian lengkap dari atas ke bawah, sementara aku sudah bertelanjang dari pinggang ke bawah. Aku hampir tidak sadarkan diri, gairah ini lebih banyak mengambil alih tubuhku dari pada diriku sendiri.

Aku membungkuk ke depan saat kulit hangat menekan ujung kelaminku. Tuan Sesshomatu memutar jempolnya pada ujung kelaminku secara perlahan namun dengan tekanan yang menimbulkan kepakan kupu-kupu di dalam perutku. Keringat dingin keluar dari pori-pori pahaku, lembab. Selanjutnya, telapak tangannya menangkup kelaminku, menggosoknya begitu kuat dan menyentak-nyentak. Aku menggelinjang tiap kali tangannya memukul ke bawah dan menarik ke atas dengan cara yang begitu nikmat. Bahkan jika aku sedang menyentuh diriku sendiri, itu tidak bisa sedikitpun mengalahkan gerakan tangan tuan Sesshomaru.

"Sial, Inuyasha!"

Sesuatu yang terjepit di antara bokongku berdenyut. Tuan Sesshomaru menghentak seakan dia sedang berada di dalam tubuhku, dan menuntaskan cairan yang tersisa di pangkal kelaminnya. Aku mendengar napasnya sama berat dengan napasku, dan suara erangnya yang luar biasa menggairahkan berlarian di gendang telingaku. Aku melenguh saat merasakan kelamin tuan Sesshomaru berdenyut dan menyentuh daging bokongku yang terbuka.

Aku mengerjap dan satu tanganku meraih leher tuan Sesshomaru yang sedang bersembunyi di belakang leherku. "Sa-saya, akan keluar… ugh!"

"Keluarkan." Desah tuan Sesshomaru.

Tubuhku meliuk kebelakang, bokongku menantang dan terangkat, menjepit buntalan besar di bawah tubuhku. Rasa panas yang memusat di ujung kelaminku memuntahkan lahar panas, dan airnya terasa keluar mengalir ke sela pahaku. Kenikmatan dari sentuhan ini membuatku tidak sadar dengan orgasmeku sendiri. Kelaminku mengeras di dalam telapak tangan tuan Sesshomaru. Aku mengigil.

"Akh… tu-tuan!"

Tuan Sesshomaru menegakkan punggungnya, lalu dengan serangan cepat ia menarik terbuka ekor kimonoko dan menyingkapnya ke depan, " Aku tau kau benar-benar luar biasa, Inuyasha."

Rasa panas menjalar hampir ke semua bagian tubuhku dan berpusat diantara kakiku. Gesekan keras yang tiba-tiba memukul pangkal kelaminku membuat kepalaku terlempar kebelakang. Usaha untuk menahan desahan nyaris gagal, aku mengigit bibir bawahku lebih kencang dari sebelumnya. Tapi saat hentakan datang lagi, menggosok dan memilin ujung kelaminku yang banjir, teriakan gairah terlontar dari mulutku.

"A-ahh!"

"Aku rasa kita harus melakukan ini di tempat lain," Suara tuan Sesshomaru berlarian di telingaku. Mataku terpejam saat lidah tuan Sesshomaru menghampiri belakang telingaku, dan gigi-giginya menggesek cuping telingaku. "Hmm… aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Inuyasha."

Dengan sisa tenaga di dasar sendiku yang bergetar, aku meremat pergelangan tangan tuan Sesshomaru. Lututku gemetar, mendengar desah tuan Sesshomaru yang berat di telingaku membuat jantungku bergejolak lebih keras. "Sa-saya sakit dan lelah, tuan. Saya mohon biarkan saya istirahat sebentar."

Tuan Sesshomaru terdiam. Aku rasa ucapanku membuat dampak yang dahsyat dan menyakitkan baik untukku dan tuan Sesshomaru. Seketika itu juga rasa bersalah kembali mengalir ke dalam diriku.

"Ma-mafkan saya, tuan, maksud saya…"

Di pangkuan tuan Sesshomaru, aku merasakan tuan Sesshomaru menyandarkan wajahnya di punggungku. Napas hangatnya menerobos masuk menyentuh kulitku, seakan aku sedang berjemur di bawah matahari. Tangannya melunak dan melingkar di perutku, erat dan pasti, seakan ia sedang memeluk anak kecil yang ingin kabur.

Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Jika air laut mengering dan bulan berhenti menerangi malamnya bumi, bintang-bintang rontok dari langit, aku tidak akan pernah menolak tuan Sesshomaru. Sebenarnya bukan lelah dan sakit yang menjadi kendala bagiku. Hanya dengan berada di dekat tuan Sesshomaru membuat semua hal-hal yang destruktif lenyap dariku.

Aku kemudian berdiri di hadapannya. Lututku masih bergetar dan keseimbanganku tidak lebih parah dari pemain sirkus yang meletakkan telapak kakinya di tali titian. Saat aku memutar tubuhku, tuan Sesshomaru menunduk ke bawah. Aku bisa melihat belakang kepalanya dan rambutnya tersampir membuat lehernya terbuka —jenjang dan indah. Lihat, dia bahkan menunduk, kepalanya lebih rendah dari dadaku seakan aku adalah seorang raja dan tuan Sesshomaru sedang meminta ampun.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Kegilaan menghampiri diriku seperti aku sudah kehilangan akal sehatku menahun. Aku mengelus kepala tuan Sesshomaru dan memainkan rambutnya di antara jari-jariku.

Karena dia terkejut, aku pasti lebih terkejut juga. Tapi tanganku tidak berhenti. Aku menyentuh sisi wajah tuan Sesshomaru dan memutar ibu jariku di pipinya. Seakan-akan hal itu berhasil mengobati kesukaran yang terjadi padanya selama ini. Dia menimpa tanganku dengan telapak tangannya yang besar, lalu mencium telapak tanganku dengan kehangatan bibirnya.

Kalau berpikir seberapa banyak kemajuan yang terjadi padaku sejak pertama kali aku bertemu dengan tuan Sesshomaru, aku melompat dari tingkat satu menjadi tingkat professional hanya dengan dua kali lompatan. Dan itu tidak baik sama sekali. Atau jika aku di berikan kesempatan lain yang sama gilanya dengan ini, aku bukan saja hanya menyentuh tuan Sesshomaru, bisa-bisa aku berani menyentuh tangannya saat sedang berjalan di taman kota atau menciumnya di tengah-tengah rapat pimpinan.

Keadaan ini mengalirkan sesuatu yang menyenangkan ke dalam nadiku. Jantungku berdegup pelan-pelan, tangannya besar menangkup tanganku dan hembusan napas tuan Sesshomaru ada di telapak tanganku.

"Tenang saja tuan, makanan penutup tuan mau menunggu tuan, dan dia tidak akan pergi."

Tuan Sesshomaru mengunci tatapanku ke dalam iris matanya yang kuat, lalu tersenyum dan memelukku. Sangat erat sampai keningnya mendorong perutku. "Dasar kau ini…"

TO BE CONTINUED.


SPECIAL THANKS!

226IM-Used / A6452372 /adorkablenoona-discontinued / Ai no Est / Aidakim / aifGii / Akaneko SeiYu / alicegawa alvira / amai no egao / Ammiguns / Amourchan / .397 / AndiniCho / AnyaaBragins / Aoi / aprilOzi / arifacandlelight / aryani / Asuji Posya / Bedak Baby Blue / blavla / Bulu Burung / Byeongari'sDaughterInYourArea / Chavoone / chichijae / chubbyanime23 / csiwistika / CumiGorengTepung / Cupcakeseu / cutiebird / Daisy Uchiha / Dalian08 / DarkQueen610 / DarkSnow YamiYuki / Deep'O'world / deva. / Dhella Dhani / Diana Poenyamantra / Dianzu / Drake vin / Dwi341 / .965 / .1 / etsukoyukiai / Eun810 / Eun810 / / FarIndpussy / Fitriana Sumbawati / fraukreuz67 / fudafujo1 / FujiwaraKoyuki / Gabriella Indah / Gizi Seimbang / Gregory Lious / / Hamru / Hani Lee13 / heolgyu / hidekonara197 / HimekaChuu21 / hishokaharu / HitsugayaHikari-chan / HoneyDaisy97 hunkaihardshipper / HunKai-trash / Ichi / ivaa6x / ivanarosanty / jayoung552 / JellyViz19-46 / / Ji-Jicouple / Joe934 / Joe934 / J'TrimFle / Julian Yuu / Jung HaRa / just kimberly / kartikas / kenken / Kim nini / kise ci / KM-FARA / kokkukarasu no gin / kookiemouse / KuroLiana Tsukishinju / Kyungie Y. Yang / Lady SilverSky / light195 / Lil' Kimmahiro / lupanama / Lusy Jaeger Ackerman / manyulz / Mary chan / merryashida26 / michhazz / Minge-ni / Miu105 / Mon Chaton's / Myuzika HerAphrodite / nabeshima / namaekyu / Namikaze Ichilaw / nanamikiyuri22 / narusake / nolife098 / Numpang lewat / Park Aeri-shi / Porsafere / / purisani / rahmawati5431 / Raizel Jeagerjaques / Reescarlet /rei / Reinata / reiths89 / rieka / Rin Kazayuki / Rini727 / rinrin kou / Rylan77 / RynRyuArabell / Sakura Reito / ScarlerScar14 / shehundeer / shianata55 / shira / Shiroi.144 / Shownu Imnida / SirlaDe / sleep01 / stlvyesung / SugaRin2109 / the babykyu kyu / Tia YJ Ship / ucupsukaujin / upik abu / urknia96 / Uta640 / uzumaki megami / Verochi chan / Viice / VLarensa / Who Sendja / World fanfiction / WUnicornB / Xi-U00 / XX903 / yamamura sayuri / young / Yuhu / yukiai4796 / yume miku / YUNJAE SHiP and JOYers / yuu / zilwi

Kalian adalah para malaikat peminat cerita author yang super gak jelas dan OC gak karuan, updatenya seenak jidat, alurnya berasa kayak dia aja yang nyiptain InuYasha, dan bahasanya super typo. Author bahkan tidak sempat membalas review yang belakangan ini masuk ke inbox karena email yang ter-reboot dan membalas di akun fanfiction malah terkirim dua kali inboxnya.

.

Karena permohonan maaf saja author rasa kurang, author kalau bisa nyawer uang aja ke pembaca yang masih punya niat membaca cerita erotis super gak jelas ini.

"Loh, ada notif e-mail masuk, oh dari author ngaret yang doyannya maksa pembaca buat review. Males ah baca ff dia lagi." Tolong jangan berpikiran seperti itu karena author akan merasa pedih sekali.

Author memang tidak bisa menepati janji, maka dari itu tolong maafkan author. Tapi sungguh, cerita ini masih berjalan walau selambat sidang E-KTPnya Sety* Novanto. (PS: gak boleh ngatain dewan DPR-MPR nanti di pidana)

Author sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan mengupdate. Kalau mau memaki atau mau memberi saran —atau ngatain hal-hal yang sepantasnya di terima penulis yang tukang nipu, silahkan klik review di bawah.

Atau jika ingin membagi pengalaman bercintanya *di gampar* silahkan klik di kolom bawah ini, karena #nospoiler chapter depan full panas-panas.

"Updatenya cepet gak? Males banget baca kalau cerita gak jelas dan gantung kayak gini." Ehm… #2019gantiAuthor