There's Christmas Cake although It's Not Christmas Day
Chapter 7: Simple Things Also Can Makes Bigger Things
Warning: OkiKagu. 25 y.o!Okita Sougo. 21 y.o!Kagura. Quick typing as usual. Lack of description. Too quick/slow pace? Super OOC. Typo(s)? Cliche plot. Abal.
Disclaimer: Characters belong to Sorachi Hideaki. Shaun have the plot, nothing else. Don't get any profit from making this fic.
Keterangan: Sebenarnya setiap Shinsengumi punya pedang sendiri-sendiri (yang main Touken Ranbu pasti tahu.) tapi berhubung saya tidak main dan *coret*mager*coret* tidak sempat mencari, jadi iyakan sajalah fic ini(?)
.
.
"China, lihat apa yang kaulakukan dengan pedangku," nada yang digunakan pria tersebut sama sekali tidak datar seperti biasanya. Terdapat sedikit amarah di nadanya.
Kagura tidak berani menatap teman bermainnya itu. Ia terlalu bersemangat bertarung dengan orang yang ia sebut sebagai Sadis itu, dengan semangat pula ia mengayunkan payung ungunya dan mematahkan pedang kapten divisi satu Shinsengumi tersebut.
"Padahal ini salah satu pedang favoritku."
Gadis itu semakin merasa bersalah, tetapi, kalau ia pikir-pikir, hal ini bukan sepenuhnya salahnya, "Ji-jika kau tidak memprovokasiku duluan tentu hal ini tidak akan terjadi, Sadis!" belanya. Dengan berani ia menatap langsung manik merah darah itu. Pemilik manik tersebut tetap menatapnya datar tetapi Kagura yakin bahwa sebenarnya ia kesal.
Mari kita lihat beberapa waktu sebelum hal ini terjadi.
"Oi, China. Aku bosan," keluh Sougo.
"Lalu, apa urusannya denganku, Sadis?" Kagura lengkap dengan payung ungunya dan sukonbu di mulutnya menjawab pria itu dengan cuek.
"Lakukan sesuatu dengan tenaga monstermu itu agar aku memunyai pekerjaan dan menangkapmu," perintah Sougo yang aslinya tengah berpatroli.
"Che! Polisi macam apa yang menyuruh rakyat tak berdosa melakukan tindak kriminal?!" seru Kagura kesal, "Pergi saja kau sana mencari kejahatan di tempat lain atau mengatur lalu lintas atau membantu nenek menyebrang. Buatlah dirimu berguna, dasar bocah sialan."
"Bercerminlah, China, seharusnya kau yang membuat dirimu berguna. Ah, dan kau itu lebih muda daripada aku. Jadi kaulah yang bocah sialan."
"APA KAUBILANG?! Aku ini Kagura-sama, ratu distrik Kabuki. Beraninya kau menghinaku!"
"Kalau begitu buatlah dirimu berguna dengan menyenangkanku, Kuso China."
Kemudian mereka bertarung sengit, menghancurkan beberapa kursi taman, menyerang beberapa Madao, dan terjadilah insiden tersebut. Kagura menggembungkan pipinya kesal. Cuma karena sebilah pedang, kekasihnya itu marah besar. Memangnya apa yang spesial?
Setelah pertengkaran mulut yang sengit, mereka kembali ke tempat masing-masing. Sougo pergi kembali ke markas Shinsengumi untuk mengambil pedang cadangan, Kagura kembali ke tempat kerjanya. Sesampainya di Yorozuya, kedua pekerja yang lain sedang duduk manis di depan TV dan menonton drama yang tengah tenar.
Kisah cinta antara seorang samurai bakufu dengan wanita Yoshiwara.
Sepertinya kisah itu familiar.
"Aku pulang," Kagura menghela napas, "Kalian menonton drama itu lagi …"
"Hm … Oh hai, Kagura-chan, kau harus menontonnya, ini bukan romansa picisan kok," balas Shinpachi lalu mengarahkan empat matanya kembali ke kotak ajaib itu, mata biru Kagura juga memperhatikan apa yang sedang ditayangkan di televisi tersebut. Pedang pemeran utama laki-laki dipatahkan oleh musuhnya yang banyak, "Hm … Samurai yang kehilangan pedangnya itu seperti kehilangan jiwanya ..." lirih Shinpachi mendadak. Tubuh Kagura mendadak kaku setelah mendengar pernyataan tersebut.
"Ya ya Patsu-an. Jika maksudmu seorang samurai kehilangan 'pedang'-nya tentu saja ia kehilangan 'jiwa'-nya (1) juga," timpal Gintoki sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
Pria berkacamata itu segera membalas ucapan bosnya, "Gin-san. Aku tidak bermaksud bercanda mesum," samurai bersurai perak itu segera menggoda rekan kerjanya yang masih melajang dan tidak seru. Gadis Yato itu tidak bisa mendengarkan percakapan rekan kerjanya, ia hanya fokus dengan ucapan Shinpachi.
Tanpa pedang, samurai tidak bisa melindungi dirinya ...
Tanpa sadar, ia malah ikutan menonton. Si pemeran utama itu segera mencari cara untuk mendapatkan sebuah pedang, untuk melindungi gadis yang ia cintai …
Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dompet Gintoki dan berlari keluar, "Kagura-chan?! Apa yang kaulakukan dengan dompetku?!" Gintoki panik.
"Aku mengambil gajiku duluan, Gin-chan! Aku benar-benar membutuhkannya!" kemudian gadis bersurai jingga itu berlari dengan cepat.
"EEEEEEH, KAGURA-CHAN?! Gin-san butuh dompet itu untuk suatu kepentingan!" ayah angkat Kagura itu mendadak panic.
"Maksud Gin-san suatu kepentingan itu adalah pergi bermain ke panchiko," adik laki-laki Tae segera menyikutnya keras, "Lalu, kau juga belum membayarku, kuso tenpa," geram penerus dojo Kodoukan.
Mari kita beralih ke gadis 21 tahun yang tengah berlari ke sebuah tempat yang ia tahu dapat membuat segala jenis pedang. Sampai pedang hidup pun ia berhasil buat. Ini benar-benar pedang hidup, oke?
Suara pintu digeser segera bergema di tempat tersebut, "Te-Tetsuko-san!"
Si pemilik nama menatap ambang pintu tokonya, "Ara, kau ... Gadis dari Yorozuya, Kagura-chan, bukan?" Kagura menjawab pertanyaan wanita bersurai biru itu dengan mengangguk, "Kaudatang sendiri? Ada yang kaubutuhkan?" tanya pandai besi terbaik di Edo itu dengan tersenyum.
Kagura ragu apa yang harus dia minta, "Ng, aku ingin dibuatkan sebuah pedang!"
"Pedang? Pedang apa yang kauinginkan?"
Mata birunya berkedip sekali, "Eh? Ada jenisnya?"
"Ng, yah, seperti durandal, knife sword, excalibur, dagger, broadsword, dan lain-lain," lawan bicara Tetsuko terlihat mengernyitkan keningnya, alisnya naik ke atas, sepertinya ia kebingungan, "Ya, apakah yang jenisnya ringan atau berat, yang melengkung atau lurus. Semacam itu ..." jelas salah satu pelanggan Yorozuya itu.
Gadis kelahiran November itu terdiam, ia tidak tahu apa bedanya pedang karena ... Pedang. Semua terlihat sama untuknya. Kemudian ia meminta waktu untuk mencari tahu pedang seperti apa yang biasa digunakan oleh kapten divisi satu Shinsengumi tersebut.
"A-aku akan kembali lagi!"
Yep, seperti malam-malam sebelumnya. Kagura akan datang ke kediaman Hijikata dan memasakan makan malam untuk mereka berempat. Duduk di samping si Pangeran Sadis membuatnya gelisah entah kenapa, padahal biasanya tidak begitu.
Ia harus menanyakan pedang itu cepat atau lambat ...
Ah, lebih cepat lebih baik!
"Sadis, aku-" kalimat Kagura yang belum selesai segera disela oleh lawan bicaranya.
"Terima kasih atas makanannya," Okita bungsu itu berdiri dan segera meninggalkan tempat makan, "Aku keluar sebentar ada urusan," jelasnya dan tanpa sadar menambah keheningan yang tidak diperlukan sebenarnya. Berhubung terlihat normal, tidak ada yang bertanya satupun.
Kagura tentu tahu bahwa itu tidak normal. Ia tidak akan menyerah!
Malam selanjutnya, di kediaman Hijikata. Kagura menyiapkan makan malam dan melihat Sougo di sekitar dapur, ia segera mengejar dan berusaha memanggilnya, "Sadis! Sebenarnya-" sebelum dapat menarik hakama yang dikenakan pria itu, pria itu sudah menghindar dan mencari sosok kakak perempuannya.
"Ane-ue," panggil pria itu, "Malam ini aku akan patroli. Aku tidak makan malam di rumah ya!" lalu ia pergi keluar rumah. Kagura ditinggalkan dengan tungku api yang masih menyala. Si Sadis sialan itu benar-benar …!
Hingga keesokan harinya lagi, Kagura sampai-sampai mengejarnya saat ia patroli siang di taman.
"Sadis, tentang yang kemarin ..."
"Apa? Ada kejadian di distrik A?! Baiklah aku akan ke sana!" kapten divisi satu Shinsengumi yang paling malas patroli mendadak peduli dengan kejadiaan saat patroli. Lalu, beranjak dari kursi taman yang ia duduki dan lari sekencang tenaga ke distrik manapun itu.
Urat marah Kagura menyembul di keningnya. Sougo benar-benar menghindari Kagura. Rasanya masalah ini tidak akan selesai ... Tapi, ada suatu perasaan yang mengganjal. Si Sadis yang tidak menghiraukannya belakangan, rasanya ia semakin menjauh ...
Semakin Kagura berusaha mencapai punggungnya, pria itu malah semakin jauh. Bahkan karena itu ada perasaan aneh yang membuncah dari dalam diri Kagura.
Seperti ada lubang hitam di dadanya, semuanya masuk dan menghilang.
Ia merasa hampa mendadak.
Tanpa sadar, ia mengarahkan tangannya dan mencengkram dadanya.
Sakit ... Perasaan apa ini ...?
Gadis bersurai jingga itu mengeratkan pegangan pada gagang payungnya. Mata birunya tetap bercahaya, ia tidak berencana untuk mengabaikan kesalahan yang ia buat.
Ia jadi teringat kata-kata Gin-chan, mata dibalas mata, eh ...?
Tapi ... Pria bersurai coklat pasir itu sama sekali tidak menghancurkan payungnya. Jika ia sampai menghancurkannya, mungkin gadis Yato itu tidak akan permah memaafkannya. Payung ungu itu adalah payung pertama hadiah dari Mami-nya ...
Eh?
"Apa pedang tersebut memiliki arti khusus?" gumam Kagura.
Petunjuk baru untuk menyelesaikan masalahnya! Ia berlari ke rumah kliennya, menemukan pasangan suami istri sedang menikmati waktu dengan minum teh. Di meja terdapat beberapa kudapan manis, teman untuk minum teh hijau yang pahit.
"Ara? Kagura-chan! Tumben sekali kaudatang ke sini, apa ada sesuatu hal?" Mitsuba tersenyum manis melihat kedatangan gadis Yorozuya tersebut. Suaminya hanya menatap tanpa berkomentar apapun.
Kagura berjalan mendekati kakak si Sadis dan duduk bersimpuh di sampingnya, "Ane-ue," bisik Kagura, "Ng, apakah Sougo memunyai pedang yang sangat berharga? Atau pernahkah ia menceritakan tentang pedang khusus kepadamu?"
Kakak perempuan Sougo itu menatap perempuan yang lebih muda itu dengan bingung lalu memasang pose berpikir, "Kalau tidak salah … Ada satu pedang … Itu pedang pertama yang ia dapatkan saat menjabat menjadi kapten divisi satu Shinsengumi," jawab Mitsuba.
"Pedang pertama saat ia menjabat sebagai kapten divisi satu Shinsengumi …" ulang Kagura. Ia semakin merasa bersalah karena ternyata pedang yang ia patahkan memiliki arti tersendiri bagi pria tersebut, "Apa Mayora ada di rumah? Aku ingin meminjam pedangnya sebentar …"
"OI, AKU DARITADI BERADA DI SINI, CHINA MUSUME!" amuk wakil komandan Shinsengumi tersebut. Bisa-bisanya ia tidak diacuhkan.
Pasangan suami istri itu sebenarnya sudah menyadari ada yang salah dengan mereka berdua, sehingga, Toushirou pun tidak ingin bertanya apa alasan gadis Cina itu meminjam pedangnya karena ia sudah mendengar kurang lebih ceritanya dari istrinya ataupun keluhan implisit saudara iparnya. Setelah mendapatkannya gadis itu berlari lagi ke pandai besi Tetsuko.
"Tetsuko-san, aku ingin dibuatkan pedang yang sama persis dengan pedang ini! Beratnya, bentuknya … Ah, untuk sarungnya … Aku ingin yang seperti ini …"
Semoga ia akan memaafkanku dengan ini ...
Butuh waktu seminggu untuk menunggu pedang yang ia pesan jadi, sudah dua minggu berlalu semenjak ia mematahkan pedang kekasihnya itu dan Sougo tidak berbicara sedikit pun kepadanya.
"China. Aku benar-benar membencimu," kilat mata merah gelap itu menandakan bahwa yang ia katakan serius, "Seharusnya aku membatalkan saja permintaan Ane-ue. Kau hanya menyusahkan. Selamat tinggal," Sougo dengan seragam Shinsengumi-nya lengkap, membalikkan tubuhnya, membiarkan Kagura menatap punggungnya.
Mata biru Kagura terbelalak, ia ingin memanggilnya tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia menjulurkan tangannya, berusaha menggapai pria itu tetapi tangannya tidak dapat meraih apapun. Ia berlari sekuat tenaga, tetapi, pria itu malah semakin jauh darinya.
Ia merasakan bahwa matanya perih.
"SOUGO!"
Refleks, pemilik Sadaharu itu terbangun dari mimpinya.
Mimpi ...?
Kagura terengah-engah, ia merasakan cepatnya jantungnya berdetak. Pipinya basah karena air mata yang mengalir.
Syukurlah semua itu hanya mimpi ...
"Kagura-chan!" suara yang ia dengar setiap pagi. Mata birunya menatap langsung pintu kamarnya, terlihat samurai bersurai hitam panjang dengan apronnya, "Kau sepertinya mimpi buruk ... Apa kau dan Okita-san belum baikan?" tanyanya cemas.
Yang ditanya menggeleng pelan. Ia bangun dan membereskan futon-nya. Setelah ini ia harus cepat bersiap dan mengambil pesanannya, "Maaf membuatmu cemas, Shinpachi ..." pria berkacamata itu tersenyum lembut dan kembali melanjutkan kegiatan bebersihnya.
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi, Kagura segera berlari ke kamar mandi, mandi, menyisir rambutnya dan menatanya menjadi dua cepolan. Mengambil payung khasnya dan izin pergi dengan kedua anggota Yorozuya yang lain. Berlari dengan tidak sabar ke tenpat Tetsuko, menerima pesanan, dan segera membayarnya.
"Apa pedang itu untuk kekasihmu?"
Wajah Kagura segera memerah, "Eh? Ke-kekasih?! A-aku tidak, ngh, yah begitulah ..." jawabnya gugup. Ia menampar dirinya dalam hati, untuk apa ia bersikap malu-malu seperti itu?!
Lalu, ia mengikatkan sebuah jimat di ujung gagang pedang sebelum mengucapkan terima kasih dan membawanya pergi. Pergi ke tempat orang itu berada. Pastinya siang seperti ini dia berada di tempat itu ... Sedang tidur siang dengan masker tidurnya yang konyol itu. Dasar polisi tidak becus! Gadis berpayung ungu itu tidak dapat menahan senyumnya untuk melihat wajah si Sadis itu.
... Apa yang tadi ia pikirkan?!
Mendadak, mimpi tadi pagi merasuk ke ingatannya. Ia jadi takut untuk berhadapan dengan Sougo, tapi, ada apa dengannya mendadak jadi takut dan merasakan perasaan aneh ini?! Kagura mengeratkan pegangannya pada payung dan pedang yang berada di tangannya. Ia adalah Kagura-sama, ratu distrik Kabuki! Tidak ada yang ia takutkan!
Taman Kabuki yang tenang, tempat tongkrongan orang-orang termasuk pengangguran. Tempat bermalas-malasan. Tempat di mana mereka sering bertemu, beradu tinju. Pria bermarga Okita itu sedang duduk di kursi taman dengan penutup mata merahnya. Pedangnya ia letakkan di sisi kanannya, yang jelas itu pedang cadangan dari markas Shinsengumi.
Nama panggilan laki-laki itu nyaris asing di lidahnya, Kagura menelan ludahnya, sekedar menghilangkan kegugupan, "Sadis," ia memanggilnya dan sebelum orangnya membalas panggilan kekasihnya itu, dari suaranya jelas ketahuan, Kagura langsung melemparkan pedang ke arah pria itu, "Aku minta maaf."
Sougo membuka penutup matanya dan menemukan sebuah pedang. Pedang itu terlihat normal seperti pedang samurai pada umumnya, tetapi sarungnya terdapat ukiran simpel berwarna keemasan dan di gagang pedangnya terikat sebuah jimat.
Jimat keselamatan.
"Aku tahu aku salah telah mematahkan pedang yang sangat berarti bagimu," ujar gadis berpakaian qipao itu. Wajah pucatnya terlihat sedikit memerah. Ekspresinya terlihat sangat bersalah.
Sougo masih menatapnya dengar datar hingga mendengar kalimat terakhir, ia memberikan seringai, "Heee, siapa kau sebenarnya? Aku tidak yakin bahwa kau itu China. Kembalikan China, dasar alien."
"HEI! AKU BERUSAHA SERIUS DI SINI!" amuk gadis Yorozuya itu, "Aku menyesal melakukan semua ini!" ia terus-terusan mengucapkan hal itu sambil memukul pelan anggota termuda Shinsengumi tersebut.
Saudara ipar Toushirou itu mengeluarkan suara tawa kecil yang cukup mengejutkan bagi Kagura, mata birunya meneliti ekspresi lain rivalnya, ia tertawa lepas bukan tertawa sadis atau menyeringai yang menyebalkan, Sougo Okita terlihat berbeda ... Kagura tanpa sadar terus memperhatikan ekspresi langka tersebut.
"Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya aku bersifat kekanakan seperti itu," lirihnya sambil menutupi mulutnya, menyembunyikan senyumnya, "Terima kasih," Sougo berbisik, ia yakin jika kalimat itu terdengar ia akan terlihat di luar karakternya.
"Apa?"
Sougo kemudian berdiri dari tempat duduknya, "Bagaimana kalau kita tes pedang ini. Apakah ini pedang asli atau mainan?" ia menarik pedang dari sarungnya, mengacungkan benda tajam itu ke arah si gadis.
"Bisa-bisanya kau tidak percaya …" geram gadis itu, "Baiklah. Ayo kita coba!" ia memasang kuda-kuda bertarung dengan payungnya.
Hari itu, taman yang baru diperbaiki segera rusak lagi dan membuat tagihan Shinsengumi membengkak.
.
Jika kalian bertanya-tanya bagaimana 2 minggunya Sougo ...
Mata merah gelapnya menatap gerak gerik gadis Yato tersebut. Sehari tanpa mengganggu China ternyata sangat membosankan. Sebenarnya ia berniat untuk mengganggunya, sebelum ia menyuarakan kata-kata yang pasti akan membuat Kagura merasa kesal, ia malah mengurungkan niatnya, "Salahnya yang menghancurkan pedangku," pikirnya kesal.
Tapi, tidak mendengar suara cemprengnya, kalimatnya yang susah dimengerti, mata birunya yang jernih ...
"Ternyata dia bisa dirindukan juga ..." Sougo kembali uringan dan menarik penutup matanya. Hari ini ia harus meminta maaf kepada China musume karena ia sangat kekanakan dengan sikapnya.
Mereka berdua saling merindukan satu sama lain ...
.
o.o.o.o.o.o.o
.
Balasan review anonim:
- Rini desu: Sepertinya kali ini yang menurun :') Sudah lama ga nulis hehe. Yep, Kagura kalau tentang romansa antara perempuan dan laki-laki sama sekali tidak peka. Oh ya, ... itu sebenarnya ada keterangan, saya skip sekali. Nanti saya perbaiki :")
- akiyoshi: Ini lanjutannya
- Salza Sonochiru: Terima kasih! Di chapter selanjutnya yah, semoga :D Selamat menikmati!
- istri takasugi: Ini kak Moon Waltz? /plok /sotoy. Ini siapa wkwk XD Ini lanjutannya hehe~
- DeviNA: Ini lanjutannya :D Maaf lama, pasti dilanjutin sampai selesai kok hehe.
.
A/N: Alurnya memang kecepatan, maafkan saya. Di sini lebih banyak Kagura sih, inipun kayaknya kurang sesuatu(?) Kurang greget huhu.
