Summary: Sasori dan Shino menceritakan masa lalu demi menjelaskan kesalahpahaman yang ada. Mereka menceritakan ini kepada Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Agar semua tidak terjadi pertengkaran karena kejadian lima belas masa silam. Dimulailah cerita antara dua keluarga dulunya bersahabat kemudian bertengkar.
STARLIGHT
.
Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
Warning: OOC, AU, Multi-chapter, Humor, Fluffy, Family, Drama, deskripsi seadanya, cerita kembali ke masa silam. This story is mine and Ichizuki RirinIin. No plagiat, this is my the inspiration.
Enjoy Reading!
.o.O.o.
Pertemuan awal pohon Sakura dengan bunga malam menyejukkan hati. Seakan-akan dunia berhenti di sekitarnya. Kemudian itu tidak berselang lama, sang penghancur itu terus mengintai demi pembalasan dendam.
PART VII
.. Hong Kong, 19:45 p.m.
Kedua pemuda berjalan seperti berlari menggebrak dengan keras agar pintu terbuka. Keras pintu tersebut mengagetkan seorang pria paruh baya sedang duduk menghadap jendela di kursi bos. Ekspresi wajah pria yang berusia empat puluh tahunan terlihat senang. Inilah jadi pemicu kemarahan pemuda berusia tiga puluh tiga tahun. Pemuda yang bernama Haruno Sasori tak tanggung-tanggung mencengkram kerah baju pria diketahui bernama Uchiha Fugaku.
"Berani-beraninya kamu melakukan itu kepada Sakura! Sebenarnya apa maumu?!" teriak Sasori dengan napas ngos-ngosan menahan amarah. Dia melempar tubuh Fugaku penuh kekesalan bercamuk di dadanya.
"Hahahaha!" suara tertawa Fugaku menggelegar. Akibat tertawa Fugaku mengguncang hati Sasori dan pemuda berambut hitam berantakan, Shino. Tawanya berhenti. "Inilah keinginanku, membalas dendam. Dan sekarang sudah terbalas." Fugaku nyengir. Dia memalingkan muka memandang kota Hong Kong dari balik jendela. "Pembalasan dendam telah tercapai!"
"Kamu!"
"Hentikan!" Shino yang berada di belakang Sasori, menyela di tengah-tengah mereka. Pertengkaran tersebut dihentikan agar tidak merembes di luar di mana para karyawan hotel ini bakal curiga. "Bisakah kita bicara dengan kepala dingin? Bukan emosi seperti ini. Kita datang ke sini untuk menjelaskan kejadian lima belas tahun yang lalu. Di mana semua kejadin selama ini adalah kesalahpahaman."
Sasori mundur selangkah. Dia menekan kening yang berkerut. Putus asa dan frustasi. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan. Emosinya terhenti. Sekarang dia bisa bicara dengan kepala dingin tanpa kemarahan tadi. Sasori berputar badan menghadap menatap Fugaku. "Kami datang ke sini ingin menceritakan kejadian lima belas tahun silam. Di mana semua terjadi bukan keinginan kita. Kehilangan kedua anak paling disayangi. Adikku kehilangan ingatan. Dan semua persahabatan yang kita miliki di keluarga kita, telah putus karena kejadian tersebut. Sebelum aku menjelaskan sedetil-detilnya, bisakah Anda menelepon istri Anda sekarang juga?"
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?" tanya seorang wanita masuk dengan anggunnya. Dia menutup pintu, lalu berjalan masuk menghampiri suami tercinta. Wanita itu merupakan istri Uchiha Fugaku dan ibu dari dua anak laki-laki di antaranya adalah Uchiha Sasuke, suami Sakura. Namanya Mikoto. Dia menatap Sasori bingung. "Apa yang ingin kalian ceritakan pada kami? Lalu, di mana kedua anak kami sekarang? Katanya kamu mengetahuinya?"
"Pertama, kami akan menjelaskannya dari awal. Izinkan kami bicara dengan kalian tanpa ada sepotong kata dari kalian untuk menyela pembicaraan kami. Kedua, kami mohon jangan marah jika kami menceritakan sejelas-jelasnya karena ini ada hubungan dengan Anda juga. Terakhir, setelah kami menceritakannya... tolong pertimbangkanlah keputusan Anda untuk mencelakai Sakura dan cucu Anda sendiri." Ada kekagetan di raut wajah pasangan suami istri tersebut. "Selama Sakura koma, Hikari juga ikut terluka. Kalau cucu Anda tahu semua ini, kami bisa membantu asalkan Anda tidak lagi membahayakan keduanya termasuk Sasuke."
"Baiklah."
Kedua duduk di sofa telah dipersiapkan. Di sana Mikoto dan Fugaku juga duduk saling berhadapan di kursi segi empat. Sasori dan Shino beradu pandang, mengangguk singkat. Mereka menghela napas. Berpikir dalam-dalam. Ingatan kembali keluar. Dimulailah Sasori menceritakan kisah tersebut.
"Pada saat itu, pertama kali kita bertemu di kediaman keluarga Haruno di Hokkaido, merupakan rumah pribadi kami. Pertama kali keluarga Uchiha datang bertamu serta membawa keempat anak mereka. Ayah memperkenalkannya kepada kami..."
Flashback lima belas tahun yang lalu...
.. Hokkaido ..
Di kediaman keluarga Haruno di Hokkaido, keluarga Uchiha datang bertandang. Mereka diundang oleh kepala keluarga Haruno, Haruno Kizashi. Mereka sudah berteman sangat lama dan baru sekarang mereka memperkenalkan anak-anak mereka. Demi hubungan pekerjaan juga, Kizashi mengajak keluarga Uchiha nginap di rumahnya. Ini memperlancar hubungan mereka.
Berkat kedatangan keluarga Uchiha dengan membawa anak-anak mereka, Kizashi memanggil kedua anak-anak mereka di lantai atas. Anak perempuan berambut merah muda dan anak laki-laki berambut merah muncul dan turun dari tangga. Mereka menghampiri ayah dan anggota keluarga Uchiha tersebut.
"Nah, ini anak-anak paman. Namanya Sakura dan Sasori." Kizashi memperkenalkan kedua anaknya sambil tersenyum. Sakura dan Sasori memandang bergantian anak-anak keluarga Uchiha. "Jadi, perkenalkan nama kalian."
"Ayo, anak-anakku. Perkenalkan nama kalian. Dimulai dari Itachi," kata Fugaku mendorong tubuh Itachi agar berdekatan dengan kedua anak keluarga Haruno.
"Namaku, Itachi. Usiaku berusia dua belas tahun. Semoga kita berteman dengan baik," ucap anak laki-laki berusia dua belas tahun tersenyum sekali kemudian memasang wajah datar kembali. Dia menoleh ke arah dua anak laki-laki kembar, ada yang tersenyum dan berwajah sama dengannya, datar. "Ini adalah adik laki-lakiku, anak kembar. Yang tersenyum namanya Sai, dan sebelahnya namanya Sasuke. Dan di ujung sana, namanya Hinata. Adik bungsu kami paling manis dan imut."
"Halo, aku Sakura. Siapa namamu, gadis kecil?" tanya anak perempuan berusia delapan tahun kepada anak perempuan yang berusia dua tahun di bawahnya. Anak kecil yang bernama Hinata mundur dan berlari bersembunyi di belakang ayahnya. Sakura memiringkan kepala, kemudian kecewa berat.
"Biarlah anak itu memang begitu. Lama kelamaan terbiasa kok," Sai menenangkan Sakura yang kecewa berat terhadapnya. Usianya dua tahun di atas Sakura. Berarti usianya sama dengan Sasuke yang di sampingnya. Dilirik Hinata menyuruh mendekat, "kemarilah Hinata. Jangan takut. Kita tidak menggigit kok."
"Ayolah, Hinata. Senang, 'kan ada teman bermain biarpun usia kalian beda dua tahun." Fugaku mengamit tangan Hinata kecil, menarik ke depan di mana Sai mengulurkan tangan. Hinata mengambil tangan Sai dan tersenyum malu-malu.
Sai menarik tangan adik bungsunya. Dia juga mendorong tubuh adiknya agar bertatap muka dengan Sakura. Sakura sungguh senang. Dia menyapa Hinata, Hinata tersenyum malu-malu lagi. Akhirnya Hinata menyapa Sakura. Ada rona merah di pipi kembungnya. Sakura memeluk Hinata. Sai, Itachi, Fugaku, dan Kizashi gembira melihatnya. Sedangkan Sasuke yang sayang Hinata, baru kali ini melihat adik kesayangan sudah menyukai seseorang beberapa detik yang lalu. Senyum disunggingkan di bibirnya, Sai juga ikut tersenyum. Sai tahu Sasuke senang, dia pun juga senang.
Itachi dan Sasori bertatapan muka. Seperti Kizashi dan Fugaku semasa muda. Mereka pun bersalaman dan tiba-tiba menjalin persahabatan rahasia tanpa diketahui dua kepala keluarga tersebut.
Kehangan menjalar seisi rumah keluarga Haruno. Ini bermula pada hubungan Hinata dan Sakura yang mulai berujung persahabatan. Usia mereka beda dua tahun, tapi mereka seperti saudara, kakak adik, dan sahabat. Ini juga menyebabkan Sasuke jatuh cinta pertama kali dengan Sakura. Cinta monyetlah. Sai dulunya sangat pintar ini mengetahui keanehan Sasuke, saudara kembarnya. Namun, itu diabaikan saja. Semoga saja hubungan ini berlanjut hubungan pacaran kemudian pernikahan.
Tiada hari tanpa senyum. Kegembiraan di dalam hati pelayan keluarga Haruno begitu juga kedua kepala keluarga tersebut. Yang paling menyedihkan adalah Uchiha Mikoto tidak dapat bertemu Haruno Mebuki. Alasan dikarenakan Mebuki sedang rawat inap di Amerika akibat penyakit dideritanya. Ditemani sepupu-sepupu Sakura dan Sasori yang tinggal di sana. Termasuk Namikaze Naruto.
Beberapa hari kemudian menjelang hari perayaan di kediaman Haruno, Fugaku dan Kizashi memutuskan untuk bekerja sama dalam hubungan pekerjaan. Ini sungguh mencengangkan. Dua perusahaan terbesar saling bekerja sama demi memperlancar ekonomi, tenaga kerja dan keuangan. Acara tersebut diminati banyak calon tenaga kerja. Mereka sangat senang karena dua perusahaan ini bisa menjadi teladan buat mereka.
Acara ini juga mengundang beberapa rekan-rekan perusahaan lainnya. Tentu saja ini hebat dan luar biasa. Tapi, ada satu orang tidak ingin semuanya hebat dan berjalan lancar. Dia selalu dendam kepada Uchiha Fugaku gara-gara dia-lah, pekerjaan terdahulunya hancur akibat korupsi dan menindas rekan lainnya. Ini diketahui Fugaku dan memecat orang ini. Gara-gara Fugaku, hubungan keluarganya dulu telah memburuk hingga sekarang. Dan Sekarang dia ingin membalas dendam.
Nama orang ini alias mantan karyawan perusahaan Uchiha diketahui bernama Jiraiya. Dia kesal, marah, dan jengkel kepada Fugaku. Sekarang dia telah mendapat pekerjaan layak yaitu di salah satu perusahaan Haruno. Tapi, pekerjaannya berbeda dengan kehdupan pribadinya. Keluarganya tidak seperti dulu lagi. Semuanya musnah. Mereka lebih memilih pindah di tempat lain daripada tinggal dengan Jiraiya. Rumahnya dulu sangat bagus dan mewah, sekarang tinggal di kontrakan. Rumah mewah tersebut disita akibat korupsi.
Demi membalaskan dendam, Jiraiya berniat menghancurkan keluarga Uchiha dengan tangannya sendiri. Dia mempunyai rencana untuk melakukan ini lewat anak-anak Uchiha. Mumpung keluarga Haruno sedang merayakan hari-hari besar mereka di Hokkaido di villa keluarga Haruno. Inilah niatnya untuk membalas dendam antara dirinya.
.. Hokkaido ..
Pemandangan indah di Hokkaido dengan nuansa dinginnya memberikan kesejukkan berarti. Di saat seperti ini, anak perempuan Haruno dan anak laki-laki Uchiha sedang bermain petak umpet. Seiring berjalannya waktu, mereka saling menyukai satu sama lain. Walaupun tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata. Hinata, adik bungsu Sasuke itu tersenyum melihat kakak laki-lakinya bahagia.
Sasuke melihat pohon Sakura yang tergeletak di ujung taman villa keluarga Haruno. Dengan kesanggupannya memanjat pohon, Sasuke membawa Sakura melihat matahari terbenam di ujung laut sana biarpun tidak terlihat. Sakura memang sangat suka dengan pohon Sakura makanya Sakura sering meminta sang kakak untuk menanam pohon Sakura di halaman villa di Hokkaido.
Sasuke duduk di samping Sakura, memasang wajah senang sambil menoleh ke arah Sakura. Sekilas perasaan campur aduk karena menyukai perempuan musim semi ini. Sasuke memegang tangan Sakura dan meletakkannya di pangkuannya.
"Seandainya saja kita bisa lihat matahari terbenam seperti ini di saat kita besar nanti," ucap Sasuke sambil meremas tangan Sakura. Sakura bingung, apa maksud perkataan Sasuke. Tapi, rona merah muncul di pipinya dan tersenyum.
"Aku juga, Sasuke."
"Seandainya lagi kalau kita bisa seperti ini untuk selama-lamanya..." keheningan menyelimuti Sasuke. Perasaannya tidak enak besok malam di mana acara pesta keluarganya menghancurkan semua kehidupannya. Sasuke menunduk dalam-dalam, mengumpat dalam hati.
Warna merah merona menghilang di pipi Sakura, memandang matahari mulai menghilang. Dirinya berpikir matang-matang soal apa di maksud Sasuke. Sakura menutup mata dan merasakan hembusan angin menerpa wajah manisnya. Dia tersenyum berbisik, "jika suatu saat nanti aku pergi sementara. Apa kamu mau menungguku, Sasuke?"
Terkejut mendengar ucapan anak perempuan di sebelahnya, Sasuke malah tersenyum kecil dan ringan kembali. Perasaannya tadi yang tidak enak kembali ringan. Sasuke mengusap rambut merah muda Sakura sambil mengucapkan dua kata, "terima kasih".
Mereka terus memandangi matahari itu. Lama kelamaan menghilang di ujung sana merubah langit senja menjadi hitam berbintang. Karena mereka berdua dipanggil untuk makan, Sasuke meloncat turun duluan lalu meminta Sakura mengikutinya. Takut Sakura cedera, Sasuke menawarkan dirinya sebagai penopang buat Sakura agar tidak terluka. Sakura bercandai Sasuke, dia pun loncat turun sebisa Sakura bisa. Sasuke mengangkat alis, tersenyum menggeleng.
Tiba sudah waktunya acara syukuran antara dua keluarga ini. Banyak orang berdatangan muncul di berbagai kota, kalangan maupun orang-orang penting. Untung villa Haruno besar dan dapat menampung seribu tamu. Inilah jadi awal di mana mereka akan kehilangan dan berakhir bentrok karena kesalahpahaman yang tidak masuk akal.
Haruno dan Uchiha adalah kawan lama. Apa pun mereka capai, harus bersama-sama. Dengan janji mereka dulu sejak kecil, yaitu menyatukan lewat anak-anaknya bakal tercapai hari ini. Tapi, sayang... ini akan jadi awal di mana kelicikkan Fugaku untuk balas dendam.
Jiraiya masuk tengah-tengah sebagai karyawan terbaik di perusahaan keluarga Haruno. Dia tidak terlalu dicurigai, tapi insting dan kepintaran anak sulung Haruno membuat Jiraiya tidak tahu kalau dirinya diawasi dari jauh. Sasori menyelidiki orang yang merupakan karyawan ayahnya. Sasori kenal dengannya karena Sasori akan jadi orang pemegang perusahaan itu jika sudah besar nanti.
Sasori mau mengikutinya, namun dihalangi oleh Itachi. "Mau ke mana kamu?"
Berpaling sejenak ke arah Itachi kemudian ke arah Jiraiya yang menghilang. Sasori mengepalkan tangan. Masa hanya sekali menoleh, orang itu sudah menghilang di telan kerumunan orang. Merasakan firasat tidak enak, Sasori meminta maaf pada Itachi lalu pamit sebentar karena Sasori mau bertemu dengan sepupu-sepupunya di area sana.
Biarpun Cuma sebatas keingintahuan, Jiraiya mendekati anak-anak perempuan Haruno dan Uchiha yang sedang mengobrol asyik di sudut sana. Mereka berbincang-bincang tentang suatu hal tidak dimengerti oleh Jiraiya sebenarnya dia tidak peduli.
Jiraiya menghampiri mereka dan memberikan salam senyuman agar tidak dicurigai. "Halo, nona-nona cantik. Paman datang ke sini untuk membawa kalian ke suatu tempat. Ibu kalian sudah menunggu di luar. Katanya ada yang mau di bicarakan."
Hinata merasa orang ini suruhan ibunya untuk menjemputnya membawa dirinya ke tempat ibunya di rawat. Sakura pun akan menemani Hinata meskipun Jiraiya tidak keberatan.
Mau saja disetujui oleh Hinata, Jiraiya tersenyum membawa perempuan berambut biru ini. Tanpa kecurigaan apa pun, Sakura juga mengikutinya. Di belakang sana, laki-laki berambut klimis sedang membawa minuman kaget adiknya dan temannya pergi meninggalkan meja. Merasa ada yang tidak beres, Sai menaruh minuman itu ke meja dan mengikuti orang itu dengan hati-hati tanpa menoleh sekali pun ke belakang.
Sasuke yang sedari tadi tidak kelihatan harus ikut pamannya ke suatu tempat. Alasannya karena ibunya lagi sakit jadi perlu ditemani di rumah sakit. Fugaku tidak bisa pergi karena tidak mau meninggalkan para kolega-koleganya terutama kawan lamanya ini.
Bocah laki-laki berambut merah meminta tolong pada Shino dan Naruto untuk mencari tahu siapa laki-laki berambut putih, berperawakan tua dan usianya beda jauh dari ayah ibu mereka. Tanpa iming-iming lagi, mereka berniat mencari sosok itu sebelum bertemu apa yang diincarnya.
End Flashback ..
"... saya mengingat kejadian ini sembari melakukan sesuatu untuk terus mencari anak-anak Anda dan adik saya yang hilang di bawa oleh Jiraiya, karyawan ayah saya yang dulunya mantan karyawan Anda," kata Sasori menjelaskan sedetil-detilnya masa lalu yang dulu bikin dirinya tidak bisa ke Jepang lagi karena teringat masa lalu. Sekaligus mencari tahu apa yang terjadi waktu itu, Sasori meminta ibunya ikut dengannya mengetahui keberadaan Hinata dan Sai yang masih hidup.
"Lalu, bagaimana kedua anak-anakku. Sai dan Hinata?" tanya Uchiha Fugaku mengingat kejadian waktu itu sempat ramai dibicarakan di majalah dan koran karena kedua anak-anaknya menghilang. Istrinya, Uchiha Mikoto sempat shock mendengar berita ini malah sakit berhari-hari di rumah sakit karena mengingat kejadian demi kejadian menimpa keluarganya.
"Saya tidak tahu mereka ada di mana. Tapi, ada salah seorang kolega saya melihat saudara kembar. Katanya wajah mereka ada di kota Hong Kong ini. Teman saya tahu karena pernah membaca berita dan wajah Sai dan Hinata terpampang jelas," balas Sasori memandang Uchiha Mikoto dan Fugaku bergantian.
"Antarkan kami ke tempat Sai beradai!" seru Uchiha Mikoto bangkit berdiri dari tempat duduknya, menatap harap kepada Sasori. Kedua matanya berkaca-kaca tiada henti menangis. Sudah lima belas tahun menanggung kesedihan, Mikoto berharap Sasori tidak salah mengatakannya kepada mereka keberadaan dua anak paling di sayanginya itu.
Sasori dan Shino terdiam sebentar, memikirkan apa mereka lakukan ini benar adanya. Menghirup napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik kemudian dikeluarkan. Diri mereka lega dan bangkit berdiri. Mereka mengangguk kepada suami istri Uchiha untuk mengikuti ke mana mereka pergi, ke tempat anak-anak dulunya menghilang.
"Saya akan mengantar kalian di mana mereka tinggal. Setelah ini, kalian boleh melakukan sesuatu kepada kami semau kalian sendiri."
.. Rumah Sakit Hong Kong ..
Di ruang ICU, wanita musim semi bertahan demi anak dan suaminya. Sakura diperkirakan akan kritis. Biarpun sudah operasi, ada kemungkinan Sakura menderita penyakit yang paling serius. Napasnya tidak teratur. Butuh oksigen untuk mempertahankannya. Di dalam ingatan Sakura, ada sebuah hal-hal dulu dilupakannya. Entah itu apa. Tapi, wajah Sasuke terbayang jelas dengan ingatannya tersenyum sambil memandang matahari terbenam di suatu tempat entah ada di mana.
Ingatan itu terus mengingatkannya tentang dirinya lupa akan masa lalu. Janji. Seorang anak laki-laki. Matahari. Dan musim dingin yang bikin tubuhnya merinding. Bagaimanapun juga, Sakura terus berusaha mengingatnya tapi tetap saja terputus-putus bikin kepalanya sakit dan jantungnya berdetak dengan cepat. Napasnya tidak teratur.
Di luar kamar ICU, Sasuke yang dipanggil Naruto dari Sasori berharap lebih kepada Tuhan agar istrinya Sakura tidak kenapa-kenapa. Setidaknya masih ada peluang untuk memaafkan dirinya karena tidak bisa melindunginya dari cengkraman Karin. Karin telah menghancurkan kehidupannya. Jika memang dia berniat akan hancurkan kehidupan Karin apabila Sakura sudah sembuh nanti.
Pria satu anak ini duduk sambil menundukkan wajahnya. Dia tidak mengetahui ada seorang pemuda berperawakkan sama dengannya tengah menghampirinya. Dia berjalan tidak bersuara agar Sasuke tidak kaget apalagi saat ini Sasuke sedang bersedih.
Sekarang pemuda ini berada di hadapan pria berambut biru. Seulas senyum tipis terpampang di kulit putihnya, menepuk bahu Sasuke. Sasuke bergidik dan terkejut. Namun, suara bariton itu mengingatkannya akan masa lalu bikin keluarganya hancur dan mencarinya dalam kesedihan.
"Sasuke..."
Panggilan familiar dari suara familiar membuat Sasuke menengadahkan kepala. Raut wajahnya tidak terlihat karena membelakangi lampu. Sasuke mengerjapkan mata sekali dan menghalau sinar lampu lorong rumah sakit. Sasuke terkejut karena wajah itu... wajah saudaranya dulu menghilang tiba-tiba datang kembali... ke tempat ini.
"Kamu..."
The End
.o.X.o.
A/N: Sudah dua bulan tidak update, ya! Susah memang untuk orang sesibuk saya ini u_u Kalian masih setia menunggu. Saya juga senang kok. Mumpung fict ini akan habis dan berada dalam proses pengetikan. Yang bulan depan akan tamat, di mohon tunggu dengan sabar. Untuk fict lainnya, juga lagi dalam proses pengetikan. Harap tunggu dengan sabar lagi, ya? (^/o\^)
Hug from me,
Sunny Blue February (No Name)
Date: Makassar, 25 Mei 2013
