©SYEnt present:

Innocent Bride
by Shii & Cchi

Length: Chaptered

Cast: EXO's member, Others

Pairing: Main!HunHan, Kaisoo, KrisTao, Chanbaek, Others

Rating: T - M (naik seiring berjalannya waktu)

Genre: Drama, Romance, Shonen-ai, Slice of Life(?), dll

Disclaimer: Cuma ceritanya doang yang milik saya.

Warning: AU. FLUFF. BoyxBoy. OOC, Typo, Gaje. KTT. DLDR.

A/N: Ada perubahan peran dari versi pertama di sini,
ini akan membuat perubahan cerita di masa depan(?).


Tao membuka matanya dengan perlahan, mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang mulai terang. Ia mengerjap dan mengucek matanya dengan lucu. Dilihatnya jam digital di sisi atas kepalanya, 6.30 am. Menghela napasnya sekali, ia mendudukkan tubuhnya dan langsung dapat dirasakan sakit luar biasa pada bagian pinggul ke bawah.

"Aishh…" desisnya sambil memegangi pinggang rampingnya itu. Dipalingkan wajahnya ke samping kiri dan melihat Kris di sana masih tertidur pulas dengan telanjang dada. Yeah, salahkan giant-dragon itu yang semalam 'menghabisinya' hingga beronde-ronde.

Merenggangkan tubuhnya sedikit, ia lalu membuka selimutnya dan mulai turun dari kasur, berjalan tertatih menuju kamar mandi sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di mana-mana dengan sebelumnya membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh sang kekasih hati.

Tao menutup pintu kamar mandi dengan pelan supaya tidak terlalu menimbulkan banyak suara dan Kris tidak terbangun karenanya. Sesampainya di kamar mandi, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas. Memikirkan kejadian semalam, ia memalingkan wajah dan tubuhnya ke arah kaca yang ada di sana. Lingkaran hitam di bawah matanya ia rasakan semakin hari semakin menghitam. Well, salahkan Tuhan yang menciptakannya dengan lingkaran itu dan salahkan dragon itu yang membuatnya terjaga untuk beberapa minggu terakhir karena kepergiannya, dan salahkan dragon itu lagi yang menghabisinya semalam tadi.

Tao menghela napasnya lagi memandangi pantulan dirinya di cermin tersebut. Dapat dilihat betapa banyak tanda yang dibuat oleh Kris di area leher turun sampai ke dadanya. Sigh... Kalau begini bagaimana bisa ia menunjukkan dirinya di depan umum dengan baju terbuka? Padahal minggu ini ia berencana ingin memamerkan koleksi baju Gucci terbaru edisi summer-nya itu pada teman-temannya. Dasar Kris... Sekali lagi Tao menghela napas panjang dan segera mengguyur dirinya yang lengket tersebut dengan air hangat.

Selang beberapa menit, Tao telah selesai dari mandinya. Ia segera keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk di pinggulnya. Kris masih terlelap di sana, kali ini menengkurapkan badannya. Tao tak mengacuhkannya, lagipula Kris bukanlah morning person jika itu bukan hari kerja, jadi maklum saja jika ia menjadi sleeping dragon—sebutan Tao untuk Kris yang doyan tidur—seperti itu. Ia segera membuka almari dan memilih baju yang kiranya dapat menutupi leher dan segera memakainya, tak lupa memadukan celananya.

"Kau pagi sekali, Peach.."

Tao memutar tubuhnya yang tengah dalam kegiatan memakai celananya dan menghadap Kris yang sedang memandanginya. "Eoh, kau sudah bangun, Ge. Kau mau tidur lagi atau mandi? Akan kubuatkan sarapan kalau kau memilih bangun, kau ingin apa?" tanyanya bertubi sambil mendekat ke tempat tidur mereka.

Kris menggeleng. "Aku ingin tidur saja," jawabnya. Tao mengangguk dan duduk di sebelah Kris yang berbaring memandanginya. "Bagaimana pinggulmu?" tanya Kris kemudian, mendekatkan tubuhnya pada Tao.

"Seperti waktu pertama kali," jawab Tao. Hening di antara mereka. Tao memainkan jari-jarinya pada selimut mereka sedangkan Kris menatapi pemuda yang lebih muda darinya itu dengan penuh kagum.

"Kau terlihat lebih cantik dibanding saat aku melamarmu dulu," ujar Kris yang sukses membuat Tao memukul pelan lengannya dan memutar malas bola matanya. "Gombalanmu di pagi hari itu tidak mempan lagi untukku," balas Tao.

Sebelum mereka kembali mengutarakan suaranya, bunyi bel ditekan membuat Tao menengokkan kepalanya ke arah pintu kamar dan Kris menghela napas. "Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini? Mengganggu saja," Kris menggeram. Tao tertawa kecil melihat reaksi kekasihnya itu, "Mungkin Luhan gege. Aku akan menemuinya." Dengan itu, Tao langsung melesat meninggalkan Kris yang kembali menengkurapkan badannya.

Ding dong~

"Wait a minute!" seru Tao, mengutip kata-kata inggris yang sering didengarnya dari Kris dengan aksen China-Korea yang kental di nada suaranya, ketika bel berbunyi untuk kedua kalinya. Tak butuh waktu lama untuknya menuruni tangga dan sampai di pintu rumah mereka. Membuka pintu rumah dengan semangat, ia mendapati seorang pemuda berdiri dengan senyum merekah di bibirnya.

"Pagi, Ge! Lama tak berjumpa!" kata pemuda itu langsung memeluk Tao. Sebelum Tao membalas pelukan dan menjawab sapaan pemuda itu, pemuda itu telah memasuki rumahnya. Menyampirkan mantelnya di gantungan mantel yang ada, ia berjalan menuju dapur kediaman Wu itu.

"Kukira kau belum bangun, ternyata sudah. Hampir saja aku membatalkan niatku untuk datang ke sini memikirkan itu, tapi ternyata tidak sia-sia aku menuruti instingku untuk tetap melaju ke mari," ucapnya dari arah dapur. Tao mengikuti di belakangnya.

"Apa kau baru saja bangun? Kenapa belum ada makanan sama sekali? — Oh apakah Wu Fan-ge juga belum bangun?" tanyanya kemudian, melihati meja makan yang masih kosong. Tao hanya diam, masih mengikuti pemuda itu yang kini duduk di depan sofa dan mengambil remote sambil memakan apel yang tadi dicomotnya dari dapur. "Mengapa jalanmu seperti itu? Apa kalian baru berbuat sesuatu semalam?" tanyanya lagi, melihat Tao yang ikut mendudukkan diri di sampingnya.

"Yeah, dia masih di kamar dan salahkan dia mengapa aku jadi begini," kata Tao. Ia tidak terlalu memusingkan kelakuan pemuda itu. Lagipula ini masih terlalu pagi untuknya marah-marah dan ia sedang berada dalam mood yang baik, jadilah ia hanya diam.

Pemuda tadi membentuk huruf "o" tak bersuara dari mulutnya. Ia mengganti channel televisi sebelum kemudian berdiri dengan tiba-tiba. Tao mengangkat alis matanya. "Aku akan ke kamar dan tidur dengannya!" seru pemuda itu sambil berlalu, meninggalkan Tao yang menghela napasnya melihat tingkah namja itu yang sama sekali tidak berubah sejak ia bertemu dengannya lima tahun yang lalu.

.

Kris telah kembali tertidur namun sedikit terusik ketika ia merasakan kasur di belakangnya turun dan seseorang mendekapnya. Ia tahu bahwa itu bukan Tao karena ia paham betul lengan dan tangan Tao lebih lembut dari lengan yang mendekapnya sekarang. Maka, Kris membalikkan tubuhnya untuk terlentang dan memaksa membuka matanya untuk mengecek lengan siapa itu.

"Gegeee~" rengek seseorang itu dan Kris bisa menebak itu adalah suara milik adiknya, menyebabkannya tidak jadi membuka mata. "Jika kau kemari karena disuruh Mama, katakan padanya untuk tidak perlu lagi mengkhawatirkanku," kata Kris dengan suara rendahnya yang semakin rendah. Pemuda itu terkikik mendengar suara kakaknya. Menurutnya, Kris lucu dan seksi saat pagi hari seperti ini.

"Eeh.. kau selalu berburuk sangka padaku. Aku kemari ingin mengunjungimu, apa salah? Mama bahkan tidak tahu aku ke mari," jawabnya. Ia mempoutkan bibirnya lucu dengan percuma karena Kris tidak melihatnya. "Aku ingin tidur, bermainlah bersama Tao," balas Kris.

Pemuda itu memandang Kris sebal sebelum kemudian berdiri dari ranjang dan mengenyahkan baju yang dipakainya lalu langsung menelusup ke dalam selimut, kembali mendekap tubuh kakaknya. Kris membuka mata karenanya dan menghela napas melihat tingkah manja adiknya itu. Ia ikut melingkarkan salah satu lengannya di pinggang sang adik.

"Hhh... kau sudah terlalu besar untuk bermanja-manja seperti ini, kau tahu," ujar Kris yang hanya ditanggapi dengan sang adik tambah mendekatkan tubuhnya pada sang kakak. Kris, menjadi seorang sleeping dragon di hari libur, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya dan memilih untuk kembali terlelap dalam alam mimpinya.

.

Tao menghembuskan napasnya, menghentikan kegiatan mencuci piring. Ia berbalik dan menyandarkan pinggulnya di pinggiran wastafel. Sigh…. Ia mendongakkan kepalanya, menatap kosong pada langit-langit dapur kediaman mereka. Ingatannya menerawang jauh.

Adik laki-laki Kris itu membawanya untuk mengingat perjalanan kisah cintanya dan Kris. Ini tahun ketujuh mereka hidup bersama, hanya berdua, dengan Kris yang telah berhasil menjadi seorang asisten pribadi CEO perusahan hiburan terkenal, Choi Entertainment. Dipikir lagi, menurutnya, kisah perjalanan hidup dan kisah cinta mereka akan sangat laris jika dikemas dalam sebuah buku atau film roman picisan yang memabukkan para remaja—Tao terkekeh pelan.

Dimulai dari pertemuan yang tidak disengaja, begitu singkat, begitu tidak berkesan, dan begitu klise. Cinta yang tumbuh saat pandangan pertama mereka—yang bagi sebagian orang hanyalah ungkapan semata. Mereka berdua masih polos saat itu. Kris masih seorang mahasiswa semester tiga dan Tao seorang pekerja muda—yang seharusnya masih bersekolah, tapi ia memutuskan sekolahnya saat kelas dua di tingkat akhirnya—yang kebetulan saat itu berada pada suatu situasi yang sama.

[Flashback...]

Malam itu, Kyuhyun, senior Kris saat di highschool mengadakan pesta kelulusannya, well, ia melompati tiga semester sebab kejeniusannya. Seharusnya Kyuhyun dan Kris hanya berbeda dua semester! Siapa yang tidak mengenal Kyuhyun sang jenius dari keluarga Cho itu? Kerabat dekat keluarga Choi yang terkenal akan industri hiburannya.

Cho Kyuhyun, seorang anak pebisnis ternama. Tubuhnya yang tegap dan penuh wibawa seperti sang kakek, garis wajahnya kentara sekali dengan hidung mancung membentuk rupa yang amat indah, yang mampu menandingi ketampanan para dewa—begitu kabar burungnya, kejeniusan yang membawanya langsung melejit menyusul kakak-kakak kelasnya mendapatkan ijazah kelulusan, jangan lupakan sikapnya yang ramah dan menyenangkan walau agak sedikit menyepelekan lawannya. Jelas semua mahasiswa maupun profesor mengenalnya, memujinya, bahkan banyak dari mereka mengidolakannya. Dan Kris Wu beruntung menjadi salah satu adik kelas yang dikenal baik olehnya.

Kyuhyun dan Kris memiliki sifat yang hampir sama; cool—walau lebih tepat sok cool—, suka menyepelekan orang lain, tampan, digilai, cerdas—meski Kris tak sejenius Kyuhyun, dan memiliki harta. Pertemuan mereka juga sangat singkat, saat berganti baju setelah pertandingan sepak bola antarkelas. Basa-basi sedikit sebagai bentuk hormat terhadap kakak-adik kelas dan mereka langsung akrab. Heh, memang benar orang dari kalangan hidup yang sama akan lebih cepat akrab rupanya.

Kris duduk di sofa di salah satu sudut ruangan. Ia senang atas kelulusan seniornya itu dan ia menikmati pesta ini, tapi entah mengapa benaknya merasa was-was sejak kakinya menjejak tempat pesta tersebut. Kyuhyun, seperti remaja umumnya, meninggalkan aura 'kelas atas'nya, membuat pesta khas seorang remaja yang berhura-hura menghamburkan uang orang tuanya. Lampu berwarna-warni yang hanya menerangi beberapa bagian berputar-putar menciptakan kesan sebuah bar lengkap dengan para bartender dan waiter. Musik dibunyikan keras-keras dan Kris dapat melihat Kangin di atas sana memamerkan kemampuannya menjadi seorang DJ. Beberapa teman Kyuhyun yang kerap ia lihat meramaikan di bawahnya dengan menari-nari, meliuk-liukkan tubuhnya ke sana-ke mari, laki-laki maupun perempuan.

Kris menghela napasnya. Softdrink yang di ambilnya tadi—ia tidak ingin membahayakan dirinya untuk menyetir dalam keadaan mabuk, meski ia punya toleransi tinggi terhadap alkohol—telah kosong. Ia hanya memperhatikan dalam keterdiaman jalannya pesta dari sofa itu, enggan untuk ikut turun bergabung. Bahkan rengekan dari adiknya pun hanya dianggap angin lalu.

Ketika ponselnya bergetar dan ia membukanya, mengakibatkan sebuah heart attack mini dalam dadanya atas apa yang ia lihat di layar smartphone-nya tersebut, ia menggeram pelan. Segera ditegakkan tubuhnya mencari sosok adiknya yang entah tadi menghilang ke arah mana dan bersama siapa.

"Hey, Kris!" Seseorang menepuk pundak Kris dari belakang saat ia tengah sibuk memalingkan wajahnya kesana-kemari mencari sosok adiknya. Kris menengok dan wajah Eunhyuk dengan senyum gummy-nya menyapanya. Ia balas tersenyum.

"Hyuk hyung."

"Apa yang sedang kau lakukan seperti orang hilang seperti itu?" tanyanya. Eunhyuk mengenakan tight jeans seperti biasanya yang kembali ia buat robek di kedua lututnya, dengan kaos V neck biru cukup rendah dan dilapisi oleh jaket jeans kesukaannya. Rambut coklat mahoninya dibuat agak menggelombang. Di sampinnya, seorang perempuan yang Kris kenal bernama Soyeon melingkarkan lengan di pinggangnya.

"Adikku," jawab Kris singkat. Ia kembali mengedarkan pandangannya. Eunhyuk mengangguk-angguk sambil membuat huruf 'ah' di mulutnya.

"Oh! Oh! Aku tahu!" seruan Soyeon membuat Kris dan Eunhyuk menatapnya. "Well, aku tidak tahu tepatnya ia di mana, tapi aku melihatnya dengan seseorang menuju lantai atas, bergandengan tangan. Kukira mereka mabuk... entahlah," jawabnya riang sambil menunjuk anak tangga. Kris mengangguk sekilas sambil mengucapkan thanks kemudian segera melesat naik ke lantai dua.

Ia mengecek semua ruang yang ada di sana, tapi adiknya itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya atau bahkan mengeluarkan suaranya. Hingga akhirnya ia melihat seseorang tengah berduaan di balkon, akan berciuman. Kris langsung mendekati mereka—tentu saja tanpa disadari keduanya—dan langsung menarik paksa adiknya setelah menjitak keras kepalanya.

"Yah, Gege! Lepaskan aku! Gege~!" berontakan adiknya tidak ia dengarkan.

"Papa menyuruh kita untuk pulang," balasnya. Mereka menuruni tangga dengan Kris yang sedikit mengeluarkan tenaganya untuk menyeret adiknya yang keras kepala itu. Tck… kalau bukan adiknya, mungkin Kris akan memukulnya.

"Tapi, Gege! Kita kan sudah minta izin padanya untuk pulang larut!" teriaknya lagi. Kris semakin kuat menyeret pemuda yang lebih muda itu untuk menuruni tangga dengan baik agar mereka tidak terjatuh. "Tetap saja kau masih minor," tegas Kris dan itu membuat pemuda dalam genggamannya mengumpat pelan. Kris berhenti di satu anak terakhir. Ia memiringkan kepalanya sedikit lalu berbalik menatap adiknya.

"Apa kau baru saja menyumpahiku?" tanyanya mengintimidasi. Adiknya membelalakkan mata meski ia tidak mencoba mengelak pertanyaan kakaknya itu. "Aku kelepasan! Kau puas?!" bela sang adik.

Kris mendecih dan berbalik hendak kembali berjalan, tapi saat itu juga seorang waiter berjalan ke arah yang sama dari arah yang berbeda hingga akhirnya mereka bertubrukan.

Waiter itu terdorong ke belakang. Nampan yang dibawanya jatuh dan gelas-gelas di sana saling beradu dengan lantai menyebabkan serpihan-serpihan kaca mengenai sebagian tangan dan lengan si waiter. Kris tersentak panik dan dengan segera menolong pemuda itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil membantu sang pemuda itu berdiri. Waiter itu mendesis pelan kala Kris memegang lengannya yang tergores dan Kris memerhatikannya. Ia melihat sekilas ke baju putih sang waiter yang kini terdapat bercak merah akibat darahnya.

"Y-ya... aku tidak apa-apa," jawab sang waiter, mengecek lengannya.

"Siapa namamu?" tanya Kris. Ia memandang khawatir pada pemuda di depannya itu.

"Tao... H-huang Zi Tao," jawabnya. Dipalingkan matanya menatap sang penubruk dan ia terbelalak kaget. Sedang sang penubruk masih memerhatikan lukanya.

"K-Kris..." lirihnya. Meski di sana ramai karena musik berdebum bersahutan dengan beberapa teriakan dari siswa lain, Kris dapat mendengar dengan jelas pemuda di hadapannya baru saja menyebut namanya. Ia kemudian memalingkan wajahnya menatap sang pemuda itu. "Apa aku mengenalmu?"

"A-ah.. tidak..." jawab Tao gugup. Ia langsung berjongkok dan membersihkan serpihan-serpihan gelas itu namun dihentikan oleh Kris yang memanggil waiter lain yang kebetulan lewat situ. "Tolong bersihkan ini. Kau ikut aku, Tao," perintah Kris pendek.

.

"Jadi, bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" tanya Kris dengan suaranya yang berat. Ia kini hanya berdua dengan Tao di salah satu kamar yang ada di rumah Kyuhyun tersebut, tengah membersihkan luka pemuda itu.

"Aku hanya mengetahui namamu dari Kyuhyun sunbae, Kyuhyun sunbae mengatakan kepada kami untuk mengawasi setiap teman-temannya," jawab Tao polos. Ia mendesis pelan ketika cairan beralkohol itu mengenai lukanya.

"Kata Kyuhyun sunbae kalian adalah orang-orang berharga di hidupnya, jadi kalian tidak boleh tidak menikmati pesta ini. Kyuhyun sunbae juga mengatakan bahwa mungkin akan terjadi keributan dan jika itu terjadi maka kami harus melindungi kawan-kawannya dahulu walaupun tamu-tamu yang lain mungkin memiliki pengaruh besar terhadap masa depannya. Jadi, kami—"

"Bagaimana kau bisa mengingatku padahal dia hanya memberitahumu satu kali?" Kris memotong pembicaraan Tao bersamaan dengannya memotong perban di lengan sang pemuda. Ia menatap Tao dengan intens.

"Uhh.. itu karena wa-wajahmu mudah kuhafal.." jawabnya lirih, tidak berani menatap Kris. Kris mengangkat alisnya, meminta penjelasan lebih dari sang waiter.

"Wa-wajahmu seperti rupa orang China, ja-jadi aku lebih bisa mengenalimu.. Selain Kris sunbae, aku juga paham wajah Hangeng sunbae dan—"

Perkataan Tao terpotong dengan menempelnya bibir Kris dibibirnya. Tao tentu saja terkejut dan membelalakkan matanya, tapi ia hanya diam. Beberapa detik ia hanya terdiam dengan Kris yang mengecup bibirnya, hingga kemudian ia berusaha mendorong tubuh yang lebih besar darinya itu. Kris menjauhkan wajahnya, paham akan kode yang diberikan pemuda di depannya.

"Berkencanlah denganku, Tao."

[End]

"Ciuman pertamaku!" Tao menggeram lirih mengingat bagaimana ciuman pertamanya terenggut begitu saja. Dihentak-hentakkan kakinya sambil memutar dalam otaknya ekspresi Kris saat itu yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia menghela napasnya setelah cukup tenang. Huft... Bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan orang seperti itu? Batinnya.

Bunyi air mendidih menyadarkannya dari lamunannya. Ia segera berbalik dan meneruskan kegiatannya tadi yang sempat terhenti. Setidaknya, mereka kini telah bahagia bukan? Meski mereka harus merelakan segalanya, meski mereka harus mengalami masa-masa berat itu selama dua tahun pertama mereka. Tao masih ingat bagaimana Kris tidak mau melepaskannya saat itu.

[Flashback]

PRANG!

Ini sudah bunyi pecahan ketiga kalinya sejak Tao dibawa masuk ke dalam rumah megah kediaman keluarga Wu. Ia berdiri di balik punggung Kris. Matanya telah berkaca-kaca. "Aku menyekolahkanmu di sana bukan untuk menjadi seorang gay dan membawa pemuda murahan seperti dia datang ke mari." Kata-kata yang dilontarlan oleh ayah Kris saat pertama kali Kris mengenalkannya sebagai pacarnya itu masih terngiang di kepalanya.

Meski tidak ada adu mulut lagi, namun kemarahan di mata sang Wu senior masih jelas terasa. Didukung tindakannya yang memecahkan barang entah apa di hadapannya jika Kris mulai membela dirinya itu menjadi suatu tekanan bagi Tao saat ini.

Tao paham bahwa keluarga Wu adalah salah satu orang ternama di kota ini, orang yang disegani dan dihormati dengan seluruh aset-aset besar tersebar di beberapa penjuru dunia. Ia juga telah mengatakan pada Kris bahwa ini tidak akan berhasil, namun yang lebih tua memaksanya untuk tetap ikut dengannya. Kris hanya ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar serius terhadap hubungan mereka. Bahwa ia benar-benar mencintai Tao dan ia ingin orang tuanya merestui mereka.

"Papa—"

"Kau tak berhak menyebutku dengan sebutan itu lagi. Kau bukan anakku lagi."

Bagai sebuah guntur yang tiba-tiba menyambar di depan mereka, Tao dan Kris terbelalak. Begitu juga adik dan ibunya yang berada di samping sang ayah. Sang ibu langsung jatuh terduduk, menangis tersedu di dekapan sang adik. Tao mencengkram baju belakang Kris, air matanya ikut menetes.

"Papa... I-ini tidak seperti yang k-kau maksud 'kan?"

"Jika kau memang lebih memilih bersamanya, kau bukan anakku lagi, Wu Fan," jawab ayahnya. Ibunya di sana masih menangis tersedu. Hening.

Hening untuk beberapa lama.

Isakan Ibunya yang menyayat hati Kris dan cengkraman di baju belakangnya, Kris paham ini adalah saatnya. Keputusan yang akan diambilnya akan membuat kehidupannya setelah ini berubah. Ia telah berjanji pada Tao untuk selalu mencintainya, bersamanya. Ia juga telah berjanji pada ibunya untuk menjadi anaknya yang berbakti, yang membanggakannya, untuk menjadi penerus Wu.

"G-gege..." isakan kecil dari Tao di belakangnya membuyarkan lamunan Kris. Pegangan itu makin kuat dan ia bisa mengetahui bahwa pemuda di belakangnya bergetar ketakutan.

Kris menutup matanya sebentar sebelum kemudian ia melangkah maju di mana ibunya terisak. Ia berlutut di depan ibunya yang langsung mendekap anak bungsunya itu.

"Maafkan aku, Mama. Aku mencintainya. Aku hanya ingin bersamanya, maafkan aku, Mama.." bisiknya pada perempuan setengah baya itu. Setelahnya ia mendekap sang adik, membisikkan kata perpisahan, "Jaga Mama. Hanya kau yang bisa aku andalkan."

Kris lalu berdiri di samping ayahnya yang membuang muka tak mengacuhkan dirinya. "Maafkan aku, Papa. Aku terlalu mencintainya. Maafkan aku," katanya sebelum kemudian kembali berjalan menuju tempat Tao berdiri dengan air mata yang terus meluncur dari mata indahnya dibalik wajahnya yang ditundukkan.

Ia mendekap pemuda itu. "Aku mencintaimu Tao, sangat, sangat mencintaimu," bisiknya lirih sambil mengecup kening pemuda itu. Tao mendekapnya erat. Isakan tangis pemuda itu dan ibunya masih terdengar di telinganya. Ia mengeratkan dekapannya di tubuh pemuda itu.

"Aku mencintainya dan aku akan melepaskan segalanya jika itu satu-satunya cara aku bisa bersamanya. Maafkan aku tidak bisa menjadi seperti apa yang kalian harapkan," kata Kris kemudian. Ia memandang penuh sesal pada ibunya yang tersedu memandangnya dalam dekapan sang adik. Setelah beberapa saat, ia kemudian menatap Tao. Menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipi indah kekasihnya itu.

"Ayo kita pergi, Tao," lirihnya sambil menggandeng tangan Tao untuk mengikutinya keluar. Tao bergeming, ia terlalu bingung. "Gege..."

"Tidak apa-apa, Tao. Hari ini, aku bukan penerus Wu lagi. Aku bukan anak mereka lagi. Kita orang asing di sini. Ayo kita pergi," Kris memerintah dalam nada suaranya. Ada kepedihan yang tersirat di sana. Sekali lagi Tao memandang wajah kekasihnya tersebut dan baru sekali ini ia merasakan Kris serapuh itu. Dipeluknya sosok tinggi menjulang itu dan bersama dengan Kris menuntunnya keluar dari rumah mewah itu, air mata Kris menetes.

[End]

Tao berhenti dari kegiatannya yang tengah menuang air mendidih dalam teko di depannya. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas dalam benaknya. Jika saja dulu ia tidak bertemu dan mengiyakan ajakan kencan Kris, mungkin Kris kini telah menjadi seorang pebisnis muda. Pewaris kekayaan Wu Corporation yang sukses seperti adiknya itu.

Sigh... "Lagi-lagi aku berpikiran seperti itu. Aku kan sudah berjanji untuk tidak memikirkan hal-hal itu lagi," katanya pada diri sendiri.

Dihelanya sebuah napas panjang dan tersenyum mendapati aroma teh kesukaan Kris menyapa indranya. Ia meletakkan teko itu di atas meja makan dan melepas celemeknya sebelum berjalan menuju kamar mereka.

Tao membuka pintu kamar itu sedikit, mengintip ke dalamnya dan tersenyum kecil melihat kakak adik itu saling berpelukan. Well, meski ada sebersit rasa cemburu yang kadang menghinggapi jika Wu yang lebih muda itu bermanja-manja pada kakaknya, namun Tao paham bahwa itu murni perasaan sayang terhadap keluarga. Bisa Tao katakan bahwa dua Wu itu mengidap brother complex. Kris juga tak segan-segan memberikan pelukan atau ciuman untuk adiknya. Mereka berdua saling menyanyagi dan itu benar-benar sangat kuat. Tapi, bagaimanapun juga Tao adalah satu-satunya orang yang ada dalam hidup Kris yang mampu membuatnya melepaskan segalanya. Hidup Kris adalah di mana Tao berada. Tao adalah nadinya. Begitu yang Kris ucapkan saat ia melamarnya lima tahun lalu.

Senyuman di wajah pemuda China itu mengembang. Biarkanlah seperti ini jika mereka bahagia. Ia akan selalu bersama Kris. Ia berjanji akan terus berada dalam sisinya. Meski banyak yang menentang, selama Kris masih menatapnya, ia akan berusaha untuk memberikan seluruh kasih sayang pada kekasihnya. Selama Kris masih memegangnya, ia akan menghapus sedikit demi sedikit segala sakit hati dan duka yang lelaki itu miliki. Tao akan berusaha untuk semakin kuat bersama dengan Kris, untuk selalu mengulurkan tangannya pada lelaki itu dalam situasi apapun.

TBC