Itachi mengernyit. Melirik aneh ke arah samping beberapa kali sebelum kembali mengerjakan PR nya. Pemuda dengan kaos hitam tanpa lengan berkerah tinggi itu mengulum bibirnya sejenak dan menggumam pelan tentang sesuatu yang hanya mampu didengarnya sendiri.
" Whoaa~ gelangnya genit!" pekikan terdengar. Lagi. Dari arah samping tempat kedua netra kelam si Uchiha tadi sempat berlabuh.
Itachi menghembuskan nafas kasar.
Bocah sinting.
" Chi, lihat, Chi, gelangnya berkedip padaku."
" Hentikan kelakuan idiotmu, Naruto. Apaan kau ini mirip orang sinting bicara pada benda mati begitu?"
Naruto melotot. Tidak terima.
" Jaga mulutmu, Chi! Ini harta berhargaku."
Itachi mendecih. Entah dari mana si pirang mendapatkan gelang murahan yang harganya bahkan tidak semahal harga semangkuk ramen langganan mereka di dekat sekolah. Dari sejak pagi tadi mereka berangkat bersama hingga sore yang bahkan nyaris mendekati malam sahabat pirangnya ini terus saja memandangi si gelang keramat seraya mengulum senyum kecil menjijikkan.
Itachi tidak habis pikir dengan tingkah teman mainnya sejak mereka masih menggunakan popok belasan tahun silam. Gadis itu tak sekalipun terlihat tertarik dengan benda semacam itu. Seumur- umur baru kali ini ia melihat Naruto dengan suka rela mengenakan aksesoris merepotkan seperti itu.
" Memang dari siapa sih?"
Naruto melirik.
" Yang jelas bukan darimu," balasnya cepat menuai dengusan malas dari Itachi.
" Kau kan pelit. Sudah begitu selalu menindasku. Dasar teman pahit."
" Apaan?"
" Makanya kau keriputan, Chi. Lihat nih! Dua tahun lagi pasti mukamu brewokan, jambangmu memanjang dan janggutmu juga jadi dua- aduhh!"
" Sinting!"
" Sakit tahu, Chi!" Naruto mendelik. Mengusap beringas keningnya yang disentil Itachi dengan ujung bolpen.
" Jangan berisik. Aku mau mengerjakan PR."
Naruto menggerutu pelan. Menggulirkan pandangannya kesal keluar jendela dan tertegun.
" Kenapa Sasuke baru pulang?" gumamnya. Satu sudut bibirnya tertarik membentuk garis lurus. Mengumpat dalam hati karena harus mendapati si gebetan tengah melambaikan tangan pada Sakura yang tertawa lebar di depan rumahnya.
" Oh, dia ada janji menemani Sakura ke toko buku sepulang sekolah," balas Itachi tanpa menoleh.
" Kenapa dia tidak bilang padaku?"
Itachi menoleh cepat, menaikkan satu alisnya sebagai tanda tanya dan berujar, "Memangnya harus ya bilang padamu dia mau kemana?"
" Tidak sih," meringis masam. Naruto lantas berdecak kesal dan kembali melempar pandangannya keluar dimana Sasuke kini tengah melepas sepatunya di depan pintu rumah Uchiha. Oh, Naruto menyesal kenapa tadi ia mempersilahkan si Itachi mengerjakan PR di rumahnya dan bukan di rumah Uchiha. Seharusnya ia bisa menyambut kedatangan Sasuke saat ini.
Gadis itu menghembuskan nafas kasar. Menatap Itachi dengan satu tangan menjadi tumpuan kepala di atas meja. Tampak berpikir sejenak sebelum membuka mulutnya untuk memanggil sang teman.
" Chi, Chi."
" Hmm?"
" Kalau Sasuke kutembak bagaimana?"
" Ya tembak saja. Memang kenapa?" Itachi bertanya malas.
" Lalu aku harus bilang bagaimana?"
" Aku mencintaimu, mau tidak jadi pacarku, begitu saja tidak bisa."
" ..."
" ... apa?" tak mendapat balasan, Itachi lantas melirik. Mengernyit bingung melihat tatapan aneh dari Naruto.
" Chi, kau kan tahu sendiri aku cuma mau jadi pacar Sasuke. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, Chi. Kita friendzone saja bagaimana, Chi?"
Dan Itachi tidak bisa menahan diri lagi untuk segera meraih bantal sofa dan melemparnya beringas ke wajah menyebalkan si pirang.
" Keluar dari rumahku! Dasar curut kerempeng!"
" Apaan? Ini rumahku!"
..
..
..
Sasuke menghempas tubuhnya kasar ke atas kasur. Tubuhnya terasa letih dan kepalanya pening bukan main. Menemani Sakura jalan- jalan memang melelahkan, ia harus rela berkeliling sana sini dan mengantri panjang demi untuk menyenangkan gadis itu. Tapi bukan masalah, Sasuke tidak keberatan meski pada akhirnya ia akan mengeluh capek begitu menginjakkan kaki di rumah.
Pemuda itu memejamkan mata sejenak. Mengerang pelan begitu rasa nyaman merambat perlahan ke sekujur tubuh. Rasanya kemarin ia tidak selelah ini saat berkeliling pasar dengan Naruto.
Manik kelam terlihat kala kelopak mata terbuka cepat. Sasuke menerawang, memandangi langit- langit kamarnya yang didominasi warna biru cerah. Warna pilihan Itachi saat setahun lalu kakak laki- lakinya itu membantu mengecatnya. Seperti warna mata Naruto, katanya. Dan hanya ia balas dengan dengusan kesal meski dalam hati mengiyakan.
Naruto memang punya warna mata yang cantik. Dan ia tidak memungkiri hal itu. Apalagi ketika sepasang matanya menyipit nyaris terpejam kala bibirnya mengulaskan cengiran kecil. Sasuke bahkan merasa dirinya bisa tersedak ludahnya sendiri sewaktu- waktu karenanya.
Diam- diam Sasuke tersenyum samar. Mengingat ekspresi gadis pirang kesayangan Itachi itu kemarin sore. Terlihat lucu dan nyaris membuatnya terpingkal kalau ia tidak cepat- cepat pergi. Bagaimana bisa Naruto sesenang itu hanya karena mendapat hadiah sebagai ucapan terima kasih darinya karena sudah membantunya membeli kado untuk ulang tahun Sakura.
Mendecih pelan.
Tentu saja. Ia nyaris melupakan fakta bila Naruto menyukainya. Meski tak secara langsung mengatakannya, Sasuke bukan lagi bocah yang tidak tahu bagimana pandangan Naruto terhadapnya.
Lalu bagaimana dengan perasaannya sendiri?
Entahlah. Sasuke bahkan tidak pernah berpikir untuk memiliki pacar di usia remajanya. Well, setidaknya untuk saat ini ia belum tertarik.
Mengulum bibir sejenak sebelum menghela nafas panjang. Sasuke bangkit dan beranjak menghampiri meja belajarnya. Meraih kotak kecil dengan pita mungil yang terlihat cantik. Mengamatinya selama beberapa saat kemudian meletakkannya kembali ke atas meja.
" Sasuke, kenapa baru pulang, Sayang?" suara lembut menyapa gendang telinganya dari arah pintu.
Sasuke menoleh dan mendapati mamanya berdiri di ambang pintu. Menggunakan celemek berwarna merah jambu yang sedikit pudar.
" Menemani Sakura ke toko buku," jawabnya seraya menghampiri sang mama.
Mikoto mengulas seringai kecil, melirik usil pada putra bungsunya dan berujar, "Benarkah? Kupikir putraku baru saja kencan."
Sasuke mengerutkan kening. " Aku hanya menemaninya ke toko buku, Ma. Lalu jalan- jalan sebentar dan langsung pulang," jelasnya.
" Kencan juga tidak apa- apa kok," goda Mikoto yang langsung dibalas dengan putaran bola mata bosan oleh sang putra.
" Sakura cantik," tambah wanita itu. " Dan putraku juga ganteng," lanjutnya seraya mencubit gemas kedua pipi Sasuke.
Sasuke mendengus. Menarik kedua lengan Mikoto dan membalas, " Tapi aku tidak kencan."
Mikoto terkekeh dengan suara renyah. " Iya, iya, putraku tidak kencan. Hanya main berdua dengan seorang gadis."
" Apaan? Aku sudah biasa pergi dengan Sakura. Sama seperti Aniki sering main dengan Naruto," sahutnya. Kemudian menggeram dengan suara kecil dan menggumam pelan, " Menyebalkan."
Eh?
" Menyebalkan? Siapa yang menyebalkan?" Mikoto membeo.
Sasuke mengernyit. Bicara apa dia barusan? Ia tidak tahu kenapa kata itu bisa muncul begitu saja dalam pikirannya.
Memutuskan untuk tidak peduli dan memilih berbalik untuk mengambil baju dari dalam lemari.
" Aku mau mandi. Ketiakku bau, Ma," ujarnya.
Mikoto menggeleng sejenak melihat kelakuan putra bungsunya.
" Setelah itu cepat bantu mama mengantar sup ke rumah Naruto, oke?"
" Hn."
..
..
..
Pagi itu, tepatnya minggu pagi, entah ada angin apa tiba- tiba saja Sakura main ke rumahnya -rumah Naruto- dan minta diajari membuat Roti. Bukan masalah sebenarnya, membuat roti itu gampang, segampang merebus ramen instan. Karena sering ditinggal Kakashi dan terbiasa hidup sendiri, ia terpaksa harus belajar memasak sejak kecil. Tapi yang jadi masalah, Sasuke juga datang ke rumahnya bersama Itachi. Ini masalah serius, Naruto membatin kesal dan mengumpat berkali- kali ketika mendapati dua ABG usia SMP itu berdiri bersisian dan mengobrol begitu akrab.
Sementara ia harus rela berdiri bagai babu di pojokan dengan seloyang adonan demi menuruti keinginan si merah jambu yang entah lupa atau bagimana justru main colek mencolek tepung dan mengolesnya dengan kurang ajar ke pipi Sasuke.
' Itu propertiku, Sialan!' membatin geram. Naruto nyaris melempar adonannya dengan beringas kalau saja Itachi tidak dengan segera merangkul bahunya dan membisik pelan, " Sedang menatap masa depan, ya, Naruto? Kok masa depanmu suram sekali, sih? Aku jadi prihatin."
Shit. Naruto kan jadi ingin mengumpat.
" Aku itu apa sih, Chiiii. Cuma upilnya upil!" seru Naruto seraya meletakkan loyangnya dengan suara lumayan keras. Dengan cekatan tangannya yang bebas meraih loyang lainnya dari dalam lemari. Bibirnya tidak berhenti mengomel dengan suara yang hanya mampu didengarnya sendiri.
Itachi tergelak, terpingkal dengan suara lantang yang lantas menggema ke seluruh penjuru ruang dapur kediaman Namikaze dan dua manusia lainnya langsung menoleh pada keduanya dengan alis tertaut sebagai tanda tanya.
Sakura mengernyit heran ketika melihat tetangga pirangnya itu menuang adonan seraya menggerutu pelan tentang sesuatu yang tak mampu ia dengar. Naruto terlihat sangat kesal dan ia tidak tahu kenapa. Sementara Sasuke, dia tidak bodoh untuk bisa menebak apa yang tengah terjadi pada sahabat kakak laki- lakinya itu.
Naruto cemburu.
" Naruto- nee dan Itachi- nii akrab sekali. Sasuke saja tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamaku. Tapi tidak tertawa pun Sasuke tetap kelihatan ganteng, ya? Hehe."
Kicep.
Naruto menghentikan kegiatannya selama beberapa saat. Enggan menoleh. Kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya, memasukkan adonan ke dalam oven.
" Tinggal menunggu saja sampai adonannya mengembang dan matang. Kau bisa mengintipnya dari sini," ujar Naruto pada Sakura.
" Jangan sampai hangus atau rotinya bakal berubah rasa jadi pahit karena gosong," lanjutnya.
Kemudian menoleh pada Itachi, " Hei, Chi, bisa bantu aku memindah lemari?"
Itachi menaikkan satu alisnya lucu.
" Kalian di sini sebentar, oke? Tunggu sampai rotinya matang. Kalian boleh ambil apapun dari kulkas. Oh, di sana juga ada jus tomat kesukaanmu, Sasuke, kau bisa meminumnya sampai habis. Anggap saja rumah sendiri. Aku dan Itachi pergi sebentar," ujarnya pada Sakura dan Sasuke yang bersisian di dekat meja makan, lalu menyeret lengan Itachi menuju ruang tengah.
Itachi diam. Menatap Naruto lekat dari arah belakang karena gadis itu berjalan tergesa di depannya menuju kamar. Hingga genggaman Naruto pada lengannya terlepas.
" Ayo main game, Chi. Aku akan ambil-"
" Dasar," potong Itachi. Menahan langkah Naruto yang hendak memasuki kamarnya.
" Kau meledak- ledak seolah berniat mencakar wajah tetanggamu," laki- laki Uchiha itu berujar, mengusak gemas rambut si pirang yang masih enggan menatapnya.
" ..."
" Tenangkan dirimu. Biar aku yang mengurus mereka. Aku akan bilang pada Sakura kalau kau tiba- tiba tidak enak badan," Itachi menghela nafas panjang. Berbalik hendak kembali ke dapur, namun Naruto menahannya.
" Temani aku saja."
" ..."
" Sampai rasa kesalku mereda. Ini salahku juga. Tidak seharusnya aku marah seperti ini."
" ..."
" Kupikir Sakura menyukai Sasuke, Chi. Aku kesal karena mereka kelihatan serasi sekali."
" ..."
" Aneh. Hehe. Aku tidak pernah semarah ini sebelumnya, apa- apaan aku ini?" Naruto tertawa dengan suara pelan. Tawa getir yang terdengar tidak nyaman di telinga Itachi.
Naruto berbalik. Menghadap sulung Uchiha dan berdiri menyandar pada kusen pintu kamarnya.
" Kau mau berikan apa untuk ulang tahun Sakura besok?" tanyanya yang lantas dibalas dengan dengusan pelan oleh Itachi. Laki- laki itu jelas tahu Naruto tengah mengalihkan pembicaraan. Tapi tidak masalah, yang terpenting sahabat pirangnya ini bisa merasa lebih baik.
" Aku belum tahu. Kau sendiri?"
" Aku? Aku juga belum membeli apapun untuknya."
Naruto tampak berpikir sejenak. " Bagaimana kalau besok saja kita mampir ke pasar kota sepulang sekolah?" tanyanya kemudian. Dan lantas dibalas Itachi dengan anggukan pelan.
" Jadi?"
" Hm?" Naruto kembali mendongak.
" Lemari mana yang mau dipindah?"
" Hehee.. tidak ada."
" Dasar."
..
..
..
Sakura telah kembali pulang sejak 15 menit yang lalu dengan satu piring berisi beberapa potong roti untuk dipamerkan pada ibunya. Itachi juga langsung pergi begitu Mikoto memanggilnya untuk membeli beberapa bahan masakan ke supermarket terdekat. Menyisakan dirinya bersama bungsu Uchiha yang entah kerasukan apa mau membantunya mencuci beberapa loyang kotor dan peralatan memasak roti lainnya yang baru saja mereka gunakan.
Dan Naruto tidak pernah merasa secanggung ini berdua dengan Sasuke di dapurnya.
" Ini di taruh di mana?" suara berat Sasuke menyapa gendang telinganya. Naruto sontak menoleh dengan lap meja di tangan kanannya.
" Taruh saja dulu di rak. Biar aku nanti yang memasukkannya ke dalam lemari," jawabnya yang lantas diangguki Sasuke.
Kemudian hening selama beberapa saat.
Hingga Naruto bersuara," Suke."
Sasuke menoleh.
" Terima kasih gelangnya. Aku belum sempat berterima kasih padamu tempo hari," ujar gadis itu.
" Hn."
Dan begitu saja balasan dari adik laki- laki Itachi. Lalu keduanya kembali tenggelam dalam keheningan.
" Sasuke," panggil Naruto lagi.
" ..."
" Aku menyukaimu," ujarnya. Gadis itu bisa melihat Sasuke mematung dari arah belakang begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Laki- laki itu tak juga menoleh. Dan Naruto seakan tahu apa balasan untuknya karena sudah lancang mengatakan perasaannya pada bocah SMP itu.
Dari dulu harusnya ia tahu diri. Sasuke tak pernah memperlakukan dirinya seperti pemuda itu memperlakukan Sakura. Bocah itu bahkan selalu membalas kata- katanya dengan ketus dan dingin. Kenapa ia baru menyadarinya? Kemana saja ia selama ini?
" Aku cuma mau bilang itu saja. Kau tidak perlu menjawabnya. Oh, sudah sore. Cepat pulang sana, bibi Mikoto pasti mencarimu," Naruto mengulas senyum kecil.
Melangkah memasuki ruang tengah dan masuk ke dalam kamar. " Aku akan mandi. Tolong tutup pintunya kalau kau pulang nanti, oke?" serunya tanpa menanti balasan dari Sasuke.
Dan sore itu, Naruto benar- benar tak mendapati Sasuke lagi di dapurnya begitu ia keluar kamar.
Sasuke pergi, tanpa jawaban.
Tbc
