Chapter 7 : Maaf...

Tubuh ringih itu tidak peduli jika cuaca malam yang dingin bisa membekukannya, dia juga tidak peduli dengan pandangan aneh setiap orang yang memandangnya di jalan karena penampilannya yang kacau. Surai kelabunya berantakan, matanya sembab, kulitnya yang pucat terlihat semakin pucat setelah terpapar cuaca dingin malam itu apalagi dengan hanya memakai kaos pendek yang dipadu dengan celana pendek berwarna hitam. Otaknya mendadak beku tak mampu berfikir dengan jernih untuk sekedar menyambar mantel dikamarnya, setelah mendapat telfon dari sang ibu dia hanya menginginkan satu hal, dia ingin bertemu dengan Sebastian dan meminta maaf pada sang kakak

T^T

Iris biru itu menatap nanar ruangan di hadapannya, disana terbaring pemuda awal 20 tahunan dengan perban di kepala, gips di kaki kanannya, selang infus di tangan kirinya dan beberapa luka yang menyebar di sekitar kulit putih porselennya

Ciel tak sanggup memasuki kamar perawatan Sebastian, dia tengah sibuk mengutuki diri sendiri atas apa yang selama ini dia lakukan pada kakaknya.

"Ciel kenapa tidak masuk?" sesorang tengah menyentuh bahu Ciel perlahan membuatnya mendongak dan menatap wajah sang ayah

"Masuklah, dad yakin dia ingin bertemu denganmu" ajak pria paruh baya itu sambil mendorong sang putra masuk ke dalam

Sesampainya di dalam Ciel mengambil duduk di sebelah kiri tempat tidur pasien, Ciel hanya menatap tak percaya, dengan perlahan tangan mungilnya menyentuh tangan kiri sang raven. Bibirnya terkunci, Ciel bingung harus mulai dari mana atau harus berkata apa, terlalu banyak hal yang ingin Ciel sampaikan pada sang kakak

"Apa yang terjadi dad?" tanya Ciel pada akhirnya setelah dia berdiam beberapa lama

"Kecelakaan tunggal karena rem blong, sepertinya ada yang segaja merusak selang rem mobik kakakmu" terang sang ayah. Raut muka Ciel mendadak berubah mendengar penuturan sang ayah, untung Vincent Phantomhive tidak menyadari perubahan wajah putranya yang mendadak memucat itu karena pada waktu yang bersamaan sang istri masuk ke dalam ruangan

"Dad... apa dad tidak pulang? Harusnya dad pulang dari Rumah Sakit hari ini kan?" tanya Ciel, membuat kedua orang tuanya yang tengah bercakap-cakap menoleh ke arahnya

"Biar aku yang menjaganya, kalian bisa kembali besok" tawar Ciel, dia tak tega melihat kedua orang tuanya yang sudah dua hari ini menginap di Rumah Sakit harus menginap lagi

"Kau yakin Ciel?" sang ibu mendekati Ciel dan menatap lekat-lekat sang putra. Ciel segera mengangguk menyakinkan kedua orang tuanya terdengar desahan nafas sang ibu sebelum akhirnya pasangan suami istri itu memutuskan untuk meninggalkan ruangan

Ciel kembali meraih tangan sang kakak dan mengenggamnya erat sesaat kedua orang tuanya menghilang di balik pintu ruangan serba putih itu

"Sebastian... " ujarnya lirih "Maaf..." Derai air mata kembali menghiasi pipi pucat Ciel

T^T

Ada rasa tidak nyaman saat Ciel membuka matanya hari itu, ruangan yang ditatap dengan iris birunya tidak seperti kamarnya, bau ruangan itupun menyengat tak seperti bau lavender di kamarnya. Ciel mengercapkan mata berkali-kali untuk berusaha mengingat peristiwa yang terjadi malam sebelumnya, iris biru itu langsung terbelalak saat dia menemukan kepingan ingatnya, Ciel terlonjak dari tempat tidur berwarna putih itu. Otaknya serasa beku ketika mendapati Sebastian tengah duduk santai dengan menopang dagu dengan tangan kirinya yang masih terdapat selang infus

"Selamat pagi Ciel" sapa si iris merah ramah

"Apa yang kau lakukan di situ? Harusnya kau yang berbaring di sini, apa kau tak sadar luka-lukamu itu ada dimana-mana?" Seru Ciel, sambil menunjuk-nunjuk manusia yang malah tersenyum melihat reaksi surai kelabu itu

Ciel segera bangkit dari tempat tidurnya dan hendak mendorong Sebastian untuk mau kembali berbaring di atas tempat tidur

"Saat tadi aku bangun, aku tak tega melihatmu yang tidur dengan mengenaskan sambil menopang dagu seperti itu, jadi akhirnya aku memindahkanmu ke tempat tidurku" jelas Sebastian saat tangan Ciel menariknya agar mau kembali ke tempat tidurnya

Keheningan kembali menyerang ruang berbau obat itu, kedua manusia yang ada di dalamnya tengah sibuk dengan fikirannya masing-masing, sebelum suara lirih Ciel memecah keheningan

"Maafkan aku" Ciel kembali kehilangan kata-katanya, dia tertunduk menatap pungguna tangan Sebastian yang sedari tadi digenggamnya

"Aku sudah memaafkanmu dari dulu" tak ingin melihat adiknya bersedih, tangan berselang infus itu menyentuh dagu Ciel agar dapat menatap iris biru sang adik

"Kau tak marah?"

"Untuk apa aku marah, bukanya semalam kau sudah menyesali semua perbuatanmu dan mengingat semuanya" jawab sang raven sambil menyentuh hidung mancung Ciel singkat

"Kau mendengarnya, bagaimana bisa?" tanya Ciel terkejut

Sebastian membelai pipi sang adik lembut sebelum berkata "Aku sudah sadar sesaat sebelum mom dan dad pulang"

"Kenapa kau malah pura-pura tidur?" tanya Ciel tajam

"Jika aku membuka mataku semalam, apakah kau akan mengakui kesalahanmu dengan dramatis seperti semalam Ciel?" Sebastian mendekatkan wajahnya pada sang adik, agar dapat menatap iris biru yang mulai berkaca-kaca itu

"Dengan melihat sikapmu selama ini, aku yakin kau tak akan mau mengatakan apa pun jika kau tahu aku sudah sadar" tebak Sebastian yang mampu membuat Ciel merona, Ciel tak bisa berbohong pada pemuda di hadapannya ini, dia lebih memahami Ciel dari pada siapapun bahkan dirinya sendiri

Iris biru itu kembali mengabur, bukannya semalam Ciel sudah menghabiskan air matanya di samping Sebastian saat menyesali kesalahannya tapi kenapa air mata itu kembali mengenang. Air mata pagi ini bukan air mata kesedihan seperti semalam, namun air mata haru. Dia sangat bahagia memiliki seorang kakak yang begitu menyayangi dan peduli padanya

Sebastian segera melebarkan kedua tangannya, Ciel yang melihat itu tanpa sempat berfikir lagi segera menghamburkan diri dalam pelukan sang kakak

"Aku berjanji akan menjadi adik yang baik dan memperbaiki sikapku selama ini" lirih Ciel sambil sesengukan di dada bidang Sebastian

"Aku juga akan berusaha menjadi kakak yang baik" balas Sebastian sambil mendaratkan kecupan di kening sang adik

*FiN*

.

.

.

.

Epilog

"Kau yakin akan baik-baik saja dirumah Ciel?" Ciel sudah mulai bosan mendengar pertanyaan yang sudah ratusan kali dia dengar seharian ini

"Aku akan baik-baik saja mom, kan aku tidak sendirian di rumah ada Sebastian yang menemaniku" jawab Ciel datar sambil membantu sang ibu memasukkan koper ke dalam bagasi mobil

"Tapi kakakmu belum sembuh benar Ciel, kau yakin akan baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya itu setelah semua koper sudah tertata rapi dalam bagasi

Ciel menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan sang ibu "Mom... dua tiga hari lagi Sebastian pasti sudah sembuh dan bisa berjalan tanpa tongkat, merawatnya sehari dua hari tidak akan sulit bagiku mom"

"Benar... Ciel dan Sebastian pasti akan baik-baik saja di rumah" kedua kepala yang tengah berdebat itu langsung menoleh ke arah suara Vincent Phantomhive yang baru saja keluar dari dalam rumah mereka

"Mom... tak usah mengkhawatirkan aku, aku sudah merasa lebih baik sekarang" sosok di samping Vincent ikut berargumentasi, sambil tertatih dengan satu tongkat untuk membantunya berjalan

Dengan sigap segera berada di samping Sebastian untuk memapahnya berjalan, walaupun hal itu tidak membantu sama sekali karena tinggi mereka yang berbeda, Sebastian membiarkan saja sang adik membantu sebisanya.

"Lalu... apa mom yakin tidak perlu di antar sampai bandara?" Ciel kini bersuara di sela kegiatannya yang membantu Sebastian, namun sedetik kemudian terdengar suara gelak tawa dari tiga orang yang menatapnya

"Ciel kau terdengar seperti mom" ucap Sebastian di sela tawanya. Ciel hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat semua orang sedang tertawa

"Dengan kondisi kakakmu yang seperti itu tidak mungkin kan kalian mengantar kami ke bandara" jelas sang ayah

"Lagipula dad akan pastikan sampai dengan selamat sampai di Jepang, jadi jangan terlalu khawatir ya Ciel" ucap sang ibu sambil mengecup singkat pipi sang putra

setelah memastikan semua hal yang perlu di bawa sudah masuk ke dalam mobil, memberikan berbagai peringatan untuk Ciel dan saling berbagi pelukan, akhirnya sepasang suami istri Phantomhive masuk ke dalam mobil dan melesat menuju bandara

Ciel dan Sebastian hanya menatap mobil yang melaju menjauh itu sambil melambaikan tangan melepas kepergian kedua orang tua mereka.

Ciel yang berdiri di samping Sebastian, sedikit terkejut saat sang kakak melebarkan kedua lengannya

"Kau kenapa? Kau tak ingin masuk ke dalam?" tanya Ciel datar

"Kau tak ingin memelukku seperti tempo hari?" goda Sebastian, sontak saja membuat wajah Ciel merona

"Kau... jangan bercanda" seru Ciel sambil melangkah masuk ke dalam rumah

"Ciel.. tunggu" panggil Sebastian sambil menarik salah satu lengan Ciel, saat mereka sudah didalam rumah

Refleks Ciel segera mengibaskan lengannya supaya tidak di tarik oleh Sebastian, membuat sang raven sedikit jatuh terduduk dan menabrak pintu yang ada di belakang mereka. Ciel yang mendengar suara rintihan Sebastian segera menoleh dan mendekati si raven

Walaupun Ciel tengah sebal pada tingkah kakaknya yang selalu mengodanya, tidak dapat dipungkiri dia tak dapat mengabaikan kakaknya itu

"Kau tidak apa-apa? Maaf aku tidak bermaksud... " belum selesai Ciel berucap sebuah lengan dengan sigap meraih tubuh mungil Ciel dan memeluknya dengan erat

"Hei... apa yang kau lakukan!" protes Ciel sambil berusaha melepaskan pelukan Sebastian

"Patuhlah sesekali Ciel, ini hukuman karena kau telah menghancurkan kamarku tempo hari" ucap Sebastian seraya menengelamkan wajahnya ke surai kelabu Ciel

Terdengar dengusan kesal dari bibir Ciel sebelum dia mengumamkan sesuatu "Aku membencimu"

Sebastian hanya bisa terkekeh saat mendengar gumanan sang adik, dan dapat menyadari apa yang dimaksud Ciel "Ya Ciel... aku juga menyanyangimu" lirih Sebastian pelan di balas dengan seringai sang adik sebelum bibir mungilnya kembali berkata "Kau menyebalkan" sembari mengeratkan pelukannya pada sang kakak

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haaaah... akhirnya selesai juga fic saya

Mungkin masih banyak kekurangan dalam penulisannya, saya menerima jika ada kritis dan saran dari kalian semua untuk kesuksesan fic-fic saya selanjutnya...

Akhir kata...

Review please ^o^)/