Dering ponsel memaksa Jongin untuk mengalihkan kosentrasi sejenak dari layar komputer. Dengan malas, Jongin meraih alat itu, menekan opsi angkat tanpa melihat caller ID yang terpampang di sana.
"MA FAVORITE BRO! BAGAIMANA KABARMU HARI INI, BUKANKAH CUACA SEDANG—"
"Get. To. The. Point." Potong Jongin gusar.
Ia memutar bola mata setelah mengetahui siapa dan untuk apa—kira-kira lelaki ini menghubunginya.
"Aw, so grumpy!" Sehun terkekeh ringan. "Baiklah aku ada sedikit masalah."
Tepat seperti dugaan.
Jongin bersandar malas pada kursi, mendengarkan Sehun memaparkan mengenai situasi yang tengah ia alami. Sehun meminta Jongin untuk menjemputnya dan membawa ban cadangan karena lelaki itu memiliki krisis kepercayaan diri luar biasa terhadap instansi umum—atau sesederhana karena dia memang ingin merepotkan Jongin.
"Oh, baiklah. Aku akan berangkat beberapa menit lagi." Balas Jongin pasrah.
Ia berniat untuk menetup teleponnya, tetapi tiba-tiba Sehun berteriak dari dalam speaker.
"Kau tidak perlu terburu-buru." Ujar lelaki itu. "Ada sedikit hal yang ingin aku lakukan bersama Luhan terlebih dahulu."
Jongin menggelengkan kepala sambil tertawa, menangkap dengan jelas tentang sesuatu yang ingin lelaki itu lakukan dengan kekasihnya.
"You kinky bastard. Cepat selesaikan urusanmu sebelum aku tiba."
KALEIDOSCOPE
CHAPTER VI
.
SOMEBODY'S HEARTBREAK
.
"It would be a privilege to have my heart broken by you."
—Augustus Waters to Hazel Grace, The Fault in Our Stars
Prenote : Um, so... this is 8K+ (wtf, Sher. wyd) because kaisoo just got into me so hard I can't control myself m'sorry. Wish you enjoy, tho :(
Dalam setiap detik, berbagai peristiwa terjadi secara bersamaan di dunia.
Mungkin pada detik ini, satu keluarga sedang menikmati jamuan makan dengan percakapan di depan hangatnya perapian, sedang beberapa murid menghabiskan waktu di meja sekolah dengan muka bosan, sementara kumpulan perampok merencanakan secara matang strategi yang akan mereka lancarkan selanjutnya.
Mungkin juga, seorang pebisnis tengah berdecak ketika melihat nilai saham mereka yang turun, seorang dokter menahan tangannya yang gemetar karena ini merupakan operasi pertamanya, seekor kucing kembali tertidur untuk yang kesekian kali, sedangkan seekor nyamuk berusaha mencari posisi yang tepat untuk diincar.
Atau bisa jadi, sesuatu yang terjadi pada detik ini merupakan hal yang tidak penting.
Seperti apa yang tengah berlangsung di dalam kepala seorang lelaki muda berwajah murung, hembusan nafas berat serta pertanyaan sama yang terus berulang di otaknya tanpa henti; bagaimana cara lari dari patah hati?
Lelaki ini belum mengetahui, bahwa setiap detik ternyata menyimpan misteri yang berarti.
Ia juga belum mengetahui sebuah kejutan telah dipersiapkan khusus untuknya.
Sebuah kejutan yang lebih matang dari rencana para perampok, lebih jitu dari strategi pemasaran para pebisnis, serta lebih menyenangkan dari kebahagiaan seekor nyamuk yang sukses menghindari tepukan setelah berhasil menghisap darah.
Dan rangkaian kejadian yang menuntun lelaki ini untuk menemukan kejutannya dimulai dari—
3...
2...
1...
—sekarang.
—oOo—
"That would be 3,400 W, Sir."
Do Kyungsoo mendesah panjang ketika telinganya menangkap lantunan nada bernada minor mengalun samar dari dalam mini-mart.
Sepasang alisnya saling bertaut, mempertanyakan apakah ini merupakan salah satu efek dari patah hati. Mulai dari setiap lagu yang ia dengar, film yang ia tonton, hingga kejadian yang tidak sengaja ia lihat di jalan berubah menjadi sesuatu yang semakin mengingatkannya akan hubungan asmaranya yang baru saja berakhir.
Meretaskan suatu hubungan adalah keputusan berat—baik keputusan itu datang dari diri sendiri maupun pasangan.
Namun apa yang lebih berat adalah mengatasi banyaknya perasaan yang muncul setelahnya.
Perasaan sedih yang berbaur dengan marah serta dendam. Perasaan hampa yang datang tiba-tiba di pagi buta saat menyadari bahwa suatu kebiasaan telah berubah. Perasaan ingin mengenyahkan semua emosi itu segera dari dalam hati dan melanjutkan hidup seperti seharusnya.
Patah hati, membutuhkan kesabaran.
Sayangnya, Kyungsoo bukan tipikal orang yang bisa bersabar.
Ia telah berupaya menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan untuk melupakan permasalahan patah hatinya.
Mulai dari terlalu banyak memakan makanan manis (Kyungsoo memiliki filosofi sesuatu yang manis akan melunturkan pahit akibat patah hati), terlalu banyak menghabiskan waktu membersihkan tiap sudut apartemennya, terlalu banyak membaca artikel mengenai bagaimana pulih dari masa ini (kotak history browser-nya menyisakan jejak pencarian seperti '10 Cara Sembuh Dari Patah Hati' hingga 'Tips Meredam Keinginan Untuk Membunuh Mantan Kekasihmu').
Kyungsoo mendengus sinis. Sebuah senyum licik terbit dari sudut bibirnya mengingat detail dari artikel tentang bermacam praktek ilmu sihir hitam yang bisa ia terapkan untuk mantan kekasihnya. Mungkin ia bisa membuat lelaki itu menderita dari dalam, menciptakan rasa terbakar, menggeliat, menjerit, meraung, men—
"Uh... Sir?"
Kyungsoo terlonjak bangun dari alam bawah sadar.
Pandangannya segera disambut dengan kerutan kening dari petugas kasir mini-mart. Wanita di balik mesin kasir itu mengerjap pelan—mungkin sedikit takut karena ekspresi Kyungsoo barusan menyiratkan seseorang yang ingin menghancurkan dunia. Dugaan wanita itu pasti bertambah kuat mengingat hari ini Kyungsoo mengenakan atribut serba hitam dari ujung kepala hingga kaki.
Kyungsoo berdeham, mengisyaratkan si petugas kasir untuk berhenti memandangnya penuh selidik. Ia meraih dompet dari dalam saku, menyerahkan beberapa lembar uang kepada petugas kasir sebelum wanita itu menyimpulkan berbagai pemikiran aneh lain.
Menyadari tatapan tajam yang diarahkan kepadanya, si petugas kasir langsung beralih memproses transaksi pembelian Kyungsoo. Tampaknya wanita itu berjuang keras mengabaikan kombinasi absurd yang Kyungsoo beli saat itu; sebotol bir dan Ramyeon instan.
"This is your change, th-thankyou for purchasing." Ucap petugas kasir gugup.
Kyungsoo hanya menggumam pelan, menolak untuk berbasa-basi karena suasana hatinya sedang sangat tidak mendukung.
Sembari meraih cup Ramyeon-nya hati-hati, pandangan Kyungsoo beredar mencari tempat untuk duduk, memindai dengan teliti dari tepi ke tepi jajaran bangku yang kebanyakan sudah terisi.
Ia menggeram kesal, menyalahkan diri sendiri karena telah memilih mini-mart yang terlalu kecil.
Merasa putus asa, Kyungsoo akhirnya mengambil bangku di antara deretan bangku yang menghadap ke luar. Tidak seperti tempat duduk lain, bangku ini hanya memiliki satu meja panjang yang menempel di kaca jendela, memaksa ia berbagi tempat dengan lelaki yang hanya berjarak satu bangku darinya.
Nasib buruk sepertinya sedang gemar mengikuti. Keluh Kyungsoo lelah.
Namun ia mencoba mengambil sisi baik dari hal ini.
Paling tidak, ia mendapatkan pemandangan jalan dengan beberapa mobil lalu lalang alih-alih atap pendek dan pendingin ruangan usang yang mengeluarkan derit menjengkelkan setiap beberapa menit sekali.
Kyungsoo menghela nafas, jarinya beralih mengaduk Ramyeon-nya menggunakan sumpit. Uap panas dari dalam cup itu menerpa wajah Kyungsoo, membuat ia langsung larut begitu rasa pasta cabai gochujang menggelenyar di lidahnya pada suapan pertama.
Persetan mengenai apapun yang berhubungan dengan patah hati. Selama perkara itu tidak mengacaukan nafsu makannya, Kyungsoo kira tidak ada yang perlu dipusingkan untuk sementara.
Ia kembali menyuap Ramyeon-nya dengan murka, berimajinasi apa yang sedang ia kunyah kali ini adalah bagian tubuh mantan kekasihnya (patah hati mungkin bisa menjadikanmu sebagai kanibal, Kyungsoo secepatnya menambahkan pernyataan itu di bawah daftar panjang berjudul 'Kriminalitas yang Bisa Terjadi Setelah Suatu Hubungan Asmara Berakhir').
Ia terus menyuap tanpa henti, bahkan tidak memberikan dirinya sendiri jeda untuk bernafas.
Pada sumpitan terakhir—di antara bunyi 'slurp' dan gumaman 'bajingan' sebelum Ramyeon-nya tandas, pendengarannya menangkap gelak rendah teredam dari seseorang di sampingnya.
Kyungsoo menoleh—dengan sumpit masih terjepit di bibir, kedua mata membelalak lebar, serta pipi menggembung mendapati seorang lelaki yang ternyata sedang menertawakannya.
Ia segera mengunyah sisa makanan di dalam mulutnya lebih cepat. Berbagai kata umpatan siap meluncur dari ujung lidahnya untuk memaki betapa tidak sopannya lelaki ini.
Bagaimana bisa orang itu terang-terangan menertawakannya tanpa sedikitpun rasa segan? Kyungsoo berharap lelaki ini sudah siap mati karena ia telah merencanakan 101 siasat untuk membununuh dengan alibi ini hanya sekedar kecelakaan biasa atau saya benar-benar tidak sengaja.
Namun sebelum Kyungsoo sempat menelan makanannya, tawa lelaki di sebelahnya meredup, berganti dengan sebuah bisik samar dari balik punggung tangan yang membuat Kyungsoo terpaku di tempat.
"Cute."
W—What?
Pikiran Kyungsoo masih mencerna kata yang baru saja ia dengar ketika lelaki itu kembali menginterupsi. "Wanna smoke, cutie?"
Oh, lupakan mengenai siasat pembunuhan tadi.
Siapapun yang berani memanggilnya dengan sebutan itu harus mati dengan cara keji. Kyungsoo bahkan tidak tanggung untuk membuat tempat ini bersimbah darah.
Ia beranjak marah dari kursinya, bersiap untuk menemukan senjata apa saja yang bisa ia gunakan untuk membunuh. Lelaki ini mungkin belum tahu bahwa ia menyempatkan diri dua kali seminggu untuk membentuk otot bisepnya. Terlalu sering diremehkan karena bahunya yang rendah, Kyungsoo siap untuk menampilkan abs yang sudah terbentuk sekiranya itu memang diperlukan.
Baru mencapai setengah jalan, lelaki yang mengenakan sweater tebal dan celana selutut itu tiba-tiba membuka hoodie yang menutup kepalanya sedari tadi. Rambut coklat pudarnya jatuh menutup hingga alis, sedikit berantakan, bahkan terdapat beberapa pangkasan tidak rapi di sekitar telinga, namun apa yang Kyungsoo lihat sudah cukup membuatnya berhenti melangkah.
Rahang tegas, kulit tercium matahari, sepasang mata teduh serta lengkung senyum yang hangat.
Kyungsoo menelan ludah, membatalkan niat sebelumnya untuk memberi lelaki ini pelajaran karena sial, dia sangat tampan.
Ia justru menarik kursi tepat di sebelah lelaki itu, memancing tatapan heran dari lelaki yang kini memutar kursinya sendiri agar mereka berhadapan. Lelaki itu menyodorkan pak rokok ke arah Kyungsoo, salah satu tangannya bertumpu di dagu seolah menunggu Kyungsoo untuk melakukan sesuatu.
"Aku bukan perokok." Cetus Kyungsoo ketus.
Alis kiri lelaki itu terangkat naik. "Oh, aku kira kau menghampiriku karena ingin mengambilnya."
Ugh, double trouble. Kyungsoo memaki.
Ia seharusnya memikirkan alasan di balik tindakannya sebelum mempermalukan diri sendiri.
"Matahari." Balas Kyungsoo sembari menunjuk ke tempat ia duduk tadi—meskipun sebenarnya tidak ada perbedaan apapun yang bisa ditemukan dari tempatnya duduk sekarang. "Panas. Aku tidak suka."
Lame. Do Kyungsoo is freaking lame.
Kenapa tidak sekalian saja ia menambahkan bahwa cerita mengenai kulit vampir yang berkilau ketika terpapar kontak langsung dengan matahari bukan hanya sekedar bualan dan ia adalah bukti konkretnya.
Frustasi, Kyungsoo meneguk isi botol bir yang rencananya akan ia tumpahkan ke wajah lelaki itu hingga tersisa setengah.
Lelaki itu kembali tertawa. "Aku juga bukan perokok." Ucapnya sambil sedikit memiringkan kepala. "Ini hanya sebagai kamuflase agar seseorang tidak mengajakku bicara."
Oke, lelaki ini mungkin termasuk dalam kategori tampan tetapi otaknya pasti sedikit bermasalah.
Pertama, teori mana yang mengatakan bahwa rokok bisa membuat seseorang mengurungkan percakapan?
Kedua, lelaki ini berkata bahwa dia tidak ingin seseorang berbicara dengannya tapi sekarang dia memulai percakapan terlebih dahulu.
Ketiga, oh Tuhan, tapi dia benar-benar tampan.
Dari tiga perkara yang berputar di pikirannya, Kyungsoo memilih untuk menyuarakan yang kedua. "Tapi kau sekarang berbicara denganku."
"Ya, karena kau butuh teman bicara." Balas lelaki itu percaya diri.
The nerve! Kyungsoo memutar bola mata. Sok tahu sekali.
Walaupun sejujurnya lelaki ini tidak sepenuhnya keliru. Sebab, ya, ia memang butuh teman bicara. Beberapa hari ini merupakan hari yang berat baginya. Membakar seluruh barang dari mantan kekasihnya ternyata tidak membantu. Begitu juga dengan berkali-kali menelepon nomor mantan kekasihnya pada dini hari hanya untuk membuat lelaki itu merasa sedang diteror.
"Explain, Sherlock." Tantang Kyungsoo. "Darimana kau mendapat kesimpulan seperti itu?"
"Well, Mister—" Lelaki itu memberengut sejenak. "Tunggu, siapa namamu?"
"Kyungsoo. Do Kyungsoo."
"Ah, baiklah Mister Do. I'm Kim Jongin, by the way." Lelaki itu membiarkan Kyungsoo menyisipkan namanya ke dalam memori sebelum kembali memaparkan. "Kau datang ke mini-mart ini sendiri, membeli bir dan meminumnya pada jam dua belas siang. Suasana hatimu jelas sedang sangat buruk, jadi aku menyimpulkan bahwa kau memiliki masalah."
Kyungsoo mendengarkan dengan sedikit dengusan sebab oh, itu hanya tebakan asal yang beruntung.
Lelaki itu—atau kini ia bisa menyebutnya Jongin tersenyum menangkap sindiran tersirat Kyungsoo.
"Dan, ada tiga masalah yang bisa aku asumsikan di sini. Pekerjaan, keluarga atau asmara. Tetapi, aku yakin kau sempat memaki 'bajingan', jadi aku rasa keluarga bukan penyebab utamanya. Maka yang tersisa hanya pekerjaan dan asmara."
Mendadak, Jongin mencondongkan tubuh ke arah Kyungsoo, membuat ia berjengit mundur karena gerakan yang tidak ia antisipasi sebelumnya. Jongin mengusap-usap dagunya sendiri, berusaha terlihat seperti seorang detektif amatir yang sedang memecahkan kasus menarik.
"Ini juga bukan mengenai pekerjaan." Bisik lelaki itu melawan deru pendingin ruangan. "Kau masih terlalu muda untuk bekerja. Usiamu mungkin baru delapan belas tah—"
"Dua puluh." Koreksi Kyungsoo.
Jongin tampak terkejut. "Kau yakin?"
"Orang bodoh mana yang tidak yakin dengan usianya sendiri?" Bentaknya kesal.
Jongin terkikik geli. Kyungsoo yakin lelaki ini sengaja mempermainkan emosinya sebagai bahan lelucon.
"Oh, baiklah. Aku minta maaf." Ucap Jongin merajuk setelah Kyungsoo melemparkan sorot membunuh.
"Jadi sudah pasti ini mengenai asmara." Raut Jongin kembali serius. "Hubunganmu baru saja berakhir dan kau mencari pelampiasan karena apartemenmu mendadak terlalu penuh dengan kenangan. Kau bisa datang ke restoran atau tempat makan favoritmu tapi hal itu hanya akan memberikan efek serupa, maka kau memilih tempat yang—paling tidak menjauhkanmu dari pikiran itu. Hubunganmu juga belum lama kandas—dan biar kutebak itu juga berakhir tidak baik sehingga kau masih menyimpan dendam yang membuat otakmu sibuk membenci setiap benda bergerak yang kau lihat."
Kyungsoo melongo. Dari semua kalimat yang keluar dari mulut Jongin sejak tadi, penjelasan barusan adalah satu-satunya yang membuat ia kagum.
"Darimana kau tahu?"
Sebuah senyum licik terpulas di bibir Jongin seiring dengan tangannya yang menarik sesuatu dari balik lengan. "Karena kita berbagi kasus serupa."
Pandangan Kyungsoo bergeser ke atas meja dimana sebotol bir ber-merk sama dengan miliknya melingkar di genggaman Jongin.
"Oh, yang benar saja." Desah Kyungsoo lirih.
Ia memandang Jongin tidak percaya sementara lelaki itu memberikan tawa puas ketika melihat ekspresinya. Kyungsoo memukul lengan Jongin pelan, segala emosi yang ia pendam meluap berganti dengan gelak bercampur ironi yang dalam.
"What are the odds, right?" Canda Jongin ringan.
Mereka tergelak bersama, menertawakan sesuatu yang bahkan mereka sendiri lupa itu merupakan perihal menyedihkan sebelumnya. Dari banyaknya kesempatan, Kyungsoo tidak percaya ia akan dihadapkan dengan suatu kebetulan yang semenarik ini.
"Ah, aku merasa bersalah karena telah bersikap kasar." Kyungsoo mendesis, melirik Jongin lewat sudut matanya.
Jongin meloloskan sengal memaklumi. "Aku rasa kau berhak bersikap seperti itu."
Lelaki itu menyodorkan botol bir-nya ke arah Kyungsoo sebelum mereka bersulang, menghasilkan denting nyaring yang memenuhi mini-mart. Ini mungkin bukan jenis ironi yang pantas dirayakan. Namun menemukan seseorang yang dapat mengerti pelik yang sedang ia hadapi membuat Kyungsoo sedikit lega.
"So," Celetuk Jongin setelah lelaki itu meletakkan botolnya kembali ke atas meja. "Ceritakan apa yang terjadi."
Kyungsoo mengerutkan hidung saat rasa pahit bir mampir ke lidahnya. Ia seharusnya tahu ia tidak pernah menyukai minuman sejenis ini.
"Well, there was this guy—Hyunsik, precisely. We've been in a commited relationship for almost two years."
Kyungsoo mengambil jeda sejenak untuk memijat kening. Rangkaian perjalanan mengenai kisah asmaranya mulai terangkum jelas di ingatan dan ia menemukan mulutnya tidak berhenti bicara tentang apa saja yang terjadi selama dua tahun belakangan.
Bagaimana awalnya kisah cinta itu berlangsung seperti kebanyakan kisah cinta lain—kencan, menikmati malam, brunch di hari minggu, cuddling session juga seterusnya. Namun perlahan keromantisan mulai padam, pertengkaran terjadi, tindak kekerasan terjadi terus menerus, hingga Kyungsoo mendapati dirinya merenung setiap malam, mengevaluasi pilihannya untuk melanjutkan hubungan itu.
Mereka memang beberapa kali mengakhiri hubungan, namun berusaha menjalin lagi setelahnya, kemudian berakhir lagi, kemudian kembali lagi, terus berulang seperti rotasi yang tidak berhenti.
"Lalu pada suatu pagi, aku mengatakan bahwa kali ini aku serius untuk pergi jika dia benar-benar tidak bisa berubah. Kau tahu apa yang dia katakan?"
Jongin menunggu dengan sabar tanpa mengucapkan apapun.
"Go on. Aku bertaruh kau akan merangkak memohon, mengemis untuk kembali kepadaku setelah beberapa hari." Kutip Kyungsoo mengulang apa yang diutarakan Hyunsik.
"What an asshole!" Pekik Jongin berang sembari menggebrak meja. "Katakan bahwa kau menamparnya. Atau memukulnya."
Kyungsoo tertawa pahit. "I wish i could. Tapi sayangnya, aku terlalu marah untuk memikirkan hal semacam itu. Jadi, aku hanya beranjak pergi."
Jongin mendesah kecewa. Lelaki itu mengumpat pelan, garis wajahnya terlihat lebih marah, berkebalikan dengan Kyungsoo yang duduk tenang di sebelahnya.
Mungkin, Kyungsoo sudah terlalu kebal sehingga menceritakan kisah itu tidak lagi mendatangkan perih di hatinya. Atau mungkin—tanpa Kyungsoo sadari kapan ternyata ia sudah mulai merelakan. Mengubur kenangan buruk itu menjadi bagian dari masa lalu yang tidak akan pernah ia tengok lagi.
Walaupun jika Kyungsoo diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, ia akan menggunakannya untuk kembali ke pagi dimana percakapan terakhir antara ia dan Hyunsik terjadi.
Oh, bukan.
Tentu saja bukan untuk memperbaiki hubungan.
"I should've punch the shit out of him." Sesal Kyungsoo dengan nafas memburu.
"You really should have! Paling tidak kau harus menendang kemaluannya." Sahut Jongin, pikirannya berkelana pada seseorang yang mengeluh kesakitan beberapa hari lalu karena kekasihnya melakukan hal serupa.
"Hey, tapi aku rasa ini belum terlambat." Lanjut Jongin, Kyungsoo berpaling untuk mendengarkan lebih lanjut gagasannya. "Lelaki ini masih hidup, 'kan? Kau bisa membalas dendam padanya sekarang juga."
Kyungsoo terhenyak sekilas, mempertimbangkan kalimat Jongin di dalam otaknya.
"Ya, kau ada benarnya." Ia mengangguk-angguk licik, pikirannya berkabut oleh dendam. "Aku bahkan bisa menebak dimana dia sekarang."
Kyungsoo tiba-tiba meraih botol bir-nya, meneguk cairan pahit itu hingga habis sebelum ia menarik tangan Jongin menuju pintu luar mini-mart. "Come on, Kim! We've got something to do."
—oOo—
Mereka tiba di sebuah tempat Billiard beberapa menit kemudian dengan Kyungsoo yang menyeret Jongin keluar dari taksi terburu-buru dan wajah polos Jongin yang masih belum selamat dari keterkejutan.
Jongin memang menyarankan Kyungsoo untuk mengambil tindakan atas perlakuan kasar mantan kekasihnya. Tetapi ia tidak menyangka ia akan ikut terlibat dalam rencana apapun yang ada di kepala lelaki itu.
Ketika Jongin bertanya mengapa Kyungsoo turut menyertakannya, lelaki itu mengemukakan alasan kau bisa menyelamatkanku jika nanti sesuatu yang buruk terjadi, meninggalkan Jongin tanpa satupun bantahan yang sekiranya bisa menyelamatkanya dari kekacauan ini.
Karena ya, Jongin memang memiliki dorongan untuk melindungi Kyungsoo.
Maka dari itu, ia mencoba pasrah, mengikuti kemana Kyungsoo melangkah. Jongin sedikit khawatir Kyungsoo akan kehilangan kepercayaan diri saat lelaki ini berhadapan dengan mantan kekasihnya. Sebab ia tahu persis kejadian itu sering terjadi. Tekad yang sudah dibangun terkadang melemah setelah seseorang bertatap—
"Hey, buttcrack!"
Oh, lupakan. Jongin menarik ucapannya kembali.
Kepercayaan diri Kyungsoo ternyata tidak menurun barang sedikitpun. Hal itu terlihat dari bagaimana cara Kyungsoo berjalan, menghampiri seseorang yang tampak terkejut mengetahui keberadaannya.
"Well, well, well, look who's here!" Lelaki yang Jongin yakin bernama Hyunsik berkacak pinggang, senyum congak menghiasi setengah wajahnya.
Jongin langsung membenci lelaki ini pada kesan pertama.
Beberapa teman Hyunsik di belakang memperhatikan Kyungsoo dengan kikikan pelan juga sorot mata menyindir.
"Sudah aku bilang dia akan kembali." Tutur Hyunsik percaya diri.
Kyungsoo mengepalkan tangannya kuat, rahang lelaki itu mengeras sementara tatapannya berubah terlalu menusuk.
Melihat itu, Jongin mengantisipasi suatu drama dengan banyak teriakan, atau mungkin pukulan, atau sesuatu yang sekiranya sepadan atas perbuatan Hyunsik kepada Kyungsoo.
Namun Jongin segera berdesis kecewa saat Kyungsoo menyambar gelas alkohol di tepi meja Billiard lalu menumpahkannya ke celana Hyunsik.
Oh, ayolah! Jongin memekik gemas dalam hati.
Mereka telah menempuh percakapan berapi-api, perjalanan sepuluh menit untuk sampai kesini dan apa yang Kyungsoo lakukan hanya membuat celana lelaki itu basah? Luar biasa.
"Brengsek!" Suara Hyunsik tiba-tiba menggaung seiring dengan cengkraman tangan lelaki itu ke kerah kemeja Kyungsoo.
Jongin refleks berderap mendekat, berniat untuk membantu Kyungsoo—dan mungkin menghilangkan senyum congak Hyunsik menggunakan tinjunya, tetapi tiba-tiba Kyungsoo menoleh, memandangnya dengan kilat membara yang sama seperti saat mereka tiba di tempat ini.
"Hey, Jongin." Kyungsoo berseru lantang, tidak ada getar takut tercecap di suara lelaki itu. "Do you want to know how roasted dick smells like?"
Jongin berkedip bingung, Hyunsik berkedip bingung, seluruh isi ruangan itu berkedip bingung, memperhatikan Kyungsoo yang kini memasang seringai licik di sudut bibirnya.
Hyunsik mengeratkan cengkramannya. "Apa maksud-"
Sebelum Hyunsik menyelesaikan kalimatnya, Kyungsoo secara sigap mengeluarkan pemantik yang ia sembunyikan dari balik genggaman lalu memantik api tepat di bagian celana Hyunsik yang basah.
Alkohol—merupakan senyawa terbakar.
Pengetahuan kimia dasar.
Apa yang terjadi di detik berikutnya sudah bisa diperkirakan.
Jeritan panik seorang lelaki yang berusaha memadamkan api di celananya, pekik ketakutan dari beberapa lelaki lain yang mencari benda apapun untuk membantunya, serta tawa puas dari si pelaku peristiwa kali ini.
Mulut Jongin menganga lebar.
"Dan sekarang, aku yakin kau mengerti apa yang kumaksud sebelumnya." Tutup Kyungsoo seraya berlalu, menarik Jongin keluar dari tempat itu.
—oOo—
"You're insane." Adalah kata pertama yang Jongin ucapkan setelah ia bisa menggerakkan rahangnya kembali.
"I know right?!" Kyungsoo justru berseru gembira.
Ia terbahak keras sambil bersorak, berlarian di jalan seperti orang gila tanpa mempedulikan tatapan aneh yang dilayangkan kepadanya. Kyungsoo bahkan mulai menari kecil, berputar pada tiang lampu menirukan Gene Kelly di film Singing in the Rain, sementara bibirnya menggumam nada nyanyian riang.
"Aku merasa sangat hidup." Ujar Kyungsoo sambil membalikkan badan, berjalan mundur menghadap Jongin.
Ia begitu bangga dengan dirinya sendiri. Setiap beban di pundaknya seakan hilang dalam sekejap, menyisakan perasaan ringan yang bernaung dalam dadanya. Kyungsoo sangat berterimakasih karena Jongin memberinya dorongan untuk melakukan aksi nekat barusan.
"Thankyou, Kim. Aku tidak akan pernah melakukan ini jika kita tidak bertemu."
Jongin menanggapi dengan gelak geli, langkah kaki lelaki itu bergerak semakin cepat menyesuaikan irama lompatan Kyungsoo. "Aku senang bisa membantu."
Bibir Kyungsoo merekah dalam senyum lebar, kedua tangannya tanpa sadar meraih tangan Jongin kemudian mengayunkannya. Lelaki di hadapannya tampak terkejut sekilas, namun tidak lama kemudian ia mencoba mengikuti gerak tubuh Kyungsoo yang berputar di bawah lengannya.
Jongin tertawa karena gerakan tidak teratur Kyungsoo.
"Bukan begitu cara kau melakukannya." Ujarnya lembut.
Ia merengkuh pinggang Kyungsoo, membiarkan lelaki itu menerka dengan mata membelalak apa yang sebenarnya akan ia lakukan.
Selanjutnya, naluri penari Jongin mengambil alih. Menelusup masuk ke pikirannya seperti asap. Ia mulai menuntun Kyungsoo dalam gerakan dansa dasar—langkah halus ke kanan lalu ke kiri, mendekatkan lelaki itu lebih dekat lagi ke tubuhnya hingga dada mereka bersentuhan.
Mereka berdua hanyut dalam nada yang digumamkan Kyungsoo.
Apa yang ada di sekitar mereka seolah bukan lagi jalanan umum dan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru, tetapi sebuah ruangan gelap bersorot lampu remang.
Kyungsoo membalas senyum Jongin, kakinya seakan menemukan nyawa ketika ia mengikuti arahan lelaki itu. Mata keduanya saling tertambat, sebelum lama kelamaan berkelana menelusuri wajah satu sama lain, mempelajarinya dengan teliti.
Jongin merasa, Kyungsoo memiliki paras melebihi manusia biasa. Kyungsoo merasa, Jongin memiliki senyum paling menenangkan yang pernah dunia punya. Mereka berdua merasa, ada suatu getaran merambati tengkuk mereka yang membuat keduanya tahu sebuah perasaan sedang berusaha mengetuk untuk masuk.
Menyadari kenyataan itu, Jongin menarik diri terlebih dahulu. Ia berdeham kikuk, merapikan pakaiannya yang tidak kusut. "I'm sorry, I got carried away.
"Oh, tidak, tidak, tidak." Sergah Kyungsoo cepat. "Tidak apa-apa."
Dengan tatapan canggung, keduanya memutuskan untuk kembali berjalan. Kyungsoo yang masih menyimpan sipu di pipinya, memilih memperlambat langkah agar Jongin tidak memergokinya sedang bersemu.
Mungkin itu senyawa magis, Kyungsoo pikir, sebuah senyawa dalam tubuh yang berhak menentukan mengapa orang A terlihat menarik dan mengapa orang B terlihat biasa saja.
Sedang Jongin—menurutnya, merupakan seseorang pada kelompok A. Seseorang yang bisa diam sepanjang perjalanan ini namun tetap membuat Kyungsoo betah untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama.
Pemikiran ini menarik tanya dari kepala Kyungsoo. "Hey, kau belum memberitahuku mengapa hubunganmu berakhir."
Jongin menoleh cepat, memperhatikan Kyungsoo dengan sorot yang tidak tergambarkan. "Ah, mengenai itu..." Jongin menjilat bibir gugup, "He said I'm ugly, and boring, and have no fashion sense whatsoever."
"What?!" Kyungsoo memekik tidak percaya. "But you're hot—" Nafas Kyungsoo tercekat di tenggorokan menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya. "I—I mean, you're attractive and—and insanely handsome."
Goddamit. Kyungsoo merutuk pelan. Control your hormones, Do Kyungsoo.
Jongin menaikkan alis. "Oh?"
Mencoba menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa malu, Kyungsoo segera menyambar cepat. "L—Lupakan." Ia berjalan mendekat, menyejajarkan diri dengan Jongin. "Yang terpenting adalah, kau harus membalas perkataan orang sialan ini."
"Kenapa?"
Kyungsoo memijat pelipis karena pertanyaan polos Jongin. "Sebab dia melecehkanmu, Jongin. Bagaimana bisa kau mendorongku untuk membalas dendam jika kau ternyata tidak bisa membela dirimu sendiri?"
Jongin memiringkan kepala—bingung. "Tapi dia mengatakan hal yang sesungguhnya?"
"Oh, astaga." Kyungsoo menggeram frustasi.
Ia memang menangkap cara berpakaian Jongin yang buruk, juga bulu halus di sekitar dagu Jongin yang membuktikan bahwa lelaki ini tidak pernah merawat diri. Namun setiap orang waras seharusnya sadar bahwa Jongin memiliki wajah rupawan.
"Katakan, kapan terakhir kali kau memotong rambutmu?"
"Um," Jongin mencoba menggali ingatannya. "Satu tahun yang lalu, mungkin?"
Kyungsoo memutar bola mata mendengar jawaban Jongin. Ia segera menggamit lengan lelaki itu, menyeretnya dalam derap langkah cepat yang menuntut.
"Mari kita buat bajingan itu menyesal karena telah melepaskanmu."
—oOo—
Tunggu, apa misi Kyungsoo tadi?
Oh, benar membuat mantan kekasih Jongin menyesal.
Namun jauh dari pemikiran itu, Do Kyungsoo justru menemukan dirinya sendiri menyesali pilihannya untuk mengubah penampilan Jongin.
"How do I look?" Jongin bertanya malu-malu tepat setelah hair-stylist selesai menata rambut lelaki itu.
Kyungsoo mengerjap takjub.
Ia telah membawa Jongin berkeliling untuk mencari pakaian yang lebih tepat di tubuh lelaki itu, mengenyahkan sweater tebal membosankan dan celana pendek lusuh Jongin menjadi atasan kaus dengan kemeja yang tidak dikancingkan serta jeans biru pudar yang membalut kaki jenjangnya secara sempurna. Masih merasa belum cukup, Kyungsoo bahkan memaksa Jongin untuk mengganti model rambutnya.
Dan sekarang, berbagai umpatan menyesaki kepala Kyungsoo karena Jongin tampak semakin memikat dengan berbagai sentuhan yang ia sarankan.
"Kyungsoo?"
"Ah, ya?" Kyungsoo tersentak kaget, tidak menyadari bahwa Jongin sedang melemparkan pertanyaan kepadanya.
Alih-alih merasa tersinggung karena diabaikan, Jongin justru tersenyum kecil. Lelaki itu mendekat ke arah Kyungsoo, membungkukkan badan untuk mendekatkan wajah mereka dengan mata yang mengisyaratkan suatu ketertarikan.
"You're blushing." Bisik lelaki itu parau.
Kyungsoo membelalak lebar karena kali ini ia akhirnya tertangkap basah melakukan respon yang sudah berusaha ia sembunyikan sejak tadi.
"M-Matahari." Jawab Kyungsoo tergagap, kembali menggunakan alasan itu untuk yang kedua kalinya.
Jongin mendengus geli. "Kau gemar sekali menyalahkan matahari." Lelaki itu semakin memperkecil jarak di antara mereka, membiarkan nafas dari bibirnya bermain di telinga Kyungsoo. "Mungkin karena itu dia bersembunyi darimu."
Jongin menegakkan tubuh, memberi Kyungsoo akses untuk melihat ke langit luar yang ternyata sudah setengah gelap.
Oh, astaga.
Kyungsoo bahkan tidak menyadari begitu cepatnya waktu berlalu.
Ia memejamkan mata kuat, keinginan untuk membakar tempat ini bersama dirinya sendiri tertanam kuat di benaknya. Tidak mendapatkan alasan lain untuk menjelaskan kebodohannya, Kyungsoo memilih menghentakkan kakinya cepat sambil memaki, "Jangan besar kepala, Kim!"
Ia berjalan menuju pintu keluar, sibuk mengutuk dirinya sendiri hingga tidak menyadari pandangan Jongin yang mengikuti punggungnya serta pekik melengking yang terlontar dari mulut lelaki itu.
"So cute."
—oOo—
Jongin pikir kewarasan Kyungsoo sedikit terganggu. Di balik postur tubuh yang lebih kecil darinya, ia merasa Kyungsoo menyembunyikan banyak sekali gagasan gila.
Hal itu terbukti dari bagaimana persuasifnya Kyungsoo membujuk Jongin datang ke markas street dance-nya untuk memamerkan penampilan barunya. Kyungsoo meyakinkan Jongin dengan berbagai pujian tersirat mengenai penampilanmu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, diikuti Jongin yang terus berkilah (atau lebih tepatnya memainkan trik agar ia bisa mendengar lebih banyak lagi sanjungan dari Kyungsoo), hingga perdebatan itu akhirnya berakhir setelah Kyungsoo mengutarakan oh, baiklah. kau tampan.
Namun begitu mereka tiba di tempat itu, keberanian Jongin tiba-tiba surut.
Apalagi saat ia melihat sosok yang paling ia hindari belakangan ini.
"Jadi dia mantan kekasihmu?" Kyungsoo melongok sembari menunjuk ke arah tatapan Jongin tertambat.
Jongin mengangguk kaku, matanya masih enggan lepas dari sosok Moonkyu yang tengah duduk menyaksikan performansi salah seorang penari.
"Just go, Kim." Perintah Kyungsoo tidak sabar menyadari Jongin yang tidak berkutik. "Aku yakin ini akan berhasil."
Jongin menarik nafas panjang, berbagai memori tentang bagaimana Moonkyu terus merendahkan harga dirinya mendadak berlarian dalam kepala.
Lelaki itu ternyata hanya memanfaatkan kepopuleran Jongin untuk masuk ke klub ini, mendongkrak reputasinya di kalangan para street-dancer, kemudian memperlakukan Jongin seperti sampah ketika sudah merasa tinggi.
Mengingat semua kenangan itu membuat emosi Jongin kembali membara. "Aku akan kesana sekarang."
Membaca suasana hati Jongin yang berubah, Kyungsoo melingkarkan lengannya ke pinggang Jongin, mengusap dengan gerakan pelan untuk menenangkan. Ia menatap Jongin sejenak, mengagumi fitur wajah Jongin untuk yang kesekian kali.
Kemudian seolah mendapat ilham entah darimana, Kyungsoo berjinjit, mendaratkan satu kecupan singkat di pipi lelaki itu.
Jongin menoleh cepat. "Kyung—"
"Good luck." Potong Kyungsoo. Ia tidak ingin mendengar satupun pertanyaan yang berhubungan dengan kecupan itu.
Mulut Jongin mendadak kering. Tanah tempat ia berdiri menjadi begitu sulit untuk dipijak karena suatu desiran aneh yang mengalir di nadinya. "O-Ok."
Kyungsoo menggigit bibir, binar matanya terpancar penuh kelakar. "Hey, Kim." Lelaki Itu menahan senyum yang menarik sudut bibirnya. "You're blushing."
Kemudian Kyungsoo melepaskan tawa—keras sekali saat Jongin membalas dengan geraman tidak jelas karena kepalanya yang mendadak kosong tidak bisa menemukan kosakata yang tepat untuk memaki Kyungsoo.
Seraya mengatur nafasnya yang berantakan, Jongin mengambil langkah pertama menuju ke kerumunan yang tinggal berjarak beberapa meter darinya. Ia berjalan dengan hati-hati, mencoba meredam euphoria yang masih menguasai tubuhnya.
Seseorang yang menyambutnya pertama kali adalah Sehun (walaupun gesture-nya sama sekali tidak bisa disebut menyambut, karena Sehun justru mendorong Jongin menjauh dari tempat berkumpulnya penari lain).
"Apa yang kau lakukan di sini?" Pandangan Sehun menelusuri Jongin sejenak, mengamati perubahan yang terjadi padanya. "Dan sejak kapan kau akhirnya mengakui bahwa gaya rambutmu sudah terlalu kuno?"
Jongin menjitak kepala lelaki itu pelan. "Jeez, Hun." Ia berdecak dalam nada remeh. "Aku hanya berbaik hati untuk tidak membiarkanmu kalah saing."
Sehun mengerutkan hidung tidak setuju, kedua tangan lelaki itu bersedekap di depan dada. "But, seriously, what are you doing here?"
Ungkapan Sehun akan terdengar sangat ofensif jika seseorang tidak mengetahui latar belakang kekhawatiran lelaki itu.
Sehun hanya ingin melindungi Jongin.
Ia telah menjadi saksi mata bagaimana Moonkyu terus merendahkan Jongin di samping semua tanggapan baik yang Jongin berikan pada Moonkyu. Sehun bahkan tidak habis pikir mengapa Jongin bisa memilki pengendalian emosi yang begitu tinggi. Jika ia berada dalam posisi Jongin, ia pasti sudah melempar Moonkyu ke neraka jauh sebelum lelaki itu sempat membela diri.
"Mungkin ingin menemuiku?" Sebuah suara tiba-tiba menyeruak di antara mereka.
Sehun memutar bola mata saat ia mendapati seseorang yang menjadi inti permasalahan ini telah berdiri di hadapan mereka. "Fuck off, Moonkyu."
Tidak mempedulikan ucapan kasar Sehun, Moonkyu justru semakin mendekat, memainkan jarinya di kerah kemeja Jongin. "Hey, kau terlihat menarik." Jemari Moonkyu berpindah ke dada, meraba otot Jongin dari balik kausnya dengan gerakan seduktif. "Merindukanku?"
Jongin mendengus sarkastik—seketika ingin memuntahkan sisa makan siangnya ke wajah lelaki itu
"Tidak." Jawab Jongin singkat.
"Kau yakin?"
"Ya. Sangat yakin."
Moonkyu menepuk dadanya pelan, salah satu tangannya yang bebas bergerak mendekati bagian bawah tubuh Jongin. "Don't play hard to get. Kau tahu tidak ada seorangpun yang mengingkanmu selain aku."
Jongin mengiggit lidah, keinginan untuk membanting tubuh lelaki itu ke tanah tertancap kuat di kepalan tangannya. Bahkan pada titik dimana Moonkyu terang-terangan sedang menggodanya, lelaki itu masih saja sempat menyisipkan kalimat untuk menjatuhkannya.
Namun, Jongin berupaya untuk menahan diri.
Rencananya sungguh jauh, jauh lebih besar dari ini.
Jongin yakin kesabarannya akan membuahkan hasil.
Jongin yakin kali ini ia dapat mengungkapkan semua kekesalannya kepada Moonkyu, mempermalukan lelaki itu sebagaimana dia memperlakukannya dulu. Ia hanya butuh sedikit bersabar, menunggu Kyungsoo untuk memulai pentas yang akan membuat Moonkyu menyesal telah mempermainkannya.
"Hey, jauhkan tangan kotormu dari kekasihku."
And, action.
Sehun dan Moonkyu yang berdiri di depan Jongin mengalihkan pandang, bola mata mereka mengikuti arah suara lain itu berasal.
Jongin menyeringai kecil melihat Kyungsoo yang perlahan menghampiri mereka sembari melemparkan tatapan menusuk ke arah Moonkyu. Disamping tinggi badan kedua lelaki itu yang berbeda, Kyungsoo sama sekali tidak merasa terintimidasi sedikitpun saat ia telah berdiri tepat di depan Moonkyu.
"Kau tuli atau bodoh?" Kyungsoo berdesis mengancam. "Aku bilang, jauhkan tangan kotormu dari kekasihku."
Jongin merangkul Kyungsoo ke dalam lengannya, mencoba terlihat seperti sedang berusaha meredam kecemburuan pura-pura lelaki itu dengan cara paling meyakinkan.
Menyaksikan itu, Moonkyu segera mengangkat tangan dari dada Jongin, ekspresi terkejutnya sudah cukup untuk membuat Jongin ingin mati tertawa.
"Ah, jadi ini penyebab kau begitu ceria ketika aku menghubungimu tempo hari?" Sehun menyela, kebahagiaan untuk sahabatnya yang berhasil berpindah hati terbesit di senyum lelaki itu.
Jongin mengangkat alis sebagai jawaban—walaupun sebenarnya tempo hari lalu suasana hatinya yang baik bukan disebabkan hal serupa. Jongin hanya menemukan suatu realisasi bahwa hidupnya jauh lebih lepas tanpa Moonkyu di sisinya.
Melupakan ketegangan yang terjadi, Sehun dan Jongin tidak menyadari kedua lelaki lainnya ternyata masih saling beradu pandang sengit, menghakimi satu sama lain lewat tatapan.
Kyungsoo mengerucutkan bibir sebal, tangannya yang semakin posesif menelusup ke pinggang Jongin lebih erat. "Who's this ugly boy-toy?"
Burn.
Moonkyu menggertakkan gigi, tidak menyukai julukan yang Kyungsoo berikan padanya. Lelaki itu bersiap untuk melayangkan satu pukulan ke rahang Kyungsoo, namun dengan sigap Jongin menangkisnya.
"Listen you pathetic little fucker," Jongin mencengkram wajah Moonkyu kuat agar pandangan lelaki itu tidak beralih selagi ia bicara, "jika kau merasa puas karena pernah mendapatkanku dan meraih ketenaran dari hubungan kita, maka selamat, aku tidak akan merebutnya."
Jongin mengambil nafas sejenak, matanya terasa panas karena amarah. "Tapi jika kau mengira semua hal yang telah kau lakukan padaku tidak akan menimbulkan dampak, oh kau salah besar, sayang." Ia menyeringai tipis. "Karena sekarang, di hadapan semua orang, aku bersumpah aku akan perlahan membongkar kenyataan bahwa kau tidak lebih dari sekedar virus yang harus segera dienyahkan."
Suasana di sekitar mereka berubah hening seketika tepat saat Jongin menyelesaikan kalimatnya. Irama musik hip-hop yang tadinya mendominasi, berganti dengan bisik samar dan mata melirik sinis ke arah Moonkyu.
"Oh, dan lihatlah kesini." Seru Jongin, kepalanya yang penuh emosi selalu memproduksi keputusan buruk—Jongin hafal betul itu. Tetapi ia membuktikan bahwa akal sehatnya telah kalah saat ia menarik Kyungsoo ke sampingnya. "Aku mendapatkan seseorang yang jauh lebih menarik darimu."
Kemudian tanpa aba-aba atau isyarat apapun, Jongin meraih dagu Kyungsoo, menyatukan bibir mereka pada satu ciuman yang ia pikir sedikit gila.
Dan ciuman yang Jongin pikir hanya akan setara kecupan ternyata berubah terlalu lama, terlalu nyaman, terlalu menghanyutkan, hingga ia terpaksa mengerutkan jarinya di sela rambut Kyungsoo untuk sekedar meminta dirinya sendiri berhenti.
Jongin dan Kyungsoo bersitatap, terhenyak dan kehabisan nafas—atau mungkin paru-paru mereka lupa cara bekerja.
Terdapat suatu kenyataan pekat yang menyelimuti, suatu pertanyaan yang bergantung di tenggorokan keduanya tentang; apa mungkin jatuh cinta bisa secepat ini?
Jongin berniat mencuri ciuman lagi—kali ini dengan kesiapan penuh untuk membiarkan seluruh organ tubuhnya yang lain lupa cara bekerja. Namun Moonkyu tiba-tiba menyerobot kasar di tengah mereka, meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa.
Jongin dan Kyungsoo meledak dalam tawa mendeteksi raut masam dari wajah lelaki itu.
Di sisi lain, Sehun justru sedang memindai mereka dengan tatapan penuh selidik. "Kalian benar memiliki hubungan?"
Jongin tahu Sehun menaruh curiga padanya.
Jongin tahu Sehun jelas dapat membedakan kapan dirinya tengah berbohong atau bertindak jujur.
Namun entah mengapa, Jongin memiliki firasat kuat ia tidak perlu mengoreksi apapun tentang hubungannya dengan Kyungsoo untuk saat ini.
Atau mungkin, dalam jangka waktu yang lebih panjang.
—oOo—
Jongin dan Kyungsoo tidak bisa berhenti tertawa.
Keduanya masih terus berdebat mengenai siapa yang lebih kejam melakukan pembalasan.
Kyungsoo bersikeras bahwa membakar 'properti' paling penting lelaki adalah tindakan paling kejam yang tidak bisa dikalahkan dan Jongin membantah bahwa sesuatu yang lebih penting dari 'properti' itu adalah harga diri.
"Jika harga diri seorang lelaki jatuh, maka setiap apa yang ada di dalam diri lelaki itu juga ikut jatuh." Jongin bersungut menanggapi argumen Kyungsoo.
Kyungsoo menggeleng cepat. "Seseorang bisa membangun harga diri berkali-kali, sedang Tuhan hanya memberimu satu penis seumur hidup."
"Kau melupakan penis buatan." Jongin masih keras kepala.
"Ya, dan kau melupakan prosedur panjang serta berapa harga yang harus dibayar untuk penis buatan."
"Ya, dan kau melupakan jika seseorang memiliki uang ia sudah pasti bisa mendapatkan penis buatan, namun belum tentu dengan harga diri."
"Ya, dan kau melupakan tingkat kecocokan antara benda imitasi dibanding yang asli." Kyungsoo bersandar menghadap Jongin. "Aku bicara tentang fleksibilitas," lelaki itu meliuk-liukan telunjuknya seperti cacing, "Elatisitas," kemudian membuat gerakan seperti sedang merenggangkan balon, "Fungsionalitas," lalu melingkarkan kepalan tangannya ke telunjuk sebelum menaik-turunkannya dengan cepat, "juga—"
"Oke, oke, aku mengerti." Jongin segera menghentikkan gerakan tangan Kyungsoo karena kepalanya mendadak pusing.
Kyungsoo tergelak puas. "Terima kekalahanmu, Kim."
Jongin membalas dengan terkikik, diikuti dengan Kyungsoo yang melakukan hal serupa, mengabaikan kernyit heran dari supir taksi yang melirik mereka lewat rear-view mirror serta sorot lampu-lampu gedung yang melesat di luar jendela.
Kemudian mereka kembali bicara.
Menduga apa yang kurang dari diri mereka hingga mereka harus mengecap pahit di hubungan asmara sebelumnya. Menerka apakah itu merupakan salah satu scene yang harus mereka lewati sebelum memasuki akhir cerita. Dan mengucapkan semoga—diam-diam,dalam hati mereka masing-masing sembari menahan pandangan pada sosok di hadapan satu sama lain.
Kyungsoo tidak mengerti apakah itu pengaruh panel pendingin yang diset dengan suhu tepat ataukah tatapan Jongin yang menariknya untuk mengutarakan, "Bagaimana rasanya memiliki kekasih sepertimu?"
Jongin berkedip sekali, dua kali, tiga kali, sebelum menjawab, "Bagaimana jika kita mencoba berkencan sebelum hari ini berganti?"
"Deal!" Pekik Kyungsoo tanpa ragu.
Keduanya tersenyum bersamaan, tidak menyadari bahwa genggaman tangan mereka semakin mengerat, atau fakta bahwa mereka belum melepasakannya semenjak meninggalkan Sehun tadi. Tidak juga menyadari bahwa Kyungsoo kini sedang berusaha menemukan kenyamanan di ceruk leher Jongin atau Jongin yang membalas dengan membenamkan hidungnya ke rambut Kyungsoo, mencoba mengecap harum khas lelaki itu.
"Ok. it's a date."
Dan tidak ada satupun dari mereka yang menyadari, sebuah pengharapan yang muncul dari lubuk masing-masing. Rentetan semoga yang lain—melengkapi semoga yang sebelumnya, termasuk pinta agar hari ini tidak cepat berakhir.
"Ya, it's a date."
Oh, tidak.
Mereka sama sekali tidak meyadarinya.
—oOo—
Kening Do Kyungsoo membentuk banyak lipatan selagi matanya bergulir meniti barisan nama asing yang tercetak pada buku menu di genggamannya. Ia mengerut beberapa kali, membaca dengan lebih seksama daftar yang tersaji dan menemukan dirinya tetap berjengit karena banyaknya istilah asing yang memusingkan kepala.
"Kau mengerti apa yang mereka sajikan?" tanya Kyungsoo kepada Jongin yang juga tenggelam di balik buku menunya sendiri.
"Nope." Ujar lelaki itu tanpa mengangkat pandangan. "Tidak satu katapun."
Kyungsoo mendesah putus asa. "Ini semua salahmu, Kim."
"Salahku?" Jongin menutup buku menunya seketika. "Kau sendiri yang menolak untuk makan di restoran cepat saji."
"Dan solusimu adalah membawaku ke restoran fusion dengan rentetan sajian aneh di buku menunya?"
"Apa kau memiliki saran yang lebih baik?"
"Well, ya. Jika kau tidak mengeluh lapar sepanjang perjalanan kesini tadi." Bantah Kyungsoo tidak mau kalah.
Jongin menggosok wajahnya frustasi, tidak mempercayai Kyungsoo akan meributkan pilihannya mengenai restoran Thai-Fusion tempat mereka duduk saat ini. Namun perutnya yang menjerit meminta asupan membuat Jongin lebih baik menyerah daripada memenangkan argumen.
"Ok, aku minta maaf." Tutur Jongin pasrah.
Lelaki di hadapannya tetap menggerutu, seolah tidak mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulutnya. Jongin mengamati Kyungsoo sejenak, menghafal setiap perubahan mimik lelaki itu, kemudian tertawa kecil karena hampir semua tindakan yang dia lakukan—bahkan pada saat kesal seperti ini selalu berhasil membuat hatinya memekik gemas.
"Baby," ujar Jongin akhirnya, mencoba peruntungannya dengan merayu Kyungsoo agar lelaki itu sedikit melunak, "kita tidak seharusnya bertengkar pada kencan pertama."
Dan sepertinya usaha Jongin sedikit membuahkan hasil. Karena ketika kalimat itu sampai di telinga Kyungsoo, bahu lelaki itu menegang, mengisyaratkan suatu bahasa tubuh yang tidak bisa Jongin terjemahkan.
"T—Tidak ada yang memanggil seseorang baby di kencan pertama." Kyungsoo membentak tidak suka, walaupun respon tubuhnya terlihat berkebalikan. "You're so weird, Kim." Lelaki itu kembali merenungi buku menunya. "As weird as this stupid food name."
Seringai kecil mengintip dari sudut bibir Jongin saat ia menangkap apa yang Kyungsoo coba sembunyikan. "Lalu kenapa kau bersemu?"
Kyungsoo tercekat, menutupi setengah wajahnya menggunakan buku menu sambil mengintip Jongin yang kini mencondongkan diri ke arahnya.
"Tidak ada matahari kali ini." Jongin menggoda, nada lelaki itu penuh sindiran tersirat. "Atau kau ingin menyalahkan penerangan , hm?"
Menyebalkan.
"I don't like you, Kim."
Kyungsoo memberi Jongin tatapan mematikan agar lelaki itu berhenti mempermalukannya. Tetapi Jongin justru terbahak keras tidak memberikan pilihan lain untuk Kyungsoo selain menendang kaki lelaki itu dari bawah meja.
"Just pick something and order already!" Sungut Kyungsoo gusar dengan harapan agar pikiran lelaki itu terdistraksi.
"Ok, baby." Jawab Jongin di tengah tawa yang masih tersisa.
Mereka berdua kembali berkutat dengan buku menunya—sambil sedikit menerka nama makanan yang sekiranya masuk dengan selera mereka. Jongin mengungkapkan teori agar Kyungsoo memilih sesuatu berbahan dasar ayam karena chicken is never wrong, baby tapi sifat keras kepala Kyungsoo justru membuatnya ingin menghindari jenis makanan itu sebab aku tidak mempercayaimu, Kim.
Tidak berapa lama kemudian, keduanya akhirnya menjatuhkan pilihan dan memutuskan untuk segera memesan.
Kyungsoo bersandar lelah begitu pelayan selesai mencatat pesanan mereka. Pandangannya berpaling ke Jongin yang juga sedang menatapnya. Lelaki itu tersenyum kecil, menumpukan dagu di kepalan tangan dan Kyungsoo gagal memahami apa yang sebenarnya sedang Jongin pikirkan.
Tetapi senyum Jongin ternyata berhasil meruntuhkan ketegangan sebelumnya.
Karena detik berikutnya, Kyungsoo beranjak dari kursi, lalu menempatkan diri di sebelah Jongin.
Itu sedikit aneh, menurut Kyungsoo, bagaimana Jongin refleks merangkulkan lengan ke bahunya tanpa adanya rasa ragu. Namun apa yang lebih aneh adalah reaksi kimia dalam tubuh Kyungsoo yang mendorongnya untuk bersarang di dada Jongin, menenggelamkan hidungnya ke tepian kemeja lelaki itu.
Ada sedikit bau matahari tercium dari tubuh Jongin, bercampur dengan sejumput aroma parfum Kyungsoo yang entah mengapa bisa tersisa di pakaian lelaki itu. Ia semakin menenggelamkan diri, jarinya mengetuk paha Jongin dalam suatu irama asal yang melantun di kepalanya.
Kyungsoo bukan seseorang yang menyukai keromantisan di muka umum. Ia juga bukan seorang perajuk yang membutuhkan banyak sentuhan dalam sebuah hubungan. Tetapi dengan Jongin—lelaki yang notabene baru ia kenal dalam hitungan jam, sebentuk perasaan begitu rakus bergumul menelisik debar jantungnya.
"Do you know that we all made of stardust, Kyungsoo?" celetuk Jongin tiba-tiba, telunjuknya berputar memilin rambut Kyungsoo.
Kyungsoo mendongak, tidak mempermasalahkan Jongin yang membunuh momen ini dengan topik yang lelaki itu angkat. Ia seakan sudah cukup mengenal Jongin untuk mengetahui bahwa lelaki itu sering mencetuskan sesuatu di luar pemikiran.
"Unsur yang ada di dalam tubuh kita—" Lanjut Jongin. "—Kalsium di gigi, Nitrogen dalam DNA, Zat Besi pada darah, bahkan Karbon yang paling banyak menyusun tubuh, adalah unsur-unsur yang hanya bisa dibentuk di tempat bertekanan tinggi dan sangat panas—inti bintang."
Jongin menunduk, menyulut percik menggelitik di perut Kyungsoo ketika hidung mereka tidak sengaja bersentuhan.
"Dengan kata lain, kita adalah bagian dari residu debu bintang ketika suatu Supernova terjadi." Jongin menambahkan dengan suara parau, sementara jarak di antara wajah mereka semakin menipis, hingga Kyungsoo menahan nafas, memejamkan mata, menunggu Jongin untuk—
"Pesanan anda, Tuan."
Sweet mother nature, of all times! Kyungsoo menggeram kesal.
Ia melirik sengit ke arah pelayan yang segera menelan ludah menyadari kesalahannya. Kyungsoo tidak menghitung berapa kali ia melayangkan tatapan serupa ke orang tidak berdosa hanya dalam satu hari ini.
Kontras dengannya, Jongin mengucapkan terimakasih seraya melepas rangkulannya dari pundak Kyungsoo. Lelaki itu tampak bersemangat mengambil sendok serta garpunya (Kyungsoo bahkan yakin Jongin sempat melompat kecil dari tempat duduk) ketika si pelayan selesai menyajikan makanan mereka.
"Shall we?" tanya Jongin berseri.
Lelaki ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan emosinya, Kyungsoo mencatat.
Berkat binar yang terpancar dari wajah Jongin (dibantu dengan rasa lapar dan syukur karena—setidaknya pelayan tadi tidak memiliki kesempatan untuk meracuni makanannya), Kyungsoo meraih peralatan makannya sendiri kemudian membalas, "Selamat makan."
Makanan mereka—secara mengejutkan ternyata luar biasa lezat.
Kyungsoo menggumam takjub pada suapan pertama. Di samping namanya yang memusingkan, Kaeng Phet Pet Yang pesanan Kyungsoo merupakan suatu pengalaman baru yang menyenangkan di lidahnya. Daging bebek panggang lembut disiram kuah kari bersantan kental serta bahan rempah beraroma pekat, mampu membuatnya meneteskan liur seketika.
Di sampingnya, Jongin seakan sudah melupakan dunia. Lelaki itu makan dengan lahap, mulutnya sibuk mengunyah Chicken Pad See Ew hingga pipinya penuh, tanpa mengambil jeda sekalipun untuk minum.
Merasa puas dengan makanan utama, Jongin menyarankan untuk memesan dessert dalam porsi besar.
"Masih ingin berargumen bahwa saranku buruk?" Jongin menyuapkan potongan kecil es krim ke mulut Kyungsoo, terkikik pelan karena mengetahui kemenangannya.
Kyungsoo tidak menjawab. Ia menolak suapan Jongin dan justru mengiggit jari lelaki itu.
Jongin mengaduh, sedang kaki telanjang mereka bermain di bawah meja, saling menendang kecil, memancing gelak yang membuat sekelompok orang di sekitar mereka menengok terganggu.
Mereka bahkan lupa bahwa kencan ini seharusnya hanya sebuah adegan fiktif yang direka-reka.
Seraya suapan demi suapan berganti, Jongin tidak bisa berhenti membicarakan topik mengenai tokoh dunia yang tidak Kyungsoo kenal sebelumnya.
Dan Do Kyungsoo—The Almighty Do Kyungsoo yang luar biasa lancang terhadap segala hal, menemukan dirinya diam tanpa membuat satupun komentar kasar. Antusiasme yang menari di mata Jongin membuatnya menetap, mendengarkan lelaki itu berceloteh riang tentang sesuatu yang ia pikir tidak akan pernah menarik minatnya.
"—maka dari itu aku bukan salah satu yang mengidolakan Edison. Beliau seperti seseorang yang gila paten dibanding Tesla. Seharusnya kita bisa menikmati listrik secara cuma-cuma. Apa kau pernah melihat Tesla-Coil sebelumnya, Kyungsoo? Bayangkan, Tesla bahkan bisa dengan tenangnya bekerja di bawah alat yang memancarkan arus listrik bervoltase tinggi pada medium udara seperti petir itu! Belum lagi—" Jongin menghentikan racauannya, menjilat bibirnya sendiri gugup sebelum melepaskan senyum timpang. "Kau bosan, ya?"
Kyungsoo segera membelalak dan menggeleng cepat. "Tidak, tidak!" Serunya setengah melengking. "Aku mendengarkanmu. Sungguh."
Jongin masih belum menghilangkan senyum kaku di wajahnya. "Semua anggota keluargaku berkecimpung dalam bidang fisika." Paparnya. "Aku bahkan memilki Hyung yang kini sedang menekuni ilmu fisika murni. Jika kau bertemu dengannya, kau akan tahu Hyung-ku jauh lebih gila."
Jongin berubah salah tingkah. "Ah, aku minta maaf jika pembicaraan ini terlampau membosankan." Tangan lelaki itu bekerja untuk membayar pesanan mereka sebelum kemudian beranjak cepat dari tempat duduk, tidak memberikan Kyungsoo kesempatan untuk bicara. "Kurasa sebaiknya kita pergi."
"Hey!" Kyungsoo berteriak panik menangkap situasi yang tiba-tiba berubah drastis. "Hey, Kim! Tunggu!" Ia tergopoh, berupaya mengejar Jongin yang berjalan terburu-buru.
Udara dingin segera menyergap Kyungsoo begitu ia tiba di pintu keluar restoran. Tetapi tatapan pedih yang Jongin layangkan ketika lelaki itu berbalik menghampirinya, jauh lebih membuatnya menggigil.
"Itu semua benar, kau tahu—" Jongin berkata lirih, memancing setengah alis Kyungsoo naik karena ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang Jongin ungkapkan. "Tentang Moonkyu yang mengatakan bahwa aku membosankan, aneh dan sebagainya. Itu semua benar."
"Oh, astaga. Lalu kau kira pendapatku akan sama seperti itu?" Bantah Kyungsoo.
Jongin terperangah. "Kau tidak mengaggapku—"
"Bagaimana dengan evaluasi?" Potong Kyungsoo cepat. "Kencan ini seharusnya untuk menunjukkan apakah kita merupakan pribadi yang layak untuk dijadikan kekasih atau tidak, bukan?"
Jongin mematung di tempat, masih belum bisa menyerap kata-kata Kyungsoo.
"Baik, biar aku yang memulai." Kata Kyungsoo sambil membetulkan posisi jaket yang menggantung di lengannya. "Menurutku, kau tampan."
Sekilas kejut terbesit di mata Jongin. Lelaki itu terlihat canggung, kedua bahunya terangkat naik sementara kakinya menggambar pola tidak jelas di tanah. "Oh, ya?"
"Yup." Kyungsoo membalas yakin, sedikit lega karena setidaknya ia sudah bisa menenangkan Jongin dari opini buruk yang mungkin menghantui lelaki itu selama ini. "Dan kau memiliki tawa yang menyenangkan, kau rendah hati, kau pendengar yang baik, juga penuh perhatian—tetapi tolong catat, aku bukan wanita jadi kau seharusnya tidak perlu membukakan pintu taksi untukku."
Dengan pernyataan itu, Jongin melepaskan sengal malu. Kyungsoo bisa merasakan kepercayaan diri lelaki itu meningkat, menyibakkan tirai bagi kepribadian aslinya yang cerah untuk keluar dari sangkar.
"Oh, satu lagi." Sambung Kyungsoo.
Ia mengambil beberapa langkah mendekat ke Jongin, salah satu tangannya memegang bahu Jongin sebagai tumpuan selagi ia berjinjit menyejajarkan bibirnya ke telinga lelaki itu. "I think nerd is the new kind of sexy."
Wajah lelaki di hadapannya berubah merah padam hingga Kyungsoo tidak bisa menahan untuk menghentikan rayuannya.
"Lagipula siapa lagi orang di dunia ini yang memiliki otak cemerlang disamping kemampuan menari yang luar biasa sepertimu?" Kyungsoo menusuk perut Jongin menggunakan siku. "Trust me, Kim. You're smokin' hot."
"And you're talking nonsense." Jongin menggamit leher Kyungsoo, menceckik lelaki itu pelan menggunakan lengan. "Giliranku?"
Kyungsoo menggumam membenarkan.
"Ok. Jadi, um… menurutku, kau pemberani. Kau berani mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalamu tanpa pikir panjang, walaupun itu bisa berubah buruk—kurasa, tergantung situasi. Kau juga menarik, sangat menarik jika aku boleh jujur. But you're insane and your joke is dumb as—"
"Excuse me, in my defense 'knock-knock'—'who's there?'—'Howie'—'Howie who?'—'Howie gonna hide this body' is hilarious!" Sergah Kyungsoo tidak terima.
Jongin hanya tergelak, perasaan bahagia begitu padat bertumpu di pusat dadanya, mematri lekang yang seakan telah lama ada di sana.
Langkah Kyungsoo dan Jongin mendadak terhenti, begitu juga dengan lebur tawa mereka ketika mata keduanya melihat sebuah menara jam dari kejauhan.
Lima menit menuju tengah malam.
Janji mereka untuk melakukan kencan pura-pura ini tidak akan lagi berlaku ketika hari telah berganti.
Kecanggungan mendadak begitu menyesakkan. Jongin melepas tangannya perlahan, sedang Kyungsoo berputar menghadap Jongin, memandang lelaki itu lekat-lekat lewat lensa matanya.
Kyungsoo tidak ingin ini berakhir.
Karena ia yakin ia telah jatuh cinta.
Mungkin bukan tipikal cinta posesif seperti aku mencintaimu dan ingin hidup bersama denganmu selamanya tetapi lebih kepada tipikal cinta lugu yang menghasilkan gemericik rindu pada salam perpisahan serta aku ingin melihatmu besok pagi, dan besoknya, dan lusa kemudian, dan seterusnya.
"Kyungsoo?" Jongin menarik dagunya lembut hingga pandangan mereka saling bersambut. Mata lelaki itu tampak sangat dalam, gelap, menghanyutkan, seolah ingin menyuarakan permasalahan bisu yang menggaung dari kepalanya. "Kau—Kau lupa untuk menilai satu hal."
Jongin mengambil nafas pendek. "Am I a good kisser?"
Itu hanya dibuat-buat.
Oh, Kyungsoo tahu jelas itu hanya alasan yang dibuat-buat.
Tetapi irama jantung yang begitu nyaring sampai ke telinga Kyungsoo, memaksanya untuk menyahut, "Ak—Aku sudah lupa."
"Haruskah aku mengingatkanmu?"
Kalimat itu memang diutarakan begitu singkat namun sarat akan hasrat yang mengendap, merayapi malam menjadi suatu melodi kabur.
"Kurasa."
Jongin tidak perlu mempertimbangkan dua kali untuk meraih tengkuk Kyungsoo, mempertemukan bibir mereka dalam suatu ciuman yang menimbulkan gelora panas di tiap sel tubuh mereka. Bibir bawah Kyungsoo menelusup di antara bibir Jongin; basah, hangat dan putus asa. Kaki Kyungsoo bergetar hebat, berusaha menopang tubuhnya yang serasa meleleh.
Tepat ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam, di tengah jarak yang lambat laun merenggang, juga desah nafas Kyungsoo yang parau, ia berbisik. "Yes, you're a good kisser."
Pernyataan itu seakan menutup setiap pertanyaan lain bahwa bukan, hubungan mereka yang terdahulu gagal bukan karena kesalahan di diri mereka masing-masing.
"So," Jongin menunduk, senyum pahit yang terlalu dipaksakan terukir di bibirnya. "I guess this is it, huh?"
"Yeah, I—I guess." Kyungsoo berdeham kecil karena suaranya terdengar serak. Ia meloloskan tawa sumbang sebelum melanjutkan, "Suatu keberuntungan bisa bertemu denganmu."
Jongin mengangguk-angguk bimbang, sepatunya mengetuk jalan dengan tempo tidak beraturan. "Ya, aku juga."
"Bye, Kim." Tukas Kyungsoo segera, kesedihan bergumul di pelupuk matanya.
"Yeah… bye."
Kyungsoo berbalik meninggalkan Jongin terlebih dahulu.
Ia merasa seolah sedang terperangkap dalam suatu cerita dongeng. Dimana dentang jam dua belas memisahkan dua insan yang seharusnya tertakdir—atau bagaimana keyakinan Kyungsoo berkata bahwa ia dan Jongin memiliki ikatan seperti itu, menuju jalan mereka masing-masing seperti saat mereka belum bertemu.
Mungkin perbedaannya, pada kisah ini, sang pangeran tidak akan mencari ke seluruh penjuru negeri hanya untuk menemukannya kembali.
Kyungsoo tertawa pahit.
Ia meneruskan langkahnya semakin jauh, berusaha menghilangkan berat yang menggelayuti hati dan pikirannya. Pandangannya kini beredar untuk mencari taksi, tujuan satu-satunya yang terlintas dalam kepalanya adalah; pulang.
Kyungsoo ingin terlelap.
Tubuhnya begitu lelah menampung beragam emosi.
Hanya dalam satu hari, Kyungsoo telah mencicipi sakitnya patah hati, kepuasan dalam pembalasan, gelitik perasaan kepada seseorang yang sepenuhnya asing, hingga manisnya jatuh cinta lagi.
Namun—sayangnya, setiap dongeng memiliki akhir. Lalu—sialnya, dongeng Kyungsoo bukan salah satu kisah yang berakhir bahagia.
Kyungsoo mendesah. Tangannya tengah melambai untuk menghentikan taksi ketika ia tidak sengaja menangkap bayangan seorang lelaki yang berada tidak jauh darinya. Lelaki itu terengah, kedua tangannya bertumpu di lutut, dan beberapa tetes peluh membasahi keningnya.
Apa yang bisa Kyungsoo tangkap selanjutnya adalah teriakan menggema yang ditujukan kepadanya.
"How about a second date?"
"Oh, thank God. Yes!" Kyungsoo berlari cepat menghampiri Jongin. "Freaking yes."
Ia memeluk Jongin sekuat tenaga seraya terus merapalkan 'oh, thank God, thank God' dari dalam mulutnya.
43.200 detik.
Do Kyungsoo mendapatkan kejutannya setelah 43.200 detik dalam wujud seorang lelaki yang memahaminya hanya dalam hitungan jam dan Kyungsoo tidak memusingkan angka lain yang harus ia tempuh untuk sampai kepada ke titik ini.
Sementara di pelukannya, Jongin tertawa sambil terus menghujani puncak kepalanya dengan kecupan, meyakinkannya bahwa perasaannya kali ini berbalas dengan sempurna.
Sangat sempurna.
"Aku akan memberikanmu satu saran yang berguna agar terhindar dari patah hati." Jongin tiba-tiba berucap. "Walaupun ini akan terdengar bodoh karena si pembuat saran sendiri telah melanggarnya."
Lelaki itu mengusap pipi Kyungsoo lembut, tersenyum kecil seakan kalimat yang keluar setelah ini adalah sesuatu yang paling konyol. "Jangan jatuh cinta."
Kyungsoo tergelak geli karena pernyataan cinta tidak langsung Jongin. Ia melingkarkan lengannya ke leher lelaki itu, menyandarkan kening mereka lebih dekat lagi.
"Too late." Balas Kyungsoo, ia sekarang mengerti mengapa hubungan asmaranya tidak pernah berhasil sebelumnya. "I've already fallen."
Karena ketika Kyungsoo kembali mencium Jongin, bibir lelaki itu tidak tercecap seperti penyesalan.
Melainkan harapan serta kepastian.
Jadi, Kyungsoo membiarkan dirinya terhasut, mengizinkan sihir cinta untuk kembali bekerja mempengaruhinya.
Untuk yang terakhir kali.
END OF CHAPTER SIX
.
Author's Note :
PLEASE READ!
WELL, THAT WASN'T GOOD.
Entah kenapa engga bias nulis akhir-akhir ini, mungkin sedikit stress karena skripsi, so yeah. (Oh, and sorry for the dick-talk, HAHAHAHA)
Seharusnya, ini diakhiri sama epilogue. Cuma karena aku bener-bener lagi gabisa nulis banget, jadi aku minta maaf banget untuk sementara biar Kaleidoscope-nya sampe sini dulu :((
I DECIDED TO GO ON INDEFINITE HIATUS
Aku gabisa mastiin bakal balik nulis lagi kapan, cuma tenang aja aku tetep bakal balik karena ada satu FF yang udah jadi setengah dan rasanya sayang banget kalo ga dilanjutin.
JADI, UNTUK SEMENTARA TERIMAKASIH UDAH BACA SAMPAI CHAPTER INI. TERIMAKASIH SEKALI UDAH BACA TIAP CERITA WALAUPUN ITU BUKAN OTP KALIAN. (Your reviews are so cute m'sobbing). MAAF SEKALI AKU BELUM BISA NGASIH YANG TERBAIK HUHUHUHUHUHU. I AM A BAD AUTHOR I'M AWARE OF THAT.
If you don't mind please follow me on twitter the username is kaishocks
I'D REALLY LOVE TO CHAT. AND PLEASE GREET ME FIRST, I DUNNOT BITE I SWEAR ON JOONMYEON'S CHOCOLATE ABS. Just ask me for follow back, genuinely don't mind :'
(omg I'm so emotional rn, dammit period!)
Last but not least; I LOVE YOU ALL SO MUCH. AS MUCH AS KAI LOVES CHICKEN AND HIS SOOSOO HYUNG.
Review, saran, kritik, sangat teramat diapresiasi.
XOXO
―Red Sherry―
