Cinta yang Terlambat...
(GS Version from 'Cinta di Ambang Keterlambatan' in Captain Tsubasa Fandom)
By : Yuri Misaki
Disclaimer: All of charas in Gundam Seed belongs to Sunrise
Seven...
"Ehem, daritadi ngelamun terus. Ngelamunin apa sih?"
"Eh..ah... eh, bukan apa-apa..," Lacus tergeragap dan tersadar dari lamunannya yang cukup panjang itu.
"Ah masa'...," Kira langsung menggoda gadis itu sambil menjawil pipinya gemas .
"Iya, bukan apa-apa Kira, aku hanya membayangkan kita waktu dulu, " jawab Lacus malu-malu dan membuat wajahnya yang putih merona merah.
"Jadi, apa jawabanmu?"
"Eh, jawaban apa?"
"Pertanyaanku yang tadi itu lho..kau mau memaafkanku tidak?"
Lacus tersenyum, kini, ia sudah mendapatkan jawabannya.
"Seharusnya aku yang minta maaf Kira...," ujarnya lembut.
"Loh? Kenapa?"
"Karena aku tidak memercayaimu sebagaimana aku memercayai Athrun"
Kira langsung menelan ludah, "Yah..kalau dipikir-pikir dia memang lebih perhatian padamu daripada aku kan? Sebagaimana yang kau lihat di six sence-mu itu"
Lacus tersenyum, dipegangnya bahu pemuda itu erat sehingga memunculkan rona merah di wajah Kira.
"Tapi aku salah, " katanya, "Karena yang bisa memberikan apa yang aku inginkan, cuma kamu," jawabnya sambil tersenyum manis dan membuat Kira semakin blushing saja.
Kira kembali tersenyum, "Oh, ya, ada sesuatu untukmu," Kira pun langsung mengodok-ngodok tas kecilnya dan mengeluarkan dua bungkusan.
"Yang ini kubeli bersama Cagalli," ujarnya sambil mengeluarkan notes bergambar eiffel itu,
"Dan yang satu ini kubeli spesial untukmu, aku harap kau mau menerimanya, " tahu-tahu Kira
membuka sebuahkotak kecil beludru berwarna dusty pink yang lembut dan ada cincin perak
bergambar hati yang bertengger manis di dalamnya. Kira pun memakaikannya di jari manis Lacus
yang lentik.
"Ki-Kira ini—"
"Ini tanda kalau aku benar-benar menyayangimu Lacus," potong Kira.
Tes!
Tetesan air mata haru Lacus jatuh pada cincin itu. Lacus langsung memeluk Kira dengan erat.
"Terimakasih Kira.."
"Aku mencintaimu Lacus, benar-benar mencintaimu"
"Tanpa kau beritahu juga aku pun sudah tahu itu"
"Tidak Lacus, aku harus mengatakannya padamu. Aku takut aku takkan pernah bisa lagi mengatakannya"
"Aah Kira..," tiba-tiba saja Lacus merajuk manja, "Sejak kapan kau jadi romantis seperti ini?"
Kira langsung blushing, "Mungkin sejak aku cemburu pada Athrun karena dia lebih bisa menyayangimu, barangkali"
Lacus menarik seulas senyum di bibir mungilnya sedangkan Kira mulai mendekatkan wajahnya pada
gadis cantik itu. Perlahan, ia mengelus rambut sang gadis dan menaruh nya di balik telinga dan dan
kemudian mendekatkan wajahnya lagi seraya menatap matanya lekat.
Pandangan mereka menyatu.
Violet dan biru muda.
Lacus pun langsung menutup matanya ketika menyadari napas Kira yang terasa amat dekat.
Dalam pelukan itu, bibir mereka berdua pun menyatu, tak peduli dengan ramainya cafe dan
pandangan orang-orang terhadap mereka, tak peduli lagi dengan butir-butir salju yang semakin deras, tak peduli lagi dengan udara dingin yang semakin menusuk.
Waktu pun seolah berhenti berputar, seolah hanya milik mereka berdua saja. Tak kurang tak
lebih.
"Sudah malam, " ujar Kira setelah mengakhiri ciumannya, "Akan kuantar kau pulang. Pakai lagi
mantelmu, aku mau beli tiramissu dulu buat di rumah," sahutnya sambil melangkah ke arah kasir.
Lacus pun segera memakai mantelnya dan membereskan barangnya sambil menunggu Kira yang
masih mengantri. Dan...
Teng!
Tiba-tiba saja kepala Lacus pening dan langsung memunculkan berbagai ilusi. Ilusi yang benar-
benar menyeramkan sampai-sampai membuat tubuh Lacus lemas. Wajahnya pun langsung pucat
seketika.
"Lacus, kamu kenapa? Kok pucat begitu? Kedinginan ya?" tahu-tahu suara Kira yang bertanya
tadi sukses membuyarkan ilusi tadi.
"Eh..ah..masa' sih? Sudah ah, ayo pulang!" Lacus langsung menarik lengan lelaki itu menuju
motornya yang terparkir di luar.
'Semoga yang tadi hanyalah ilusi biasa saja...'
...
"Nah, sudah sampai, aku pulang dulu ya"
"Ah, iya..terimakasih banyak Kira untuk..," jeda sesaat, "semuanya"
Kira tersenyum, "Sama-sama"
"Oh, ya Kira..," mendadak Lacus teringat dengan ilusi menyeramkannya tadi.
"Hn? Ada apa Lacus?"
"Ehm..hati-hati di jalan," entah mengapa malah kalimat itu yang terlontar dari bibirnya.
Kira mengangguk, "Aku pulang dulu, selamat malam, Lacus!" dan ia pun melesat pergi dengan
motornya.
Lacus melambaikan tangan dengan dihantui perasaan cemas, namun ia segera memasuki rumahnya
dan mencoba untuk tetap tenang.
'Tuhan..semoga ilusi tadi tidak akan benar-benar terjadi pada Kira...'
...
Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, gadis itu belum juga tertidur. Ia tengah asyik menyesap honey lime tea hangatnya sambil mengganti-ganti channel tv yang ada dengan perasaan cemas.
Tiba-tiba saja pandangan matanya tertumbuk pada suatu berita yang mengabarkan adanya kecelakaan lalu lintas antara motor dengan mobil yang menyebabkan pengendara motor itu meninggal akibat terpental saat bertabrakan dengan mobil itu. Gadis itu pun langsung memerhatikan dengan cermat saat kamera tv mulai mengambil gambar lelaki yang sudah tergeletak tak bernyawa dengan darah yang berlumuran pada kepalanya itu.
"Ti-tidak mungkin..," ujarnya sambil berusaha menahan air matanya. Pasalnya, apa yang ia lihat sekarang benar-benar persis dengan ilusi yang ia dapatkan tadi.
'Orang yang mempunyai six sence itu artinya dia bisa melihat sesuatu yang akan datang nanti'
"Aku mencintaimu Lacus, benar-benar mencintaimu"
"Tanpa kau beritahu juga aku pun sudah tahu itu"
"Tidak Lacus, aku harus mengatakannya padamu. Aku takut aku takkan pernah bisa lagi mengatakannya"
Dadanya benar-benar remuk sekarang. Hatinya pun hancur lebur, berkeping-keping. Sesak! Ia terlalu sesak untuk mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Pertahanannya pun bobol seketika, air mata langsung membanjiri pipi putihnya.
Seandainya saja, seandainya saja ia tahu ilusi tadi adalah six sence yang didapatnya, ia akan berusaha sekuat mungkin untuk menghentikannya.
Seandainya saja waktu bisa diputar, meskipun ia harus menukarkan nyawanya pun, ia takkan ragu untuk melakukannya.
Demi bisa menghabiskan waktu bersama lelaki itu selamanya. Selamanya.
"Kira...kenapa bisa begini?"
...
Aaa.. sad ending... :'( Akhirnya selesai juga fic ini. Makasih buat semua yang udah baca baik itu yang udah review ataupun silent readers, makasih banget untuk semuanya.
Kritik dan sarannya ditunggu yaa
Salam
Yuri Misaki
