CHAPTER SEBELUMNYA
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sasuke khawatir. Dia terjongkok di depanku dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Bukan urusanmu!" ujarku judes. Aku palingkan wajahku dari tatapan mengerikannya itu. Tanganku masih saja memeluk perutku. Ya ampun, pukulan Sai benar-benar di luar dugaan. Rasanya kayak habis dikocok-kocok dalam blender saking mualnya. Dan sakitnya tuh kayak habis ketiban apa gitu. Intinya sakit aja.
"Kau suka pada gadis itu?" katanya setengah berbisik.
LOVE IS ABNORMAL
AUTHOR : Miko Yuuki
CAST: SasuSaku, Ino, Sai, dll
RATE : T semi M (sedikit unsur yaoi)
GENRE : Romance, friendship
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO.
WARNING: Alur muter2, TYPO, OOC, AU, gak sesuai EYD!?
"Terserah kamu mau berpikir apa pun. Perut aku masih sakit tau!" bilangku kesel. Hening. Aku lihat Kibum. YA TUHAN! Kenapa dia dekat sekali.
"HEH, SASUKE! Menjauh dari hadapanku!" bentakku emosi. Dia tetap teguh menatapku dengan jarak yang SANGAT dekat. Aku merasakan ada sesuatu yang mengenai perutku. WAAAA!
"SASUKE! JAUHKAN TANGANMU DARI PERUTKU! ATAU KAU…"
"DIAM! Aku tidak menyentuhmu langsung kan. Tenang sebentar," ujar Sasuke agak membentak. Ya ampun, sejak kapan dia mulai berani marah sama aku? Baiklah, memang sih dia nggak nyentuh perutku langsung, hanya dari luar pakaian. Tapi, tetap saja. Hiks, masa aku harus mensucikan diri lagi sih T.T
"Akh, tapi, Sasuke …" Aku gelagapan bingung harus berbuat apa. Mau nyentuh, nggak berani. Tapi aku masih ingin menjaga harga diri. Hei, Sakura, kenapa pikiranmu jadi kemana-mana sih?
Dia pejamkan matanya. Ini bocah mau ngapain sih? Aku perhatikan wajahnya. Sesuatu sepertinya rasakan dari tangan Sasuke yang menyentuh perutku (secara tidak langsung). Hawa dingin terasa mengenai perutku, menembus ke dalam lambung. Entah apa yang dia lakukan, namun perlahan tapi pasti perutku berangsur pulih.
"Fiuh…" dia hembuskan napas lega sambil menarik tangannya.
"Bagaimana kau bisa melakukannya?" kataku terkesiap.
"Aku juga tidak tahu," serunya sambil mengangkat bahu.
"Apa kau itu seorang ahli penyembuhan?" tanyaku penasaran.
"Aku rasa bukan."
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Kepalaku tidak sakit. Jadi itu tidak mungkin." Apa jangan-jangan dia punya kekuatan supranatural? Bisa jadi dia orang yang dapat kehidupan kedua, sehingga dia punya kekuatan penyembuhan. Makanya dia juga bisa hilang ingatan. Ah, itu kan hanya dongeng. Mana mungkin bisa ada di dunia nyata.
"Jadi… kau benar-benar suka pada gadis yang tadi?" tanyanya lagi. Cih, haruskah dia mengungkit-ungkit kejadian tadi?
"Heh, ya dulunya," kataku lemas. Kayaknya emang percuma menutupi semua ini dari dia. Pada akhirnya dia bakal tau. Aku pun ceritakan mengenai hubunganku dengan Ino dulunya.
"Kau mungkin bisa sebut aku aneh. Tapi kalau kau berada di posisiku, kau pasti akan mengerti," kataku di akhir cerita.
"Ah, begitu ya," ucapnya penuh pengertian. " Bagaimana rasanya menyukai sesama jenis?"
"Menurutmu saat kau menyukai lawan jenis bagaimana rasanya? Tentu saja sama rasanya seperti cinta yang biasanya. Hanya beda orang yang dicintai." Sasuke menangguk kepala mengerti. Tiba-tiba dia berdiri, berjalan perlahan ke arah balkon, dan membuka pintu balkon. Angin lembut masuk kedalam ruangan meniup rambut dan pakaiannya.
"Segala pilihan yang dipilihkan Tuhan adalah pilihan yang terbaik…"ucapnya. "Meskipun terkadang terlihat tidak adil, tapi suatu saat kita pasti akan sadar kalau memang inilah yang terbaik untuk kita…" Sebisa mungkin aku cerna dan pahami kata-katanya itu. Dia tengokan kepalanya ke arahku.
"Aku yakin, kodrat manusia sebagai pencinta lawan jenis memang takdir yang terbaik. Entah apa jadinya kalau semua manusia mencintai sesama jenis. Mungkin—laki-laki dan perempuan tak bisa hidup bersama… Aku mohon jangan tersinggung."
WUUUSS
Angin cukup besar menerpa tubuhnya. Aku makin terkesiap oleh kata-katanya. Apa aku salah menyukai sesama jenis? Tidak bisakah cinta melawan takdir? Bukankah segalanya diperbolehkan dalam cinta? Bukankah sesuatu dianggap normal karena mayoritas orang melakukannya?
Aku bingung sendiri. Aku jadi tidak mengerti akan cara pikirku sendiri. Dulu, sebelum aku bertemu Sasuke, aku rasa menyukai sesama jenis adalah hal biasa. Namun sekarang….aku bingung pada pola pikirku sendiri…
"Masuk ke kamarmu dan biarkan aku sendiri," perintahku. Sasuke diam sesaat, tapi akhirnya dia pun pergi meninggalkanku.
Apa yang salah? APA…?
Author POV
Malam harinya, lagi-lagi Sasuke tidur dengan gelisah. Bahkan makin memburuk.
"ARGHH! Akh…! Ck ah… Shit!" begitu suara kegelisahannya. Di alam bawah sadarnya, dia terus membolak-balikkan tubuhnya tidak tenang. Tubuhnya terus bergerak tak bisa diam. Matanya tertutup sangat rapat hingga membuat dahinya mengkerut. Rasa seperti terbakar menjalar kedalam punggungnya. Amat pedih yang dirasa Kibum hingga dia tak berani tidur terlentang.
"Pwah! Hosh hosh hosh…" Sasuke tersadar dari mimpi dengan napas yang tak beraturan. Saat sadar, rasa bakaran itu telah hilang. Keringat menetes dari wajahnya karena terlalu banyak bergerak.
"Mimpi itu lagi…" katanya limbung. Teringat, dia bermimpi dikerubuni api. Bukan api sembarangan. Melainkan api yang maha dasyat yang tak terbayang. Benar-benar menakutkan.
"Ayolah, Sasuke! Ingat sesuatu," ujar Sasuke gelisah sambil meremas rambutnya. Dia pejamkan mata berusaha menuju pelosok memorinya. Nihil…
"AAARRGGHHH!" teriaknya frustasi. Sepertinya malam ini, dia tak akan bisa tidur.
Sasuke's POV
"Hoaamm…" Aku keluar dari kamarku sambil mengucek mataku. Semalam aku nggak bisa tidur. Gara-gara mimpi aneh itu lagi. Aish! Ada apa sih dengan kepala aku? Sampai kapan aku amnesia seperti ini?
Ya sudah. Lebih baik aku mandi dulu. Akan aku tenangkan pikiranku. Aku cari-cari pakaian yang sekiranya Sakura siapkan. Saat menemukannya, aku langsung berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi. Aku celingukan melihat ke sekeliling. Tunggu dulu. Ada yang aneh di sini. Biasanya di lantai bawah suka ribut-ribut orang masak kan. Tapi kenapa di sini sepi. Jangan-jangan—SAKURA DI MANA?
Aku berlari ke arah pintu kamarnya.
Tok tok tok
"Sakura, kau ada di dalam?" tanyaku di ambang pintu. Tak ada jawaban. Aku ketuk lagi pintunya. Tetap tak ada jawaban. Aku gerakan kenok pintunya. Tidak terkunci? Pintu ku buka perlahan.
"Sakura…" panggilku perlahan. Lho? Tidak ada? Aku periksa seluruh ruangan. Tidak ada juga. Aku turun ke lantai satu.
"Sakura. Nona Sakura tidak ada?! Di mana dia? Diculik? Tidak mungkin? Pergi kemana dia? Aku berlari ke arah pintu utama. Terkunci. Biasanya, kalau bukan malam hari Sakura tidak pernah mengunci pintunya. Iya, aku ingat sekali. Bagaimana ini? Aku harus cari Sakura. Firasatku tidak enak.
Aku cari-cari pintu yang tidak terkunci. Terkunci semua! Jendela juga sulit di buka. Oh shit, bagaimana aku bisa keluar dari sini.
Eh, aku belum periksa pintu balkon. Semoga pintunya tidak di kunci. Aku berlari menaiki tangga menuju lantai 2. Cepat-cepat aku menuju pintu balkon.
Cklek
Terbuka! Aku berjalan keluar balkon. Cuman ini jalan keluar. Aku harus melompati balkon. Aku naikan dulu kakiku ke atas pagar balkon. Tangan mencengkram pagar balkon kuat-kuat.
Oke. Satu, dua, tiga LOMPAT!
Hap
Berhasil! Aku berlari keluar halaman rumah. Aku berlari ke sana kemari mencari satu-satunya sosok gadis yang aku kenal saat ini.
"Sakura! Nona Saakkkuuurrraaa!" panggilku di sepanjang jalan. Aku berusaha bertanya pada orang-orang yang aku temui. Sayangnya percuma.
BRESSS
Sial! Hujan. Deras sekali. Bagaimana ini? Aku harus cari tempat berteduh. Tapi di mana?
Aku percepat lariku. Berjam-jam aku mencari Sakura. Tapi dia tidak ditemukan. Hujan membuat jarak pandangku memendek. Kalau begini, bagaimana aku bisa menemukan Sakura?
"Ino, please! Maafkan aku. Aku tak akan beranjak dari sini sampai kau keluar!" teriak seseorang yang suarannya sangat aku kenal. Itu suara Sakura. Di mana gadis itu? Mana?
"Kalau kau tidak keluar. Aku akan akhiri hidupku sekarang juga!" teriaknya lagi. APA? Gadis itu sudah gila apa? Dia masih memikirkan mantan kekasihnya. Di mana sih gadis itu? Kenapa tidak kelihatan?
"Aku hitung sampai 5. Kalau kau tidak keluar akan aku iris nadiku," teriak Sakura lagi.WHAATT!
"Sakura. Kau di mana?" teriakku.
"Satu…" Sial, apa dia tidak mendengarku. Atau pura-pura tidak mendengarku?
"Dua…" Sakura. Jangan lakukan!
"Tiga…" Hentikan!
"Empat…" Tunggu, aku melihatnya! Itu Sakura. Ya, terlihat. Tampak dia sedang memegang pisau dan mendekatkan ujungnya dengan pergelangannya. GAWAT!
"LIMA!"
"SAKURA! HENTIKAN!" pekikku sambil berlari sekencang-kencangnya. Dia terkejut melihat kedatanganku. Sebelum sempat pisau itu mengenai pergelangannya, aku langsung menggenggam mata pisau itu dan mencengkram lengan atas satunya yang terhalang lengan baju.
"ARGH!" rintihku saat mata pisau itu melukai telapak tangan kiriku. Darah mengucur cukup deras dari tanganku.
"BAKA! Apa yang kau lakukan di sini? Jangan campuri urusanku. Biar aku yang selesaikan masalahku sendiri!" bentak Sakura.
"Dan membiarkanmu mati konyol seperti ini? Dasar gila!" Aku ikut-ikutan membentak.
"Iya, aku emang gila. Dan aku makin gila sejak kau masuk ke dalam hidupku!"
"Sakura dengarkan aku. Tinggalkan dia. Percuma kau kejar dia. Dia bukan orang yang dalam jangkauanmu akan cinta. Dia hanya bisa jadi sahabatmu." Darah masih mengalir dari telapakku. Sebisa mungkin aku tahan sakit yang aku rasakan. Guyuran hujan dan terpaan angin terus mengenai tubuh kami.
"Tapi…aku cinta padanya Sasuke. Sangat!" ucapnya lirih. Meski hujan, aku dapat melihat ada setitik air mata yang keluar dari matanya.
"Kalau kau benar cinta padanya. Biarkan dia bahagia dengan orang yang dicintainya…"
"Hiks… hiks… begitukah?" Baru kali ini aku melihat Sakura begitu rapuh, tidak sekasar biasanya.
"Iya. Jadi lepaskan pisau itu ya. Lalu kita pulang ke rumah."
"Ng…"
TRANG
Dia lepaskan pisaunya. Darah makin banyak keluar dari tanganku.
"Arrggghh…" rintihku kesakitan.
"Sasuke, tanganmu?"
"Tak apa. Nanti juga sembuh."
"Tapi darahmu keluar banyak sekali."
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita cepat pulang, biar aku juga bisa menutup luka tanganku ini." Aku berusaha bersikap tenang. Meski sakit, tapi aku yakin tak sesakit hatinya.
"Akh…" rintih Sakura tiba-tiba sambil memegang kepalanya.
"Sakura. Kau tak apa?"
"Pusing…"
GEBRUK
Dia terjatuh pingsan dalam pelukanku.
"Astaga! Sakura. Sadarlah!" seruku sambil mengguncang tubuhnya.
TBC
Mine to Review Please!?
