"Pelarian"
Remake Story by Astrella
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Others
[Chanbaek]
.
.
.
.
.
.
Putri Baekhyun begitu marah saat mengetahui Ayahnya Yang Mulia Raja Kyuhyun menjodohkannya dengan pemuda yang tak pernah di kenalnya. Dengan kekesalan hati akhirnya sang tuan putri melarikan diri dari istananya yang serba mewah. Namun siapa sangka, perjalanannya malah terdampar di kastil sang tunangan. Chanyeol. Dengan berpura-pura sebagai gadis yang kehilangan ingatan, sang putri akhirnya memulai petualangannya dengan riang. Ternyata kebebasan di luar istana begitu memikatnya. Alam bebas, pohon-pohon, kicau burung dan padang rumput mengiringi kisah cinta sang putri yang biasanya penat oleh tugas-tugasnya sebagai putri mahkota.
.
.
.
.
.
.
Suara tamparan yang keras itu membuat Baekhyun benar-benar menyadari apa yang telah terjadi. Baekhyun marah dengan apa yang dilakukan tunangannya itu hingga ia ingin menangis. Ia marah kepada dirinya sendiri karena terlambat menyadari apa terjadi sehingga membuat pria itu berhasil mencium dirinya dan menjadi pria pertama yang menciumnya! Ia menjadi semakin membenci Chanyeol yang telah menciumnya. Seperti Baekhyun, Chanyeol juga terkejut dengan tindakan Baekhyun yang tidak terduga itu.
Chanyeol menatap tajam wajah Baekhyun. "Kau memang kucing liar,"
"Kalau aku kucing liar, maka kau the Devil Dog," kata Baekhyun marah.
Baekhyun merasa sangat marah hingga ia khawatir tidak dapat menahan air mata yang mulai membasahi matanya. Baekhyun tidak ingin membuat Chanyeol semakin senang karena telah berhasil membuatnya menangis.
Melalui pintu ruangan itu yang masih terbuka, Baekhyun melihat di luar masih hujan deras. Keinginannya menjauh dari Chanyeol membuat Baekhyun melangkahkan kaki ke tangga batu yang menuju pintu itu. Baekhyun berlari hingga di pintu.
Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol tajam.
"Ke mana biasanya kucing liar berada?" tanya Baekhyun tajam, "Ke mana kucing liar menghindari the Devil Dog?"
"Kau memang kucing liar."
Baekhyun menyentakkan tangannya. Tetapi Chanyeol semakin mempererat pegangannya.
"Lepaskan aku!" seru Baekhyun mengalahkan hujan.
"Apa yang kaupikirkan? Apakah kau tidak melihat hujan di luar sangat deras?"
"Lepaskan aku!" sekali lagi Baekhyun berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Chanyeol tetapi pria itu semakin mempererat pegangannya.
"Jangan berharap aku akan mengijinkanmu memanjat pohon dalam hujan seperti ini," kata Chanyeol. Suara Chanyeol yang berbahaya tidak membuat semangat Baekhyun untuk menentang Chanyeol luntur. Sebaliknya gadis itu semakin bersemangat melawan Chanyeol. "Mengapa? Kau takut?"
"Dengar, aku sama sekali tidak takut terhadapmu. Kalau kau menantangku memanjat pohon bukan sekarang saatnya."
"Mengaku sajalah kalau kau tidak dapat memanjat pohon," kata Baekhyun mengejek. Chanyeol marah mendengar ejekan itu. Baekhyun sangat salah bila mengatakan ia tidak dapat memanjat pohon. Ia dapat memanjat pohon bahkan ia pula yang mengajari Baekhyun kecil memanjat pohon.
"Lihatlah petir di luar. Apa kau tidak takut petir menyambarmu yang sedang asyik duduk di atas pohon?"
Baekhyun melihat petir yang saling bersahutan di luar. Menyadari pria itu benar, Baekhyun semakin kesal. Tangis kemarahan bercampur kesedihan yang selama ini ditahannya tidak dapat lagi ditahannya.
Melihat air mata di wajah gadis yang biasanya selalu menantang itu, Chanyeol merasa bersalah. Ia sama sekali lupa memikirkan kemungkinan bila ternyata gadis itu tersinggung. Chanyeol terlalu ingin membuktikan apakah gadis itu adalah gadis yang sama dengan Putri Baekhyun sehingga ia melupakan yang lain.
Bila mengingat berita-berita itu, Chanyeol yakin Baekhyun bukan gadis yang tidak pernah dicium pria. Karena itu ia mencium gadis itu. Ia sangat terkejut ketika tangan gadis itu tiba-tiba melayang ke wajahnya. Ia semakin terkejut melihat air mata gadis itu.
Semua orang mengatakan nama Rosse cocok untuk kecantikan sekaligus tatapan mata gadis itu yang tajam. Chanyeol berpendapat nama itu tidak tepat karena itu ia tidak pernah memanggil gadis itu dengan nama yang diberikan adiknya kepadanya. Nama yang paling tepat untuk gadis itu adalah 'The Little Pussycat'. Mata hijau gadis itu yang selalu menatap tajam siapa saja benar-benar mirip mata kucing. Rambut hitam gadis itu yang panjang tampak seperti bulu kucing yang lembut. Dan kecantikkan gadis itu seperti kecantikan kucing yang berbahaya.
Melihat air mata yang membasahi mata yang menatap tajam ke arahnya, Chanyeol tahu ia telah membuat gadis itu marah. Ia telah menjadi pria pertama yang menciumnya karena itu ia mengerti mengapa gadis itu marah. Tetapi ia tidak mengerti mengapa gadis itu menahan air matanya hingga saat ini. Gadis itu memang tidak mau kalah dari siapapun tetapi mengapa ia terus menahan air matanya, Chanyeol tidak dapat mengerti.
Setidaknya Chanyeol kini mulai mengerti satu hal. Gadis itu bukan Putri Baekhyun. Ia telah membuktikannya dengan cara yang membuat gadis itu sedih bercampur marah. Chanyeol menyingkirkan pikirannya dari segala hal yang mirip antara gadis itu dengan Putri Baekhyun kecil. Chanyeol mulai menganggap semua itu hanya kebetulan tetapi terlalu banyak kebertulan yang membuat Chanyeol tidak dapat sepenuhnya meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya kebetulan. Ia masih merasa gadis itu adalah gadis yang sama dengan Putri Baekhyun.
Harus diakui Chanyeol ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia memang berbeda dari adiknya yang senang menghabiskan waktunya untuk bermain. Dulu sebelum adiknya menjadi gemuk, ia adalah pria tampan yang banyak dikejar gadis-gadis muda tetapi mengalami patah hatinya yang pertama, Sehun berubah. Satu-satunya gadis yang pernah memasuki kehidupannya yang hanya dipenuhi oleh belajar hanya gadis kecil itu. Setelah melihat gadis itu tidak mau bermain ke Castil lagi setelah menduduki posisi penting di Kerajaan Lyvion, Chanyeol semakin menutup dirinya dari dunia luar.
"Masuklah ke dalam. Di luar sangat dingin dan aku tidak ingin kau sakit," kata Chanyeol lembut.
"Mengapa?" tanya Baekhyun tajam, "Kau takut?"
Chanyeol tidak ingin bertengkar lagi dengan gadis itu. Air mata yang terus membasahi wajah cantik itu membuat Chanyeol semakin merasa bersalah. "Maafkan aku."
"Untuk apa kau minta maaf setelah semuanya terjadi?" tanya Baekhyun marah di sela-sela tangisnya yang semakin deras.
"Aku tahu kau pantas marah karena sikapku tetapi untuk saat ini lebih baik kita menghentikan pertengkaran kita." Chanyeol menarik lembut lengan Baekhyun yang masih berada dalam genggamannya.
Baekhyun terkejut. Ia mundur menjauhi Chanyeol tetapi tidak berusaha melepaskan lengannya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu. Aku hanya ingin menarikmu masuk," kata Chanyeol.
Baekhyun curiga tetapi ia tetap menurut ketika Chanyeol menariknya masuk kembali ke dalam ruangan itu. Sambil menanti Chanyeol yang sedang menutup kembali pintu yang masih terbuka itu, Baekhyun memperhatikan sekeliling ruangan yang sejak tadi belum sempat diperhatikannya itu. Semakin memperhatikan ruangan itu, Baekhyun semakin merasa ia mengenal ruangan itu tetapi ia tidak dapat mengetahui mengapa ia mempunyai perasaan seperti itu.
Suara pintu yang tertutup bersamaan dengan menggelapnya ruangan itu membuat Baekhyun menjerit ketakutan. Mendengar jeritan itu Chanyeol segera memeluk gadis yang berdiri tepat di sampingnya itu.
"Ada apa?" tanyanya lembut.
"Aku… aku takut," kata Baekhyun perlahan.
"Takut? Kau?" tanya Chanyeol tak percaya. Ia sukar mempercayai gadis yang bertingkah seperti kucing liar itu ketakutan.
Rasa takut yang merayapi Baekhyun membuat gadis itu mengabaikan suara tidak percaya itu. "Aku takut ruang gelap," katanya jujur.
"Kau The Little Pussycat takut berada di ruang gelap?" tanya Chanyeol tak percaya.
Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol tetapi ketika ia melihat dirinya berada di ruangan yang gelap gulita, ia segera menjatuhkan dirinya ke pelukan Chanyeol lagi. Walaupun Baekhyun tidak menyukai Chanyeol tetapi Baekhyun merasa tempat yang paling nyaman saat ini adalah di pelukan Chanyeol. Chanyeol tersenyum geli melihat ketakutan gadis itu. Sukar dipercayainya gadis yang selalu menatap menantang siapa saja itu takut pada ruang gelap. Ia memeluk erat gadis itu untuk menenangkannya.
"Jangan takut. Aku ada di sini," kata Chanyeol menenangkan Baekhyun.
"Kau pasti tersenyum mengejekku."
Suara merujuk itu membuat senyum geli Chanyeol semakin lebar. "Tidak, aku tidak melakukannya," katanya berbohong.
"Kau bohong. Aku tahu kau sedang menertawakan aku."
"Aku tidak bohong," Chanyeol mencoba menyakinkan Baekhyun. Chanyeol menduga gadis di pelukannya itu sedang cemberut karena telah menunjukkan kelemahannya pada musuhnya. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengatasi rasa takut gadis itu sekaligus membuat ruangan yang dingin ini menjadi hangat.
"Aku ingin kau mempercayaiku."
"Percaya?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Aku ingin kau percaya aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk, seperti…," Chanyeol terdiam kemudian ia segera melanjutkan kalimatnya, "Seperti tadi. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Baekhyun belum mengatakan apa-apa ketika ia merasa tubuhnya diangkat. Menyadari matanya tengah memandang ruangan yang gelap, Baekhyun kembali merasa ketakutan.
Chanyeol menyadari gadis itu kembali merasa ketakutan. "Percayalah kepadaku. Aku tidak akan berbuat yang buruk kepadamu. Aku hanya ingin membawamu ke bawah, ke tempat yang aman," katanya menenangkan.
"Di sini terlalu berbahaya bagimu. Karena kau takut gelap, aku yakin kau akan segera memejamkan matamu rapat-rapat dan tidak berusaha menemukan jalan ke bawah."
Baekhyun diam saja. Ia segera menyembunyikan wajahnya di bahu Chanyeol. Tangannya memeluk erat-erat leher Chanyeol. Chanyeol tersenyum ketika ia merasakan tubuh gadis itu menggigil ketakutan di pelukannya. Ia berusaha mengenali jalan dan menuruni tangga batu itu dengan hati-hati.
Baekhyun tidak mengerti mengapa ia mempercayai pria yang paling dibenci sekaligus dianggapnya paling berbahaya ini. Baekhyun juga tidak mengerti mengapa ia merasa aman dalam pelukan pria itu. Baekhyun mencoba mengingkari perasaan senangnya karena mendapat perhatian Chanyeol. Tetapi ia tidak dapat melakukannya. Menyadari dirinya merasa senang dengan perhatian yang diberikan Chanyeol, Baekhyun merasa malu.
Walaupun Chanyeol menuruni tangga itu dengan sangat lambat, Baekhyun sama sekali tidak ingin segera melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Ia hanya memejamkan matanya di pundak Chanyeol sambil menikmati rasa aman yang ditimbulkan Chanyeol.
Baekhyun terkejut ketika Chanyeol tiba-tiba meletakkan tubuhnya di atas sesuatu yang membuatnya merasa geli. Baekhyun takut membayangkan apa yang ada di bawah tubuhnya, ia mempererat pelukannya di leher Chanyeol.
Chanyeol menyadari perasaan terkejut gadis itu. "Jangan takut. Itu hanya tumpukan jerami."
"Jerami? Kau masih menyimpannya?"
Pertanyaan yang tercetus begitu saja membuat Chanyeol dan Baekhyun sama-sama terkejut.
Setelah beberapa saat yang lalu Chanyeol menyakinkan dirinya untuk menyadari bahwa gadis itu bukan Putri Baekhyun. Sekarang pertanyaan itu membuat dirinya semakin yakin gadis itu adalah Putri yang hilang itu. Hanya dirinya dan si gadis kecil yang tahu ruangan ini dan apa saja yang mereka simpan di dalam ruangan ini.
Chanyeol mengubah taktiknya untuk membongkar segala yang disembunyikan gadis itu di balik kata 'hilang ingatan'.
"Sejak dulu aku tidak pernah memasuki ruangan ini lagi sehingga persiapan kemah kita ini tetap di sini," kata Chanyeol.
Taktik Chanyeol tidak akan pernah berhasil. Sedikitpun Baekhyun tidak ingat kalau sewaktu kecilnya ia sering bermain bersama Chanyeol di sekitar Castil Q`arde.
"Berkemah?"
Pertanyaan tidak mengerti bercampur kebingungan itu membuat Chanyeol termangu. Ia menduga gadis itu mulai menyadari taktiknya.
"Dulu kita berencana untuk berkemah di sini tetapi rencana itu tidak pernah terwujud," kata Chanyeol memancing Baekhyun.
Usaha Chanyeol sia-sia. Baekhyun tidak dapat mengerti apa yang sedang dikatakan Chanyeol. Ia tidak mengerti mengapa Chanyeol berkata seperti itu. Walaupun masa bermainnya singkat, tetapi Baekhyun masih ingat ia sering menghabiskan waktu bermainnya bersama Ratu bukan orang lain. Ratu sering menemaninya bermain di Ruang Kanak-Kanak. Ratu juga yang sering mengajaknya jalan-jalan. Tidak ada orang lain selain Ratu pada ingatan masa kecil Baekhyun.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
Sekali lagi Baekhyun membuat Chanyeol termangu. Kalimat yang diucapkan dengan jujur itu membuat Chanyeol tidak mengerti mengapa gadis yang yakini sebagai Putri Baekhyun tidak mengingat apa yang ia katakan.
Melalui keremangan ruangan itu, Chanyeol menatap sinar kebingungan mata hijau Baekhyun yang tampak bersinar di ruang yang gelap itu. Chanyeol yakin gadis itu tidak berbohong dan itu membuatnya semakin kebingungan. Hanya ada satu kesimpulan yang diambil Chanyeol. Bila gadis itu adalah Putri Baekhyun, maka Putri Baekhyun terlalu angkuh untuk mengingat masa kecilnya.
"Lupakan apa yang baru kukatakan," kata Chanyeol kesal.
Baekhyun tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba kesal. Ia merasa ia tidak melakukan kesalahan apapun selama detik-detik terakhir ini. Baekhyun tahu Chanyeol bukan pria yang mudah merasa kesal tanpa alasan yang jelas. Baekhyun yakin pria acuh itu tidak akan mempermasalahkan apa yang telah terjadi. Pria itu juga tidak mungkin marah karena kejadian yang telah berlalu.
Walaupun hatinya sedang kesal tetapi Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun dengan hati-hati di tumpukan jerami itu. Merasa punggungnya telah bersandar di dinding batu yang dingin, Baekhyun segera melepaskan pelukannya dan ganti memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan.
"Kenakan ini dulu," kata Chanyeol sambil menyampirkan kemejanya di pundak Baekhyun.
Baekhyun kebingungan melihat sikap Chanyeol. Beberapa detik yang lalu pria itu kesal tetapi
sekarang ia kembali bersikap lembut. Menyadari ia kini berada dalam kegelapan yang ditakutinya, Baekhyun merasa takut. Ia memeluk erat-erat tubuhnya yang telah terselimuti jas Chanyeol itu. Rasa takut semakin menjalari Baekhyun ketika gadis itu menyadari Chanyeol sudah tidak ada di sisinya lagi. Beberapa saat yang lalu saat Chanyeol berada di sisinya Baekhyun masih merasa aman dalam kegelapan ini tetapi setelah pria itu menjauh, Baekhyun kembali merasa takut. Baekhyun memejamkan matanya sambil berharap Chanyeol segera kembali ke sisinya.
Sambil berusaha menemukan kayu bakar yang dulu disimpannya di dalam ruangan ini, Chanyeol mencoba untuk menyingkirkan pikirannya dari Baekhyun. Chanyeol tidak mengerti mengapa ia masih saja berusaha bersikap lembut kepada gadis itu walaupun ia merasa kesal kepada gadis yang diyakininya sebagai Putri Baekhyun yang angkuh itu.
Tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu. Chanyeol kembali melihat Baekhyun yang meringkuk ketakutan. Rasa takut gadis itu terhadap ruang gelap benar-benar mirip dengan si kecil Baekhyun. Si kecil Baekhyun tidak pernah mau diajak bermain di luar Castil Q`arde pada malam hari. Berada dalam keremangan saja, gadis kecil itu sudah ketakutan. Melihat semua itu Chanyeol semakin yakin gadis yang sekarang ada di ruangan itu adalah Baekhyun.
Setelah api unggun yang berhasil dibuat Chanyeol menerangi ruangan itu, Chanyeol melihat gadis itu masih meringkuk ketakutan. Chanyeol mengambil keranjang piknik yang tadi ditinggalkannya di dekat ujung tangga. Kain putih yang tadi digunakannya untuk membuat Baekhyun merasa hangat terjatuh di sekeliling keranjang piknik. Chanyeol mengambil serta kain itu dan segera kembali ke sisi Baekhyun yang terus meringkuk ketakutan.
Chanyeol meletakkan keranjang itu di sisi Baekhyun. Setelah itu ia menebar kain di dekat api unggun.
"Kau yakin mereka tidak akan mencari kita?" tanya Baekhyun.
Chanyeol memandang Baekhyun yang tetap memeluk tubuhnya. "Aku yakin mereka tidak akan mencari kita."
"Mengapa? Apakah mereka tidak mengkhawatirkan kita?" tanya Baekhyun pilu. Baekhyun tidak ingin membayangkan keluarga Kryntz yang selama ini dikenalnya sebagai keluarga yang penuh kehangatan kasih sayang ternyata sama seperti ayahnya yang tidak pernah memperhatikannya.
Suara pilu itu membuat Chanyeol tertegun. Ia tidak mengerti mengapa suara Baekhyun pilu seperti itu bukan sedih atau cemas. "Mereka sangat mempercayaiku karena itu mereka tidak akan mencari kita."
"Mereka mempercayaimu?" tanya Baekhyun tak percaya.
"Kau tidak mempercayaiku?"
Suara tajam bercampur kemarahan itu membuat Baekhyun mengangkat kepalanya. Ia melihat Chanyeol tengah memandang tajam wajahnya. "Tidak. Aku… aku hanya…" Baekhyun segera menghentikan kata-katanya. Ia merasa lega dapat menghentikan kalimatnya sebelum membongkar penyamarannya sendiri. Chanyeol mengangkap suara Baekhyun itu sebagai suara ketakutan dan ia merasa menyesal karena telah membuat gadis itu ketakutan. "Maafkan aku," katanya.
"Maaf?" tanya Baekhyun tak mengerti.
"Aku membuatmu ketakutan," kata Chanyeol.
Baekhyun tidak tahu apa yang dikatakan Chanyeol bila ia menyelesaikan kalimatnya yang tadi. Tadi Baekhyun hampir saja mengatakan, "Aku hanya heran melihat kau mendapat kepercayaan yang sangat besar dari orang tuamu sedangkan aku si Putri Mahkota ini tidak pernah dipercayai siapa pun."
Semua pengawal yang selalu berada di sisinya membuat Baekhyun yakin tidak seorangpun di Istana Urza yang mempercayainya. Mereka selalu mengawalnya untuk memastikan ia melakukan tugasnya. Baekhyun tidak menyukai semua itu yang membuatnya merasa seperti boneka yang tidak dapat melakukan apa-apa. Tetapi tidak ada yang dapat dilakukan Baekhyun. Setelah selama hampir lima belas tahun hidup dalam keyakinan ia tidak pernah mendapat kepercayaan siapapun, Baekhyun terkejut ketika ia mengetahui Duke dan Duchess of Kryntz sangat mempercayai Chanyeol.
"Percayalah kepadaku. Aku tidak akan melakukan yang buruk kepadamu," kata Chanyeol.
"Sesuatu yang buruk?" tanya Baekhyun tak mengerti.
Chanyeol menatap wajah kebingungan Baekhyun. "Kau tidak takut terjadi sesuatu padamu selama kau bersamaku?"
"Aku yakin kau akan menjagaku," kata Baekhyun jujur.
"Bukan itu maksudku," kata Chanyeol, "Apakah kau tidak takut aku menciummu lagi?"
Wajah Baekhyun memerah. "Kau telah berjanji tidak akan melakukannya lagi dan aku percaya kau akan memegang janjimu."
"Ya, ampun. Apakah kau tidak tahu bahaya yang mungkin menimpamu saat ini?" kata Chanyeol kasar.
Baekhyun tertegun mendengar suara Chanyeol. Ia tidak mengerti apa yang membuat Chanyeol tampak jengkel seperti itu dan ia lebih tidak mengerti apa yang dibicarakan Chanyeol. Baekhyun percaya Chanyeol akan menjaganya dari rasa takutnya. Ia tahu pria itu akan melindunginya dari bahaya yang mungkin mengancamnya. Pria itu telah menunjukkan sikap perlindungannya kepada Baekhyun. Ia menyingkirkan kegelapan yang ditakuti Baekhyun dan membuat api unggun untuk menghangatkan ruangan yang dingin itu. Baekhyun juga tidak melihat maupun tidak merasakan ada bahaya yang mengancamnya. Di luar juga tidak terdengar suara binatang buas. Yang terdengar hanya suara hujan yang terus membasahi bumi. Kalaupun ada binatang buas yang mengancam mereka di luar sana, Baekhyun yakin Chanyeol akan mencegah binatang itu menganggunya. Walaupun ia selalu bertengkar dengan Chanyeol tetapi Baekhyun mempercayai pria itu. Walaupun Baekhyun selalu menganggap pria itu sebagai pria paling acuh yang ditemuinya tetapi Baekhyun yakin pria itu tidak akan mengacuhkannya dalam situasi seperti ini.
"Bahaya?" tanya Baekhyun tidak mengerti.
"Sebenarnya siapakah kau ini?" tanya Chanyeol kasar, "Tingkah lakumu benar-benar seperti kucing liar tetapi kau tampak seperti saat ini gadis polos. Apakah kau benar-benar tidak menyadari bahaya yang mengancammu saat ini?"
"Bahaya apa? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" tanya Baekhyun kebingungan, "Aku tidak merasakan ada bahaya yang mengancamku. Aku tahu kau akan menjagaku."
"Kau sama sekali tidak menyadari bahaya yang yang saat ini mengancammu?" tanya Chanyeol untuk kesekian kalinya.
"Aku benar-benar tidak merasakan ada bahaya yang mengancamku," kata Baekhyun kebingungan.
Mata Chanyeol menyipit. "Juga bahaya dariku?"
Baekhyun menatap kebingungan wajah Chanyeol. Ia menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku percaya kau akan menjagaku."
Chanyeol menatap tajam wajah Baekhyun. Untuk sesaat ia menyelidiki wajah kebingungan Baekhyun tetapi ia tidak menemukan kebohongan di sana. Wajah Baekhyun benar-benar menampakkan kebingungan dan rasa tidak mengertinya.
"Sebenarnya kau ini Putri Baekhyun atau bukan?"
Pertanyaan itu membuat Baekhyun terkejut. Kekhawatiran Baekhyun terbukti. Chanyeol mencurigai dirinya adalah Putri Baekhyun. Untuk membuat pria itu percaya ia bukan sang Putri, Baekhyun cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenal dia," kata Baekhyun setengah berbohong.
"Ya, mungkin kau bukan dia," kata Chanyeol mengakui, "Tetapi bila kau bukan dia mengapa kau tahu tempat ini?"
"Aku sudah mengatakan kepadamu, aku tidak tahu. Aku hanya kebetulan saja menemukan tempat ini," sela Baekhyun.
Chanyeol mengacuhkan kata-kata Baekhyun. "Kalau kau adalah dia mengapa kau sedemikian tololnya hingga tidak mengetahui bahaya yang saat ini mengancammu?"
Sebutan 'tolol' yang ditujukan padanya itu membuat kemarahan Baekhyun bangkit. "Tolol!?" katanya tajam.
Chanyeol tidak berusaha membantah. "Ya, kau adalah gadis paling tolol yang pernah kutemui."
"Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" tanya Baekhyun.
Menyadari ia telah mengucapkan pertanyaan yang dapat membongkar penyamarannya, Baekhyun cepat-cepat berkata, "Dan kau harus ingat satu hal yaitu aku bukan dia."
Suara berbahaya itu membuat Chanyeol semakin tidak mengerti gadis di depannya itu. Ia sangat yakin gadis itu adalah Putri Baekhyun. Tetapi kepolosan di wajah cantik gadis itu menunjukkan ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan Chanyeol. Apalagi bila mengingat kemarahan gadis itu saat ia menciumnya.
Berita-berita tentang Putri Baekhyun di surat kabar membuat Chanyeol yakin Putri Baekhyun bukan seorang gadis yang tidak mengerti cinta. Tetapi wajah polos gadis itu benar-benar bertentangan dengan apa yang ada di pikirannya mengenai Putri banyak pertentangan antara Putri Baekhyun yang ada di pikiran Chanyeol dengan gadis itu dan terlalu banyak pula kemiripan gadis itu dengan Putri Baekhyun. Semua itu membuat Chanyeol semakin kebingungan.
Sejak Ratu meninggal, Chanyeol memang tidak pernah bertemu lagi dengan Baekhyun namun ia dapat menduga bagaimana rupa gadis itu saat ini. Tetapi gadis yang sangat diyakininya sebagai Putri Baekhyun ini sangat berbeda rupanya dari Putri Baekhyun dalam pikirannya. Putri Baekhyun dan gadis ini sama-sama memiliki mata hijau yang serasi dengan rambut hitamnya.
Wajah keduanya pun mirip yang berbeda di wajah kedua gadis ini hanya sinar matanya. Sinar mata gadis ini berbeda dengan sinar mata Putri Baekhyun juga berbeda dengan sinar mata Baekhyun kecil. Sinar mata ketiganya berbeda. Sinar mata Baekhyun kecil adalah sinar gembira dan ramah tetapi sinar mata itu sudah berbeda dengan saat ia dewasa. Di foto-foto yang dimuat di surat kabar, sinar mata Baekhyun adalah sinar angkuh bercampur keramahan. Sedangkan gadis di hadapan Chanyeol ini memiliki sinar mata menantang. Mata yang tidak mau kalah dari siapa saja.
Pandangan menyelidik itu membuat Baekhyun semakin khawatir
penyamarannya akan terbongkar. Baekhyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan diri dari situasi berbahaya ini. Ia hanya tahu bila ia membuat pertengkaran di antara mereka, bahaya yang mengancam penyamarannya semakin besar.
Udara dingin membuat Baekhyun kedinginan. Baekhyun memeluk erat-erat lututnya dan berharap tubuhnya tidak terlalu menggigil kedinginan.
Chanyeol melihat tubuh Baekhyun menggigil dan menduga gadis itu ketakutan. "Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan membuatmu ketakutan lagi."
"Kau tidak membuatku ketakutan," kata Baekhyun.
"Sungguh?"
Suara berbahaya itu membuat Baekhyun waspada.
"Kau tidak takut aku memperkosamu?" Baekhyun terkejut. Wajahnya memucat.
Melihat wajah pucat gadis itu, Chanyeol menyadari ia telah melakukan kesalahan. "Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya."
Wajah pucat Baekhyun tidak menghilang. Gadis menatap ketakutan sekelilingnya. Melihatnya Chanyeol semakin menyesal telah mengatakan kalimat itu.
"Aku tidak akan menganggumu. Aku janji," katanya menyakinkan Baekhyun, "Aku akan menjagamu."
Baekhyun diam saja. Ia hanya menatap sekelilingnya. Perlahan-lahan wajah Baekhyun memerah ketika ia melihat wajah Chanyeol yang penuh penyesalan. Baekhyun tahu pria itu hanya ingin memperingatkannya.
"Kalau melihat langit gelap tadi, kurasa hujan akan terus turun sampai nanti sore dan kita tidak akan dapat pulang," kata Chanyeol mengalihkan pembicaraan, "Coba kalau tadi kau berjalan lebih cepat."
Baekhyun marah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan penuh tuduhan itu. "Siapa yang mengatakan aku berjalan lambat? Aku selalu berusaha mengejar kau yang seperti berlari."
Chanyeol menahan senyumannya. Ia berhasil membuat Baekhyun melupakan ketakutannya. "Aku tidak berlari," kata Chanyeol.
"Tetapi mengejar angin," sela Baekhyun.
"Sebenarnya tadi aku berjalan lebih lambat dari biasanya."
"Memang itu yang harus kaulakukan."
Suara mengejek itu membuat Chanyeol tidak dapat menahan senyumannya. "Kalau tahu hal itu akan membuatmu senang, tadi aku akan berjalan cepat," goda Chanyeol.
Baekhyun tidak senang mendengarnya. "Apa kau senang melihat aku terjatuh gara-gara mengikutimu yang berjalan seperti angin?"
"Kau tidak akan terjatuh. Aku dan Jackson saja tidak pernah terjatuh setiap kali kami berlomba dari lapangan itu ke Castil Q`arde."
"Kalian sudah mengingat setiap seluk beluk jalannya. Dan kalian tidak akan terjatuh karena akar-akar tanaman itu."
Kemarahan Baekhyun membuat Chanyeol semakin ingin menggodanya.
"Kau takut jatuh?"
"Tidak," bantah Baekhyun, "Aku hanya tidak ingin melihatmu disalahkan orang tuamu karena membiarkan aku terjatuh gara-gara mengejarmu."
"Aku sudah menduganya. Kau tidak mungkin sering memanjat pohon kalau kau takut terjatuh."
"Aku lebih senang jatuh dari pohon daripada jatuh karena mengejarmu," kata Baekhyun dingin.
Chanyeol pura-pura mengeluh. "Coba kalau kau tadi mau kugendong."
Wajah Baekhyun memerah. "Kau tidak menanyaiku?"
"Memang aku tidak menanyaimu karena aku yakin kau akan menolaknya."
"Kau seharusnya senang aku tidak membuatmu kelelahan. Kau beruntung aku tidak membuatmu harus berlari sambil membawaku," kata Baekhyun dingin.
Chanyeol tersenyum melihat sinar tajam mata Baekhyun telah kembali. Chanyeol lebih senang melihat sinar menantang di mata hijau itu daripada sinar ketakutan.
Baekhyun menarik tubuhnya menjauh ketika Chanyeol mendekatinya. Chanyeol meraih keranjang piknik di sisi Baekhyun dan membukanya.
"Untung tadi kita batal berpiknik," katanya, "Sekarang kita tidak akan kelaparan."
Baekhyun hanya memandang Chanyeol yang membongkar isi keranjang pikniknya, ia tidak berusaha membantu pria itu.
"Seperti kesepakatan kita tadi, lebih baik kita menghentikan pertengkaran kita," kata Chanyeol kemudian sambil tersenyum ia bertanya, "Kau lapar?"
"Tidak," sahut Baekhyun.
Setelah pertengkaran mereka, Baekhyun sama sekali tidak memiliki nafsu makan.
"Kurasa jam makan siang sudah lewat," kata Chanyeol memperingati, "Jangan sampai kau sakit."
"Aku tidak lapar," kata Baekhyun keras kepala.
Baekhyun kebingungan melihat pria itu menutup kembali keranjang piknik.
"Aku juga tidak lapar," kata Chanyeol memberitahu Baekhyun.
Chanyeol mendekati api unggunnya dan menambah kayu. Baekhyun diam saja memandang api yang menyala di depannya. Baekhyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya sambil menanti hujan berhenti.
Suara hujan yang bagaikan nyanyian pengantar tidur serta suara petir yang bersahut-sahutan membuat Baekhyun mengantuk. Baekhyun memperingati dirinya sendiri untuk tidak tertidur. Walaupun Chanyeol telah meyakinkan dirinya untuk tidak menganggunya dan Baekhyun mempercayai pria itu akan menjaganya tetapi Baekhyun tetap khawatir.
"Tidurlah. Hujan tampaknya tidak akan segera berhenti."
Baekhyun terkejut mendengar suara lantang yang tiba-tiba memecahkan kesunyian yang ada di antara mereka. Keterkejutan Baekhyun membuat gadis itu tidak segera menyadari apa yang diucapkan Chanyeol. Wajah Baekhyun memucat ketika ia sadar apa yang diucapkan Chanyeol. Chanyeol melihat wajah gadis itu memucat dan agak memerah. "Aku tidak akan menyentuhmu, aku berjanji padamu."
Wajah pucat Baekhyun semakin memerah melihat penyesalan di wajah semakin merasa bersalah. "Maafkan kata-kataku yang tadi. Aku tidak pernah berniat melakukannya, tadi aku hanya memperingatimu."
"Aku… aku tahu," kata Baekhyun malu.
Chanyeol tersenyum. "Tidurlah, aku akan menjagamu."
Baekhyun ragu-ragu. Ia tidak berani memejamkan matanya seperti yang disuruh Chanyeol.
Melihat keragu-raguan gadis itu, Chanyeol segera berkata, "Jangan khawatir, aku juga akan tidur. Aku tidak akan menyentuhmu."
Pria itu membuktikan kata-katanya dengan menjauhi api unggun dan menata tumpukan jerami yang ada di ruangan itu. Baekhyun memperhatikan pria itu menumpuk jerami di seberang api unggun. Cahaya api tidak menghalangi pandangan mata Baekhyun. Gadis itu tetap diam melihat Chanyeol bersadar di dekat tangga.
Chanyeol menyandarkan punggungnya di dinding samping tangga. Ia melihat Baekhyun masih memandang khawatir dirinya. Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun tetap tidak mau memejamkan matanya walau ia merasa mengantuk. Melihat Baekhyun terkantuk-kantuk, Chanyeol tahu gadis itu tak lama lagi akan tertidur.
Chanyeol memejamkan matanya. Ia tidak berbohong ketika ia mengatakan akan tidur. Ia sendiri juga mengantuk. Baekhyun terus memperhatikan Chanyeol tetapi ia tetap tidak berani memejamkan matanya. Ia tetap memeluk lututnya dan menyandarkan kepala di atas lututnya. Walaupun Baekhyun tidak ingin tertidur tetapi rasa kantuknya membuat gadis itu akhirnya tertidur.
.
.
.
.
.
.
TBC
READ , REVIEW , FAV PLEASE?
PS : gimana udah rada manis belum? Kalo belum tunggu chap depan deh awww
Jangan lupa review ya guyssss!
