TITLE : Popular Boy and His Ideal Type (Chapter 7)

AUTHOR : NinHunHan5120

GENRE : Yaoi, boys love, romance, friendship, school life

LENGTH : Series

RATING : T

CAST :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

And Other (Find by yourself)

SUMMARY : Chanyeol sang idola sekolah yang tidak pernah merasakan jatuh cinta tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tidak tertarik padanya. Sehun namja tampan yang tergila-gila pada kakak kelasnya yang cantik. Dapatkah mereka berdua mendapatkan hati namja ideal mereka?


^_Author's POV_^

Dua namja berperawakan mungil dan berwajah imut serta cantik tengah duduk bersebelahan di bangku di dalam kelas. Salah satu namja yang bermata rusa sedang memakan coklat sampai mulutnya belepotan, sedangkan namja yang lain sibuk mengamati bungkus coklat milik namja bermata rusa tersebut.

"Tidak ada tulisan apa-apa," gumam Baekhyun.

"Memangnya kau mencari apa?" tanya Luhan masih mengemut coklatnya.

"Mungkin saja dia memberi pesan di bungkus ini berhubung ia tidak mengatakan apapun padaku saat memberikannya," jawab Baekhyun.

"Pesan apa?"

"Tentu saja pesan untukmu. Siapa lagi?" sungut Baekhyun karena Luhan begitu LoLa alias Loading Lama.

"Coklat ini enak sekali. Sehunnie memang yang terbaik. Kalau kau mau ambil saja," kata Luhan tanpa mengalihkan pandangan pada coklat yang dipujanya.

"Tidak, terima kasih. Bagaimana kalau Sehun memasukkan sesuatu ke dalam coklat itu yang menyebabkan pengonsumsinya jatuh cinta padanya? Kau mau kalau aku jatuh cinta pada Sehun?" tanya Baekhyun mencoba menguji Luhan. Padahal sebenarnya ia memang sudah jatuh cinta pada Sehun tanpa sepengetahuan Luhan.

"Hahaha. Kau ini ada-ada saja. Sehunnie tidak akan melakukan itu," kata Luhan disertai tawanya.

"Hmm... Coklat ini enak sekali," kata seorang namja yang dengan lancangnya mengambil salah satu coklat Luhan di dalam kotak.

"YA! Jung Daehyun! Kenapa kau mengambil coklatku? Aku bilang akan mentraktirmu, bukan memberimu coklat," omel Luhan. Sedangkan Daehyun hanya nyengir tidak merasa bersalah.

"Gomawo, hyung. Nanti kau masih harus mentraktirku," kata Daehyun.

"Hai, Baekhyunnie," sapa Daehyun tersenyum ramah kepada Baekhyun tanpa memedulikan tatapan tajam nan imut Luhan. Baekhyun hanya tersenyum tipis menanggapi.

Saat Luhan hendak mengomel lagi tiba-tiba guru matematika -Cho seonsaengnim- datang dan membuat seisi kelas yang tadinya ramai menjadi bungkam begitupun dengan Luhan. Daehyun pun kembali ke tempat duduknya.

"Xi Luhan," panggil Cho seonsaengnim. Luhan mendongak dan menatap Cho seonsaengnim.

"Kau mau mengikuti pelajaran dengan mulut belepotan seperti itu?"

Seisi kelas memandangi Luhan dan mereka menahan tawa saat mendapati Luhan yang bahkan lebih lucu daripada badut.

"Saya izin ke kamar mandi, saem," izin Luhan dengan segera berlari keluar kelas.

Cho seonsaengnim geleng-geleng kepala melihat kelakuan Luhan.

"Apa yang kalian tertawakan? Cepat buka buku kalian halaman 231," ucap Cho seonsaengnim yang membuat murid-muridnya langsung patuh.

...

...

...

Saat ini tiga namja manis tengah berjalan menuju kantin. Mereka adalah Luhan, Baekhyun, dan Daehyun. Karena Luhan kemarin berjanji pada Daehyun untuk mentraktir namja itu, jadi ia ikut bersamanya dan Baekhyun.

Saat mencapai pintu kantin tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya. Baekhyun dan Daehyun otomatis ikut berhenti.

"Ada apa, hyung?" tanya Baekhyun.

"Kalian duluan saja. Aku mau ke kamar mandi," kata Luhan terlihat buru-buru. Namja cantik itupun segera melesat meninggalkan kantin.

Alhasil Baekhyun dan Daehyun yang bertugas memilih kursi untuk mereka.

...

...

...

"Hey, Sehun. Tadi aku melihat rusamu," kata Jongin disela-sela makannya. Ia memberitahu Sehun yang duduk membelakangi pintu kantin.

"Dimana?" tanya Sehun mendongakkan kepalanya yang tadinya menunduk untuk meraih makanannya.

"Di pintu masuk," jawab Jongin seraya menunjuk pintu. Sehun pun menoleh.

"Itu Baekhyun hyung, bukan Luhan hyung," kata Sehun yang memang di tempat yang ditunjuk Jongin hanya ada Baekhyun bukan Luhan.

"Tadi memang ada Luhan hyung. Ia langsung pergi ketika melihat ke arah sini," jelas Jongin.

Sehun mengangguk mengerti. Ia paham mungkin Luhan pergi karena ada dirinya di sini.

"Hai, adik adik,"

Sebuah suara bass menginterupsi lamunan Sehun. Sehun dan Jongin mendongak untuk melihat siapa yang bersuara.

"Chanyeol hyung, duduklah," kata Jongin ramah.

"Gomawo," ucap Chanyeol seraya mendudukkan dirinya di samping Sehun.

Mengapa ia memilih duduk di samping Sehun? Karena kursi itu menghadap langsung ke meja yang ditempati Baekhyun. Jadi ia bisa melihat pujaan hatinya tersebut.

"Mian menganggu. Aku kehabisan tempat duduk," kata Chanyeol.

"Tidak apa-apa, hyung. Tidak perlu sungkan kepada kami," kata Jongin. Sehun mengangguk mengiyakan.

"Aku ingin bertanya pada kalian," kata Chanyeol sebelum menyantap makanannya.

Sehun dan Jongin menatapnya penuh tanya.

"Menurut kalian Baekhyun itu bagaimana?" tanya Chanyeol seraya memandang Baekhyun.

"Baekhyun hyung manis tapi menurutku masih lebih manis Kyungsoo hyung," jawab Jongin.

"Baekhyun hyung cantik tapi menurutku masih lebih cantik Luhan hyung," jawab Sehun.

"Menurutku Baekhyun itu manis dan cantik melebihi Kyungsoo dan Luhan," kata Chanyeol tak terima.

"Selera setiap orang berbeda, hyung," kata Jongin menatap malas Chanyeol.

"Apa kau benar menyukai Baekhyun hyung, hyung?" tanya Sehun. Jongin ikut menatap Chanyeol.

Namja jangkung itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ditatap oleh dua hoobae bermata tajam membuatnya salah tingkah. Namun mata Chanyeol yang sudah besar tiba-tiba membulat kala melihat pujaan hatinya di seberang sana begitu dekat dengan namja di sampingnya. Dengan hati dongkol ia berdiri dan menghampiri meja Baekhyun. Saat ia hampir mendaratkan pantatnya di kursi depan Baekhyun tiba-tiba sebuah tangan menghalanginya.

"Maaf, tapi itu tempatku," kata Luhan.

"Kau bisa duduk di sana," Chanyeol menunjuk kursi di samping kursi tujuannya. Dengan cepat Chanyeol langsung mendaratkan pantatnya di kursi tujuannya. Luhan mendengus kesal dan terpaksa duduk di kursi depan Daehyun.

"Dasar licik," gerutu Luhan.

Namun Chanyeol tidak peduli dan lebih memilih memandang Baekhyun yang juga tengah menatapnya. Chanyeol tersenyum padanya. Baekhyun pun segera mengalihkan pandangan pada makanannya. Chanyeol melirik Daehyun sekilas dan dapat ia lihat raut kekesalan di wajah namja itu.

"Luhan hyung, kau harus membayar ini semua," kata Daehyun menunjuk beberapa piring makanan yang telah kosong di meja.

"Apa kau makan sebanyak itu?" tanya Luhan curiga. Daehyun mengangguk.

"Kau gila? Kau mau menguras dompetku?" tanya Luhan tak percaya.

"Mumpung gratis jadi aku makan banyak," kata Daehyun santai.

"Kau pikir aku mau membayar itu semua?" Luhan melipat tangannya di depan dada.

"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku bisa memberitahu Sehun tentang yang kemarin bahwa aku –"

"Baiklah baiklah. Kau menang. Puas?" kata Luhan segera tak ingin seseorang mendengar apa yang Daehyun katakan. Dan ia lebih memilih menyerah daripada Sehun tahu yang sebenarnya bahwa kemarin Daehyun mengantarnya pulang. Sebenarnya tidak apa-apa, tapi berhubung Daehyun orangnya cukup licik bisa saja namja itu mengatakan hal lain yang tidak terjadi.

Walaupun perdebatan Luhan dan Daehyun cukup memekakkan telinga, tapi tidak menganggu konsentrasi Chanyeol memandangi Baekhyun. Luhan melirik Chanyeol dan terlintas ide jahil di otak pintarnya.

"Kalian berdua sangat serasi," ucap Luhan seraya memandangi Baekhyun dan Daehyun bergantian. Chanyeol menatap Luhan tak suka.

"Luhan-ah, lihatlah di belakangmu ada apa," kata Chanyeol dengan raut seriusnya seolah-olah melihat hantu.

Dengan polosnya Luhan mengikuti perkataan Chanyeol. Saat ia menoleh ke belakang manik rusanya langsung bertemu dengan mata sipit Sehun. Namja cantik itu segera memutus kontak dengan namja pucat yang masih menatapnya itu.

Chanyeol menahan tawa melihatnya. Ia berhasil mengerjai Luhan yang tadi mengerjainya.

"Baekhyunnie, ada sesuatu di bibirmu," ucap Daehyun. Tangan namja itu meraih tisu dan hendak menghapus noda di tepi bibir Baekhyun namun tisu tersebut direbut oleh Chanyeol. Alhasil Chanyeol lah yang menghapus noda itu. Daehyun pundung seketika dan menatap sengit Chanyeol.

"Apakah diantara kalian tidak ada yang bersedia membersihkan bibirku?" tanya Luhan seraya menunjuk saus yang belepotan di bibirnya, memecah aura mencekam diantara Chanyeol dan Daehyun.

Chanyeol merasa pertanyaan Luhan ambigu. Ia pun berinisiatif mengerjai namja cantik itu lagi. Ia menyeringai.

"Aku bersedia," ucap Chanyeol. Namja itu mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan membuat Luhan mematung. Baekhyun yang melihatnya sedikit terkejut dengan apa yang akan Chanyeol lakukan.

'Apa Chanyeol mau menciumku? Eotteoke?' batin Luhan.

Dengan reflek Luhan menutup matanya.

"EHEM," sebuah deheman keras seketika menghentikan aksi Chanyeol.

Chanyeol dan Luhan menoleh ke asal suara tersebut. Di meja tak jauh dari meja mereka, Sehun berdiri dengan menatap tajam pada Chanyeol. Chanyeol pun segera menjauhkan wajahnya dari Luhan. Perlu diketahui walaupun Sehun mengikuti saran kakaknya untuk menjauh dari Luhan sementara tapi namja itu tak pernah luput memerhatikan Luhan.

"Aku tidak berniat apapun, sungguh. Kenapa dia protektif sekali?" gumam Chanyeol. Wajah Luhan memerah.

Tanpa mereka sadari sedari tadi Baekhyun juga menatap tajam pada Chanyeol. Entah kenapa namja itu tak suka walaupun niat Chanyeol hanya bercanda. Namja itupun berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka bertiga tanpa suara.

"Baekhyunnie," panggil Daehyun hendak berdiri dan menyusul Baekhyun. Namun niatnya terhenti saat Chanyeol sudah lebih dulu melakukannya.

"Biarkan saja mereka. Kau di sini saja," kata Luhan menarik tangan Daehyun untuk kembali duduk. Dengan enggan Daehyun kembali duduk. Luhan menyuruh Daehyun tetap tinggal karena ia tidak ingin sendiri karena bisa-bisa Sehun menghampirinya yang belum siap bertemu namja itu .

"Kau sebaiknya menjauh dari Baekhyun untuk sementara kalau tidak ingin Baekhyun menyatakan cinta pada Chanyeol," nasihat Luhan.

Daehyun ingat tantangan itu. Tapi ia tak peduli. Ia hanya ingin mengejar cintanya.

"Kau tidak tahu bagaimana rasanya patah hati," gumam Daehyun.

"Memangnya yang kurasakan sekarang apa?" sahut Luhan. Namja cantik itu meraih tisu dan membersihkan bibirnya yang masih belepotan saus.

...

...

...

"Baekhyunnie, tunggu aku!" seru Chanyeol mengejar langkah cepat Baekhyun. Baekhyun tak menggubris dan semakin mempercepat langkahnya.

"Baekhyunnie, dengarkan penjelasanku," Chanyeol kini telah sampai tepat di belakang Baekhyun.

"Jangan bicara padaku,"

"Chanyeol oppa!"

Chanyeol yang melihat para yeoja berlari kecil di belakangnya langsung panik seketika. Ia pun segera meraih tangan Baekhyun dan menarik namja itu lari bersamanya.

"Chanyeol oppa, tunggu kami!" teriak para fangirl Chanyeol berlari mengejarnya dan Baekhyun.

Baekhyun yang terkejut hanya bisa pasrah Chanyeol mengajaknya berlari menghindari fangirl itu karena tenaganya tidak lebih kuat dari Chanyeol.

Chanyeol menariknya untuk bersembunyi di balik pintu ruang kesehatan.

"YA! Kenapa kau mengajakku lari bersamamu? Kau gila, hah?"

Setelah menyelesaikan makiannya, mulut Baekhyun dibekap oleh Chanyeol menggunakan tangan untuk menyuruhnya diam. Terdengar suara para fangirl tersebut yang kehilangan jejak Chanyeol di depan ruang kesehatan. Mereka pun kembali berlari meninggalkan ruang kesehatan karena mengira Chanyeol tidak ada di sana.

Setelah para fangirl itu pergi Chanyeol bernapas lega.

"Mmpphh.."

Chanyeol menunduk dan lupa kalau dia belum melepas tangannya dari mulut Baekhyun.

"Mian," ucap Chanyeol dengan tertawa kecil.

Baekhyun menatapnya malas. Namja itu berjalan melewati Chanyeol untuk keluar dari ruang kesehatan namun Chanyeol segera mencegahnya.

"Ya! Biarkan aku pergi," berontak Baekhyun.

"Tidak sebelum kau mendengar penjelasanku,"

"Aish.. Sudah kubilang aku tidak ingin berbicara denganmu,"

"Baekhyunnie, aku –"

"Ehem,"

Chanyeol langsung menghentikan kata-katanya tatkala seseorang di dalam ruang kesehatan berdeham. Ia menoleh takut-takut dan mendapati petugas kesehatan menatapnya penuh amarah karena sudah menganggu ketenangan para pasien di dalam ruangan.

Dengan penuh rasa bersalah Chanyeol minta maaf seraya membungkukkan badan. Setelah itu ia segera membawa Baekhyun pergi dari tempat itu.

"Lepaskan tanganku!" Baekhyun menyentakkan dengan keras tangan Chanyeol yang mengenggam tangannya. Namun percuma karena tenaganya tak lebih kuat dari namja jangkung tersebut.

Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dan berbalik menghadap Baekhyun. Ia menumpukan kedua tangan di bahu Baekhyun membuat Baekhyun mengerjapkan mata berkali-kali saat Chanyeol menatapnya serius.

"Baekki, aku tak bermaksud melakukan apa-apa pada Luhan. Lagipula aku tidak gila melakukan hal itu di depan Sehun. Niatku hanya bercanda," jelas Chanyeol.

"Kau pikir aku peduli?" ketus Baekhyun. Namun dari hati yang paling dalam Baekhyun senang mendengar penjelasan Chanyeol.

"Kau cemburu bukan?" goda Chanyeol seraya menaik turunkan alisnya.

"Percaya diri sekali. Minggir!" Baekhyun melepas pegangan tangan Chanyeol dari bahunya. Setelah itu namja tersebut berjalan menjauhi Chanyeol.

Mengetahui hal itu, Chanyeol segera menyusul Baekhyun.

"Baekki, tunggu aku!"

...

...

...

"Kenapa kau terus mengikutiku?" tanya Baekhyun kesal karena sedari tadi Chanyeol selalu mengikutinya.

"Aku akan mengikuti Baekki kemanapun," ujar Chanyeol.

Baekhyun mendengus.

"Aku ada rapat OSIS, apa kau mau ikut?"

"Hah? A-apa?"

Tanpa Chanyeol sadari sekarang mereka telah sampai di depan pintu ruang OSIS. Tanpa memedulikan Chanyeol, Baekhyun masuk ke dalam ruangan meninggalkan Chanyeol yang enggan untuk masuk karena dia bukan anggota OSIS.

"Sepertinya kau harus meninggalkannya, tuan Park. Kami ada rapat bulanan," ucap Suho yang telah berdiri di depan Chanyeol.

"Baiklah baiklah. Aku akan pergi," akhirnya Chanyeol menyerah dan memutuskan meninggalkan Baekhyun untuk sementara.

Saat hendak berjalan menuju kelas, tiba-tiba namja jangkung tersebut berhenti. Ia menepuk jidatnya.

"Astaga, hari ini kan ada latihan,"

Setelah bermonolog ria, ia segera melangkahkan kaki menuju lapangan indoor, tempat dimana mungkin teman-teman satu timnya sudah menunggu karena jadwal latihan dimulai lima belas menit yang lalu.

...

...

...

Luhan membuka sebuah kotak berwarna biru muda berukuran sedang yang baru didapatnya ketika membuka lokernya. Ia menarik secarik kertas yang menempel di balik tutup kotak tersebut.

'Aku akan senang jika besok melihat Luhannie hyung memasang gantungan rusa ini di tas ^_^'

Luhan tersenyum setelah membaca pesan singkat tersebut. Tanpa tanda pengenal apapun ia tahu siapa yang memberikannya gantungan kunci rusa berwarna senada dengan kotak yang membungkusnya karena ia sangat hafal tulisan tangan tersebut.

"Ciyee yang dapat hadiah dari cacar," seru Woohyun yang mengintip isi dari kotak yang ada di meja Luhan.

"Cacar?"

"Calon pacar," kata Woohyun disertai tawanya.

Luhan langsung memukul kepala Woohyun menggunakan penggaris yang kebetulan ada di mejanya.

"Aww! Kenapa kau memukulku, hyung? Bukankah aku benar?" Woohyun mengaduh kesakitan karena dipukul Luhan menggunakan penggaris besi.

"Kau masih ada urusan denganku dan sekarang membuat masalah lagi. Hey! Jangan lari kau!" teriak Luhan ketika Woohyun telah berlari keluar dari kelas. Luhan segera mengejar Woohyun dengan membawa penggaris besinya.

"NAM WOOHYUN! JANGAN KABUR DARIKU!" teriak Luhan yang menggema di sepanjang koridor. Kakinya berlari mengejar Woohyun di depannya.

Semua siswa siswi melihat itu dengan tatapan tak percaya. Ia tidak menyangka Luhan yang lemah lembut bisa berteriak seperti itu. Mereka yang berpikiran begitu tentu bukan teman sekelas Luhan. Semua teman sekelas Luhan sudah biasa dengan kelakuan Luhan yang seperti itu.

Woohyun terus berlari menghindari rusa mengamuk. Di depannya kini ada lapangan indoor dan tak ada jalan lain. Maka dari itu ia memutuskan untuk masuk ke dalam sana.

BRAAKK

Para siswa yang tergabung dalam tim basket sontak terkejut ketika pintu lapangan tiba-tiba dibuka oleh seseorang dengan keras. Mereka melihat sang pelaku dengan tatapan heran.

Woohyun membelalakkan mata tak percaya ketika menyadari lapangan tersebut tidaklah sepi. Ia tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Ehehe... Mian, aku sedang dikejar ru –"

"NAM WOOHYUN!"

BRAAKK

Untuk kedua kalinya pintu didorong dengan tidak elitnya. Suasana hening seketika. Bahkan jangkrik pun enggan bersuara karena di dalam lapangan tersebut memang tidak ada jangkrik.

Reaksi Luhan tak jauh berbeda dengan Woohyun. Hanya saja ia tidak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menggunakan tangan melainkan penggaris yang dipegangnya. Luhan memandang ke sekeliling lapangan yang tiba-tiba menjadi hening. Semua anggota tim basket memerhatikannya, termasuk...

"Luhan hyung?"

Inilah yang Luhan hindari. Mata Sehun menatap lurus ke arahnya membuat Luhan salah tingkah.

"M-mian menganggu kalian. Aku hanya ingin mengejar anak nakal ini," ucap Luhan seraya menunjuk Woohyun.

"Silahkan lanjutkan latihannya," Luhan tersenyum manis sekali membuat Sehun tak berkedip meskipun Jongin menginjak kakinya.

"Kau tidak bisa lari dariku," Luhan berbisik tajam kepada Woohyun membuat namja itu bergidik.

Luhan menyeret Woohyun keluar dari lapangan indoor karena ingin segera lepas dari tatapan memikat Sehun.

Selama perjalanan di koridor dengan menyeret Woohyun menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang penggaris, Luhan terus mengoceh.

"Dengar, Nam Woohyun! Kau harus melaksanakan piketku selama dua minggu, menyikat sepatuku selama dua minggu, dan –"

"Hyung, kau pikir aku budakmu? Aku tidak mau!" sela Woohyun.

Luhan memukulkan penggaris besinya pada lengan Woohyun membuat Woohyun merintih kesakitan.

"Kau harus mau!" Luhan menatap tajam Woohyun.

"Tidak! Kenapa aku harus melakukannya?" protes Woohyun.

"Karena kau sudah dua kali membuatku malu di depan Sehun,"

"Hyung, itu salahmu sendiri. Tentang ciuman itu aku hanya menyuruhmu di pipi. Dan tentang yang tadi, kau sendiri yang mengejarku padahal aku tidak menyuruhmu mengikutiku," Woohyun membela diri.

"Tapi tetap saja ini semua gara-gara kau!"

"Pokoknya aku tidak mau!" Woohyun segera melepaskan tangan Luhan dari lengannya dan berlari cepat menjauh dari Luhan.

"NAM WOOHYUN! JANGAN LARI!"

Dan terjadilah lagi aksi kejar-kejaran antara Luhan dan Woohyun.

...

...

...

Latihan basket baru saja selesai. Semua anak sudah keluar. Di lapangan hanya tersisa Chanyeol dan Sehun.

"Sehun-ah, tentang kejadian di kantin tadi aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa pada Luhan. Aku hanya bercanda," ucap Chanyeol pada Sehun sedang yang membereskan barang-barangnya. Ia merasa bersalah pada namja pucat tersebut dan tak ingin Sehun mengira ia merebut Luhan darinya.

"Arraseo. Aku tidak marah padamu, hyung," ucap Sehun seraya tersenyum.

"Tapi kau juga jangan marah pada Luhan. Dia tak tahu apapun,"

"Aku tidak akan bisa marah pada Luhan hyung,"

Chanyeol lega karena Sehun tidak marah padanya. Setidaknya ia tidak akan mendapat tatapan tajam membunuh milik Sehun lagi. Ia tahu Sehun sangat posesif pada Luhan. Semua orang yang berani mendekati Luhan akan berurusan dengan pangeran es tersebut, kecuali Baekhyun tentunya karena Baekhyun adalah sahabat dekat Luhan.

"Dan mengenai Woohyun kau tidak perlu khawatir. Kudengar mereka selalu bertengkar karena Woohyun suka menganggu Luhan. Mereka sudah seperti kucing dan anjing," jelas Chanyeol. Sehun mengangguk mengerti. Sebisa mungkin Chanyeol membuat Sehun agar tidak mudah cemburu, entah apa tujuannya.

"Hyung sekarang dekat dengan Baekhyun hyung, kan?" tanya Sehun. Chanyeol mengangguk dengan pandangan bertanya.

"Tentunya Baekhyun hyung sering bersama Luhan hyung. Aku hanya ingin titip salam untuk Luhan hyung," ucap Sehun. Lagi-lagi tersenyum.

"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Chanyeol yang diangguki oleh Sehun.

Dan mereka pun berpisah di depan pintu lapangan indoor.

...

...

...

"Baiklah, rapat hari ini sampai di sini. Jika ada pertanyaan kalian bisa langsung menghubungiku. Selamat sore," Suho sang ketua OSIS mengakhiri rapat bulanan kali ini.

Baekhyun meregangkan otot-ototnya karena satu jam lamanya tidak bergerak di kursinya. Setelah berpamitan dengan semua rekannya, namja mungil tersebut keluar dari ruang OSIS. Baru saja ia melangkahkan kaki keluar ia sudah disuguhi dengan tiang listrik yang melemparkan senyum ke arahnya. Ia pun mendengus dan mengabaikan tiang listrik tersebut.

"Baekhyunnie, tunggu!" Chanyeol berseru dan mengejar Baekhyun.

"Aku sudah berjanji pada eomma dan appamu untuk mengantarmu pulang," kata Chanyeol.

"Aku mau mengambil tas dulu," alasan Baekhyun karena ia ingin kabur dari tiang listrik tersebut.

"Tidak perlu. Aku sudah mengambilkannya," Chanyeol menunjukkan tas Baekhyun yang ada di sebelah tangannya.

"Oh, bagus," cibir Baekhyun. Ia tidak ingin berdebat karena lelah selepas rapat.

Akhirnya Baekhyun pun hanya pasrah diantar oleh Chanyeol. Ada baiknya juga karena ia tidak perlu lelah berjalan lalu menunggu bus berhenti di halte.

"Ya! Itu bukan jalan menuju rumahku," teriak Baekhyun saat Chanyeol mengambil jalan yang berlawanan dengan arah rumahnya.

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Chanyeol santai.

"Tapi eomma sudah menungguku," protes Baekhyun.

"Aku sudah minta izin kepada kedua orangtuamu,"

Baekhyun bungkam, merasa tidak dapat melawan lagi. Akhirnya ia pun pasrah. Ia tidak mungkin nekat akan melompat tiba-tiba dari motor. Ia masih ingin meraih mimpinya menjadi penyanyi dan membangun pabrik eyeliner.

...

...

...

Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya tidak sabaran saat duduk di sebuah kursi tunggu. Ia tengah menunggu Chanyeol membeli tiket. Ya, mereka sekarang berada di bioskop. Chanyeol memaksa Baekhyun masuk walau awalnya namja mungil itu tidak mau. Tapi bukan Chanyeol namanya kalau tidak mendapatkan apa yang ia mau. Apapun akan ia lakukan termasuk menggendong Baekhyun dari lantai dasar sampai ke lantai empat.

Chanyeol kembali dengan dua lembar tiket, dua bungkus popcorn, dan dua gelas minuman dingin. Baekhyun yang melihat itu segera merebut popcorn dan gelas yang menjadi bagiannya. Entah kenapa ia sedikit tidak tega melihat namja itu kewalahan membawa sebanyak itu.

Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol yang masih tetap di tempatnya. Chanyeol tersenyum misterius. Ia menghitung dalam hati.

'Hana,'

'Dul,'

'Set,'

Baekhyun berbalik dan kembali menghampiri Chanyeol yang masih setia di tempat semula dengan senyum bodohnya.

"Kita duduk di kursi nomer berapa?"

...

...

...

"Bukankah film tadi bagus, Baekki?" tanya Chanyeol saat mereka berjalan menuju tempat parkir.

"Kau mau membuat jantungku lepas mendadak dengan menyuguhi film horor seperti itu?" kesal Baekhyun.

"Mian. Habisnya kau tidak menjawab ketika aku bertanya apa film kesukaanmu. Jadinya kupilih film horor kesukaanku," kata Chanyeol.

Dalam hati Baekhyun membatin bahwa Chanyeol sangat tidak romantis mengajak namja semanis dirinya menonton film horor. Padahal awalnya ia mengira Chanyeol akan mengajaknya menonton film romance mengingat Chanyeol sepertinya menyukai dirinya. Alhasil Baekhyun setia menutup mata selama film tersebut berlangsung.

"Cepat antar aku pulang," kata Baekhyun ketika mereka sampai di parkiran dan namja itu langsung menaiki motor Chanyeol.

"Baekki tidak mau makan dulu?" tawar Chanyeol.

"Aku mau makan di rumah saja. Kajja, aku lelah,"

"Baiklah," Chanyeol menyusul Baekhyun menaiki motornya.

Padahal Chanyeol berencana ingin makan malam di luar dengan Baekhyun, tapi melihat raut kelelahan di wajah namja manis itu membuatnya tak tega jika harus memaksanya lagi.

'Mungkin lain kali,' batin Chanyeol.

Namja jangkung tersebut menjalankan motornya membelah keramaian kota Seoul di malam hari. Pemandangan malam kota Seoul benar-benar indah. Ia selalu senang melihat pemandangan malam Seoul. Apalagi dengan adanya namja manis di belakangnya sekarang membuat suasana hatinya semakin baik dan cerah.

...

...

...

Chanyeol memberhentikan motornya di depan pintu pagar rumah Baekhyun. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Baekhyun tengah tertidur dengan pulas di punggungnya. Ia tersenyum melihat wajah Baekhyun yang tertidur.

"Kau terlihat lebih manis jika seperti ini," gumamnya.

Chanyeol yang tidak tega membangunkan Baekhyun karena namja itu kelihatan benar-benar kelelahan, akhirnya menggendong Baekhyun di punggungnya. Ia tidak terlalu kesusahan karena Baekhyun sangatlah ringan. Ia berjalan menuju pintu masuk dan menekan bel. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu.

"Astaga, Baekhyunnie," pekik nyonya Byun ketika melihat anaknya tidur sangat pulas dengan mulut sedikit terbuka di gendongan Chanyeol.

Nyonya Byun pun segera menunjukkan jalan menuju kamar Baekhyun kepada Chanyeol. Sesampainya di kamar Baekhyun, Chanyeol menjatuhkan pelan-pelan Baekhyun pada ranjangnya.

"Gomawo, Chanyeollie. Dan maaf sudah merepotkanmu," ucap nyonya Byun merasa bersalah.

"Gwaenchana, eomma. Chanyeol permisi," pamit Chanyeol.

Setelah menolak ajakan makan malam oleh nyonya Byun, Chanyeol menuju motornya di depan pagar.

"Hati-hati, Chanyeollie!" seru nyonya Byun seraya melambaikan tangannya. Chanyeol tersenyum dan balas melambai. Setelah itu namja tersebut menjalankan motornya menjauhi pekarangan rumah keluarga Byun.

...

...

...

...

...

^_T_B_C_^


Big Thanks To:

Maple fujoshi2309 | Dasha Kim | followbaek | Taeminho597 | rizqibilla | Beechanie | Tabifangirl | HyunRa | Guest | Re-Panda68 | Rnine21 | Baekhyunniee | .58 | fanoy5 | nisanoli Special bubble | biezzle | oh luhan | Guest 2 | septhaca | Baekhyun Park | HunForHan |

Gomawo udah review :)


Pendek ya? Aku emang bikin per-chap kurang lebih 3000 kata biar nggak kepanjangan,, kalo kepanjangan ntar capek bacanya

aku minta maaf bikin hunhan gantung,, tapi nggak bermaksud gitu kok, kalo digantung ntar mati *abaikan*

karna banyak yg minta chanbaek jadi dichap ini banyak chanbaek-nya,, mungkin chap depan atau depannya lagi hunhan bakal sweet"an lagi,, tapi hati" kalo baca, ntar diabetes *abaikan lagi*

kira" siapa ya yg bakal jadian duluan? Ada yg bisa tebak?

Oh ya, mian update-nya agak telat karna aku sibuk ngurus pengisian bio universitas. Aku seneng banget akhirnya diterima di PTN favoritku! Perjuanganku belajar dan jauh" kesana nggak sia" :D #curcol

See you on next chap :)

R n R juseyo :)