"Eh?"
Tenten ingin mengusap pergi ekspresi bodoh di wajah pria pirang berambut durian bernama Naruto itu. Ia urung.
"Aku bilang, aku mengambil tawaran kencanmu tempo hari."
"Kau-kau serius?"
Tenten memaku. "Sebentarーkau punya kendaraan kan?"
Naruto mengangguk cepat, mengangkat kunci mobilnya yang ia ambil dari kantong depan tas ransel. Ia menunjuk mobil Chevrolet keluaran terbaru di belakang Tenten yang terparkir rapi, memberitahu mobil oranye itu miliknya.
"Bagus. Karena aku tidak suka berpergian jauh naik kendaraan umum. Tidak efisien."
"Umーkita mau ke mana?"
Tenten menoleh lagi. Ia memindai penampilan Naruto dari ujung kaki hingga kepala. Mencoba mengingat apa yang membuatnya tidak menyukai berada di dekatnya lama-lama. Sekarang, ia tidak bisa.
"Kau ada kelas?"
"Uh, aku tidak keberatan bolos."
Pikiran Tenten gaduh. Ia hanya ingin pergi dari Konoha secepatnya.
"Kau keberatan menghabiskan akhir pekan ini denganku?"
Air muka pria pirang di hadapannya menjadi cerah. Ia tidak kesulitan menunjukkan apapun itu yang ia rasakan, huh?
"Bawa aku ke manapunーkecuali pantai."
.
.
.
Tenten mendecak kesal.
"Kubilang jangan bawa aku ke pantai."
"Kita di laut sekarang."
Tenten membuka mulutnya hendak protes, tapi gelombang besar membuat kapal pesiar pribadi Naruto oleng.
"Wua!"
Naruto menangkap gadis itu tanpa usaha yang berarti. Ia seperti terbiasa dengan gangguan gelombang laut Konoha yang bergulung-gulung mengacaukan keseimbangan kapal.
"Kau baik-baik saja?"
Tenten menggerutu. Ia tidak suka naik kapal. Bukan karena ia membenci genangan air asin yang meliputi 1/3 permukaan bumi itu, tapi karena seseorang.
Seseorang yang menolak Tenten dan membuatnya menelan kekalahan mentah-mentah.
"Tenten?" panggil Naruto saat Tenten terbawa arus pikirannya. Mata coklatnya menerawang jauh, tidak menyisakan ruang sedikitpun bagi interupsi Naruto.
Seseorang yang...harus ia bagi dengan perempuan lain.
"Tenten!"
Gadis itu memejamkan matanya. Saat kedua kelopak matanya terbuka lagi, wajah Naruto menunjukkan kekhawatiran.
"..."
"Kau...baik-baik saja?"
Tenten menunduk. Menolak membalas tatapan Naruto. Ia melepaskan diri dari dekapan Naruto kemudian bertumpu pada selusur besi yang ada di pinggir kapal.
"Kau pasti berpikir aku perempuan murahan."
Naruto terkejut mendengar perkataan Tenten.
"Eh?"
Tenten mendongak, melihat ke arah dek atas. Ia menoleh, memberi petunjuk pada Naruto untuk mengikutinya. Setibanya di dek atas, Tenten merebahkan dirinya di atas hammock jaring besar dengan beberapa bantal di atasnya. Naruto meragu, ia tetap berdiri di samping hammock.
"Aku sudah mempunyai pacar."
Suara burung camar di udara memenuhi telinga mereka berdua. Tenten menunggu respon Naruto tapi tidak kunjung datang.
"Tapi aku malah pergi kencan denganmu...murahan, bukan?"
Hammock tempat Tenten berada berbunyi, mengindikasikan beban tambahan di atasnya. Bersamaan dengan itu bayangan berbentuk kepala durian tumpah di atas tubuh Tenten.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Tenten mengangkat telapak tangannya dari wajahnya. Kontras terik matahari yang dipunggungi Naruto dan siluet tubuh pria sebayanya itu membuat mata kebiruan Naruto menjadi lebih cerah dari biasanya. Cahaya matahari dari besi kapal pesiar memantul di genangan air pupil indah tersebut. Menghanyutkan siapa saja yang melihat.
"Matamu...indah sekali." bisik Tenten lirih.
Naruto merona. Ia tidak menyangka akan dipuji tiba-tiba. "TungーTenten, tolong fokus sebentar. Kita sedang membicarakan pacarmuー"
Kuapan Tenten menelan jeda yang nyaris diambil Naruto guna menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tidak ingin membicarakan pria tua itu."
"Pria tua?"
Tenten menatap Naruto lemas. Ia tidak seharusnya membocorkan kisah hidupnya ke orang ini. Tidak di saat bahkan temannya sendiri tidak ia beritahu. Tapi bukankah itu inti dari mencurahkan hati kepada orang asing? Untuk menghindari penghakiman orang terdekat dan mendapatkan solusi tanpa bias.
Tenten bangkit dari posisinya di atas hammock. Naruto bergeser memberi ruang, meskipun tubuhnya yang lebih tinggi tetap membentuk bayangan di sekujur tubuh Tenten. Tenten menatap lekat pria sebayanya itu.
"Di saat seperti ini, seharusnya kau mengataiku jalang dan memintaku turun dari kapalmu."
Naruto memiringkan kepalanya. "Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Karena aku memanfaatkanmu untuk menghilangkan kepenatan sepihakkuーdi tengah keadaan kau memiliki rasa padaku, dan aku punya kekasih di luar sana."
Naruto mengerutkan dahinya, tidak percaya apa yang dikatakan gadis di hadapannya. Tapi ia tetap tenang. Terlalu tenang untuk ukuran orang yang terkenal berisik dan punya reaksi berlebihan terhadap segala sesuatu.
"Tenten. Aku tidak akan mengajakmu naik kapal ini kalau aku tidak menginginkanmu di sini."
"Meskipun aku punya pacar dan tidak punya niat sedikitpun mempertimbangkan pernyataan cintamu?"
Senyap.
"Untuk...sekarang, maksudku. Kita tidak pernah tahu di masa yang akan datangー"
Naruto tersenyum. "Aku paham. Tidak usah dijelaskan."
Tenten menunduk. Wow. Sekarang ia merasa sangat bersalah karena tidak memikirkan lebih jauh tentang efek dari tindakan egoisnya mengajak Naruto menghabiskan golden week bersama. Mungkin ia harus membatalkan ini semua dan kembali ke Konoha.
"Jadi, siapa pacar yang lebih tua darimu ini?"
"Ah."
Tenten mendapati dirinya kembali menatap wajah Naruto. Ia tersenyum menunggu jawaban Tenten, tidak ada sedikitpun tanda emosi negatif dari menuruti keegoisan gadis di depannya akan muncul.
Tenten menghela nafas panjang. Mungkin dengan begini, kata jalang akan sungguh-sungguh keluar dari mulut malaikat bernama Naruto.
"Dia...salah satu pejabat Konoha."
"Tidak mau beritahu namanya? Baiklah."
"Dia sudah punya keluarga."
Mulut Naruto berhenti di tengah jalan memproses kalimat. Ia tampak berpikir untuk mengeluarkan respon yang pantas.
"Aku tahu, jalang, bukanー"
"Sudah berapa lama kalian berhubungan?"
Tenten berkedip. "Uh...setahun?"
Naruto mencubit dagunya, berpikir. "Itu...cukup lama. Kau yakin kalian bukannya sudah menikah diam-diam?"
Tenten menggeleng. "Diaーpacarku tidak percaya pada poligami. Baginya, satu pernikahan selamanya."
"...tapi dia selingkuh denganmu."
"Aku tahu. Kontradiksi persepsi yang dianutnya sangat terlihat jelas hingga membuatku ingin memukulnya."
"Tapi?"
Tenten terdiam. Tapi? Ia tetap menjalani hubungan terlarang ini dengan Minato. Pria itu sangat bersikeras saat mendekati Tenten. Persistensinya membuat Tenten luluh. Benar, gadis dewasa muda yang tidak pernah terpikir ingin merajut hubungan romansa ini.
"Aku...tidak bisa menolaknya."
Naruto memandangi sosok gadis berambut coklat yang menunduk di hadapannya dalam diam. Untuk beberapa saat mereka menghabiskan waktu seperti itu. Tenggelam dalam lamunan masing-masing. Terombang-ambing oleh arus gelombang laut lepas Konoha.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tetap tidak akan mengataimu jalang, apapun itu. Tapi kalau aku boleh jujur, permintaanmu ingin menghabiskan akhir pekan bersamaku itu cukup ceroboh; kau tidak mengenalku dengan baik. Dan aku adalah laki-laki sehat yang menyukaimuーkau pasti paham maksudku."
Tenten mengangkat pandangannya. "Maaf. Aku-aku sedang tidak berpikir jernih, makanya..."
Naruto tersenyum, tangannya mengelus pelan kepala Tenten. "Kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."
Tenten hanya bisa mencari-cari bola mata Naruto. Ia tidak menemukan kebohongan ataupun keraguan.
"Mungkin...seharusnya kita kembali ke Konoha." ujarnya penuh penyesalan.
"Eh? Kenapa? Kita sudah berlayar cukup jauh, sayang kalau kembali." jawab Naruto.
"Habisnya...kau membawaku kemari hanya karena permintaan egoisku, kan? Lagipula, bagaimanapun kau melihatnya, tetap saja aku memanfaatkan kebaikanmu karena kau menyukaiku."
"Aku tidak keberatan."
"Eh?"
Senyum rubah milik Naruto membuat Tenten salah tingkah. Ia tidak menyangka dari jarak dekat ekspresi itu tampak lucu. Padahal selama ini ia menganggap keriangan Naruto itu mengganggu.
"Berada di dekatmu saja aku sudah senang. Karenanya, kita jadikan saja rencana liburan akhir pekanmu ini!"
Tenten merasakan panas merambat di kedua pipinya. Ia tidak pandai menghadapi orang yang secara terbuka menyatakan suka padanya. Bahkan, boleh dibilang ini pengalaman pertama. Tidak setiap hari kau bertemu orang yang terang-terangan tentang rasa sukanya seperti ini.
"Aku akan bilang ke nahkoda untuk membawa kita ke pulau pribadi keluargaku. Kau tunggu di sini ya, aku juga akan menyiapkan makan malam."
"Tu-tunggu! Naruto-kunー"
Tenten segera menutup mulutnya. Rasanya aneh memanggil Naruto dengan nama depannyaーkalau dipikir-pikir, selama ini Tenten tidak pernah memanggilnya menggunakan nama. Hanya 'kamu'.
Tatapan Naruto juga menunjukkan keterkejutan mendengar Tenten memanggil namanya.
"Ma-maaf, Naruto-saー"
"...san?"
Tenten berkedip. Ekspresi Naruto sangat konyol, ia terlihat ingin muntah mendengar Tenten memanggilnya menggunakan sufiks 'san'.
"...Naruto-kun?"
Naruto cemberut.
"Naruto?"
Pria kepala durian itu menunjukkan wajah cerah, mengindikasikan persetujuannya. "Tunggu di sini."
"Ah-"
Tenten berlari ke tangga yang menuju dek lantai bawah, mencoba menyusul Naruto yang berlari semangat ke kabin kendali nahkoda.
"Naruto!"
Sang empunya nama menoleh.
"Aku...minta maaf. Atas semuanya. Aku sungguh minta maaf..."
Naruto tertawa, menggelengkan kepalanya seolah paham apa arti permintaan Tenten kemudian menghilang ke bagian dalam kapal pesiar.
"...aku..."
Genggaman Tenten di susuran kapal bertambah kuat. Ia tidak bisa mengakuinya. Ia tidak punya kekuatan untuk menghancurkan segalanya.
"...memacari ayahmu..."
