Main Cast : Kim Taehyung and Jung Kook
Slight : Yoonmin, Namjin (Jimin and Jin bottom)
Support Cast : other
Genre : drama, real life, a little bit of humor and love
Rated : T
Judul :
SAD STORY OF LIFE.
Love And Peace :3
Happy Reading
.
.
.
JUNGKOOK P.O.V
"OH MY GOD! SHIT TAE!" teriakku dengan mata melotot dan mencoba melihat kenyataan yang ada di depan mata.
"AKHH!" teriak bapak tua itu sambil berbaring di lantai dan memegang bahunya kuat. Sedangkan Taehyung hanya tersenyum meremehkan melihat darah sudah mulai mengalir.
Taehyung mendekat ke arahku dengan santai dan membuka seluruh ikatanku. Sedangkan diriku masih tertegun kebingungan dengan Taehyung yang tampak seperti biasa saja.
"Tae… kau membunuh manusia…" gumamku kecil dan Taehyung hanya tertawa.
"Dia tidak akan mati kalau hanya tertembak di bahu. Tidak akan. Kau diapakan dengan bapak itu?" tanya Taehyung yang aku jawab dengan gelengan kepala kecil. "Tapi, matamu memerah."
"Itu karena… lupakan soal mataku." Balasku cepat dan mengalihkan pandanganku dari Taehyung dan melihat pistol serta lencana yang dipegang Taehyung. "Kau dapat dari mana barang-barang ini? Dan kenapa kau ada di sini?"
"Ohh ini… aku mencurinya dari Inspektur Daehun."
"Daehyun."
"Yah… terus aku mencarimu. Ingin menunjukkan kehebatan aku dalam menembak sesuatu, terus aku melacak ponselmu dan ternyata kau di sini. Tapi baguslah, kau juga bisa melihat kehebatanku dalam menembak." Jelas Taehyung yang membuat mulutku menganga lebar.
"KAU MENEMBAK ORANG BODOH." Kataku sambil berdiri dan menunjuk bapak tua yang masih saja kesakitan karena bahunya tertembak.
"Tenang saja, dia tidak akan mati. Kalau mati berarti sudah takdirnya."
What
The…
Apa itu kata yang pantas untuk disebutkan oleh anak SMA yang sudah menembak orang?!
"Dan Inspektur sebentar lagi juga akan ke sini. Dia pasti melacakku saat menyadari pistolnya menghilang." kata Taehyung sambil ikutan berdiri dan melihat rak makanan.
Dia mengambil satu makanan dan membukanya pelan, duduk di kursi yang bapak tua tadi dudukin dan memakan snack yang ada di tangannya.
"Coba kau cari di lemari pendingin, ada cola tidak?"
Aku masih terdiam dan mencoba untuk mencerna perkataannya. Mataku masih tertuju dengan tubuh bapak tua itu yang sekarang sepertinya sudah ingin pingsan karena menahan rasa sakit.
"Kau tidak mau ambilkan? Kalau begitu aku ambil sendiri." Katanya sambil berdiri dan berlalu pergi. Setelah dia pergi, aku hanya bisa bengong di tempat.
Tidak beberapa lama suara sirene polisi mulai terdengar. Dan dua orang polisi yang aku tau salah satunya adalah Inspektur Daehyun melihatku dengan tatapan yang sama bingungnya.
"Taehyung yang ngelakuin." Kataku cepat yang membuat Inspektur Daehyun berlalu pergi dan rekan polisinya langsung melakukan pertolongan pertama sambil menelpon bantuan.
Aku pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju tempat lemari pendingin. Di situ tampaklah Taehyung yang sudah diborgol oleh Daehyun dan Daehyun dengan mudahnya memukul kepala Taehyung.
"Dasar bodoh, kalau kau membunuh orang… aku tidak mau repot-repot untuk mengurusi agar kamu tidak masuk penjara." Kata Daehyun sambil menggeret Taehyung keluar dan aku mengekor dari belakang.
"Bukannya bagus masuk penjara? Semuanya sudah diatur, dapat makan dan minum. Fasilitas yang cukup memadai juga ada." Balas Taehyung yang ngebuat Daehyun mendecih kesal.
"Lagian buat apa kau menembak bapak-bapak huh?"
"Dia menyakiti Jungkook. Makanya aku menembaknya." Jawab Taehyung sambil masuk ke dalam mobil polisi dan Inspektur Daehyun melihatku dengan tatapan penuh tanya.
Akhirnya aku menjelaskan apa yang telah terjadi, tentu saja memotong bagian aku menangis kuat seperti anak TK yang tidak dibelikan permen. Aku juga sedikit mengubah alur ceritanya bahwa aku mencoba untuk melawan, padahal sejujurnya aku tidak ada melawan sama sekali.
"Baiklah, Jungkook kau masuk ke dalam mobil. Biar aku antar kau pulang." Kata Daehyun yang membuat aku memasuki mobil polisi dan duduk di samping Taehyung yang kedua tangannya di borgol itu.
Waktu Daehyun menghidupkan mobil, mobil ambulance mulai datang. Membuat aku sedikit merasa tenang bahwa bapak botak itu akan selamat.
"Kau bisa menurunkan ku di rumah Jungkook jika kau mau." Sahut Taehyung yang membuat Daehyun tertawa.
"Terus kau akan menimbulkan kekacauan lagi? Kau akan aku antar ke tempat yang kau suka Taehyung, dimana seluruh fasilitas ada di situ."
"Penjara maksudmu? Aku seharusnya tidak masuk penjara gara-gara menembak. Anggap saja itu adalah perlindungan diri."
"Kau masuk penjara karena mencuri pistol dan lencana dari seorang detektif." Sangkal Daehyun yang membuat Taehyung terdiam dan merengut lucu.
"Inspektur, kurasa Taehyung bersamaku saja. Aku bisa menjaganya." Kataku sambil tersenyum kecil.
.
.
.
"Aku mempercayakannya kepadamu Jungkook." Kata Inspektur Daehyun sambil melajukan mobilnya menjauh dari rumahku. Aku sempat membungkuk kecil sebagai tanda penghormatan dan melihat Taehyung yang berdiri di depan gerbang rumahku.
"Ayo masuk. Aku lapar." Kata Taehyung singkat yang ngebuat aku menghela napas panjang. Aku pun membuka gerbang rumahku dan memasuki rumah dengan wajah tersenyum senang saat melihat Jin hyung sedang duduk di depan televise.
"Hyung… tau tidak? Hari ini—"
"Oi! Aku lapar." Potong Taehyung tiba-tiba yang membuat Jin hyung membelalak kaget.
"Ambil saja makanannya, dapur di sana." Tunjukku dan Taehyung langsung berjalan ringan menuju dapur.
"Ngapain dia ada di sini?" tanya Jin hyung dengan muka bengong.
"Panjang hyung ceritanya. Tapi kurasa dia akan menginap malam ini, tidak apa kan?"
"Tidak masalah sih, tapi bukannya hyung sudah bilang jangan terlalu ikut campur dengannya? Dia bisa saja berbahaya."
Oh well, dia sudah menembak bahu seseorang hari ini. Tapi, itu karena melindungiku bukan? Berarti dia tidak terlalu berbahaya kan?
"Makasih hyung, aku ingin mandi dulu." Kataku sambil mencium dahi Jin hyung ringan dan berjalan menuju kamar mandi.
Membutuhkan waktu 10 menit aku mandi dan aku sudah keluar dalam keadaan segar. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, mungkin habis mengkeringkan rambut aku akan tidur. Lagian besok masih sekolah.
Aku berjalan menuju kamarku dan sedikit terkejut waktu mendapati Taehyung yang masih menggunakan seragam SMA nya sedang duduk di meja belajarku.
"Jadi ini kamarmu?" tanya Taehyung yang membuatku mengangguk kecil.
"Kau bisa tidur di sofa atau lantai jika mau. Kamar di rumah ini cuma dua soalnya, apa perlu aku ambilkan selimut tebal?" tanyaku lalu mengambil pengering rambut dan menyalakannya.
"Tidak, tidak perlu… aku jarang sekali tertidur."
"Wae?"
"Karena otakku susah dimatikan." Jawabnya singkat yang membuat aku mengkerutkan dahi bingung.
"Memangnya otakmu itu mesin apa?"
"Mungkin."
"Kalau begitu, keluar dari kamarku. Aku mau tidur. Dan pergi mandi sana!" kataku cepat yang hanya dijawab dengan kesunyian. Taehyung sendiri langsung berdiri dan berjalan keluar kamar.
Membuat aku rasanya ingin tidur dan melupakan kejadian aneh hari ini.
.
.
.
"Wow… kalian berangkat sekolah bersama?" kata Jimin tiba-tiba menghampiri aku dan Taehyung di depan gerbang sekolah.
"Kakimu sudah membaik?" tanyaku yang melihat Jimin kembali berjalan normal.
"Yah, seperti itulah." Jawabnya sambil menggerakkan kedua kakinya dan tersenyum lebar.
Tiba-tiba suara teriakan mulai terdengar dari beberapa siswa dan begitu juga dengan gelak tawa, membuat kami bertiga melihat ke arah belakang dan aku langsung tertawa kuat.
Pasalnya Hoseok hyung sedang berlari dengan sekuat tenaga masuk ke dalam gerbang sekolah dan meminta perlindungan dari sang satpam dari kejaran orang gila.
"Sudah kubilang, orang gila itu mengerikan." Sahut Jimin sambil tertawa kecil.
"Kasihan sekali Hoseok hyung. Tampan-tampan malah dikejar orang gila." Tawaku sambil memegang perut. Soalnya, muka Hoseok hyung yang ketakutan dan meminta tolong satpam itu benar-benar nomor satu lucunya.
"Dia tidak tampan." Sahut Taehyung yang membuat aku melihatnya.
"Tentu saja dia Tampan Tae, orang sepertimu lah yang tidak tampan." Balasku yang membuat Taehyung mendengus kecil.
Taehyung hanya melangkah pergi lebih dulu, meninggalkan aku dan Jimin yang masih melihat Hoseok hyung.
"Sepertinya dia tidak akan masuk ke kelas." Sahut Jimin yang membuatku langsung menyusul kemana perginya Taehyung. Aku berlari kecil menyamai ketinggalanku dan langsung memukul ringan pundak Taehyung.
"Buat apa kau mengikuti namja yang tidak tampan?" tanyanya sambil menatapku sinis.
"Karena aku dipercayakan oleh Inspektur Daehyun untuk menjagamu."
"Terserah dirimu sajalah, aku hanya ke taman belakang saja."
"Aku tau." jawabku sambil tersenyum senang.
.
.
.
"Ayo naik." Kata Taehyung yang membuatku mengangguk kecil dan bersaha memanjat salah satu pohon yang ada di taman belakang sekolah.
Setelah susah payah dan juga dibantu oleh Taehyung, akhirnya aku bisa naik ke atas dan duduk di salah satu dahan pohon.
"Aku masih terpikirkan dengan Hoseok hyung yang dikejar orang gila. Katanya kau juga pernah dikejar orang gila?" tanyaku sambil melihat pemandangan yang terlihat dari atas pohon. Tampak bangunan-bangunan yang membuatku sedikit kagum. Jika dilihat dari atas, kota Seoul sebenarnya sangatlah indah.
"Iya, jadi aku lewat di depannya. Tiba-tiba aku dikejar, sambil dilempari batu." Cerita Taehyung dengan muka datar. Sedangkan aku sudah tertawa, membayangkan Taehyung yang berlarian dengan muka datar dan ada orang gila di belakangnya berusaha mengejar Taehyung.
Tiba-tiba Taehyung meloncat turun dari pohon yang membuatku sedikit menghela napas berat. Baru saja naik masa sudah turun?
Baru saja aku ingin memanjat turun, Taehyung sudah melebarkan kedua tangannya dan melihatku dengan muka datar.
Aku langsung tersenyum lebar dan melocat turun ke arah Taehyung. Membuat muka Taehyung tampak terkejut, tapi Taehyung mampu menangkapku dengan cepat.
"JANGAN MAIN LONCAT SAJA BODOH!" teriak Taehyung saat aku sudah berada di pelukannya. "Tunggu aba-aba dariku! Baru loncat!" sambungnya yang membuatku tertawa kecil.
"Tidak perlu, karena aku yakin kau akan menangkapku."
"Cih, terserahmu sajalah." Katanya sambil memegang tanganku lalu menariknya pergi. "Kita bolos sekolah saja hari ini."
"Eh, eh… kau mah enak bolos tapi nilai tetap bagus. Lah aku, nilai menurun!" jawabku cepat yang membuat dia berhenti.
"Kalau gitu saat ulangan aku akan menjawab semuanya di kertas ulangan punyamu dan punyaku. Jadi kau dapat nilai bagus. Ok? Sekarang ikut sajalah…"
"Tidak mau! Itu namanya aku tidak berusaha!"
"Lebih penting mana aku atau sekolah?"
"Yah sekolah lah bodoh!" kataku cepat yang membuat Taehyung merengut.
"Kurasa lebih penting aku."
"Dalam mimpimu! Lagian kau mau ke kantor polisi lalu menangkap penjahat lagi bukan? Maaf saja kawan, aku tidak mau hidup dalam bahaya. Bagaimana kalau aku diculik lagi? Lalu aku dibekap lagi?" lalu aku menangis lagi tentunya. Akh… kalau mengingat penculikan semalam itu membuat aku merasa malu dengan diriku sendiri.
Bagaimana bisa menangis patah hati saat diculik seperti itu?!
"Tidak, tidak… aku akan mengajakmu ke tempat yang special." Kata Taehyung sambil menarik tanganku paksa. Yang membuat aku hanya bisa pasrah dan sedikit senang sih…
Soalnya ingin di ajak ke tempat special bukan?
.
.
.
"SPECIAL KEPALA OTAKMU!" teriakku kesal sambil melempar sarung tangan yang ia berikan kepadaku. "Apa yang special dari parit di tengah jalan?! Banyak kodok lagi!" kataku sambil memukul kepalanya kuat. Membuat salah satu kodok di tangan Taehyung hampir terlepas.
"Aish… Jinja… nangkap satu bukannya gampang bodoh."
"Yah buat apa juga menangkap kodok?!"
"Suka-suka aku lah! Toh nanti pelajaran biologi di kelas 11 kita juga akan membedah tubuh kodok."
"Tau dari mana huh?! Dan berarti itu kau mau membedah tubuhnya?"
"Iya."
Aku langsung menendang punggung belakang Taehyung yang membuat Taehyung melepaskan kodok tersebut.
"Tidak baik menyakiti binatang." Kataku cepat yang membuat Taehyung meringis sakit dan memegang pinggangnya.
"Jadi kau mau kemana?" tanya Taehyung yang membuat aku ingin menggamparnya kuat-kuat.
"Mana ku tau bodoh! Kau yang mengajakku bolos, sekarang kau yang bertanya kepadaku mau kemana. Kau itu—"
"Akh! Aku tau!" katanya cepat lalu menarikku pergi dan menuju halte bis terdekat.
Aku yang awalnya ingin marah langsung tidak jadi dan hanya menghela napas super panjang. Lalu memilih untuk pergi ke tempat mana yang Taehyung inginkan.
Butuh waktu 30 menit dari bus hingga jalan kaki ke sebuah kompleks perumahan tua. Taehyung berhenti di salah satu rumah tua dan memanjat gerbangnya dengan mudah. Begitu juga dengan diriku.
Taehyung memasuki rumah itu dengan mudah, karena pintunya yang sudah tidak memiliki ganggang pintu lagi. Saat aku masuk ke dalam rumah tua itu, mataku langsung menangkap sebuah grand piano yang sangat besar dan terlihat rapuh.
"Piano ini… sedikit sumbang jika ditekan, tapi masih bisa dimainkan." Katanya pelan lalu duduk di depan piano tersebut dan menekan satu persatu tuts piano.
"Bagaimana bisa di rumah seperti ini ada piano?" tanyaku bingung.
"Gosipnya, pemilik rumah ini pergi meninggalkan rumah ini begitu saja. Dan hanya meninggalkan piano tua miliknya di sini. Aku juga baru menemukan rumah ini beberapa bulan yang lalu." Jelas Taehyung yang membuatku ingin bertanya lebih banyak.
Bagaimana bisa dia menemukan rumah ini? Atau kenapa dia berani memasuki rumah ini?
Tapi, ini adalah Taehyung. Semua hal ajaib bisa ia lakukan.
Seperti seorang penyihir yang selalu tertawa mengerikan dan akan pergi terbang kemana-mana pada malam hari. Bedanya penyihir kali ini bernama Taehyung yang selalu pergi kemana saja sesuka hati dia dan suara tawanya…
Aku tidak pernah mendengarnya tertawa seingatku…
JENG
Suara piano sumbang mulai terdengar. Alunan music yang terdengar sedikit aneh tapi indah mulai membuatku menutup mata. Menikmati permainan yang dimainkan Taehyung.
"Apa yang kau rasakan saat menembak bapak tua itu?" tanyaku tiba-tiba yang membuat Taehyung memberhentikan permainannya.
"Tidak ada. Kenapa harus merasakan sesuatu? Toh kalau bapak itu mati yah sama saja. Semua manusia juga akan mati bukan?" tanyanya kepadaku yang membuat aku terdiam.
"Kalau dia mati, kau akan masuk ke dalam penjara."
"Tapi dia tidak mati bukan? Lagian kehidupan itu hanyalah kebohongan yang manis dan kematian adalah kenyataan yang pahit." Jawab Taehyung yang membuat ku menatapnya bingung.
"Jadi kau mau mati?"
"Tidaklah…" sangkalnya lalu mulai memainkan piano yang ada di hadapannya. "Eh Jungkook…"
"Yep?" jawabku sambil mengeluarkan beberapa buku dan duduk di lantai. Setidaknya aku ingin belajar sedikit untuk mengingat-ingat pelajaran.
"Aku… bosan." Katanya yang membuat aku melihat Taehyung dengan bingung. "Kau ada di pihakku bukan?" tanyanya sekali lagi.
Aku hanya mengkerutkan dahi bingung, tidak mengerti apa yang ia bicarakan. "Berpihak dalam hal apa?"
"Yah… suatu saat aku ingin mengerjakan kasus yang lebih berat dari pada hanya menangkap penjahat. Jadi kau selalu di pihakku."
"Idih… siapa juga yang mau jadi polisi? Aku maunya jadi penyanyi."
"Bukan mengajak dirimu jadi polisi juga… hanya saja kau—"
"Maksudmu aku mendukung impianmu atau tidak begitu?" tanyaku yang membuat Taehyung melihatku dengan tatapan kosong. "Tentu saja aku mendukungmu. Wae?"
"Jadi kau akan di pihakku bukan?"
"Iya… iya…"
"Jadi kau selalu di sampingku. Baguslah kalau begitu."
"Iy—" aku terdiam.
Aku lansung melihat muka Taehyung yang sekarang tersenyum kecil, sebelum akhirnya dia mulai menekan tuts piano dan bernyanyi ringan.
Sepersekian detik aku baru tersadar dari ucapannya yang sederhana itu. Agak sedikit merasa khawatir kalau Taehyung hanya mengucapkan omongan belaka. Tapi... walaupun omongan itu tidak artinya bagi Taehyung.
Entah mengapa…
Bagiku itu sangat berarti.
"Tae…"
"Hum?"
"Jangan mengatakan hal manis… jika hanya omong kosong. Aku benci itu."
.
.
.
"Jadi, gimana sekolah di sini?" tanya Namjoon hyung yang sekarang sedang duduk di atas sofa. Sedangkan aku yang langsung memeluknya saat melihat dirinya di depan pintu rumah hingga sekarang hanya bisa tertawa riang.
Oh, betapa rindunya aku dengan hyung yang satu ini.
"Tentu saja menyenangkan. Hyung sendiri? Gimana kerjanya?" tanyaku sambil melepaskan pelukan dan berahli memeluk tangan Namjoon hyung.
"Baik, baik saja… tidak ada yang special." Jawab Namjoon hyung yang membuat aku mengangguk mengerti.
Namjoon hyung sendiri adalah seorang reporter yang selalu pergi kemana-mana dan suka menghilang tiba-tiba demi mengejar berita. Itu yang membuat Jin hyung bisa sedikit bebas dan jujur saja Jin hyung paling suka kalau Namjoon hyung sudah pergi ke luar kota. Bisa bebas katanya.
Soalnya kalau Namjoon hyung ada di sekitaran Jin hyung…
Jangankan ada orang lain yang menyentuhnya, lalat aja yang hinggap di tubuh Jin hyung bisa langsung tamat riwayatnya.
Aku selalu bertemu Namjoon hyung saat berlibur di Korea Selatan ini. Dan aku sangat suka akan sifatnya yang 'menjaga' hyung aku satu-satunya. Apalagi saat kami bertemu kami berdua langsung akrab layaknya ayah dan anak. Hal itu yang membuat aku sangat senang sekaligus sayang sama pacar hyung ku satu ini.
"Ayo kita pergi." Kata Jin hyung sambil membawa beberapa kotak bekal dan tas.
"Loh, kalian mau kemana?" tanyaku bingung.
"Oh, ini… kami mau berenang. Mumpung hari Minggu, kenapa kau mau ikut?" tanya Jin hyung yang membuatku mengangguk semangat dan berlari menuju kamar untuk berganti baju dan menyiapkan baju ganti.
TING!
Suara pesan masuk membuat aktifitas memakai hoodie merah kesayanganku jadi terhenti. Aku langsung mengecek ponsel dan terdiam sesaat.
From : Kim Taehyung
Temui aku di kantor polisi, kasus kecil menunggu.
Aku mengkerutkan dahi, sejak kapan ada nomor Taehyung di ponselku? Tapi, jawabanku langsung terjawab saat dimana Taehyung meminjam ponselku untuk men-download aplikasi pelacak itu. Membuat aku sedikit merasa bodoh, kalau begini… buat apa aku menangis saat diculik lalu mengatakan tidak ada nomor Taehyung?!
To : Kim Taehyung
Temui kepala otakmu! Lagi di rumah, and I'm busy. Shut up! And don't come to my house you dummy head!
Balasku cepat lalu memasukkan ponselku ke dalam tas dan bersiap untuk pergi. Jujur saja bebelakangan ini aku sedikit merasa takut dengan Taehyung.
Semenjak kejadian di rumah tua itu dan sikapku yang langsung pergi begitu saja setelah mengatakan kata-kata lumayan kejam. Aku pun menjauhi Taehyung sebisa mungkin. Jika di kelas dia duduk di sampingku, maka aku akan menganggap bahwa dirinya tidak ada.
Setiap dia meminta untuk menemaninya, maka aku akan menolak dengan seribu alasan. Dan setiap dia menarikku atau memaksaku untuk ikut, maka aku akan mengeluarkan seribu macam jurus supaya bisa terlepas dari dirinya.
Dan… semenjak aku menjauhi dirinya, dia seakan membuntuti ku kemana aku pergi. Bahkan dia pernah mengikuti secara terang-terangan sampai ke rumah dengan aman. Saat aku memasuki rumah lalu mengecek dari jendela untuk melihat dia sudah pergi atau tidak, maka aku akan melihat Taehyung yang berjalan mondar-mandir beberapa kali sebelum akhirnya pergi.
Jujur saja… sepertinya aku sedikit melupakan bahwa Taehyung adalah sociopath. Lalu… aku baru merasakan takutnya sekarang…
Oh God! Kemana rasa takutku waktu itu?! bahkan aku sempat patah hati karena dirinya! Termaksud menangis saat diculik… akh… bagaimana cara melupakan hal yang memalukan itu…
Aku pun duduk di kursi belakang sambil memasang headset. Mengabaikan dua sejoli yang sedang berbicara dan bermesraan di depan sana. Hanya membutuhkan waktu 20 menit hingga sampai di waterpark yang ternyata tidak terlalu banyak orang datangi, padahal ini hari Minggu.
Kami bertiga langsung berganti baju dan mencelupkan diri di kolam arus. Jin hyung yang menyewa ban double hanya bersantai di atas ban sambil di dorong secara perlahan dengan Namjoon hyung. Sedangkan aku sudah tidak bisa lepas dari yang namanya 'perosotan air'.
Sembunyikan fakta bahwa aku menaiki tangga agar menaiki perosotan paling tinggi sendirian dan juga berteriak sendirian waktu menuruni perosotan indah ini. Ditambah berenang di kolam ombak dan bersantai di kolam arus.
Membuat aku merasa lapar seketika, aku pun langsung menuju ke salah satu gazebo kayu yang memang disiapkan di waterpark ini. Apalagi wakterpark luas dan megah ini memiliki beberapa tanaman yang menjadi penghias yang indah.
Saat melihat gazebo yang menjadi tempat kami bertiga, aku melihat makanan sudah tersusun berbagai macam makanan yang Jin hyung buat.
"Jin hyung mana?" tanyaku kepada Namjoon hyung yang sedang memakan kimbab dengan lahap.
"Toilet." Katanya singkat yang membuat aku langsung mengambil tempat duduk dan menyuapkan satu roti ke dalam mulut.
"Eh, Jungkook… kau pikir hyung mu akan suka tidak?" tanya Namjoon hyung sambil membuka tas hitamnya dan mencari-cari sesuatu. Aku hanya menunggu sabar sambil mengunyah roti.
Namjoon hyung mengeluarkan satu kotak kecil yang membuatku langsung semangat. Apalagi waktu Namjoon hyung membuka kotak itu dan menampakkan dua buah cincin perak.
"Hyung! Gila hyung! Jin hyung pasti suka! Kapan lamarnya nih?!" tanyaku dengan semangat dan melihat cincin itu dengan seksama.
"Well… malam ini."
"WHAT?! Kenapa aku tidak tau?! dimana?"
"Di apartementku tentunya… nanti aku akan mengajak kalian menonton sehabis berenang. Nah, saat aku mengajak itu kau harus bilang bahwa dirimu tidak ingin menonton. Maka aku akan mengantarmu pulang, lalu saat aku ingin ke bioskop. Aku akan bilang ingin mampir ke apartement dulu dan…"
"Dan?"
"Di dalam apartement itu sudah kusiapkan hiasan paling romantic yang pernah ada. Maka, saat itu aku langsung melamarnya!"
"WOWW!" teriakku histeris yang membuat beberapa orang melihat kami. Mungkin mereka berpikir bahwa aku dilamar oleh Namjoon hyung atau apa, soalnya beberapa dari mereka malah senyum-senyum tidak jelas.
Aku meletakkan kotak beludru itu dan memasukkan satu kimbab ke mulutku sambil mendengarkan Namjoon hyung yang bercerita soal rencana pernikahannya.
"Hyung, kalau kalian menikah. Aku jadi—" omonganku langsung terhenti. Mataku melebar hingga aku merasa mataku akan keluar saat ini juga.
Seseorang yang sangat aku kenali berjalan menghampiriku dengan tatapan tajam, membuat tubuhku membeku. Tapi yang pertama kali aku cek adalah ponselku sendiri dan rasanya aku ingin memaki diriku sendiri bahwa aplikasi sialan itu akan selalu bekerja jika ponselku hidup.
"Hyung… aku… ada urusan…" kataku cepat lalu langsung berdiri dan mengambil 3 kimbab lalu berbalik badan.
Dan…
LARI!
Aku tidak tau kenapa aku lari, tapi kurasa aku hanya butuh lari sambil memakan kimbab saat ini. Saat lari melewati beberapa orang, aku sempat melihat ke belakang dan bergidik ngeri saat melihat Taehyung mengejarku dengan kecepatan penuh.
Akhirnya, aku masuk ke dalam toilet. Tapi maafkan dengan ide gila ini…
Aku lebih memilih memasuki toilet yeoja yang memang lagi sepi saat itu dan memasuki salah satu bilik lalu menguncinya kuat.
Kenapa toilet yeoja? Karena Taehyung namja. Bukan berarti aku bukan namja, hanya saja Taehyung tidak memasuki toilet perempuan kan? Setidaknya aku aman jika berada di sini untuk sementara waktu.
Aku mulai menetralisirkan pernapasan dan memakan 2 kimbab terakhir dengan perlahan. Duduk di atas toilet dan hanya bisa menunggu waktu yang tepat untuk keluar kembali. Aku mulai mendengar beberapa perempuan memasuki toilet sambil sedikit bercanda.
Sebelum suara canda itu berubah menjadi teriakan histeris yang membuat aku spontan mendongak ke atas. Saat itu lah aku merasa seperti berada di sebuah film horror, waktu aku melihat kepala Taehyung yang ada di atas sana. Membuat aku yakin… bahwa Taehyung begitu nekat untuk mengejarku.
Semua terasa begitu cepat, Taehyung yang meloncat memasuki bilik lalu menarikku keluar. Membuat para perempuan itu berteriak dua kali karena menyadari bahwa ada seorang namja lagi di dalam toilet ini.
Dia menarikku dengan sangat kuat dan menuju salah satu gazebo yang kosong. Menyuruhku untuk duduk di sampingnya dan dia langsung memelukku kuat. Membuat aku tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku bilang selalu di sampingku!" bentaknya dengan kasar, membuat aku meneguk ludah kasar.
"Aku bilang selalu di pihakku maka di pihakku! Minta maaf sekarang!" sambungnya yang membuat aku mengkerutkan dahi.
"Loh! Minta maaf kenapa?! Memangnya salahku apa huh?!"
"Berbohong tentang di rumah dan berada di samping orang lain." Balasnya dengan nada tegas.
Aku merasa tidak terima dengan penuduhan secara sepihak ini langsung melepaskan pelukannya dan memukul kepalanya kuat.
"Yah suka-suka aku dong! Mau sama siapa! Dimana! Mau di kolong jembatan atau di langit sana atau bahkan di atas bulan. APA HUBUNGANNYA DENGANMU HUH?! Mau aku sama Jin hyung atau sama Jimin atau sama Yoongi atau sama Hoseok hyung atau sama Namjoon hyung atau sama setan pun. APA HUBUNGANNYA DENGANMU HUH?! Terus salah aku dimana?!"
Teriakku heboh sambil menekankan kata 'apa hubungannya dengamu' dengan muka kesal. Membuat Taehyung langsung mengkerutkan dahinya dan menatapku sengit.
"Tentu saja ada! Karena kau partner ku dalam menuntaskan kasus!"
"Well… dengar yah Kim Taehyung-sshi yang terhormat. Seorang PARTNER juga memiliki kehidupan PRIBADI yang tidak bisa kau ikut GANGGU. Kau MENGERTI?!" kataku sambil menunjukkan jari telunjukku di hadapan mukanya.
"Kalau gitu…" Taehyung sedikit berpikir kecil.
"Gitu apa?"
"Kau jadi pacarku mulai sekarang." Katanya dengan muka ringan tanpa dosa.
Seharusnya aku senang saat mendengarnya….
Seharusnya aku langsung meloncat dan memeluknya bahagia…
Seharusnya aku langsung mencium wajahnya berkali-kali lalu berteriak ke Jin hyung sambil mengatakan adik paling tampannya ini sudah memiliki pacar.
Seharusnya…
Sebelum akhirnya tubuhku diliputi oleh emosi. Karena aku yakin 100% dia mengatakan hal itu tanpa perasaan. Alias hanya omong kosong.
"Taehyung… sudah kubilang… jangan berkata sesuatu yang manis jika hanya omong kosong." Kataku dengan nada tertahan dan kedua tangan yang di silangkan di dada. Emosi yang rasanya ingin meloncat saat itu juga aku tahan, membuat kaki kananku tidak bisa diam mengetuk tanah.
"Tidak omong kosong. Jadi kau adalah pacarku mulai jam 2.30 siang." Jawabnya sekali lagi.
Maafkan diriku yang bergerak sendiri saat mendengar jawabannya. Atau lebih tepatnya maafkan tanganku yang sedikit nakal. Karena tangan itu langsung mendarat di kepala Taehyung dan menariknya kuat.
"PACAR KEPALA OTAKMU! DASAR KAU MONYET GILA TURUN DARI NERAKA! YOU FUCKING SHIT WITH ALL YOUR DUMB IN THIS HEAD! YOU… YOU… YOU… JUST… AKHHH!"
Teriakku membahana di seluruh penjuru waterpark yang indah ini.
.
.
.
TBC
Jujur saja… ini bukan fanfic humor. Seriusan…
Kalau gak percaya lihat aja deh… dan maafkan chap kemarin itu jadi humor 100% dan gaje. I don't know why… tapi kemarin rasanya tingkat humorku naik menjadi 90%
Balasan review :
Ulyalenivk3001, hahahaha sini peluk *hug* dan ternyata yang ketembak adalah bapak kepala botak si pendengar curhatan hati si kookie. Wkwkwkw
Shipyon, ini ada waktu nich… makanya update kilat… wkwkwkwk memang chap semalam itu agak ngakak dikit.
Keymingi02, maafkan daku… memang chap sebelumnya sedikit lawak dan gaje. Soalnya kemarin itu niat banget untuk nulis tapi gak tau mau nulis apaan. Terus waktu itu baru siap nonton gag concert dan jiwa lawaknya sedikit terbawa(?) akhirnya bener-bener gaje tuh chap sebelh :'D maafkan…
Mphiihopeworld, hahahah~~ masih waiting gak nih? Btw mak, aku update 3 cerita malam ini loh… siap-siaplah… karena aku menunggu khotbah darimu mak!
Prasetyo hestina 845, ini gak lama kok… wkwkwkwk akasih udah menunggu. Muah~
Vookie, ini fast update kok… seriusan… wkwkwkwk
Avis alfi, wahh. Kalau gitu mari kita berjuang sama-sama hingga ff ini tamat! Yeay
Anunya bangtan, chapter sebelumnya itu…. aku aja bingung kenapa jadinya chapter lawak…
Shun akira, makasih sudah menunggu~
Nnavishiper, ini keluar di chap ini. Tapi masih dikit banget yah keluarnya? Maklum… namjim kan hanya slight. Jadi gak terlalu aku utamain gitu.
Vkookdaily, ini vkook scenenya banyak bangets kanss… wkwkwkwk
Anyavsyh, ini dah panjang keles…. Ada sambungannya emang. Ini kisah kenapa vkook di ff sebelah udah dalam status pacaran. Jadi ini kisah mereka waktu sma. Nanti bakal ada nyambungnya koks. Jimintae udah bersahabat sejak kuliah yah~ coba deh baca lagi di a mask.
jonginDO, ini dah lanjut~~
hsandra, terima kasih sudah mau menunggu chap selanjutnya~
yuljeon, hahahahaha lupakan chap sebelah yang ntah kenapa jadi lawak?
Btw, ini kisah awalnya mau aku buat sedih loh… seriuan… makanya judulnya sad story of life. Lalu kenapa jadi humor yah… hmmm
Mind to review?
Love and peace :3
