A/N: Udah chapter 7… asyik, udah mau tamat. Di sini saya berusaha lebih mengeksplor tentang emosi dan berusaha membuatnya nggak ribet dibaca. Silakan… ^o^
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Setting: AU
~VENTRILOQUIST~
Chapter 7
#
#
Hidup lebih mudah seperti ini. Tanpa emosi. Seperti boneka.
Kata-kata itu membayangi Kankurou, sepeninggal Sasori. Membuat pemuda itu terus berpikir.
Kankurou paham betul apa maksud kata-kata tersebut, tapi yang membuatnya tak mengerti adalah benarkah ada manusia yang benar-benar ingin hidup tanpa emosi? Seperti boneka?
"Kankurou..."
Pemuda itu menoleh cepat. Nenek Chiyo telah membuka matanya. Wajah wanita tua itu sangat pucat.
"Bagaimana keadaan Nenek?" tanya Kankurou khawatir.
"Di mana ini?" bukannya menjawab, Nenek Chiyo malah menanyakan pertanyaan lain.
"Di rumah sakit," jawab Kankurou, lalu menceritakan apa yang terjadi setelah Nenek Chiyo pingsan—kecuali bagian pertengkarannya dengan Sasori.
"Begitu rupanya," Nenek Chiyo memejamkan mata dengan lelah. "Rupanya fisikku ini memang sudah tidak bisa diajak kompromi."
Kankurou tersenyum tipis.
"Di mana Tuan Sasori?"
Kali ini sang mantan Asisten Direktur tidak bisa langsung menjawab.
"Tuan Sasori..." Kankurou menimbang-nimbang, apakah sebaiknya dia jujur atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk mengisahkan segalanya.
Setelah dia selesai, Nenek Chiyo menghela napas sedih.
"Pertama-tama, aku harus berterima kasih padamu, Kankurou, karena sudah mengkhawatirkan aku," senyum khas wanita tua itu muncul di bibirnya yang kering. "Lalu... terima kasih juga karena akhirnya kau berhasil membuat Tuan Sasori bicara lagi. Ah, seandainya saja aku sudah sadar pada saat itu..."
"Tapi Nek, aku tidak percaya ada manusia seperti Tuan Sasori. Yang ingin hidup tanpa emosi seperti boneka. Bukankah emosi menjadikan hidup ini berwarna dan indah?"
Pandangan Nenek Chiyo menerawang di antara putihnya langit-langit kamar opname.
"Kau tentunya tahu, Tuan Sasori telah mengalami banyak kepedihan dalam hidupnya," ujar nenek itu lambat-lambat. "Menjadi yatim piatu sejak kecil... tumbuh dengan kekurangan kasih sayang... dan melihat pemandangan mengerikan akan tewasnya sahabatnya. Kalau kau jadi aku, Kankurou, mungkin kau akan mengerti mengapa Tuan Sasori lebih memilih hidup tanpa emosi."
Kankurou diam saja.
"Ingatkah kau, aku pernah bilang bahwa Tuan Sasori sudah lupa caranya mengekspresikan perasaan?"
Kankurou mengangguk.
"Ternyata aku salah. Setelah mendengar ceritamu barusan, aku baru mengerti. Tuan Sasori bukannya lupa cara menunjukkan emosinya, namun dia memang memilih untuk tidak menunjukkannya. Dia memilih hidup tanpa emosi, sebab baginya lebih mudah seperti itu."
"Kalau begitu, bagaimana caraku mengubahnya? Mengembalikan Tuan Sasori seperti dulu, seperti permintaan Nenek?" intonasi Kankurou meninggi.
"Sudahlah, lupakan itu," kilah Nenek Chiyo tegas. "Aku baru mengerti sekarang, bahwa semua itu memang pilihan Tuan Sasori. Dan aku akan selalu menghargai pilihan-pilihan hidupnya, tanpa ikut campur. Lupakan saja permintaanku itu, Kankurou. Maaf, aku sudah menuntutmu terlalu tinggi."
"Baiklah," desah Kankurou. "Dan Nenek tidak perlu minta maaf. Harusnya Tuan Sasori-lah yang meminta maaf pada Nenek! Aku tidak bisa terima sikapnya itu!"
Nenek Chiyo mengeluarkan kekehannya yang biasa.
"Kankurou, aku tahu Tuan Sasori menyayangiku, tanpa dia harus menunjukkannya," katanya ringan. Kemudian, mendadak nada suaranya berubah serius. "Kankurou, bolehkah aku meminta hal lain padamu?"
"Tentu saja."
"Aku tidak tahu, apakah aku masih punya banyak waktu atau tidak," ujarnya pelan. "Mulai dari sekarang, kutitipkan Tuan Sasori kepadamu."
"Apa maksud perkataan Nenek itu?" seru Kankurou tak nyaman.
"Kau akan mengerti," Nenek Chiyo kembali memejamkan mata.
.
.
Sambil mengantri di cafetaria rumah sakit, pikiran Kankurou melayang-layang.
Kenapa Nenek Chiyo berkata seperti itu?
Sebenarnya ada satu ganjalan di otak Kankurou mengenai perkataan Nenek Chiyo tadi, namun pemuda itu berusaha keras menepisnya. Dia menutup mata; dia tidak ingin pikiran buruk itu memengaruhi dirinya.
Dia tidak mau mengakui, bahwa mungkin saja Nenek Chiyo akan...
Digelengkannya kepala kuat-kuat. Lupakan. Lupakan itu.
"Mau pesan apa?"
Suara pegawai cafetaria yang ramah menyadarkannya. Kankurou pun segera kembali ke realita, lalu memesan dua porsi makanan untuk dirinya sendiri dan Sasori.
.
.
Setelah beres, dia keluar dari cafetaria dan berjalan kembali menuju kamar opname Nenek Chiyo. Saat itulah, pikiran-pikiran buruknya datang kembali. Membuat hatinya semakin gelisah.
"Aaaargh!" teriaknya frustrasi. Dia menghempaskan tubuh di kursi ruang tunggu yang kebetulan ada di dekatnya. Diletakkannya plastik berisi makanan di pangkuannya, kemudian dia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Nenek tidak boleh pergi..." bisiknya galau. "Kalau Nenek pergi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak mengerti bagaimana caranya menghadapi Tuan Sasori. Dan aku..."
Aku sudah menganggap Nenek seperti nenekku sendiri...
Tadinya Kankurou berpikir bahwa bebannya telah diangkat setelah Nenek Chiyo mencabut permintaannya untuk mengubah Sasori kembali seperti dulu. Tapi ternyata, Nenek Chiyo malah memberikan sesuatu yang lebih berat.
Setelah menghela napas sangat panjang, akhirnya Kankurou bangkit dan berjalan lagi ke tujuannya semula. Setibanya di sana, dia memberikan satu porsi makanan kepada Sasori yang telah kembali pada dirinya yang biasa: hampa, datar, tanpa ekspresi. Tanpa emosi, seperti boneka.
"Terima kasih Kankurou," kata Ibu riang. "Kau makan di sini, temani Nenek Chiyo. Tuan Sasori akan kembali ke karavan bersama kami. Nanti malam Tuan Sasori akan ke sini lagi."
Bersamaan dengan itu, Sasori berdiri dan keluar dari situ, dengan Ayah dan Ibu tetap di pundaknya seperti biasa.
"Aku makan, Nek..." Kankurou membuka makanannya dan mulai makan tanpa semangat. Nenek Chiyo memerhatikannya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke pintu tempat Sasori baru saja keluar.
"Sayang sekali, tadi Tuan Sasori tidak berbicara kepadaku. Padahal aku ingin sekali mendengarnya bicara... mungkin untuk yang terakhir kali."
"Hentikan, Nek!" Kankurou meremas sumpitnya kuat-kuat. Sekarang dia benar-benar tidak punya keinginan untuk menyentuh makanan di depannya. "Jangan bicara seperti itu!"
"Kankurou..." ujar Nenek Chiyo lembut, "jangan pernah takut mendengar tentang kematian. Semua manusia pasti akan mati, karena kita bukan boneka."
"Tapi..." suara Kankurou tercekat, "...tapi apa yang bisa kulakukan kalau Nenek pergi? Aku tak bisa apa-apa tanpa Nenek. Tentang boneka, tentang Tuan Sasori. Dan tentang diriku sendiri..."
Ingin rasanya Kankurou melanjutkan, bahwa dirinya tak rela kehilangan wanita arif yang telah sangat disayanginya itu. Wanita tua yang dapat mengerti dirinya seutuhnya. Satu-satunya orang yang seperti ibunya.
"Terima kasih karena kau peduli padaku," senyum khas wanita tua itu mengembang. "Dan kalau kau memang menyayangiku, penuhilah permintaanku untuk menjaga Tuan Sasori. Hanya menjaga, Kankurou. Aku tidak minta apa-apa lagi."
"Menjaga itu konteksnya luas, Nek..." desah Kankurou sedih, setengah menggerutu.
"Kalau begitu akan kubuat sempit," ucap Nenek Chiyo. "Menjaga agar Tuan Sasori tetap menjadi dirinya sendiri. Apa adanya. Bagaimana?"
Kankurou mengangkat wajahnya, menatap ekspresi hangat di mata Nenek Chiyo.
"Maksudnya?"
"Dengan kau selalu bersamanya, itu sudah cukup," perempuan tua itu memperjelas. "Kau tak perlu mengubah apa pun dari diri Tuan Sasori, karena aku menyayanginya apa adanya. Kalau dia sudah memilih menjadi ventriloquist sejati dan menghilangkan emosinya, biarkanlah dia seperti itu."
"Tapi dulu Nenek memintaku untuk mengembalikan Tuan Sasori menjadi seperti sebelum kematian Orochimaru..."
"Itu keegoisanku. Keegoisan terbesar di dalam hidupku," Nenek Chiyo menatap langit-langit. "Bukankah sudah kukatakan padamu? Aku akan selalu menghargai pilihan hidup Tuan Sasori. Dulu waktu aku minta padamu untuk mengembalikan Tuan Sasori, aku belum tahu bahwa hidup tanpa emosi adalah pilihannya. Dan kini aku sudah tahu. Makanya aku akan membiarkannya seperti itu."
Hening.
"Dan kau, kau pun harus tetap menjadi dirimu sendiri, Kankurou," tangan wanita itu menepuk pundak si pemuda. "Tetap kejarlah impianmu untuk membuat istana bonekamu sendiri. Hiduplah seperti keinginanmu."
"Tapi bukankah aku tetap harus bersama Tuan Sasori?"
"Bukankah kau ingin hidup seperti itu?"
"Ya, tapi..." mendadak, ekspresi Kankurou berubah mencerah. "Aku mengerti," untuk pertama kalinya hari ini, akhirnya Kankurou bisa tersenyum. "Aku tetap akan mewujudkan impianku mengenai istana boneka. Aku akan membagi mimpiku bersama Tuan Sasori."
"Terima kasih, Kankurou," Nenek Chiyo tersenyum tulus. "Terima kasih. Entah berapa ribu kali aku harus mengatakannya untukmu."
.
.
Kankurou sedang terlelap di sebelah ranjang Nenek Chiyo dengan wajah menelungkup di tangannya yang terlipat ketika ada yang mengguncangkan bahunya pelan.
"Uh... apa?"
Perlahan, pemuda itu membuka matanya yang masih lima watt dan menguceknya. Dia melihat Sasori berdiri di depannya, di sisi tempat tidur Nenek Chiyo yang satu lagi.
"Tuan Sasori? Ada apa?"
Sasori, tentu saja, tidak menjawab. Dia hanya menolehkan kepalanya dengan kaku ke arah Nenek Chiyo.
Kankurou mengikuti arah tolehan Sasori dan mendadak mengerti.
Perempuan tua itu telah pergi.
Wajahnya damai, matanya terpejam. Kedua tangannya mengatup di dada yang sudah tidak naik turun, menandakan bahwa napasnya telah berhenti.
"Tidak..."
Sekujur tubuh Kankurou bergetar.
"Tidak... Nenek..."
Diguncangkannya bahu Nenek Chiyo.
"Nenek Chiyo, bangunlah..." kini dia menyentuh tangan keriput yang telah dingin itu. Berusaha mencari denyut nadi di pergelangan tangannya. Nihil, tentu saja.
"Nek... Nenek Chiyo..."
Zat cair bening mengalir turun dari mata Kankurou. Meskipun dia telah menyiapkan diri akan kepergian wanita tua itu, tapi ternyata rasa terguncang masih melandanya. Sama ketika ibunya meninggal dulu. Walau telah diwanti-wanti untuk siap, namun Kankurou tetap tidak siap.
"Kenapa Nenek pergi cepat sekali..." kini tangis Kankurou tak terbendung. "Padahal kukira kita akan masih punya waktu besok. Lusa. Seminggu. Sebulan. Setahun. Sepuluh tahun..."
Pemuda itu terus menangis. Dulu ibunya. Lalu ayahnya. Dan kini orang yang telah dianggap sebagai neneknya sendiri...
Sentuhan kaku Sasori mendorongnya menjauh dari jasad Nenek Chiyo. Kankurou menegakkan tubuh sambil berusaha menghentikan tangisnya. Dia menatap Sasori tak mengerti ketika master boneka itu mengambil Ayah serta Ibu turun dari bahunya, lalu membaringkan kedua boneka itu di sisi sebelah kiri dan kanan Nenek Chiyo. Kemudian tangan Sasori menyapu wajah kedua boneka tersebut sehingga kelopak mata kayu mereka menutup.
Setelah itu, Sasori menarik selimut putih yang sebelumnya menutupi pinggang hingga kaki Nenek Chiyo. Selimut itu ditariknya hingga menyelimuti seluruh tubuh—termasuk kepala—sang perempuan tua, berikut kedua boneka.
Kemudian dia diam, memandangi hasil kerjanya barusan.
"Sudah kubilang padamu bukan..." Sasori berkata pada Kankurou, kali ini benar-benar jelas terlihat bicara dengan mulutnya sendiri. "Hidup memang lebih mudah seperti boneka."
Dan betapa terkejutnya Kankurou ketika melihat sebutir kristal jatuh dari mata Sasori.
Padahal, mimik wajah sang Ventriloquist itu tidak berubah sama sekali.
TBC
#
#
A/N: Suwer, suwer, suwer, chapter depan tamat. Semoga saya bisa menemukan ending yang memuaskan. Makasih banyak banget bagi yang ngikutin cerita ini sampe sekarang. Dan makasih udah baca, lebih makasih kalo review!
