Chapter sebelumnya:

Naruto memukul kepalanya sendiri. Sehingga para pejalan kaki sweatdrop melihatnya dan mengira Naruto adalah orang gila.

'Aku harus menemui si Teme untuk meminta kembali Time Broce-ku!'

Tanpa pikir panjang lagi, Naruto segera pergi menemui Sasuke untuk meminta kembali Time Broce yang sempat ia kasih tadi siang itu.

.

.

.

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

NARUTO SHIPPUDEN

PAIRING: NARUHINA

GENRE: ROMANCE/SCIFI/HUMOR/MYSTERI/ADVENTURE

RATING: T

SELASA, 7 OKTOBER 2014

WARNING: OOC, TYPO, AU, NOT CANON, HUMOR GARING, DAN MAAFKAN BILA CERITA INI AKAN SEMAKIN BERAT.

NOTE: CERITANYA MENJADI MISTERI DAN BANYAK HAL-HAL YANG TIDAK DIDUGA AKAN SEGERA DIUNGKAPKAN MENGENAI MASA LALU DAN MASA DEPAN. ADA APA DI BALIK SEMUA INI?

.

.

.

PENJAGA HATI DARI MASA DEPAN

CHAPTER 7: FINDING HINATA

.

.

.

SOUNDTRACK THIS STORY

BELIEVE BY ARASHI

.

.

.

Naruto kelihatan tergesa-gesa berlari menyusuri trotoar di tengah kota Konoha yang mulai agak sepi. Hanya satu persatu orang yang lewat di trotoar tersebut. Lalu sedikit berisik oleh suara-suara kendaraan yang sibuk lalu lalang di tempat itu. Malam pun semakin larut. Karena hari sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Di ujung trotoar, tepatnya sebuah pembatas semen yang memagari tanaman-tanaman bonsai yang ditanam di sisi depan sebuah gedung, mata saffir biru Naruto menangkap seseorang yang sangat familiar. Seseorang tersebut sedang duduk di atas pembatas semen yang memagari tanaman-tanaman bonsai tersebut.

"He... itukan?" kata Naruto menyadari kalau itu adalah temannya yang berambut orange dan kedua telinganya yang dipenuhi oleh tindikan. Naruto pun berlari-lari kecil menghampiri temannya itu.

"Pain."

Seseorang yang sedang menundukkan kepala dalam posisi duduk agak melebarkan kedua kakinya yang menekuk. Lalu posisi tangan yang diletakkan di atas lutut. Lalu ia mendongakkan kepalanya ketika namanya dipanggil.

"Na-Naru-chan?"

Tampak Naruto berdiri di dekatnya dengan menampilkan senyum yang manis.

"Hai, Pain. Kenapa kau malah duduk di sini malam-malam begini?" tanya Naruto heran.

Pain menatap Naruto dengan erat. Seketika kedua matanya berubah menjadi mata yang berkaca-kaca. Sehingga membuat kening Naruto berkerut.

"Pain, kau kenapa?"

Mata Pain semakin berkaca-kaca. Seketika terjadilah ledakan suara yang memekakkan telinga.

"WUUUEEEH, NARU-CHAAAAAN!"

Tiba-tiba Pain menangis ala air terjun. Membuat Naruto kaget dan sweatdrop melihatnya.

Sehingga para pejalan kaki yang masih lewat di sekitar mereka, ikutan sweatdrop juga melihat ke arah Pain yang menangis ala air terjun.

Naruto pun kebingungan menghadapinya.

"Hei, kenapa kau malah menangis segala? Memangnya ada apa?

"WUUUEEEH, NARU-CHAN... HIKS!" kata Pain menangis sambil menarik ingus hijau yang sempat keluar dari dalam hidungnya.

Sejenak membuat Naruto sweatdrop lagi melihatnya. Ia pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bingung.

"Hei, katakan apa yang terjadi padamu sehingga kau menangis seperti anak kecil begitu?" tanya Naruto mulai agak sewot.

"Anu, Naru-chan," ucap Pain mengelap sisa-sisa air matanya."Uangku habis karena mentraktirmu dan Sasuke makan ramen di restoran Ichiraku. Begitulah masalahnya sehingga aku menjadi galau begini."

Ucapan Pain langsung pada intinya. Mendengar hal itu, membuat wajah Naruto menjadi super sewot.

"Jadi, itu masalahnya membuat kau menangis seperti ini?"

"Ho'oh."

"Jadi, kau tidak ikhlas mentraktir aku dan Sasuke makan mie ramen di restoran Ichiraku tadi siang itu?"

"Ho'oh."

"Jadi, begitu ya?"

"Ho'oh."

KIIIITS!

Wajah Naruto menjadi seram seperti monster. Pain pun kaget melihatnya.

"Naru-chan, ka-kau ke-kenapa?" tanya Pain gemetaran dengan muka yang pucat pasi.

"Pa-pain, jadi kau menilai persahabatan kita dengan uang sehingga kau tidak merelakan uangmu habis hanya mentraktir aku dan Sasuke makan ramen. Sungguh kejam dirimu, Pain!"

Wajah Pain menjadi horror.

"Ma-maaf, Naru-chan."

Terjadilah peristiwa yang tidak disangka-sangka.

GREP!

Sebagian baju kemeja Pain ditarik paksa oleh Naruto. Pain pun membulatkan kedua matanya dan kaget dengan tindakan Naruto.

"Ayo, kita pergi. Tunjukkan tempat di mana kalian tinggal sekarang," kata Naruto langsung menyeret Pain begitu saja.

Pain menghelakan napas leganya.

'Aku kira aku akan dibabat habis tadi. Ternyata tidak. Syukurlah kalau begitu.'

Pain pun terseret oleh langkah Naruto dan meninggalkan orang-orang yang lewat terbengong-bengong melihat ulah mereka berdua.

.

.

.

TOK! TOK! TOK!

Pintu sebuah apartemen dengan sebuah papan bertuliskan nomor 205 diketuk seseorang. Sasuke pun datang dari arah kamar mandi lantas langsung membukakan pintu.

KREEET!

Pintu pun terbuka. Muncul di balik pintu seorang laki-laki berambut orange dan bermata manik ungu pola riak, tersenyum sambil mengangkat tangannya.

"Hei, Sasuke-sama."

Ternyata Pain. Sejenak Sasuke tersentak kaget dan membulatkan kedua matanya karena keadaan Pain sedang dalam keadaan babak belur.

"Pain, kau kenapa?" tanya Sasuke benar-benar heran.

"Itu karena ulah...," Pain tertawa hambar sambil menunjuk ke belakang dan mendadak ambruk ke lantai.

BRUUUK!

Pain terkapar dan akhirnya benar-benar pingsan.

Sasuke sweatdrop melihatnya.

"Itu karena ulahku, Teme," sahut seseorang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu."Habisnya dia berisik sekali di sepanjang jalan saat menuju ke sini."

Sasuke mendengus pelan.

"Ternyata kau, Dobe."

Terlihat Naruto merah padam sambil mengepalkan kedua tangannya. Kedua bahunya bergerak turun-naik. Sepertinya ia telah mengeluarkan semua tenaganya untuk menghajar Pain.

"Lalu apa maumu sekarang?" tanya Sasuke berbalik badan sambil berjalan ke arah lemari yang terletak di sudut kamar tepat di samping tempat tidur.

Naruto berjalan masuk ke dalam kamar dan melewati Pain yang telah terkapar mati.

"Aku ingin meminta kembali Time Broce-ku," kata Naruto langsung pada intinya.

Sasuke menolehkan kepalanya di sudut bahu kirinya.

"Bukankah kau bilang kalau kau tidak membutuhkan Time Broce itu lagi?" tanya Sasuke sambil menghadapkan depan badannya ketika Naruto datang mendekatinya.

"Sekarang aku membutuhkannya lagi. Ayo, berikan Time Broce itu padaku," jawab Naruto dengan wajah yang tegas.

Sasuke menatap lama wajah Naruto yang serius. Lalu ia melipatkan tangannya di dadanya.

"Boleh saja, aku mau memberikan Time Broce itu padamu. Tapi, ada syaratnya," jawab Sasuke dengan wajah datar.

Naruto membulatkan kedua matanya.

"APA-APAAN ITU?" kata Naruto keras dengan wajah yang merah padam."KENAPA HARUS ADA SYARATNYA SEGALA, HAH?"

Sasuke tersenyum simpul. Naruto memasang wajah sewot untuk Sasuke.

"Syaratnya kau harus pulang ke masa depan."

Naruto semakin membulatkan kedua matanya. Tiba-tiba saja Sasuke memberikan syarat yang sangat mengejutkan hatinya.

"Pu-pulang ke-ke masa depan?"

"Iya."

Sasuke tersenyum tipis. Naruto menajamkan matanya. Wajahnya merah padam kembali.

"AKU TIDAK MAU. APAPUN YANG TERJADI, AKU TIDAK MAU PULANG KE MASA DEPAN. BIARPUN TOUSAN ATAU GAARA-NII YANG MENYURUHMU, TEME!" teriak Naruto kesal dengan suara yang sangat keras. Tepat.

Sasuke hanya mendengus pelan mendengarnya.

"Terserah. Jika kau tidak mau menerima syaratku ini. Aku tidak akan memberikan Time Broce-mu itu," kata Sasuke seraya berjalan meninggalkan Naruto.

Naruto tidak bisa menahan dirinya lagi. Secara langsung, ia bergegas melayangkan tinju ke arah Sasuke yang berjalan menuju dapur.

HIAAAT!

Sasuke menyadari serangan langsung Naruto. Dengan sigap, ia menangkap tangan Naruto yang hendak meninju wajahnya.

GREP!

Tangan kanan Naruto berhasil ditangkap oleh Sasuke. Sasuke pun menyeringai.

"Ternyata kau mau melawanku ya, Dobe."

Naruto membulatkan kedua matanya selebar-lebarnya. Giginya gemeretak keras.

"KAU ITU SANGAT MENYEBALKAN HARI INI, TEME!" kata Naruto melayangkan tendangannya secara cepat ke arah Sasuke.

HIAAAT!

Sasuke dengan sigap menahan kaki Naruto yang hendak menendangnya.

GREP!

Kaki kiri Naruto berhasil ditangkap. Naruto kembali membulatkan kedua matanya.

"Kau masih lemah, Dobe. Ternyata kau tidak bisa melawanku."

"APAAA?"

Sasuke pun melayangkan tendangannya tepat ke arah perut Naruto. Tepat sasaran. Naruto pun terpelanting ke belakang.

DHUAAAK!

Saat yang bersamaan, Pain yang tergeletak dalam posisi menelungkup di dekat pintu yang menganga. Ia pun bangun dari pingsannya.

"Aw, kepalaku berat rasanya," kata Pain menegak kepalanya sambil memegangi kepalanya.

Tiba-tiba muncul Naruto yang terjatuh tepat menimpa kepala Pain.

BRAK! GEDUBRAAAK!

Tubuh Naruto menghantam keras tubuh Pain sehingga Pain membelalakkan kedua matanya.

"AKH, SAKIT!" seru Pain dan Naruto bersamaan.

Sedetik kemudian, Pain pingsan lagi,

BRUUUK!

Naruto mengeluh kesakitan pada pantatnya karena ia jatuh terduduk dan menimpa kepala Pain. Lalu Naruto ingin mengadu kesakitan pada perutnya yang sudah ditendang oleh Sasuke.

"Eeeh?!"

Tidak terasa sakit pada perutnya. Naruto membulatkan kedua matanya.

"Ke-kenapa perutku tidak terasa sakit?" Naruto memegangi perutnya dengan tidak percaya.

Terlihat Sasuke memasang posisi mengangkat kaki kiri ke udara. Kedua tangan terkepal yang menekuk ke belakang. Kemudian Sasuke menurunkan kaki kirinya.

"Tentu saja perutmu tidak terasa sakit, Dobe. Karena aku memakai sepatu tenaga tendangan super tapi dalam daya kecil level satu," ujar Sasuke sambil memasang wajah stay cool-nya kembali."Aku menggunakan tekanan angin untuk menendangmu. Tidak sakit bukan?"

Naruto bangkit berdiri. Lantas ia tersenyum sinis.

"Oh, kau memakai teknologi yang kau ciptakan sendiri, Teme? Benar-benar senjata baru yang hebat untuk keperluan anbu."

"Terima kasih."

Sasuke dan Naruto sama-sama menyeringai.

"Jadi, bagaimana? Kau menyetujui syaratku untuk kembali ke masa depan?" tanya Sasuke lagi. Kembali ke topik utama.

Naruto memejamkan kedua matanya.

"Aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Aku tidak mau kembali ke masa depan. Aku ingin tinggal di sini untuk selamanya."

"Kenapa?" tanya Sasuke benar-benar penasaran.

"Karena seseorang yang ingin kulindungi dan kujaga segenap jiwaku. Aku ingin menjadi penjaga untuknya selamanya. Itulah janjiku padanya."

Naruto bersikap tegas. Sasuke memandang serius Naruto.

"Kau tahu tindakanmu ini akan membuat sejarah dan waktu akan berubah. Apakah kau tidak memikirkan hal itu, Dobe?" kata Sasuke mencoba memberikan penjelasan."Kau telah melanggar kode etik sebagai anbu."

Sasuke menatap tajam Naruto. Begitu pula Naruto.

"Aku tahu itu."

"Lalu kenapa kau melakukan ini?"

"Aku hanya ingin menepati janji yang kuucapkan sewaktu akan masuk ke zaman ini. Aku berjanji akan mengabdikan diriku untuk menjaga orang yang telah menolongku membuat teknologi ciptaanku bekerja. Aku sangat berterima kasih padanya. Aku berhutang nyawa untuknya."

Naruto telah mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Sasuke mendengarkannya dengan baik.

"Kalau begitu, bagaimana dengan Shion?"

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Naruto kaget. Sasuke memang sengaja menyodorkan pertanyaan itu agar ingin mengetahui reaksi Naruto tentang Shion.

Hening.

Naruto terdiam cukup lama. Sasuke menunggunya dengan sabar dalam beberapa menit.

"Hm, mengenai tentang Shion, gadis itu. Aku tidak ingin memikirkannya lagi. Shion adalah masa laluku," ucap Naruto sambil melihat ke arah lain."Kini masa depanku saat ini adalah Hinata-sama."

Sasuke membulatkan kedua matanya. Ia terhenyak mendengar perkataan Naruto.

"Jangan bilang kau menyukai gadis yang hidup di masa ini, Dobe."

Naruto kembali melirikkkan matanya ke arah Sasuke dengan wajah yang cool.

"Kalau iya, kenapa?" tukas Naruto mantap.

Sasuke membulatkan kedua matanya selebar-lebarnya.

"Kau telah melanggar aturan perjalanan waktu, Naruto. Gadis itu seharusnya tidak bertemu denganmu. Dia nantinya akan..."

Perkataan Sasuke terhenti di ujung kalimat. Sepertinya ia tidak sanggup mengatakan kelanjutannya.

"Hinata-sama akan apa?" tanya Naruto mengerutkan keningnya.

Naruto menatap Sasuke dengan tajam. Berharap Sasuke akan memberikan jawabannya.

Sesaat Sasuke menangkap adanya keseriusan dari kedua mata Naruto. Sepertinya Naruto bersungguh-sungguh dengan perkataannya bahwa ia memang menyukai gadis zaman sekarang yang bernama Hinata itu.

'Sepertinya Naruto tidak tahu tentang apa yang akan terjadi pada gadis yang bernama Hyuga Hinata pada masa yang akan datang. Aku sudah menyelidiki tentang Hyuga Hinata yang diceritakan Naruto pada saat di restoran Ichiraku. Ternyata dia...'

Sasuke tidak bisa membayangkannya.

"TEME!"

Teriakan Naruto membuyarkan semua lamunan Sasuke. Sasuke pun kembali ke alam nyata.

Tanpa aba-aba lagi, Sasuke merogoh saku celana pendeknya yang selutut. Lalu langsung melemparkan sesuatu dari dalam saku celanannya ke arah Naruto.

GREP!

Naruto menangkapnya dengan sempurna. Naruto membulatkan kedua matanya. Ia memperhatikan benda yang kini di genggaman tangannya. Rupanya sesuatu itu adalah Time Broce miliknya.

"Te-teme," ucap Naruto setengah tidak percaya."Ke-kenapa kau memberikan Time Broce ini dengan mudahnya? Padahal syaratnya adalah aku harus pulang ke masa depan."

Sasuke menutup kedua matanya sambil tersenyum.

"Hm, aku memberikan Time Broce-mu kembali hanya satu harapan yaitu..."

Naruto menatap Sasuke yang mulai membuka matanya.

"Secepatnya kau harus menolong gadis yang kau sukai itu, Dobe. Itulah harapanku saat ini."

CRIIING!

Sesaat suasana kamar itu berubah menjadi bercahaya berkilauan. Menandakan suasana yang sangat bersemangat.

Naruto terpana sekaligus bingung melihat Sasuke yang tiba-tiba berubah pikiran dengan cepat. Kenapa dengan Sasuke ya? Kenapa secepat itu berubah pikirannya? Sepertinya Sasuke mengetahui apa yang akan terjadi pada Hinata.

Dalam beberapa menit, seulas senyum terukir di wajah cerah Naruto.

"Teme, terima kasih."

Sasuke hanya tersenyum simpul melihatnya.

"Ya."

Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, Naruto keluar dari dalam kamar Sasuke dengan hati yang senang. Ia menggenggam kuat Time Broce miliknya.

'Hinata-sama, aku akan mencarimu sekarang juga," seru Naruto dalam hatinya.

Sesaat Naruto sudah pergi, Pain pun sadar dari pingsannya. Ia pun memegang kepalanya yang terasa berat.

"Aduuuh," seru Pain pusing tujuh keliling."Apa yang terjadi?"

Lalu pandangan Pain diedarkan ke arah sekeliling ruangan. Terlihat Sasuke sedang duduk manis di sofa panjang sambil menyetel televisi di ruang yang dibilang ruang tamu.

Pain pun bangkit berdiri dengan perlahan-lahan. Lalu berjalan mendekati Sasuke.

"Ka-kau siapa?" tanya Pain sambil mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Sasuke.

Sasuke menoleh ke arah Pain dengan mengerutkan keningnya.

"Kau kenapa bertanya begitu, Pain? Sudah jelas aku adalah Uciha Sasuke."

Pain ikut mengerutkan keningnya seperti yang dilakukan oleh Sasuke.

"Pain? Uciha Sasuke? Siapa itu?"

Sasuke membulatkan kedua matanya. Dilihatnya, Pain menggaruk-garuk kepalanya dengan memiringkan kepalanya seperti orang bodoh begitu.

"Jangan bilang kau kehilangan ingatanmu, Pain," seru Sasuke sambil bangkit berdiri. Panik.

Pain semakin mengerutkan keningnya. Ia bingung.

"Siapa yang hilang ingatan sih? Pain itu siapa?"

Kali ini tubuh Sasuke benar-benar ingin jatuh. Sahabatnya yang berisik ini mendadak hilang ingatan. Mungkin kepalanya mulai menciut karena kepalanya selalu mendapatkan amukan emosi Naruto. Apalagi kepalanya tadi terhantam keras ke lantai saat Naruto tiba-tiba menimpa kepalanya. Alhasil, kepala Pain terbentur ke lantai secara langsung.

'Oh, Tuhan! Sepertinya akan bertambah merepotkan nih!' seru Sasuke lemas dari dalam hatinya.

.

.

.

Hari sudah menunjukkan pukul satu malam. Sudah tengah malam. Kota Konoha sudah mulai sepi meskipun masih ada beberapa kendaraan lalu lalang melewati jalan raya dengan suara yang menderu berisik. Orang-orang tidak tampak lagi lalu lalang melewati trotoar yang berada di kedua sisi jalan raya. Sesekali terdengar suara lolongan anjing yang membuat bulu kuduk merinding. Menambah suasana malam semakin mencekam.

Di perempatan jalan tersebut, masih ada satu manusia yang tengah tergesa-gesa berjalan menyusuri jalan trotoar yang sepi. Sesekali dia melirik sebuah gelang yang tersemat di pergelangan tangannya. Dia masih berpakaian seragam lengkap KSHS dan masih menyandang tas bertali dua warna orange.

Naruto benar-benar serius mencari Hinata di malam ini. Ia sangat mencemaskan Hinata. Terlebih Hinata dibawa pergi oleh orang yang tidak dikenal. Ia harus segera menolong Hinata. Ia takut ada sesuatu yang akan terjadi pada Hinata.

"Hinata-sama, kamu di mana?" bisik Naruto berwajah cemas sambil terus memperhatikan layar udara pada Time Broce yang tersemat di pergelangan tangan kanannya.

Sebelumnya, Naruto telah memberikan Time Broce satu lagi kepada Hinata – Twin Time Broce itu adalah gelang waktu kembar yang dipakai Naruto untuk berpindah waktu saat icon permintaan tolong diklik Hinata – saat mereka sarapan pagi di hari pertama Naruto masuk sekolah di KSHS.

Saat itu, pagi yang cerah...

.

.

.

FLASHBACK

.

"Selamat pagi, Naru-chan," seru Hinata tersenyum senang saat sudah tiba di dapur.

Naruto yang sedang duduk manis di kursi dan menghadap bagian belakang meja. Lantas ia menoleh ke arah Hinata yang datang ke arahnya.

"Oh, selamat pagi, Hinata-sama," balas Naruto dengan senyuman yang sangat manis.

Seketika membuat semburat merah di kedua pipi Hinata.

'Naru-chan, kamu memang manis sekali hari ini,' seru hati Hinata.

Lalu Naruto bangkit dari duduknya dan menarik salah satu kursi yang berada di hadapannya.

"Silakan duduk, Hinata-sama," kata Naruto dengan senyum yang selalu melekat di wajah tampannya. Ia membungkukkan badan sedikit. Tangan kanan memegang kepala penyangga kursi. Tangan kiri diacungkan ke depan.

Hinata tertawa kecil melihat tingkah Naruto yang seperti pelayan di restoran.

"Hehehe... Naru-chan. Terima kasih," sahut Hinata segera duduk di kursinya setelah Naruto kembali ke kursinya sendiri.

"Sama-sama, Hinata-sama."

Kemudian Hinata mengalihkan perhatiannya ke arah meja makan. Ia pun membulatkan kedua matanya.

Terhidang semua jenis makanan di atas meja. Ada nasi goreng, mie goreng, roti panggang lengkap dengan selai, sandwich dan macam-macam. Lalu minumannya ada dua gelas susu, jus jeruk dan jus alpukat.

"Waah, banyak sekali makanannya, Naru-chan," seru Hinata membelalakkan matanya dengan tampang sweatdrop."Ini waktunya sarapan atau makan siang sih?"

"Ma-maaf, Hinata-sama. Soalnya aku bingung mau membuat sarapan apa untuk Hinata-sama. Habisnya aku tidak tahu makanan dan minuman yang disukai Hinata-sama. Makanya aku membuat semua makanan ini. Jadi, kupikir Hinata-sama bisa memilih salah satu makanan dan minuman yang Hinata-sama sukai," kata Naruto tertawa hambar sambil menjelaskan. Ia pun menggaruk-garuk pipinya bertanda gugup.

Hinata terdiam sejenak mendengar penjelasan Naruto. Sedetik kemudian, ia tersenyum tipis.

"Hehehe, Naru-chan. Kamu lucu sekali ya...," Hinata mengambil satu sandwich keju yang terletak di piring kaca bermotif bunga."Ternyata kamu pandai memasak juga. Kamu hebat sekali, Naru-chan."

Mendengar kalimat Hinata itu, membuat pipi Naruto merona merah. Ia senang bisa membuat orang yang ingin ia lindungi menjadi bahagia karena hasil masakannya.

Hinata mulai menggigit sandwich itu. Naruto memperhatikan Hinata sedang memakan sandwichnya itu. Merasa diperhatikan, Hinata menatap Naruto di depannya.

"Kenapa Naru-chan?" tanya Hinata berhenti makan.

"Ternyata kamu suka sandwich keju saat sarapan pagi ya?"

"Iya, aku suka makan sandwich saat sarapan pagi."

"Kalau begitu, setiap pagi aku akan membuatkan sandwich keju untukmu, Hinata-sama."

Naruto tertawa lebar ala tiga jari sambil mengepalkan tinju di depan wajahnya membuat Hinata terpana akan tindakannya.

Betapa baiknya si bocah masa depan ini kepada Hinata. Ia amat memperhatikan Hinata.

Tanpa Hinata sadari, kedua matanya menitikkan air mata dengan tiba-tiba. Naruto menyadari hal itu.

"Hi-hinata-sama, kamu kenapa menangis?" tanya Naruto langsung bangkit dari kursinya dan buru-buru beranjak untuk mendekati Hinata.

"HAH? APAAA? AKU MENANGIS?!" Hinata kaget karena mendapati dirinya menangis.

Lantas buru-buru ia ingin menyeka air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Lalu tangan Naruto yang duluan untuk menyeka air mata itu.

SREK!

Hinata benar-benar membulatkan kedua matanya. Kini kedua matanya menatap dekat dengan mata saffir biru milik Naruto. Wajah Naruto benar-benar berhadapan cukup dekat dengan wajah Hinata.

'Na-naru-chan?'

Dilihatnya, Naruto menampilkan senyuman manisnya dan terus berulang kali menghapus air mata itu. Hinata terpana menatap kedua mata biru yang sangat terang bagaikan langit biru cerah.

GREP!

Kini Naruto menarik Hinata dalam pelukannya. Naruto membungkukkan sedikit badannya karena memeluk Hinata yang duduk di kursi.

Hinata cukup kaget ketika ia ditarik ke arah Naruto. Seketika jantungnya mulai berdetak kencang. Sangat kencang.

'Rasa apakah ini? Kenapa jantungku terus berdetak kencang ketika di dekat Naru-chan? Tapi, tidak terasa sakit,' kata hati Hinata sendiri.

Hinata tenggelam dalam pelukan Naruto yang terasa nyaman. Tangan kanan Naruto mengelus-elus lembut rambut indigo Hinata yang diikat dua. Tangan kiri satunya sedang melingkari pundak Hinata.

"Menangislah sepuas hatimu, Hinata-sama," kata Naruto dengan lembut.

Hinata melebarkan kedua matanya. Ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Naruto. Naruto memberikannya tempat dan suasana yang nyaman untuk menenangkan hatinya tanpa menanyakan penyebab pasti kenapa dia menangis. Sungguh, Naruto telah menjadi penjaga untuknya. Penjaga hatinya yang sedang kalut karena memikirkan sesuatu yang selalu membuatnya sedih.

Cukup lama mereka dalam posisi memeluk seperti itu. Dalam ruang dapur yang sangat luas dan suasana yang hening. Hanya mereka berdua di dalamnya.

Satu detik. Satu menit. Satu jam.

Entah mengapa berapa lama Hinata berusaha menenangkan hatinya. Ia berusaha tidak mengingat tentang keluarganya dan sesuatu yang telah ia simpan di dalam tubuhnya lima tahun yang lalu. Getaran yang selalu membuatnya merasa hidup ini akan singkat. Sesuatu hal yang menyakitkan.

Akhirnya selesai, acara menenangkan diri. Tangisan Hinata benar-benar berhenti. Sesaat Naruto melepaskan pelukannya ketika menyadari Hinata telah berhenti menangis.

Lantas Naruto menatap kembali wajah Hinata. Disekanya sisa-sisa air bening dari kedua pipi Hinata dan memegang kedua sisi pipi Hinata. Kembali Naruto menatap kedua mata lavender yang sembab itu.

"Kamu benar-benar lega sekarang?" tanya Naruto dengan nada yang sangat lembut.

"Iya," sahut Hinata cepat."Maaf, Naru-chan. Aku menangis tanpa sebab."

"Tidak apa-apa. Kamu pasti menangis karena ada sesuatu hal yang kamu ingat dan pasti hal itu sangat menyedihkan bagimukan?"

Hinata menundukkan kepalanya.

"Ya, aku ingat tentang Ayahku, Naru-chan."

Naruto memasang wajah sedih. Matanya terus menatap wajah Hinata tanpa kacamata.

"Kenapa dengan Ayahmu?"

"Hm, aku tidak bisa menceritakannya, Naru-chan."

"Oh, begitu. Tidak apa-apa."

Lantas tangan kanan Naruto bergerak ke arah dagu Hinata dan mengangkat dagu Hinata agar wajah Hinata kembali berhadapan dengan wajah Naruto.

"Tapi, hari ini kamu jangan sedih dong, Hinata-sama," kata Naruto tertawa kecil."Tersenyumlah. karena kamu lebih kelihatan manis jika tersenyum."

Hinata terpana melihat Naruto. Seketika ia pun menampilkan senyum manisnya.

Naruto senang melihatnya.

"Nah, begitu. Baru ini namanya teman baikku," Naruto menepuk halus kedua pipi Hinata.

Mereka berdua tertawa senang.

"Oh iya, tunggu sebentar," Naruto membetulkan posisinya yang sedari tadi membungkukkan sedikit badannya dan beralih berubah menjadi posisi berjongkok."Aku akan memberikanmu sesuatu."

"Apa itu?" tanya Hinata melebarkan matanya.

Naruto merogoh saku pada seragam KSHS-nya. Lalu tangannya mengeluarkan sesuatu benda dari dalam saku tersebut.

"INI DIA!" seru Naruto menunjukkan sesuatu itu di depan wajah Hinata.

Kini tampak di depan wajah Hinata, sebuah kalung bertali hitam dengan batangan kristal biru. Hinata memperhatikan kalung tersebut dengan seksama.

"Wah, kalung yang sangat indah," kata Hinata tertawa lebar sambil ikut memegang kalung tersebut."Darimana kamu mendapatkannya, Naru-chan?"

Naruto tersenyum.

"Aku tidak mendapatkannya ataupun membelinya. Aku membuatnya sendiri."

"Hah, membuat kalung ini? Sendiri? Apa maksudmu?" tanya Hinata mengerutkan keningnya sambil memunculkan tanda tanya yang sangat besar.

"Iya," lantas Naruto bergerak untuk memasangkan kalung tersebut ke leher Hinata.

Hinata agak kaget dengan tindakan Naruto yang sedang memasang kalung itu di lehernya tanpa ditanya terlebih dahulu.

"Sudah kupasang kalung itu di lehermu," ucap Naruto setelah memasang kalung."Ternyata kalungnya cocok sekali denganmu."

Hinata membulatkan matanya. Ia memegang erat batangan kristal biru itu. Ia tidak menyangka bakal mendapatkan kejutan manis seperti ini dari seorang laki-laki.

"Jadi," Naruto ikut menggenggam tangan kanan Hinata yang tengah memegang batangan kristal biru kalung tersebut.

Kedua mata biru saffir itu sejenak menatap dalam kedua mata lavender milik Hinata itu.

"Jadi, kalung ini kubuat sendiri khusus untukmu, Hinata-sama. Batangan kristal berwarna biru ini adalah pecahan dari sumber kekuatan teknologi Twin Time Broce yang kuciptakan sendiri. Lalu aku mengubahnya menjadi kalung agar bisa selalu kamu pakai di lehermu. Di dalamnya juga ada sinyal pelacak yang bertujuan agar di manapun kamu berada, aku bisa menemukanmu dengan mudah. Jadi, aku tidak akan merasa cemas bila suatu saat kamu berjauhan dariku."

Naruto menjelaskan maksud ia memasang kalung itu di leher Hinata. Hinata mendengarnya dengan seksama.

"Ja-jadi, kalung ini alat pelacak? Twin Time Broce namanya?" kata Hinata mencoba memahami dengan baik maksud Naruto tersebut.

Naruto semakin menggenggam kuat tangan Hinata yang tengah memegang batangan kristal kalung itu.

"Iya, namanya Twin Time Broce. Gelang waktu kembar. Alat yang kugunakan untuk memindahkan aku ke lorong waktu saat Hinata-sama mengklik icon permintaan pesanku dari program pencari zaman. Berkat Hinata-samalah, teknologi CR Time Track 200-ku bekerja. Lalu Twin Time Broce ini mengantarkan aku ke tempat Hinata-sama ini. Karena itu sebagai rasa terima kasihku atas kebaikan Hinata-sama, aku akan mengabdikan diriku menjadi penjaga dan pelindung untuk Hinata-sama selamanya."

Hinata benar-benar tersentak dengan kalimat terakhir yang diucapkan Naruto barusan.'Aku akan mengabdikan diriku menjadi penjaga dan pelindung untuk Hinata-sama selamanya.'

Tiba-tiba badan Hinata agak bergetar. Kedua mata lavendernya berkaca-kaca. Sepertinya ia ingin menangis lagi.

Sesaat Naruto menangkap arti kedua mata Hinata yang berkaca-kaca.

"Hina-Hinata-sa-sama, kamu kenapa?"

Hinata menatap wajah laki-laki tampan di depannya ini lekat-lekat. Seketika ia langsung memeluk erat leher Naruto.

GREP!

Naruto membulatkan matanya sedikit karena kaget dengan tindakan Hinata yang mendadak begini.

"Hi-hinata-sama."

"Naru-chan, terima kasih. Ka-kau mau selalu ada di sampingku. A-aku merasa ingin hidup lebih lama dan ingin merasakan hidup disayangi, diperhatikan serta dilindungi seperti ini. Terima kasih, Naru-chan. Kamu memang teman baikku."

Naruto tersenyum kecil mendengar perkataan Hinata tersebut.

"Iya, sama-sama, Hinata-sama."

Mereka berpelukan sebentar. Lalu melepaskan pelukan masing-masing. Mereka harus segera melanjutkan sarapan paginya.

"Ayo, kita lanjutkan sarapannya," sahut Hinata mengusap-usap kedua matanya dengan tangannya. Si air bening tidak jadi turun membasahi bumi.

"Iya, Hinata-sama," Naruto mengangguk kecil. Lantas ia kembali ke kursinya sendiri.

Mereka melanjutkan sarapan pagi yang sempat tertunda karena adegan haru biru ini.

.

.

.

FLASHBACK END

.

Naruto tersenyum kecil ketika mengingat kejadian tadi pagi itu. Ia benar-benar merasa ingin menjadi pelindung yang baik untuk Hinata. Ia tidak akan mengingkari janjinya.

"Hi-hinata-sama."

PIP! PIP! PIP!

Time Broce berbunyi dan mengedipkan cahaya merah pada layar yang mengambang di udara. Itu menandakan lokasi pelacak tempat Hinata berada telah ditemukan. Naruto tertawa senang.

"Akhirnya pelacak itu aktif!" seru Naruto senang dan segera berlari kencang mengikuti arahan bunyi Time Broce tersebut."HINATA-SAMA, AKU AKAN MENEMUKANMU!"

.

.

.

Di sebuah tempat yang bernuansa serba putih, terdapat satu tempat tidur dan lemari kecil di sampingnya. Di salah satu sudut ruang yang membentuk agak oval, diletakkan sebuah sofa nyaman yang berbahan lembut. Di berbagai sudut ruangan tersebut dilengkapi adanya pot bunga krisan yang menambah suasana putih semakin terasa indah dan teduh.

Di atas tempat tidur tersebut, terbaringlah seorang gadis berambut panjang indigo terurai. Sebuah selimut putih menutupi sebagian tubuhnya sehingga sebatas dada. Di hidungnya terpasang sebuah masker oksigen yang berguna untuk memberikan pernapasan langsung agar dia bisa bernapas dengan baik. Di pergelangan tangannya terpasang sebuah alat infus, yang berguna memberikan cairan langsung lewat pembuluh darah venanya agar tubuhnya mendapatkan asupan makanan.

Lalu di samping tempat tidur itu, tampak seorang laki-laki tengah tertidur – meletakkan kepalanya di atas tangan yang melipat di atas tempat tidur – dengan meninggalkan dengkuran halus. Laki-laki berambut hitam dan ada tato segitiga merah terbalik di pipinya itu, ia tidak menyadari bahwa si gadis yang terbaring di tempat tidurnya perlahan-lahan membuka matanya.

'Di-Di mana ini?' seru gadis itu di dalam hatinya ketika samar-samar pandangannya mulai terbuka.

Ketika pandangannya mulai menemukan sebersit cahaya, gadis itu perlahan-lahan melebarkan matanya.

"Hah, di mana ini?"

Mata gadis itu terbuka sempurna. Lalu diedarkan pandangannya mulai dari arah kiri dan terus ke arah kanan serta pandangannya terhenti pada laki-laki yang sedang tertidur di samping tempat tidurnya.

Sejenak gadis itu memejamkan matanya untuk melihat lebih jelas laki-laki di sampingnya.

"Na-Naru-chan, bukan...," Hinata mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa laki-laki di sampingnya ini bukan si Naruto.

Ternyata memang dia bukan Naruto. Rambutnya hitam bukan pirang. Hinata melebarkan matanya.

"Bukan Na-Naru-chan. Jadi, siapa cowok ini?" tanya Hinata mulai merasa hatinya tidak enak.

Lantas dia mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk mengitari ruangan serba putih ini. Jika diteliti lebih lanjut, ruangan ini seperti di rumah sakit.

"Ini bukan di sekolah tapi di rumah sakit," seru Hinata semakin membulatkan kedua matanya. Ia panik dan takut.

Kemudian samar-samar dia mendengar suara yang sangat familiar tertangkap di gendang telinganya.

"HI-HINATA-SAMA!"

Hinata tersentak. Ia mengenali suara itu.

"NARU-CHAN!"

Hinata tersenyum senang ketika pintu ruang serba putih itu terbuka dengan cepat. Muncul di balik pintu tersebut, sosok laki-laki berambut pirang dan bermata biru. Masih berpakaian seragam KSHS dan memakai tas bertali dua warna orange.

"NARU-CHAN!" seru Hinata tertawa lebar melihat Naruto telah berdiri tak jauh darinya.

Terlihat Naruto sangat terengah-engah. Kedua bahunya naik-turun. Keringat dingin mengucur. Ia sangat kelelahan karena sehabis berlari cepat menuju rumah sakit di mana Hinata dirawat.

Sesaat timbul kekuatan baru dalam diri Hinata, ia langsung melepaskan masker oksigen dan mencabut alat infus begitu saja. Segera saja ia langsung bangun dari tempat tidur. Lalu berlari menuju arah Naruto yang masih berdiam diri.

GREP!

Hinata memeluk pinggang Naruto dengan cepat. Naruto kaget karena Hinata memeluknya tiba-tiba begitu padahal ia tahu kalau Hinata sedang sakit.

Tapi, kenapa Hinata mendadak bertenaga dan berlari untuk lamgsung memeluknya?

Naruto membulatkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia alami sekarang.

"Hi-Hinata-sama?"

"Naru-chan, kamu darimana saja? Aku takut jika kamu meninggalkan aku sendirian," ucap Hinata tampak gemetaran."Aku kira cowok yang di sampingku adalah kamu. Tapi, ternyata tidak. Dia orang lain."

Lantas Naruto mengarahkan pandangannya ke arah depan. Ke arah laki-laki berambut hitam yang tengah menyembunyikan wajahnya di dalam kedua tangan yang melipat.

"Cowok itu, dia yang sudah membawamu ke sini," kata Naruto dengan tampang sewot sambil menatap tajam laki-laki yang sedang tidur itu.

"Membawaku? Maksudnya?" tanya Hinata heran sambil mendongakkan kepalanya tanpa melepaskan pelukannya dari pinggang Naruto.

Naruto menatap ke arah Hinata yang sedang menatap juga ke arahnya.

"Dia yang telah membawamu dari sekolah sampai ke rumah sakit ini. Apakah kamu mengenalnya?"

Hinata mengerutkan keningnya dan mengarahkan pandangannya ke laki-laki itu.

"Tidak, aku tidak mengenalnya."

"Hm, jadi begitu ya."

Naruto mengangguk-angguk dan memegang pundak Hinata.

"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi dari sini, Hinata-sama. Sebelum orang itu bangun dan menyadari kita di sini."

Hinata mengangguk setuju.

"Ayo, Naru-chan."

Maka, mereka berdua segera kabur dari ruangan itu sebelum laki-laki itu terbangun. Naruto menarik tangan Hinata dan membawa Hinata keluar dari rumah sakit tersebut. Di dalam hati masing-masing, mereka berdua sangat senang karena sudah bertemu kembali.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

RASANYA SEPI BANGET DI CERITA INI. TAPI, WALAUPUN SEPI, SAYA TETAP AKAN MELANJUTKAN CERITA INI. KARENA SAYA TIDAK MAU BANYAK NGUTANG FIC. MAKANYA SAYA USAHAKAN SATU PERSATU SEMUA CERITA BAKAL SAYA BAYAR DENGAN LUNAS. SEHINGGA SAYA MERASA LEBIH LEGA.

TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITA INI. LAIN KALI AKAN SAYA LANJUTKAN LAGI.

PLEASE REVIEW!

SALAM HIKARI. ^_^

.

.

.

SEKILAS CERITA DI CHAPTER BERIKUTNYA:

"Hart Necklace?"/"Makanya jangan berurusan dengan namanya dengan seorang gadis seperti aku ini,"/"Menolong untuk mengubah takdirnya? Apa maksudnya?"/"Iya, aku sungguh-sungguh menyukai dia. Bukan hanya sekedar suka tapi lebih."/"Kau gila, Teme. Seenaknya melemparkan pisau tepat ke arahku. Kau ingin mencoba membunuhku?"/"Aku kenal baik siapa Naruto. Dia tidak akan pernah membenci seseorang meskipun seseorang itu telah melukai hatinya sebesar apapun. Kamu sudah tahukan, Shion?"

.

.

SAMPAI JUMPA DI CHAPTER 8: WHAT DO YOU MEAN I HELP HINATA?

.

.

MAAF YA, CHAPTER 8-NYA AKAN LAMA SAYA UPDATE. KARENA SAYA BENAR-BENAR SIBUK KARENA HARUS IKUT DINAS KE RUMAH SAKIT SELAMA SEBULAN. TAPI, KALAU ADA WAKTU LUANG, SAYA USAHAKAN AKAN UPDATE CHAPTER 8 INI.

ARIGATO.

SAYONARA! ^^