chapter 7

Tsukuyo gelisah di posisi duduknya, sesekali ia menatap pintu apartemennya dan menatap jam dinding. Sesekali ia merapikan tatanan rambutnya yang disanggul dengan aksesoris di samping rambutnya. Ia mengambil cermin kecil untuk melihat bagaimana riasannya malam ini, untuk pertama kali ia mengenakan riasan di wajahnya.

Gintoki suka ga ya?. Bisiknya pelan menggerak-gerakkan bibirnya karena tidak terbiasa dengan lipstik merah.

Kimono berwarna biru cerah dengan motif bunga-bunga membungkus tubuhnya. Malam ini adalah malam dimana ia diajak Gintoki ke festival kembang api, ia mengiyakan begitu saja saat pria itu mengajaknya kemarin, dalam lubuk hatinya mungkin saja pria itu memberikan kejutan dan entah kenapa ia ingin memberikan kesempatan sekali lagi pada pria itu walaupun di sisi lain hatinya juga ingin menyerah dengan hubungannya.

Sepuluh menit lewat dari waktu yang sudah dijanjikan, Tsukuyo menatap ponselnya dan kebetulan ada chat masuk disalah satu aplikasi media sosialnya.

Ia mengerutkan keningnya dan tercengang, ekspresi wajahnya yang awalnya cerah kembali meredup, ia tidak bisa menggambarkan perasaannya sekarang.

From: Gintoki.

Mmm Tsukki bagaimana aku menjelaskannya ya, malam ini kita batalkan saja. Aku sibuk, pekerjaanku menumpuk.

Tsukuyo mendeteksi kebohongan di dalam kalimatnya, ia kecewa. Terlalu kecewa, sudah ke sekian kalinya Gintoki mengecewakannya. Ia menggenggam ponselnya erat.

Ting

Catladycatherine send a photo to group dengan caption "tenpa idiot bermain api "

Tsukuyo terbelalak ia mengamati poto yang dikirim salah satu staff sekolah itu, meskipun poto itu agak blur dan gelap mata amethyst Tsukuyo bisa menangkap dengan jelas kalau itu Gintoki menggunakan yukata putih dan biru dengan seorang wanita berambut pendek saling menatap dan menikmati dango di sebuah kedai di festival malam itu.

"LIAR!!!!!"

Tsukuyo mencengkram erat kursi sofa tempat ia duduk, tubuhnya bergetar menahan emosinya yang seolah-olah akan meledak saat itu juga. Ia menggigit bibir bawahnya berusaha menolak air mata yang akan jatuh di pipinya. Tsukuyo merasa terpukul dengan kebohongan Gintoki, ia merasa dikhianati. Mungkin ini adalah pertama kalinya Gintoki membohonginya tapi kebohongannya kali ini tepat menusuk ke hatinya

Ponselnya terus saja berbunyi karena beberapa chat masuk mungkin semua teman pengajar di grupnya sedang mengomen poto itu.

Tsukuyo menatap geram benda persegi panjang itu dan melemparnya dengan sekuat tenaganya ke dinding di depannya dan berteriak frustasi.

Harusnya ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat Gintoki pasti akan mengkhianatinya, harusnya ia tidak memberikan sedikit kesempatan pada pria itu dihatinya.

Tsukuyo berdiri dengan hati yang berat dan mengganti kimononya sebelum ia ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya dari riasan.

Wanita itu menatap wajahnya yang sembab di cermin seiring dengan berulang kali ia mencipratkan air ke mukanya.

"kau menyedihkan Tsukuyo...!" gumamnya ke diri sendiri.

-

Beberapa jam kemudian, Tsukuyo yang sedari tadi mencoba memejamkan matanya melupakan kejadian yang baru saja ia alami, beberapa cara sudah ia lakukan tetap saja gagal, setiap menit bahkan setiap detik ia merutuk dan menyesali masa lalu kenapa dulu ia dibutakan cinta dengan menerima cinta Gintoki. Ia tahu tidak akan mudah melupakan apa yang dilakukan pria itu padanya, semua kebaikannya bahkan tidak bisa menutupi kesalahan dan kebohongannya. Berapa kali pun ia berjanji dirinya sendiri untuk tidak menangis, tapi ia pun sekarang mengkhianati hatinya, air matanya tetap mengalir dengan derasnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya mengurangi isakannya.

Tsukuyo bangkit dari tempatnya dan memutuskan untuk memasak saat itu karena ia lupa ia belum makan malam. Walaupun ia tidak tahu apakah nanti ia bisa menelan makanannya dengan perasaan kalut meghantuinya.

Ia benci kesunyian seperti ini, semakin sepi semakin galau perasaannya. Kalau tau seperti ini harusnya ia pergi menghirup udara malam atau mabuk diluar sana agar meringankan hatinya. Wanita yang mengenakan hot pants itu membuka lemari es kecilnya mencari beberapa kaleng beer tapi yang ia temukan hanya beberapa kotak susu stroberi Gintoki yang membuatnya mengumpat, ia membuka lemari-lemari kecil di dapurnya mencari kotak rokok yang mungkin saja dulu dia pernah simpan tapi nihil.

"sialan!!" umpatnya dalam hati.

Tit tit tit tit..

Tsukuyo mendengar seseorang memencet password apartemennya diluar, membuatnya kaget dan berharap orang itu bukan seseorang yang tidak ingin ia temui sekarang walaupun kenyataannya hanya pria itu yang tahu kode apartemennya.

"yo...!" sapa pria itu dengan senyuman lebar ciri khasnya.

Tsukuyo tertegun dan meliriknya sebentar, matanya menatap penampilan pria itu yang casual, jeans dan kaos hitam di lapisi long coat berwarna coklat. Emosi kembali menguasai dirinya apalagi dengan wajah pria itu yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Jadi pria brengsek ini mengganti bajunya agar aku tidak curiga?. Gumamnya kesal. Ia memutuskan untuk menyibukkan dirinya untuk memasak dan mengabaikan keberadaan Gintoki.

Gintoki yang langsung merebahkan dirinya didepan TV menyadari keheningan di antara mereka, keheningan itu membuatnya gelisah kadang mata crimson pria itu mencuri pandang kearah Tsukuyo.

Tiba tiba saja ia berdiri dan mendekati wanita itu melepas long coatnya dan perlahan menelusupkan tangannya memeluk Tsukuyo dari belakang sambil membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.

"Kau terlalu seksi jangan mengujiku...!" ucapnya sambil mengikat coatnya ke pinggang ramping Tsukuyo agar menutupi paha putihnya yang membuatnya susah menelan air liurnya.

Tsukuyo hanya diam kaku dengan perlakuannya sebelum tangan pria itu mulai jahil melepas ikat rambutnya agar tergerai, Gintoki menyeringai dan kembali ke posisinya di depan TV

"Kenapa kau lepas..?" Gintoki mengerutkan keningnya heran saat melihat Tsukuyo melepaskan long coat itu dari pinggangnya.

"Aku tidak suka mencium bau parfum wanita lain.." balasnya dingin tanpa menoleh.

"Oiii...!!" tegurnya kaget dengan jawaban Tsukuyo walaupun dalam hatinya ia juga ikut khawatir akan sesuatu.

Gintoki mendekat lagi dan terkejut Tsukuyo hanya menghidangkan makanan untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan dirinya.

"Kau makan sendiri? Bagianku mana?" tatap Gintoki menuntut porsinya.

"Kau kenapa sih!?" desaknya yang mendapat perlakuan dingin dari awal ia datang.

"kau marah aku membatalkan janji kita?" lanjutnya.

Tsukuyo menatap tajam lurus mata Gintoki. Tch aku tidak marah hanya karena itu saja!! Rutuknya.

Tsukuyo memang tipe wanita yang suka memendam perasaan lebih lama daripada langsung mengeluarkan isi hatinya. Saat ia merasakan senang atau menyukai sesuatu pun ia lebih suka menyimpannya sendiri.

Gintoki menarik mangkok makanan Tsukuyo, jengah dengan sikapnya.

Wanita itu mendongak dan menarik kembali mangkoknya.

"Kau sudah makan kan? Jadi jangan minta makan lagi dariku, brengsek!!" sahutnya nada suaranya terdengar kesal.

Pria itu mulai habis kesabarannya bingung dengan sikap Tsukuyo.

Ia menarik paksa lengan Tsukuyo ke dinding disampingnya dan mengurungnya diantara dua tangannya.

"Katakan padaku ada apa? Kau berubah sekarang!!?" desaknya masih berusaha tidak membentaknya.

Tsukuyo mendengus kesal dan menghindari tatapan menuntut mata ikan Gintoki, ia memalingkan wajahnya.

"Kalau kau diam aku akan tetap seperti ini" kata Gintoki tidak mau kalah ia semakin menekan tubuh tegapnya ke tubuh wanita itu.

"Tsukki liat aku..!?" desaknya lagi dengan lebih serius.

Wanita yang sering dipanggil Tsukki itu tetap tidak bergeming meskipun jarak mereka yang sangat dekat, terkadang ia menahan nafasnya was-was apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya

Gintoki jengah ia memaksa Tsukuyo menghadapnya dengan tangannya memegang rahang wanita itu tapi mata Tsukuyo tetap menghindarinya.

Gintoki mendekatkan wajahnya ke wajah Tsukuyo perlahan ia menekan bibirnya ke bibir mungil Tsukuyo, wanita itu tercengang ia mengatupkan bibirnya rapat menolak invade dari Gintoki, Bukan Gintoki kalau ia tidak berusaha membuat wanitanya tunduk dengan ciumannya, Gintoki memainkan lidahnya dipermukaan bibir Tsukuyo dan mengigit pelan bibir bawahnya meminta akses agar bisa memasuki rongga mulutnya, lama kelamaan Gintoki bisa masuk dan mengambil kesempatan untuk menikmati mulut mungil itu, ia menyeringai diantara ciumannya, Tsukuyo sebenarnya menolak tapi apa daya ia ikut terlena sebelum akal sehatnya kembali menyadarkannya. Ia memukul-mukul pundak Gintoki agar melepaskannya dan mendorongnya.

Gintoki merengut. Tsukuyo menyapu mulutnya dengan punggung tangannya dan membalas menatap tajam pria itu.

"itu hukumanmu! Kalau ada apa-apa katakan padaku, jangan diam begini" Gintoki membuka suara tidak sabar menunggu jawaban wanita di depannya.

Tsukuyo mendengus kasar.

"Apa gunanya aku mengatakannya padamu...!!? memangnya kau peduli..!!?" tantang Tsukuyo.

Gintoki mengernyit.

"Oiii aku ini kekasihmu kan..??" sindir Gintoki.

Tsukuyo memutar bola matanya.

"tch kekasih, aku meragukannya..." ucap Tsukuyo dingin.

"Apa maksudmu!?" tanya pria itu bingung mendesak

"Tanyakan saja pada dirimu sendiri..!"

Seru wanita itu semakin kesal dengan ketidakpekaannya.

"Aku tidak tau kalau kau tidak memberitahuku!" balas Gintoki datar.

Tsukuyo menghela nafasnya "Yaah memang, kau tidak akan tau karena kau tidak akan peka, kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri gintoki..."

"Aku tidak mengerti..." jawabnya masih dengan suara datar dan terlihat tidak peduli.

Tsukuyo mengerutkan keningnya, jawaban pria itu membuatnya naik darah, ia kehabisan kata-kata dan mendorong Gintoki menjauh darinya. Percuma meladeni pria itu, ia tidak mengerti dan tidak akan mau mengerti keadaannya.

"Kalau kau cemburu karena Ketsuno kau terlalu kekanakan Tsukki, kita bukan anak SMA lagi.." ucapnya tiba-tiba di belakang Tsukuyo yang hendak meninggalkannya.

Tsukuyo tertahan dengan ucapan yang pria itu lontarkan. Hawa di apartemennya terasa sesak untuknya belum lagi ketegangan yang terasa diantara dua manusia itu.

"Oh aku kekanakan ya? Baiklah... pergi saja sana cari wanita lain yg tidak kekanakan, bodoh dan naif sepertiku.." wanita itu menjeda seolah-olah mengingat sesuatu "oh kenapa aku baru menyadarinya kau tidak menyukai wanita dingin dan angkuh sepertiku, wanita anggun, lembut dan kalem seperti Ketsuno lah yang kau sukai.." Sahutnya tanpa berpaling menghadap Gintoki dibelakangnya.

Gintoki tertegun sejenak. Tidak percaya Tsukuyo melontarkan kalimat itu.

"Kukira kau mengerti aku Tsukki, kau tau aku mengagumi Ketsuno dari dulu..." sahut Gintoki mencoba masih membela diri.

"tch! Alasan klasik mengagumi setelah itu menyukai mungkin iya, kemudian mencintai, kau lupa kita dulu bagaimana awalnya...!!?" Tsukuyo mulai meninggikan suaranya mencoba mengatur nada suaranya yang mungkin terdengar bergetar baginya.

"Heiiii, kau terlalu jauh memikirkannya! aku tidak seperti itu Tsukki..!kau tau kan Ketsuno cuma sebulan disini kenapa kau membesar-besarkannya, ini kesempatan langka seorang fans bertemu dengan idolanya.. Kau tidak akan tau dan mengerti bagaimana rasanya" balas Gintoki teguh dengan pendiriannya.

Tsukuyo melipat tangannya berharap Gintoki tidak melihat dirinya sekarang yang terluka dan kecewa.

"Iya dan kau mengabaikanku, menomorduakanku, memangnya aku salah minta perhatian darimu walau cuma sebentar, waktu aku membutuhkanmu kau kemana, hah!!? Kau asyik tertawa dengannya, aku salah? Semua yang kau lihat hanya dia, kau bahagia hanya dengannya, matamu selalu tertuju padanya, aku tidak ada apa-apanya dibanding dia...

bahkan kau membohongiku...kau bilang kau sibuk tau-taunya kau pergi dengannya!!!! Aaarrrrgghh!!!! "jerit Tsukuyo kehabisan kesabarannya, ia kesal, benci, kecewa perasaannya campur aduk, perutnya terasa terikat sesuatu dengan situasi seperti ini. Akhirnya ia mengeluarkan apa yang ia pendam.

Gintoki tercengang baru kali ini dan untuk pertama kali ia melihat Tsukuyo begitu marah padanya, tapi ia masih bertahan dengan pendiriannya.

"Dasar wanita keras kepala!! bagaimana caranya aku menjelaskannya padamu" Ia mengacak rambutnya frustasi.

"mana ponselmu!!?" pinta Tsukuyo memaksa tidak sabar.

Ia meraba tubuh Gintoki dengan kesal. Dan menemukannya di kantong celananya.

Tsukuyo mendengus mengetahui ponselnya yang mati "sudah kuduga kau memang licik Gintoki!!"

Ia menyalakan ponsel Gintoki dengan tidak sabar dan menekan-nekan beberapa aplikasi sampai ia menunjukkannya tepat di depan wajah pria itu.

Gintoki terperanjat dengan apa yang ditampilkan di hadapannya sekarang. Tsukuyo menekan ponsel itu ke dada Gintoki dan meninggalkannya.

Pria itu membeku ia mengakui kesalahannya tapi sudah terlambat.

"Tsukuyo dengarkan aku dulu!!!"tangannya menarik lengan Tsukuyo.

Wanita berambut pirang itu menyentak tangannya kasar berulang kali, genggaman Gintoki sangat erat dilengannya "tidak ada yang perlu dijelaskan, itu sudah membuktikan semuanya.."

Tsukuyo menghela nafas dalam dan memaksa senyum tegar "jujur saja padaku Gintoki, kau lelah dan bosan denganku kan??" ucapnya pahit.

Gintoki tersentak bingung, wajahnya menyiratkan ketidaksetujuan, entah kenapa ia ikut merasa sakit hatinya saat mendengar wanita itu menanyakan pertanyaan yang tidak ia duga.

Gintoki membuka mulutnya ingin menjawab pertanyaannya.

"Sudahlah!! aku yang salah karena terlalu berharap padamu...aku capek..." teriak Tsukuyo lagi.

Saat Tsukuyo melangkahkan kakinya, Tsukuyo mendelik dari bahunya "kau tau aku membencimu..!!" desisnya yang membuat Gintoki tercekat di tempatnya.

Tsukuyo membanting pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya dari dalam, ia membutuhkan waktunya untuk sendiri.

Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menelungkupkan wajahnya. Menangis, menumpahkan semua air matanya yang tertahan dari awal. Menangis adalah cara terakhir untuk melepaskan beban yang dirasakanya meskipun itu mustahil. Hatinya terasa hancur. Hatinya terasa perih, meskipun rasa cintanya kepada Gintoki begitu besar tapi hatinya tidak bisa lagi menanggung rasa sakit yang ia alami dalam seminggu ini.

Tsukuyo menggeser tirai jendelanya yang berada tepat dibelakang ranjangnya, ia melihat sosok Gintoki yang berjalan dengan langkah gontai dan menunduk dan sesekali mendongak ke atas ke arah apartemennya, sontak Tsukuyo langsung menutup tirainya dan memalingkan wajahnya.

Ia menepis rasa iba, bukan iba tepatnya tapi ia tidak ingin luluh kembali dalam kesalahan yang sama.

To be Continued

Note: maafkan ffku yang ga ad manis2nya sama sekali I suck at writing romance

Plis, bare with me

Sankyyuuu