Disclaimer: This story is based on characters and situations created and owned by JK Rowling.
The Black Queen 2
Chapter 7
The Girl of Sixteen Year Old Virgin
Ratusan murid meninggalkan Hogwarts dengan semangat berlibur yang memenuhi udara. Suasana Natal terasa nyaman memabukkan. Beberapa anak yang sempat trauma dengan kejadian-kejadian di Hogwarts sudah memesan tempat duluan di Hogwarts Express. Narcissa bisa dibilang dia sama khawatirnya dengan mereka. Walaupun beberapa minggu lalu sangat menyenangkan bersama teman barunya, dia juga lega bisa kembali pulang. Tapi sekaligus amat sedih. Narcissa mulai menghitung waktu yang berjalan. Dia hanya akan punya waktu setahun lagi di Hogwarts.
Maka dia berjanji akan menghabiskan sisa waktunya semaksimal mungkin ketika menatap kastil Hogwarts yang diselimuti salju.
Spages menghampiri ketika mereka sampai di stasiun.
"Aku menemukan tempat bagus buat kalian berempat," katanya bangga.
Spages melambai pada porter untuk mengangkut barang-barang Narcissa dan teman-temannya lalu mengajak mereka menyusuri lorong bagian belakang sampai kompartemen itu habis.
Spages mendorong paksa ujung gerbong. Dalam hitungan detik, dinding gerbong anjlok dan menampakkan pintu geser rahasia yang Narcissa tidak pernah tahu. Dia tercengang melihat kompartemen nyaman yang lebih luas daripada biasanya walaupun tempat itu agak dingin dan berbau apak, tersembunyi dari lorong berjalan.
"Sangat tenang!" seru Spages gembira. "Kalian bisa bersantai!"
Itu benar. Suara anak-anak yang bercericit di belakang bisa dengan mudah diblokir hanya dengan menutup pintu.
Yvonne berbisik pada Narcissa, "Apa penjual makanan tahu kompartemen ini? Atau kita akan kelaparan sepanjang jalan?"
Narcissa menyeringai dan mengangkat bahu bersamaan.
"Terima kasih, Alice! Ini memang kompartemen bagus!" puji Narcissa tidak memedulikan desahan kesal Yvonne.
"Anda tidak akan ikut kami, bukan?" tanya Eva tidak berusaha bersopan-santun.
"Oh, tidak! Tidak!" Spages melambaikan tangannya, tidak menyadari Eva mengusirnya. "Aku akan ber-apparate tentu saja. Lebih cepat sampai lebih baik, kan?"
Dia mengedip kepada Narcissa lalu memeluknya.
"Selamat Natal, Cissy…"
"Yah, semoga mereka tidak terlalu jahat tahun ini…" kata Narcissa sungguh-sungguh.
"Kau akan tahu," Spages melepasnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah bertukar senyum dan ucapan Natal yang amat canggung dengan ketiga teman Narcissa, Spages menutup pintu kompartemen.
Kereta berderak setelah mereka duduk. Eva mengernyit memandang Narcissa.
"Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kau jalankan, Cissy. Tapi kau baru saja membiarkan dirimu dipeluk oleh seorang darah-lumpur…"
Narcissa yang sudah setengah jalan akan bersandar nyaman pada kursinya, seketika duduk tegak lagi.
Dia hampir lupa bahwa Spages adalah kelahiran muggle. Padahal mereka sering membicarakan keluarganya yang jelas-jelas muggle. Hal itu seperti terhapus dari pikirannya ketika dia dan Spages mulai berteman.
"Tapi dia begitu, yah… tidak seperti anak kelahiran muggle lain yang menyebalkan. Dan dia sudah menyelamatkan aku dan Lucius agar tidak dikeluarkan dari Hogwarts!"
"Kau sudah tumpul menurutku," balas Eva tidak mau kalah. "Lama-lama kau akan menganggap semua darah-lumpur menyenangkan, lalu kami akan malu dekat-dekat dirimu dan terlebih lagi, kau akan ditinggalkan semua teman-teman lamamu… Juga Lucius…"
"Jangan begitu!" potong Genevive. "Aku juga berpikir Profesor Spages baik. Dan dia kan tidak akan lama-lama lagi di Hogwarts…"
Narcissa berpikir Genevive betul sekali. Bagi seseorang yang kesulitan bahkan untuk meninggalkan Hogwarts setahun lagi, Narcissa dan Spages punya satu persamaan sekarang.
"Aku tetap berpikir ada udang di balik batu," kata Yvonne ikut nimbrung. "Kenapa dia berlaku sejauh itu? Dia kan tidak terlalu mengenalmu, Cissy?"
Narcissa mengangkat bahu, "Katanya dia berhutang pada Lucius waktu memusnahkan boggart-nya. Dan aku suka membelanya di kelas."
"Itu jelas. Spages naksir pada Lucius atau lebih parah, naksir padamu!"
Kata-kata Yvonne membuat mereka bertiga, kecuali Narcissa, tertawa terbahak-bahak.
"Itu sama sekali tidak lucu, Yv!" seru Narcissa keras di tengah tawa mereka.
"Dua penyihir darah-murni terbaik, ditaksir oleh seorang darah-lumpur pecundang… Seratus poin untuk Slytherin!" teriak Yvonne.
Narcissa memelototi mereka, tapi tahu hal itu tidak ada gunanya. Selera humor mereka yang buruk sedang tinggi-tingginya. Jadi Narcissa memutuskan untuk keluar membeli camilan di gerbong paling depan, bahkan sebelum waktu makan siang datang.
Ketika kembali dengan memeluk banyak makanan dan minuman, pembicaraan mereka sedang beralih kepada cowok, cowok, dan cowok. Narcissa tahu karena Genevive yang paling sering bicara.
Narcissa susah payah menutup pintu kompartemen tapi pandangannya masih terpaku ke lorong yang penuh dengan anak-anak. Dia tidak melihat Lucius, yang pastinya ada di gerbong privatnya.
Narcissa menolak mentah-mentah saat Lucius menyuruhnya duduk bersama kelompoknya seperti biasa pagi itu. Narcissa merasa suasana liburan yang baik tidak pantas untuk merencanakan kejahatan apapun. Lucius hanya mendecakkan lidah dengan kesal ketika Narcissa menutup pintu kereta kuda di depan hidung Lucius.
Sekarang dia mempertanyakan lagi apakah sikapnya benar? Lucius menganggap semua muggle dan darah-lumpur itu hina. Narcissa berteman dengan salah satu diantaranya sekarang. Apakah Lucius juga akan malu dekat-dekat dengannya? Seperti yang dirasakan teman-temannya saat ini? Apakah Lucius akan meninggalkannya? Dan, apakah Spages benar-benar naksir Lucius?
Itu adalah hal yang paling konyol yang bisa dipikirkan Yvonne. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Lucius di gerbong lain, tanpa pengawasan Narcissa, sedang memangku anak-anak cewek lain yang mengelusi rambutnya. Berpikir lagi tentang apakah Narcissa adalah gadis yang benar-benar cocok untuknya. Karena dia bisa dibilang pembela darah-lumpur sekarang.
"… dan kalau Wentworth lebih tua setahun saja tahun ini… Yah, kalian tahu, empat belas tahun. Rasanya tidak pantas kalau aku berani menyentuhnya sedikit saja…"
Kata-kata Yvonne tentang Wentworth Montague, anak kelas empat yang menjadi salah satu dari banyaknya pacar Yvonne, membuat Narcissa memutuskan untuk menutup pintu dan menjatuhkan semua belanjaannya di kursi.
"Menyentuhnya sedikit?" tanya Eva pura-pura heran. "Aku rasa seluruh jubahnya sudah bau parfummu secara permanen…"
Genevive terkikik geli sehingga Narcissa tidak tahan untuk tidak ikut tersenyum.
Yvonne mendesah, "Dia terlalu manis dan muda… Sayang sekali…"
"Yah, aku tidak tahu dengan Gen karena dia sudah putus dari pacarnya yang sudah lulus itu… Tapi aku tahu siapa di sini yang punya pacar yang telah akil balig…"
Eva mengerling genit kepada Narcissa, membuatnya jengah.
"Apa?" tanya Narcissa.
Genevive berdehem kecil, lalu dia nyengir.
"Mungkin Natal ini kesempatan mereka…"
"Dengan adanya Bibi Walburga di sana?" tanya Yvonne. "Kau bercanda…"
Mereka bertiga tertawa lagi yang sangat menyebalkan Narcissa.
"Baiklah kalau kalian hanya akan menjadikan aku objek tertawaan…" seru Narcissa merajuk.
"Tenang, Cissy…" kata Genevive. "Kami akan selalu ada untukmu…"
Dia cekikikan lagi.
"Apa yang kau maksud, sih?" tanya Narcissa tajam.
Yvonne yang menjawab, "Kau enam belas, Cissy. Dan Lucius sudah tujuh belas tahun. Dia bisa dibilang sudah melamarmu. Walau tanpa pesta pengumuman, tidak ada cowok yang buang-buang berlian merah muda warisan keluarga kalau dia hanya main-main…"
Narcissa buru-buru melihat jari manisnya yang kosong, dia lupa memakai cincinnya bahkan sejak hari pertama sekolah. Lucius yang masih mau dekat-dekat Narcissa tanpa menggerecokinya selama itu saja sudah sangat ajaib.
"… yah, mungkin waktu yang tepat, kau tahu? Untuk mengesahkan hubungan?"
Sesuatu dalam suara Yvonne, cekikikan Eva, dan senyum malu-malu Genevive meyakinkan Narcissa, mereka bukan sedang membicarakan pesta pertunangan.
Narcissa merasakan wajahnya memanas, yang amat memalukan. Dengan susah payah dia mencoba mengeluarkan bantahan.
"Kami pasangan terhormat, seperti yang kalian bilang?" protes Narcissa menunjuk mereka. "Aku menunggu sampai saat yang tepat…"
"Jangan bilang hal yang kuno seperti itu…" kata Eva memotong. "Lucius adalah laki-laki, Cissy. Di otaknya hanya ada satu hal…"
Mereka cekikikan lagi.
"Yah, rencana untuk mengembangkan Pelahap Mautnya! Dengar, aku bukan…"
Yvonne memotong Narcissa sekarang, "Dan jangan bilang kau tidak memikirkannya juga…"
"Aku tidak…"
"Laki-laki bisa sangat menuntut. Kalau dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya darimu, Cissy… Yah, kau tahu siapa yang suka nempel-nempel padanya, kan? Atau mungkin Spages…" Yvonne tidak bisa meneruskan karena tawanya sudah meledak lagi, dibarengi oleh Eva.
Narcissa pastilah kelihatan menyedihkan dan ingin menangis karena Genevive membelanya.
"Sudahlah, kalian! Aku tahu Lucius tidak akan begitu… Cissy adalah gadis yang berharga. Semuanya harus dilakukan hanya dengan cinta…"
"Ayolah, Gen!" seru Eva disela-sela tawanya. "Kau bisa bicara begitu sekarang saja…"
"Baiklah!" Yvonne berdiri sekarang, dia masih nyengir lebar. "Aku akan membuat targetku dengan… orang yang kucinta tahun ini! Dan karena aku menyayangi kalian semua, tolong detail dan detail dan detail sebagai masukan…"
"Aku rasa kau salah makan tadi, Yv!" teriak Narcissa di tengah gemuruh cekikikan.
Mereka begitu terus sampai malam berkabut tiba. Salju bahkan belum turun sebelum Hogwarts Express melambat di London. Mereka telah tiba di Kings Cross. Narcissa amat bersyukur karena tidak perlu mendengar ocehan ketiga temannya terus menerus. Sesungguhnya Narcissa merasa teramat malu dan jengah. Dia kesal karena dia kelihatan paling naif dan polos, bahkan bila dibandingkan dengan Genevive yang kekanakan sekalipun.
Cowok yang dekat dengannya saat ini hanya Lucius… Sesungguhnya keintiman yang lebih jauh tidak pernah ada di benak Narcissa. Dengan seluruh kejadian tahun kemarin, Pelahap Maut, dan sebagainya, masih beruntung juga Narcissa bisa menikmati romantismenya…
Mereka bersusah payah menggeret koper di antara kerumunan untuk menuju perapian Floo. Narcissa ingat betul tahun kemarin Bellatrix menemaninya pulang ke Grimmauld. Memikirkan Bellatrix membuatnya semakin resah. Selain fakta bahwa dia tidak ada kabarnya lagi, Bellatrix mungkin sedang menghabiskan waktunya untuk mengacau, menyiksa orang, mempelajari ilmu hitam lain, dan bermesraan hebat dengan Rodolphus itu di sela-sela pelarian mereka… Atau lebih buruk…
Narcissa tidak mau memikirkannya sehingga dia benar-benar kaget saat seseorang memeluk bahunya dengan satu tangan.
"Sampai bertemu lagi malam Natal kalau begitu!"
Lucius memberi kecupan kilat pada puncak kepala Narcissa.
Mungkin karena sedang membayangkan kehidupan cinta kakaknya yang mengerikan, atau perkataan teman-temannya di kereta, Narcissa jadi merasakan sesuatu berdesir dalam tubuhnya entah dimana.
Lucius sudah melepasnya ketika dia mendorong koper Narcissa ke perapian.
"Tolong berlaku lembutlah kepada teman kami, Lucius…" Eva pura-pura khawatir sementara Yvonne dan Genevive mendengus.
"Apa yang kau bicarakan, Eva?" tanya Lucius berbalik kepada mereka.
"Jangan dengar orang-orang bodoh ini!" potong Narcissa tergesa.
Dia menyusul kopernya memasuki perapian, tidak mau Lucius melihat wajahnya yang kemungkinan memerah. Tapi Lucius sekarang menunduk di depan perapian dengan ketidakmengertian yang tidak dibuat-buat.
Tapi apakah itu betul? Apakah pikiran cowok hanya pada satu hal itu?
"Sampai bertemu nanti…"
Akhirnya hanya itu yang bisa Narcissa katakan sebelum meneriakkan tujuannya.
.
.
.
Grimmauld Place nomor dua belas bertemakan natal putih tahun ini. Narcissa mau tidak mau kagum melihat usaha ibu dan bibinya. Tapi dia tahu betul, rumah ini dihias sedemikian rupa untuk menyambut seseorang.
Pagi sebelum kedatangan Lucius, meja makan dipenuhi salju sihiran yang bertebaran. Narcissa kesulitan bahkan untuk membedakannya dengan bubur sarapan. Dan untuk merusak suasana, Sirius bergedubrakan di lantai atas, di kamarnya.
Dia sedang berkemas untuk kabur ke rumah sahabatnya.
Bahkan pada hari pertama liburan, Bibi Walburga sudah memarahi Sirius karena tidak bertingkah seperti yang dia suruh. Kemudian saat Sirius tahu kalau Lucius akan menghabiskan Natal di Grimmauld, dia berteriak pada ibunya.
"Kenapa tidak kalian saja yang pergi ke rumah besarnya? Ada banyak tempat untuk menampung kalian semua!"
Bibi Walburga nyaris memukulnya sebelum Sirius berteriak lagi, kali ini kepada Narcissa.
"Cari tempat lain untuk mengesahkan hubungan!"
"Apa yang kau bicarakan?"
Narcissa balas berteriak dan tanpa peringatan, wajahnya memanas lagi. Sirius lari membanting pintu kamar sebelum ibunya bisa menjangkaunya.
Tangga yang bergetar saat ini menandakan Sirius sedang turun. Tidak ada satupun dari keluarganya yang mencegah. Mereka pura-pura tidak tahu, begitu pula dengan ibu dan ayah Narcissa.
Narcissa merasa dia seperti bagian dari keluarga Spages, yang menganggap Spages sebagai kambing hitam keluarga. Tidak dipedulikan. Tidak masalah jika tidak ada…
Pemikiran bahwa dia sama dengan keluarga muggle membuat Narcissa bangkit. Menggumam tidak jelas dengan alasan mau mengambil surat, Narcissa keluar dari ruang makan, meninggalkan bubur-saljunya.
Sirius sudah setengah jalan menuju pintu dengan ransel berayun liar di tangan.
"Apa? Jangan harap aku mengajakmu!" sentaknya, mengenali langkah Narcissa di belakang.
"Aku juga tidak mau ikut…"
"Yah, kau harus tetap di sini untuk menyambut pacarmu yang pirang…"
Narcissa menahan Sirius dengan menarik ranselnya.
"Aku tidak tahu keluarga Potter akan semanis apa menyambutmu jika tidak sedang di hadapanmu. Suka tidak suka, kau tetap orang luar. Kau tidak bisa begitu saja masuk untuk merusak acara pribadi keluarga. Membuat malu nama keluarga Black. Seolah kami tidak bisa mengurusmu…"
"Mereka tulus tidak seperti kalian… Dan kalau belum sadar, aku tidak perlu diurus!" bantah Sirius.
"Setidaknya pergilah ke rumah Paman Alphard. Dia juga tidak dianggap lagi di sini. Dia akan menyukaimu…"
Sirius tampak mempertimbangkan hal ini sebelum wajahnya mengeras lagi. Dia menyentakkan tali ranselnya dari Narcissa dengan kekuatan mengejutkan.
"Pergi sana ke keluargamu yang sempurna! Aku memang akan jauh-jauh dari sini sebelum terlibat kegiatanmu dengan pacarmu!"
"Apa maksudmu?" Narcissa balik membentak, wajahnya terasa merona, menyangka Sirius sedang membicarakan hubungannya dengan Lucius. Tapi ternyata Narcissa salah.
"Meski kalian menganggap kami anak kelas tiga bodoh, bahkan semua anak di Hogwarts tahu apa yang kalian dan kelompok kalian lakukan…"
Narcissa terdiam saat Sirius membuka pintu dengan gusar dan membantingnya sampai menutup. Ruangan aula hening ketika Narcissa mencerna perkataan Sirius.
Apa maksudnya? Permainan itu hanya diadakan di Hogwarts? Mereka tidak bermaksud mengacau sampai Grimmauld Place, bukan? Dan kalau semua anak sudah tahu…
Narcissa tiba-tiba ingat apa yang dilakukan Lucius dan yang lainnya di pernikahan Andromeda, lalu toko Florean Fortescue. Harapannya layu lagi.
Narcissa pasti termenung cukup lama untuk bisa meneliti taman tak terurus di depan Grimmauld Place lewat jendela. Lampu kelap-kelipnya lupa dimatikan, dipasang asal saja mengelilingi pagar tinggi taman. Narcissa tahu, beberapa tetangga muggle-nya sedang main lempar salju di trotoar.
Sekawanan burung hantu tiba-tiba saja masuk lewat jendela yang terbuka otomatis. Menghujani Narcissa dengan surat-surat beramplop bagus yang pastinya undangan pesta. Narcissa mengaduh ketika ujung-ujung tajam undangan menjatuhi kepalanya. Tapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan kotak besar yang bersampul merah emas, dengan kartu yang ditujukan padanya…
Dari Alice Spages…
Narcissa tidak tahan untuk tidak nyengir dan langsung menuju kamarnya di atas, meninggalkan surat-surat undangan yang tercecer.
Tulisan Spages yang rapi ditulis buru-buru dan panjang, seolah tidak mau ketinggalan satu detail pun.
Dear Cissy,
Aku rasa aku sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Bahkan kehebohan sudah dimulai saat aku menulis ini. Kusihir semua kue yang berbentuk manusia jahe untuk lari dari stoples. Jadi mereka terpaksa menghidangkan Oreo. Itu biskuit muggle yang biasa dimakan anak-anak.
Dan beberapa sepupuku yang sempurna kini tidak mau keluar kamar karena berat badan mereka bertambah. Dan aku memastikan rekaman suara Peeves yang kurang ajar akan menjadi latar belakang saat mereka menyanyikan lagu-lagu Natal.
Beberapa hadiah sudah kutukar dengan jembalang beku. Hadiah yang bagus kusimpan, tentu saja. Tapi sebagian lagi kuberikan ke rumah panti asuhan sebelah. Natal adalah hari kasih sayang, bukan?
Selamat hari Natal untukmu, maaf aku memberikan hadiahku duluan. Takut tidak sempat mengingat kekacauan yang mungkin terjadi. Apakah Lucius sudah datang?
Salam,
Alice.
Narcissa masih nyengir lebar saat membuka hadiah natal pertamanya. Dia melihat tumpukan cupcakes dengan hiasan gula-gula hijau, putih, merah, boneka salju, dan lain sebagainya. Tampaknya hasil usaha mati-matian yang langsung Spages curi dari sepen. Narcissa tertawa sendiri dan menggigit bulat-bulat salah satu kue sehingga mulutnya dipenuhi gula. Dia bergegas mengambil perkamen dan pena bulu di meja.
Mengusap krim yang mengenai pipinya dengan tidak sabar, Narcissa pun mulai menulis ucapan Selamat Natal untukmu juga! Lalu diselingi beberapa umpatan paling kasar yang bisa Narcissa pikirkan. Dia sengaja tidak membubuhkan tanda tangan dan alamatnya.
Lalu Narcissa menulis satu lagi kepada kantor pos, meminta mereka mengirimnya ke alamat Spages tanpa mengacu kepada Spages sendiri, melainkan kepada seluruh keluarganya. Lalu membuat surat Narcissa itu sebagai howler dengan seribu duplikasi. Narcissa mengeluarkan kantong galleonnya sebagai bayaran dan sogokkan.
Dia berlari ke lantai paling atas untuk meminjam burung hantu bibinya. Saat si burung pergi terbang, dengan gembira dibayangkannya keluarga Spages akan hujan burung hantu dan howler dan ledakkan pada Natal besok. Tiba-tiba saja Narcissa kaget akan kecepatannya sendiri saat memikirkan hal ini.
"Cissy!"
Terdengar suara ibunya dari bawah. Narcissa berbalik dari jendela dan segera turun. Berharap sudah memberikan Spages hadiah Natal terbaik.
.
.
.
Menjelang malam, Narcissa sama sekali tidak mengerti, mengapa dia yang harus menyambut Lucius di depan teras Grimmauld Place. Hanya dengan jubah tipis kuning muda selutut. Narcissa merasa ajaib dia belum juga beku.
Tapi ibu dan ayahnya berkeras Narcissa yang harus menyambut Lucius di depan. Karena Lucius belum pernah mengunjungi Grimmauld sebelumnya. Narcissa diharapkan jadi penunjuk rumah. Dia mendapati dirinya sama seperti boneka salju di batas undakan, yang dibuat oleh muggle-muggle itu.
Narcissa memeluk dirinya sendiri sambil mendengus. Cincinnya beku di bawah tangan telanjangnya. Ibu dan bibinya sudah memastikan Narcissa tidak lupa memakainya.
Dia kembali mengutuki alasan bodoh yang membuatnya kedinginan. Dia tidak melihat alasan Lucius bisa tersesat. Dia kan akan ber-apparate?
Tapi Narcissa baru akan belajar apparation setelah Natal. Jadi dia belum tahu apa yang bisa atau tidak bisa dilakukan saat ber-apparate.
Seseorang dengan jubah hitam yang familiar muncul begitu saja di ujung jalan saat Narcissa sedang memikirkan tentang apparate. Dan Narcissa setengah yakin itu Lucius. Tapi bukannya berjalan mencari rumah nomor dua belas. Orang yang sepertinya Lucius itu terpaku menatap apartemen dan flat-flat kecil yang bertebaran di seberang jalan. Sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang melewatinya di jalan.
Narcissa menjadi penasaran dengan keadaan ini. Memastikan tongkat masih ada di saku jubah, dia akhirnya berhati-hati turun dari undakkan dan berjalan ke trotoar.
Batas sihir telah terlewati dan Narcissa bisa mendengar bunyi bising mobil yang lewat, potongan celoteh orang-orang, nyanyian dari radio, bahkan nyanyian dari orang-orang mabuk. Salju di kakinya mencair karena begitu banyak orang yang lalu lalang.
Berada begitu dekat dengan muggle yang sedang melakukan kegiatan mereka, dengan Lucius yang berada di ujung jalan, anehnya, tidak terasa asing sekalipun. Tidak ada yang memandang Lucius dan Narcissa dua kali.
Setelah dekat, Narcissa menyadari Lucius telah berbalik dan memandangi dengan seringai meremehkannya yang biasa, pub di ujung jalan tersebut. Dia sekaligus tampak tertarik. Pub itu masih ramai di malam natal seperti ini kerena beberapa wanita muda keluar dari dalam, tampak kelewat senang, dan semua menatap Lucius dengan tatapan menggoda. Membuat Narcissa mempercepat langkah.
"Kami tidak tinggal di situ, kau tahu?" seru Narcissa sebal.
Lucius menoleh dan mendapati Narcissa menuju kepadanya.
"Hei! Aku hanya melihat-lihat…"
Narcissa memutar matanya ketika Lucius mengulurkan tangannya.
"Ayo, kita masuk sebentar…"
Sekarang Lucius pasti sudah gila karena mau masuk ke tempat muggle.
"Sejak kapan kau punya uang muggle? Dan yang terpenting, mau dekat-dekat dengan mereka?" desis Narcissa.
"Aku ingin mencoba sesuatu, ayolah…"
Narcissa tidak bisa membantah karena Lucius sekarang merangkulnya lagi dan mereka memasuki pub itu.
Ada yang meminta jubah Lucius ketika mereka masuk dan Lucius terpaksa membukanya. Untunglah dia memakai kemeja hitam biasa dibaliknya sehingga tampak seperti muggle lainnya. Narcissa melihat tongkat sihir Lucius terselip di balik lengan kemeja panjangnya. Seolah siap bertempur tanpa harus disadari muggle.
Seorang muggle laki-laki yang kekar dengan tidak sopan memandangi kaki Narcissa. Narcissa terpaksa mengikuti Lucius ke meja konter.
Seorang wanita dengan riasan tebal dan kaus lengan panjang ketat menghampiri mereka. Belahan dadanya begitu rendah sehingga Narcissa jadi jengah sendiri.
"Aku harus pastikan kalian sudah cukup umur untuk memesan. Ada ID?"
Narcissa tidak mengerti apa yang dia minta. Tapi Lucius melambaikan tangan pemegang tongkatnya sambil berbicara.
"Oh, ini dia! Sekarang bisakah kau memberikan minuman racikan terbaikmu di sini? Dan minuman yang tanpa alkohol untuk dia?"
Lucius menunjuk Narcissa yang pastilah hanya akan terlihat seperti adiknya. Wanita itu tersenyum dengan cengiran kosong, lalu berbalik dan mengambil gelas.
Lucius memperhatikan lekat-lekat bagian belakang tubuh si wanita itu, kemudian mengedip kepada Narcissa yang terpaku.
Lupakan cara Lucius menatap wanita itu tadi, sekarang Narcissa cemas dia akan segera ditangkap oleh orang-orang Kementerian. Karena melakukan, yang pastinya sihir, kepada muggle itu.
Wanita tadi kembali dengan gelas kecil yang kelihatan seperti es teh untuk Lucius dan lemon dingin untuk Narcissa. Dia menyebutkan harga yang harus mereka bayar.
"Ambil kembaliannya, sayang…" kata Lucius sambil melambaikan tangannya lagi.
Jelas dia tidak mengeluarkan uang. Tapi si wanita tampak mengambil sesuatu yang tidak kelihatan dari meja, lalu tersenyum berterimakasih kepada Lucius.
Seketika Narcissa mencengkram tangan Lucius sambil berdesis.
"Kau tidak bisa melakukan Imperius pada muggle di dekat rumah Paman dan Bibiku!"
"Mereka tidak datang untuk menangkapku, kan?" Lucius berbisik mendekati Narcissa.
Narcissa tidak tahu dan sedang tidak mau tahu apa yang Lucius coba lakukan. Tapi kata-kata Sirius terngiang lagi di telinganya. Apakah Lucius sengaja datang kemari hanya untuk kembali mengacau? Tugas Pelahap Maut lagi?
Jadi Narcissa langsung pergi keluar dari pub, membuka paksa pintunya dengan pergelangan tangannya. Juga merasa kesal dengan para lelaki yang memandangnya tak habis-habis sekarang. Dan juga Lucius yang bertingkah menggoda. Padahal mereka semua muggle.
Suara langkah berat dibelakangnya meyakinkan Narcissa bahwa Lucius akhirnya menyusul.
Setelah sampai di undakan rumah, Narcissa baru berbalik untuk melihat Lucius.
Lucius telah memakai jubahnya kembali, walaupun sekarang tidak terkancing. Narcissa masih ingin membentak-bentaknya sebelum masuk rumah, tapi tiba-tiba saja niatnya urung.
Dilatarbelakangi sinar lampu natal yang temaram di pagar taman, Narcissa merasa darahnya berdesir lagi saat melihat Lucius. Sesuatu yang dirindukannya, yang sudah lama tidak pernah dirasakannya.
Narcissa buru-buru berbalik lagi dan membuka pintu untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas kembali.
.
.
.
Seluruh keluarga menyambut Lucius seakan dia pangeran. Dan, untunglah, Lucius kembali seperti sedia kala. Ramah dan penuh hormat, layaknya dia yang biasa.
Kutukan Imperius dan bagaimana caranya agar tidak ketahuan Kementerian, terhapus dari pikiran Narcissa sekarang.
Tongkat sihirnya tidak diselipkan lagi di lengan jubahnya. Lucius telah mengklamufase tanda kegelapannya dengan baik, sehingga saat menggulung lengan kemejanya pun, dia terlihat normal. Berulang kali Lucius menggenggam tangan Narcissa untuk pamer di hadapan kedua orang tua dan paman-bibinya.
Narcissa masih mengutuki ketiga temannya karena, walaupun sudah berpegangan tangan jutaan kali, saat ini kekontrasan tangan besar Lucius dengan jari-jari Narcissa yang mungil tanpa cacat itu membuat hatinya berdebar.
"Wah! Tidak terasa sudah larut!" seru Paman Orion.
"Kau mau ikut kami main kartu dulu, Lucius?" tanya ayah Narcissa. "Atau mau istirahat duluan?"
"Langsung tidur saya rasa…" kata Lucius bersiap bangkit. "Siapa yang mau ketinggalan sarapan pagi Natal yang lezat buatan Bibi Druella dan Bibi Walburga?"
Narcissa hampir mendengus karena tahu Kreacher-lah yang akan melembur untuk menyiapkan hidangan Natal. Tapi ibu dan bibinya terkikik senang.
"Cissy, antar Lucius ke kamar tamunya, ya? Kopernya yang tadi datang duluan sudah ada di sana…" kata ibunya.
Narcissa tidak bisa menolak. Dia segera memimpin jalan ke atas, menuju kamar tamu.
Salju sudah turun dan berkumpul di kisi-kisi jendela kamar tamu. Narcissa menghampiri untuk memandangi dan menghirup aromanya yang dingin.
Tangan Lucius yang tadi selalu diperhatikannya kini sudah melingkari bahu dan pinggangnya, menariknya menjauhi jendela.
"Kau bisa beku nanti…"
Hembusan nafas Lucius pada telinga Narcissa membuat seluruh bulu kuduknya meremang yang sama sekali bukan karena takut atau kedinginan.
Ini bukanlah yang pertama karena Lucius juga sudah memeluk dan menciumnya jutaan kali. Narcissa kembali menyalahkan ketiga temannya.
Narcissa melepaskan diri, yang amat sulit karena Lucius kini sudah menciumi bahunya. Dia memaksakan diri tertawa seolah hal ini sudah biasa.
"Sebaiknya kau tidur kalau tidak mau ketinggalan masakan Ibu dan Bibiku…"
Narcissa berusaha meraih gagang pintu, yang ternyata tertutup. Tetapi Lucius menarik tangannya.
"Tunggu sebentar… Kau pikir aku menolak tawaran main kartu untuk tidur? Aku tadi mencuri sesuatu yang bagus…"
Lucius mengaduk-aduk saku dalam jubahnya. Sebotol minuman yang seperti es teh tadi muncul di tangannya.
"Kukira namanya Scotch dan Bourbon…"
"Oke…"
"Buatan muggle… Ini akan jadi dosa kita yang paling manis…"
Narcissa tertawa sekarang, tapi Lucius tidak.
"Ayolah, kau boleh minum di bawah pengawasan orang tua…"
"Orang tuaku di bawah Lucius!"
"Atau orang dewasa. Aku sudah tujuh belas?"
Lucius duduk bersila di tempat tidur lalu menyihir dua buah gelas kecil yang persis seperti di pub tadi. Lalu menuang isi botol.
"Ini natal, Cissy!"
"Kau ingat terakhir kalinya kita mabuk bersama?"
Lucius pura-pura mengernyit bingung, "Samar-samar… Dan, itu tidak buruk…"
Dia nyengir jahil yang membuat Narcissa tak kuasa menahan senyum. Wajah Lucius tampak memuja dan menderita di saat yang bersamaan. Sehingga Narcissa akhirnya ikut duduk di tempat tidur. Lucius yang biasa dan normal. Narcissa akan melakukan apa saja untuk sebuah hubungan yang seperti ini.
"Bagaimana kalau diselingi permainan? Satu teguk untuk satu kejujuran?" tawar Lucius.
Narcissa tiba-tiba menyadari itu permainan yang akan membuat mereka mabuk berat.
"Aku duluan," Lucius mengumumkan. "Aku harus mengakui cewek-cewek muggle tidak semuanya jelek. Mereka tidak bersembunyi di balik jubah…"
Narcissa memutar mata dengan kesal ketika Lucius menegak gelas pertamanya sambil tersenyum jahil penuh kemenangan.
"Dan aku harus mengakui bahwa cowok-cowok Hufflepuff keren. Walaupun mereka ada di asrama yang payah. Finnick sangat tampan. Aku suka melihat rambutnya yang terbang ditiup angin saat Quidditch…"
Lucius menghentikannya dengan mencekoki Narcissa, sehingga dia minum sambil tertawa. Cairan yang manis-pahit, walaupun dingin menyegarkan, memenuhi mulutnya. Segera saja Narcissa terbatuk-batuk.
"Aku akan membuat para darah-lumpur tersingkir dari dunia ini. Lalu kaum muggle yang memaksa kita bersembunyi…"
"Itu cita-cita! Bukan pengakuan!" seru Narcissa saat Lucius menegak gelasnya kembali. "Tapi baiklah… Aku akan menamakan anakku berdasarkan nama rasi bintang. Tidak ada pengecualian!"
Narcissa menegak gelas keduanya dan seketika itu langsung pusing. Lucius kelihatannya tampak berpikir.
"Tidak masalah buatku…" katanya akhirnya. "Aku berniat memanjangkan rambut saat lulus nanti…"
"Asal kau tidak menghabiskan pencuci rambutku… Aku pikir kita sedang bicara kejujuran dan bukannya cita-cita?" protes Narcissa lagi.
Lucius menyeka mulutnya, saat Narcissa memulai lagi.
"Aku pikir Alice Spages menyenangkan untuk diajak berteman…"
Narcissa menegak banyak-banyak minumannya, sampai hampir menumpahi seprai. Dia mulai menyukai rasanya.
"Aku akan memastikan dia pergi jauh-jauh darimu… Giliranku… Orang yang menjebak kita malam Halloween itu sejujurnya membuatku gila. Aku belum tahu siapa atau bagaimana…"
Dia menegak pelan minumannya, seolah agak malu.
"Hmm… Aku tidak mau memikirkannya. Giliranku…"
Narcissa berpikir-pikir, "Oh, tadi aku sudah jujur, deh! Aku tadi bilang 'tidak mau memikirkannya'…"
Dia minum segelas lagi, walau bicaranya sudah terasa kacau serta kepalanya terasa berat sekarang.
"Aku sedang memperdalam Kutukan Imperius…"
Ada keheningan menyusul. Bahkan tidak ada suara saat Lucius menyedot minumannya.
"Sejujurnya, aku lega karena bukan Kutukan Avada Kedavra…" kata Narcissa akhirnya.
Narcissa memandang gelasnya yang penuh, lalu langsung menegaknya tanpa ragu. Setelahnya, dia menjatuhkan kepalanya ke bantal bulu angsa yang disediakan untuk Lucius. Merasakan sensasi melayang ketika kain sutra yang lembut dan dingin itu mengelus pipinya. Perasaan yang sama menjalari kakinya.
Narcissa tahu betul jubah pendeknya sekarang menampilkan kaki telanjangnya kepada Lucius karena dia mengikuti pandangannya.
Lucius menegak gelasnya sebelum berkata apa-apa. Lalu menatap Narcissa.
"Kaki yang… indah. Aku harus menyingkirkan anak-anak cowok itu dari sekarang…"
Satu tegakkan lagi, Lucius lalu ikut berbaring di sebelah Narcissa. Satu tangan menopang kepalanya. Dia menatap Narcissa yang kini setengah wajahnya tenggelam di bantal empuk. Mereka bertatapan.
"Bagaimana?"
Narcissa sadar suaranya kini tak lebih dari gumaman.
"Bagaimana apa?"
"Kau menyingkirkan cowok-cowok itu? Dengan mengibaskan rambut panjangmu nanti?"
Baik Narcissa maupun Lucius terkikik sekarang.
Mereka tidak minum lagi. Lucius menangkap tangan kiri Narcissa yang berhiaskan cincinnya. Lalu menekankannya di mulutnya. Narcissa hanya bisa melihat mata abu-abu Lucius sekarang.
Narcissa tidak tahu apakah dia telah mabuk ataukah otaknya kini berputar sendiri. Tapi dia mengeluarkan kata-kata yang tidak pernah diungkapkannya kepada siapapun, bahkan kepada Lucius sendiri. Setidaknya tepat di hadapan orang yang berhak…
"Aku mencintaimu…"
Lucius tidak melepaskan tangan Narcissa, hanya topangan tangannya yang lain. Sementara kini jari-jari mereka saling bertaut. Suara Lucius terdengar sangat rendah saat dia mendekat.
"Aku tahu…"
Lucius mencium Narcissa lembut… dan lama… Narcissa sekarang bahkan tidak yakin apakah dia mau berhenti. Tautan tangan mereka berdesakkan pelan tanpa ada yang mau melepas.
Hujan salju yang turun kini tidak terlihat lagi di mata Narcissa…
.
.
.
